top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Akhir Tragis Pembelot Korea Utara (II)

    DIBESARKAN sebagai anggota keluarga Kim Jong-il membuat Ri Il-nam mendapatkan berbagai privilese yang tak dimiliki anak-anak seusianya di Korea Utara, salah satunya kesempatan menempuh pendidikan di luar negeri. Ia dan sepupunya, Kim Jong-nam, putra Kim Jong-il dengan bibinya seorang bintang film, Song Hye-rim, sekolah di Swiss. Masa-masa itu dikisahkan Ri Il-nam kepada Hwang Sok-yong, seorang penulis, aktivis, dan veteran Perang Vietnam yang ditahan di Pusat Penahanan Seoul pada 1994. Kehidupan Ri Il-nam dan Kim Jong-nam di luar negeri tak jauh berbeda dengan di Korea Utara. Mereka terjebak di rumah sepanjang waktu, tak diizinkan bermain di luar atau berhubungan dekat dengan orang lain. Seorang asisten mengantar dan menjemput mereka ke dan dari sekolah. Guna mengusir rasa bosan, Kim Jong-nam bermain video game yang kemudian menjadi hobi barunya.

  • Prakarsa Indonesia atas Perang Korea

    LEDAKAN bom atom kedua hampir saja mengguncang dunia ketika Perang Korea bergolak. Dalam perang itu, Korea terbagi oleh dua kekuatan. Korea Utara disokong oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Uni Soviet sedangkan Korea Selatan dibantu Amerika Serikat (AS) beserta sekutu PBB. Upaya penyelesaian perang lewat bom atom dicetuskan oleh Jenderal AS Douglas MacArthur, panglima tertinggi komando gabungan PBB, setelah Tiongkok terlibat langsung menyokong Korea Utara. Namun, gagasan MacArthur tersebut ditolak Presiden Harry S. Truman. “Meskipun penggunaan semua senjata, termasuk bom atom telah dipertimbangkan, Truman tidak ingin melihat bom atom digunakan pada orang-orang tidak bersalah yang tidak ada hubungannya dengan agresi militer,” catat sejarawan militer Amerika Walter G. Hermes dalam United States Army in The Korean War: Truce Tent and Fighting Front.

  • Sebelum ke Korea, Perwira Belanda Pernah Ditahan TNI

    SETELAH Agustus 1949, perang antara Republik Indonesia dengan Kerajaan Belanda mulai mereda karena ada gencatan senjata pasca-Perjanjian Roem-Roijen. Banyak daerah mulai aman dari baku tembak kedua belah pihak. Masa itu adalah masa yang aman untuk terbang. “Kami terbang dari Padang ke Pekanbaru,” aku perwira cadangan Letnan Dua Gerard Pikkert. Bersama Kopral Looyen, Letda Pikkert terbang pada 22 Oktober 1949, beberapa bulan setelah gencatan senjata. Mereka naik pesawat kecil Pipercub.

  • Adu Kuasa di Angkasa Korea

    LANGKAH Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un menandatangani Deklarasi Panmunjom untuk Perdamaian, Jumat, 28 April 2018 membawa angin segar bagi kedua negara. Deklarasi itu menjadi lompatan besar untuk menutup konflik kedua negara yang berlangsung sejak Perang Korea (1950-1953). Meski gencatan berhasil menghentikan perang itu, ia tak mampu mengakhiri konflik. Akibatnya, selama 65 tahun kedua negara selalu dibayangi curiga, waspada, dan siaga. Perang Korea, hasil awal dari adu kuat blok Barat pimpinan Amerika Serikat (AS) dan blok Timur pimpinan Uni Soviet, bukan semata membuka Perang Dingin tapi juga menjadi ajang adu persenjataan, taktik, dan strategi militer pertama blok Timur melawan blok Barat. Kedua pihak menggunakan banyak persenjataan baru, memicu persaingan senjata kedua blok hingga 1990-an.

  • Kisah Gatot, Orang Indonesia yang Terpaksa Hidup 50 Tahun di Korea Utara

    GATOT Wilotikto tak pernah menyangka kepergianya ke Korea Utara (Korut) pada pengujung 1960 bakal lain dari yang dia bayangkan. Meski kemudian berbuah pahit, dia tak pernah menyesalinya. Banyak hikmah dan kenangan manis yang membanggakannya. Mulanya, pria kelahiran 18 November 1936 itu kuliah di Jurusan Biologi Universitas Padjajaran, Bandung. Gatot dan seorang temannya terpilih untuk kuliah di Pyongyang atas undangan Liga Pemuda Korea. Dengan sponsor Badan Kesejahteraan Mahasiswa Indonesia, keduanya bertolak pada 11 November 1960. Perjalanan ke Korut tak mudah. Minimnya hubungan diplomatik negeri itu dengan negara lain membuatnya tak punya akses penerbangan langsung dengan banyak negara. Korut dan Indonesia juga belum membuka hubungan diplomatik, dan hanya membuka kantor perwakilan dagang di Jalan Cimandiri Jakarta. Waktu berangkat, dia hanya berbekal paspor Tiongkok.

  • Pemberontakan Korea di Tanah Jawa

    FOTO tua itu seolah berbicara banyak. Tigabelas pemuda Asia Timur berpakaian serdadu Jepang berpose menghadap kamera. Salah satu di antara mereka nampak tengah memangku seekor anjing kecil. Tak banyak yang tahu, jika sejatinya para tentara tersebut bukanlah orang-orang Jepang. “Mereka adalah pemuda Korea yang dikirim oleh militer Jepang ke Jawa pada 1942,” ungkap Rostineu, pemerhati sejarah Korea dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Alkisah, pada Mei 1942 militer Jepang memobilisasi 3.223 pemuda Korea ke wilayah Asia Tenggara. Sebagian besar dari mereka ditugaskan sebagai gunsok (pembantu tentara Jepang) di Burma, Malaya, Singapura, Filipina dan Indonesia.

  • Jejak Langkah Putra Irian

    FRANS Kaisiepo nekat menerobos masuk ke dalam penjara kolonial di Hollandia (kini, Jayapura). Gurunya, Soegoro Atmoprasodjo, ditahan di sana. Di dekat pintu kawat berduri yang mengelilingi penjara, bertugas seorang penjaga. Di atas pundak kirinya tersandang sepucuk senapan lengkap dengan bayonet di ujungnya. Kaisiepo beruntung. Penjaga penjara itu ternyata sesama orang Biak. Setelah melobi dalam bahasa Biak, Kaisiepo dengan mulus bertamu ke penjara. Guru dan murid bersua. Soegoro memberinya wejangan singkat tetapi begitu melekat dalam pikiran Kaisiepo. “Hari itu, yaitu 9 Juli 1946,” kenang Kaisiepo dalam risalah berjudul “Irian Barat” yang terbit tahun 1961 dan termuat dalam koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia khazanah arsip Marzuki Arifin No. 383. “Rahasia dan janji dipegang teguh. Pertemuan berlangsung selang sejam, tetapi cukup berkesan. Waktu bersalam-salaman tak disengaja keluarlah air mata beliau membasahi pipinya.”

  • Frans Kaisiepo

    Namanya diperbincangkan usai tampil dalam uang rupiah terbaru pecahan Rp10.000. Siapa dia sebenarnya?

  • Pahit Manis Kisah Ahli Waris

    SETELAH buka puasa, pertengahan Juni 2016 lalu, Megawati Soekarnoputri, ketua umum PDI Perjuangan, menerima majalah Historia, di kediamannya di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Wawancara yang berlangsung hingga jam sebelas malam itu membahas beragam hal, terutama tentang Sukarno dan PNI. Megawati terjun ke dunia politik pada 1986. Sebelum bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Megawati mengaku sempat diajak teman-temannya masuk Golkar dan diiming-imingi posisi penting. Namun, dia menolak dan memilih untuk bergabung dengan PDI, partai hasil fusi Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Partai Katolik, Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), dan Musyawarah Rakyat Banyak (Murba), pada 1973. “Untuk apa masuk Golkar, bapakku yang mendirikan PNI,” kata Megawati kepada Historia.

  • Kusut Masai Aset Partai

    DI persimpangan antara Jalan Salemba Raya dan Jalan Pramuka, terhampar lahan seluas 1.600 meter persegi. Tak ada bangunan berdiri di areal tanah itu, hanya tembok yang mengitari sekelilingnya, membatasi akses warga sekitar. Sebuah papan pengumuman terpampang di sana: Tanah Ini Milik PT Solid Gold Abadi berdasarkan sertifikat hak milik dilarang memasuki lahan ini/melakukan kegiatan tanpa izin dari pemilik akan dikenakan sanksi pidana dengan pasal 167 KUHP.

  • Nasib PNI Setelah Fusi

    RABU, 10 Januari 1973, pukul 20:00 malam, Sekretariat Partai Nasional Indonesia (PNI) di Salemba Raya, Jakarta ramai dengan kedatangan beberapa pimpinan partai politik. Mereka mewakili partainya masing-masing: Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Katolik, Partai Kristen Indonesia (Parkindo), dan Partai Murba. Di luar gedung, wartawan setia menunggu hasil pembicaraan para pemimpin kelima partai politik itu.

  • Memasung Kaki Banteng

    JUMAT, 1 Oktober 1965, Radio Republik Indonesia (RRI) menyiarkan berita operasi Gerakan 30 September (G30S). Gerakan militer yang dipimpin Letkol Untung itu mengumumkan telah menyelamatkan Presiden Sukarno dari kudeta Dewan Jenderal. Pukul 11.30, DPP PNI menyambutnya dengan nada mendukung.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page