Hasil pencarian
Cari di situs ini
10073 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Perantau Tangguh yang Menaklukkan Batavia
TRIJNTJE tak tahu di mana letak pasti Batavia, kota yang didirikan Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen pada tahun 1619. Yang ia tahu, kota yang berada jauh dari Belanda dan hanya dapat dijangkau melalui pelayaran selama berbulan-bulan itu menawarkan sebuah kesempatan untuk memiliki hidup yang lebih baik. Seperti halnya orang-orang Eropa lain yang mendaftarkan diri untuk menjadi pegawai VOC di wilayah koloni, mimpi untuk mengubah nasib itulah yang membuat Trijntje nekat mencari peruntungan di Batavia. Tak banyak informasi yang bisa didapat mengenai kehidupan Trijntje di Belanda. Namun, Herald Van der Linde mencatat dalam Jakarta: History of a Misunderstood City bahwa wanita yang berasal dari Amersfoort itu berlayar menuju Batavia dari Texel dengan menumpangi kapal Walcheren pada akhir tahun 1621. Setelah mengarungi lautan selama kurang lebih lima bulan, kapal yang ditumpangi Trijntje tiba di Batavia pada 27 Mei 1622. Di kota yang belum lama didirikan oleh Coen itulah ia memulai hidup barunya dan harapan untuk memiliki hidup yang lebih beruntung mulai terbuka ketika wanita muda itu berkenalan dengan Floris Hendricksz.
- Ke Mana Perginya Barisan Sentot Pengikut Diponegoro?
SENTOT Alibasah Prawirodirdjo (1808-1855) merupakan salah satu komandan andalan Pangeran Diponegoro. Dengan pasukannya yang –oleh Belanda disebut Barisan Alie Bassa Prawiro Derdjo– tangguh, Sentot menopang pasukan Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Namun, Sentot tidak berperang sampai habis. Pada 1829, Sentot sudah berhenti melawan tentara Belanda. Sentot bersama pengikutnya lalu pergi ke kulon. De Javasche Courant tanggal 23 Agustus 1831 menyebut Barisan Alie Bassa, yang terdiri dari 450 orang, naik kapal uap Van Der Capellen ke Batavia (kini Jakarta) dari Semarang pada 15 Agustus 1831. Sentot punya setidaknya satu batalyon tentara. Oleh karenanya, Barisan Alie Bassa digunakan tentara kolonial. Sentot diberi pangkat letnan kolonel dalam kemiliteran Belanda.
- Cerita Malari Versi Judilherry
RAUT riang Judilherry seketika berubah tegang. Percakapan kami tetiba membangunkan kembali ingatannya tentang malapetaka 15 Januari 46 tahun lalu itu. Masih segar dalam ingatannya, malam itu ia bersama kawan-kawan sesama mahasiswa bergerak menentang kebijakan ekonomi pemerintahan Orde Baru. Kejadian itu memang sudah sangat lama, tapi masih melekat begitu dalam di ingatan Judilherry. “Saya bersama kawan-kawan mahasiswa bergerak demi menyampaikan hati nurani rakyat, menentang ketidakadilan. Tidak ada maksud lain di balik semua itu,” tegas Judilherry saat ditemui di Gedung Ganeca, Kalibata, Jakarta Selatan (14/1/2020).
- Malapetaka Politik Pertama
PENGULANGAN sejarah merupakan lelucon pada kali pertama dan akan menjadi tragedi pada pengulangan yang kedua. Demikian disampaikan oleh Daniel Dhakidae, mengutip Karl Marx, dalam sambutannya di acara mengenang 40 tahun peristiwa Malari pagi tadi (15/01) di Jakarta. Turut pula hadir dalam acara itu Rahman Tolleng, Adnan Buyung Nasution dan sahibul hajat Hariman Siregar. "Indonesia dijajah oleh Belanda, kemudian oleh Jepang. Dulu yang datang Jan Pieter Coen, kemudian datang Jan Pronk, seorang new left tapi datang sebagai Ketua IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) untuk melihat pembangunan di Indonesia. Kemudian Tanaka seorang shogun, datang menemui Soeharto,” ujar Dhakidae.
- Merehabilitasi Soeharto dari Citra Presiden Korup
SETELAH mantan Presiden Sukarno (Presiden RI ke-1) dan Abdurrahman Wahid (Presiden RI ke-4), MPR akhirnya memulihkan nama Soeharto (Presiden RI ke-2). Pekan lalu, MPR –atas permintaan Fraksi Golkar– resmi mencabut Ketetapan (TAP) MPR No. 11 Tahun 1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Dalam TAP tersebut, nama Soeharto disebut secara eksplisit di pasal 4, yang bunyinya demikian: “Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto dengan tetap memperhatikan prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak, asasi manusia.”
- Alkisah Eksotisme dan Prahara Sarawak lewat Rajah
MATA Kapten James Brooke (diperankan Jonathan Rhys Meyers) berbinar-binar saking kagumnya dengan kekayaan alam yang dilihatnya ketika menyusuri Sungai Sarawak pada suatu hari di tahun 1839. Hutan hujan nan lebat dengan beragam flora dan fauna eksotis begitu memanjakan hasrat sang petualang Inggris itu. Ditemani sepupunya, Kolonel Arthur Crooksbank (Dominic Monaghan), dan keponakannya, kadet Angkatan Laut Inggris Charles Brooke (Otto Farrant), Brooke bertualang ke Sarawak dari Singapura. Sarawak menjadi menarik bagi Brooke untuk dijelajahi bukan karena luasnya semata tapi juga kekayaan flora, fauna, rempah-rempah, emas, dan tentu batubara yang belum lama jadi komoditas penting bagi Revolusi Industri (1760-1840).
- Berhulu di Parakan, Bermuara di Kudus
DI kaki Gunung Sindoro–Sumbing, ikatan keluarga menjadi infrastruktur sosial yang menopang ekonomi lokal selama lebih dari satu abad. Rumah-rumah tua bergaya Indies berdiri di antara gudang-gudang tembakau yang sibuk setiap musim panen. Parakan, yang dulu masuk dalam kawasan Keresidenan Kedu, merupakan simpul vital bagi perdagangan tembakau rakyat. Di Kedu, sejak akhir abad ke-18, petani secara turun-temurun menanam tembakau varietas lokal. Para pedagang Tionghoa menjadi penghubung utama antara petani dan pasar. Jaringan pasar ini sangat luas, mencakup sentra industri rokok di Jawa hingga bursa komoditas di luar Jawa dan Eropa.
- Menak Sunda di Balik Murka Bung Karno
DARI semua presiden Republik Indonesia, hanya Sukarno yang berani melawan Amerika terang-terangan. Ini pernah dibuktikan lewat ucapan kerasnya, “Go To Hell With Your Aid” atau persetan dengan bantuan mu! Makian tersebut ditujukannya langsung kepada pemerintah Amerika Serikat. “Dia benar-benar melakukannya,” kenang Howard Jones dalam memoarnya Indonesia: The Possible Dream. Jones adalah Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia yang menyaksikan langsung murka Sukarno. Pada 25 Maret 1964, Sukarno tampil dalam sebuah acara peresmian gedung Wisma Mandiri di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Hadir disana sebanyak 2.000 orang, termasuk para diplomat dari berbagai negara.
- Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Jenderal Kehormatan Pertama
UNTUK pertama kalinya, di Istana Merdeka berlangsung upacara pelantikan seorang jenderal bintang empat. Namun, penerima pangkat militer tertinggi itu bukanlah seorang perwira dari lingkungan angkatan bersenjata. Ia justru melekat di atas pundak warga sipil yang amat dihormati. Hari itu, 14 Januari 1960, Presiden Sukarno melantik Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Jenderal Kehormatan. “Sultan Hamengkubuwono orang besar berjasa bagi tanah air dan bangsa, diangkat jadi jenderal dengan bintang emas 4,” demikian diwartakan harian Merdeka, 15 Januari 1960.
- Dalam Jaring-jaring Kekuasaan
SETELAH melakukan pembicaraan dengan sejumlah partai politik, Ali Sastroamidjojo menghadap Presiden Sukarno pada Maret 1956 untuk melaporkan hasil pembentukan kabinet. Sukarno menunjukkan reaksi kecewa karena Ali sebagai formatur tak mengikutsertakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang meraih enam juta suara dalam pemilihan umum 1955. “Ini tidak adil!” ujar Sukarno. Dengan tenang Ali menjawab tak mungkin membentuk kabinet koalisi dengan PKI karena Masyumi dan Nahdlatul Ulama (NU) menolaknya. Sukarno membentak dan menuduh Ali kurang berusaha. Dengan keras pula Ali menantang Sukarno mencabut mandatnya. Sukarno menurunkan suaranya dan minta waktu seminggu untuk mengambil keputusan.
- Sejarah Sebagai Ilmu Berbangsa
MENGAPA kita perlu belajar dari sejarah? Kita semua mengenal sejarah, karena sejarah merupakan mata pelajaran yang mulai dikenalkan kepada kita sejak masih duduk di Sekolah Dasar hingga menyelesaikan pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas. Kedudukannya sebagai mata pelajaran wajib menempatkan sejarah sebagai ilmu pengetahuan yang wajib dipelajari oleh semua generasi muda bangsa. Hal yang paling penting dalam kandungan materi pelajaran sejarah adalah melacak kebenaran tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Belajar dari sejarah juga untuk mengetahui asal usul segala sesuatu, karena segala sesuatu itu memiliki sejarah, termasuk asal usul manusia dan perkembangan peradabannya, sehingga kita menyadari adanya perbedaan di setiap bangsa, suku bangsa dan keadaan negara lain di seluruh dunia. Pemahaman terhadap kekuatan-kekuatan historis akan menjadi hal penting mendasar yang dapat menghubungkan setiap individu dan mempengaruhi cara kita membangun interaksi satu sama lain.
- Nurnaningsih Datang, Kota Medan Berguncang
BANDARA Polonia hari itu tumpah-ruah oleh warga Medan yang datang. Mereka sengaja ke sana untuk menyambut kunjungan bintang film Nurnaningsih. Mayoritas yang datang adalah pemuda-pemuda dan pelajar. Momen yang ditunggu tiba ketika Pesawat Garuda yang membawa Nurnaningsih mendarat. Turun dari pesawat, Nurnaningsih menyapa kerumunan besar dengan lambaian tangannya. Dia juga murah hati mengumbar senyum manis dan kerlingan mata kepada para penggemar. Orang-orang berdesakan demi menyaksikan artis peran sejumlah film itu. Aparat keamanan sampai dibuat kewalahan.





















