top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sejarah Vihara, Tempat Belajar Para Biksu

    MASYARAKAT memahami vihara sebagai tempat ibadah pemeluk agama Buddha yang identik dengan klenteng.   Tak banyak yang tahu kalau dulu vihara selain tempat ibadah juga tempat belajar, berkumpul, dan tinggal para biksu/biku. "Kini, vihara sering digunakan untuk menyebut kelenteng yang fungsi utamanya sebagai rumah ibadah Tridharma, di dalamnya ada pemujaan Konfusius, Buddha, dan Taoisme," kata Agni Sesaria Mochtar, arkeolog dari Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi via aplikasi  zoom  tentang "Mengenal Vihara dan Pesantren sebagai Tempat Pembelajaran Agama dalam Perspektif Arkeologi" yang diselenggarakan oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, Jumat, 8 Mei 2020. Agni menjelaskan pemahaman Buddha masa kini telah mengalami percampuran dengan kepercayaan Konghucu. Dalam konteks itu, vihara berfungsi sebagai pusat kegiatan agama dan kebudayaan. Kegiatan di dalam vihara adalah berdoa, bermeditasi, dan membaca  parrita.  Namun, pada masa Jawa Kuno, vihara punya arti berbeda. Bentuk Awal Vihara Tak mudah menggambarkan bentuk awal vihara pada masa Jawa Kuno karena tinggalannya hampir tidak ada. Hanya batur ganda di Kompleks Ratu Boko dan Candi Sari di Yogyakarta yang masih bisa diamati. Namun, relief Kharmawibhangga di kaki Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, memberikan petunjuk seperti apa tempat para biksu itu menuntut ilmu. Agni menunjukkan beberapa relief yang menggambarkan kompleks vihara dikelilingi pagar. Di dalamnya ada pendopo untuk berkumpul, kuil dengan konstruksi batu, dan tempat tinggal dengan konstruksi kayu. "Mungkin inilah mengapa tidak ditemukan sisanya sampai sekarang karena bahan kayu mudah lapuk," kata Agni. Selain dari relief, keberadaan vihara bisa ditelurusi lewat prasasti. Ada 21 prasasti dari abad ke-8 sampai ke-11 yang menyebut kata vihāra , bihāra , dan  wihāra . "Lokasi temuan prasasti yang paling barat dekat Pekalongan, paling timur di perbatasan Sidoarjo-Surabaya," kata Agni. Agni mendaftar 21 prasasti itu dalam "Vihara dan Pluralisme pada Masa Jawa Kuna Abad VIII-XI Masehi (Tinjauan Data Prasasti)" yang terbit dalam  Berkala Arkeologi (2015) , sebagai berikut: Abad ke-8: Prasasti Abhayagirivihāra menyebut Vihāra Abhayagiri dan Prasasti Kalasan menyebut Vihāra i Kalasa. Abad ke-9: Prasasti Kayumwungan menyebut kata vihāra ; Prasasti Abhayananda (826) menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Kuti (840) menyebut Kuti; Prasasti Wayuku (854) menyebut Wihāra Abhayananda; Prasasti Wihāra (874) menyebut wihāra ; Prasasti Salimar IV (880) menyebut Wihāra i Kandang; Prasasti Kalirungan (883) menyebut Wihāra i Kalirungan; dan Prasasti Munggu Antan (887) menyebut Wihāra i Gusali. Abad ke-10: Prasasti Poh (905) menyebut Wihāra Waitanning Hawan; Prasasti Palepangan (906) menyebut Bihāra ing Pahai; Prasasti Sangsang (907) menyebut Wihāra i Hujung Galuh; Prasasti Wukajana menyebut Bihāra i Dalinan; Prasasti Guntur (907) menyebut Wihāra i Garung; Prasasti Wanua Tengah III (908) menyebut Bihāra i Pikatan; Prasasti Wutit menyebut Sang Hyang Wihāra; Prasasti Pling-Pling menyebut kata wihāra ; Prasasti Wurudu Kidul A (922) menyebut Wihāra i Halaran; dan Prasasti Hara-Hara (966) menyebut Sang Hyang Kuti. Abad ke-11: Prasasti Kelagen (1037) menyebut sebuah wihāra . Sebelum abad ke-8 tidak ditemukan prasasti yang menyebut vihara. Ini mungkin bisa dikaitkan dengan peristiwa kepindahan Rakai Panangkaran dari penganut Hindu menjadi Buddha pada abad ke-8. "Tidak berarti sebelum kepindahan Rakai Panangkaran ke Buddhisme tidak ada penganut Buddhisme di dalam masyarakat Jawa Kuno," tulis Agni. Buktinya, kata Agni dalam Prasasti Wanua Tengah III disebutkan Vihāra i Pikatan yang didirikan Rahyangta i Hara. Ia adalah adik Rahyangta i Mḍang yang ada sebelum masa pemerintahan Rakai Panangkaran. "Ini bukti bahwa sebelum Rakai Panangkaran sudah ada penganut Buddhisme," tulis Agni. Fungsi Awal Agni menyimpulkan keberadaan vihara memuncak pada abad ke-10. Asumsinya, mungkin ketika itu jumlah biksu sangat banyak. "Dapat disimpulkan Buddhisme di Jawa Kuno mengalami puncak perkembangan pada abad ke-10," kata Agni. Itu berkaitan dengan fungsi vihara pada masanya. Agni menerangkan bahwa dalam Prasasti Kalasan, Abhayagirivihara, dan Kayumwungan, digambarkan vihara adalah pusat pemujaan dan penyebaran agama Buddha oleh para biksu yang terpelajar. Menurut Agni, berdasarkan Prasasti Kalasan pula arkeolog Soekmono menggambarkan vihara sebagai sebutan untuk keseluruhan gugusan bangunan yang terdiri dari kuil dan asramanya. Ahli Jawa Kuno, P.J. Zoetmulder mendeskripsikan vihara sebagai biara atau candi yang aslinya merupakan serambi tempat para pendeta berkumpul atau berjalan-jalan. Sedangkan arkeolog UGM, Kusen pernah mendefinisikan vihara sebagai tempat tinggal atau tempat persinggahan dan tempat berkumpul mendiskusikan agama bagi para pendeta agama Buddha. "Dulu, utamanya vihara adalah tempat tinggal para biksu, untuk mereka berkegiatan sehari-hari mempelajari kitab suci. Di dalamnya ada bangunan khusus untuk melakukan ritual agama," kata Agni. Menurut Agni, pendirian Vihāra i Kalasa dalam Prasasti Kalasan berkaitan dengan bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Kalasan di Yogyakarta. Pun dengan tempat tinggal bagi para biksu di dekatnya. "…Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para biksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli…," tulis prasasti itu. Agni menjelaskan, selama ini ada beberapa pendapat tentang bangunan vihara di dekat kuil Tara itu. Ada yang menyebut vihara itu adalah Candi Sari yang lokasinya tak sampai 1 km dari Candi Kalasan. "Salah satunya Bernet Kempers (ahli purbakala Belanda,  red .). Candi Sari kan bangunan bertingkat, lantai atas untuk biksu. Tetapi disadari juga oleh Kempers pada musim hujan akan sangat tidak nyaman tinggal di bangunan batu karena pasti akan lembab," jelas Agni. Karenanya, Agni sendiri cenderung setuju kalau ada kompleks vihara di dekat lokasi Candi Kalasan yang bisa menampung berbagai kegiatan. Kini lokasinya diperkirakan menjadi permukiman warga di sekitar Candi Kalasan. "Kalau kembali pada definisi vihara menurut Soekmono, Candi Kalasan itu kuil untuk ritualnya, lalu di dekatnya ada untuk tempat tinggalnya (para biksu,  red. )," kata Agni. Nyatanya, fungsi vihara pada masa lampau tak melulu soal agama. Dalam Prasasti Wurudu Kidul A diperoleh informasi kalau vihara terlibat pula dalam proses penetapan hukum. Ia menjadi saksi yang akan meneguhkan keputusan hukum terhadap seseorang. Kenyataan kalau raja-raja pada masa Jawa Kuno menetapkan  sima  bagi pendirian vihara, menurut Agni, juga bisa menjadi petunjuk adanya tujuan lain dari pembangunannya. Pasalnya, raja-raja yang menetapkan status  sima  untuk vihara ini tak selalu berkeyakinan Buddha. Mereka adalah raja-raja yang beragama Hindu. Misalnya, Rakai Watukura Dyah Balitung (899–911), yang mengembalikan status sawah di Wanua Tengah sebagai  sima vihara  di Pikatan. Padahal, ia beragama Siwa. Ia menyandang gelar pentahbisan sebagai titisan Siwa. Alasannya bisa sebagai penghormatan bagi para penganut Buddha. Bisa juga karena alasan politis. "Seorang raja yang ingin menguasai wilayah besar, perlu mengambil simpati semua golongan," kata Agni. Dalam perkembangannya seiring datangnya pengaruh Islam, Agni melihat adanya kesinambungan tradisi pengajaran di vihara dengan yang ada di pesantren tradisional. Sedangkan pengaruh Tiongkok yang masuk ke Nusantara lama kelamaan juga ikut mengubah  tradisi ritual di vihara. "Kita lihat kepercayaan Tridharma sangat kental pengaruh Tiongkok," kata Agni. "Itu kenapa bisa bergeser dari vihara ke klenteng."*

  • Pondok Pesantren dan Penyiaran Islam Tertua di Jawa

    Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam tertua di Indonesia. Di Jawa, tradisi ini kemungkinan besar sudah dilakukan sejak Maulana Malik Ibrahim menjadi penyebar pertama Islam di Jawa. Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta menjelaskan istilah pesantren sendiri didapat dari kata santri. Dalam bahasa Sanskerta, kata itu berasal dari kata cantrik , artinya murid padepokan atau murid. “Dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji . Dalam bahasa India istilah itu berasal dari kata Shastri , artinya orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu,” kata Masyhudi dalam diskusi “Mengenal Vihara dan Pesantren sebagai Tempat Pembelajaran Agama dalam Perspektif Arkeologi” via aplikasi zoom yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta. Sementara itu, kata “pondok” berasal dari bahasa Arab, funduuq yang artinya asrama, penginapan, dan hotel. Menurut Masyhudi, pada dasarnya pesantren terdiri dari pondok, masjid, pengajaran kitab klasik, santri, dan kiai. “Pondok pada dasarnya adalah asrama pendidikan Islam tradisional di mana santri tinggal bersama di bawah bimbingan seorang atau lebih guru yang dikenal dengan kiai,” kata Masyhudi. Secara arkeologis, Masyhudi menduga, Masjid Maulana Malik Ibrahim di Leran, Gresik adalah salah satu tempat yang pernah dipakai sebagai pesantren. Lokasinya 3-4 km lebih dari makamnya yang terkenal. “Malik Ibrahim ternyata pernah bermukim di situ dan melakukan aktivitas keilmuan di Leran. Salah satu peninggalannya adalah masjid. Sudah dipugar baru, tetapi masih tersisa tempat wudu yang dilestarikan dan tak dipakai lagi,” kata Masyhudi.       Baca juga:  Mempertanyakan Bukti Islam Tertua di Jawa Azyumardi Azra, guru besar sejarah UIN Syarif Hidayatullah, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII menulis kebanyakan serjana sepakat kalau di antara para penyebar pertama Islam di Jawa adalah Maulana Malik Ibrahim. Ia mengislamkan kebanyakan wilayah pesisir di utara Jawa. “Bahkan beberapa kali mencoba membujuk Raja Hindu-Buddha Majapahit, Vikramavaddhana (berkuasa 1386–1429) agar masuk Islam,” catat Azra. Menurut Masyhudi, tokoh ini dikenal sebagai ulama, yang pada masa kini mungkin akan dipanggil kiai. Dari tinggalannya bisa dinilai bahwa Maulana Malik Ibrahim pasti punya pengikut yang bisa dianggap sebagai santri atau murid. “Secara tertulis bukti pendukungnya sangat sulit kita peroleh. Ini bisa diinterpretasikan ternyata Malik Ibrahim itu tokoh ulama, yaitu ada pengikutnya,” kata Masyhudi. Lokasi lainnya yang mungkin pernah dijadikan sebagai pesantren pada awal perkembangan Islam adalah Langgar Bubrah di Kudus. Lokasinya di sebelah barat Masjid Sunan Kudus. Dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 14A (1978) yang disusun oleh arkeolog Hasan M. Ambary, dkk. bangunan ini dapat dianggap sebagai temuan dari masa peralihan antara masa pengaruh Hindu dan masa pengaruh Islam. Baca juga:  Mempertanyakan Kembali Teori Islamisasi di Nusantara Langgar, kata Masyhudi, secara tradisional merupakan tempat untuk mencari ilmu agama. Pengajaran agama di suatu langgar dilakukan langsung antara kiai kepada santrinya. Tak jauh dari langgar itu ada bangunan bernama dalem yang juga digunakan sebagai tempat kegiatan keilmuan. “Tidak hanya di Jawa, kalau di Sumatra Barat itu surau. Di sebelah langgar ada bangunan memanjang sangat dimungkinkan untuk bermukim para santri. Bisa diinterpretasi kalau ada kegiatan keilmuan di tempat-tempat itu,” kata Masyhudi. Kendati mungkin, kata Masyhudi, jumlah santri masih terbatas. Penyampaian keilmuan pun belum seperti sekarang. Masyhudi menduga tokoh Walisongo lain, Sunan Ampel di Surabaya, juga memiliki tempat semacam pesantren untuk menyiarkan ajarannya. Seorang wali besar seperti dirinya pasti memiliki banyak murid. “Susah cari bekas pesantrennya. Sudah digusur jadi pasar. Informasinya di sekitar masjid itu ada tempat kegiatan keagamaan, barangkali pesantren,” kata Masyhudi. Masjid sebagai Tempat Pendidikan Dari peninggalan itu terlihat kalau masjid tak dapat dipisahkan dengan pesantren. Kawasan masjid dianggap sebagai tempat paling tepat untuk mendidik para santri. Ini terutama dalam praktik ibadah lima waktu, khotbah dan salat Jumat, serta pengkajian kitab klasik yang mulai berlangsung paling tidak pada abad ke-18-19. “Masjid Nabawi di Madinah misalnya waktu awal perkem b angan Islam di sana juga dijadikan tempat pendidikan,” kata Masyhudi. Baca juga:  Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah juga terdapat masjid semacam itu. Di masjid ini terdapat prasasti pada salah satu tiang yang kini sudah menyatu dengan tembok. “Bertuliskan huruf Arab. Ini pertanda kalau masjid ini dulunya pernah dipakai untuk kegiatan keilmuan,” kata Masyhudi. Menurut Masyhudi, prasasti itu mengungkapkan bahwa masjid dibangun di sebuah negeri yang besar, di mana waktu itu pemerintahan Mataram Islam sedang berlangsung. Masjid ini diberikan kepada Syekh Baidowi atas jasanya kepada istri Sultan Mataram. “Mungkin pernah menolong istri Sultan Mataram, tetapi tidak disebutkan pada masanya siapa. Artinya dipakai atas dasar pemberian keraton Mataram, sehingga sampai sekarang masjid ini tanahnya masih masuk tanah perdikan,” kata Masyhudi. Kitab Kuning Menurut Masyhudi, sejak tumbuhnya pesantren, pengkajian kitab klasik diberikan sebagai upaya meneruskan tujuan utama pesantren, yaitu mendidik calon ulama yang setia terhadap paham Islam tradisional. “Penyebutan kitab klasik dalam dunia pesantren lebih populer disebut kitab kuning, karena biasanya dulu dicetak dalam warna yang agak kuning, tulisan lebih jelas,” kata Masyhudi . Salah satunya sebuah naskah kuno dari 1347 yang ditulis dalam huruf Arab dan berbahasa Jawa. Isinya adalah ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. “Sangat mungkin tua karena dibuat dengan bahan deluwang yang sangat asli. Tersimpan di Salatiga, disimpan oleh seorang kolektor,” kata Masyhudi. Baca juga:  Naskah Ajaran Islam Awal di Jawa Kitab-kitab kuning atau klasik biasanya dipelajari para santri di pesantren. Mereka ada yang sengaja datang dari jauh untuk tinggal dan bermukim di sana. Ada pula yang hanya datang belajar kemudian pulang ke tempat tinggalnya di desa sekitar pesantren. Pada awal perkembangannya, para satri biasanya belajar dengan metode sorogan. Dalam bahasa Jawa, sorog berarti menyodorkan. Santri bisa menyodorkan materi dan langsung bertatap muka dengan seorang ulama. “Sangat mungkin dengan sistem sorogan. Memberi pelajaran kepada murid harus dilakukan berhadap-hadapan, digurukan, agar tidak mengubah makna. Ini pentingnya metode sorogan ,” kata Masyhudi. Baca juga:  Benarkah Samudera Pasai Kerajaan Islam Pertama di Nusantara? Selain sorogan , metode lain adalah bandongan,  yaitupara santri menyimak penjelasan dari ulama atau kiai. Ini biasanya dilakukan dalam sebuah forum besar. “Lima sampai lima ratus santri mendengarkan kiai, mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Metode ini berlaku pada masa awal perkembangan Islam di Nusantara, khususnya Jawa,” kata Masyhudi. Metode baru muncul setelah abad ke-20. Bentuknya lebih formal dengan membagi santri berdasarkan kelas, sebagaimana jenjang madrasah. Sejauh ini, kata Masyhudi, keberadaan awal pesantren di Jawa baru bisa ditarik sejauh hingga abad ke-16. “Dari data belum ada di bawah 1500-an. Adapun di luar Jawa, seperti di Aceh, makam-makam Islam dari abad ke-14 di sana juga sudah banyak,” kata Masyhudi.

  • Orang Nusantara di Kapal Belanda

    JAGAT media sosial tanah air kembali geger. Sebuah rekaman video memperlihatkan kapal ikan Tiongkok sedang melarung jenazah ABK Indonesia ke tengah laut. Sontak hal itu mengundang marah masyarakat Indonesia. Banyak yang mempersoalkan sikap para awak kapal Long Xin 629 itu dan menganggapnya tidak manusiawi. Masyarakat menuntut kejelasan dalam kasus tersebut. Peristiwa ABK Indonesia dilarung pertama kali diberitakan oleh MBC (sebuah media terkemuka di Korea Selatan) dan sempat menjadi pembicaraan di negara itu. Pemerintah Indonesia pun segera bergerak mengusut tuntas persoalan tersebut. Dikutip Kompas , Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memberikan keterangan terkait kasus tersebut. “Dari informasi yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberi tahu pihak keluarga dan mendapat surat persetujuan pelarungan di laut dari keluarga tertanggal 30 Maret 2020. Pihak keluarga juga sepakat menerima kompensasi kematian dari kapal Tian Yu 8,” kata Retno, Kamis (7/5/2020). Dalam sejarah, banyak orang Indonesia (saat itu masih disebut sebagai Hindia Belanda atau Nusantara) pernah hidup (sementara) di kapal milik pemerintah Hindia Belanda. Selain karena statusnya sebagai budak, ada sejumlah orang yang tinggal karena memang tengah mengadakan perjalanan ke Belanda. Mereka  yang mendapat undangan resmi dari pemerintah Belanda itu sempat merasakan hidup di atas kapal selama berbulan-bulan. Tamu Resmi Sejumlah orang yang pernah secara resmi diberi kesempatan berpetualang di atas kapal Belanda adalah para utusan dari Aceh. Mereka diundang oleh Pangeran Maurits untuk berkunjung dan melihat negerinya. Selama berbulan-bulan para utusan ini mengarungi lautan, bergaul dengan para awak kapal Kerajaan Belanda. Sejak pertama kali menaruh minat terhadap Kepulauan Nusantara, pandangan Belanda langsung tertuju kepada Aceh. Wilayah di Sumatra itu menjadi pilihan utama bagi hubungan perdagangan yang ingin dibangun Belanda. Mereka tahu bahwa Aceh telah menjalin hubungan diplomatik yang sangat luas dengan Persia, India, dan Timur Tengah. Bahkan musuh bebuyutannya, Portugis, telah merangsak masuk ke sana. Belanda pun memutuskan segera menjalin hubungan baik dengan penguasa Aceh. Pada 1599, Belanda mengirim dua kapal, Leeuw dan Leeuwin , ke daratan Aceh. Kapal-kapal itu mengangkut bala tentara dan sejumlah pejabat Belanda di bawah pimpinan dua bersaudara Cornelis dan Frederick de Houtman. Namun usaha itu mengalami kegagalan karena kurangnya kepercayaan penguasa Aceh terhadap Belanda yang tersohor memiliki sifat buruk. Pada 1601 usaha lain dilakukan Belanda. Diceritakan Cees van Dijk dalam “Utusan, Budak, Seorang Pelukis, dan Beberapa Siswa” dimuat Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 , empat buah kapal, Zeelandia, Middelborgh, Sonne, dan Langhe Barcke , lengkap dengan sepucuk surat dari Maurits beserta hadiah diberangkatkan dari Kerajaan Belanda. Usaha kali ini membuahkan hasil. Penguasa Aceh bersedia mengirim tiga utusan –duta besar Aceh Tuanku Abdul Zamat (Abdul Hamid), Laksamana Raja Seri Mohmat (Sri Muhammad), dan seorang kemenakan sultan Meras San (Mir Hasan)– untuk melihat sendiri keadaan Negeri Belanda sebelum memutuskan untuk menjalin suatu hubungan bilateral. Para utusan itu juga didampingi beberapa orang pembantu, pedagang Arab, dan penerjemah. “Sejarah tidak mencatat bagaimana kesan-kesan mereka dan apakah menurut mereka orang Belanda itu beradab. Namun kita mengetahui bagaimana perjalanan mereka berlangsung, dan bagaimana mereka disambut di Negeri Belanda,” tulis Cees. Pada Agustus 1601, kapal Zeelandia dan Langhe Barcke  memulai pelayarannya. Hampir setahun kemudian, dua kapal pengangkut perutusan itu tiba di Zeeland. Selama berada di perjalanan, kata Cees, para perutusan sudah menyaksikan model peradaban Barat dari para awak kapal. Bahkan tentang pergaulan ala Eropa zaman itu yang tidak mereka kenal pun tersaksikan dengan jelas. Pada 1602, setelah melewati Tanjung Harapan petaka menimpa dua kapal perutusan itu. Di dekat Pulau Sint Helena, mereka mendapat hadangan dari kapal Portugis (sumber lain menyebut Spanyol). Pertempuran pun tidak terhindarkan. Setelah kejar-kejaran selama beberapa hari, kapal itu pun berhasil ditahan. Kondisi perutusan terjaga baik. Meski kondisi Abdul Zamat, yang sebelumnya sakit, semakin memburuk. “Dalam perjalanannya orang-orang Aceh itu mencicipi pengalaman berada di tengah peperangan orang Eropa dan di tengah pemberontakan daerah-daerah Belanda terhadap penjajahan Spanyol,” tulis Cees. Para perutusan Aceh berhasil tiba dengan selamat di Belanda. Namun belum lama menginjakkan kaki di sana, pada 9 Agustus 1602 dalam usia 71 tahun, Abdul Zamat menghembuskan nafas terakhirnya. Para pejabat, atas persetujuan Perserikatan Dagang Hindia, sepakat memakamkannya di Gereja Sint Piters dengan mengikuti syariat Islam. Sementara perutusan lain berhasil menemui Pangerang Maurits, dan setelah beberapa saat tinggal mereka akhirnya kembali ke Aceh. Selain para perutusan Aceh, bangsawan dari Ambon, Maluku, dan beberapa penguasa Jawa juga pernah mendapat undangan serupa. Dari Ambon, tiga orang pangeran muda yang berusia antara 10 dan 12 tahun diajak berkeliling Belanda pada 1607. Mereka berangkat menumpang beberapa kapal Kerajaan Belanda. Perjalanan panjang mengarungi lautan itu menjadi pengalaman berharga mereka dalam mengenal kebudayaan Barat. Keselamatan mereka tentu menjadi jaminan juga. Derita Terjajah Nasib berbeda dirasakan para budak dan rakyat terjajah. Jika para bangsawan mendapat berbagai kemewahan di dalam percobaannya tinggal di kapal pemerintah Belanda, para budak mendapat perlakuan lain. Statusnya sebagai budak membuat kehidupan mereka di kapal tidak kalah menyengsarakan dengan kehidupan perbudakan di daratan. Keadaan itu dirasakan rakyat di beberapa daerah, terutama tempat-tempat pemasok budak seperti Bali dan Maluku. Menurut I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura, di Maluku banyak laki-laki dewasa yang dikirim ke Batavia sebagai budak. Perjalanan laut yang mereka lalui untuk sampai ke pusat pemerintah Hindia Belanda itu begitu menyengsarakan. Bahkan banyak berita yang menyebut tidak semua rakyat Maluku bisa selamat sampai tujuan. “Dengan kekerasan pemerintah itu hendak memisah semua laki-laki dari anak isterinya,” tulis Nanulaitta. Cerita tentang kondisi para budak juga digambarkan Harry A. Poeze dalam bukunya Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda . Pada permulaan abad ke-18 banyak berita tentang budak Hindia yang dibawa ke Negeri Belanda oleh para pedagang sebagai bukti status sosial. Di antara banyak kasus, ada satu laporan yang cukup mengejutkan tentang seorang budak perempuan yang menerima perlakuan tidak wajar dari majikannya selama di kapal. Usia budak itu antara 4-5 tahun. “Cerita lain adalah tentang budak perempuan milik Aaltje Barnards. Aaltje Barnards melakukan pelayaran dengan kapal Waarden , dengan nakhoda Adriaan Geleijnsz. Sampai di Negeri Belanda, Aaltje dan nakhoda itu dituduh berzinah; tapi tudahan itu tak penting di sini; yang lebih penting adalah bahwa Aatje telah mengajarkan kepada gadis budak kecil berusia empat-lima tahun itu “semua lagu bordil yang jorok-jorok”, sehingga nakhoda dan Aaltje tertawa terbahak-bahak,” tulis Poeze.*

  • Filantropi Masa Resesi Ekonomi

    DIDI Kempot, seniman campursari kesohor, telah berpulang pada 5 Mei 2020 setelah mengalami kelelahan manggung di mana-mana. Dia sempat menggelar konser amal untuk penanganan pandemi Covid-19. Hasilnya Rp7,8 miliar terkumpul dan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Praktik filantropi pada masa krisis semacam ini seringkali tersua dalam sejarah Indonesia. Resesi ekonomi melanda Hindia Belanda pada 1930-an. Saat itu harga barang ekspor Hindia Belanda turun drastis. Tapi tak ada negara mau membeli. Sebab mereka pun terbelit masalah serupa. Resesi ini bermula dari Amerika Serikat, lalu menyebar ke negara lainnya. Barang-barang pun menumpuk. Pabrik dan perusahaan merugi. Banyak pekerja kehilangan pekerjaan (PHK) dan memilih pulang kampung. Sisanya mencari kerjaan lain. Tapi ada juga yang masih beruntung bisa bekerja meski upahnya menyusut.

  • Menak Jingga yang Ganteng

    RIBUAN orang memadati pingir jalan protokol di jantung kota Banyuwangi. Mereka begitu terkesima menyaksikan parade kostum etnik modern nan megah dari pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2019 yang mengangkat tema “The Kingdom of Blambangan”. Sajian apik lainnya, yang membuka BEC 2019, tak kalah memukau penonton: sedratari Amuke Satria Blambangan . Ia  mengisahkan perang antara Kerajaan Blambangan dan  Kerajaan Majapahit, yang akhirnya dimenangkan Menak Jingga, adipati Blambangan yang kemudian jadi raja Blambangan. Sendratari dibuka dengan fragmen kemegahan prajurit Blambangan yang melakukan olah kanuragan. Sekira 20 orang dengan kostum dominan hitam melakukan gerak silat ala Banyuwangi, diiringi gending gaya Banyuwangi yang rancak. Lalu masuklah tokoh Menak Jingga. Dia beserta para senapatinya menerima tamu dari Majapahit yang membawa undangan paseban agung ke Majapahit. Menak Jingga pun berangkat beserta keluarga dan prajurit pilihan, meski hal itu sudah dicegah oleh senapatinya. Baca juga:  Perlawanan Jagapati sebagai Hari Jadi Banyuwangi Sesampai di Majapahit, dia disambut pasukan di bawah pimpinan Wikramawardhana dan Kencanawungu. Raja Majapahit ini menuduh Menak Jingga datang ke paseban diiringi pasukan pilihan itu hendak menyerbu Majapahit. Menak Jingga tak terima dengan tuduhan itu. Dia mengamuk sejadi-jadinya dengan membawa senjata gadanya. “Lewat BEC penonton diajak menyelami sejarah dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menampilkan pawai kostum saja, tapi juga disertai narasi sejarah dan tradisi lokal yang menambah wawasan. Inilah yang menjadi keunikan dari BEC,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dikutip dari laman banyuwangikab.go.id . Satria Menak Jingga Kisah Menak Jingga dikenal di seantero Jawa. Tokoh dari Blambangan –sekarang Banyuwangi– dikisahkan sebagai kubu antagonis dalam persaingan antara Majapahit dan Blambangan. Dalam banyak cerita, Menak Jingga memiliki karakter mudah marah. Penggambaran ini membuat resah beberapa tokoh budaya Banyuwangi. Salah satunya Hasnan Singodimayan. “Dibilang Banyuwangi ini nenek moyangnya Menak Jingga. Berwajah merah. Marah-marah saja sama Majapahit. Keturunannya cantik-cantik, sanghyang wedari gandrung, selendangnya merah,” ujar Hasnan dalam tayangan di laman YouTube. Menak Jingga merupakan tokoh sentral dalam sejarah Blambangan, yang ditempatkan sebagai seorang ksatria atau pemimpin kebanggaan Wong Osing, suku asli Banyuwangi. Sebaliknya, dalam sejarah Majapahit, Damarwulan menjadi tokoh utama karena dapat membunuh Menak Jingga. Blambangan sebagai sebuah negara adalah sebuah kenyataan sejarah. Serat Pararaton menuliskan perluasan kekuasaan Majapahit ke ujung timur Jawa, termasuk Blambangan. Saat pemerintahan Hayam Wuruk, wilayah Blambangan diserahkan kepada anaknya yang bernama Bhre Wirabumi. Baca juga:  Temu Legenda Banyuwangi Setelah Hayam Wuruk mangkat, tahta Majapahit diserahkan kepada Wikramawardhana, menantu lelaki Hayam Wuruk. Sepuluh tahun Wikramawardhana berkuasa, tahta Majapahit diberikan kepada anak perempuannya yang bernama Dewi Suhita. Bhre Wirabhumi menolak pengangkatan Suhita dan menginginkan Blambangan lepas dari Majapahit. Majapahit dan Blambangan pun berkonflik (1404-1406) yang berakhir dengan kehancuran Bhre Wirabumi. Lehernya ddipenggal lalu kepalanya dipersembahkan kepada Ratu Majapahit. “Sejarah kematian Bhre Wirabumi mirip dengan salah satu cerita yang dituturkan dalam epik Jawa terkenal Serat Damarwulan . J. L. A. Brandes mengasosiasikan Bhre Wirabumi dengan Raja Menak Jingga, seorang figur antagonis dalam epik tersebut,” catat sejarawan Sri Margana dalam artikel “Jatuhnya Blambangan 1768”. Brandes adalah filolog berkebangsaan Belanda Ada lagi Babad Blambangan yang menceritakan bahwa Menak Jingga adalah anak petapa dari Tengger bernama Ajar Guntur Geni. Atas kesaktiannya mengusir musuh Majapahit, petapa ini memperoleh nama baru dari raja Majapahit: Pamengger. “Guntur Geni yang telah mematahkan serangan di pantai Jawa Timur; serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh raja Majapahit dari seberang laut. Penyerang-penyerang itu adalah orang-orang Siyem (Siam), Kaboja (Kamboja), dan Sukadana (Kalimantan),” tulis H.J. de Graaf dan Th.G. Thomas Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa . Baca juga:  Metamorfosis Hadrah Kuntulan Pamengger tak memiliki anak. Dia hanya memiliki seekor anjing. Dia mengubah wujud anjing itu menjadi manusia yang tak sempurna karena masih berkepala anjing. Dia menamainya Menak Jingga. Akhir kisah babad ini juga berujung pada kekalahan Menak Jingga dari Damarwulan. “Bhre Wirabumi, Pamengger, dan Menak Jingga, semua tokoh ini barangkali merujuk pada satu figur yang sama. Jika yang pertama diterima sebagai figur yang lebih historis, maka dua yang terakhir mestinya merupakan personifikasi dari yang pertama,” tulis Sri Margana. Kisah legenda Menak Jingga dan Damarwulan kemudian diadaptasi dalam sejumlah karya sastra. Misalnya, Serat Damarwulan yang ditulis R. Ng Selawinata tahun 1885 atau pada masa Sultan Hamengkubuwana VII. Kisah legenda itu juga diadaptasi dalam seni pertunjukan seperti Langendriyan yang berkembang di Yogyakarta, ketoprak dengan lakon Damarwulan-Menak Jingga, dan Janger di Banyuwangi. Dekonstruksi Selama bertahun-tahun Menak Jingga dalam seni pertunjukan digambarkan sebagai antagonis yang sadis. Namun seniman-seniman Banyuwangi mencoba mendekonstruksi imej Menak Jingga sebagai tokoh buruk rupa, baik postur tubuh, wajah, suara, maupun sifatnya. “Menak Jingga adalah seorang ksatria, tinggi besar, gagah berani, dan merupakan tokoh yang menjadi ikon dalam cerita itu dan sekaligus sebagai pahlawan Blambangan/Banyuwangi,” ujar Adi Purwadi dari Lembaga Masyarakat Adat Using, dikutip dari artikel Novi Anoegrajekti berjudul “Janger Banyuwangi dan Menak Jingga: Revitalisasi Budaya” di jurnal Literasi Volume 4 Juni 2014. Baca juga:  Di Balik Ritual Keboan Citra baru Menak Jingga muncul dalam perhelatan BEC 2019. Menak Jingga tidak digambarkan berkaki pincang, berwajah anjing, dan memiliki perut buncit. Namun dia berbadan tegap, berparas layaknya manusia, serta menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat dan prajuritnya. “Ketika melihat opening BEC, itulah Menak Jingga tampilan Blambangan. Orang lain tidak boleh sakit hati, sebagaimana kami tidak sakit hati melihat gambaran Menak Jingga bertahun-tahun yang jelek. Kita membalik bahwa Menak Jingga itu gagah, bijaksana dan tampan,” ujar Abdullah Fauzi dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi di akun BTD channel di saluran daring YouTube.

  • Natural History, Ilmu yang Mendorong Penjelajahan Bangsa Eropa

    JACOBUS Bontius senang bukan kepalang. Pembuka jalannya untuk meraih gelar profesor terbuka bersamaan dengan datangnya penunjukan dirinya oleh direksi VOC (Heeren XVII) untuk menangani segala urusan medis kapal selama pelayaran ke Asia pada Agustus 1626. Bontius antusias menerima proyek ini. Bontius menjadi satu dari sekian ilmuwan yang terkena "wabah" revolusi saintifik. Harold J. Cook dalam tulisannya “Global Economies and Local Knowledge in the East Indies” menyebut, kala itu dalam dunia ilmu pengetahuan sedang muncul semangat “revolusi saintifik” dengan kebangkitan kembali natural history. Ilmu inilah yang mendorong orang Eropa melakukan penjelajahan dunia untuk mencari rempah-rempah dari sumbernya. Pada mulanya, kebangkitan ilmu natural history  sebatas mengkaji teks-teks lama. Setelahnya, orang-orang merasa perlu untuk terjun ke lapangan guna megamati langsung dengan tetap berpegang pada teks lama. “Di sinilah (kebangkitan natural history, red .) yang mendorong mereka melakukan penjelajahan ke Amerika dan dunia timur,” kata Dr. Gani A. Jaelani, sejarawan Universitas Padjajaran, dalam webinar “Rempah-Rempah, Pengetahuan Medis, dan Praktik Kesehatan di Indonesia”, Selasa, 5 Mei 2020. Gani menjelaskan, natural history  merupakan bidang ilmu yang mendeskripsikan alam. Para peneliti Eropa abad pertengahan membaca kembali karya-karya natural history  seperti milik Pliny the Elder (Gaius Plinius Secundus) yang hidup pada 23-79 SM. Pliny menyusun ensiklopedi alam, astronomi, botani, farmakologi, dan manifestasi pengetahuan kuno yang ada di alam semesta. Naturalis lain yang karyanya dikaji ulang ialah Dioscarides, hidup sezaman dengan Pliny. Ia meluncurkan buku De Medica Materia  dengan 550 entri jenis tumbuhan yang punya manfaat untuk kesehatan.  Pengkajian karya lama ini kemudian memunculkan pengetahuan baru. Naturalis abad pertengahan Conrad Gesner berpendapat bahwa akal dan pengalaman merupakan pilar ilmu pengetahuan. Akal berasal dari Tuhan dan pengalaman berasal dari manusia. Ilmu pengetahuan merupakan perpaduan keduanya sehingga perlu dilakukan observasi di lapangan. Natural history  kemudian berkait erat dengan kolonialisme. Para pegawai kolonial dan naturalis melakukan ekspedisi dalam rangka mengumpulkan informasi demi kepentingan perdagangan dan keilmuan. “Mereka mencari tahu tumbuh-tumbuhan apa saja yang memiliki nilai ekonomis di pasar Eropa. Para dokter punya peran penting dalam penyelidikan manfaat tumbuhan bagi kepentingan ekonomi dan kesehatan,” kata Gani. Para apoteker yang bekerja di kongsi dagang Hindia Timur, VOC, lalu diinstruksikan untuk membawa sampel tumbuhan, mulai daun, biji-bijian, cengkeh, hingga kayumanis sekembalinya menjelajah. Profesor Carolus Clusius dari Universitas Leiden juga menginstruksikan para apoteker yang menjelajah untuk menelusuri produk alam di belahan dunia lain. Salah satu dokter dan naturalis yang ikut ke nusantara ialah Bontius. Setelah penunjukan oleh direksi VOC, Bontius berangkat dengan kapal yang membawa Jan Pieterzoen Coen dan tiba pada 1627 di Maluku. Tinggal selama beberapa bulan di sana, ia melakukan pengamatan tentang penyakit, tumbuhan, dan pengobatan tradisional dengan banyak melakukan wawancara pada warga lokal. Pengamatannya kemudian ia tuliskan setelah pindah ke Batavia pada awal 1628. Karya Bontius diterbitkan tahun 1642 dalam bahasa Latin, De medicina Indorum . Terjemahan bahasa Inggrisnya muncul seabad kemudian. Peneliti lain ialah Georg Eberhard Rumphius. Ia menyusun Het   Amboinsche Kruid-Boek , berisi khasiat tanaman obat di Ambon berserta deskripsi cara orang Ambon menggunakan tanaman tersebut. Buku Rumphius dirahasiakan oleh VOC untuk mencegah bangsa Eropa lain datang ke Nusantara. “Selesai ditulis pada 1702, setengah abad setelahnya baru diterbitkan,” kata Gani. Dari Amerika, ada dokter Thomas Harsfield yang datang ke Hindia Belanda pada 1801 dan tinggal hingga 1819. Sepanjang 1804-1812, ia melakukan perjalanan ke Jawa. Laporan ekspedisinya tentang tanaman obat yang digunakan orang Jawa dikirim ke Bataviaasch Genootshap der Kursten en Wetenschappen. Karyanya kemudian diterbitkan pada 1816 dengan judul Short Account on the Medical Plants of Java . Semangat penelitian di negeri ini didorong oleh kepercayaan bahwa obat sebuah penyakit bisa ditemukan di tempat penyakti itu muncul. Dalam periode ini, para dokter Eropa masih takjub pada pengetahuan lokal terkait obat-obatan. Mereka mengumpulkan informasi dengan menyerap pengetahuan dari penduduk lokal. “Bontius dan Rumpihius melaukan wawancara pada pembatu di tempat mereka tinggal,” kata Gani. Namun demikian, setelah abad-19 muncul paradigma baru dalam dunia kedokteren yang menggusur ilmu pengetahuan kedokteran lokal. “Louis Pasteur, Robert Koch menginisiasi pemahaman bakteriologi, bahwa penyakit disebabkan oleh bakteri patogen. Pengobatan dilakukan dengan membunuh patogen penyebab penyakit,” kata Gani. Sejak itu, pola penelitian kesehatan bergeser dari observasi lapangan dan menjelajah alam ke penelitian laboratorium. Hal ini membuat penelitian tanaman obat yang dilakukan dokter Eropa menjadi berkurang. Pada masa ini pula peran perempuan sebagai pengguna dan pemilik ilmu pengetahuan tanaman obat berjasa dalam membantu para peneliti. Pada 1880-an, ada setidaknya 300-an dokter terlatih Eropa di Hindia Belanda. Mayoritas dari mereka bekerja di rumah sakit militer dan hampir semuanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota. Di pedesaan dan khususnya di luar Jawa, layanan dokter hampir tak terjangkau. Penduduk di daerah harus menyediakan perawatan medis mereka sendiri. Maka, istri pemilik perkebunan jadi penanggung jawab kesehatan pekerja pribumi. Dengan kata lain, perawatan medis di Hindia disediakan di rumah oleh perempuan. Pada 1888, Chemisch Pharmacologisch didirikan. Di dalamnya terdapat laboratorium yang khusus meneliti kandungan kimiawi dalam tanaman obat. Menurut Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation”, perempuan Indo-Eropa punya peran penting sebagai mediator antara peneliti Eropa dan warga pribumi, pemilik ilmu tanaman obat lokal. Buku pedoman medis yang biasanya dipegang para perempuan, merujuk pada bahan-bahan yang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar tempat tinggal. Sebagian besar obat di Hindia adalah obat domestik yang sering digunakan sebagai bumbu masak, sehingga para perempuan amat mudah mengenali dan mengaksesnya. “Obat herbal, yang memanfaatkan tanaman dan buah-buahan yang sering digunakan dalam memasak juga merupakan obat yang paling umum di koloni,” tulis Hans Pols. Banyak perempuan indo-Eropa suka mencatat resep favorit mereka. Pada 1870-an, dua buku catatan perempuan indo-Eropa diterbitkan setelah penulisnya meninggal. Buku pertama ialah buku catatan milik Emelie van Gent-Detelle, perempuan indo-Eropa dari keluarga pemilik perkebunan yang tinggal di dekat Yogyakarta. Kakek Emelie merupakan ahli bedah Jerman untuk VOC bernama Joseph Thomas Coenraad. Selama hidupnya, reputasi Emelie dikenal karena pengetahuannya tentang pengobatan herbal. Buku kedua yang diterbitkan ialah milik Johanna Wilhelmina Gunsch-van Blokland, yang tinggal di Surabaya. Catatan Johanna bersumber dari kumpulan resep yang dikumpulkan ayahnya. Para perempuan indo-Eropa yang paham tentang tanaman medis lokal ini punya posisi terhormat sebagai perantara budaya medis Eropa dan Jawa untuk wawasan medis. Mereka umumnya bisa berbicara bahasa Belanda, Jawa, Sunda, Melayu, atau bahasa lokal lain. Dengan begitu, mereka dapat dipahami oleh banyak kelompok etnis. “Ada pergeseran, penelitian tanaman obat tidak lagi diteliti oleh para dokter, tapi pertanian, atau tak punya latar beakang medis sama sekali,” kata Gani.*

  • Di Balik Ritual Keboan

    RATUSAN warga berkumpul di sebuah tanah lapang bekas sawah. Sejak pagi suara gamelan dari sebuah panggung mengalun bertalu-talu. Bunyi irama yang berulang-ulang membuat beberapa orang kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka bermain lumpur di sepetak tanah yang sudah disediakan panitia. Pada saat bersamaan, warga desa menggelar arak-arakan dengan membawa beberapa replika hewan kerbau. Ikut pula puluhan orang dengan tubuh berlumuran cairan hitam –dari arang dan oli. Mereka mengenakan sepasang tanduk buatan dan lonceng di leher. Di tengah perjalanan mereka kerasukan roh leluhur desa dan bertingkah layaknya kerbau. Keceriaan terpancar dari wajah Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi. Untuk kesekian kalinya mereka menggelar ritual adat keboan atau dikenal dengan Keboan Aliyan. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang menghadiri acara tersebut, mengatakan bahwa tradisi Keboan Aliyan merupakan salah satu kekayaan budaya asli warga lokal. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi mengangkat tradisi ini sebagai bagian dari Banyuwangi Festival; sebuah bentuk apresiasi pada warga yang terus menjaga warisan leluhur. “Banyuwangi boleh maju, tapi tradisi dan budaya yang ada di tengah masyarakat tidak akan kita tinggalkan. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual rutin tapi juga menggambarkan semangat guyub dan gotong royong warga,” kata Anas , September 2019. Keboan Aliyan rutin digelar setiap tahun; yakni pada hari minggu antara tanggal 1 sampai 10 bulan Suro –penanggalan Jawa. Ritual ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah sekaligus upacara bersih desa agar seluruh warga diberikan keselamatan dan dijauhkan dari segala marabahaya. Kisah Dua Dusun Dalam masyarakat agraris, kerbau menempati posisi penting. Kerbau dianggap sebagai mitra dan tumpuan mata pencaharian petani. Kerbau juga dihubungkan dengan kesuburan tanah karena membantu membajak sawah. Selain itu, kerbau dianggap binatang keramat nan suci. Ia memiliki kebajikan, kesabaran, dan welas asih. Ia simbol kekuatan dan pengantar jiwa yang sudah mati menuju alam lain. Sejumlah masyarakat adat memunculkan tradisi yang berkaitan dengan kerbau. Masyarakat suku Osing di Banyuwangi mewujudkannya dalam rituan Keboan Aliyan. Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-18. “Tidak mungkin untuk menyatakan dengan pasti berapa umur ritual itu. Meskipun beberapa mengklaim bahwa itu sudah ‘berabad-abad’, yang lainnya hanya menyatakan bahwa ia kembali ke zaman kolonial,” tulis Robert Wessing dalam “Hosting the Wild Buffaloes: The Keboan Rituals of the Using of East Java, Indonesia, NSC Working Paper  No. 22, Mei 2016. Menurut tradisi lisan, ritual keboan berawal dari hama penyakit yang menyerang lahan pertanian penduduk. Buyut Wongso Kenongo, pendiri cikal-bakal desa, bersemedi dan mendapat petunjuk agar anaknya bersemedi pula. Petunjuk itu pun dijalankan kedua putra Buyut Wongso. Ada beberapa versi penyebutan nama kedua putra Buyut Wongso. Putra pertamanya, yang kemudian jadi leluhur Krajan, disebut Raden Joko Pekik, Suko Pekik, atau Buyut Pekik. Sementara putra kedua, leluhur Sukodono, disebut dengan nama Raden Pringgo, Rangga, Buyut Wadung, atau Buyut Turi. Terlepas dari perbedaan itu, kedua putra Buyut Wongso bersemedi minta petunjuk. Terjadilah hal yang aneh. Mereka mendadak berperilaku seperti kerbau. Mereka berguling-guling di persawahan. Setelah itu hama penyakit menghilang. “Kejadian yang dilakukan oleh kedua anak Buyut Wongso Kenongo kemudian ditiru dan dilanjutkan oleh masyarakat setempat yang selanjutnya disebut dengan ritual adat keboan” tulis Salamun dkk dalam Komunitas Adat Using Desa Aliyan Rogojampi Banyuwangi Jawa Timur: Kajian Ritual Keboan . Menariknya, di Desa Aliyan terdapat dua dusun yang mempertahankan tradisi ini, yakni Krajan dan Sukodono. Secara terpisah kedua dusun ini menjalankan ritual yang sama dan digelar di hari yang sama pula. Hal ini tak lepas dari konflik di antara keturunan Buyut Wongso Kenongo. Karena sama-sama cakap, Buyut Wongso Kenongo sulit memutuskan siapa dari kedua putranya yang akan menggantikannya sebagai pemimpin desa. Bahkan dalam suatu “pertarungan” pun tak ada yang menang. Maka, dia memutuskan untuk memisahkan keduanya: putra pertama tetap di Krajan sementara putra kedua pindah ke Sukodono. “Sejak itu ada ketegangan di antara dua dusun ini, dan mereka merayakan ritual keboan secara terpisah,” tulis Robert Wessing. Kendati terpisah, para sesepuh desa berusaha melaksanakan ritual keboan secara bersamaan. Upaya itu terwujud. Kendati ritualnya sama dan digelar pada hari yang sama, waktu pelaksanaan dan jalur arak-arakannya berbeda. Arak-arakan “manusia kerbau” terbagi menjadi dua arah: barat dan timur. Barat berasal dari Dusun Sukodono, Kedawung, dan Damrejo. Sedangkan timur dari Dusun Krajan, Cempokosari, dan Timurejo. Kedua rombongan tak boleh berpapasan karena roh leluhur yang merasuki tubuh bisa saling serang. Setelah diberi doa di Balai Desa Aliyan, “keboan” dari Krajan bergerak ke arah Krajan, Timurjo, dan Cempokosari, dan kemudian mampir ke makam leluhur. Sementara “keboan” dari Sukodono bergerak ke Kedawung dan Sukodono, dan selanjutnya mampir ke makam leluhur. Tradisi Keboan Aliyan di Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, pada 8 September 2019. (Dok. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi). Dewi Sri Turun Pelaksanaan ritual Keboan Aliyan melibatkan partisipasi penduduk desa. Sehari sebelum ritual adat keboan, masyarakat bergotong-royong untuk mempersiapkan segala kebutuhan ritual. Umbul-umbul (bendera berwarna-warni) dipasang di sepanjang jalan desa. Gapura dari bambu didirikan di pintu-pintu jalan masuk desa. Gapura dihiasi dedaunan dan janur dan berbagai macam hasil bumi sebagai perlambang kesuburan dan kesejahteraan. Keesokan harinya, ritual keboan diawali dengan selamatan di empat penjuru desa ( ider bumi ). Usai selamatan, dimulailah arak-arakan “manusia kerbau” keliling desa. Saat itulah mereka kesurupan dan bertingkah layaknya kerbau. Mereka membantu petani membajak, mengairi, hingga menabur benih padi. Seorang perempuan cantik, perwujudan Dewi Sri, lalu menebarkan benih padi ( ngurit ). Para “keboan” berguling-guling di atas benih padi tersebut. Masyarakat ikut berebut untuk mendapatkan benih padi, yang dipercaya memiliki daya magis. Benih padi itu diyakini bisa mempengaruhi kesuburan dan keberhasilan panen serta terhindar dari hama maupun bencana lainnya. “Ritual ngurit disebut sebagai puncak acara, karena dalam ritual ngurit mengekspresikan tujuan dari upacara keboan, yakni Dewi Sri turun dari tandu memberikan benih padi (simbol kemakmuran) kepada pawang untuk disebarkan. Benih padi tersebut sebagai bekal para petani mendapatkan panen yang melimpah,” tulis Salamun dkk. Ritual keboan sempat mati suri pada 1990 hingga 1998. Kini, ritual ini menjadi salah satu atraksi paling ditunggu dalam Festival Banyuwangi. “Tradisi-tradisi ini menjadi identitas dan ciri khas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan daerah lainnya. Otensitas inilah yang terus kami dorong dan kembangkan menjadi atraksi daerah yang menarik wisatawan,” ujar Bupati Anas. Selain di Desa Aliyan, tradisi serupa dilestarikan di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dengan nama Kebo-Keboan. Tapi untuk tahun 2020, hanya Keboan Aliyan yang masuk dalam Banyuwangi Festval dan rencananya ritual itu akan digelar pada 6 September 2020.*

  • Kisah Tentara Jadi Diplomat

    LETNAN Kolonel Soegih Arto ingin sekali menjadi diplomat. Menurut kabar yang dia dengar dari handai taulan, kerja sebagai abdi negara di luar negeri itu enak. Gaji cukup untuk hidup dan kalau pandai mengatur keuangan dapat ditabung sebagai bekal pulang ke Indonesia. Soegih Arto pun pernah kesengsem melihat Susanto Tirtoprodjo, duta besar Republik Indonesia untuk Belanda yang selalu tampil berpakain rapi dan naik turun mobil kemana-mana. Masa magang sebagai diplomat mungkin sudah dijalani Soegih Arto sewaktu menjabat Komandan Komando Militer Kota Besar di Medan tahun 1956. Meski sebentar, setidaknya Soegih Arto sudah memiliki kontak dengan konsul-konsul dari India, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Inggris. Soegih Arto dan istri kerap diundang dalam hajatan ulang tahun negara-negara tersebut. Dia bangga benar ketika diajak ikutan toast gelas sebagai tanda selamatan. Serasa jadi orang penting, katanya. Dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Purn.) Soegih Arto, ada kisah lucu kala dirinya bersua dengan konsul Tiongkok yang hanya mau berbicara dalam bahasa Tionghoa. Sementara Soegih Arto mempergunakan bahasa Indonesia. Perkara beda bahasa ini bikin pekerjaan penerjemah jadi semakin rumit. Kalau si konsul berlelucon, dia sudah ketawa duluan baru Soegih Arto menyusul setelah diterjemahkan. Sebaliknya, giliran Soegih Arto yang menceritakan lelucon, maka dia tertawa lebih dulu, lalu sang konsul ikutan terpingkal setelah penerjemah menceritakan ulang dalam bahasa Tionghoa. Akhirnya, mereka pun tertawa lagi bersama-sama. Makan waktu tapi kocak.

  • Pertemuan dr. Soeharto dan Abdurachim

    PADA suatu malam di tahun 1937, dr. R. Soeharto yang membuka praktik di Jalan Kramat 128 Jakarta Pusat, dipanggil seorang ibu yang tinggal di Jalan Kesehatan, Jakarta. Ia meminta tolong karena suaminya mengancam akan mencelakai para penghuni jika tidak meninggalkan rumah. Soeharto memeriksanya dengan susah payah, dibantu orang-orang yang memegangnya. Tak ada kelainan baik fisik maupun tanda kena malaria yang dapat menyebabkan penderita mengamuk. Soeharto pun menyimpulkan orang itu kesurupan.

  • Saat Hatta dan Kawan-kawan Dikencingi Sukarno

    BELUM lagi ketegangan akibat perdebatannya dengan golongan muda mereda, Sukarno dikagetkan oleh panggilan rahasia dari Jenderal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Terauchi meminta Sukarno, Moh. Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat datang ke Dalat, Vietnam menghadap kepadanya. “Aku gugup. Aku merasakan sesuatu yang penting yang akan terjadi. Tapi apa?” kata Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Meski tak satupun dari pimpinan bangsa Indonesia tersebut tahu tujuan pemanggilan oleh Terauchi itu, toh mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang. Penerbangan sengaja dilakukan pada malam buta karena misi tersebut amat dirahasiakan supaya tak tercium Sekutu.

  • Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik

    GUNA mencegah penularan virus corona dari daerah zona merah ke berbagai wilayah lainnya, pada Selasa, 21 April 2020 Presiden Joko Widodo resmi melarang masyarakat mudik Lebaran. Keputusan ini menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, mengingat mudik adalah salah satu tradisi terbesar umat Islam di Indonesia. Pada saat yang sama mencegah penularan virus juga penting. Pendeknya, ‘perang’ melawan virus menyebabkan terhentinya arus keinginan untuk mudik. Menilik sejarah Indonesia, sebenarnya umat Islam Indonesia tidaklah selalu bisa mudik ke kampung halamannya. Salah satunya pada masa awal pascakemerdekaan Indonesia, saat muslim Indonesia merayakan Idul Fitri yang jatuh pada Rabu, 28 Agustus 1946. Waktu itu mudik sudah jadi tradisi walau belum segencar dekade 1970-an, saat urbanisasi besar-besaran mulai terjadi di Indonesia. Pada 1946 itu, beberapa kota di Indonesia telah cukup besar dan menarik banyak orang, terutama pelajar, pedagang, dan pencari kerja dari luar kota bahkan luar pulau Jawa.

  • Demam Drama Korea Lintas Zaman

    MIMPI apa Han So-hee sampai harus jadi sasaran luapan kegeraman warganet Indonesia sejak akhir April lalu? Aktris jelita pemeran Yeo Da-kyung di drakor (drama Korea) bertajuk The World of the Married itu dicecar dan dimaki sebagai pelakor alias perebut laki orang. Untung rumahnya di Seoul, Korea Selatan, sekira 5.200 kilometer dari Jakarta jaraknya. Bila ia tinggal di Jakarta, bisa jadi rumahnya disatroni warganet, tak peduli sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak dan peduli setan tidak kenal juga. Maka jadilah akun Instagram -nya yang jadi sasaran kemarahan. Menukil Kumparan , 26 April 2020, akun pribadinya @xeesoxee disesaki makian dan hujatan. Kata “pelakor” pun sampai viral di Negeri Ginseng, merujuk pada perannya di drakor itu yang sudah sangat menempel pada citranya. Baca juga: Banjiha , Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite “Di Indonesia wanita yang ketahuan selingkuh dengan suami orang lain tidak dapat diterima masyarakat karena mayoritas warganya Muslim. Tapi bagaimanapun sepertinya warganet Indonesia tidak bisa membedakan mana drama dan kenyataan. Mereka mengungkapkan kemarahan pada Han So-hee,” tulis seorang blogger Korsel yang tak disebutkan namanya di laman cafe.naver.com yang dikutip Kumparan. Si cantik Han So-hee yang jadi sasaran hujatan netizen Indonesia. ( jtbc.com ). Toh, So-hee tak paham hujatan yang memakai bahasa Indonesia itu. Lagipula, peran pelakor bukan hanya dimainkan oleh So-hee dan tentunya bukan jadi bumbu cerita milik The World of the Married semata. Cruel Temptation (2008), Pink Lipstick (2010), Woman of Dignity (2017), The Last Empress (2018), 9.9 Billion Woman (2019), hingga V.I.P (2020) juga menampilkan peran serupa. Hanya saja, drakor-drakor lain itu tak se-viral The World of the Married yang tayang dalam 16 episode di saluran JTBC . Drakor garapan sineas Mo Wan-il yang me- remake drama seri BBC , Doctor Foster, itu selain viral jalan ceritanya juga mencetak rekor rating tertinggi dalam sejarah drakor. Di dalam negeri saja, ia mencetak 24,3 persen, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Sky Castle (2018-2019) dengan angka 23,8 persen. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Memang, drakor baru populer di Asia berbarengan dengan fenomena “ Korean Wave ” atau tren gelombang budaya pop Korea pada akhir 1990-an. Arus itu dalam lidah orang Korsel sendiri dikenal dengan hallyun . Ia berkembang dalam dua genre : kontemporer, yang kisahnya tentang asmara; dan sageuk, drama yang mengambil latarbelakang sejarah kuno era kerajaan. “Pada pengujung 1990-an, tak lama setelah tren dan popularitas drama urban Jepang mulai menurun di Asia, pop-culture Korea dalam bentuk drama televisi menikmati pesatnya pelonjakan popularitas. Sebutan hallyun sendiri merupakan sebutan yang lahir dari media-media China,” ungkap Won Kyung-jeon dalam The Korean Wave and Television Drama Exports, 1995-2005 . Sosok Da-kyung yang dimainkan So-hee yang begitu menggigit hingga memviralkan pula kata kata "pelakor" di Korea. ( jtbc.com ). Hal itu jadi komoditas tersendiri bagi pemerintah Korea Selatan, sambung Kyung-jeon. Badan Perdagangan Dunia (WTO) mendata, pada 2007 Korsel sudah menjadi eksportir jasa audiovisual terbesar ke-10 di dunia. Menurut KOCCA (Korea Creative Content Agency), Korsel juga menjadi eksportir program hiburan berseri kedua terbesar di Asia pada 2010, menguntit Hong Kong. Pada 2011, program siaran hiburan dari Korea mencapai angka USD227,8 juta. “Drama Korea sendiri selalu mempertahankan posisi dominan dalam ekspor siaran konten Korea. Proporsi drama secara keseluruhan dari ekspornya terus meningkat dari 64,3 persen pada 2001 menjadi 87,6 persen pada 2010. Banderol drama Korea juga lebih ekspansif ketimbang Hollywood atau produksi-produksi Jepang di pasar Asia sejak pertengahan 2000-an,” imbuh Kyung-jeon. Sejak awal 2000-an hingga sekarang, Korea berjaya dengan drakor selain dengan K-Pop-nya. Kejayaan itu diraih setelah jeda waktu amat panjang sejak drakor pertamakali muncul pada 1920-an. Jaringan Radio hingga Layar Kaca Drakor pertamakali mengudara lewat jaringan radio, seiring berdirinya Kyosong Pangsongguk (kini Korean Broadcasting System) pada 16 Februari 1927. Mulanya, stasiun radio yang didirikan Gubernur Jenderal Korea Jenderal Ugaki Kazushige itu memberi porsi besar pada program musik dan drama radio berbahasa Jepang. Hanya 30 persen yang berbahasa Korea. Baca juga: Kala Budaya K-pop Menggema “Porsi lebih banyak untuk program musik tradisional atau drama yang dikombinasikan musik klasik Barat baru diperbolehkan pada periode 1934-1936. Tapi tetap saja radio difungsikan sebagai publikasi media untuk imperialisme Jepang ketimbang media populer komersil,” tulis Lee Jung-yup dalam “The Birth of Broadcating Media and Popular Music” yang dimuat buku Made in Korea: Studies in Popular Music . “Oleh karenanya beberapa elit budayawan seperti Kim Yong-pal, Yi Ha-yun, Hong Nan-pa, dan Yi Hae-ku berusaha merepresentasikan program-program ‘ke-Korea-an’ dalam program radio. Baik itu musik tradisional maupun serial drama radio,” sambung Jung-yup. Drakor "The World of the Married" yang memecahkan rekor share rating dalam sejarah Korea. ( jtbc.com ). Sayangnya, tiada catatan soal drama bertajuk apa yang pertamakali diudarakan via radio mengingat banyak arsip tertulis hancur akibat perang. Tetapi, sambung Jung-yup, serial drama radio yang tren saat itu adalah drama bertema kriminal atau cerita detektif. Itu dipengaruhi novel-novel detektif dan kriminal asal Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang yang tengah booming. Setelah absen mengudara akibat Perang Dunia II dan disusul Perang Korea (1950-1953), drama radio baru eksis lagi pada 1954 atau setahun setelah gencatan senjata. Sebagaimana diungkapkan Kim Hwan-pyo dalam Korea Through TV Drama , drakor via radio yang paling populer saat itu bertajuk Cheongsilhongsil (1954). Kisahnya berpusar pada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya karena Perang Korea. Baca juga: Di Balik Lagu dan Bendera Pemersatu Korea Drakor tersebut sukses karena kisahnya erat dengan yang dirasakan masyarakat dalam Perang Korea. “Era itu menjadi masa di mana banyak masyarakat Korea yang masih bersedih dan ingin menangis. Drama itu memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menangis dan tertawa sekaligus memberi penontonnya secercah mimpi dan romantisme yang tak bisa mereka temukan dalam kenyataan hidup saat itu,” terang Hwan-pyo. Drakor Korea bergenre sageuk di era 1960-an. Pada 1956, drakor mulai beralih ke layar kaca lewat Stasiun TV HLKZ-TV yang menayangkan Cheongugui mun (Gerbang Nirwana). Drakor itu berbentuk film televisi berdurasi 15 menit. Sementara, drama berbentuk serial pertama baru hadir pada 1962, bertajuk Gukto manri . Drakor berlatarbelakang era Kerajaan Goryeo itu ditayangkan Tongyang Broadcasting ( TBC ). Pada 1970-an hingga 1980-an, drakor ber-genre kontemporer, di antaranya Saeeomma atau Ibu Tiri (1972-1973) dan Saranggwa yamang (Cinta dan Ambisi, 1987), mulai mendominasi. Jam tayangnya pun dimulai pada pagi sebagai strategi untuk menggaet pasar “emak-emak” yang tidak bekerja. Kisah-kisahnya pun disajikan seerat mungkin dengan kondisi para ibu rumah tangga di Korea. Baca juga: Korea Bersatu di Arena “Ibu-ibu rumah tangga mulai jadi plot utama drama-drama TV. Karena ibu rumah tangga cenderung menghadapi stres yang lebih dalam keseharian mereka. Dan karena banyak dari mereka tak punya sasaran pelampiasan stres, mereka pasti mengalihkan emosi mereka ke hiburan televisi, khususnya opera sabun (drama serial),” tambah Hwan-pyo. Drakor kondang "Winter Sonata" yang menggebrak pasar Asia pada awal 2000an. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, drakor akhirnya menaklukkan Asia pada awal 2000-an. Pendobraknya adalah drakor Winter Sonata (2002). Melodrama garapan sineas Yeon Seok-ho yang rilis dalam 20 episode itu meniti suksesnya dengan menembus pasar di Jepang. “Boleh dikatakan Winter Sonata yang pertama mengikuti formula dasar untuk kesuksesan di televisi: pemeran-pemeran rupawan, keindahan alam, dan plot manis tentang cinta, kematian, dan harapan akan hubungan romantis, semua itu disempurnakan dengan soundtrack musik yang melankolis,” ungkap Korean Culture and Information Service South Korea dalam K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal . Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in dalam Perdamaian Korea “Semuanya begitu ‘ ngeklik ’ hingga Winter Sonata menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Di episode terakhir saja, NHK yang menayangkannya mendapat share rating 20 persen, melebihi acara lain di waktu prime time yang rata-rata 10 persen rating -nya. Di akhir 2004, diperkirakan hampir 70 persen warga Jepang sudah menonton setidaknya satu episode,” lanjutnya. Saking bekennya, Winter Sonata sampai dibuat versi anime -nya dalam bentuk delapan jilid komik pada 2004-2005 dan teater musikal di Tokyo, Osaka, dan Sapporo pada 2006. Formula itulah yang kemudian dicontek drakor-drakor lainnya, termasuk The World of the Married yang bikin geram warganet Indonesia. Yang sabar ya, So-hee!

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page