top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Di Balik Ritual Keboan

    RATUSAN warga berkumpul di sebuah tanah lapang bekas sawah. Sejak pagi suara gamelan dari sebuah panggung mengalun bertalu-talu. Bunyi irama yang berulang-ulang membuat beberapa orang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka bermain lumpur di sepetak tanah yang sudah disediakan panitia. Pada saat bersamaan, warga desa menggelar arak-arakan dengan membawa beberapa replika hewan kerbau. Ikut pula puluhan orang dengan tubuh berlumuran cairan hitam –dari arang dan oli. Mereka mengenakan sepasang tanduk buatan dan lonceng di leher. Di tengah perjalanan mereka kerasukan roh leluhur desa dan bertingkah layaknya kerbau. Keceriaan terpancar dari wajah Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Untuk kesekian kalinya mereka menggelar ritual adat keboan atau dikenal dengan Keboan Aliyan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa tradisi Keboan Aliyan merupakan salah satu kekayaan budaya asli warga lokal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mengangkat tradisi ini sebagai bagian dari Banyuwangi Festival; sebuah bentuk apresiasi pada warga yang terus menjaga warisan leluhur. “Banyuwangi boleh maju, tapi tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat tidak akan kita tinggalkan. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual rutin tapi juga menggambarkan semangat guyub dan gotong royong warga,” kata Anas , September 2019. Keboan Aliyan rutin digelar setiap tahun; yakni pada hari minggu antara tanggal 1 sampai 10 bulan Suro –penanggalan Jawa. Ritual ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus upacara bersih desa agar seluruh warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Kisah Dua Dusun Dalam masyarakat agraris, kerbau menempati posisi penting. Kerbau dianggap sebagai mitra dan tumpuan mata pencaharian petani. Kerbau juga dihubungkan dengan kesuburan tanah karena membantu membajak sawah. Selain itu, kerbau dianggap binatang keramat nan suci. Ia memiliki kebajikan, kesabaran, dan welas asih. Ia simbol kekuatan dan pengantar jiwa yang sudah mati menuju alam lain. Sejumlah masyarakat adat memunculkan tradisi yang berkaitan dengan kerbau. Masyarakat suku Osing di Banyuwangi mewujudkannya dalam rituan Keboan Aliyan. Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-18. “Tidak mungkin untuk menyatakan dengan pasti berapa umur ritual itu. Meskipun beberapa mengklaim bahwa itu sudah ‘berabad-abad’, yang lainnya hanya menyatakan bahwa ia kembali ke zaman kolonial,” tulis Robert Wessing dalam “Hosting the Wild Buffaloes: The Keboan Rituals of the Using of East Java, Indonesia, NSC Working Paper  No. 22, Mei 2016. Menurut tradisi lisan, ritual keboan berawal dari hama penyakit yang menyerang lahan pertanian penduduk. Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal desa, bersemedi dan mendapat petunjuk agar anaknya bersemedi pula. Petunjuk itu pun dijalankan kedua putra Buyut Wongso. Ada beberapa versi penyebutan nama kedua putra Buyut Wongso. Putra pertamanya, yang kemudian jadi leluhur Krajan, disebut Raden Joko Pekik, Suko Pekik, atau Buyut Pekik. Sementara putra kedua, leluhur Sukodono, disebut dengan nama Raden Pringgo, Rangga, Buyut Wadung, atau Buyut Turi. Terlepas dari perbedaan itu, kedua putra Buyut Wongso bersemedi minta petunjuk. Terjadilah hal yang aneh. Mereka mendadak berperilaku seperti kerbau. Mereka berguling-guling di persawahan. Setelah itu hama penyakit menghilang. “Kejadian yang dilakukan oleh kedua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian ditiru dan dilanjutkan oleh masyarakat setempat yang selanjutnya disebut dengan ritual adat keboan” tulis Salamun dkk dalam Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur: Kajian Ritual Keboan . Menariknya, di Desa Aliyan terdapat dua dusun yang mempertahankan tradisi ini, yakni Krajan dan Sukodono. Secara terpisah kedua dusun ini menjalankan ritual yang sama dan digelar di hari yang sama pula. Hal ini tak lepas dari konflik di antara keturunan Buyut Wongso Kenongo. Karena sama-sama cakap, Buyut Wongso Kenongo sulit memutuskan siapa dari kedua putranya yang akan menggantikannya sebagai pemimpin desa. Bahkan dalam suatu “pertarungan” pun tak ada yang menang. Maka, dia memutuskan untuk memisahkan keduanya: putra pertama tetap di Krajan sementara putra kedua pindah ke Sukodono. “Sejak itu ada ketegangan di antara dua dusun ini, dan mereka merayakan ritual keboan secara terpisah,” tulis Robert Wessing. Kendati terpisah, para sesepuh desa berusaha melaksanakan ritual keboan secara bersamaan. Upaya itu terwujud. Kendati ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, waktu pelaksanaan dan jalur arak-arakannya berbeda. Arak-arakan “manusia kerbau” terbagi menjadi dua arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo. Sedangkan timur dari Dusun Krajan, Cempokosari, dan Timurejo. Kedua rombongan tak boleh berpapasan karena roh leluhur yang merasuki tubuh bisa saling serang. Setelah diberi doa di Balai Desa Aliyan, “keboan” dari Krajan bergerak ke arah Krajan, Timurjo, dan Cempokosari, dan kemudian mampir ke makam leluhur. Sementara “keboan” dari Sukodono bergerak ke Kedawung dan Sukodono, dan selanjutnya mampir ke makam leluhur. Tradisi Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, pada 8 September 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Dewi Sri Turun Pelaksanaan ritual Keboan Aliyan melibatkan partisipasi penduduk desa. Sehari sebelum ritual adat keboan, masyarakat bergotong-royong untuk mempersiapkan segala kebutuhan ritual. Umbul-umbul (bendera berwarna-warni) dipasang di sepanjang jalan desa. Gapura dari bambu didirikan di pintu-pintu jalan masuk desa. Gapura dihiasi dedaunan dan janur dan berbagai macam hasil bumi sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan. Keesokan harinya, ritual keboan diawali dengan selamatan di empat penjuru desa ( ider bumi ). Usai selamatan, dimulailah arak-arakan “manusia kerbau” keliling desa. Saat itulah mereka kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka membantu petani membajak, mengairi, hingga menabur benih padi. Seorang perempuan cantik, perwujudan Dewi Sri, lalu menebarkan benih padi ( ngurit ). Para “keboan” berguling-guling di atas benih padi tersebut. Masyarakat ikut berebut untuk mendapatkan benih padi, yang dipercaya memiliki daya magis. Benih padi itu diyakini bisa mempengaruhi kesuburan dan keberhasilan panen serta terhindar dari hama maupun bencana lainnya. “Ritual ngurit disebut sebagai puncak acara, karena dalam ritual ngurit mengekspresikan tujuan dari upacara keboan, yakni Dewi Sri turun dari tandu memberikan benih padi (simbol kemakmuran) kepada pawang untuk disebarkan. Benih padi tersebut sebagai bekal para petani mendapatkan panen yang melimpah,” tulis Salamun dkk. Ritual keboan sempat mati suri pada 1990 hingga 1998. Kini, ritual ini menjadi salah satu atraksi paling ditunggu dalam Festival Banyuwangi. “Tradisi-tradisi ini menjadi identitas dan ciri khas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan daerah lainnya. Otensitas inilah yang terus kami dorong dan kembangkan menjadi atraksi daerah yang menarik wisatawan,” ujar Bupati Anas. Selain di Desa Aliyan, tradisi serupa dilestarikan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dengan nama Kebo-Keboan. Tapi untuk tahun 2020, hanya Keboan Aliyan yang masuk dalam Banyuwangi Festval dan rencananya ritual itu akan digelar pada 6 September 2020.*

  • Kisah Tentara Jadi Diplomat

    LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana. Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast  gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya.      Dalam otobiografinya Sanul Daca : Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto , ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak.   Soegih Arto senang bukan kepalang ketika ditunjuk untuk mengikuti kursus atase militer. Penunjukan ini berarti selangkah lagi menuju penugasan ke luar negeri. Pada 21 September 1959, Soegih Arto diangkat sebagai Konsul Jenderal (Konjen) di Singapura menggantikan Mayor Jenderal TNI G.P.H. Djatikusumo. Sebenarnya, jabatan ini sama dengan duta besar namun Singapura masih berada di bawah protektorat Inggris. Maka kedudukan resmi Soegih Arto adalah Konjen KBRI di London. Pangkatnya naik setingkat jadi kolonel. “Persiapan mental telah matang. Cara makan mempergunakan pisau dan garpu sudah bisa, rapi dan teratur asalkan dagingnya empuk,” celoteh Soegih Arto. Setelah beberapa minggu menginap di Hotel Des Indes, Jakarta, Kolonel Soegih Arto berangkat ke Singapura. Dia memboyong serta istri dan sepuluh anaknya. Setiba di Singapura, Soegih Arto menempati rumah besar yang terletak di Patterson Road No. 33.  Rumah itu dilengkapi lapangan tenis dan mobil bagus dengan tiang bendera Merah Putih. Senang hati Soegih Arto karena harapannya terkabul.      Hari-hari dilakoni dengan menjamu tamu yang datang ke konsulat. Saat itu, Singapura mulai tumbuh menjadi destinasi wisata belanja. Konsulat menjadi tempat yang dikunjungi orang Indonesia dengan kepentingan macam-macam. Ada tamu yang akan pulang ke Indonesia namun ingin shopping  dulu. Ada tamu yang akan bertugas ke luar negeri dan ingin berbelanja untuk perlengkapannya. Ada pula yang datang ke konsulat sekadar singgah untuk beristirahat. Apabila membandingkannya dengan tugas tentara lapangan, Soegih Arto merasakan suasana dinas yang lebih menyenangkan di Singapura. Iklim persis sama dengan di Indonesia. Makanan berlimpa ruah, buah-buahan tersedia dalam banyak ragam serta dalam jumlah yang cukup. Barang apa saja ada. Kemampuan bahasa Inggrisnya sudah cukup lumayan. Di Singapuralah untuk kali pertama Soegoh Arto mengenal klub malam. Untuk alasan kesehatan, sebenarnya sang kolonel tidak tertarik ke tempat plesiran duniawi itu. Akan tetapi ada kalanya dia mesti berkunjung ke klub malam untuk mengantar tamu sekaligus agar tidak dipandang kolot dan udik. “Kepergian ke night club adalah sebagai sarana membulatkan tekad dan pengalaman,” ujar Soegih Arto. “Masakan orang ramai membicarakan night club , kita diam seribu bahasa, padahal kita bertugas di luar.” Selama menjalankan tugas diplomatik di luar negeri, Soegih Arto mendapat berbagai tawaran fasilitas. Akan tetapi, tidak semua fasilitas itu dapat dia nikmati. Sebagai diplomat, rokok murah karena tidak dikenai cukai namun Soegih Arto tidak merokok. Begitu pula dengan minuman keras yang bebas cukai tapi Soegih Arto juga bukan peminum. Tapi, Soegih Arto ketiban rejeki soal bensin. “Sebagai diplomat, bensin murah karena tidak dikenakan cukai, nah... ini baru bermanfaat,” katanya. Salah satu capaian penting Soegih Arto sebagai konjen di Singapura adalah membangun Wisma Indonesia. Gedung itu dimaksudkan untuk menyatukan semua perusahaan dan kantor Indonesia di bawah satu atap. Lokasinya terletak di Orchard Road, jantung kota Singapura yang merupakan pusat keramaian. Setelah pembangunan rampung pada 1964, gedung itu dipergunakan untuk dinas, pusat bisnis dan hiburan, termasuk kuliner. Seluruh gedung dikelililngi dengan tembok ukiran Bali yang menceritakan riwayat Ramayana. Sayang sekali ketika terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia memuncak, gedung Wisma Indonesia direbut oleh pemerintah Malaysia. Bangunan itu baru dikembalikan pada 1965, setelah pemisahan Singapura dengan Malaysia. Namun pada 1983, pemerintah Singapura menghancurkan gedung tersebut untuk dijadikan kawasan pertokoan. Lewat ganti rugi, Wisma Indonesia dipindahkan ke Chatsworth Road. “Sayang sekali gedung yang demikian megahnya, dijual, diambrukkan dan diadakan ruislag  dengan daerah yang jauh dari pusat kota,” kenang Soegih Arto.*

  • Pertemuan dr. Soeharto dan Abdurachim

    PADA suatu malam di tahun 1937, dr. R. Soeharto yang membuka praktik di Jalan Kramat 128 Jakarta Pusat, dipanggil seorang ibu yang tinggal di Jalan Kesehatan, Jakarta. Ia meminta tolong karena suaminya mengancam akan mencelakai para penghuni jika tidak meninggalkan rumah. Soeharto memeriksanya dengan susah payah, dibantu orang-orang yang memegangnya. Tak ada kelainan baik fisik maupun tanda kena malaria yang dapat menyebabkan penderita mengamuk. Soeharto pun menyimpulkan orang itu kesurupan.

  • Saat Hatta dan Kawan-kawan Dikencingi Sukarno

    BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya. “Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu. “Perwira Jepang mengantarkan kami ialah Letnan Kolonel Nomura dari Gunseikanbu. Dalam perjalanan ke Dalat, kami menginap semalam di Singapura dan semalam di Saigon,” kata Hatta dalam Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi . Perjalanan menuju Saigon diwarnai hujan lebat dan kabut tebal sebelum pesawat mendarat. Meski pilot sudah memilih membawa pesawat berputar-putar di udara selama sejam, keadaan tak kunjung membaik sehingga memaksanya mendaratkan pesawat. “Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami semua sangat tergoncang karenanya,” kata Sukarno mengenang. Bercampur dengan kecemasan karena tak tahu tujuan pemanggilan mereka oleh Terauchi, pengalaman tak mengenakkan mereka itu belum selesai. Penjemput yang akan membawa mereka ke Saigon belum juga datang setelah beberapa jam. “Selama berjam-jam kami menunggu dengan sangat gelisah dan membikin urat syaraf serasa akan pecah,” kata Sukarno melanjutkan. Mereka akhirnya diterima Jenderal Terauchi selaku perwakilan Tokyo di Asia Tenggara, di Dalat keesokan paginya. Kepada mereka, Terauchi menyatakan Tokyo telah memutuskan memberi kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Bagaimana langkah selanjutnya untuk mewujudkan kemerdekaan itu, Terauchi mempersilahkan pimpinan bangsa Indonesia mengambil sepenuhnya langkah-langkah yang diinginkan, pemerintah Jepang tak ingin mencampuri lagi. “Aku gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku,” kata Hatta. Setelah menginap semalam di Saigon, rombongan Sukarno bertolak ke Singapura untuk transit semalam sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Dalam perjalanan kembali ke Jakarta inilah kesialan kembali dialami rombongan. “Kami tidak lagi naik pesawat penumpang yang enak. Kami diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu penerbang dan dengan pesawat pembom yang sudah uzur dan ringsek ditambah lagi dengan hiasan lubang-luabang bekas peluru. Tidak ada tempat duduk. Kami harus berdiri sepanjang perjalanan atau berbaring. Dan kami membeku kedinginan. Tidak ada pengukur suhu atau pesawat pemanas. Kakus pun tidak,” kata Sukarno. Meski kondisi pesawat tak nyaman, Sukarno memanfaatkan penerbangan itu untuk berdiskusi dengan Hatta. Yang diajak berdiskusi pun tak mengeluhkan fasilitas yang ada karena pikirannya tersedot untuk memikirkan cara-cara apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan kemerdekaan negerinya di tengah kesempatan emas itu.    Di tengah diskusi itulah tiba-tiba Sukarno berbisik kepada dokter Suharto, dokter pribadinya. “Saya mau buang air kecil. Bagaimana ya?” Pertanyaan Sukarno membuat sang dokter segera memeriksa keadaan untuk menemukan cara. Setelah tak menemukan cara, Suharto menyarankan Sukarno agar melakukan hajatnya di bagian belakang pesawat tempat kumpulan lubang bekas tembakan berada. Sukarno pun manut  dan segera ke belakang meninggalkan Hatta yang tetap di posisinya. “Nah, baru saja kumulai maka angin yang keras bertiup melalui sekelompok lubang peluru dan menerbangkan semua itu memenuhi ruang pesawat. Kawan-kawanku yang malang terpaksa mandi dengan zat cair itu. Dalam keadaan setengah basah inilah Pemimpin Besar dari Revolusi Indonesia sampai di Jakarta,” kata Sukarno.*

  • Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik

    GUNA mencegah penularan virus corona dari daerah zona merah ke berbagai wilayah lainnya, pada Selasa, 21 April 2020 Presiden Joko Widodo resmi melarang masyarakat mudik Lebaran. Keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, mengingat mudik adalah salah satu tradisi terbesar umat Islam di Indonesia. Pada saat yang sama mencegah penularan virus juga penting. Pendeknya, ‘perang’ melawan virus menyebabkan terhentinya arus keinginan untuk mudik. Menilik sejarah Indonesia, sebenarnya umat Islam Indonesia tidaklah selalu bisa mudik ke kampung halamannya. Salah satunya pada masa awal pascakemerdekaan Indonesia, saat muslim Indonesia merayakan Idul Fitri yang jatuh pada Rabu, 28 Agustus 1946. Waktu itu mudik sudah jadi tradisi walau belum segencar dekade 1970-an, saat urbanisasi besar-besaran mulai terjadi di Indonesia. Pada 1946 itu, beberapa kota di Indonesia telah cukup besar dan menarik banyak orang, terutama pelajar, pedagang, dan pencari kerja dari luar kota bahkan luar pulau Jawa.

  • Demam Drama Korea Lintas Zaman

    MIMPI apa Han So-hee sampai harus jadi sasaran luapan kegeraman warganet Indonesia sejak akhir April lalu? Aktris jelita pemeran Yeo Da-kyung di drakor (drama Korea) bertajuk The World of the Married itu dicecar dan dimaki sebagai pelakor alias perebut laki orang. Untung rumahnya di Seoul, Korea Selatan, sekira 5.200 kilometer dari Jakarta jaraknya. Bila ia tinggal di Jakarta, bisa jadi rumahnya disatroni warganet, tak peduli sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak dan peduli setan tidak kenal juga. Maka jadilah akun Instagram -nya yang jadi sasaran kemarahan. Menukil Kumparan , 26 April 2020, akun pribadinya @xeesoxee disesaki makian dan hujatan. Kata “pelakor” pun sampai viral di Negeri Ginseng, merujuk pada perannya di drakor itu yang sudah sangat menempel pada citranya. Baca juga: Banjiha , Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite “Di Indonesia wanita yang ketahuan selingkuh dengan suami orang lain tidak dapat diterima masyarakat karena mayoritas warganya Muslim. Tapi bagaimanapun sepertinya warganet Indonesia tidak bisa membedakan mana drama dan kenyataan. Mereka mengungkapkan kemarahan pada Han So-hee,” tulis seorang blogger Korsel yang tak disebutkan namanya di laman cafe.naver.com yang dikutip Kumparan. Si cantik Han So-hee yang jadi sasaran hujatan netizen Indonesia. ( jtbc.com ). Toh, So-hee tak paham hujatan yang memakai bahasa Indonesia itu. Lagipula, peran pelakor bukan hanya dimainkan oleh So-hee dan tentunya bukan jadi bumbu cerita milik The World of the Married semata. Cruel Temptation (2008), Pink Lipstick (2010), Woman of Dignity (2017), The Last Empress (2018), 9.9 Billion Woman (2019), hingga V.I.P (2020) juga menampilkan peran serupa. Hanya saja, drakor-drakor lain itu tak se-viral The World of the Married yang tayang dalam 16 episode di saluran JTBC . Drakor garapan sineas Mo Wan-il yang me- remake drama seri BBC , Doctor Foster, itu selain viral jalan ceritanya juga mencetak rekor rating tertinggi dalam sejarah drakor. Di dalam negeri saja, ia mencetak 24,3 persen, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Sky Castle (2018-2019) dengan angka 23,8 persen. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Memang, drakor baru populer di Asia berbarengan dengan fenomena “ Korean Wave ” atau tren gelombang budaya pop Korea pada akhir 1990-an. Arus itu dalam lidah orang Korsel sendiri dikenal dengan hallyun . Ia berkembang dalam dua genre : kontemporer, yang kisahnya tentang asmara; dan sageuk, drama yang mengambil latarbelakang sejarah kuno era kerajaan. “Pada pengujung 1990-an, tak lama setelah tren dan popularitas drama urban Jepang mulai menurun di Asia, pop-culture Korea dalam bentuk drama televisi menikmati pesatnya pelonjakan popularitas. Sebutan hallyun sendiri merupakan sebutan yang lahir dari media-media China,” ungkap Won Kyung-jeon dalam The Korean Wave and Television Drama Exports, 1995-2005 . Sosok Da-kyung yang dimainkan So-hee yang begitu menggigit hingga memviralkan pula kata kata "pelakor" di Korea. ( jtbc.com ). Hal itu jadi komoditas tersendiri bagi pemerintah Korea Selatan, sambung Kyung-jeon. Badan Perdagangan Dunia (WTO) mendata, pada 2007 Korsel sudah menjadi eksportir jasa audiovisual terbesar ke-10 di dunia. Menurut KOCCA (Korea Creative Content Agency), Korsel juga menjadi eksportir program hiburan berseri kedua terbesar di Asia pada 2010, menguntit Hong Kong. Pada 2011, program siaran hiburan dari Korea mencapai angka USD227,8 juta. “Drama Korea sendiri selalu mempertahankan posisi dominan dalam ekspor siaran konten Korea. Proporsi drama secara keseluruhan dari ekspornya terus meningkat dari 64,3 persen pada 2001 menjadi 87,6 persen pada 2010. Banderol drama Korea juga lebih ekspansif ketimbang Hollywood atau produksi-produksi Jepang di pasar Asia sejak pertengahan 2000-an,” imbuh Kyung-jeon. Sejak awal 2000-an hingga sekarang, Korea berjaya dengan drakor selain dengan K-Pop-nya. Kejayaan itu diraih setelah jeda waktu amat panjang sejak drakor pertamakali muncul pada 1920-an. Jaringan Radio hingga Layar Kaca Drakor pertamakali mengudara lewat jaringan radio, seiring berdirinya Kyosong Pangsongguk (kini Korean Broadcasting System) pada 16 Februari 1927. Mulanya, stasiun radio yang didirikan Gubernur Jenderal Korea Jenderal Ugaki Kazushige itu memberi porsi besar pada program musik dan drama radio berbahasa Jepang. Hanya 30 persen yang berbahasa Korea. Baca juga: Kala Budaya K-pop Menggema “Porsi lebih banyak untuk program musik tradisional atau drama yang dikombinasikan musik klasik Barat baru diperbolehkan pada periode 1934-1936. Tapi tetap saja radio difungsikan sebagai publikasi media untuk imperialisme Jepang ketimbang media populer komersil,” tulis Lee Jung-yup dalam “The Birth of Broadcating Media and Popular Music” yang dimuat buku Made in Korea: Studies in Popular Music . “Oleh karenanya beberapa elit budayawan seperti Kim Yong-pal, Yi Ha-yun, Hong Nan-pa, dan Yi Hae-ku berusaha merepresentasikan program-program ‘ke-Korea-an’ dalam program radio. Baik itu musik tradisional maupun serial drama radio,” sambung Jung-yup. Drakor "The World of the Married" yang memecahkan rekor share rating dalam sejarah Korea. ( jtbc.com ). Sayangnya, tiada catatan soal drama bertajuk apa yang pertamakali diudarakan via radio mengingat banyak arsip tertulis hancur akibat perang. Tetapi, sambung Jung-yup, serial drama radio yang tren saat itu adalah drama bertema kriminal atau cerita detektif. Itu dipengaruhi novel-novel detektif dan kriminal asal Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang yang tengah booming. Setelah absen mengudara akibat Perang Dunia II dan disusul Perang Korea (1950-1953), drama radio baru eksis lagi pada 1954 atau setahun setelah gencatan senjata. Sebagaimana diungkapkan Kim Hwan-pyo dalam Korea Through TV Drama , drakor via radio yang paling populer saat itu bertajuk Cheongsilhongsil (1954). Kisahnya berpusar pada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya karena Perang Korea. Baca juga: Di Balik Lagu dan Bendera Pemersatu Korea Drakor tersebut sukses karena kisahnya erat dengan yang dirasakan masyarakat dalam Perang Korea. “Era itu menjadi masa di mana banyak masyarakat Korea yang masih bersedih dan ingin menangis. Drama itu memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menangis dan tertawa sekaligus memberi penontonnya secercah mimpi dan romantisme yang tak bisa mereka temukan dalam kenyataan hidup saat itu,” terang Hwan-pyo. Drakor Korea bergenre sageuk di era 1960-an. Pada 1956, drakor mulai beralih ke layar kaca lewat Stasiun TV HLKZ-TV yang menayangkan Cheongugui mun (Gerbang Nirwana). Drakor itu berbentuk film televisi berdurasi 15 menit. Sementara, drama berbentuk serial pertama baru hadir pada 1962, bertajuk Gukto manri . Drakor berlatarbelakang era Kerajaan Goryeo itu ditayangkan Tongyang Broadcasting ( TBC ). Pada 1970-an hingga 1980-an, drakor ber-genre kontemporer, di antaranya Saeeomma atau Ibu Tiri (1972-1973) dan Saranggwa yamang (Cinta dan Ambisi, 1987), mulai mendominasi. Jam tayangnya pun dimulai pada pagi sebagai strategi untuk menggaet pasar “emak-emak” yang tidak bekerja. Kisah-kisahnya pun disajikan seerat mungkin dengan kondisi para ibu rumah tangga di Korea. Baca juga: Korea Bersatu di Arena “Ibu-ibu rumah tangga mulai jadi plot utama drama-drama TV. Karena ibu rumah tangga cenderung menghadapi stres yang lebih dalam keseharian mereka. Dan karena banyak dari mereka tak punya sasaran pelampiasan stres, mereka pasti mengalihkan emosi mereka ke hiburan televisi, khususnya opera sabun (drama serial),” tambah Hwan-pyo. Drakor kondang "Winter Sonata" yang menggebrak pasar Asia pada awal 2000an. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, drakor akhirnya menaklukkan Asia pada awal 2000-an. Pendobraknya adalah drakor Winter Sonata (2002). Melodrama garapan sineas Yeon Seok-ho yang rilis dalam 20 episode itu meniti suksesnya dengan menembus pasar di Jepang. “Boleh dikatakan Winter Sonata yang pertama mengikuti formula dasar untuk kesuksesan di televisi: pemeran-pemeran rupawan, keindahan alam, dan plot manis tentang cinta, kematian, dan harapan akan hubungan romantis, semua itu disempurnakan dengan soundtrack musik yang melankolis,” ungkap Korean Culture and Information Service South Korea dalam K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal . Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in dalam Perdamaian Korea “Semuanya begitu ‘ ngeklik ’ hingga Winter Sonata menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Di episode terakhir saja, NHK yang menayangkannya mendapat share rating 20 persen, melebihi acara lain di waktu prime time yang rata-rata 10 persen rating -nya. Di akhir 2004, diperkirakan hampir 70 persen warga Jepang sudah menonton setidaknya satu episode,” lanjutnya. Saking bekennya, Winter Sonata sampai dibuat versi anime -nya dalam bentuk delapan jilid komik pada 2004-2005 dan teater musikal di Tokyo, Osaka, dan Sapporo pada 2006. Formula itulah yang kemudian dicontek drakor-drakor lainnya, termasuk The World of the Married yang bikin geram warganet Indonesia. Yang sabar ya, So-hee!

  • Rachmat Kartolo Pahlawan Patah Hati

    KABAR berpulangnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot membuat segenap “sobat ambyar” makin ambyar. Pasalnya, belum lama ini penyanyi campursari kelahiran 1966 itu didapuk sebagai The Godfather of Broken Heart. Fenomena Didi Kempot mengingatkan kita pada pendahulunya, yang juga pernah dijuluki sebagai pahlawan patah hati, Rachmat Kartolo. Rachmat Kartolo lahir di Jakarta pada 13 Maret 1938 dari pasangan seniman Kartolo dan Rukiah. Kartolo dan Rukiah kala itu sudah terkenal sebagai bintang film. Rachmat sendiri ketika muda belum tertarik masuk ke dunia film dan justru menjajal kemampuan seni musiknya. Pada 1940-an, bersama saudaranya, Iman Kartolo dan Jusuf Kartolo, Rachmat sudah membentuk band kecil.

  • Wabah Rabies Munculkan Vampir

    PADA abad ke-18, kepercayaan pada vampir menjadi mitos tenar di daerah Balkan. Vampir digambarkan sebagai orang mati yang bangkit dari kubur, berkelana saat malam, dan bertahan hidup dengan mengisap darah orang atau hewan. Dalam risetnya bersama Christopher Cowled, Bats and Viruses: A New Frontier of Emerging Infectious Diseases,  Lin Fa Wang menduga mitos vampir erat kaitannya dengan rabies yang pernah mewabah di Eropa. Dugaan mereka berasal dari kesamaan ciri vampir dan penyakit rabies, serta kemunculan mitos vampir yang bersamaan dengan wabah. Secara umum diketahui bahwa rabies ditularkan lewat anjing atau serigala. Namun, rabies juga ditemukan menginfeksi hewan herbivora yang ditularkan oleh kelelawar. Dari situlah dokter asal Spanyol Juan Gomez-Alonso juga menduga legenda vampir dan manusia serigala mungkin berkaitan erat dengan pandemi rabies di Eropa Timur dari 1721 hingga 1728. Kelelawar juga sering muncul dalam cerita rakyat Eropa Timur. Asosiasi rabies dan kelelawar punya akar kuat dalam takhayul di daerah tersebut. Penderita rabies punya gejala yang mirip dengan ciri vampir. Wabah rabies pada abad ke-18 ini menyebar di Inggris, Spanyol, Prancis, Itali, hingga Ceko dan Slovakia. Sebelum rabies diakui sebagai penyakit, kelelawar juga dianggap sebagai penyebab kegilaan di Eropa. Orang yang perilakunya tidak menentu diasosiasikan dengan kelelawar. Hal ini dibuktikan dengan adanya istilah dan frasa seperti “ going bats ”, “ batty ”, atau “ bats in one’s belfry ” yang seringkali digunakan untuk menggambarkan ketidakstabilan mental. Akademisi Jerman, Felicitas Schott   dalam bukunya The Undead Among Us  menyebut mitos vampir berasal dari Eropa Tenggara, khususnya daerah yang kini jadi wilayah Serbia, Makedonia, dan Bulgaria. Segera setelah vampir jadi bagian dari cerita rakyat, kisah serupa juga muncul dalam bentuk karya sastra. Figur vampir muncul dalam beberapa puisi Jerman abad ke-18. Antara lain puisi “Main Liebes Magdchen glaubert” karya Heinrich August Ossenfelders dan puisi “Die Braut bon Korinth” karya Johann Wofgang von Goethe yang dipublikasi pada 1797. Puisi-puisi Jerman tersebut menginspirasi John Polidori dalam menulis The Vampyre  pada 1819. Schott menduga, karya Polidori merupakan sastra bertema vampir pertama yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris. Namun, kisah vampir paling terkenal ialah Dracula  karya Bram Stoker yang terbit pada 26 Mei 1897. Tanggal ini diperingati oleh para pencinta sastra bertema vampir sebagai World Dracula Daya. Kisah Dracula  mengambil beragam tradisi Eropa, namun fokus utamanya pada sejarah dan budaya Transylvania, Romania bagian tengah. Wang dan Cowled menduga karakter vampir yang bisa berubah wujud menjadi kelelawar dalam karya Stoker mirip dengan sifat hematophagous  (pengisap darah) dan nocturnal kelelawar vampir. Sementara, Schott menyebut prototipe tokoh Dracula karya Stoker diambil dari kisah Vlad II, Pangeran Walaccia (1431-1476) yang dikenal juga sebagai Vlad Dracula atau Vlad the Impaler. Ia amat ditakuti oleh orang Walaccia karena kegemarannya menyiksa dan mengeksekusi musuh. Vlad Dracula lahir di Transylvania, Romania pada 1431 dan memerintah Walaccia dari 1456 sampai 1462. Beberapa sejarawan menggambarkan Vlad sebagai penguasa yang adil namun kejam. Citra kejam tersebut melekat karena Vlad suka membunuh musuh-musuh yang tertangkap dengan menusuk mereka di tiang kayu. Menurut legenda, Vlad Dracula juga suka menikmati jamuan makan di tengah-tengah korban yang sekarat dan mencelupkan rotinya ke dalam darah mereka. Meski kebenaran kisahnya diragukan, orang-orang yang percaya kisah ini lalu menyebarkannya. Kisah inilah yang memicu imajinasi Stoker untuk menciptakan Count Dracula, yang juga berasal dari Transylvania, menghisap darah korbannya, dan bisa dibunuh dengan menghujam jantungnya dengan pasak. Kisah ini pula yang kemudian jadi memori kolektif dalam budaya Barat. Tiap kali menyebut vampir, rujukan utamanya ialah Dracula karya Stoker. Dalam bukunya The Vampire in Folklore, History, Literature, Film and Television,  J. Gordon Melton dan Alysa Hornick menyusun daftar panjang karya bertema vampir dari 1800 hingga 2013. Keduanya menemukan setidaknya ada enam ribu karya bertema vampir yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris.  Namun, menurut Melton dan Alysa, perkembangan sastra bertema vampir belum terlihat bisa menyaingi Dracula dan sastra abad kesembilan belas lain. “Banyak dari literatur kontemporer ini dipandang sebagai cerita populer daripada sastra serius,” tulis Melton dan Alysa.*

  • Stauffenberg, Opsir "Judas" Kepercayaan Hitler

    DI tengah semilir angin di halaman Bendlerblock (Markas AD Jerman Nazi), dini hari, 21 Juli 1944, hatinya hancur. Pikirannya terbang jauh membayangkan nasib istri dan tiga anaknya. Pun begitu, Oberst (kolonel) Claus Graf von Stauffenberg masih bisa mengendalikan diri dengan menjaga sikap sebagai perwira meski ia bakal menjelang maut. Dari tempatnya ditahan dekat halaman, setidaknya dua kali Stauffenberg mendengar letusan-letusan senapan regu tembak yang menyasar dua koleganya. Stauffenberg di “kloter” ketiga tak lama kemudian menyusul ke tempat muasal letusan senjata itu bersama koleganya yang lain dan ajudannya, Letnan Werner von Haeften. Jarum jam yang nangkring di salah satu tembok bangunan Bendlerblock menunjuk pukul 1ketika para prajurit yang menahannya menyeret dan meninggalkannya dalam satu barisan dengan koleganya tanpa dibelenggu apapun. Tak lama kemudian, komandan regu tembak mulai memberi aba-aba. Alih-alih gentar dan kecut, ia menatap tajam para personil regu tembak yang bersiap menekan picu senapan. Seketika terdengar perintah terakhir komandan regu tembak: “ feuer !” (tembak!). Plakat peringatan para aktor "Plot 20 Juli" di kompleks Bendlerblock (Foto: Bendlerblock Memorial) Stauffenberg masih tegap berdiri. Ajudan Von Haeften rupanya sebagai bakti terakhirnyapasang badan menghalangi peluru agar tak menembus Stauffenberg. Komandan regu tembak pun memerintahkan anak buahnya mengokang lagi senapan mereka. Kini, tiada lagi yang bisa melindungi Stauffenberg dari terjangan peluru. Tetapi sepersekian detik sebelum komandan regu tembak memberi perintah tembak, Stauffenberg sempat meneriakkan kata-kata terakhirnya: “ Es lebe das heilige Deutschland !” (“jayalah Jerman yang suci!”) Eksekusi Stauffenbergjadi langkah pamungkas diktator Jerman-Nazi Adolf Hitlerterhadap kelompok “Plot 20 Juli”.Sehari sebelumnya,Plot 20 Juliberupaya membunuhnya. Upaya itu menggenapi beragam upaya percobaan pembunuhan Der Führer dengan motif menyelamatkan Jerman dari kehancuran total. Keluarga Bangsawan Stauffenberg merupakan jenderal kelahiran Jettingen, 15 November 1907. Claus Philipp Maria Justinian, demikian nama lahir Stauffenberg,datang dari keluarga aristokrat.Ayahnya, Alfred Klemens Philipp Justinian, seorang oberhofmarschall atau petinggi badan kehakiman di Kerajaan Württemberg.Ia“sekampung” dengan Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang kelak jadi atasannya di Afrika Utara. Sementara ibunya, Caroline Schenk Gräfin von Üxküll-Gyllenband. Sebagaimana diungkapkan R. Leigh dan M. Baigent dalam Secret Germany: Claus von Stauffenberg and the Mystical Crusade Against Hitler , garis darah birunya merupakan turunan dari ibunya yang berasal dari keluarga bangsawan KatolikStauffenberg di Swabia, di mana keturunan lelaki menyandang titel Schenk Graf, sementara perempuannyabergelarSchenk Gräfin. Maka kolonel berhak menyantumkan gelar Schenk Graf von Stauffenberg, menggantikan nama famili ayahnya, Justinian. Sebagaimana kedua kakaknya, Stauffenberg memupuk jiwa petualangannya sejak ikut Neupfadfinder atau organisasi kepanduan. Saat ber usia 19 tahun, Stauffenberg meneruskan jejak para leluhurnya meniti karier di kemiliteran . Dia masuk di Resimen Kavaleri Berkuda ke-17 Bamberger Reiter. Seiring bergantinya zaman dari kavaleri berkuda ke kavaleri kendaraan tempur kala Hitler menguasai Jerman, Stauffenberg meleburkan diri ke Divisi Panzer Ringan ke-1. Mengenai sosokHitler, Stauffenberg sebagai perwira muda pernah mengomentarinya saat Hitler maju dalam pemilihan presiden Jerman tahun 1932. “Gagasan dan prinsipnya begitu erat dengan volkgemeinschaft (azas kerakyatan), prinsip kepentingan umum berada di atas kepentingan pribadi, prinsip perang terhadap korupsi di kota-kota besar, pemikirannya tentang ras dan keinginannya membawa Jerman ke era baru adalah yang baik buat masa depan bangsa,” ujarnya, dikutip Jürgen Schmädeke dan Peter Steinbach dalam Resistance to National Socialism . Stauffenberg sebagai perwira muda yang meniti karier di kesatuan Bamberger Reiter und Kavallerieregiment 17 (Foto: Bundesarchiv) Kekagumannya pada Hitler goyah kala sang diktator menggeber kebijakan-kebijakan rasis yang berujung pada sejumlah insiden kekerasan, salah satunya Kristallnacht atau “Malam Kaca Pecah”, di mana pada 9-10 November 1938rumah-rumah dan pertokoan milik warga Yahudi dihancurkan. Pun dengan sejumlah kebijakan bengis Hitler terhadap warga Yahudi, turut-sertanyaresimennya dalam invasi ke Polandia,dan perlakuan terhadap para tawanan kalapasukannya ikut dalam invasi ke Prancis. Seperti halnya Rommel, di satu sisi ia tak bisa membenarkan kekerasan-kekerasan berlebihan terhadap musuh yang tak berdaya, di sisi lain, sebagai perwira ia terikat pada Führereid atau sumpah terhadap Hitler yang dilakoni semua perwira militer Jerman sejak 1934. Membunuh Hitler Beberapa keluarga Stauffenberg merupakan politisi simpatisan kelompok-kelompok anti-Hitler. Baik sang pamanNikolaus Graf von Üxküll-Gyllenbad (Paman Nux)maupun kedua kakaknya, Claus dan Berthold, beberapa kali meyakinkan Stauffenberg agar mau bergabung.Namun Stauffenberg menolak dengan dalih ia terikat sumpahnya sebagai perwira. Awal 1943, Oberstleutnant (letnan kolonel)Stauffenberg dikirim ke Tunisia, di mana pasukannya, Divisi Panzer ke-10, diperintahkan memperkuat pasukan Afrika Korps -nya Rommel yang bertarung melawanSekutu yang mendarat di wilayah Prancis Vichy. Pada siang 7 April 1943, konvoi kendaraan Stauffenberg diserangpesawat-pesawat tempur P-40 “Kittyhawk” Sekutu dekat Mezzouna, Tunisia. Akibatnya Stauffenberg luka parah dan harus diterbangkan untuk dirawat di rumahsakit di Munich. Stauffenberg koma selama hampir tiga bulan . K etika siuman, dia harus pasrah pada kenyataan bahwa ia harus kehilangan mata kiri, lengan kanan , dan tiga jari di tangan kirinya. Di masa pemulihan di rumahsakit dan di kediamannya itulah Stauffenberg membulatkan tekad untuk terlibat konspirasi membunuh Hitler. Utamanya setelah ia dijenguk beberapa kerabat, utamanya Paman Nux. “Nux, seperti keluarganya yang lain, mulanya juga mendukung Hitler. Namun matanya terbuka sejak Hitler melakukan kejahatan perang. Untuk menyelamatkan nama baik Jerman, dia meyakini Hitler harus dienyahkan. Makasejak ia menjenguk Claus (von Stauffenberg), ia tak hanya datang sebagai paman tapi juga mewakili komplotan konspirasi itu,” tulis Danny Orbach dalam The Plots Against Hitler. Oberstleutnant Stauffenberg (kanan) saat bertugas di Afrika Utara (Foto: Bundesarchiv) Komplotan itu dipimpin Generalmajor Henning von Tresckow. Ia juga yang kemudian menempatkan Stauffenberg untuk kembali bertugas di Bendlerblocksebagai salah satu perwira staf Ersatzheer atau pasukan cadangan AD Jerman dengan panglimanya Generaloberts (jenderal-kolonel) Friedrich Fromm. Di sinilah Stauffenberg berperan merancang kudeta terhadap pemerintahan Nazi dan membunuh Hitler. Dibantu salah satu perwira senior di Markas AD yang juga anggota komplotan, Jenderal Friedrich Olbricht, Stauffenberg dan Von Tresckow merevisi rancangan Unternehmen Walküre (Operasi Valkyrie) , operasi yang memberi kewenangan terhadap Pasukan Cadangan Teritorial AD untuk menertibkan keamanan negara dalam keadaan darurat, salah satunya jika Hitler tiada. Dalam revisi itu ditambahkan bahwa pasukanitu juga berwenang menahan para pejabat pemerintahan sipil Nazi yang berpotensi melakukan kudeta inkonstitusionalseandainya Hitler wafat. Rancangannyalantas dibawa Stauffenberg dan Olbricht kepada Hitler untuk diteken. Hitler membubuhkan tandatangannya tanpa curiga karenakekagumannya pada pengorbanan Stauffenberg. Nahas, tak lama kemudian Von Tresckow dikirim ke front timur. Setelah perdebatan sengit dengan kaum politisi, kaum militer memenangkan bujukan untuk mempercayakan pimpinan konspirasike pundak Stauffenberg. Namun jika nanti Stauffenberg sukses menjalankan misinya, pimpinan negara bakal dikembalikan ke kaum sipil untuk menegosiasikan perdamaian dengan Sekutu, mengingat sejak 6 Juni (D-Day) mereka sudah mendarat di Prancis. “Pembunuhan harus dilakukan. Bahkan jika upayanya gagal, kita tetap harus ambil tindakan di Berlin. Dengan begitu kita bisa tunjukkan pada dunia bahwa rezim Hitler dan bangsa Jerman tidaklah seiya sekata dan tidak semua orang Jerman mendukung rezimnya,” cetus Tresckow sebelum menyerahkan pimpinan plotkepada Stauffenberg, dikutip Joseph Howard Tyson dalam The Surreal Reich . Generalmajor Henning Hermann Karl Robert von Tresckow (kiri); Stauffenberg & Oberst Albrecht Mertz von Quirnheim yang turut merancang Operasi Valkyrie (Foto: Bundesarchiv) Hari yang dinanti akhirnya tiba. Siang, 20 Juli 1944, Stauffenberg mewakili Jenderal Frommdatangke rapat petinggi militer dan Hitler di markasnya, Wolffschanze. Sebelum rapat dimulai, Stauffenberg meminta izin menggunakan kamar mandi di ruang kerja Kepala Oberkommando der Wehrmacht (Komando Tinggi Tentara Jerman) Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel. Dibantu ajudannya Von Haeften, Stauffenberg berusaha untuk mengaktifkan pensil detonator untuk bom dalam koper yang dibawanya. Ia selesai tepat waktu sebelum perwira lain memerintahkannya turut bergabung ke ruang rapat bersama Hitler. Jam dinding menunjukkan waktu 12.30 siang saat rapat dimulai. Sedikit demi sedikit Stauffenberg mencoba memposisikan diri sedekat mungkin dengan Hitler. Dengan tanpa disadari perwira lain, Stauffenberg meletakkan koper berisi bom itu di kolong meja dekat Hitler. Dengan alasan menerima telepon, Stauffenberg izin undur diri dari ruang rapat agar bisa melarikan diri secara diam-diam. Boom! Sebuah ledakan mengempaskan tubuh-tubuh perwira Jerman dan Hitler seketika kala waktu menunjukkan pukul 12.42. Stauffenberg yang tengah dalam pelariannya menggunakan mobilmengaku melihat kepulan asap dari kejauhan, pertanda bomnya meledak. Dengan pesawat Heinkel He 111, ia lalu terbang ke Berlin untuk memberitahukan komplotannya bahwa ia telah membunuh Hitler. Operasi Valkyrie lantas dikerahkan. Pasukan cadangan diterjunkan untuk mengamankan kantor-kantor dan pejabat Nazi serta SS (Schutzstaffel). Tidak hanya di sejumlah distrik militer di dalam negeri, Jenderal Carl-Heinrich von Stülpnagel, panglima pasukan Jerman di Prancis, melakoni hal serupa. Pun di Win a , Austria dan Praha, Ceko. Ruang rapat dan konferensi Hitler di Wolfsschanze yang hancur akibat ledakan bom yang dilakoni Stauffenberg pada 20 Juli 1944 (Foto: Bundesarchiv) Namun angin yang berpihak ke kelompok konspirator berbalik 180 derajat kala senja menjelang. Hitler ternyata masih hidup walau mengalami luka ringan. Sang diktator mengontak Menteri Propaganda Joseph Goebbels di Berlin. Goebbels pun menyambungkan telepon Hitler itu kepada Mayor Otto Ernst Remer, komandan unit elit pasukan cadangan Wachbataillon Großdeutschlandyang mengepung kementeriannya. Entah apa yang dikatakan pada Remer via sambungan telepon itu. Selepas itu, ia memerintahkan semua pejabat partai Nazi dan SS dibebaskan. Ia segera berbalik untuk memburu kaki-tangan Stauffenberg diKompleks AD Bendlerblock. Jenderal Fromm, atasan Stauffenberg, akhirnya melumpuhkan komplotan itu, termasuk Stauffenberg, Olbricht, serta jenderal veteran Ludwig Beck. Mereka kemudian diseret untuk dihadapkan ke regu tembak di halaman Bendlerblock. Tanpa menunggu perintah lanjutan dari Hitler, Fromm segera memerintahkan anak buahnya mengubur Stauffenberg dkk . dengan upacara militer di Alter Sankt Matthäus-Kirchhof. Tetapi keesokan harinya jasad Stauffenberg digali kembali oleh SS. Seragam serta medalinya dilucuti. Jenazahnya lantas dikremasi.

  • Gus Dur, Indonesia Banget.

    Anak santri cucu pendiri NU yang demokratis, doyan humor, dan peka soal kemanusian dan hak asasi manusia.

  • Hantu Jepang di Kaki Semeru

    KESEPAKATAN Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dengan Belanda pada awal 1948, mewajibkan pihak Indonesa untuk menyerahkan para zanryu nihon hei   (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) kepada Belanda. Namun, permintaan itu direspons setengah hati. Secara diam-diam, TNI justru berupaya melindungi para eks serdadu Jepang itu. “Walau bagaimana pun kehadiran para zanryu nihon hei  sangat menguntungkan untuk Indonesia, baik secara politik maupun militer,” ungkap sejarawan asal Jepang, Aiko Kurasawa. Guna menghindari itu, pada Juli 1948, Kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur, memanggil Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei . Terlebih keberpihakannya kepada Indonesia sudah sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta. “Dia bahkan diangkat anak oleh ayah saya dan diberi nama Indonesia: Abdul Rachman karena sikapnya yang penuh kasih kepada bangsa Indonesia,” ujar Bibsy Soenharjo, salah satu putri Haji Agus Salim. Abdul Rachman kemudian ditugaskan oleh Kolonel Sungkono untuk mengumpulkan seluruh eks serdadu Jepang di Jawa Timur dan menghimpunnya dalam kesatuan khusus. Maka, pada 28 Juli 1948, berkumpullah 28 zanryu nihon hei  di Wlingi dan mendeklarasikan berdirinya Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) di bawah koordinasi Brigade Surachmad. Sebagai pimpinan, Sungkono mengangkat Mayor Arif (Tomegoro Yoshizumi), senior dari Abdul Rachman. Karena Mayor Arif kerap sakit-sakitan (kemudian meninggal pada 10 Agustus 1948), akhirnya pucuk pimpinan PGI diserahkan kepada Mayor Abdul Rachman. Penyerahan wewenang tersebut diam-diam tidak disetujui oleh sebagian zanryu nihon hei pimpinan Hasan (Toshio Tanaka). Alasannya, Abdul Rachman bukan seorang militer tulen. Di ketentaraan Jepang ia hanya bertugas sebagai seorang penerjemah. “Soal ini menjadi sebab utama pecahnya PGI di kemudian hari, sehingga menyebabkan 10 anggotanya mengundurkan diri dan lebih senang bergabung dengan TNI di Jawa Tengah” ujar Shigeru Ono, salah seorang zanryu nihon hei. Sejak kemunculannya di wilayah-wilayah kaki Gunung Semeru, PGI menjadi “hantu” menakutkan bagi militer Belanda. Berbeda dengan umumnya pasukan TNI, PGI memiliki sistem organisasi dan cara bertempur yang sangat baik. Setiap kali merencanakan suatu operasi penyerangan, kerap diperhitungkan secara matang, detail, serta menyertakan rencana B, C, dan D-nya. Tak aneh jika dalam setiap aksinya, unit khusus ini sering mencapai hasil maksimal dengan sedikit korban. “Mereka memiliki semangat tinggi, kaya pengalaman tempur dan pandai bersiasat,” ujar Satmoko Tanoyo, eks prajurit ALRI Pasuruan yang pernah melakukan operasi bersama dengan PGI. Salah satu penyerangan PGI yang sukses terjadi saat bersama pasukan Brigade XIII menghancurkan markas tentara Belanda di Pajaran. Operasi ini terbilang cerdik dan cermat karena semua diperhitungkan secara matang, termasuk menjalankan operasi intelijen sehari sebelum penyerangan. PGI juga memutuskan tanggal 31 Agustus 1948 sebagai waktu penyerangan karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun Ratu Belanda ke-68. “Kami perkirakan mereka akan sibuk berpesta dan berkurang kewaspadaannya,” ujar Shigeru. Pukul 00.00, mereka sudah mengepung posisi pos militer Belanda dari tiga jurusan. Tak ada satu pun tanda kegiatan di pos Pajaran. Menjelang dini hari, serangan dimulai. Dengan dibuka oleh ledakan granat, maka berhamburanlah tembakan dari berbagai jenis senjata (termasuk bom anti tank) menghajar tanpa ampun posisi pasukan Belanda. Tak ada perlawanan sama sekali. Prajurit-prajurit Belanda itu nampaknya tengah kelelahan usai merayakan pesta dan tak sempat meraih senjata. “Kami semua yakin, mereka yang berada di pos itu pasti mati karena tak mungkin lolos dari kepungan kami dari berbagai sisi,” ujar Shigeru seperti ditulis dalam buku Mereka yang Terlupakan  karya Eiichi Hayashi. Tepat 30 menit kemudian, serangan langsung dihentikan dan seluruh pasukan diperintahkan oleh Mayor Abdul Rachman untuk mundur. Saat gerakan mundur inilah, tiba-tiba terdengar tembakan dari arah pos. Rupanya, itu adalah satu regu pasukan Belanda yang baru saja pulang dari pesta peringatan HUT Ratu Wilhelmina di balai desa terdekat. Dapat dibayangkan bagaimana marah dan terkejutnya mereka saat melihat markasnya hancur dan kawan-kawannya gugur. “Tapi mereka tidak berani melakukan pengejaran dan memilih untuk merawat mayat kawan-kawannya yang sudah tewas,” ujar Shigeru. Besoknya, seorang petugas telik sandi Brigade XIII ditugaskan untuk menyelidiki hasil serangan malam tersebut langsung ke Pajaran. Menurut informasi yang berhasil didapat dari lapangan, pasukan Belanda kehilangan 20 prajurit dan sejumlah senjata hancur. Guna menghindari balasan dari pihak militer Belanda, pada 16 September 1948, PGI memindahkan markasnya dari Dampit ke Garotan.  Sukses di Pajaran, mereka ulangi pula di Poncokusumo pada 18 September 1948. Lewat suatu serangan fajar, PGI kembali berhasil menghabisi tanpa ampun posisi pasukan Belanda. “Penyerangan di Poncokusumo juga berhasil secara gemilang: serdadu musuh semua tewas, sedang di pihak kami tak ada satu pun jatuh korban. Bisa dikatakan kami terus menuai kemenangan sejak itu” kata Shigeru. Namun, hari nahas bagi PGI justru terjadi pada 3 Januari 1949. Dalam buku Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Keresidenan Malang karya Nur Hadi dan Sutopo, Soekardi (Nagamoto Sugiyama) bercerita: saat itu sekitar jam 04.30, mereka tengah bergerak dari Garotan menuju satu dataran tinggi bernama Arjosari. Pergerakan itu dilakukan karena berdasarkan informasi telik sandi, satu kekuatan pasukan Belanda tengah menuju kawasan yang sama, namun mereka bergerak dari arah Margosari yang berlawanan dengan posisi pasukan PGI. Versi lain menyatakan bahwa sejatinya pergerakan itu juga disertai satu regu pasukan dari ALRI Pasuruan pimpinan Letnan Satu Rachmat Sumengkar. Itu dikisahkan Letnan Kolonel Angkatan Laut Satmoko Tanoyo, salah satu anggota pasukan tersebut. “Di Garotan, kami mengadakan kerjasama dengan suatu kesatuan eks tentara Jepang, karena mereka sudah lama beroperasi di sana dan telah memiliki pangkalan sendiri,” demikian tulis Satmoko dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid V. Gabungan pasukan PGI dan Angkatan Laut Pasuruan lantas bergerak cepat lewat suatu jurang besar. Mereka berharap bisa mendahului pasukan musuh dan membuat posisi stelling  di bukit yang berada di Arjosari. Namun saat akan melakukan pendakian, tiba-tiba terdengar teriakan seorang prajurit PGI dalam bahasa Jepang. “Ada musuuuhhh!!!” Dan memang, Soekardi melihat sekitar 20 meter di depan, sekitar satu kompi pasukan Belanda tengah bergerak sambil menyebar ke arah mereka. Maka dua pasukan yang bermusuhan itu lalu sama-sama kaget dan sejenak saling terdiam. Namun mereka cepat sadar dan beberapa detik kemudian keluarlah tembakan-tembakan gencar. “Tembakan dibuka oleh senapan mesin yang saya dan Umar (Tatsuji Maekawa) sedang pegang,” kenang Soekardi. Pertempuran jarak dekat berlangsung seru. Sementara pasukan Belanda tertahan namun tidak lama, karena tembakan dari arah kubu PGI semakin berkurang menyusul semakin minimnya amunisi dan tibanya bantuan musuh berupa sebuah pesawat terbang. Mayor Abdul Rachman lantas memerintahkan pasukannya untuk mundur ke suatu jurang di sebelah timur desa. Saat bergerak mundur itulah, sebutir peluru menembus kepala Mayor Abdul Rachman sehingga membuatnya tewas seketika. Mengetahui komandannya gugur, Abdul Majid (Goro Yamano) sempat bingung. Untuk menyelamatkan tubuh Mayor Abdul Rachman, ia kemudian memerintahkan dua kawannya menjalankan proses evakuasi secara cepat. Ia sendiri kemudian maju ke depan sambil melemparkan satu bom anti tank. Usai ledakan, Yamano melihat sekeliling dan tidak mendapatkan seorang pun di sekitarnya. Ia berpikir, semua anggota PGI sudah mundur, termasuk dua orang prajurit yang ia tugaskan membawa jasad Mayor Abdul Rachman. Karena itu, tanpa banyak pertimbangan, ia pun mengundurkan diri dan berusaha mendaki jurang ke arah seberang tempat pengunduran. Namun di sana pun, ia tidak menemukan kawan-kawannya. Sementara itu, pasukan PGI meneruskan perjalanan melampaui dua jurang sebelah timur untuk menjauhi musuh sehingga sampai di kampung Sumberagung. Di sana, mereka lantas beristirahat melepaskan lelah. Selang beberapa waktu kemudian, tiga orang pasukan bagian karaben tiba dalam keadaan sangat payah. Mereka datang tanpa Mayor Abdul Rachman dan Yamano serta dua prajurit lainnya. Kabar tentang komandan mereka baru jelas sekitar pukul 13.30 saat Abdul Majid datang dari jurusan Dampit. Ia menyatakan bahwa taichou sudah gugur dan kemungkinan jasadnya tertinggal di tempat pertempuran. * Tiga hari kemudian, Soekardi, Saleh (Isamu Hirouka) dan Subejo (Genji Hayashi) serta Satmoko dan Letnan Rachmat Sumengkar dari ALRI Pasuruan bergerak kembali ke Arjosari. Di sana,  mereka menemui kepala desa setempat. Tanpa diminta, kepala desa memimpin 15 penduduk untuk ikut melakukan pencarian.  Saat menuju lokasi, mereka menceritakan kepada keempat pejuang tersebut bahwa setelah pertempuran usai di Arjosari, sebuah pesawat terbang Belanda datang dan menembaki rumah-rumah. Banyak rakyat yang tewas dan luka-luka akibat serangan tersebut. Sampai di bekas lokasi pertempuran, mereka semua menyebar. Sulit juga untuk segera menemukan jasad Mayor Abdul Rachman. Hingga menjelang siang, Subejo tiba-tiba berlari dan berteriak bahwa ia melihat jasad komandannya di bawah jurang sebelah timur. Situasi wilayah itu sukar dijangkau pandangan mata dengan jelas karena merupakan jurang dalam yang sekelilingnya terdapat sebidang kecil padang rumput. Jasad Abdul Rahman tersandar tepat di bawah sebatang pohon besar. Sebuah lubang peluru menghiasai mata kanannya, bagian atas telinga kiri dan bahu kirinya. “Dua prajurit yang diperintahkan Yamano membawa mundur komandan tidak pernah ditemukan lagi. Bisa jadi mereka tertangkap atau dieksekusi di tempat lain,” ungkap Soekardi. Setelah berdoa, Soekardi lantas menggunting beberapa helai rambut di kepala komandannya lalu disimpan dalam sebuah amplop. Karena kondisi jasad sudah mulai rusak, maka diputuskan untuk memakamkan jasad Mayor Abdul Rachman di jurang itu. Pemakaman dilakukan secara Islam dan selesai jam 15.00. Karena tidak sempat membuat batu nisan, sebuah bambu besar ditancapkan di atas pusara. Saleh kemudian membubuhinya dengan pensil berwarna merah: Mayor Abdul Rachman Tatsuo Ichiki. Umur: 43 tahun, gugur tanggal 3-1-1949, pukul 07.30 pertempuran Arjosari, Sumberputih, wajak, Malang. Seorang samurai telah menggenapi janjinya: mati sebagai seorang petarung sejati.*

  • Kisah Panglima Pasukan Diponegoro dalam Perang Paderi

    TAHUN 1830-an, suasana persatuan di kalangan kaum Paderi dan kaum adat mulai terasa. Antara kaum ulama dengan kaum adat mulai saling berkompromi. Kedua kubu sebelumnya terlibat perang saudara akibat perbedaan pendapat dalam proses penerimaan Islam. Kaum ulama (kaum Paderi) menginginkan penerapan ajaran Islam yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits, sementara kaum adat merasa perlu menjaga tradisi leluhur tetap hidup. Di tengah perpecahan itu Belanda ikut campur dan membuat keadaan semakin rumit. Perlahan masyarakat sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonialisasi di Sumatera. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi upaya mengusir pemerintah Belanda dari Tanah Minang. Kedua kelompok sepakat menghentikan perang dan bersatu menghilangkan kolonialisme dari wilayahnya. Di lain pihak, kekhawatiran mulai menyelimuti pihak Belanda. Bersatunya dua kekuatan itu memunculkan trauma jika kerugian yang mereka alami dalam Perang Jawa akan terulang di Sumatera. Maka satu-satunya jalan agar kerugian itu tidak terjadi, pihak Belanda  harus mendatangkan bala bantuan dari Batavia. Di antara mereka yang dikirim ke Minangkabau terdapat satu pasukan berisi orang-orang bumiputra. Adalah Sentot Alibasah Abdulmustopo Prawirodirdjo, pimpinan pasukan tersebut. Nama Sentot Alibasah sudah tidak asing di telinga pasukan Belanda. Dia merupakan salah satu panglima Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Kepiawaiannya mengorganisasi pasukan tempur begitu terkenal. “Oleh karena ia sangat pandai dalam peperangan guerilla , berani, dan gilang-gemilang dalam peperangan ia mendapat nama yang harum dan dihormati oleh kawan dan lawan,” tulis H.P. Aukus dalam Het legioen van Mangkoe Nagoro . Di akhir Perang Jawa, kegagalan demi kegagalan dialami Sentot. Dia akhirnya menyerah kepada Belanda pada 16 Oktober 1829. Sentot disebut mengambil keuntungan pribadi dalam penyerahan tersebut. Meski ada juga yang menyebut kondisi perekonomian rakyat yang terpuruk memaksa dirinya menyerah. Dia kemudian dibawa ke Batavia dan dipekerjakan dalam pasukan Belanda. Itulah sebabnya Sentot bisa berada di kubu para kolonial. Tiba di Minangkabau Sentot dan bala pasukannya tiba di Padang, Sumatera Barat pada Juni 1832. Menurut Mhd. Nur, dkk dalam Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau Abad ke-19, Sentot diterima Residen Sumbar Letnan Kolonel Elout dan diperkenalkan kepada rakyat Minangkabau sebagai bagian dari mereka. Bagi pemerintah Belanda, pengenalan Sentot itu penting untuk memberitahukan rakyat bahwa di kubu Belanda juga ada orang-orang bumiputra. “Pendekatan tentara Belanda itu berarti bahwa banyak tentara Belanda yang beragama Islam, bahkan ibadahnya lebih taat lagi, kondisi yang sama dengan orang Minangkabau,” tulis Mhd. Nur, dkk. Beberapa waktu tinggal, Sentot semakin dekat dengan kehidupan rakyat Minangkabau. Dia sadar bahwa rakyat di sini bukanlah musuh yang harus diperangi, tetapi saudara senasib yang sedang berjuang menghilangkan kolonialsime Belanda. Teringat perjuangannya di Jawa, Sentot mulai merubah sikapnya. Dia secara diam-diam berbalik melakukan perlawanan dan membantu rakyat membangun kekuatan untuk mengusir Belanda. Sentot lalu menjalin pendekatan dengan kaum Paderi dan kaum alam. Dia seringkali melakukan pertemuan rahasia bersama Tuanku Imam Bonjol (pemimpin kaum Paderi) dan Sultan Alam Bagagar Syah (pimpinan kaum alam). Ketiganya sepakat untuk menggabungkan kekuatan dalam upaya perlawanan di dalam Perang Paderi. Sentot dan mantan pasukan Diponegoro lainnya juga telah siap melaksanakan serangan besar-besaran. Kembali Diasingkan Gerak-gerik mencurigakan dari Sentot dan Sultan Bagagar Syah mulai tercium pemerintah Belanda. Keduanya mulai tidak menjalankan tugas-tugas yang diperintahkan. Seperti ketika pemerintah Belanda menyuruh Sentot dan Bagagar Syah untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri di Balai Tengah Lintau, mereka malah mengadakan perayaan di Istana Pagaruyung bersama penghulu adat dan masyarakat. Tindakan itu membuat murka Residen Elout. Dia kemudian menulis surat  ke Batavia. Isinya laporan tentang Sentot yang dicurigai akan berkhianat kepada pemerintah Belanda. Dikutip Soekanto dalam Sentot alias Alibasah Abdulmustopo Prawirodirjo , Elout tidak senang dengan pengkhianatan Sentot dan pasukannya. “Alibasah telah membuat perjanjian yang tidak saya ketahui dengan mereka, terjadinya ini sudah lama dan ia akan mengatur supaya ia dan barisannya dapat tinggal di Minangkabau. Ia telah janji kepada orang-orang ia akan tolong mereka untuk mengusir kita (orang Belanda). Yang Dipertuan dari Pagaruyung mula-mulanya tidak setuju. Dan orang-orang pada umumnya juga tidak percaya kepada Sentot dan barisannya. Akan tetapi Sentot dapat membawa hati mereka supaya mengambil pihaknya jadi tak memihak kita (Belanda),” tulis Elout seperti dikutip Soekanto. Setelah menerima surat itu, pemerintah pusat akhirnya mengeluarkan surat pemindahan Sentot dari Minangkabau. Pada 2 Maret 1833, Sentot diminta kembali ke Jawa dengan dalih membantu memulihkan keadaan di sana. Setelah sampai di Batavia, kata Mhd. Nur, Sentot ditahan dan dicap sebagai pengkhianat. Dia lalu dipindahkan ke Bengkulu pada Agustus 1833 untuk menjalani masa pembuangan dan dipisahkan dari bala pasukannya. Kepergian Sentot menjadi pukulan bagi rakyat Minangkabau. Berkurangnya kekuatan tempur dikhawatirkan akan mempengaruhi jalannya perlawanan. Tetapi rupanya semangat rakyat Minang untuk melawan tidak berkurang sedikitpun. Di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol dan Sultan Alam Bagagar Syah perjuangan terus berlangsung hingga berakhirnya perang pada 1838. “Pengalamannya bersama Sentot Ali Basya Prawirodirjo semakin meyakinkan dirinya untuk mengusir Belanda. Tiga kekuatan yang telah dibentuk di Minangkabau untuk menentang penjajah Belanda telah terorganisir dengan baik, walaupun Sentot telah diasingkan,” tulis Mhd. Nur, dkk. Sentot sendiri tak pernah bisa lepas dari kungkungan Belanda. Pada 17 April 1855, dia meninggal sebagai orang buangan di Bengkulu.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page