top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tukang Catut dan Lintah Darat Musuh Kemerdekaan

    WAKTU Indonesia menyatakan diri merdeka pada 17 Agustus 1945, Haji Kiagoos Abdul Ghany Azis amatlah senang. Sebagai orang yang urusan perut dan periuknya tak terikat dengan pemerintah kolonial, pilihannya adalah Republik Indonesia. Sebagai orang yang punya jatidiri, Ghany Azis amat memperhatikan harga diri. Maka dirinya tak bisa ikut-ikutan “fomo” (Fear of Missing Out) jadi tentara seperti kebanyakan orang. Dia masih tetap ingin menjadi dirinya sendiri: pedagang. “Saya tidak mau mengumpulkan pemuda untuk membentuk pasukan, lalu mengangkat diri sebagai mayor, seperti beberapa orang yang saya kenal, tetapi kemudian malah aktif menjadi tukang catut,” tegas Haji Kiagoos Abdul Ghany Azis dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984.

  • Ke Mana Perginya Pangeran Hendrik di Surabaya?

    AWAL 1929, Kapten Carel Pieter Brest van Kempen mendapat tugas ke Surabaya. Kapten zeni itu, sebut De Locomotief tanggal 22 Februari 1929, diperintahkan memeriksa Benteng Prins Hendrik atau Pangeran Hendrik. Kapten kelahiran Blitar, Jawa Timur itu tiba di Surabaya pada Sabtu, 16 Februari 1929 bersama satu detasemen zeni (sappers). Dia mesti bekerja cepat sebab pada Rabu, 20 Februari sudah diharuskan membuat penilaian terhadap benteng tua tersebut. Pasukan zeni itu mengagumi konstruksi benteng yang dibangun seabad sebelumnya itu masih terlihat kokoh. Batu bata besar untuk membangun benteng itu dulu harus dikirim jauh-jauh dari Negeri Belanda. Maka terpikir oleh Kapten Brest van Kempen untuk melestarikannya. Sebab, banyak warga Eropa di Surabaya begitu menaruh minat pada sejarah benteng itu.

  • Sultan Buton Bunuh Diri

    JAUH sebelum menjadi raja, pemuda pemberani ini oleh kawan-kawan sekolahnya disapa Raja Afiu. Ia bersekolah di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) Makassar, sekolah yang mencetak calon pegawai negeri dan dikenal sebagai Sekolah Radja.   Namun, Raja Afiu tak sempat lulus. Pada Agustus 1913, ayahnya meninggal dunia. Dia pun sudah dipanggil pulang sebelum menyelesaikan pendidikannya.   Setelah pulang, Raja Afiu diangkat menjadi kepala distrik. Sempat juga dia menjadi wakil dari raja Muna.   Menurut Sejarah dan Adat FIY Darul Butuni, Buton Volume 3 , Raja Afiu kemudian diangkat sebagai sultan Buton ke-36 menggantikan Muh. Ali. Gelar pilihannya Sultan Muh. Syafiul Anaami. "Pada tahun 1914 La Ode Ahmad meninggal dan jabatan lakina  Muna lowong hingga tahun 1919. Pada tahun itu La Ode Afiu, putra La Ode Ahmad, diangkat menjadi lakina  Muna. Pada tahun 1922 La Ode Afiu dipilih menjadi Sultan Buton. Tidak ada lakina Muna yang menggantinya, sampai tahun 1926," tulis J. Couvreur dalam Sejarah dan Kebudayaan Kerajaan Muna .   Buton adalah salah satu kerajaan berpengaruh di Indonesia Timur. Oleh karenanya, VOC dan Hindia Belanda sebagai penerusnya merasa perlu bersikap baik kepada kerajaan ini.   Raja Afiu dikenal sebagai raja yang tegas dalam menjalankan pemerintahannya. Dia baik terhadap abdi kerajaan maupun kepada kontrolir Belanda yang bertugas di Buton. Raja Afiu tak ragu menegur kontrolir Belanda yang dianggap tidak benar kerjanya. Raja Afiu bahkan berani melaporkan kepada atasan si kontrolir yang berkantor di Makassar.   Koran-koran Belanda menilai Raja Afiu raja yang baik. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 9 September 1924 dan Deli Courant tanggal 17 September 1924 menyebutnya sebagai raja yang “sangat dihormati. Muda, energik, tegas, dan cerdas, banyak yang diharapkan darinya; ia bersekolah di sekolah yang bagus dan berbicara bahasa Belanda dengan cukup baik.” Masa depan Buton barangkali penuh harapan ketika di bawah kepemimpinannya. Dan itu bukan tanpa alasan. Sebagai pribadi yang “melek huruf”, Raja Afia mengadakan beberapa perubahan di kerajaannya.   Pada 30 Agustus 1924, Raja Afiu bertemu saudara sepupunya yang kepala Distrik Gu, La Ode Abdul Muizu, di Kampung Waara. Ketika itu Raja Afiu sudah melewati tahun kedua pemerintahannya. Dia sengaja mengunjungi sepupunya itu. Ketika itu, Raja Afiu yang sejak bocah dikenal pemberani dan suka berkelahi ini membawa pistol revolver, yang pergantian pelurunya berputar setelah ditembakan.   Raja Afiu sedang bermain-main dengan pistol yang ada pelurunya itu. Bataviaasch Nieuwsblad dan Deli Courant memberitakan, pistol itu tiba-tiba meletus. Pelurunya mengenai La Ode Abdul Muizu yang sepupu raja itu. Dengan luka parah yang dideritanya, La Ode Abdul Muizu tak tertolong lagi nyawanya.   Alih-alih menutupi kelalaiannya, Raja Afiu sangat merasa bersalah. Tanpa ragu, Raja Afiu pun menghukum dirinya sendiri dengan pistol yang membuat sepupunya terbunuh itu. Sultan Buton pun menembak mukanya sendiri dengan pistol itu.   Sontak setelah kematiannya Raja Afiu mendapat semacam pujian. “Ada sesuatu yang istimewa,” dan “penilaian diri seperti itu jarang terjadi di sini,” demikian koran-koran Belanda menuliskannya. Hingga hari ini, tindakan menghukum diri sendiri oleh seorang penguasa, apalagi yang tiada sengaja diperbuat, bukan menjadi budaya umum di Indonesia. Apa yang dilakukan Raja Afiu sang sultan Buton ke-36 itu disebut sebagai “pasang diri”.*

  • 200 Tahun Perang Jawa

    Tahun ini menandai 200 tahun Perang Jawa (1825-1830). Perang yang dikobarkan Pangeran Diponegoro ini menyebabkan kerugian besar bagi Belanda.

  • Merah Putih, Kerbau, dan Banteng

    PERHIMPUNAN Indonesia (PI), semula bernama Indische Vereeniging, didirikan mahasiswa Indonesia di Belanda pada 1908. Perkumpulan pergerakan kemerdekaan pertama yang menyandang nama Indonesia ini memiliki bendera merah-putih dengan kepala kerbau yang bengis di tengahnya. Arnold Mononutu, anggota pengurus PI, menerangkan bahwa lambang PI itu ditetapkan pada periode kepemimpinan Herman Kartowisastro (1921-1922). Dalam rapat, seorang anggota menanyakan alasan pemilihan “kerbau”. Semaun, bekas pemimpin Partai Komunis Indonesia yang diasingkan ke Belanda yang hadir dalam rapat itu, menjelaskan bahwa kerbau adalah simbol kerakyatan. Ia binatang yang tenang tapi kalau diganggu dan marah bisa menyerang musuhnya dengan garang dan ganas. Begitu pula rakyat. “Di samping itu kerbau adalah kawan baik dari kaum tani dalam mengerjakan sawahnya. Kehidupan rakyat tani hampir tak bisa dipisahkan dengan kerbau. Itulah sebabnya maka simbol yang digunakan oleh Pangeran Diponegoro juga adalah kerbau,” kata Arnold dalam biografinya, Potret Seorang Patriot karya Ruben Nalenan. Simbol ini dapat dilihat pada uang kertas pecahan Rp1.000 cetakan tahun 1975: gambar depan Pangeran Diponegoro, sedangkan gambar belakang petani dengan kerbau sedang membajak sawah. Menurut sejarawan Harry A. Poeze, bendera merah-putih dengan kepala kerbau itu merupakan sumber ilham bagi para mahasiswa nasionalis. Di kamar Ahmad Soebardjo, yang biasa jadi tempat berdiskusi politik, bendera itu menempel di dinding. “Sebelum menempuh tentamen atau ujian, seorang peserta mahasiswa biasa bersemadi sebentar di depan bendera itu,” tulis Poeze dalam Di Negeri Penjajah . “Kemudian dia tekankan dalam ingatan bahwa lulus dalam tentamen atau ujian itu penting bagi perjuangan untuk kemerdekaan Indonesia.” Lambang PI itu kemudian digunakan Jong Indonesia, yang berdiri di Bandung pada 20 Februari 1927. Lambang PI juga diadopsi Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Sukarno dan beberapa tokoh pergerakan pada 4 Juli 1927. Sukarno kemudian mengganti lambang kepala kerbau dengan kepala banteng. Alasannya, kerbau terlalu lunak untuk bangsa Indonesia yang berjuang menghadapi imperialisme dan kapitalisme Belanda. “Banteng lebih berani lebih sigap dalam menghadapi musuh-musuhnya,” kata Arnold. Kelak, partai-partai yang berhaluan nasional dan mengklaim sebagai pewaris PNI menggunakan banteng sebagai lambang partai. Menurut sejarawan George McTurnan Kahin dalam Nasionalisme dan Revolusi Indonesia , dalam Kongres Rakyat Indonesia yang dihelat Gabungan Politik Indonesia (Gapi) pada Desember 1939, banyak peserta mengusulkan memasukkan gambar kepala banteng –simbol terpenting pada bendera PNI Sukarno– ke dalam bendera merah-putih, bendera nasional. Perdebatan pun terjadi. Namun akhirnya peserta Kongres menerima bendera yang “terdiri atas dua garis yang sama lebarnya; yang atas berwarna merah dan yang bawah berwarna putih.” Selain merah-putih sebagai bendera nasional, Kongres itu juga secara resmi mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Soepratman sebagai lagu nasional.*

  • Awal Mula Bendera

    AWALNYA bendera dipakai dalam kemiliteran untuk membantu koordinasi di medan perang. Bendera kemudian berevolusi menjadi alat umum untuk sinyal dasar dan identifikasi, terutama di area di mana komunikasi menantang. Sejarawan Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono menjelaskan, penggunaan bendera dalam militer diketahui dari relief candi yang menggambarkan pergerakan pasukan dalam perang. Misalnya, pada relief cerita Kresnayana di candi induk Panataran, seorang prajurit membawa tongkat berbendera. Bendera itu berbentuk persegi memanjang ke bawah dengan hiasan rumbai-rumbai pada bagian bawahnya. Di tengahnya motif sulur membelah bidang kain menjadi dua. Bendera dalam Naskah Kuno Selain muncul dalam relief, naskah-naskah kuno juga menyebut soal pemakaian bendera. Dalam berbagai bahasa lokal ada beragam penyebutan untuk bendera. Dalam bahasa Jawa antara lain panji , pataka , dwaja , tunggul ,  umbul-umbul , sang saka . Khusus tunggul digunakan untuk melukiskan sesuatu yang tinggi dan besar. Ini mengingatkan pada atunggul yang berkata dasar tunggul, artinya berdiri tegak, menjulang tinggi. “Julangan tinggi tergambar dalam perkataan tunggul kemelap asemu megha dalam Kakawin Hawiwangsa ,” jelas Dwi. Tunggul seringkali dibawa untuk mengiringi arak-arakan. Petugas yang membawanya disebut patunggul . Sementara panji , menurut Dwi, dalam bahasa Jawa Kuna dan Tengahan, tidak secara tegas menunjuk pada bendera. Panji lebih berkenaan dengan nama dan gelar yang diikuti nama diri. Dalam Cerita Panji, Panji dikaitkan dengan unsur nama hewan seperti, kuda, kbo, gajah, kidang. “ Panji dalam posisinya pimpinan, masing-masing satuan ketentaraan punya tunggul (bendera) sendiri, yang di antaranya bergambar binatang, sesuai unsur nama binatang yang disandang,” jelas Dwi. Misalnya, Panji Kuda Nagarawangsa, merujuk pada satuan ketentaraan yang memiliki lambang kuda dalam benderanya. Nama bendera dalam Jawa Kuno dan Tengahan lainnya adalah pataka. Istilah ini dijumpai dalam kitab Wirataparwa, Kakawin Brahmanda Purana , Kakawin Ramayana , Smaradahana, dan Hariwijaya . Bendera dalam Prasasti Penggunaan bendera juga pernah disebut dalam Prasasti Kudadu yang bertarikh 1216 saka (1294 M). Prasasti yang dikeluarkan oleh Wijaya, pendiri Majapahit, itu berkisah antara lain soal pertempuran antara pasukannya melawan pasukan Kadiri di Palagan Rabut Carat pada tahun 1292. Disebut jelas adanya sederetan ( tata ) bendera ( tunggul ) yang dibawa sambil berlari ( layu-layu ) oleh pasukan musuh ( satru ) yang tampak di sebelah timur Desa Hanyiru. Pada kutipan teks ini tergambar bahwa jumlah bendera yang dibawa tak hanya satu. Menariknya, prasasti itu mewartakan bendera yang dibawa warnanya merah dan putih ( bang lawan putih ). Kata sambung “dan” ( lawan ) membuka dua tafsiran. Pertama, sejumlah bendera berwarna merah dan sejumlah bendera lainnya berwarna putih. Masing-masing bendera beda warna itu dibawa sambil berlari oleh dua kelompok pasukan yang sama-sama bergerak dari timur Desa Hanyiru. Kedua, sederetan bendera dengan kombinasi warna “merah-putih” yang dibawa oleh pasukan tersebut. “Besar kemungkinan, tafsir pertamalah yang lebih kuat, mengingat terdapat kata sambung lawan . Jika yang dimaksudkan adalah kombinasi dua warna (merah-putih), mestinya tanpa kata sambung, dan cukup ditulis bang putih, ” jelas Dwi. Pada perkembangannya, kata Dwi, bendera nasional menjadi simbol-simbol patriotik yang kuat. “Seringkali pula asosiasi militer berlangsung kuat dan berkelanjutan pada konteks kenegaraan, termasuk dalam hal penggunaan bendera sebagai lambang dan simbol identitas nasional,” jelas Dwi.*

  • Tragedi Pembunuhan Ario Soerjo

    KALI kecil di tepi hutan jati itu terlihat seram. Serakan dedaunan dan ranting memenuhi permukaan airnya yang berwarna kelabu. Tepat di sebidang kecil tanah yang agak menjorok ke dalam air, berdiri kokoh sebuah tugu peringatan. Ada tulisan di bagian atas yang berbunyi: “Di sini telah gugur pahlawan-pahlawan bangsaku: 1. Almarhum Bapak Soerjo, Gubernur I Jawa Timur 2. Doerjat, Kombes Polisi I 3. Soerono, Kompol Polisi I, akibat kekejaman PKI di bulan Nopember 1948.” Kakah, nama kali kecil tersebut, merupakan anak cabang Sungai Bengawan Solo yang membelah Desa Bangunrejo Lor, Ngawi. Tepat 69 tahun lalu, di sini lah R.M.T.A. Soerjo dan kedua orang lainnya harus bertemu sang ajal. “Eyang Soerjo dibunuh orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI), saat beliau akan mengunjungi sanak saudaranya di Madiun,” ujar Donny Ariotedjo, salah satu cucu Soerjo. Pertengahan September 1948, PKI pimpinan Moeso menjalankan aksi untuk melawan pemerintahan Sukarno-Hatta. Pada mulanya mereka memfokuskan gerakan di Solo dan Madiun, namun berhasil dipukul mundur oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) hingga ke pelosok-pelosok Jawa Timur. Dalam gerakan mundur itulah, pada November 1948, mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap feodal. Salah satunya yang menjadi korban pembunuhan itu adalah adik laki-laki Soerjo yang bernama R.M. Sarjoeno yang tak lain adalah Wedana Sepanjang. Soerjo yang saat itu tengah menjadi pejabat tinggi di Yogyakarta, merasa berduka dengan berita kematian sang adik tercinta. Namun karena tugas-tugas yang tidak bisa ditinggalkan, ia tidak bisa mengikuti pemakaman R.M. Sarjoeno. Baru pada 10 November 1948, ia memiliki kesempatan untuk ikut memperingati 40 hari kematian sang adik di Madiun. Usai mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan yang ke-3, Soerjo berkemas ke Madiun dengan hanya dikawal salah seorang ajudannya, Mayor Soehardi dan sopirnya, Letnan Soenarto. Banyak kawan-kawannya (termasuk Hatta) yang menganjurkan Soerjo untuk tidak berangkat ke Madiun karena situasi jalan menuju kota tersebut belumlah aman. Namun dia tetap bersikeras. Pertanda buruk mulai terasa ketika baru saja keluar kota Yogyakarta, ban mobil depan tiba-tiba meletus. Ban cadangan pun dipasang dan mobil kembali melaju, tiba-tiba mogok karena ternyata bensinnya sudah habis. Menjelang Solo, hari sudah mulai gelap. Soerjo dan kedua pendampingnya pun memutuskan untuk menginap di rumah Residen Solo yakni Soediro. Keesokan harinya, mereka bertiga sudah berangkat sejak pagi sekali dan perjalanan pada mulanya lancar-lancar saja. Hingga pada siang menjelang sore, sampailah mereka di kawasan hutan jati yang termasuk dalam wilayah Bogo, Kedungalor, Ngawi. Tanpa sepengetahuan mereka, kawasan hutan tersebut dijadikan tempat beristirahat sekitar 3000 prajurit yang pro-PKI pimpinan Maladi Yusuf, yang tengah meluputkan diri menuju Gunung Lawu. Mobil Soerjo dihentikan. Ia lantas ditahan. Ikut pula ditahan dua anggota Kepolisian RI yakni Komisaris Besar M. Doerjat dan Komisaris Soeroko yang pada saat bersamaan mobilnya tengah melewati kawasan tersebut. Setelah membakar mobil-mobil para tawanan, anggota pasukan Maladi Yusuf menggiring kelimanya ke Kampung Sundi di Desa Bangunrejo Lor (sekitar 5 km dari tempat mereka dicegat). Menurut Trisno (92), malam itu Soerjo dan tawanan-tawanan lain diinapkan di Kantor Kehutanan Sundi. Santer terdengar kabar bahwa besok hari Bangunrejo Lor akan diserang oleh pasukan pemerintah. Pagi harinya (12 November 1948), dalam kondisi hanya memakai celana dalam dan mata tertutup secarik kain, pasukan Maladi membawa mereka ke tepi Kali Kakah di Dusun Ngandu. Dengan menggunakan senjata tajam, orang-orang Maladi Yusuf lantas menghabisi satu persatu kelima tawanan tersebut dengan cara memenggal kepala mereka. “Saya ingat, ada sekitar tujuh orang dewasa di desa kami yang disuruh tentara-tentara itu menguburkan mayat Pak Soerjo dan kawan-kawannya,” kenang sesepuh di Desa Bangunrejo Lor itu. Tiga hari kemudian, Bangunrejo Lor diserang pasukan pemerintah. Pasukan Maladi Yusuf yang tidak mengira posisinya sudah terketahui lintang pukang menuju Randublatung. Sepeninggal mereka, para lelaki Bangunrejo Lor dikerahkan untuk menggali kembali jasad Soerjo dan keempat rekannya untuk dimakamkan di tempat yang layak. “Kami menemukan jasad Pak Soerjo tertanam secara dangkal di dalam lumpur Kali Kakah yang sedang kering kerontang,” kata Trisno kepada Historia. Jasad Soerjo kemudian dibawa ke Madiun. Atas keiinginan keluarga besarnya, lantas dikebumikan di pemakaman keluarga besar istrinya di sawahan, Desa Kapalorejo, Magetan. Banyak kalangan yang ikut bersedih dan mengecam pembunuhan itu sebagai sesuatu yang seharusnya tak dilakukan kepada orang yang sangat berjasa kepada Indonesia, terutama saat memimpin Jawa Timur di tengah peperangan melawan tentara Inggris pada Oktober-November 1945. Soeripno, tokoh PKI yang terlibat dalam Insiden Madiun 1948 termasuk orang yang menyesali pembunuhan itu. Dalam suatu catatannya di Penjara Solo sebelum dihukum mati, dia menulis bahwa sejatinya ia dan tokoh-tokoh teras PKI sudah memerintahkan kepada Pasukan Maladi Yusuf agar memperlakukan Soerjo secara baik. “Tetapi sayang sekali, sebelum saya bisa bicara langsung dengan mereka secara baik-baik, tempat kami diserang. Terjadilah panik dan dalam keadaan panik dari penjaga tawanan terjadilah pembunuhan di luar kontrol dan pengawasan malahan di luar pengetahuan kami. Tentang hal ini, kami sangat menyesal,” ujar Soeripno seperti tertera dalam beberapa lembar dokumen Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) yang dinukil oleh Djamal Marsoedi. Soerjo adalah gubernur Jawa Timur pertama yang secara formil merupakan tokoh sentral sebenarnya dalam peristiwa Pertempuran Surabaya. Berbeda dengan Soetomo (Bung Tomo), peran Soerjo langsung berhadapan dengan para pejabat militer Inggris seperti Brigadier A.W.S. Mallaby dan Mayor Jenderal E.C. Mansergh. Saat jasadnya ditemukan di Kali Kakah, priyayi asal Magetan itu sedang menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) yang saat pengangkatannya pada Juni 1947, langsung ditunjuk Presiden Sukarno.

  • 11 Maestro Bola Kaki Beralih Politisi (Bagian II – Habis)

    LAZIMNYA masa pasca-gantung sepatu, pesepakbola enggan jauh-jauh melanjutkan hidupnya dari lapangan hijau. Kalau tak melatih, mereka biasa menjadi pengurus sebuah tim. Namun, tak sedikit yang justru melenggang jauh hingga ke gelanggang politik. Roman Pavlyuchenko dan Andrei Arshavin dua di antaranya. Pavlyuchenko, pemain timnas Rusia yang berkarier di Liga Inggris bersama Tottenham Hotspur, kini menjabat anggota Dewan Kota Savropol setelah digandeng Partai Persatuan Rusia di bawah Vladimir Putin. Sedangkan Arshavin, sempat mencalonkan diri pada pemilihan regional 2007 walau kemudian memilih batal ikut pemilihan. Dalam tulisan sebelumnya, diulas lima mantan pesepakbola yang mengakhiri karier sebelum milenium kedua dan beralih ke politik. Berikut enam maestro lapangan hijau lainnya yang juga meretas jalan ke arena politik: Oleg Blokhin Selain 16 tahun memperkuat timnas Uni Soviet, hingga akhir 1980-an, Oleg Blokhin bersama klubnya, Dynamo Kyiv berhasil memenangi kompetisi lokal beberapa kali dan menjuarai kompetisi Eropa macam Piala Super Eropa (1975) dan Piala Winners (1972 dan 1986). Prestasi apik Blokhin berlanjut ketika dia menjadi pelatih. Selain menangani beberapa klub Eropa seperti Olympiakos Piraeus (Yunani), dia juga mendapat kepercayaan melatih timnas Ukraina. Blokhin nyemplung ke politik pada 1998. Di tahun itu juga dia menduduki kursi parlemen Ukraina lewat dua kendaran politik, Partai Komunis Ukraina dan Partai Hromada. “Kini saya telah mencapai semua target saya,” ujarnya ketika diwawancara The Day , 13 Oktober 1998. Pada 2002, dia terpilih lagi dengan kendaraan politik berbeda, Partai Persatuan Sosial Demokratik Ukraina. Zico Pemain berjuluk “Pele Putih” ini mengukir karier emasnya di tim Flamengo. Pengembaraannya ke Eropa bersama klub Serie A Udinese tak berbuah prestasi. Tapi sebagaimana Pele, pemilik nama lengkap Arthur Antunes Coimbra ini menjadi salah satu legenda hidup tim Samba. Selain mulai merintis karier di politik, selepas pensiun Zico menjadi pelatih. Klub-klub macam Fenerbahce (Turki), CSKA Moskva (Rusia), Olympiakos Pireaus (Yunani) atau timnas Irak dan Jepang pernah menggunakan jasanya. Di politik, Zico sempat menjabat sebagai menteri olahraga setelah ditunjuk Presiden Fernando Collor de Mello pada 1990. Namun, sebagaimana diberitakan The Guardian edisi 13 Mei 2014, Zico hanya menjabat selama 13 bulan dan memilih mundur setelah proyeknya untuk memodernisasi sepakbola Brasil tak kunjung mendapat persetujuan parlemen. Socrates Kapten Brasil di Piala Dunia 1982 ini menambah panjang deretan nama pesepakbola Brasil yang kemudian terjun ke dunia politik. Socrates Brasileiro Sampaio de Souza Vieira de Oliveira mulai meretas bintang terang di lapangan hijau sejak bergabung dengan klub Botafogo SP. Bintangnya kian bersinar bersama Corinthians hingga kemudian dia dipinang klub Serie A Fiorentina. Di timnas, Socrates setidaknya 60 kali membela negerinya dalam berbagai ajang. Perjalanan hidupnya di luar lapangan membawa Socrates menjadi aktivis politik. Ketika Brasil masih dipimpin pemerintahan militer (1964-1985), Socrates berdiri di kubu oposisi dengan ikut mendirikan Pergerakan Demokrasi Corinthians. Dilansir libcom.org , 12 Juli 2007, Socrates lantang memprotes perlakuan rezim militer Brasil terhadap pesepakbola dan menjunjung demokratisasi di Brasil. Marc Wilmots Dari sedikit pemain terhebat Belgia, Marc Robert Wilmots salah satu yang jadi panutan para pesepakbola Belgia “zaman now ”. Dia mulai mengukir karier emasnya kala berseragam klub Standard Liege. Dari sana, dia lalu bergabung dengan klub Bundesliga Schalke 04. Sebagai pemain timnas, Wilmots menjadi salah satu pemegang caps terbanyak dengan 70 pertandingan dan torehan 28 gol. Usai pensiun, dia meniti profesi lain sebagai pelatih sembari terjun ke arena politik. Bersama Partai Pergerakan Reformis, Wilmots terpilih menjadi salah satu anggota Senat Belgia lewat Pemilu Federal 2003. Namun, karier politik Wilmots hanya seumur jagung. The Guardian 21 September 2005 menulis, Wilmots memilih mundur dari senator sebagai aksi protesnya terhadap amandemen konstitusi. Grzegorz Lato Tujuh golnya di Piala Dunia 1974 bersama timnas Polandia membuat Grzegorz Boleslaw Lato meraih trofi sepatu emas (penghargaan pencetak gol terbanyak). Dua tahun sebelumnya, Lato juga ikut membantu Polandia meraih medali emas cabang sepakbola di Olimpiade 1972. Sebelum terjun ke gelanggang politik, Lato sempat berkarier sebagai pelatih bagi beberapa tim lokal. Di awal milenium ketiga, Lato menabishkan diri sebagai salah satu senator. Lato menduduki satu kursi Senat Polandia, 2001-2005, lewat Partai Aliansi Demokratik Kiri. Dia akhirnya kembali ke arena sepakbola dengan menjadi Presiden PZPN (induk organisasi sepakbola Polandia) hingga 2012. Lilian Thuram Sejumlah klub besar Eropa macam AS Monaco, AC Parma, Juventus, dan Barcelona beruntung pernah memiliki defenseur (bek) kelahiran Guadeloupe, Prancis, 1 Januari 1972, ini. Timnas Prancis juga beruntung. Semasa posisi bek kanan squadnya diemban Thuram, Prancis berhasil merebut Piala Dunia 1998, Piala Eropa 2000, dan Piala Konfederasi 2003. Sebagaimana Socrates, pemilik nama lahir Ruddy Lilian Thuram-Ulien ini hanya aktif sebagai aktivis politik, bukan pejabat politik. Bahkan sebelum gantung sepatu, Thuram lantang menentang rasisme, terutama di negaranya sendiri. Thuram tegak berdiri sebagai aktivis penentang politisi konservatif Nicolas Sarkozy. Sedianya, Thuram sendiri pernah ditawarkan posisi Menteri Perbedaan kala Sarkozy terpilih menjadi presiden. Namun, Thuram menolak.

  • Kemajemukan Banda

    Sejak lama, Banda menjadi salah satu sentra penghasil rempah-rempah ternama dunia. Karena itu, tidak aneh jika kawasan kepulauan di timur Indonesia tersebut sudah menjadi rebutan sejumlah negara-negara kolonial seperti Portugis, Inggris, Spanyol dan Belanda. Menurut sejarawan Wim Manuhuttu, dari temuan-temuan arkeologis, Banda diketahui sudah menjadi bagian besar dari jaringan perdagangan di kawasan Samudera Hindia. “Selain pedagang-pedagang Nusantara, banyak pedagang dari Cina, Arab, Persia datang dan menetap di sana,” ungkap Wim dalam acara seminar "Banda: Heritage of Indonesia" di Erasmus Huis, Jakarta, Senin (31/7/2017). Bahkan kata Wim, situasi masyarakat Banda sudah begitu teratur. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya desa-desayang tertata baik lengkap dengan perangkat-perangkatnya. “Dari temuan lukisan-lukisan lama, menunjukkan sudah ada permainan bola di sana. Tapi kami tidak tahu apakah ball game seperti sepakbola itu sudah ada aturannya atau tidak, karena dimainkan dengan dua bola,” ungkapnya. Namun sejak terjadinya pembantaian oleh VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur milik Belanda) pada 1621, populasi masyarakat asli Banda kian berkurang. Hanya tinggal berkisar 13-15 ribu penduduk atau 15 persen saja dari keseluruhan penduduk Banda. Semula banyak orang Banda yang dibawa pedagang-pedagang Belanda ke Batavia. Tapi akibatnya Belanda yang tidak mengerti soal Pala, tak bisa mengelola jenis rempah populer tersebut. “Akhirnya beberapa orang Banda dibawa kembali…” kata Wim. Seiring waktu, percampuran antara pendatang yang menetap dari berbagai suku bangsa membuat identitas asli Banda perlahan menghilang. Dr Usman Thalib, dosen Universitas Pattimura juga mengakui, bahwa sampai sekarang orang-orang Banda asli terbilang langka. “Orang-orang di Banda biasanya adalah percampuran keturunan lebih dari dua bangsa. Ini yang menjadikan Banda sangat pluralis dan diakui juga oleh Mohammad Hatta, salah satu tokoh bangsa yang pernah dibuang di Banda,” ujar Usman. Maka wajarlah, kata Usman, jika Hatta pernah mengatakan: kalau mau melihat keanekaragaman Indonesia, lihatlah masyarakat Banda. Di sana, darah orang Cina, Arab, Bugis, Melayu, Jawa dan Eropa bersatu padu.

  • De Brings Tjiandjoer, Berjalan Berbareng Belajar Sejarah

    CUACA cerah meliputi Cianjur pagi itu. Di depan Gedung Kantor Pos, puluhan orang (sebagian besar anak muda) tengah mendengarkan penuturan Aris Mustari, Sri Wahyuni dan Rendi Marliyadi, tiga pemerhati sejarah Cianjur. Sesekali, diskusi serius tapi santai tersebut diselingi oleh tawa canda, hingga suasana keakraban sangat terasa dalam kumpulan itu. “Kami berusaha menggali dan membicarakan sejarah Cianjur dengan cara yang sebisanya kami anggap nyaman…” ujar Rendi kepada Historia. Komunitas itu baru saja berdiri pada hari itu juga (Minggu, 17 Januari 2016). Mereka yang terlibat di dalamnya menyepakati De Brings Tjiandjoer sebagai nama kumpulan tersebut. De Brings sendiri diambil dari kata bahasa Sunda: “ngabring”, yang memiliki arti “jalan beramai-ramai”. Itu sesuai dengan cita-cita para penggiat De Brings Tjiandjoer yang akan membiasakan “jalan beramai-ramai” sebagai tradisi mereka dalam upaya penggalian dan pengenalan sejarah Cianjur. “Cara ini mengasyikan, karena mengkombinasikan dua kegiatan bermanfaat: cari ilmu dan berolahraga,” ungkap Helmy Adam, karyawan swasta di sebuah perusahan distribusi nasional. Sebagai kegiatan awal, De Brings Tjiandjoer melakukan tur ke beberapa titik yang memiliki arti penting secara historis bagi Cianjur. Rute yang diambil meliputi Gedung Kantor Pos-Pendopo Kabupaten Cianjur-Pangguyangan Badak Putih-Gedung Paguyuban Pasundan-Stasiun Kereta Api Cianjur. Kegiatan itu sendiri mulai menghangat saat para peserta tur sejarah sampai di tempat lonceng tua yang berada dalam kawasan pendopo Kabupaten Cianjur. Dengan antusias mereka mulai membahas berbagai versi asal usul lonceng yang dibuat di Batavia pada 1744 itu. “Kawan-kawan, menurut salah satu sumber sejarah yang pernah saya wawancara, lonceng ini konon merupakan pemberian dari Mataram,” ungkap Aris Mustari. Namun, tanpa membatasi informasi hanya sekitar itu, Aris juga tak menutup kemungkinan bahwa ada kisah lain di balik keberadaan lonceng kuno tersebut. Termasuk adanya klaim dari pihak Gereja Santo Petrus (salah satu gereja Katholik ternama di Cianjur) bahwa lonceng yang lumayan besar itu tadinya merupakan milik keuskupan di Batavia. Saat menjelajah wilayah Pendopo Kabupaten Cianjur itu pula, sempat mencuat diskusi seru tentang peristiwa sekitar pembunuhan Aria Wiratanudatar III (Bupati Cianjur ke-3) pada 1726. Selain mendiskusikan tema itu, para penggiat De Brings Tjiandjoer pun sempat merekontruksikan kejadian itu di beranda pendopo, posisi yang konon menjadi tempat kejadian perkara pada insiden menghebohkan hampir 270 tahun lalu tersebut. Di Stasiun Kereta Api Cianjur, pembahasan sejarah semakin ramai. Termunculkan kisah tentang kejayaan stasiun itu pada saat Cianjur masih menjadi ibu kota Priangan. “ Saya pikir mengapa dibangun stasiun lumayan besar karena terkait dengan posisi penting kota ini pada saat itu,” ujar Sri Wahyuni yang dalam keseharian bekerja di Kantor Kearsipan Daerah Kabupaten Cianjur tersebut. Setelah berjalan keliling kota Cianjur hampir 4 jam, tur sejarah diakhiri dengan sesi berbagi kesan dan pendapat yang dipusatkan di Taman Joglo. Rencananya De Brings Tjiandjoer akan mengadakan kembali tur sejarah pada Februari mendatang. “Ke depan kami akan membuat tur secara tematik. Misalnya pada saat membahas tentang Perang Kemerdekaan, kami akan mengunjungi tempat-tempat atau jalan-jalan yang terkait tema tersebut,” ujar Rendi yang juga merupakan penggiat di Komunitas Aleut, sebuah kumpulan pecinta sejarah di kota Bandung.

  • Angkutan Ribuan Tahun Lalu

    PADA masa lalu, sungai seramai lalu lintas di darat. Masyarakat terkadang lebih memilih menyebrang sungai dibanding memutar lewat jalan darat. Distribusi barang dagangan juga sering dilakukan melalui sungai. Informasi sarana transportasi di air maupun darat untuk pengangkutan barang dagangan pada masa Hindu-Buddha bisa diperoleh dari prasasti, naskah, dan relief dinding candi. Seperti relief cerita Lalitavistara di dinding Borobudur. Dalam relief itu digambarkan kereta kuda beroda empat yang mengangkut kalangan bangsawan. Relief itu juga cukup banyak menggambarkan angkutan air. Di antaranya kapal dagang besar dengan layar dan bercadik ganda, perahu tanpa cadik dengan penutup di atasnya yang kemungkinan untuk menyebrangi sungai, dan perahu dengan dayung dan layar tanpa cadik. Angkutan Darat Paling tidak ada tiga jenis kendaraan angkutan darat. Para pedagang mengangkut barang dagangan di atas kuda ( atitih ) atau gerobak maupun pedati ( gulungan, mapadati ) yang ditarik kerbau atau sapi. Untuk mengangkut orang khususnya bangsawan digunakan tandu dan kereta kuda. Namun, tidak semua orang bisa mengendarai kereta kuda terutama di halaman keraton. Pada masa Majapahit, hak istimewa itu diberikan kepada pejabat tinggi kerajaan, seperti apatih amangku bhumi dan mpu dyaksa. Nagarakrtagama menggambarkan dengan cukup spesifik penggunaan kereta yang bermacam-macam. Misalnya, kereta dan pedati yang digunakan Mahapatih Gajah Mada ketika melakukan lawatan bersama rombongan Raja Hayam Wuruk. Kereta yang berjumlah 400 itu punya lambang tumbuhan pulutan pada sisinya. Sementara kereta milik Ratu Pajang bergambar matahari yang gemerlapan. Kereta Ratu Lasem berlukiskan banteng putih. Ratu Daha memiliki kereta bertanda bunga daha di atas latar keemasan. Adapun kereta rombongan Ratu Kahuripan dihias taburan bulatan-bulatan bercorak merah putih. Kereta Hayam Wuruk tak terhitung banyaknya. Semuanya bertanda buah maja. Sementara kereta kencana yang dinaikinya berbentuk tandu lebar yang lapang. Kendaraan mewah ini dihiasi nuansa keemasan yang lengkap dengan permata mutu manikam. Tudung kajangnya diberi tirai tenun grinsing yang berperada emas. Dalam berbagai sumber, sejumlah istilah digunakan untuk menyebut jenis kendaraan itu: syandana, padati, ratha, dan sakata. Sayangnya, sumber sejarah tidak memberikan keterangan yang cukup untuk mengetahui perbedaannya. Angkutan air Jaringan lalu lintas air pun disebut dalam beberapa prasasti di antaranya Prasasti Panambangan dari 903 M dan Ferry Charter dari 1358 M. Prasasti pertama berkaitan dengan kendaraan air di Bengawan Solo. Sedangkan Prasasti kedua dengan Bengawan Solo dan Sungai Brantas. Prasasti Kamlagyan dari 1037 M juga menyebut orang-orang yang berlayar menuju hulu. Beberapa prasasti menyebutkan sejumlah istilah untuk kendaraan itu: parahudanmasunghara . Prasasti Dhimanasrama dari masa Mpu Sindok menyebut jenis-jenis perahu yang khusus untuk mengangkut hasil kebun, seperti parahu pakbowan yang memiliki empat gandung (rakit dari bambu yang dipasang di kiri-kanan perahu supaya tidak oleng atau untuk menambah muatan). Disebutkan juga istilah-istilah yang tidak diketahui maksudnya tetapi berkaitan dengan jenis-jenis perahu. Di antaranya alat angkut yang digunakan untuk memuat barang-barang dalam ukuran besar ( akirim agong ), ukuran Panjang ( akirim Panjang ), memuat obat-obatan ( akirim tamba-tamba ), barang-barang yang dimasukkan ke dalam geladak ( kirim dwal baryyan ), barang-barang yang terbuat dari bambu ( amaring ). Jenis perahu lainnya ikang langkapan wlah galah, parahu panawa, parahu jurag, parahu panggagaran, parahu pawalian, dan parahu pangngyan. Sayangnya, bentuk-bentuk kendaraan air yang dipakai ketika itu tak banyak diketahui. Pun beberapa tak diketahui dengan pasti apa kegunaannya. Istilah lain untuk perahu adalah lancang . Kata ini ditemukan dalam Prasasti Manajung yang ditemukan di daerah Malang. Prasasti tanpa tahun ini diperkirakan berasal dari pemerintahan Airlangga pada awal abad 11 M. Kata ini juga dijumpai dalam Prasasti Hantang (1135 M). Bagaimana bentuk perahu ini juga tidak diketahui. Namun, jika lancang ini sama dengan lanchara, yaitu angkutan laut yang oleh penjelajah Tome Pires dianggap sebagai kapal setempat yang ditemukan di Jawa dan Sunda pada awal abad ke-16, kendaraan ini tergolong ke dalam kapal dagang lintas laut. Kapasitas angkutnya bisa mencapai 150 ton.

  • Lakon Para Jenderal Pensiunan

    MANTAN Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmatyo baru saja memasuki masa pensiun pada akhir Maret lalu. Jelang masa purnabaktinya, nama Gatot kerap bergaung meramaikan bursa pemilihan presiden 2019 mendatang. Ketokohan lulusan Akmil angkatan 1982 ini disebut-sebut calon kuat menyaingi Presiden Jokowi selaku petahana. Namun kepada awak media, Gatot menyatakan akan mengisi waktunya sebagai orang sipil bersama keluarga. “Di masa purnatugas, sementara ini saya ingin fokus dulu mencurahkan waktu untuk keluarga,” demikian kata Gatot. Adalah lumrah bila seorang jenderal purnawirawan memasuki gelanggang politik. Biasanya ia mendapat tempat baru sebagai menteri atau petinggi partai. Barangkali masih ada kontribusi bagi negara yang belum tersalurkan selama berseragam tentara. Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto ataupun Luhut Panjaitan yang kini menjabat Menteri Pertahanan dan Menko Kemaritiman termasuk kategori ini. Menekuni dunia bisnis dan beralih menjadi pengusaha? Itu pun biasa. Untuk alasan keamanan dan prestise, para konglomerat maupun taipan industri kerap menggandeng jenderal beken yang baru pensiun ke dalam jajaran direksi perusahannya. “Sudah sejak lama, sejumlah jenderal purnawirawan dikabarkan asyik berdagang,” lansir majalah Tiara No. 48, 15-28 Maret 1992 dalam artikel bertajuk “Kesibukan Para Jenderal Purnawirawan”. Mereka antara lain Pangkopkamtib Jenderal TNI Soemitro (1971-1974); Gubernur Jakarta Letjen KKO AL Ali Sadikin (1966-1977); Pangkostrad Letjen TNI Kemal Idris (1967-1969); Gubernur Jakarta Letjen TNI Tjokropranolo (1977-1982); KSAD Jenderal TNI Widodo (1978-1980). “Bisnis umumnya menjadi pilihan utama. Itu karena bisnis termasuk lapangan yang paling terbuka bagi pendatang baru,” ungkap majalah Tiara . Kendati demikian, beberapa jenderal mengambil jalur yang lebih unik: berkecimpung di dunia hiburan. Inilah mereka. Jenderal di Depan Layar Dikenal flamboyan dan berpenampilan dendi, Brigjen Herman Sarens Sudiro tak kesulitan bermain adu peran. Pada dekade 1980-an, masa pensiun mantan Komandan Korps Hankam ini diisi dengan menjadi aktor layar sinema. Terang Bulan di Tengah Hari , Masizi , Roman Picisan , Biarkan Saya Cemburu , Syekh Siti Kobar Membangkang adalah beberapa judul film yang Herman terlibat didalamnya. “Selain dunia olahraga, saya juga pernah main di dunia film. Banyak produser film yang memburu saya untuk mendukung filmnya, seperti Ratno Timoer, Zoraya Perucha, dan produser-produser film luar negeri,” kata Herman dalam otobiografinya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir karya Restu Gunawan. Tak hanya itu, si jenderal necis juga beberapa kali dinobatkan gelar kehormatan bidang mode: pria berbusana terbaik. Pada 1987, Herman menjadi pria berbusana terbaik yang diselenggarakan Yayasan Busana Indonesia. Penghargaan yang sama diterimanya pada 2003 dalam Anugrah Citra Kartini. Diusianya yang kian sepuh, Herman bahkan masih dipercaya membintangi iklan untuk sebuah merk oli terkenal. Bermain film memang bukan satu-satunya bidang yang digeluti Herman pasca pensiun. Berawal dari hobi, Herman mengembangkan kegemarannya menjadi lahan penghasil duit. Diantaranya: wisata berburu, pacuan kuda, promotor tinju, hingga bisnis diskotik. Selain Herman, mantan Panglima Kodam Cendrawasih periode 1970-1973 dan Gubernur Irian Jaya Mayjen (Purn.) Acub Zaenal memilih peruntungan di bidang yang sama. Pada 1991, Acub membintangi film Zig Zag yang disutradarai oleh Putu Wijaya . Dalam film tersebut, Acub bermain dengan para aktor kenamaan waktu itu, semisal Jeffry Waworuntu, Dian Nitami, dan Cok Simbara. Namun Acub tak kerasan jadi aktor dan kapok main film. Di masa senjanya dia lebih giat mengurusi sepakbola sebagai pemilik klub Perkesa 78 dan Arema Malang. The Singing General Yang juga tak kalah populer adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Setelah pensiun, mantan Kapolri periode 1968-1971 ini beralih ke dunia dunia seni musik dan gelar wicara. Hoegeng memang menaruh minat dan berbakat dalam menyanyi. Sejak 1968, tatkala menjabat Kapolri, Hoegeng tergabung dalam orkes “tempo doeloe”. Ketika sudah tak aktif lagi di Kepolisian pada awal 1970-an, Hoegeng bersama grup musik Hawaian Seniors tampil berkala di TVRI dalam acara bertajuk “Irama Lautan Teduh”. Lebih menarik lagi, Hoegeng kerap berduet dengan sang istri, Merry Hoegeng. Sesekali ikut pula putri mereka, Reny Hoegeng. Suara yang merdu dipadu penampilan panggung yang apik menyebabkan Hoegeng dijuluki “ The Singing General ” oleh majalah berita Jakarta Ekspress . “Yang juga membuat kami senang, kami memiliki banyak penggemar di seluruh Nusantara,” tutur Hoegeng dalam otobiografinya Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan karya Abrar Yusra dan Ramadhan K.H. Selain mejeng di TVRI, Hoegeng kondang pula sebagai penyiar pemandu acara “Obrolan Mas Hoegeng”, yang disiarkan radio Elshinta saban minggu pagi. Acara ini menjadi program unggulan Elshinta karena ramai pendengar. Tema yang jadi perbincangan seringkali berkaitan soal keadilan dan ketertiban namun dikupas secara kelakar dan lucu. “Memang, ternyata acara ‘Obrolan Mas Hoegeng’ itu mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Bukan disebabkan pembawa acaranya adalah seorang Kapolri, melainkan masalah yang dibicarakan selalu aktual dan dibawakan dengan gaya bahasa yang asyik,” catat Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa . Hanya kurang lebih satu dekade Hoegeng tampil dan bersiaran. Pada 1980, dia terpaksa berhenti dari panggung hiburan. Pemerintah mencekalnya lantaran terlibat Petisi 50.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page