Hasil pencarian
Cari di situs ini
10072 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Diangkat Jadi Nabi, Bung Karno Tak Sudi
BANYAK orang percaya Presiden RI pertama Sukarno punya kekuatan lebih dari manusia biasa. Ada yang mempercayainya sebagai orang sakti mandraguna hingga ada yang menyebutnya titisan Gadjah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit abad ke-14. Ketokohan Sukarno sebagai pejuang dan proklamator kemerdekaan Indonesia membuat namanya tak luput dari kultus individu. Sukarno sendiri dalam otobiografinya tak menampik hal itu.
- Frozen Food Mengubah Kebiasaan Makan Orang Masa Kini
TAK sulit menemukan frozen food atau makanan beku di toko swalayan. Buah, sayur, daging, hingga makanan olahan seperti pizza dan dimsum beku siap mengisi lemari pendingin di rumah-rumah. Selain memberi kemudahan bagi banyak orang untuk menghidangkan makanan, kebanyakan frozen food hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk proses memasak. Makanan beku pun mengubah kebiasaan makan orang-orang di masa kini.
- Jalan Perjuangan Tak Berujung dalam Perang Kota
PADA suatu siang di pertengahan 1946, sepasukan tentara Inggris berwajah keras dengan ubel-ubel di kepala di atas truk menyusuri jalan-jalan sepi di jantung kota Jakarta. Sebuah jip berbendera Inggris tapi dikendarai dua prajurit NICA berbaret hijau mengikuti di belakangnya. Mereka lantas berhenti di sebuah toko milik seorang Tionghoa tua (diperankan Chew Kin Wah) lalu menggeledahnya.
- Memindai Sejarah Barcode dan QR Code
SEJARAH teknologi dipenuhi dengan berbagai penemuan yang di awal kemunculannya digembar-gemborkan, lalu menjadi kekecewaan namun kemudian diadopsi secara luas. Sejarah itu juga dipenuhi dengan benda-benda yang mulanya dirancang untuk satu tujuan, akan tetapi pada akhirnya digunakan dengan cara yang tidak terduga. Contohnya, QR Code. Awal mula kehadiran QR Code tak dapat dilepaskan dari teknologi barcode yang lebih dulu muncul dan marak digunakan dalam berbagai bidang sejak tahun 1980-an. Menurut Jordan Frith, profesor di Clemson University spesialis komunikasi teknis dan studi komunikasi seluler, dalam Barcode, sejarah penciptaan barcode dapat ditelusuri kembali ke percakapan yang tidak disengaja di akhir tahun 1940-an. Kala itu, seorang mahasiswa pascasarjana, Bernard Silver, mendengar seorang eksekutif toko kelontong menyampaikan ide tentang kasir supermarket otomatis kepada pihak kampus Universitas Drexel. Anggota fakultas universitas itu tidak tertarik, tetapi Silver yang terpikat dengan ide kasir otomatis itu menceritakan percakapan yang didengarnya kepada mahasiswa pascasarjana lain, Joseph Woodland. Keduanya bertukar pikiran mengenai ide tersebut, namun kesulitan untuk mengembangkannya. Tak lama berselang, Woodland meninggalkan Universitas Drexel.
- ADARI Klaim Bung Karno Nabi
WANGSIT mendatangi Mangunwidjojo kala mendekam di Penjara Wirogunan, Yogyakarta pada 1946. Dalam semedinya di penjara, Mangunwidjojo beroleh petunjuk untuk mengembangkan ajaran manunggaling kawula gusti atau bersatu dengan Tuhan. Tapi, Mangunwidjojo tidak memilih raganya sebagai medium, melainkan sosok Bung Karno. Meski tak kenal dekat, presiden RI pertama itu dianggap Mangunwidjojo sebagai titisan Gusti Allah.
- Mengisap Sejarah Vape
ANGGAPAN e-cigarette alias rokok elektronik, yang kondang disebut vape/pod, tidak lebih berbahaya dari rokok konvensional jelas mitos belaka. Bahayanya bahkan bisa melebihi aneka rokok dan cerutu konvensional karena bahan-bahan bakunya tak teregulasi sebagaimana rokok konvensional. “Hoaks yang menyebut rokok elektronik lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal itu juga memperbesar risiko penyakit tidak menular (kanker, penyakit paru, dll),” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI (P2PTM Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi dalam diskusi daring “Dampak Konsumsi Rokok Elektronik bagi Kesehatan” di akun Youtube Kementerian Kesehatan RI, Rabu (11/12/2024). Di Indonesia, pengguna vape terbilang tinggi dan meningkat tiap waktunya baik dalam jumlah orang yang sudah kecanduan maupun yang belum kecanduan. Dr. dr. Feni Fitriani Taufik dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengungkapkan bahwa dari berbagai hasil riset, dalam kurun hampir satu dekade (2011-2018) prevalensinya meningkat dari 0,3 persen menjadi 10,9 persen.
- Musuh Napoleon di Waterloo Hina Diponegoro
BEGITU Napoleon Bonaparte menguasai Negeri Belanda, dia menjadikan adiknya, Luis Napoleon, raja di sana. Nusantara yang berada di bawah Hindia Belanda pun menjadi bawahan Napoleon.
- Runtuhnya Kesultanan Banten
932 Banten masih berupa kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Pusat kadipaten Banten berada di Banten Girang, 13 km di selatan Banten Lama sekarang. 1524 Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati datang ke Banten untuk menyebarkan agama Islam. 1525 Dengan bantuan pasukan dari Kerajaan Demak, Syarif Hidayatullah menyerang dan menaklukkan Banten. 1526 Kesultanan Banten berdiri sebagai protektorat yang dikontrol Kerajaan Demak, dengan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah, sebagai penguasanya. 1527 Pusat pemerintahan Kesultanan Banten pindah ke delta Sungai Cibanten. 1552 Banten berdiri sendiri dan bebas dari pengaruh Kerajaan Demak, yang mulai melemah. Sultan membangun Keraton Surosowan dan Masjid Pacinan Tinggi. 1566 Masjid Agung Banten mulai dibangun. 1570 Maulana Yusuf berkuasa. Pada masanya dilakukan pembangunan benteng, merampungkan Masjid Agung, mendirikan Masjid Kasunyataan, membangun pertanian, kompleks sumber air yang disebut Tasikardi, dan irigasi. 1580 Maulana Muhammad Kanjeng Ratu Banten Surosowan menjadi sultan. Karena masih terlalu muda, pemerintahan dijalankan wali. Pada masa jabatannya, Masjid Agung Banten diperindah; melapisi tembok masjid dengan porselen dan tiangnya dibuat dengan kayu cendana, serta menambahkan tempat salat untuk perempuan, yang disebut pawestren atau pawadonan . 1596 Sultan Abul Mufakhir Mahmud Abdul Kadir naik takhta. Namun, selama belum dewasa, pemerintahan dijalankan wali. Terjadi konflik internal kesultanan. 1596 Belanda berlabuh di pelabuhan Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. 1602 VOC mendirikan kantor dagang di Banten. 1651 Sultan Abulfath Abdulfattah, yang terkenal dengan Sultan Ageng Tirtayasa, memerintah. Pada masa kekuasannya, Banten mengalami kejayaan. Penolakannya bekerjasama dengan VOC membawa Banten ke dalam peperangan. 1680 Sultan Ageng Tirtayasa pindah ke keraton Tirtayasa. Sultan Abu Nasr Abdul Kahar atau Sultan Haji, putranya yang diserahi menangani Keraton Surosowan, mengklaim takhta kesultanan. 1682 Sultan Ageng Tirtayasa menyerang dan menguasai Surosowan. 1683 Sultan Ageng Tirtayasa kalah dalam perang melawan Belanda yang bersekutu dengan Sultan Haji. Sultan Haji berkuasa. 1683 Pembangunan Benteng Speelwijk, dengan arsitek Hendrik Lucaszoon Cardeel, yang menandai kekuasaan VOC atas Banten. 1864 Perjanjian ditandatangani Sultan Haji dan VOC. Banten mengalami kemunduran. VOC menentukan sultan-sultan Banten berikutnya. 1808 Keraton Surosowan dirusak Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels karena Sultan Abul Mafakih Muhammad Aliyuddin atau Sultan Aliyuddin II menolak mengerahkan rakyat Banten untuk kerja rodi membangun jalan pertahanan di Ujung Kulon dan memindahkan keraton ke Anyer. 1813 Ketika Sultan Muhammad Syaifuddin berkuasa, dia dipaksa turun takhta dan kesultanan Banten dihapuskan oleh Inggris, yang menggantikan Belanda di Banten, di bawah kekuasaan Thomas Stamford Raffles. Keraton Surosowan yang rusak ditinggalkan penghuninya. 1815 Keraton Kaibon dibangun bagi Ratu Aisyah yang menjadi wali sultan yang masih kecil, Sultan Muhammad Rafiuddin. 1832 Kehancuran total Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon oleh pemerintah Hindia Belanda. Majalah Historia Nomor 33, Tahun III, 2016
- Waktu The Tielman Brothers Masih di Indonesia
PERANG telah memisahkan Herman Dirk Tielman dari keluarganya. Duda dari Nora Tielman yang menikahi Flora Lorine Hess ini setidaknya sudah punya lima anak di tahun 1942. Keoknya Hindia Belanda membuat Tielman harus jadi tawanan perang.
- Filantropi Tjong A Fie
DAERAH Kesawan di Medan sejak dulu daerah ramai. Selain kantor perkebunan, stasiun keretaapi, restoran legendaris di Medan, Tip Top, pun ada di sana. Namun, ada satu titik menarik di Kesawan, tepatnya dekat Restoran Tip Top, yang “mampu mengubah” semua keramaian Kesawan jadi ketenangan dan kenyamanan. Namanya Tjong A Fie Mansion. Bangunan rumah lawas berarsitek Tionghoa dengan nuansa tempo dulu itu cukup asri halamannya. Rumah besar itu milik mendiang Mayor Tionghoa Tjong A Fie. Koran De Locomotief tanggal 4 Februari 1921 memberitakan, Tjong A Fie tutup usia di Medan pada pagi 4 Februari 1921.
- Jenderal Nasution Mengucapkan Selamat Hari Natal
SEPEKAN lagi hari Natal tiba. Menjelang hari raya bagi umat Kristen itu, berbagai pernak-pernik mulai menghiasi rumah maupun tempat-tempat umum. Pohon Natal dengan lampu-lampu, bunga bundar di muka pintu, boneka Santa Klaus, maupun kumandang lagu atau film yang bertemakan Natal sudah menghiasi berbagai tempat.
- Duka Atim dan Piati Picu Kemarahan PKI
TIDAK ada orang yang ingin sakit. Selain rasa badan tak enak, sedikit-banyak akan merepotkan orang lain. Terlebih, bila uang untuk berobat tidak punya. Hal itulah yang dialami Atim, perempuan petani asal Probolinggo, pada awal dekade 1950-an.





















