top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ho Chi Minh Bapak Bangsa Vietnam

    PADA 2 September 1945, Ho Chi Minh berdiri di depan ribuan orang yang memadati Ba Dinh Square di Hanoi. Paman Ho, begitulah dia biasa disapa, membacakan teks proklamasi kemerdekaan Vietnam yang panjang. Dia mengutip Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat. Nadanya datar tapi pasti, dengan penekanan di sana-sini.   “Seluruh rakyat Vietnam bertekad untuk menggalang semua kekuatan fisik dan mentalnya, untuk mengorbankan hidup dan hartanya supaya mengamankan kebebasan dan kemerdekaan Vietnam...”   Namun, perjuangan Ho Chi Minh untuk kemerdekaan dan kesatuan Vietnam belum usai. Masih melewati jalan terjal; menghadapai Prancis yang ingin kembali menguasai bekas koloninya dan Amerika Serikat yang ingin membendung komunisme.   Sejak mula, Ho Chi Minh menunjukkan diri bukan hanya patriot dan pemimpin tapi juga bapak dan guru bagi rakyat Vietnam. Bersahaja. Kharismatik. Dikagumi kawan dan lawan. Presiden Sukarno dalam buku Sarinah menyebut: “...di mana rantai imperialisme itu paling lemah? Di Indonesia dan Vietnam.”   William J. Duiker dalam biografi Ho Chi Minh menyebut: “Ho Chi Minh adalah separo Lenin dan separo Gandhi.”*   Berikut ini laporan khusus Ho Chi Minh: Keluarga Revolusioner Belajar Merdeka di Negeri Orang Jalan Menuju Kemerdekaan Ujian Pertama Ho Chi Minh Menyapu Dien Bien Phu Kawan Sehaluan dari Negeri Seberang Perang Amerika di Vietnam Perang Vietnam Berakhir di Meja Perundingan Kepergian Pemimpin Vietnam Ho Chi Minh Hidup Bersama Rakyat

  • Hindia Belanda Kurcaci di Piala Dunia

    BENAR bahwa tim nasional Indonesia, kala itu masih pakai nama Dutch East Indies (Hindia Belanda), pernah masuk putaran final Piala Dunia. Tapi jangan senang dulu. Hindia Belanda melenggang ke putaran final Piala Dunia di Prancis tahun 1938 tanpa melakoni satu pun pertandingan di babak kualifikasi –sistem yang mulai dipakai sejak Piala Dunia 1934. Jepang, yang mestinya jadi lawan Hindia Belanda, urung bertanding karena terlibat pertikaian dengan China. Jadilah Hindia Belanda melenggang tanpa perlu bertanding. Keberuntungan pertama.

  • Planetarium Ambisi Sukarno Menguak Rahasia Angkasa

    PLANETARIUM di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, terlihat kuno di antara bangunan tinggi di belakangnya. Kubahnya berwarna putih dan tampak kusam. Catnya sedikit mengelupas. Ia telah berusia 50 tahun pada November 2018, tapi masih mempunyai daya pikat.

  • M.H. Thamrin Bukan Sekadar Nama Jalan

    MOHAMMAD Hoesni Thamrin adalah salah satu pahlawan nasional. Hayatnya habis untuk memperjuangkan keadilan hukum, perbaikan nasib rakyat miskin, dan identitas kebangsaan. Sekarang namanya abadi dan menguar dalam banyak hal: jalan di sejumlah kota, rumah sakit, yayasan, museum, dan universitas. Tetapi gagasan dan semangatnya justru lenyap. Tak dikenali lagi. “Nama Thamrin dirayakan dalam berbagai wajah: infrastruktur dan organisasi. Tapi mengapa kita hanya dapat abunya, tidak dapat apinya? Thamrin, Sukarno, dan juga tokoh besar lainnya mengalami pemfosilan pemikiran,” kata JJ Rizal, sejarawan Jakarta, dalam bedah buku Mohammad Hoesni Thamrin Merekam Prestasi Menguak Representasi di Rektorat Universitas Indonesia, 11 September 2019.

  • Cara Batalyon Abdullah Berperang

    SUATU kali, Kolonel Alex Evert Kawilarang dengan seragam dan tanda pangkat militernya muncul di hadapan anggota Batalyon XVII pimpinan Kapten Abdullah, dikenal sebagai Batalyon Abdullah. Alih-alih mendapatkan hormat dari para prajurit mengingat dirinya salah satu pejabat penting militer Republik Indonesia, Alex justru seperti diacuhkan. Alex tentu mafhum. Abdullah alias Dullah dan pasukannya adalah tentara yang lahir karena revolusi, bukan karena sekolah militer. Dullah dan pasukannya terkesan anti-formalitas ala militer. Dullah sendiri hanya rakyat biasa dengan tradisi-budayanya yang merakyat. Sikap merakyatnya makin menjadi-jadi setelah revolusi kemerdekaan Indonesia pecah, bahkan ketika dirinya sudah menjadi tentara. Pamor Abdullah meroket cepat di ketentaraan pada 1945. Dalam waktu singkat dia jadi kapten dan kemudian menjadi mayor. Namun, pangkatnya tidak membuatnya terlihat lebih tinggi di dalam pasukannya. Sebagai orang yang bukan priayi, dia tak “aji mumpung” menjadi priyayi baru di masa revolusi itu.

  • Ketika Sukarno Meminjam Lukisan

    APRIL 1965. Jalan Indramayu, Menteng, Jakarta Pusat, tetiba dipenuhi pasukan Tjakrabirawa. Mereka mengawal Presiden Sukarno yang sedang berkunjung ke rumah sahabatnya, dr. Nie Swan Tie, kolektor benda seni. Tentu saja, kunjungan itu bukan membicarakan soal politik, tapi masalah kesamaan hobi: koleksi benda seni. Segenap anggota keluarga Nie Swan Tie menyediakan diri di rumah. Maklum, jarang orang biasa mendapat kunjungan presiden. Setelah bercakap-cakap biasa di ruang tamu, Sukarno melihat koleksi seni milik Nie Swan Tie. Mereka berkeliling rumah hingga sampai di depan lukisan pohon besar yang dedaunannya berguguran karya Carel Lodewijk Dake berjudul Flamboyan . Sukarno tertegun. “Saya suka ini lukisan. Kalau boleh tahu, berapa dokter mau jual?” tanya Sukarno. “Maaf Pak Presiden, saya tidak menjual lukisan. Jika Pak Presiden minat, saya akan berikan sebagai hadiah,” jawab Nie Swan Tie. “Hahaha...,” Sukarno tertawa sembari menepuk bahu Nie Swan Tie. “Dokter itu benar-benar kolektor sejati,” ujar Sukarno kemudian. Beberapa hari berselang, Nie Swan Tie menerima surat dari Sukarno. Isinya, Sukarno ingin meminjam beberapa lukisan koleksinya untuk dipajang di Istana selama beberapa hari guna menyambut para tamu negara. Nie Swan Tie meminjamkan tujuh lukisan. “Tujuh lukisan itu antara lain, seingat saya, karya Lee Man Fong, C.L. Dake, Affandi yang realis, dan W.G. Hofker,” ujar dr. Hanny Suwandhani, putra Nie Swan Tie yang saat itu baru 13 tahun, kepada Historia . Willem Gerard Hofker adalah pelukis Belanda dan pelukis Carel Lodewijk Dake dari Belgia yang pernah tinggal di Indonesia. Tepat seminggu, ketujuh lukisan itu dikembalikan. Sukarno menyisipkan surat tanda terima kasih kepada Nie Swan Tie. “Surat itu bunyinya begini: saya tahu, saya harus segera mengembalikan lukisan ini. Sebab saya paham, setiap dokter menatap dinding itu kosong, dokter akan sedih. Maka itu, saya segera mengembalikan ketujuh lukisan tersebut ,” ujar Hanny. Oei Hong Djien dalam Seni dan Mengoleksi Seni  menyebut Nie Swan Tie adalah salah satu kolektor seni yang pertama di Indonesia yang sehari-hari sebagai internis atau ahli penyakit dalam. Meminjam lukisan menjadi salah satu upaya Sukarno untuk bisa memperindah suasana Istana. Menurut kritikus seni Agus Dermawan T., dalam buku Ni Pollok, diceritakan Sukarno pernah meminjam dua lukisan dari Le Mayeur. Namun, sampai Sukarno meninggal, bahkan hingga tahun 1980-an, kedua lukisan itu belum juga dikembalikan. Memajang lukisan di Istana bukan hanya untuk memenuhi hobi seni Sukarno, tapi juga untuk mengenalkan keindahan negeri yang baru merdeka, baik kepada tamu negara maupun teman-temannya. “Bung Karno melalui berbagai cara, getol memotivasi orang bergaul serta mensosialisasikan seni melalui berbagai cara,” sambung Agus yang hadir sebagai penanggap dalam peluncuran buku Sukarno's Favourite Painters karya Mikke Susanto di Gedung Masterpiece, Jakarta Pusat pada Jumat (21/09). Dan yang terpenting, lukisan-lukisan yang dipilih Sukarno adalah lukisan realis dan naturalis. Seperti ketika meminjam lukisan milik Nie Swan Tie, dia memilih lukisan Affandi yang realis, buka abstrak. “Sukarno memang sukanya naturalis, lalu realis, karena memang tujuannya bukan untuk memperlihatkan selera estetika baru, tapi bagaimana lukisan ini bisa berfungsi bagi masyarakat, dan tamu negara,” ujar Mikke Susanto, kurator dan penulis buku Sukarno’s Favourite Painters . Sukarno menyadari tak dapat membeli lukisan dengan tunai. Sebab, saat itu Indonesia baru merdeka dan keadaan masih sangat susah. Dia pun hanya bisa meminjam dari sahabat-sahabatnya yang kolektor atau membeli langsung kepada pelukis dengan mencicil. “Tapi yang penting, meski presiden, Sukarno tidak mempergunakan kekuasaannya untuk sekadar memiliki lukisan,” kata Hanny.*

  • Mahasiswa Asing dan Propaganda Amerika Serikat di Masa Perang Dingin

    “PROPAGANDA komunis begitu palsu, kasar, dan terang-terangan, sehingga kita bertanya-tanya bagaimana seseorang dapat terpengaruh olehnya. Kita lupa bahwa sebagian besar orang yang menjadi sasaran propaganda tersebut tidak memiliki akses bebas terhadap informasi yang akurat. Kita lupa bahwa mereka tidak mendengar siaran atau membaca surat kabar yang tidak memihak. Kita lupa bahwa mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari kebenaran dengan melakukan perjalanan ke luar negeri atau berbicara secara bebas dengan para pelancong di negara mereka sendiri... Terlalu sering orang-orang yang menjadi sasaran propaganda komunis tidak mengenal orang Amerika atau warga negara dari negara-negara bebas lainnya. Mereka tidak mengenal kita sebagai petani dan pekerja... Mereka bahkan tidak tahu apa yang kita maksudkan ketika kita mengatakan ‘demokrasi’... Ini adalah salah satu tugas terbesar yang dihadapi bangsa-bangsa merdeka saat ini, yakni menghadapi propaganda palsu dengan kebenaran di seluruh dunia... Kita harus mendorong lebih banyak lagi orang dari negara lain untuk mengunjungi kita di sini... Kita harus membuka lebih banyak kesempatan bagi pelajar asing untuk menempuh pendidikan di sekolah dan universitas kita,” kata Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman di depan konvensi tahunan American Society of Newspaper Editors di Hotel Statler, Washington D.C., April 1950.

  • Kisah Mata Hari Merah yang Bikin Repot Amerika

    BANYAK orang tentu sudah tak asing dengan cerita Mata Hari, salah satu mata-mata perempuan paling tersohor di masa Perang Dunia I. Wanita bernama Margaretha Geertruida Zelle itu menjadi agen rahasia Jerman dengan sandi H-21. Kecantikan dan kepiawaiannya menari membuat banyak pria tergila-gila kepada Mata Hari. Dengan mengandalkan hal tersebut, ia mengorek informasi dari para perwira Sekutu di Prancis. Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe menulis bahwa popularitas yang dimilikinya sebagai seorang penari terkenal membuat Mata Hari memiliki koneksi yang luas hingga menjangkau para jenderal perang. Untuk mendapatkan informasi, Mata Hari biasanya akan mencuri dengar percakapan para petinggi militer ketika mereka tengah santai sambil minum-minum di bar. “Selesai menari Mata Hari mendatangi meja para petinggi militer. Sambil menuangkan minuman ke gelas sloki, ia meminta dipangku seraya merangkul manja. Tak jarang setelah bar itu tutup ia pun dibawa pergi oleh salah seorang di antara mereka. Setelah itu, Mata Hari pergi menemui Clara Benedix dan Von Kalle, Atase Militer Jerman di Madrid,” tulis Dukut.

  • Basuki Tjahaja Purnama dan Pidato Sukarno

    BASUKI Tjahaja Purnama (BTP) mengunggah surat terbaru di akun instagramnya (17/1). Surat ini dibuat untuk merespons rencana pendukungnya yang akan menyambut hari kebebasannya di Mako Brimob pada 24 Januari 2019. Dia meminta agar rencana itu diurungkan. “Saya bebas tanggal 24 Januari 2019, adalah hari Kamis, hari orang-orang bekerja. Jalanan di depan Mako Brimob dan di depan lapas Cipinang adalah satu-satunya, jalan utama bagi saudara-saudara kita yang mau mencari nafkah. Saya sarankan demi untuk kebaikan dan ketertiban umum bersama, dan untuk menolong saya, sebaiknya saudara-saudara tidak melakukan penyambutan apalagi menginap,” tulis BTP. Berikutnya BTP mensyukuri penahanannya dan meminta maaf kepada Ahokers, para PNS DKI, dan para pembencinya, atas segala tutur kata, sikap, perbuatan, yang sengaja maupun tidak sengaja menyakiti hati dan perasaan. Dia juga meminta setelah bebas dipanggil BTP bukan Ahok.

  • Histori Kampung Bali

    Video kekerasan oknum Brimob kepada seorang pria beredar di media sosial. Sempat diviralkan pria bernama Harun Rasyid (15) itu mati syahid. Ternyata hoaks. Polisi angkat bicara bahwa korban masih hidup, berinisial A atau Andri Bibir (30). Dia dipukuli karena mengumpulkan batu untuk para perusuh. Tindakan brutal aparat tentu saja tidak bisa dibenarkan. Polri berjanji akan menindaknya. Lokasi di video sempat ada yang menduga di Thailand. Ternyata, di dekat Masjid Al-Huda Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari namanya, Kampung Bali, awalnya dihuni oleh orang-orang Bali. Namun kini kampung itu dihuni oleh penduduk dari berbagai suku dan daerah. Bahkan mungkin identias Bali sudah tak ada lagi. Padahal, menurut sejarawan Alwi Shahab dalam Betawi Queen of the East ,nama Kampung Bali, sebagaimana nama kampung lainnya, pada abad ke-17 dan 18 merupakan pemukiman berdasarkan etnik yang diatur oleh pemerintah kolonial. Seperti Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Cina (Pecinan), dan Kampung Arab (Pekojan/Krukut). Bahkan Petojo berasal dari nama tokoh masyarakat Makassar yang tinggal di kampung ini. Setelah berkuasa, Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterszoon Coen, membangun kota Batavia (kini Jakarta) dengan mendatangkan tawanan dari daerah-daerah taklukan. Mereka dijadikan budak. Di antaranya dari Bali. Menurut Ratnawati Anhar, di antara suku-suku bangsa Nusantara yang menetap di Batavia yang paling banyak jumlahnya adalah suku Bali. Pada 1683 jumlah orang Bali yang tinggal di Batavia sebanyak 14.259 orang –k ala itu penduduk Batavia berjumlah 47.217 jiwa.  Dari jumlah itu, hanya 981 orang yang merdeka. Selebihnya, 13.378 adalah budak. Mengapa jumlah orang Bali paling banyak? Ratnawati memperkirakan mereka ditawan bajak laut atau dijual oleh rajanya. Pada waktu itu, raja-raja di Bali sering berperang dengan kerajaan-kerajaan lain. Akibatnya banyak orang Bali yang tertawan dan banyak yang dijual sebagai budak. “Karena orang Bali yang menetap di Batavia banyak jumlahnya, maka mereka tinggal berkelompok di beberapa tempat sehingga nama kampung Bali pun terdapat di pelbagai tempat,” tulis Ratnawati Anhar dalam biografi Untung Suropati . Untung Suropati merupakan budak Bali yang memimpin pemberontakan terhadap VOC. Dia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1975. Menurut Alwi Shahab awalnya VOC menempatkan masyarakat Bali di daerah Angke, setelah dipindahkan dari kasteel (benteng) di Sunda Kelapa. Setelah 90 tahun, masyarakat Bali yang semula hanya berdiam di Angke, menyebar ke berbagai tempat. Hingga kini, Kampung Bali tak hanya di Tanah Abang, tapi ada juga Kampung Rawa Bali, Bali Mester, Bali Matraman, dan masih banyak lagi. Bahkan nama Manggarai ada yang menyebut berasal dari nama seorang tokoh Bali. Dalam De Baliers van Batavia karya C. Lekkerkerker disebutkan bahwa masyarakat Bali mempengaruhi perkembangan bahasa. Banyak kata-kata yang menjadi dialek Betawi sekarang berasal dari Bali. Misalnya jidat (dahi), bianglala (pelangi), lantas (lalu), menyungkur (tersungkur), iseng (tidak sungguh-sungguh atau sambil lalu), ngebet (sangat ingin), dan masih banyak lagi kata lainnya. “Bahkan kata-kata seperti tolongin , ngapain , besarin , dan pulangin , merupakan bukti kuat pengaruh bahasa Bali ,” kata Alwi Shahab.

  • Raja-raja di Singgasana Mataram Kuno

    ADA dua prasasti Balitung yang memuat daftar penguasa Mataram Kuno sebelum dirinya. Namun, bukan berarti semua permasalahan mengenai Dinasti Sailendra, keluarga raja penguasa Mataram Kuno diawali dari Sanjaya, terpecahkan. Sugeng Riyanto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, mengatakan kemunculan Kerajaan Mataram Kuno seakan terjadi tiba-tiba. Prasasti yang diharapkan dapat memberi informasi tentang masa sebelum dimulai dan awal Mataram Kuno dengan Sanjaya sebagai rajanya, belum ditemukan. “Selain untuk mendapat gambaran proses kontinuitas kedua fase secara lembut, jadi tidak terkesan Mataram muncul tiba-tiba, prasasti yang diharapkan itu juga dapat menjadi kunci menelusuri leluhur raja-raja Mataram lebih jauh ke belakang,” tulisnya dalam “Situs Liyangan Dalam Bingkai Sejarah Mataram Kuno” termuat di Berkala Arkeologi Vol. 37, Edisi No. 2, 2017.

  • Asal Usul Ken Angrok

    KEN ANGROK berangkat untuk menyempurnakan kepandaiannya membuat barang-barang emas kepada seorang tetua di Kabalon. Namun, niatnya tak dipercaya oleh penduduk Kabalon. Angrok pun marah. Dia hendak menikam salah seorang penduduk, namun orang itu lari kepada tetua Kabalon.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page