Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Manakah Mereka Saat Proklamasi?
Saat Proklamasi, sebagian tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hadir. Siapa saja mereka?
- Upaya Merusak Proklamasi
PARA pemuka masyarakat Maluku di Jakarta, mulai dari Gubernur Maluku Mr. Johannes Latuharhary (1900-1959) hingga bawahannya, pusing dengan keadaan pasca Proklamasi. Meski mereka mendukung kemerdekaan Indonesia, ada saja orang Ambon yang menjadi korban kengawuran kaum muda bersenjata yang, minim pikir panjang, disebut mereka “pelopor”. Orang-orang Ambon dipersekusi, bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa. Mulai dari Boma Latuperisa yang dibunuh di Jatinegara, Boetje Tahalele yang dibacok, dan keluarga Lopies yang dianiaya. Ada pula isu tentang organisasi orang Ambon yang katanya hendak menyabot proklamasi kemerdekaan Indonesia dan menginginkan kembalinya Belanda ke Indonesia. Johannes Dirk de Fretes, asisten Latuharhary, pun mau tak mau harus menemui seorang pemuda Ambon bernama August Isaac Tanasale yang dikenal sebagai Nono Tanasale.
- IGK Manila Bukan Prajurit Biasa
SIANG itu menjelang Hari Raya Idul Adha, Juli 2021, Mayjen (Purn.) I Gusti Kompyang (IGK) Manila menyapa hangat awak Historia.ID yang bertandang ke kantornya di gedung sekolah kader Partai Nasional Demokrat, Akademi Bela Negara (ABN NasDem), Jakarta Selatan. Sosoknya memang sudah tak lagi muda namun semangatnya masih membara jika bicara tentang sepakbola. Penulis dan fotografer Fernando Randy diizinkan bertamu meski harus terlebih dulu melakukan swab-test dengan hasil negatif. Maklum, masa itu COVID masih ramai dan ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Sang jenderal pun sudah terbilang uzur, baru saja memasuki 79 tahun kala itu. Kala itu, Manila jadi sosok penting dalam sejarah sepakbola. Ia memanajeri tim nasional ketika Indonesia terakhir kali mendapatkan medali emas SEA Games 1991. Sekadar membangkitkan memori, di tahun-tahun sebelum pandemi pun prestasi timnas tengah melulu menelan kekalahan. Baru pada 2023 Indonesia mendulang emas sepakbola lagi di SEA Games.
- Teks Proklamasi Sutan Sjahrir
SELAMA pendudukan Jepang, Sutan Sjahrir menolak bekerja sama dan bergerak di bawah tanah. Melalui radio rahasia, ia mengetahui Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Ketika Sukarno dan Mohammad Hatta kembali dari Dalat pada 14 Agustus 1945, Sjahrir mendesak mereka untuk segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa melalui PPKI. Menurut Sjahrir, Sekutu sebagai pemenang Perang Dunia II tidak mau berurusan dengan negara yang disponsori Jepang. Oleh karena itu, penting untuk menunjukkan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia bersih dari campur tangan pihak Jepang. Namun, Sukarno dan Hatta, yang belum yakin Jepang akan menyerah, merasa kelompok gerakan bawah tanah belum dapat mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menggulingkan Jepang. Mereka takut terjadi pertumpahan darah yang tidak berguna.
- 10 Bedil Batalyon X Musuh Pejuang di Jakarta
HOTEL di sisi selatan Lapangan Banteng itu kini termasuk salah satu hotel mewah di ibukota. Hotel Borobudur namanya. Meski baru terwujud tahun 1974, ia telah diwacanakan sejak 1962 dan Bung Karno sempat ingin menamakannya Hotel Banteng. Sebagian lahan Hotel Borobudur dulunya adalah tangsi atau asrama tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). “Sebelum datangnya tentara Jepang ke Indonesia, tangsi ini tempat dari Batalyon Kesepuluh,” terang Hadjiwibowo dalam Anak Orang Belajar Hidup, Volume 3. Di masa pendudukan Jepang, tangsi tersebut dijadikan kamp tawanan perang. Hadjiwibowo yang pernah menjadi petinggi Unilever Indonesia adalah salah satu tawananya. Dia ditawan karena taruna akademi Angkatan Laut Belanda di Surabaya.
- Soeharto Buka Praktik Pengaduan Korupsi
“TERNYATA dia bukan negarawan yang baik,” kata Marsillam Simanjuntak, aktivis mahasiswa angkatan ’66 tentang Presiden Soeharto. Dia sampaikan kesan itu dalam mingguan Ekspres, 26 Juli 1970, setelah menghadap presiden di Istana Merdeka, Jakarta, pada 14 Juli 1970.
- Gerakan Melawan Korupsi dari Bandung dan Yogyakarta
GERAKAN melawan korupsi tak hanya tumbuh di Jakarta, melainkan juga di kota besar lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta. Pertumbuhan gerakan-gerakan tersebut di kota besar dipengaruhi oleh sensitivitas yang tinggi terhadap gaya hidup mewah para pejabat dan ketimpangan sosial antara yang kaya dan miskin akibat korupsi.
- Melawan Korupsi dengan Malam Tirakatan
SUDAH hampir pukul 22.00. Lalu lintas di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta, mulai lengang. Sebelas lelaki menyeberang jalan ke jalur hijau. Seorang di antaranya W.S. Rendra, sastrawan sohor. Kemudian mereka duduk di jalur hijau. Beberapa memejamkan mata, mulutnya komat-kamit merapal do’a, dan tangan menengadah ke atas. Malam itu, 15 Agustus 1970, Rendra dan sepuluh temannya bertirakat. Simbol perlawanan terhadap korupsi. Tapi tirakat tak berlangsung lama. Sebuah jip Polisi Militer mendekati mereka. Petugas keluar dari jip, lalu memerintahkan kerumunan di jalur hijau bubar. Petugas juga menanyakan siapa pemimpin tirakat. Rendra berdiri dan berdialog sebentar dengan petugas. Dia bilang tidak ada pemimpin tirakat. Tiap orang datang atas keinginan dan kesadarannya sendiri. Petugas melihat Rendra tampak paling tua di antara kerumunan. Mereka menggiringnya masuk ke dalam jip.
- Pemberantasan Korupsi Setengah Hati Rezim Orde Baru
PRESIDEN Soeharto pernah mengumbar janji di sekitar pemberantasan korupsi. Dia berjanji pemerintahannya tidak akan mewariskan korupsi ke generasi muda. Kalau ternyata pemerintahannya bertindak salah dalam pemberantasan korupsi, dia bersedia menanggung derita. “Biarlah rakyat menggantung saya,” kata Presiden Soeharto pada 14 Agustus 1970.
- Pejuang Kemerdekaan Tindas Bangsa yang Ingin Merdeka
SEBAGAIMANA banyak pemuda Belanda lain, Johan Heinrich Christoffel Ulrici (1921-2000), yang dikenal juga sebagai Henk Ulrici tak tinggal diam waktu negerinya, Belanda, diduduki tentara Jerman pada Mei 1940. Dia memutuskan bergabung dalam gerakan bawah tanah untuk melawan tentara Jerman. Henk, sapaan akrab Heinrich Ulrici, bergabung ke dalam Knookploegen (KP), semacam pasukan pemukul dalam gerakan bawah tanah. Henk punya kerja penting di masa Perang Dunia II itu. Koran Het Parool, 12 Juli 1955, menyebut pada musim dingin terakhir Perang Dunia II, Henk dan anggota kelompok perlawanan lain ikut meledakkan jalur keretaapi dari Amsterdam ke Amersfoort guna mengganggu perhubungan tentara pendudukan Jerman. Meski sempat tertawan, Henk termasuk yang lihai dalam melarikan diri sehingga selamat. Jan Baptist Vermeulen (1904-1992), yang juga disapa sebagai Om Henk, lebih tua daripada Henk Ulrici tapi juga ikut berjuang. Jika Henk Ulrici masih seorang pemuda yang belum berumur 20 tahun waktu Jerman datang, Om Henk sudah punya pengalaman jadi tentara Belanda. Dia pernah ditugaskan di Hindia Belanda sebelum akhirnya bertugas di Akademi Militer Belanda pada 1938. Setelah Belanda diduduki, Om Henk menolak tunduk.
- Sutan Sjahrir Bergerak di Bawah Tanah Menjelang Kemerdekaan
PERLAWANAN politik terhadap Jepang mulai bergejolak setidaknya pada akhir tahun 1944, saat Perdana Menteri Kuniaki Koiso mengucapkan janjinya di hadapan sidang Parlemen Kerajaan ke-85 tanggal 7 September 1944. Dalam pertemuan tersebut, ia menyatakan bahwa “Hindia Timur” akan diberikan kemerdekaannya “di kemudian hari”. Perlawanan terbuka terhadap Jepang mendapat hukuman kejam. Oleh karena itu, para pemuda dan tokoh-tokoh nasionalis non-kolaborator seperti Sutan Sjahrir mengambil langkah berjuang melalui gerakan bawah tanah. “Sjahrir termasuk di antara sedikit politisi sebelum perang yang menolak ambil bagian dalam pemerintahan selama pendudukan Jepang. [...] Karena sangat mecemaskan pengaruh indoktrinasi Jepang terhadap pemuda Indonesia, dengan sendirinya ia menemukan hubungan-hubungan dengan para mahasiswa Fakultas Kedokteran yang paling sedikit terdampak oleh indoktrinasi itu,” tulis Benedict Anderson dalam Revoloesi Pemoeda: Pendudukan Jepang dan Perlawanan di Jawa 1944-1946.
- Foto di Warung Padang Ini Dianggap Orang Sakti
WARUNG Padang semakin menjamur di tanah air. Banyak orang menyukai kelezatan hidangannya. Rendang yang jadi andalannya nyaris selalu tersedia di warung padang. Masakan yang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia ini sudah sangat melegenda dan identik dengan Padang atau Minangkabau. “Kata rendang nyaris tidak disebut-sebut dalam literatur selama kurun abad ke-18. Namun jika kita kembali mempelajari kebudayaan Luso-Asia yang menancap di kawasan Malaka pada abad ke-16, tampaknya harus dipertimbangkan asal-usul memanaskan daging berulang-ulang hinga kering dan tahan lama ini diadopsi, khususnya kalangan orang Minang,” tulis Fadly Rachman dalam Jejak Rasa Nusantara.





















