top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jasa Keamanan Macan Bule di Jakarta

    BERAKHIRNYA Perang Dunia II membuat Pieter Meulenbroek, yang disapa Piet, tak lagi berdinas di Angkatan Laut. Pada 1945 dia terkena demobilisasi di Batavia (kini Jakarta). Keadaan tersebut membuat pria berusia 42 tahun itu mesti putar otak demi menyambung hidup.

  • Migas Riwayatmu Dulu dan Kini

    PANGERAN Hendrik putar otak. Dia punya rencana agar usaha yang didirikan bersama koleganya, sesama kaum aristokrat Belanda, dapat izin mengelola tambang di Belitung, Sumatera. Padahal pada 1852, pemerintah kolonial di Hindia Belanda tak mengizinkan kegiatan ekskploitasi tambang di luar Pulau Jawa. Tapi Hendrik tak kehabisan akal. Dia gencar melobi abangnya, Raja Willem III, untuk memberikan izin mengelola tambang.

  • Jejak Pakualaman dalam Sepakbola

    PADA awalnya sepakbola adalah olahraga orang-orang Eropa. Di Yogyakarta tahun 1909, sepakbola dimainkan oleh masyarakat dengan cara sederhana: menggunakan jeruk muda yang dipanaskan agar lebih empuk. Permainannya pun berlangsung tanpa aturan yang jelas serta melibatkan banyak pemain. Barulah ketika Bendoro Raden Mas Haryo (BRMH) Surardjo alias Paku Alam VII memperkenalkan bola kulit yang dapat dipompa, sepakbola mulai dikenal luas dan berkembang di Yogyakarta.

  • General Moersjid: From Yani's Deputy to a Bread Seller

    AFTER his release from prison, General Moersjid spent his days helping his wife sell bread. As a true soldier, such post-retirement activities were certainly contrary to Moersjid's character. But he had no other choice. In order to keep food on the table for his family, Moersjid, who during his active service was known as a skilled combat officer, put his shame aside.

  • Matjan yang Mati di Rimba

    HILDA Godfried Matjan (68 tahun) selalu menyematkan doa ketika mengenang ayahnya. Dia yakin ayahnya mati di rimba raya dan salah satu tahanan politik yang dikubur dalam sebuah kuburan massal di Kalimantan Tengah (Kalteng).

  • Senjakala Balai Budaya

    ORANG-orang ceria. Obrolan, canda, dan tawa silih berganti keluar dari mulut mereka. Alunan musik menambah suasana asyik. Sajian ringan dari tuan rumah, mulai kopi hingga bubur sumsum, membuat mereka kian betah. Suasana itu berlangsung di halaman Balai Budaya di Jalan Gereja Theresia 47, Menteng, Jakarta saat pembukaan pameran lukisan bertajuk “Titik Kumpul”, 22 September 2016.

  • Siapa Menikmati Desentralisasi?

    PADA akhir abad ke-19, tuntutan desentralisasi pemerintahan di Hindia Belanda mencuat dalam persidangan parlemen Belanda (Tweede Kamer). Anggota parlemen L.W.C. Keuchenius membuka perdebatan itu pada 1880. Dia mengusulkan pembentukan gewestelijk raad, yaitu dewan tempat warga Eropa dapat menyuarakan isi hatinya, di daerah-daerah di Hindia.

  • Dari Qarawiyyin ke Pasar Pramuka

    KITA hidup di zaman di mana huruf-huruf di belakang nama lebih diperhatikan ketimbang isi kepala. Ir., Dr., atau S.T., M.M., Ph.D. menjadi mantra sosial yang membuka pintu kekuasaan dan prestise. Gelar bukan lagi sekadar pengakuan keilmuan, tapi telah berubah menjadi simbol kelas, bahkan komoditas yang diperdagangkan.

  • Same-Sex Scandal of a VOC Official

    One day in June 1644, Governor-General of the VOC, Antonio van Diemen (in office 1636–1645), had just finished his dinner. A halberdier, a soldier carrying a spear, came to see him to discuss an important matter. The young soldier, who was from Champagne, France, reported that Joost Schouten, a member of the Council of the Indies, had seduced him into becoming his partner.

  • Oveerste Ali dan Para Mahasiswa

    PADA sebuah malam, di bulan Maret 1966, Liem Bian Kie alias Jusuf Wanandi tengah mengendarai jipnya ketika sekelompok tentara mencegatnya tak jauh dari markas Polisi Militer di Jalan Guntur, Jakarta Pusat. “Ayam,” tanya seorang tentara. “Dipotong,” balas Bian Kie. “Ayam-Dipotong” adalah kode pemeriksaan jam malam yang diberlakukan saat itu. Bian Kie lolos tapi tentara tetap memeriksa jipnya dan menemukan dua pucuk senjata jenis sten dan sepucuk pistol.

  • Menemani Senjakala Soeharto di Rumah Taman Mini

    DI atas sofa di teras rumahnya di kawasan Jatiasih, Bekasi, Dr. Giri Susilo duduk santai walau pikirannya senada dengan warna langit yang mendung pascahujan saat menyinggung soal keadaan Museum Purna Bhakti Pertiwi, tempatnya pernah bekerja selama 16 tahun. Sengketa antara Yayasan Purna Bhakti dengan perusahaan asing Mitora Pte. Ltd. yang memanas sejak 2024 di pengadilan tak hanya membuat museum terbengkalai, namun juga sebuah rumah di kompleks museumnya.

  • Desas-Desus Operasi Khusus

    “KITA tahu, predikat Bung Karno sebagai Penyambung Lidah Rakyat. Itu yang pernah menakutkan saya pribadi,” kata Jenderal Soemitro dalam biografinya, Soemitro dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib karya Ramadhan KH. Dalam masa transisi, kekuatan Orde Baru berusaha keras mencegah jangan sampai Sukarno menggunakan kharismanya untuk menggerakkan rakyat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page