top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menengok Tradisi Sadran di Dua Desa

    MENTARI baru mulai mengintip Jumat (1/3/2024) itu di Dukuh Tumang, Desa Cepogo di Boyolali. Kabut pun belum sepenuhnya buyar. Akan tetapi beberapa penduduk di lereng Gunung Merapi sudah wara-wiri membawa sabit menuju permakaman setempat, di mana terdapat makam seorang tokoh, Kyai Ageng Ragasasi. Rupanya beberapa penduduk itu melakukan bersih-bersih makam dalam rangka tradisi Sadran menjelang bulan suci Ramadhan. Di dukuh tersebut, tradisinya dihelat pada hari itu, 1 Maret 2024, atau 10 hari sebelum dimulainya bulan puasa tahun ini. Namun ada yang berbeda dari tradisi serupa di beberapa wilayah lain di pedesaan Jawa. Di Tumang yang kondang sebagai pusat kerajinan tembaga Jawa Tengah itu, tradisi sadrannya justru mirip momen lebaran. Baca juga: Ken Angrok dan Tradisi Kurban di Nusantara Lepas agenda bersih-bersih makam, para penduduk bersiap menjadi tuan rumah dengan menyajikan aneka hidangan di rumah masing-masing. Mulai dari kudapan tradisional dan makanan kecil kemasan, hingga beragam lauk-pauk “makanan berat” sejak sekira pukul delapan pagi. Siapapun yang bertamu ke kediaman kerabat, termasuk Historia , “wajib” mencicipi hidangan yang disuguhkan sebagai tanda menghormati sang tuan rumah. Derasnya hujan tak menyurutkan silaturahim di antara para penduduk. Kerabat yang berdatangan dengan sepeda motor dan berjas hujan tidak hanya berasal dari dukuh setempat tapi juga dukuh dan desa-desa tetangga. Beberapa dari mereka yang bertandang bahkan datang dari luar kota Boyolali hanya karena memiliki kerabat jauh atau sahabat di desa setempat. Suasana Dukuh Tumang di Boyolali (Randy Wirayudha/Historia) Tak ayal tradisi “ nyadran” di Dukuh Tumang lebih ramai dari momen lebaran. Pasalnya tradisi itu jadi momen silaturahim besar menjelang bulan puasa untuk saling mengenal relasi atau kerabat yang selama ini tinggal jauh dan belum saling mengenal. “Karena memang banyak yang sebetulnya masih sedulur (bersaudara, red. ) tapi kurang mengenal karena mungkin ada yang anaknya siapa tapi lahir di Jakarta atau daerah lain. Lalu diajak orangtuanya atau kerabatnya yang lain ikut ‘ nyadran’, jadi saling mengenal dengan sedulur -nya yang ada di sini,” kata Juwanto, warga Sunggingan yang ikut tradisi ini karena memiliki kerabat dan sahabat di Tumang, kepada Historia . Baca juga: Rijsttafel, Harmoni Eropa-Nusantara dalam Budaya Makan warga dukuh setempat bernama Muhammad Nur Arifin mengamininya. “Dari desa-desa tetangga juga datang untuk nyadran karena kakek-nenek atau leluhurnya ada yang dimakamkan di sini, jadi saling mengenal sama saudara-saudara jauh,” ujarnya. Arifin tak menyanggah bahwa tradisi sadran di Tumang dahulu kala hampir tidak berbeda dengan di daerah lain yang berbau “kejawen”. Tetapi perlahan mulai berubah setelah perlahan nilai-nilai keislaman mulai menguat dalam kehidupan penduduknya. “Sebetulnya dulu sama dengan di daerah lain. Jadi ada semacam ‘ kenduren’ . Kepercayaan orang dulu ziarah, doa bersama, lalu ditutup dengan acara makan bersama di pemakaman. Dulu tradisinya ada tenong, semacam tumpang sajen selain makanan lain yang dimakan bersama. Tapi seingat saya di zaman saya SMA di awal 1980-an perlahan berubah. Karena para kerabat yang dari luar kota setelah dari makam mengunjungi saudara-saudara yang lain. Otomatis saudaranya yang tuan rumah mesti menyuguhkan. Lama-lama jadi seperti ini,” tukas Arifin. Aneka suguhan di momen tradisi nyadran  di Dukuh Tumang (Randy Wirayudha/Historia) Sadran dari Zaman Hayam Wuruk Berbeda dari tradisi yang di Tumah, tradisi sadran di Dukuh Balong Trimulyo, Dukuh Karang, dan Dukuh Blunyah di Desa Trimulyo, Sleman, Yogyakarta masih  digelar di makam. Pada Senin (4/3/2024) pagi, tradisi yang kadang disebut “ruwahan” oleh masyarakat tiga dukuh tersebut dihelat di Permakaman Sasonoloyo Blunyah. “Setiap tahun sebelum (bulan) puasa masyarakat di sini mengadakannya di makam (Sasonoloyo Blunyah). Agendanya biasanya ada (dilakukan) bergantian dari tiga kampung (dukuh) yang jadi panitia acaranya. Tahun lalu kampung kita dan tahun ini (panitianya) dari Blunyah,” tutur Danar Purwoto, warga Dukuh Balong Trimulyo, kepada Historia. Tradisi Sadran-nya berupa bersih-bersih makam pasca-waktu ibadah Subuh dan melakukan doa bersama yang dimulai sekira pukul 8 pagi. Ratusan warga dari tiga dukuh berbondong-bondong menuju permakaman. Mereka duduk rapi di pelataran makam sembari menunggu instruksi pemuka agama setempat yang memandu doa. Baca juga: Dari Sraddha ke Sadran Dahulu, tradisinya juga meliputi agenda makan bersama setelah doa bersama di makam. Tetapi belakangan, agenda makan bersamanya dihilangkan dan diganti pembagian besek makanan untuk dibawa pulang para penduduk setelah doa bersama rampung. Tradisi yang dihelat tiga dukuh di Desa Trimulyo itu sedikit-banyak lebih bersinggungan dengan mula tradisi sadran dari abad ke-14, yakni upacara Sraddha . Tradisi itu merupakan napak tilas, ziarah, bersih-bersih dan memugar makam dan candi yang dilakoni Raja Hayam Wuruk, sebagaimana yang dikisahkan dalam kakawin Nagarakrtagama karya Mpu Prapanca. Dalam kakawin itu Mpu Prapanca mengisahkan napak tilas Hayam Wuruk ke candi-candi leluhurnya. Perjalanannya dimulai dari ziarah ke Pajang, Lasem, Lodaya, Lumajang, Singhasari, hingga Simping kurun 1353-1363. Upacara sadran tiga dukuh di Desa Trimulyo, Sleman (Randy Wirayudha/Historia) Di setiap candi yang disambanginya, Hayam Wuruk menggelar upacara besar-besaran yang turut menarik kerumunan masyarakat sekitar. Upacara itu intinya untuk mengingat leluhur karena setelah upacara, Hayam Wuruk acap melakoni pemugaran candi. “Raja Hayam Wuruk juga menyelenggarakan pesta dalam rangka upacara Sraddha agung untuk memperingati 12 tahun meninggalnya Rajapatni (nenek Hayam Wuruk, red ). Upacara sraddha tersebut diselenggarakan dengan meriah dan khidmat dalam bulan Badrapada tahun 1362 M atas perintah ibunda raja Tribhuwanotunggadewi,” ungkap Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto dalam Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuno. Hayam Wuruk rutin menggelar upacara Sraddha selama delapan hari berturut-turut. Sehari sebelum upacara, biasanya didahului upacara pemanggilan arwah Rajapatni. Sementara di hari pertama, pada pagi hari arca pemujaannya dikeluarkan dengan iringan musik dan diberi sesaji makanan. “Upacara sadran yang sekarang dijumpai di beberapa daerah diduga merupakan pengejawantahan sisa-sisa perayaan sraddha yang tertinggal dan masih diingat orang kini,” tukas Mien Ahmar Rifai dalam Desawarna: Saduran Kakawin Nagarakertagama untuk Bacaan Remaja. Baca juga: Tradisi Berbuka Puasa Masyarakat Melayu

  • Sejarah Mayor dan Sersan Mayor

    SETELAH ada laporan bahwa Mayor Lukman menghamili gadis desa, maka Jenderal Nagabonar memberi tindakan. Dalam sebuah upacara, diumumkan pangkat Mayor Lukman diturunkan menjadi sersan mayor. Lukman pun pingsan mendengarnya. Meskipun adegan kocak dalam film Nagabonar (1986) itu hanyalah sebuah hiburan, ia tetap berangkat dari fakta historis. Adegan tersebut menggambarkan bagaimana situasi di masyarakat bawah saat Perang Kemerdekaan. Termasuk soal masih acak-acakannya organisasi militer, yang dibuktikan dengan kepangkatan. Pangkat mayor yang disandang Lukman sebelum dihukum dengan pangkat sersan mayor yang disandangnya pasca-dihukum, merupakan dua pangkat yang tingkatannya berbeda jauh. Yang pertama termasuk pangkat perwira menengah, yang terakhir bintara. Meski begitu, ada keterkaitan sejarah antara mayor dengan sersan mayor.

  • Andi Azis, Tambora, dan Hutan

    5 April 1950: Andi Azis Berontak  SATU kompi pasukan Andi Azis melancarkan aksi militer di Makassar, kala itu wilayah bagian dari Negara Indonesia Timur (NIT). Serangan dimulai pada pukul 05.00. Secara sporadis mereka menguasai tempat-tempat vital, termasuk markas Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS). Panglima Teritorial Indonesia Timur Letnan Kolonel A.J. Mokoginta , bersama sejumlah perwira lainnya, menjadi tawanan.   Andi Azis adalah mantan letnan Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang sudah bergabung dengan APRIS dengan pangkat kapten. Dia memimpin aksi militer menyusul adanya rencana pemerintah RIS mengirim 900 prajurit APRIS pimpinan Mayor H.V. Worang dari Jawa. Merasa kedudukannya terancam, Andi Azis dan pasukannya melancarkan aksi militer.   Sebagai bentuk reaksi, dua hari kemudian pemerintah RIS mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Kolonel A.E. Kawilarang . Setelah melalui pertempuran alot, pasukan Andi Azis menyerah, sementara pemimpinnya berhasil lolos. Andi Azis akhirnya datang ke Jakarta untuk menyerahkan diri pada 14 April 1950, sehari setelah Sukarno menyatakan dirinya sebagai pemberontak. Dia ditangkap dan dipenjara hingga mendapatkan kebebasannya pada 31 Agustus 1956.  Baca juga:  Agar Sulawesi Tetap Indonesia 10 April 1815: Gunung Tambora Meletus SEKIRA pukul 19.00, Gunung Tambora di Pulau Sumbawa meletus dengan dahsyat. Letusan masih terdengar hebat sampai sore keesokan harinya. Letusan tersebut merupakan puncak dari rangkaian kegiatan aktif gunung itu sejak lima hari sebelumnya.  Para vulkanolog menyebut ledakan Tambora empat kali lebih besar daripada ledakan Gunung Krakatau tahun 1883. Dengan kekuatan ledak setara 200 Megaton TNT (Trinitrotoluena), ledakan Tambora masuk dalam skala tujuh pada skala Volcanic Explosivity Index. Abu vulkanik yang diletuskan sampai ke Makassar. Bunyi letusan terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh sejauh 1.300 km. Terjadi kegelapan sejauh 600 km dari puncak selama dua hari. Tinggi gunung berkurang, dari sekitar 4.300 m menjadi 2.851 m.  Bumi mengalami bencana. Cahaya matahari tertahan oleh partikel vulkanik yang terlempar ke lapisan atmosfir. Pada 1816, orang Inggris menyebutnya “Tahun Tanpa Musim Panas”. Beberapa belahan dunia mengalami kelaparan dan wabah penyakit sampai 1819.   “Kelaparan dan penyakit cepat menyebar ke seluruh wilayah dan jumlah yang tepat dari orang mati mungkin tidak akan pernah diketahui,” tulis Jacob Smith dalam “Climatic Effects of the 1815 Eruption of Tambora”, di jurnal Universitas Hawai, Hohonu, Vol. 5, 2007.  Baca juga:  Letusan Gunung Tambora Musnahkan Dua Kerajaan 14 April 1874: Ordonansi Hutan Kolonial Disahkan PEMERINTAH Hindia Belanda mengesahkan Reglement Pemangkuan dan Eksploitasi Hutan di Jawa dan Madura, atau dikenal sebagai Ordonansi Hutan Kolonial ( Boschordononantie ).  Undang-undang ini mengatur pengelolaan hutan, terutama hutan jati sebagi komoditas. Isinya antara lain: 1. Diadakan perbedaan antara hutan jati dan hutan rimba; 2. Hutan jati dikelola secara teratur, diukur, diberi pal batas dan dipetakan serta dibagi dalam distrik hutan; 3. Eksploitasi hutan jati dapat pula dilakukan oleh pihak swasta; 4. Harus ada surat izin untuk penebangan dan penyaradan (pemanenan hasil hutan) kayu untuk penggunaan terbatas; 5. Pemangkuan hutan rimba tidak teratur berada di bawah residen yang dibantu seorang ahli kehutanan (houstvester); 6. Ketentuan dalam reglement juga berlaku di tanah kesunanan dan kesultanan.*  Baca juga:  Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua

  • Anak Buah Sentot di Benteng Imam Bonjol

    MENYERAHNYA Sentot Alibasah Prawirodirdjo, salah satu panglima andalan Pangeran Diponegoro, dan pasukannya pada 16 Oktober 1829 sangat menguntungkan Belanda. Kecakapan mereka dalam medan tempur jelas menambah kekuatan pada militer Belanda. Pasukan Sentot punya organisasi lebih rapi. Antara lain dibuktikan dengan sistem kepangkatan yang diterapkan. Menurut Egbert Broer Kielstra dalam Sumatra's Westkust van 1819–1849, ada pangkat Ngabehi, yang disetarakan sebagai kopral; lalu “Pandjie” (dibaca Panji), yang disetarakan menjadi sersan; Tommonggong (dibaca Tumenggung), disetarakan sebagai letnan. Jika sang tumengung sudah sepuh, dia dianggap letnan satu dan jika masih muda, disetarakan sebagai letnan dua. Raden Tomonggong lalu disetarakan dengan kapten. Seorang pangeran pun lalu disetarakan sebagai mayor. Tentara Belanda memperlakukan Sentot dan para bawahannya dengan baik. Terlebih setelah mereka sukses memadamkan kerusuhan yang dilakukan orang-orang Tionghoa di Purwakarta-Karawang pada 1832.

  • Rumah Jengki dan Spirit Kebebasan

    SEBUAH bangunan tak hanya menyajikan keindahan bentuk, tetapi juga menjadi representasi dari gagasan yang berkaitan dengan kondisi sosial-politik dan ekonomi. Misalnya, arsitektur Jengki yang menandai peralihan dari langgam arsitektur kolonial ke arsitektur Indonesia modern.

  • Mengenal Tokoh Haji Misbach

    Siapakah Haji Misbach?

  • Cerita Tentang Kentang Goreng

    KENTANG goreng yang juga dikenal dengan French fries atau fries telah menjadi makanan pendamping paling populer di dunia. Di berbagai jaringan makanan cepat saji, kentang goreng disajikan bersama hamburger, ayam goreng, hingga nuget. Sedangkan di restoran atau bistro, restoran kecil ala Prancis, kentang goreng menjadi pendamping steak. Kehadiran kentang beku memungkinkan konsumen menikmati kentang goreng di rumah dengan menambahkan bahan makanan lain, mulai dari sosis, bacon, telur, hingga saus cocolan seperti mayones, keju, serta saus tomat dan sambal.

  • Letnan Kolonel, Overste, dan Obos

    DI masa revolusi kemerdekaan dulu, perkara pangkat tentara merupakan salah satu hal yang sulit diatur. Selain sistemnya masih belum “mapan”, situasinya masih dirundung perang. Maka acapkali soal pangkat menimbulkan gesekan, bahkan konflik.  Salah satunya pada 1946, yang melibatkan Kolonel Zulkifli Lubis. Kala itu Lubis merupakan kepala Penjelidik Militer Chusus (PMC), cikal-bakal badan intelijen RI, yang berkedudukan di ibukota Yogyakarta. Sebagai salah satu petinggi di kemiliteran, dia hendak menertibkan pangkat anggotanya berdasarkan pendidikan militernya. Salah satu yang kena “penertiban” pangkat itu adalah Kahar Muzakkar, komandan Divisi Seberang asal Sulawesi yang dekat dengan Lubis. Pangkat baru Kahar itu diberikan Lubis dalam sebuah pertemuan. Kolonel Lubis sendiri yang menyematkan pangkat letnan satu Tentara Republik Indonesia di pundak Kahar. Namun tanpa dinyana, dengan sangat emosional Kahar cabut pangkat letnan baru itu dari pundaknya kemudian dia lemparkannya ke Lubis. Semua kaget. “Selama kemerdekaan belum tercapai 100 persen, saya tidak akan memakai pangkat!” kata Kahar yang segera meninggalkan ruangan, dikutip Andi Mattalata dalam Meniti Siri dan Harga Diri . Kahar sebetulnya kecewa. Menurut Mattalata, kala itu sebenarnya Kahar mengharapkan pangkat kolonel. Di luar momen itu, Kahar Muzakkar akhirnya mendapat pangkat letnan kolonel, satu tingkat di bawah kolonel. Pangkat Letnan Kolonel di masa revolusi biasanya dijabat oleh komandan brigade. Di antara para letnan kolonel di era revolusi terdapat Soeharto dan Achmad Yani. Ada pula bekas anggota Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) atau Koninklijk Marine yang langsung dapat pangkat letnan kolonel ketika baru bergabung dengan tentara RI karena pengalaman militer mereka. Seperti Adolf Lembong atau Subyakto yang belakangan jadi KSAL. Dalam sejarahnya, letnan kolonel terkait erat dengan pangkat kolonel. Menurut Raymond Oliver dalam makalahnya, “Why Is Colonel Called is Kernel?”, letnan kolonel adalah pembantu dari kolonel. Letnan kolonel akan mengambil alih tugas kolonel ketika kolonel tidak ada di tempat. Di Indonesia, pada awal 1950-an kolonel dan letnan kolonel biasa memimpin sebuah resimen. Ini ada kaitan dengan kebiasaan sebelumnya. Di era Hindia Belanda, menurut Pieter Marin dalam Groot Nederduitsch en Fransch Woordenboek, overste  memimpin resimen juga. Di masa Hindia Belanda itu pula letnan kolonel sering disebut sebagai Overste . Menurut Polyglott Lexicon: pt. 3. English, Dutch, German, and French. pt. 4. Dutch, French, German, and English , Overste juga acap disebut Oberste  atau Obrist  di di negara-negara berbahasa Jerman. Dari Obrist  kemudian lahir istilah Obrust, yang artinya juga sama. Overste  dan Obrust  kemudian melahirkan turunan lagi, yakni Obos . Maka ada letnan kolonel yang disebut sebagai Obos . Salah satu yang terkenal adalah Obos Penelen, begitu lidah orang Gayo menyebut nama Letnan Kolonel van Daalen yang terkenal kejam di Gayo dan Aceh itu. Kini, istilah Obrust  atau Obos  sudah terlupakan lantaran telah lama tidak dipakai. Hanya isitilah Overste  yang masih suka dipakai oleh perwira-perwira yang bisa berbahasa Belanda di dalam Tentara Nasional Indonesia, umumnya dari generasi ’45 yang kini pun semakin langka. Sementara dari segi kewenangan, kini letnan kolonel tidak lagi memimpin sebuah resimen,  tapi turun ke batalyon. Ini amat terkait dengan perbaikan organisasi di tubuh TNI. Semakin sempurnanya organisasi, personalia, dan persenjataan di TNI di era 1960-an membuat batalyon tak sekopong batalyon era revolusi. Jumlah personelnya pun bukan 300-500 lagi, sebuah batalyon bisa lebih dari 1000 personel dan semua bersenjata baik. Dari situlah kemudian komandan batalyon di TNI umumnya dipegang letnan kolonel. Salah satu contoh komandan batalyon adalah Letkol Untung yang –merupakan komandan Batalyon KK I Resimen Tjakrabirawa– memimpin G30S menculik para jenderal AD pada 1 Oktober 1965.*

  • Bayang-bayang Ali-Baba dalam UU Minerba

    RANCANGAN Undang-Undang Perubahan Keempat atas UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara atau UU Minerba disahkan menjadi undang-undang oleh DPR RI pada 18 Februari 2025. Terdapat sembilan garis besar perubahan dalam revisi UU Minerba, di antaranya terkait perlindungan masyarakat dan daerah usai kegiatan pertambangan, pelaksanaan audit lingkungan, hingga pemberian prioritas penambangan bagi kelompok-kelompok tertentu. Poin terakhir ini memicu kontroversi di masyarakat.

  • Lini Masa Konferensi Islam Asia Afrika

    Suatu peristiwa penting yang mempererat solidaritas dunia Islam di Asia dan Afrika sekaligus pernyataan sikap bersama mereka. Inilah Konferensi Islam Asia-Afrika (KIAA). 

  • Sanak Saudara Partai Nasionalis

    SEJAK berdiri pada 1927, PNI timbul-tenggelam. Sempat bubar karena beberapa tokoh utamanya ditangkap pemerintah kolonial, beberapa bekas anggotanya lalu mendirikan partai-partai politik sendiri.      Setelah Indonesia merdeka, ada yang mencoba menghidupkan kembali PNI dan ada pula yang mendirikan partai-partai nasionalis baru. Hal yang sama terjadi setelah Reformasi 1998. Semua mengklaim sebagai penerus atau pewaris sah PNI. Partai Indonesia (Partindo) 29 April 1931–18 November 1936 Pendiri/anggota: Sartono, Suwirjo, A. Sudirdjad, Manadi Dalam konferensi di Yogyakarta (26–27 November 1932), Partai Indonesia berganti nama menjadi Partindo. Sifat perjuangannya, non-kooperatif, membuat pemerintah kolonial menindak dengan keras. Sukarno, yang jadi anggota pada 1932, kembali ditangkap pada 31 Juli 1933. Sartono selaku ketua lalu membubarkan Partindo pada 18 November 1936. Pendidikan Nasional Indonesia Baru (PNI-Baru) 29 April 1931 Pendiri/anggota: Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir Penangkapan kembali Sukarno oleh pemerintah kolonial dan pembubaran PNI membuat kalangan pergerakan khawatir api perjuangan padam jika tak dilanjutkan. Sepulang dari Belanda, Mohammad Hatta menggandeng Sutan Sjahrir dan beberapa rekan lain mendirikan PNI-Baru. Wadah untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan itu menitikberatkan perjuangannya pada pendidikan kader. Baca juga:  Partai Nasional Indonesia dan Ahli Warisnya Partai Indonesia Raya (Parindra) Desember 1935–pendudukan Jepang Pendiri/anggota: Sutomo, Supomo, T.M.A. Wurjaningrat Politik tangan besi pemerintah kolonial membuat kaum pergerakan mencari jalan lain untuk bisa meneruskan perjuangan. Beberapa anggota Boedi Oetomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) seperti Sutomo, Supomo, dan W.R. Supratman lalu mengusahakan penggabungan kedua organisasi tadi menjadi satu. Kedua organisasi resmi melebur menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) dalam kongres di Surakarta, 24–26 Desember 1935. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) 24 Mei 1937–pendudukan Jepang Pendiri/anggota: Sartono, A.K. Gani, M.H. Thamrin, Amir Sjarifuddin, Wilopo Bubarnya Partindo mendorong para bekas anggotanya mencari cara untuk melanjutkan perjuangan sekaligus memelihara api idealisme. Mereka lalu membentuk Gerindo. Resminya, Gerindo kooperatif dengan pemerintah kolonial. Namun, praksisnya beda. Tak seperti Parindra, yang bisa menerima fasisme, Gerindo amat menentang. Gerindo menekankan demokrasi untuk mewujudkan cita-cita. Keadilan, menurut Gerindo, baru bisa terwujud bila asas demokrasi dijunjung tinggi. Serikat Rakyat Indonesia (Serindo) 13 Desember 1945–28 Januari 1946 Pendiri/anggota: Sartono, Mangunsarkoro, Suwirjo, Lukman Hakim, Wilopo, Sudiro, Sabillal Rasjad Partai ini berdiri setelah beberapa mantan anggota PNI lama memikirkan cara untuk mendirikan partai yang bisa mengakomodasi perjuangan PNI. Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945, yang mendorong pendirian partai politik, memberi mereka momentum baik. Pada 13 Desember, mereka sepakat mendirikan partai baru bernama Serindo. Usia Serindo tak lama karena kemudian melebur dengan beberapa partai lain menjadi PNI. Baca juga:  Saat Natsir Gagal Merangkul PNI Partai Nasional Indonesia (PNI) 29 Januari 1946–1973 Pendiri/anggota: Sartono, Ki Mangunsarkoro, Suwirjo, Wilopo, Sudiro, Sabillal Rasjad, pimpinan Partai Republik Indonesia (Madiun), Partai Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Gerakan Rakyat Indonesia (Madiun), dan bekas cabang PNI Madiun, Pati, Palembang, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Kalimantan. Kongres pertama Serindo di Kediri, 28 Januari–1 Februari 1946, dihadiri banyak organisasi masyarakat dan partai politik nasionalis. Pada 29 Januari, mereka sepakat melebur menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Tanggal itu lalu ditetapkan sebagai hari lahir PNI. Dalam pemilu 1955, PNI menjadi pemenang. Perpecahan terjadi pada masa transisi dari kekuasaan Orde Lama ke Orde Baru. Setelah menyingkirkan elemen radikal dan Sukarnois, di awal Orde Baru PNI kemudian fusi dengan partai-partai nasionalis lain. Partindo 1958 5 Agustus 1958–akhir Orde Lama Pendiri/anggota: Asmara Hadi, Winarno Danuatmodjo, Winoto Danuasmoro Pertentangan antara anggota PNI pendukung dan penentang pembaruan dalam tubuh partai mengakibatkan terjadinya perpecahan. Golongan pro pembaruan akhirnya mendirikan Partindo yang juga berazas Marhaenisme. Di kemudian hari, azas tersebut dan adanya kader PKI daerah yang menjadi anggota Partindo menyulitkan partai ini ketika Soeharto mulai menapaki kekuasaan hingga akhirnya merebut kekuasaan dari Sukarno. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) 10 Januari 1973–10 Januari 2003 Pendiri/anggota: PNI, Partai Murba, IPKI, Parkindo, Partai Katolik Kemunculan PDI tak lepas dari aturan fusi yang ditetapkan pemerintahan Orde Baru untuk menyederhanakan partai politik. Bersama empat partai nasionalis lain, PNI lalu melebur menjadi PDI. Terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai ketua umum dalam Kongres Luar Biasa pada 1993, membuat Presiden Soeharto tak senang. Melalui kongres tandingan tiga tahun setelahnya, PDI kembali memilih Soerjadi menjadi ketua umum. Perpecahan terjadi, yang bermuara pada Peristiwa 27 Juli 1996. PDI kehilangan banyak suara di Pemilu 1997 karena pendukung Megawati lebih memilih PPP –dikenal dengan sebutan “Mega Bintang”. Baca juga:  Bayang-bayang Mega-Bintang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) 1 Februari 1999 tetapi ulang tahun 10 Januari Pendiri/anggota: Megawati Soekarnoputri Pertentangan dengan kubu PDI Soerjadi mendorong Megawati membuat wadah perjuangannya sendiri. Pasca Reformasi, yang membuka keran kebebasan berdemokrasi, Megawati mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) pada 1 Februari 1999. Partai ini langsung menjadi pemenang dalam pemilu pertama yang diikutinya, Pemilu 1999. Sempat terus menurun dalam perolehan suara di dua pemilu berikutnya, PDI-P kembali menjadi pemenang pemilu bahkan tiga kali berturut-turut, Pemilu 2014, 2019, dan 2024. PNI Front Marhaenis 10 Februari 1999, dideklarasikan 21 Maret 1998 Pendiri/anggota: Supeni, Bachtar Oscha Chalik, Maruli Pardede, Edwin Sunawar Soekowati, dan Probosutedjo PNI Front-Marhaenis mengklaim sebagai jelmaan PNI 1927 yang didirikan oleh Sukarno cs. Selain azas dan ideologi partai yang banyak meng- copy PNI 1927, PNI Front Marhaenis juga didukung tokoh lawas PNI seperti Supeni. Namun, naiknya Probosutedjo, adik tiri Presiden Soeharto, menjadi ketua umum mengecewakan banyak orang. Beberapa di antaranya memilih keluar dan mendirikan partai baru. Baca juga:  Supeni, Perempuan di Balik Kemenangan PNI PNI Supeni 20 Mei 1998 Pendiri/anggota: Supeni Partai ini berdiri setelah terjadi ketidakcocokan pendirinya dengan petinggi-petinggi lain di dalam PNI Front Marhaenis. Dengan dukungan Usep Ranuwidjaja dan Sukmawati Soekarnoputri, pada 20 Mei 2002 PNI Supeni kemudian berubah menjadi PNI Marhaenisme. PNI Massa Marhaen 1927 21 Mei 1998 Pendiri/anggota: Bachtar Oscha Chalik Partai ini lahir dari kekecewaaan Bachtar dan beberapa temannya di PNI Front Marhaenis terhadap naiknya Probosutedjo, adik tiri Presiden Soeharto, menjadi ketua umum. Bachtar keluar bersama beberapa teman yang sepandangan, sepetri Maruli Pardede. Dia lalu mendirikan PNI Massa Marhaen 1927. Pada akhir Desember 1998, partai ini bergabung dengan PNI Irawan Soenario (berdiri pada 4 Agustus 1998) dan berganti nama menjadi PNI Massa Marhaen. Baca juga:  Ketika PNI Terbelah PNI Irawan Soenario 4 Agustus 1998 Pendiri/anggota: Irawan Soenario PNI Irawan Soenario merupakan satu dari sekian banyak partai yang menggunakan nama PNI. Partai ini merupakan satu-satunya partai “serumpun” yang menerima usulan penggabungan dari Bachtar. Pada akhir Desember, PNI Irawan Soenario bergabung dengan PNI Massa Marhaen 1927 menjadi PNI Massa Marhaen. PNI Massa Marhaen Desember 1998 Pendiri/anggota: Bachtar Oscha Chalik dan Irawan Soenario PNI Massa Marhaen merupakan gabungan dari PNI Massa Marhaen 1927 dan PNI Irawan Soenario. Untuk mendongkrak perolehan suara, PNI Massa Marhaen menggaet Gempar Soekarnoputra. Partai Indonesia (Partindo) 1 Desember 1999 Pendiri/anggota: Soetomo Martopradoto Para pendiri partai ini ingin melanjutkan perjuangan Partindo lama. Pada 2003, Partindo melebur ke dalam PNI Marhaenisme. Baca juga:  PNI Pasca-Peristiwa 1965 PNI Marhaenisme 20 Mei 2002 Pendiri/anggota: Supeni, Sukmawati Soekarnoputri, dll. Melanjutkan perjuangan PNI Supeni, PNI Marhaenisme mengklaim sebagai partai yang paling mirip PNI 1927. Menurut Sukmawati, PNI yang dia kenal adalah PNI yang berlogo banteng segitiga dan berazas Marhaenisme. PNI Marhaenisme menggunakan keduanya. Pada 2003, PNI Marhaenisme mendapat kekuatan baru dengan bergabungnya Partindo. Partai Nasional Banteng Kerakyatan (PNBK) 27 Juli 2002 Pendiri/anggota: Eros Djarot Kemunculan PNBK tak lepas dari kemelut yang ada di tubuh PDI-P. Eros Djarot, berada di barisan kader yang menghendaki reformasi di tubuh partai, gagal mencalonkan diri sebagai ketua umum partai karena namanya dicoret. Merasa dilecehkan, dia lalu keluar. Eros lalu mendirikan Partai Nasionalis Bung Karno. Partai itu lalu berganti nama menjadi Partai Nasional Banteng Kerakyatan. Partai Pelopor 29 November 2002 Pendiri/anggota: Rachmawati Soekarnoputri Berdirinya partai ini berawal dari dicalonkannya Rachmawati Soekarnoputri sebagai calon presiden oleh Partai Persatuan Bangsa Indonesia. Adanya kans membuat Rachmawati membentuk partai sendiri (Partai Pelopor) setahun kemudian. Partai Pelopor mengandalkan konstituennya pada Marhaenis muda perkotaan.* Tulisan ini telah dimuat di Majalah Historia No. 31 Tahun 2016

  • Adu Pedang Djojo Menggolo vs. Soerio Dento

    GEGER merupakan nama sebuah desa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Ada yang di Kabupaten Kulonprogo, ada pula di Kabupaten Gunungkidul. Menurut Peter Carey dalam Kuasa Ramalan , Desa Geger Kulonprogo adalah daerah tempat pembuatan mesiu bagi Pangeran Diponegoro. Selain itu desa tersebut, menurut Saleh Asʼad Djamhari dalam Strategi Menjinakkan Diponegoro: Stelsel Benteng, 1827-1830, pada 1829 juga jadi palagan. “Desa Geger, pos depan pasukan Diponegoro yang dijaga oleh 50-60 orang mengibarkan dua bendera (panji-panji) dan menyambut pasukan Cochius dengan tembakan gencar,” tulis Saleh. Desa tersebut punya posisi penting bagi Diponegoro. Oleh karenanya, dipegang oleh seorang komandan yang punya kecakapan sekaligus kesetiaan. “Yang menjadi kepala perang di situ adalah seorang bernama Tumenggung Djojo Menggolo alias Pangeran Djojo Negoro,” kata  J.P. Schoemaker dalam Nederlandsch-Indische Krijgsverhalen . Di daerah bernama Geger, Gunungkidul, mereka membuat benteng pertahanan di sebuah perbukitan yang dikelilingi hutan rimba. Jalur menuju benteng itu hanyalah sebuah jalan sempit penuh lubang dalam dan duri-duri. Pihak tentara kompeni Belanda mendapat informasi bahwa Djojo Menggolo punya 500 orang pasukan di sana. Namun, Djojo Menggolo dan pasukannya di Geger tak dibiarkan leluasa begitu saja oleh Belanda. Letnan Kolonel (Letkol) Le Bron de Vexela ditugasi memimpin pasukan gerak cepat ke sana. Di dalam pasukan itu ada 80 serdadu kompeni dan 200 serdadu dari Legiun Mangkunegaran. Mereka berangkat tanggal 16 Juli 1829. Butuh waktu sekitar dua hari untuk mencapai Benteng Geger. Dalam perjalanan, pasukan Letkol Le Bron bertemu kavaleri Diponegoro, yang kemudian mereka atasi. Maka sampailah pasukan Le Bron di jalan sempit akses ke benteng yang, suka-tak suka, mesti dilalui setiap prajurit Letkol Le Bron. Perjalanan mulanya sepi. Hanya tumbuhan lebat di sekitar jalan dan suara hewan yang menemani. Namun begitu sampai sebuah tebing bukit, mereka mendengar teriakan kombatan-kombatan Jawa dan tembakan-tembakan senjata api. Pasukan Le Bron diperangkap oleh Laskar Djojo Menggolo meski tetap memberi perlawanan. Sambil terus bertahan menghadapi pertempuran sulit itu, Letkol Le Bron tak tinggal diam. Dalam Nederlanders in Indie,  AG van Poelje menyebut ia sempat mengirim pesan permintaan bantuan kepada Kolonel Cochius. Sembari menunggu kedatangan bantuan yang diminta, Letkol Le Bron mengatur serangan ke bukit. Satu peleton serdadu Jawa ditugaskannya untuk memanjat sisi kiri bukit di siang bolong yang terik, sementara dua peleton serdadu Madura akan menjaga sisi kanan bukit. Serdadu-serdadu Ambon sementara waktu jadi cadangan sehingga hanya berjaga-jaga. Bala bantuan yang diminta Letkol Le Bron akhirnya datang. Yakni sepasukan pimpinan Kapten Jacob Roeps. Mereka baru datang dari daerah Gamping. Bersama pasukan Jawa, Roeps ikut memanjat di tengah hari bolong itu. “Batu itu harus didaki: mundur di sini sama saja dengan kekalahan. Djojo-Mongolo harus diusir dari sarang elangnya,” catat AG van Poelje dalam Nederlanders in Indie . Di tebing bukit itu ada akar pohon beringin. Akar itulah yang dijadikan alat satu-satunya Sersan Soerio Dento untuk memanjat tebing dengan posisi paling depan. Kapten Roeps pun mengikuti Sersan Soerio Dento. ”Tanpa bersenjata apa pun (kecuali kerisnya), Sersan Jawa pemberani Soerio-Dento memanjat pohon raksasa itu melalui akarnya, dan yang lain mengikuti teladannya dengan penuh semangat, tetapi banyak dari mereka mencoba dengan sia-sia dan jatuh menuruni lereng curam.” Ketika rombongan Soerio Dento sedang memanjat itu, Djojo Menggolo sedang dalam situasi hati yang buruk. Anaknya yang masih kecil baru saja tertembak musuh. Namun di sisi lain, hal itu memacu semangat tempurnya. Soerio Dento berhasil sampai paling dulu ke hadapan Djojo Menggolo dan kawan-kawan. Dia diikuti Kapten Roeps, lalu sersan dan kopral dari Legiun Mangkunegaran, dan terakhir beberapa serdadu dari Barisan Sumenep asal Madura. Djojo Menggolo yang sedang amat bersemangat tempur karena kesumatnya, langsung menyambut Soerio Dento dengan duel satu lawan satu. Mereka adu tebas menggunakan pedang masing-masing. Pada akhirnya, tulis van Poelje, sebuah serangan Soerio Dento berhasil merobohkan Djojo Menggolo. Namun Soerio Dento sendiri terluka parah. J.P. Schoemaker menyebut Kaji Kamid (baca: Haji Hamid) berusaha menolong Djojo Menggolo, namun dilumpuhkan Sersan Merto Rono. Soerio Dento dan Djojo Menggolo pun dianggap gugur dalam pertempuran yang dikenal sebagai Geger Gunung Kidul itu.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page