Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jonosewojo Jadi Jenderal di Usia 24 Tahun
PASUKAN Mayor Sabarudin Nasution dari Jawa Timur tiba di Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta. Panglima Besar Jenderal TNI Soedirman dan Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo sedang rapat. Sampai akhirnya Jenderal Mayor TNI Mohamad Mangundiprojo tiba dan didatangi Kapten Ali Umar, anak buah Sabarudin. “Angkat tangan!” todong Ali Umar. “Tidak mau!” tolak Mohamad. Kapten kepercayaan Sabarudin itu lalu menggebuk Mohamad. Anak buah Ali Umar lalu meringkus dan menginjak-injak sang jenderal. Rupanya pengawal MBT tidak berkutik melihat tindakan anak buah Sabarudin itu. Mohamad lalu dibawa dengan truk ke arah Jawa Timur. Ia hampir mati.
- Orang Papua Jadi Jenderal
MESKI ada tuntutan penghapusan Kodam, Presiden Joko Widodo malah membuat Papua memiliki dua Kodam. Kodam Cendrawasih untuk timur Papua dan Kodam Kasuari untuk bagian barat Papua. Para anggotanya tentu saja banyak yang berasal dari Papua. Orang Papua agak telat berkarier dalam militer modern Indonesia. Tak seperti orang Jawa, Manado, dan Ambon yang banyak menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Eksploitasi daratan Papua yang agak belakangan membuat orang Papua tidak banyak bersentuhan dengan pemerintah kolonial Belanda. Rekrutmen penting orang Papua menjadi anggota militer terjadi pada Perang Dunia II. Setelah Sekutu mendarat di Papua, dibentuklah Bataljon Papoea. Batalyon ini dibentuk oleh tentara Amerika, yang berpangkalan di sekitar Sentani dan Ifar. Salah satu anggota yang terkenal adalah Marthin Indey.
- Kisah Chicken Kiev untuk Jenderal Moersjid
SETELAH menandatangani surat penahanan yang diwarnai insiden “pulpen terbang”, Mayor Jenderal TNI Moersjid bergegas meninggalkan Markas Besar Angkatan Darat. Sebelum berangkat ke rumah tahanan, Moersjid meminta izin Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Umar Wirahadukusumah, perwira yang menyodorkan surat penahanan, untuk pulang ke rumah. Tujuannya mengambil pakaian dan pamitan dengan keluarga. Hari itu, 8 Desember 1969. Aktivitas di kediaman Moersjid justru sedang menyambut hari sukacita. Dua hari lagi adalah hari ulang tahun Moersjid. “Saat itu Ibu sedang mempersiapkan masakan untuk tanggal 10,” kata Siddharta, putra keempat Moersjid, kepada Historia.ID. Aneka masakan untuk hari raya keluarga itu disiapkan oleh Siti Rachma, sang nyonya rumah. Salah satu menu istimewa untuk hajatan tersebut adalah Chicken Kiev. Secara sederhana dia sama seperti ayam goreng mentega.
- Kado Pahit Ulang Tahun Jenderal Moersjid
SITI Rachma Moersjid akan menyiapkan jamuan besar. Dua hari lagi sang suami, Mayor Jenderal Moersjid merayakan ulang tahun ke-44. Tapi bak petir di siang bolong, hari itu mendadak berubah menjadi malapetaka. “Pada pagi hari 8 Desember 1969, ayah diminta menghadap Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) dan disitulah surat penahanan diberikan oleh KASAD, Pak Umar Wirahadikusuma,” tutur Siddharta Moersjid kepada Historia.ID. Pada waktu itu, Moersjid baru saja mengakhiri masa dinasnya sebagai duta besar RI untuk Filipina. Setelah kembali ke Jakarta bulan Oktober, Moersjid dikembalikan ke Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) tanpa jabatan. Kabar yang beredar, Moersjid terlibat konflik dengan Marshall Green, asisten menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Timur Jauh. Insiden itu hampir berujung baku hantam sehingga Moersjid dipanggil pulang ke Indonesia.
- Kekecewaan Istri Jenderal Moersjid
JAKARTA, akhir 1969. Siddharta Moersjid baru saja pulang sekolah. Setiba di rumah, ayahnya Mayor Jenderal Moersjid bergegas keluar, menenteng koper dan mengenakan pakaian harian tentara. Sementara sang ibu, Siti Rachma, menangis melepas kepergian Moersjid. “Sida, Papa pergi dulu, jagain mama di rumah,” kata Moersjid menitip pesan kepada Siddharta. Entah apa yang terjadi saat itu, Siddharta yang masih bocah tanggung belum tahu. Setengah abad berselang, Siddharta menuturkan apa yang terjadi hari itu. “Dia (Moersjid) pergi ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Utomo sendirian,” kenang Sida kepada Historia. Itu adalah hari di mana Moersjid menjadi tahanan dalam penjara rezim Orde Baru.
- Moersjid dan Kawilarang, Dua Panglima Bersimpang Jalan
UNTUK meningkatkan kemampuan teknik tempurnya, Letnan Kolonel Moersjid belajar ke Amerika Serikat. Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) lantas mengirimkan Moersjid ke Fort Benning U.S. Army Infantry School, di negara bagian Georgia. Moersjid adalah perwira Divisi Siliwangi (dari segelintir perwira menengah TNI) yang mendapatkan kesempatan itu. Di Fort Benning, Moersjid akan mengikuti pendidikan lanjutan perwira infanteri. “Waktu berangkat ke Fort Benning, ayah sahabatan sama Alex Kawilarang. Mereka sobat. Sohib banget,” tutur putra keempat Moersjid, Siddharta Moersjid, kepada Historia. “Jadi ayah dijemput [Alex Kawilarang] waktu datang ke Amerika.” Moersjid diantarkan ke Georgia, Alex kemudian kembali ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington D.C. Alex Evert Kawilarang saat itu menjadi atase militer (atmil) Indonesia di Amerika Serikat. Pangkatnya kolonel. Sebelum menjadi atmil, Alex merupakan Panglima Divisi Siliwangi. Dia tentu kenal baik dengan Moersjid. Lagipula sebagai atmil, Alex memang bertugas mengurus perwira-perwira TNI yang dikirimkan ke Amerika Serikat untuk mengikuti pendidikan baik di Fort Benning atau Fort Leavenworth.
- Moersjid, Soeharto dan Senapan Chung
KETIKA hari hilangnya Letjen TNI Ahmad Yani, Presiden Sukarno berupaya mencari sosok pengganti sementara panglima Angkatan Darat. Selama berjam-jam, Sukarno memilih dan memilah para jenderal yang direkomendasikan. Dari sekian nama, justru tak ada yang ideal di mata Bung Besar. Sebagaimana disarikan Julius Pour dalam G30S: Fakta atau Rekayasa, Sukarno mengungkapkan kesannya kepada masing-masing calon panglima. Mayjen TNI Moersjid (Deputi I Menpangad) dianggap temperamental. Mayjen TNI Soeharto (Panglima Kostrad) disebut koppig (keras kepala). Mayjen TNI Ibrahim Adjie (Panglima Divisi Siliwangi) punya istri orang Yugoslavia. Mayjen TNI Basuki Rachmat (Panglima Divisi Brawijaya) terganggu kesehatannya. Brigjen TNI Rukman (Kepala Staf Divisi Siliwangi) kurang begitu dikenal. Dan Mayjen TNI Pranoto (Asisten III/Personalia Menpangad) dinilai lamban.
- Moersjid, Jenderal Pemarah yang Disegani Sukarno
GONJANG-ganjing terjadi dalam TNI AD setelah keberadaan pucuk pimpinan Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani tak diketahui. Kabar hilangnya Yani berdekatan dengan mengudaranya siaran pagi RRI pada 1 Oktober 1965. Saat itu, RRI memberitakan tentang adanya kudeta Dewan Jenderal dan pengumuman Dewan Revolusi. Berita simpang siur tadi bikin yang mendengar bingung kelimpungan, tak terkecuali pihak Istana. Pada tengah hari, Presiden Sukarno segera mengumpulkan semua petinggi TNI lintas angkatan. Masukan dari sana-sini menghasilkan sejumlah nama. Satu persatu kandidat ditelaah oleh Bung Karno. Siapa yang pantas menggantikan Yani? Menteri Panglima Angkatan Udara, Marsekal Omar Dani menyebutkan satu nama. “Moersjid, Pak,” katanya kepada Bung Karno dituturkan dalam Pledoi Omar Dani: Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno.
- Sardjito dan Biskuit Anti Lapar untuk TNI
SETELAH melewati pertempuran menghadapi pasukan Inggris di Bandung, Sardjito melanjutkan perjuangannya di Klaten, Jawa Tengah. Dia tiba di kota itu sekitar akhir November 1945 bersama dengan rombongan karyawan Institute Pasteur dan tenaga kesehatan dari Palang Merah. Di Klaten, Insttute Pastur menempati sebuah laboratorium yang biasa digunakan untuk percobaan tembakau. Selain laboratorium untuk keperluan penelitian obat dan vaksin, Sardjito juga dipercaya mengelola rumah sakit di Tegalyoso, sebelah selatan Klaten. Di rumah sakit yang hingga sekarang masih berdiri, Sardjito memberikan perawatan untuk para korban perang, baik dari sipil maupun militer. “Selain diizinkan mempergunakan gedung Laboratorium Percobaan Tembakau, Institute Pasteur diperbolehkan pula memakai alat-alat dari laboratorium tersebut,” demikian menurut buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia Jilid I.
- Merah Putih di Lembah Merdeka
BERITA Proklamasi kemerdekaan Indonesia sampai juga ke Bali. Karena punya sejarah berperang melawan Belanda pada Puputan 1906, delapan raja Bali bersimpati pada Republik Indonesia. Namun, situasi cepat berubah. Setelah gagal melucuti Jepang pada 13 Desember 1945, yang dipimpin I Gusti Ngurah Rai, sebagian besar raja Bali balik arah menentang Republik. Hanya Raja Badung yang tetap berpihak ke Indonesia. Situasi ini dimanfaatkan Pasukan Gajah Merah Belanda yang mendarat di Pantai Sanur pada 2 Maret 1946. Van Beuge, mantan Residen Bali dan Lombok, menjanjikan akan mengembalikan kekuasaan raja seperti sebelum Jepang datang jika berpihak kepada Belanda.
- Barisan Srikandi dalam Perjuangan Kemerdekaan
GUNA menindaklanjuti proklamasi kemerdekaan yang sampai di Medan seminggu setelah dibacakan, Kayatin Sahir Nitihardjo dan Hadjah Siregar membentuk Barisan Srikandi (BS), yang bertugas mempersiapkan dapur umum dan pos kesehatan. Keduanya mendirikan BS hanya bermodal pelatihan singkat yang didapat di Pusat Latihan Bah Birung Ulu. Sama seperti banyak badan perjuangan lain yang berdiri setelah proklamasi, BS memikul tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan. Kala itu Belanda masih kerap melancarkan serangan militer meski Indonesia sudah menyatakan kemerdekaan. Kayatin mendapat tugas di front utara, dari daerah Two Rives sampai Binjai. Dia bekerjasama dengan prajurit Mujahidin dari Aceh bernama Burhan Ali menyalurkan obat-obatan ke berbagai kesatuan di front sekitar Pemantang Siantar.
- Sejarah Gedung Mahkamah Konstitusi dan Medan Merdeka Barat
PAGAR kawat berduri, ratusan polisi, dan tameng anti huru-hara. Beginilah pemandangan keseharian di halaman depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK) Jalan Merdeka Barat, Jakarta, menjelang hari sidang Perselisihan Hasil Pemilu pada Jumat, 14 Juni 2019. Polisi telah melarang massa berunjuk rasa di depan gedung MK. Mereka juga akan menutup Jalan Medan Merdeka Barat ketika sidang berlangsung demi menjaga keamanan gedung MK dan kawasan bersejarah di sekitarnya. Gedung MK belum lama berdiri. Gedung ini mulai dibangun pada Juli 2005. Penggunaan gedung MK secara resmi berlangsung pada 13 Agustus 2007, bertepatan dengan hari jadi MK.





















