top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Aksi Andjing NICA di Medan Laga

    KASIM masih berusia 16 tahun ketika 10 pemuda Maluku berseragam loreng mengepungnya di bilangan Matraman, Jakarta pada awal 1946. Tak ada jalan lagi untuk berlari, kecuali dia harus pasrah saja saat hantaman bogem mentah melayang ke tubuhnya. Sekujur tubuh Kasim lebam, pakaian menjadi compang-camping karena salah seorang dari prajurit KNIL itu merobek lencana merah putih di dadanya. “Dia lalu menyuruh saya menelan lencana yang terbuat dari kain itu,” kenang mantan pejuang kemerdekaan asal Jakarta tersebut. Sejarah mencatat, para prajurit KNIL yang mengeroyok Kasim adalah bagian dari Batalyon X. Itu terkonfirmasi dari keterangan Robert B. Cribb dalam Gangster and Revolutionaries, The Jakarta Peoples Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949. “Mereka dengan gembira memukul atau membunuh setiap rakyat Indonesia yang menunjukan atribut Republik di tempat-tempat umum,”ungkap Cribb. Kebengisan Batalyon X menuai kebencian yang tak terhingga dari orang-orang Indonesia. Mereka kemudian menyebut para bekas kaum internir Jepang tersebut sebagai “andjing” NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) kreasi H.J. van Mook. Alih-alih merasa terasa terhina, ejekan itu justru dijadikan kebanggaan. “Dalam setiap pertempuran, para ekstrimis (kaum Republiken) meneriaki kami sebagai “andjing NICA”, yang kemudian secara resmi kami jadikan nama batalyon,” tulis S.A. Lapre dalam Het Andjing NICA Batalijon (KNIL) in Nederlands-Indie, 1945-1950. Batalyon X Andjing NICA kemudian dimasukan ke Brigade V Divisi B. Kendati masih menggunakan nama “Andjing NICA”, namun nomor batalyon berubah, dari X menjadi V. Selain orang-orang Maluku, Andjing NICA pun kemudian diperkuat oleh orang Manado, Sangir, Jawa, Sunda, Timor, Indo dan Belanda. Sebagai komandan batalyon ditunjuk seorang perwira KNIL eks penghuni kamp internir. Namanya Letnan Kolonel Adrianus van Zanten. Pertengahan 1946, Andjing NICA ditugaskan ke front Bandung. Begitu tiba di ibu kota Jawa Barat itu, pada Juli 1946 mereka langsung terlibat pertempuran hebat dengan pasukan lasykar Hizbullah.  Dalam bentrok yang terjadi di wilayah Buahbatu tersebut, Andjing NICA sukses membantai puluhan pejuang. “Persenjataan musuh jauh lebih lengkap dan modern. Sedangkan pihak Hizbullah hanya bermodalkan beberapa senapan, pistol, golok serta bambu runcing,” ujar Kolonel (Purn) R.J. Rusady W dalam otobiografinya, Tiada Berita dari Bandung Timur 1945-1947. Selanjutnya aksi mereka semakin menggila. Dalam pertempuran di Cipamokolan, mereka berhasil membunuh 21 prajurit dari Batalyon Kohar (TRI). Jumlah korban yang sama juga dialami oleh Pasukan Istimewa dan pasukan KRIS (Kebaktian Rakjat Indonesia Sulawesi) saat berhadapan dengan Andjing NICA di Pangaritan dan Gedebage.   Karena strategi utama militer Belanda adalah merintis jalan ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, maka Andjing NICA yang dianggap lebih mengenal wilayah itu kemudian dikirimkan ke front Bandung Timur. Di sana mereka harus berhadapan dengan lawan yang sepadan: Batalyon Pelopor. Dikisahkan oleh S.A. Lapre, saat berbasis di wilayah Ujungberung (front Bandung Timur), Andjing NICA pada suatu malam diteror dengan tembakan mortier kaliber 8 dan granat. Pabrik beras yang menjadi pos mereka seolah diguncang gempa sekaligus diserang peluru musuh yang bagaikan ribuan tawon mengamuk. “Di dalam bangunan yang besar itu tidak pernah saya merasa begitu ketakutan seperti pada malam itu ketika granat-granat mortir berjatuhan di sekeliling kami,” kenang Letnan Satu H.R. Toorop, Komandan Kompi Staf Batalyon Infanteri V Andjing NICA. Horor pertempuran juga dikisahkan oleh anggota Andjing NICA yang lain bernama Kopral Butselaar. Ketika mereka sedang bergerak ke arah pegunungan di utara Ujungberung, mereka bertemu dengan pasukan musuh kurang lebih berjarak 100 meter. Alih-alih bersiaga, seorang sersan bernama Keereweer malah berlaku sombong dengan berteriak-teriak  menantang gerilyawan-gerilyawan TRI untuk menghadapinya. “Teriakan Sersan Keereweer malah disambut dengan semburan peluru-peluru senapan mesin Hotskis, yang membuat kami ketakutan hingga merasa ingin berak di celana,” kenang Butselaar. Karena tembakan senapan mesin musuh tak mau berhenti, lewat radio mereka lantas meminta bantuan tembakan mortir dari pasukan Belanda yang sedang berada di Gunung Bogkor. Entah karena salah menyebut titik koordinat atau pelayan mortir kurang ahli, alih-alih membungkam senapan mesin musuh, peluru-peluru mortir justru jatuh di wilayah pertahanan para prajurit Andjing NICA. “Bayangkan dari depan kami dihantam senapan mesin Hotskis sedang dari belakang kami dijatuhi peluru mortir dari kawan kami sendiri,” ujar Butselaar. Panik melanda peleton Andjing NICA itu. Komandan peleton berteriak-teriak histeris seperti orang gila, memerintahkan agar pelayan radio menyuruh sang penembak mortir di Gunung Bongkor menghentikan tembakannya. Suatu permintaan yang sia-sia, karena sang pelayan radio sudah tewas tertembus peluru, menyusul kemudian Sersan Keereweer. Pertempuran pun berakhir dengan nyaris habisnya seluruh anggota peleton tersebut. Bandung Timur memang mimpi buruk untuk Andjing NICA. Hampir setiap malam, mereka harus bertahan dalam ketakutan di pos-pos. Begitu gentarnya, hingga peluru cahaya hampir tiap 5 menit ditembakan ke udara. Kepanikan dan putus asa melanda. Moril pasukan kerap turun ke titk nadir. Puncaknya terjadi, saat markas pusat mendatangkan penyanyi Tom van Der Stap dan kelompok musik De Witte Raven ke markas mereka di Arjasari, seorang anggota Andjing NICA malah lebih memilih menghabisi nyawanya sendiri dengan satu tembakan ke kepala daripada menikmati hiburan Tom dan kawan-kawan.

  • Beda Cara PSI dan Masjumi

    MASYUMI (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan PSI (Partai Sosialis Indonesia) serupa tapi tidak sama. Keduanya adalah partai yang berada di belakang Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) melawan pemerintah pusat. Sama-sama menentang rezim Sukarno dan anti-PKI. Tetapi dalam menjalankan oposisinya, dua partai ini punya cara yang berbeda. Masyumi berjuang di dalam negeri yang pusatnya di Sumatera Barat sedangkan pentolan PSI bergerak di mancanegara. Sejak PRRI diproklamasikan 15 Februari 1958, PSI dan Masyumi getol melancarkan subversi. Namun menurut Ganis Harsono, saat itu menjabat juru bicara Departemen Luar Negeri, persekutuan PSI-Masjumi sarat keganjilan. Dalam gerakan perlawanannya, pembagian tanggung jawab duo partai tersebut berat sebelah. “Masyumi mempertaruhkan segala-galanya, dan telah kehilangan segala-galanya pula di tengah hutan-hutan Sumatera Barat. Sebaliknya, PSI tidak menampilkan seorang pun untuk dilibatkan dalam hutan Sumatera, ataupun dalam hutan Sulawesi Utara, akan tetapi membiarkan dalang-dalangnya tinggal di luar negeri tanpa memberi sokongan yang berarti bagi jalannya pemberontakan,” kata Ganis Harsono dalam memoarnya Cakrawala Politik Era Sukarno. Soal ketimpangan itu, Ganis mendapat bocoran dari Abdullah Nazir, kawan masa kecilnya. Nazir tahu banyak soal Masjumi karena bekerja sebagai wartawan koran Masumi, harian Abadi . Dia menggambarkan ironi perjuangan yang dilakoni PSI dan Masyumi dengan kata “aneh dan menggelikan”. “Kalau pemimpin-pemimpin Masyumi seperti Mohammad Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara tekun sembahyang lima waktu sehari semalam, mohon doa kepada Tuhan agar membantu perjuangan mereka di tengah-tengah hutan di sekitar Bukittinggi,” ujar Nazir. Sementara itu, “Pemimpin-pempin PSI enak-enak bersantai di meja judi di Jenewa, Roma, Monte Carlo, dan Beirut.” Salah seorang tokoh PSI yang wara-wiri di luar negeri adalah Sumitro Djojohadikusumo. Selama sepuluh tahun, Sumitro hidup berpindah dari satu negara ke negara lain. Dia bertualang mulai dari Singapura, Hongkong, Malaya, Swiss, Inggris, hingga Thailand. Meski terbilang sebagai buronan negara, Sumitro memiliki banyak pendukung yang sehaluan dengannya. Dalam biografinya, Sumitro disebutkan punya koneksi di berbagai negara. Dia rapat dengan kalangan intelijen Malaysia dan Inggris yang ikut memusuhi Sukarno. Di Jepang, Sumitro juga menjalin hubungan dengan aktivis mahasiswa Indonesia yang antikomunis. Kawan-kawan yang membantunya tersebar pula di Amerika, Belanda, Prancis, Polandia, hingga Polandia. Yang unik, mereka tidak pernah berkumpul lebih dari empat orang.      “Bagaimana Sumitro bisa memiliki jaringan begitu luas agak sukar dijelaskan prosesnya satu demi satu. Pada umumnya hanya dapat dikatakan bahwa hubungan bermula dari rasa simpati terhadap perjuangan Sumitro,” tulis Aristides Katoppo, dkk dalam Jejak Perlawanan Begawan Pejuang: Sumitro Djojohadikusumo. Selain Sumitro, orang PSI lainnya yang menonjol di luar negeri adalah Sutan Mohammad Rasjid. Berbeda dengan Sumitro yang banyak menghasilkan bantuan materi. Perjuangan Rasjid lebih banyak dalam bidang non-materi. Rasjid merupakan duta besar berkuasa penuh PRRI di kawasan Eropa. Secara gigih, dia menyebarluaskan dan memberikan pemahaman kepada dunia internasional tentang gerakan PRRI. Menurut Gusti Asnan, sejarawan Universitas Andalas, keberhasilan PRRI mendulang bantuan asing tidak lepas dari lobi-lobi Sumitro dan Rasjid.  Mereka berperan dalam menyukseskan pertemuan antara pihak PRRI dengan petinggi negara asing. Diantaranya seperti menteri luar negeri Belanda, beberapa duta besar negara Barat hingga anggota kongres dan senat Amerika Serikat. “Dalam hal ini, nama Sumitro Djojohadikusumo dan Sutan Mohammad Rasjid tidak bisa diabaikan,” tulis Gusti Asnan dalam Memikir Ulang Regionalisme: Sumatera Barat Tahun 1950-an . Kendati demikian, geliat orang PSI di luar negeri tidak mampu menyelamatkan PRRI. Pada 1961, Pasukan PRRI-Permesta menyerah kalah terhadap TNI yang dipimpin Jenderal A.H. Nasution. Riwayat Masjumi dan PSI pun tamat lantaran dibubarkan pemerintah.  Natsir dan Sjafruddin masuk penjara rezim Sukarno. Sementara Sumitro dan Rasjid tetap jadi pelarian di negeri orang sampai era Orde Baru terbit menjelang.

  • Hari Raya Qurban di Kamp Plantungan

    DI Kamp Plantungan, para tahanan politik (tapol) bangun lebih dini. Hari itu merupakan hari raya Idul Adha ketiga sejak mereka menghuni kamp. Berbeda dari dua hari raya sebelumnya di mana para tapol sholat ied hanya dengan sesama tapol dan diimami rohaniawan Islam (rohis), Idul Adha kali ini mereka diizinkan sholat ied berbaur dengan masyarakat Desa Sangubanyu yang terletak di atas kamp. Setelah selesai mempersiapkan diri, satu per satu tapol bergegas menuju lapangan berumput sekitar pohon raksasa yang konon telah ditanam ketika Ratu Yuliana lahir pada 1909. Di sanalah sholat ied biasa dihelat. Selesai salat, mereka saling bersalaman kemudian siap-siap menyelenggarakan qurban.  Penyembelihan dilakukan dekat dapur, belakang kamar Blok C. Orang-orang berkerumun, berusaha membantu dan menyaksikan pesta daging setahun sekali itu. Hewan qurban berasal dari empat orang rohis yang masing-masing memberi seekor kambing. Para tapol juga ikut memberi dua-tiga ekor hewan meski berada di tengah penderitaan dan keterbatasan. Kambing atau domba qurban itu berasal dari Unit Produksi Peternakan (UPP) kamp. UPP punya setidaknya 50 ekor kambing atau domba. Hewan ternak lain yang dikembangbiakkan antara lain 200 ekor ayam petelur dan 100 bebek. Letak kandang-kandang ternak itu tak jauh dari dapur. Beberapa tapol ditempatkan pada unit ini dengan tugas membersihkan kandang, memberi makan, dan memandikan ternak.   Menurut Amurwani Dwi Lestariningsih dalam Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, UPP dibentuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari para tapol. Telur-telur ayam biasanya dijual, uangnya digunakan untuk membeli keperluan seperti sabun. Sementara, telur bebek lebih sering digunakan untuk menambah lauk-pauk di kamp. Ayam petelur dan bebek tua kadang disembelih untuk menambah variasi lauk. Pada hari besar seperti Idul Adha, kambing hasil ternak itu disembelih. Mia Bustam, istri pelukis Sudjojono, memilih menyingkir dari kamarnya di Blok C ke aula pada saat qurban dilaksanakan. “Tak tega aku mendengar suara penyembelihan itu,” kata Mia dalam memoarnya Dari Kamp ke Kamp. Ia bahkan tak mengambil porsi daging kambingnya dan memberikannya kepada siapapun yang mau. Berbeda dari Mia yang menyingkir, Mbah Kung (kakek) tanpa rasa takut ikut menjadi jagal bersama para petugas kamp. Mbah Kung sebenarnya tapol perempuan bernama Sumarni, namun karena penampilannya yang wagu , ia sering disangka lelaki. Dadanya rata, bibirnya biru akibat sering merokok, dan suaranya parau rendah seperti lelaki. Orang-orang di kamp memanggilnya Mbah Kung. Jauh sebelum masuk kamp, Mbah Kung menikah dengan orang muslim. Ia sendiri orang Kristen. Pernikahan mereka tidak direstui orang tua si lelaki yang muslim fanatik. Sakit hati dengan penolakan itu, Marni muda tak mau lagi berurusan dengan keluarga dan mantan suaminya. Ia memotong rambutnya jadi cepak lalu ikut pasukan gerilya. Perawakannya yang wagu itu membuat Marni dengan mudah mengaku sebagai lelaki. Ketika ketahuan, Marni tetap diterima oleh pasukan. Saat perjuangan itulah Marni berkawan dengan Prayogo yang kemudian jadi komandan Kamp Plantungan. Lantaran teman seperjuangan dan tak punya rasa takut, Marni tak segan pada Prayogo bahkan berbicara dengan bahasa Jawa ngoko . Rasa tak gentar itu pula yang Marni tunjukkan kala menyembelih hewan kurban. Ia melakukannya dengan cekatan, mulai dari menyembelih, menguliti, hingga memotong-motong daging. Hewan qurban yang sudah dipotong-potong itu kemudian dibagikan kepada warga desa sekitar kamp. Sementara, jatah daging para penghuni biasanya dimasak bersama-sama untuk lauk hari itu, menjadi gulai atau rendang. Suatu kali, Idul Adha di kamp hampir bersamaan dengan Natal, hanya selisih dua hari. Salah seorang rohis, Machally, lalu menginisiasi agar dekorasi Natal juga diisi dengan ornamen Idul Adha. Maka, Mia pun membuat gambar Nabi Ibrahim naik bukit bersama putranya Ismail yang rela dikorbankan demi perintah Tuhan. Ketika hiasan itu dipajang, salah seorang tapol Protestan bertanya pada Mia. “Bu Mia, bukankah yang dikorbankan itu Ishak?” “Halah, biarlah tiap agama menganut kepercayaannya sendiri-sendiri,” kata Mia. Machally pun senang melihatnya. Terlebih hiasan itu ditaruh pada panel di atas panggung sehingga terlihat sentral. Pada perayaan itu, baik tapol Kristen maupun Muslim bersuka-cita bersama.

  • Jawa Mencengkeram Kalimantan

    Bakulapura, demikian nama daerah itu pada masa Singhasari. Kelak, pada masa Majapahit dan seterusnya, wilayah itu masih punya hubungan dengan Jawa. Namanya bukan lagi Bakulapura, melainkan Tanjungpura. “Bakulapura merupakan embrio dari Tanjungpura,” kata Dwi Cahyono, pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang. Di antara raja-raja Singhasari, Kertanagara yang pertama memiliki pandangan politik ke luar Jawa. Berdasarkan laporan Prapanca dalam Kakawin Negarakrtagama , Bakulapura menjadi salah satu nagari yang ditundukkan sang prabu . Pada era Majapahit, Mahapatih Gajah Mada mengungkit kembali keberadaan wilayah ini. Tanjungpura disebut sebagai bagian dari cita-cita dalam sumpahnya. “ Sesudah kalah Nusantara, saya menikmati istirahat, sesudah kalah daerah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, waktu itulah saya istirahat,” serunya di hadapan pejabat keraton Majapahit. Arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Majapahit menyebut letak Tanjungpura sebenarnya belum bisa dipastikan. Namun, para sarjana selalu dihubungkan dengan daerah di Kalimantan. Dalam Nagarakrtagama , Tanjungpura nampaknya digunakan untuk menyebut seluruh Pulau Kalimantan sekarang. Pulau itu dikatakan sebagai salah satu wilayah yang tunduk pada kekuasaan Majapahit. Prapanca menulis, negara-negara di Pulau Tanjungnegara: Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga. Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut. Kandandangan, Landa Samadang, dan Tirem tak terlupakan Sedu, Barune, Kalka, Saludung, Solot, dan juga Pasir Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei. Malano tetap yang terpenting di Pulau Tanjungpura. Hubungan Kalimantan dan Jawa mengalami pasang surut sejak pertama kali diincar Kertanagara. Dwi Cahyono mengatakan perpolitikan antara Singhasari dan Tanjungpura ikut bubar dengan berakhirnya Kerajaan Singhasari pada 1292. Karenanya, Wijaya yang menjadi peletak batu pertama Majapahit harus kembali menggandeng daerah itu. Ada sebuah prasasti dari masa cicitnya, Hayam Wuruk, yang mungkin menceritakan prosesnya. Disebutkan di sana kalau Sri Kretarajasa Jayawarddhana Anantawikrama Uttungga memiliki empat permaisuri.  “…empat permaisurinya setara dengan dewi-dewi, yang menjadi prakreti Pulau Bali, Melayu, Madhura, dan Tanjungpura…,” catat prasasti itu. Menurut Dwi, dari prasasti itu tersirat bahwa pada masa pemerintahan Sri Kretarajasa kekuasaan Majapahit meliputi Bali, Melayu, Madhura dan Tanjungpura. Untuk merangkul wilayah itu, menantu Kertanagara ini pun kemungkinan mengikat perkawinan politik dengan putri dari Tanjungpura. “Dengan demikian, semenjak awal Majapahit diperkirakan telah lahir generasi buah perkawinan antara penguasa Majapahit dan putri Tanjungpura,” kata Dwi. Itu bisa dimaklumi melihat nama Tanjungpura disebutkan pula dalam Prasasti Waringinpitu dari masa Dyah Krtawijaya tahun 1447. Tanjungpura adalah satu dari 14 nagari yang berada di bawah Majapahit. Hasan Djafar menjelaskan, 14 nagari yang disebutkan dalam prasasti itu berada di bawah kendali sejumlah penguasa. Secara hierarki, mereka ada di bawah raja Majapahit. Adapun yang berkuasa di sana adalah para kerabat raja yang punya jabatan Paduka Bhattara. “Mereka berkedudukan sebagai Paduka Bhattara. Majapahit dari struktur perwilayahannya merupakan kerajaan yang terdiri dari kesatuan negara daerah,” jelas Hasan. Menurut Hasan, berdasarkan Prasasti Waringinpitu, raja di daerah Tanjungpura adalah Dyah Suragharini. Sementara dalam Serat Pararaton dijelaskan bahwa Bhre Tanjungpura adalah anak Bhre Tumapel Dyah Krtawijaya. Tanjungpura dalam Sumber Tiongkok Wilayah yang berkaitan dengan Tanjungpura juga diberitakan dalam sumber Tiongkok, seperti  Sejarah Dinasti Ming. Wilayah itu disebut Bu-ni, yang diartikan oleh W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa , sebagai Pantai Barat Kalimantan. Dalam catatan resmi kekaisaran Tiongkok itu dikisahkan bahwa kaisar mengeluarkan pengumuman pengangkatan Hiawang sebagai Raja Pu-ni. Pengangkatan ini untuk menggantikan ayahnya. Konon dulu, kerajaannya setiap tahun mempersembahkan upeti sebanyak 40 kati kapur barus kepada raja Jawa. Mereka pun memohon agar kaisar bersedia mengeluarkan pengumuman tentang pembatalan upeti itu, agar upeti itu dapat dikirim ke istana kaisar. Keterangan itu mirip dengan pernyataan dalam  Kidung Harsawijaya bahwaTanjungpura ada di antara sebelas negeri yang tunduk di bawah Majapahit. “…Sangat luas, dan juga takluk, berbakti, terutama Bali, Tatar, Tumasik, Sampi, Koci, dan Gurun, Wandan, Tanjung-Pura, apalagi Dompo, Palembang, Makassar, datang bersama-sama dengan pesembahan segala isi negeri,” sebut naskah itu. Menurut Slamet Muljana pengertian daerah pada abad ke-14 berbeda dengan pengertian koloni pada masa modern. Persembahan upeti yang tak banyak nilainya dari daerah tertentu kepada Majapahit sudah dapat dianggap sebagai bukti pengakuan kekuasaan Majapahit. “Sudah dianggap bukti pengakuan kekuasaan Majapahit atas daerah yang bersangkutan dan karenanya daerah itu dianggap sebagai daerah bawahan,” jelas Muljana. Namun, menurut Hasan Djafar, sebagaimana disebutkan dalam Nagarakrtagama , hubungan yang terjalin dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara merupakan kerja sama regional yang saling menguntungkan. " Nagarakrtagama menyebut daerah di Nusantara itu merupakan daerah yang dilindungi oleh Sri Maharaja Majapahit,” tulis Hasan. Kendati begitu, pada masa yang lebih modern lewat catatan Tome Pires, Suma Oriental, diketahui bahwa Tanjungpura beberapa kali diserang oleh penguasa Jawa. Salah satunya adalah Pati Unus, yang dicatatnya sebagai penguasa Jawa dari Jepara.

  • Kala Sarjana Eropa Ramai-Ramai Teliti Jamu

    BANYAKNYA ragam tanaman obat di Nusantara dan kabar kemanjurannya mendorong para sarjana Eropa di Hindia Timur meneliti mereka. Ketertarikan kuat para sarjana untuk meneliti juga didorong oleh keadaan akibat bahan obat yang dikirim dari Belanda kadaluwarsa lantaran terlalu lama di jalan. Bahan obat itu juga rusak akibat terpapar temperatur ekstrem di kapal. Penelitian tentang tanaman obat lokal sudah dilakukan para ahli bedah dan apoteker militer sejak VOC masih berjaya. Salah satunya oleh Jacobus Bontius, dokter yang merawat JP Coen. VOC sangat mendukung kegiatan penelitian lantaran bisa memangkas biaya pengiriman obat. Lewat Dewan XVII, VOC membiayai The Batavian Society of Arts and Sciences pada 1778 untuk mengurus kebun herbal dan mengadakan seminar tanaman obat (jamu). Semangat menemukan bahan obat di negeri jajahan terus berjalan ketika pemerintah Hindia Belanda menggantikan VOC. Pada 1817, pemerintah mendirikan Kebun Raya Bogor untuk tempat penelitian menemukan tanaman paling menguntungkan ekonomi Belanda sekaligus meneliti khasiat tanaman obat. Sejarawan Liesbeth Hesselink dalam Healers on the Colonial Market menjelaskan, studi tentang obat-obatan lokal menguntungkan Belanda baik secara praktis maupun keilmuan. Perintah kepada petugas kesehatan untuk meneliti terapi tradisional dan kemampuan para dukun pun dikeluarkan lewat pasal 52 Staatsblad Nomor 68 tahun 1827. Setiap unit daerah ditugaskan untuk melakukan obsevasi dan membuat laporan tentang praktik kesehatan penduduk pribumi. Salah satu dokter yang mempelopori penelitian jejamuan di era itu ialah Friedrich August Carl Waitz. Penelitian Waitz tentang khasiat jamu membuktikan daun sirih mengandung agen narkotika dan bermanfaat mengobati batuk menahun. Ia juga menguji keampuhan air rebusan kulit sintok untuk mengobati masalah pencernaan, khususnya usus. Temuan-teman macam itu menjawab keluhan Direktur Dinas Layanan Kesehatan Koloni Geerlof Wassink, yang mengatakan minimnya persediaan obat di negeri jajahan karena sepertiga bahan farmasi yang dikirim dari Belanda tidak berfungsi. Wassink yang juga editor Medical Journal of the Dutch East Indies, jurnal medis tertua di Hindia-Belanda, meneliti tanaman obat Nusantara yang ia terbitkan dalam tiga jilid. Dia rajin mengompori dokter dan ahli botani Belanda untuk meneliti tanaman obat di negeri jajahan. Ketika Wasink meninggal pada 1867, semangat meneliti tanaman obat lokal diteruskan penggantinya, CL Van der Burg. Dalam editorialnya, Van der Burg mengajak para sarjana untuk melakukan pengamatan teliti tentang kemanjuran tanaman obat tropis. Ia juga mengeluarkan karya tulis medis pada 1885, “Materia Indica”, yang jadi seri ketiga buku De Geneesheer in Nederlandsch-Indie (Ahli Kesehatan di Hindia-Belanda). Selain jamu, yang diteliti para sarjana Eropa ialah obat-obatan Tiongkok. Mereka sebetulnya agak kesulitan membedakan tanaman obat Nusantara dengan Tiongkok karena banyak kemiripan. Namun pada 1890, dokter AG Vorderman meneliti metode pengobatan difteri oleh seorang tabib Tiongkok. Tabib itu meniupkan bubuk merah ke tenggorokan pasien. Hasil yang sangat efektif mendorong beberapa dokter Eropa mengadopsi metode penyembuhan itu. Pemilik toko obat Tiongkok yang ditemui Willem Gerbrand Boorsma pada 1913. Sumber: European Physician and Botanists Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies Profesor Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” menyebut, sarjana lain yang aktif meneliti pada akhir abad ke-19 ialah Willem Gerbrand Boorsma. Ketika Boorsma menjadi Direktur Laboratorium Farmakologi di Kebun Raya Bogor pada 1892, penelitian pada jamu giat dilakukan. Boorsma melakukan analisis kimia dan farmakologis untuk menemukan sifat obat yang efektif dari tanaman. Di laboratoriumnya, Boorsma bereksperimen dengan merebus daun, akar, dan rempah lalu mencampurnya dengan asam dan larutan kimia untuk mengidentifikasi kandungan aktif. Terkadang, Boorsma menjajal efek percobaannya pada kelinci atau anjing kecil. Untuk menghimpun informasi tentang penggunaan jamu di Hindia-Belanda, Boorsma membuka korespondensi dengan para pejabat, dokter, dan pemilik perkebunan. Suatu ketika, respondennya mengirim surat terbuka di koran bahwa jamu berkhasiat sedang dikirim ke laboratorium Boorsma untuk dianalisis. Orang-orang Belanda yang membaca koran itu langsung membanjiri Boorsma dengan surat berisi permintaan ramuan sejenis. Padahal, Boorsma belum menerima jamu itu apalagi menelitinya. Hal itu menjadi bukti tingginya animo orang-orang Eropa pada ramuan obat Nusantara.

  • Empat Dibabat Koruptor Jahat

    Butuh nyali tak takut mati dalam menumpas korupsi. Seperti empat penegak hukum ini.

  • Negeri Berlian di Barat Kalimantan

    NAMA Tanjungpura di Kalimantan Barat telah berulang kali disebut dalam beragam tulisan dari masa Hindu Buddha. Bangsa Portugis mencatat namanya sebagai penghasil berlian terbaik. Tanjungpura sebagai sebuah nagari, pernah menjadi wilayah di bawah Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Dwi Cahyano, pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, menjelaskan pada masa Singhasari, ia dikenal dengan nama Bakulapura. Pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, Bakulapura menjadi salah satu nagari yang mengakui kekuasaannya. “Dalam Kakawin Nagarakretagama , nagari Malayu, Pahang, Gurun, Bakulapura, Sunda, dan Madhura, seluruhnya tunduk di bawah kekuasaan Kertanegara,” kata Dwi. Nama Tanjungpura kemudian juga muncul dalam Serat Pararaton dan Sumpah Palapa yang digaungkan oleh Gajah Mada. Pun dalam Prasasti Waringinpitu dari tahun 1447. Tertulis di sana pada masa Dyah Kertawijaya di Majapahit setidaknya ada 14 negara, termasuk Tanjungpura. Pada abad ke-16, rupanya Tanjungpura kembali menjadi wilayah kekuasaan Jawa. Penjelajah dari Portugis, Tome Pires, menulis dalam Suma Oriental , bahwa Tanjungpura pernah ditaklukkan Demak. Wilayah itu dikuasai seorang Pate. Tome Pires bercerita, waktu itu penguasanya Pate Rodim (Raden Patah). Dia sekaligus penguasa tertinggi di Jawa. Karena sangat berkuasa, dia mampu menaklukkan seluruh wilayah, Palembang, Jambi, Kepulauan Monomby, dan banyak pulau lainnya. Mula-mula penaklukkan ini dilakukan dengan cara melawan Tanjungpura, selanjutnya semua wilayah itu tunduk padanya. Pate Unus juga dikisahkan Tome Pires pernah menguasai Tanjungpura. Penguasa Jepara itu disebut sebagai saudara tiri Pate Rodim. Kendati begitu, menurut arkeolog Hasan Djafar dalam Masa Akhir Mahapahit, lokasi Tanjungpura yang disebutkan dalam sumber-sumber era Singhasari dan Majapahit sebetulnya belum bisa dipastikan. “Namun, semua daerah itu oleh para sarjana dihubungkan dengan daerah di Kalimantan,” tulisnya. Tome Pires menjelaskan lebih terang tentang lokasi Tanjungpura. Menurutnya, Tanjungpura bisa dicapai melalui Malaka dalam waktu 15 hari pada waktu musim hujan. Orang bisa ke sana melalui terusan Singapura menuju terusan Kampar. Dari sana lalu melewati jalur di dekat Lingga yang letaknya di antara Kepulauan Lingga dan Monoby. Nampaknya kekayaan Tanjungpura cukup tersohor. Menurut Pires, di sana terdapat banyak emas, beras, dan bahan-bahan makanan lainnya, berlian, dan jung. Jenis berlian di Tanjungpura terbaik kedua setelah berlian dari Kerajaan Orissa, di dekat Bengal. Yang terbaik ketiga adalah berlian dari Laue. “Selain itu berlian tak ditemukan di tempat lain,” kata Pires. Kendati menulis panjang lebar tentang Tanjungpura, menurut sejarawan Portugal Armando Cortesao, informasi yang didapatkan Tome Pires tak sepenuhnya benar. Dalam catatannya, Tanjungpura atau yang ditulis Pires dengan nama Tanjompura disebut sebagai pulau. Menurutnya, Pulau Tanjungpura merupakan bagian dari Kepulauan Tengah. Padahal, ketika itu Tanjungpura merupakan salah satu pelabuhan sederhana di Kalimantan. Itu wajar. Pasalnya, ketika Pires menulis Suma Oriental, belum ada orang Portugis yang mengunjungi Pulau Borneo dan Sulawesi. Baru kemudian, Goncalo Pereira, orang yang ditunjuk sebagai kapten di Maluku, berlayar dari Malaka pada Agustus 1530 melalui Kalimantan. Dia singgah di Tanjungpura dan bukan di pelabuhan-pelabuhan lain di pulau itu. Sama dengan keterangan Pires, Pereira bersaksi bahwa di dekat Kota Tanjungpura, atau yang ditulis dengan Tanjapura, terdapat banyak berlian berkualitas lebih tinggi daripada berlian India. Kemudian dalam peta Diego Homen dari tahun 1554, Tanjungpura ditulis sebagai Tamjampura. Dalam atlasnya ditulis Taiampur. Sementara dalam atlas-atlas Femio Vaz Dourado sebagai Taiaopura. Dari semua itu, letaknya selalu di pantai selatan Borneo. “Peta-peta lama Portugal memungkinkan kita untuk mengidentifikasi letak Tanjompura. Tempat ini muncul untuk pertama kalinya dalam peta bertahun sekira 1540 sebagai Tajapura ,” jelasnya. Sementara itu, arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Sejarah Nasional Indonesia III menyebut sumber-sumber dari masa yang lebih muda lebih banyak menyebut hubungan Jawa dengan Sambas, Banjarmasin, dan Sukadana. “Ini petunjuk bahwa Tanjungpura dan Lawe telah menjadi kurang penting,” tulisnya.*

  • Pasukan Meriam dalam Pertempuran Surabaya

    Pada awal November 1945, Dr. Ongko diutus ke Markas Besar Tentara di Yogyakarta. Kepada Kepala Staf Umum Tentara Keamanan Rakyat Letjen Oerip Soemohardjo, dia melaporkan bahwa para pemuda di Surabaya berhasil merebut seluruh persenjataan dari tangsi tentara Jepang. Di antaranya meriam, namun para pemuda tidak bisa menggunakannya. Oleh karena itu, dia meminta kepada Oerip untuk mengirimkan pasukan yang bisa mengoperasikan senjata berat tersebut. Oerip kemudian menugaskan Kapten Suwardi, perwira KNIL yang paham meriam dan baru saja menjabat Direktur Akademi Militer Yogyakarta, untuk membentuk Pasukan Meriam dan segera berangkat ke Surabaya. Sekitar 23 orang kadet bergabung. Mereka mendapatkan pelajaran kilat tentang meriam dari Letnan Satu Abdullah, yang pernah dinas di bagian artileri pada masa pendudukan Jepang. Para kadet bersama sembilan instruktur berangkat menuju Surabaya naik kereta api. Mereka sampai Stasiun Wonokromo pada 12 November 1945 sore. Setelah menginap semalam, mereka kemudian menghadap Mayjen Sungkono yang memimpin Komando Pertahanan Surabaya. Setelah mendapat penjelasan mengenai situasi pertempuran, para kadet dibagi dua kelompok. Satu kelompok di komando pertempuran, kelompok lain ditempatkan di gedung Kaliasin 17. Malam itu juga, mereka diperintahkan mengambil meriam di Sekolah Teknik Don Bosco di Sawahan yang jadi tangsi militer Jepang. Presiden Sukarno dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan selamat kepada perwira baru Akademi Militer Yogyakarta pada 5 Oktober 1949. (Repro Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949) Menurut Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Fisik 1945-1949 , dengan menggunakan truk dan mobil, malam itu mereka berhasil menyeret dua pucuk meriam besar 10,5 cm, dua pucuk meriam anti serangan udara kaliber 4 cm, dan dua pucuk meriam anti tank kaliber 2,5 cm. Di antara mereka baru malam itu belajar menyetir mobil sehingga jalannya lambat. Apalagi mereka tak menyalakan lampu untuk menghindari serangan udara Inggris. Mereka membawa meriam itu ke Gunungsari, tepi kota Surabaya di bagian selatan, agar jauh dari garis pertempuran tetapi masih bisa mencapai sasaran musuh yang terjauh. Dalam perjalanan, terjadi kecelakaan. Rantai besar pengikat meriam putus dan mengenai kadet Sumaryo sehingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit Palang Merah Indonesia di Blauran. Setelah tiba di Gunungsari, rupanya para kadet tidak sabar untuk mencoba meriam tersebut. Tanpa menunggu Mayjen Suwardi serta tanpa peta dan kompas, mereka mencoba menembakkan salah satu meriam. Mereka memperkirakan tembakan itu ke arah sasaran kapal-kapal Inggris di pelabuhan Tanjung Perak. “Saat peluru berhasil ditembakkan,” tulis Moehkardi, “mereka bersorak bangga karena sudah berhasil membunyikannya.” Tetapi, apa yang terjadi? “Ternyata tembakan mereka salah arah dan justru jatuh di Sidoarjo, di daerah sendiri,” lanjut Moehkardi. “Bisa dibayangkan, ada berapa rakyat yang menjadi korban.” Menurut Moehkardi, kisah komedi sekaligus tragis seperti ini sering terjadi dalam Pertempuran Surabaya. Banyak di antara pemuda yang bertempur baru pertama kali memegang senjata dan menembakkannya, sehingga sering mengenai kawan sendiri. Mereka belum tahu cara menghitung dan memperkirakan sasaran yang tepat. Setelah kelengkapan kompas dan peta tersedia, barulah penembakan meriam tepat sasaran. Mayjen Suwardi yang menghitung arah dan sudut tembakan, serta menetapkan waktu ledak pelurunya. Para kadet hanya membantu memasukkan peluru dan menembakannya. Tembakan meriam beruntun pada malam hari berhasil mengenai sasaran: sebuah kapal Inggris terbakar dan asap tebal membumbung ke udara.

  • Konflik Kashmir Tiada Akhir

    SUASANA Kashmir yang sempat tenang berubah mencekam. Jaringan-jaringan telekomunikasi hingga internet diputus otoritas India. Puluhan ribu serdadu ditempatkan. Jam malam diberlakukan di wilayah dengan otonomi khusus tersebut. Para turis digiring keluar Kashmir. Sekira 400 politisi hingga aktivis pro-separatis ditangkapi. Selaku tetangga yang juga berpenduduk mayoritas muslim, Pakistan prihatin mengatasnamakan solidaritas sesama muslim. Perdana Menteri (PM) Imran Khan  menyerukan bahwa jika India tak menghentikan kebijakan baru mereka terhadap wilayah otonomi Jammu dan Kashmir, bukan tidak mungkin pecah perang lagi antara India dan Pakistan sebagaimana yang pernah terjadi pada 1947, 1965, 1971 dan 1999. “Pemerintahan nasionalis-Hindu India (PM Narendra Modi dan partai penguasa BJP/Bharatiya Janata Party, red ) mempromosikan ideologi rasis. Ini akan berujung pada sebuah perang yang takkan dimenangkan pihak manapun dan implikasinya akan mengglobal,” kata Khan, dikutip National Public Radio , Rabu (7/8/2019). Khan juga khawatir India bisa melancarkan pembersihan etnis di Kashmir untuk kemudian membanjiri Kashmir dengan etnis Hindu. Oleh karenanya, Khan akan membawa isu ini ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Sidang Umum PBB. Pangkal dari kekacauan ini adalah disahkannya Perintah Presidensial Parlemen India dalam rangka reorganisasi Undang-Undang Jammu dan Kashmir pada Senin (5/8/2019) lalu. Regulasi itu mencabut pasal 370 dalam Konstitusi India yang menjadi dasar otonomi khusus wilayah Jammu dan Kashmir. Pasal ini mengizinkan Kashmir di bawah pemerintahan federal India berhak punya bendera negara, pemerintahan, dan konstitusi sendiri namun tetap bagian dari India. Dengan Perintah Presidensial itu, status khusus wilayah Jammu dan Kashmir dilucuti dan sistem hukum serta pemerintahannya bakal sama dengan sejumlah negara bagian di India. Wilayah itu juga akan dibagi dua menjadi Negara Bagian Jammu dan Kashmir serta Negara Bagian Ladakh. Kebebasan berkonstitusi dan perlindungan warga lokal bakal hilang. Pasalnya, warga luar Kashmir bakal diizinkan berdiam dan memiliki tanah di wilayah itu, hal yang sebelumnya dilarang. Sengketa Tiada Habis Isu Kashmir merupakan buah dari konflik berkepanjangan antara India dan Pakistan. Wilayah ini jadi rebutan sejak pemerintahan British India, pemerintahan kolonial sebelum merdekanya dua negara, angkat kaki pada 1947. Musababnya, Pakistan mendukung Pemberontakan Poonch, medio Juni-Oktober 1947, yang mengacaukan Negara Bagian Jammu dan Kashmir semasa dipimpin Maharaja Hari Singh. Kekacauan kian bertambah setelah dihelatnya Konferensi Muslim yang pro-Pakistan dan Konferensi Nasionalis yang pro-India. Maharaja sendiri lebih ingin berpijak pada netralitas terkait friksi antaretnis. Konfik berbalut kekerasan pun terjadi antara pemberontak Barisan Sardar dan demonstran muslim dengan pasukan Hindu di bawah Pemerintahan Provisional Azad bentukan Konferensi Nasionalis. Mengutip analis politik-strategi Asia Selatan Christopher Snedden dalam Kashmir: The Unwritten Story , pemberontakan itu berakhir dengan lengsernya kekuasaan sang maharaja. Pemimpin pemberontakan dari milisi Sardar yang merupakan eks-perwira British India, Muhammad Ibrahim Khan, kabur ke Lahore. Ia dilindungi PM Pakistan Liaquat Ali Khan yang menolak permintaan Pemerintahan Provisional Azad untuk menangkap dan mengirim balik Ibrahim. “Pada 2 Oktober, Asosiasi Kashmir di Lahore mengirim telegram ke (presiden) Muhammad Ali Jinnah, memintanya turun tangan karena etnis Muslim di Poonch dibantai dan Muslim di area lainnya dipersekusi paramiliter Dogra,” sebut Snedden. Tentara Pakistan dalam sebuah baku tembak di Perang Indo-Pakistani 1947 (Foto: pakistanarmy.gov.pk) Perang India dan Pakistan terkait Kashmir akhirnya terjadi untuk kali pertama pada 22 Oktober 1947-5 Januari 1949. Menilik V.P. Malik dalam Kargil from Surprise to Victory , Perang Indo-Pakistani I itu membawa korban 1.104 jiwa di pihak India dan 6.000 di pihak Pakistan. Gencatan senjata yang dimediasi PBB mengubah batas geografis Kashmir lewat perjanjian Line of Control (LoC). Wilayah Azad Kashmir dan Gilgit-Baltistan diklaim Pakistan, sementara Lembah Kashmir, Jammu, dan Ladakh masuk ke India. Di wilayah Kashmir naungan India, diberlakukan Pasal 370 dan Pasal 35A mulai 1954. Monarki Jammu dan Kashmir dilikuidasi kemudian lewat kedua regulasi itu diberian status khusus dan otonomi. Perang Indo-Pakistani pecah lagi pada Agustus-September 1965. Pemantiknya, upaya Pakistan mengipasi populasi Muslim untuk memberontak. Victoria Schofield dalam Kashmir in Conflict: India, Pakistan and the Unending War menyebutkan, Angkatan Darat (AD) Pakistan merekrut dan melatih milisi mujahidin untuk kemudian menginfiltrasi wilayah Jammu dan Kashmir lewat Operasi Gibraltar. Belakangan, militer Pakistan benar-benar turun gunung. Kala itu India dan Pakistan juga sedang terjadi semacam perlombaan senjata. Selain di udara dan laut, di darat terjadi pertempuran tank terbesar pasca-Perang Dunia II. India punya 720 tank berbagai jenis, sementara Pakistan 756 tank, di mana sama-sama menggunakan “produk barat”. Indonesia ikut terlibat dengan mendukung Pakistan. Menyitat memoar Panglima AU Pakistan Marsekal Ashgar Khan, The First Round , Presiden Soekarno menyokong dengan bantuan sejumlah jet tempur MiG-19, dua kapal patrol, dan satu kapal selam. Konflik kedua India-Pakistan soal Kashmir itu lantas “dibubarkan” PBB lewat desakan gencatan senjata hingga Deklarasi Tashkent, 10 Januari 1966. Bangkai tank M4A1 Sherman milik Pakistan yang berhasil dihancurkan awak-awak tank India di Perang Indo-Pakistani 1965 (Foto: Wikimedia) Kendati sejak 1965 India dan Pakistan tak pernah lagi berperang terbuka terkait sengketa Kashmir, Perang Indo-Pakistan III pecah pada 1971. Namun, ia merupakan konflik menjelang lahirnya negara Bangladesh di Pakistan Timur. Dari waktu ke waktu, konflik bersenjata kerap terjadi mengingat munculnya sejumlah organisasi hingga milisi yang cenderung separatis pada 1970-an, seperti Jammu and Kashmir Liberation Front (JKLF), Jemaat e-Islami Jammu and Kashmir (JIJK), atau Muslim United Front (MUF). Aksi teror antara kelompok-kelompok separatis itu dan pemerintah India pun acap bergulir seiring kurun. Sebelum ketegangan akibat Perintah Presidensial belum lama ini, India dan Pakistan sempat bergelut dalam konfrontasi militer di wilayah perbatasan. Pemicunya aksi bom mobil milisi Jaish-e-Mohammad pada 14 Februari 2019 yang menewaskan 40 tentara perbatasan India. Duabelas hari berselang, India membalas dengan serangan udara ke Balakot di wilayah Pakistan yang diduga jadi sarang milisi separatis Kashmir pelaku bom mobil. Keesokan harinya AU Pakistan bikin perhitungan, yang mengakibatkan terjadinya pertempuran udara. Pilot MiG-21 “Bison” India ditembak jatuh dan pilotnya, Abhinandan Varthaman, ditahan. Ia baru dibebaskan 1 Maret 2019.

  • Kiai NU dan Daging Babi

    SORE itu, menjelang 1943, Saifuddin Zuhri (mantan menteri agama era Sukarno dan Soeharto) dan beberapa kawannya mengunjungi kantor Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pimpinan Hasyim Asy’ari di Taisodori (kini Tugu Kunstkring Paleis di Jalan Teuku Umar, Jakarta Pusat). Saifuddin bermaksud mencurahkan kegelisahan dari aktivitas yang sedang dikerjakannya. Ia bersama beberapa tokoh Islam saat itu sedang ikut dalam program penggemblengan ulama berjiwa Nippon yang dibuat pemerintah Jepang. Mereka dipersiapkan untuk membantu Jepang memenangkan perang melawan Sekutu.

  • Cara Pemerintah Kolonial Redam Bandit Sosial

    MALAM di perdesaan Yogyakarta sepanjang 1860-an tidak pernah aman. Gerombolan kecu menyatroni rumah kepala desa penarik pajak (bekel) dan pemilik perkebunan. Mereka menjarah harta benda, menggondol hewan ternak, membakar gudang perkebunan, dan mengambil nyawa empunya rumah.

  • Ranjau di Setiap Suapan

    UNTUK menyiasati menu yang buruk dan jumlah makanan yang sedikit, para tahanan politik (tapol) pria di kamp Benteng Vredeburg diam-diam memasak sendiri di dalam sel. Caranya, mereka mengumpulan batu bata yang terserak di sekitar untuk dijadikan kompor. Bahan bakarnya mereka buat dari kayu kolom-kolom atap bangunan. Dengan cara itu, perut mereka lebih terjaga dari lapar. Cara itu pula yang mereka gunakan ketika kamp tempat penahanan mereka dipindah ke Penjara Wirogunan. Para tapol pria di Blok L selalu mengumpulkan kayu pada siang hari.  Mereka tak lupa terhadap rekan tapol dari kalangan perempuan yang ada di Blok F, letaknya saling membelakangi dengan Blok L. Kayu bakar yang mereka dapat mereka bagi dengan tapol perempuan di Blok F. Jika Blok F kehabisan kayu, mereka akan memberi kode ke Blok L. Antara Blok F dan L dibatasi pagar sehingga untuk mengirim kayu harus dilempar tinggi-tinggi. Pernah lemparan kayu jatuh tepat ketika para tapol perempuan sedang mementaskan ketoprak Rara Mendut di halaman kamar nomor 4. Bu Santo, salah satu tapol yang sedang menonton, hampir terkena lemparan itu. “Aku hampir dibutakan,” omelnya. Kalau kayu habis dan tak ada kiriman dari Blok L, tapol perempuan akan memberitahu penjaga bernama Darsinah yang cukup baik dan pengertian. Namun, hal itu hanya dilakukan ketika komandan kamp sedang tidak ada di tempat. “Bu, kayu bakarnya habis.” “Ya sudah sana ambil, saya membelakangi kalian dulu,” kata Darsinah sambil memutar kursinya. Sejurus kemudian, Sumilah (sebelum jadi tapol merupakan mahasiswa) dan beberapa gadis muda yang masih lincah lari ke tumpukan kayu yang ada di dekat pintu Blok F. Kebiasaan memasak ini jadi rahasia umum di dalam tahanan. Namun, operasi kayu bakar acap dilakukan sebagai formalitas. Para tahanan tak ambil pusing, toh bisa cari lagi. Mereka cuma menganggapnya sebagai dagelan dan jadi bahan tertawaan.   Upaya memasak sendiri itu baru terjadi setelah para tapol pria mengusulkan agar mereka diizinkan memasak. Usul itu keluar akibat buruknya menu makan di Kamp Wirogunan. Sebelumnya, tugas masak di Kamp Wirogunan dijalankan oleh para narapidana lelaki. Dasar para napi, mereka memasak dengan asal-asalan hingga makanan selalu berbonus “kejutan” dan “tambahan protein”. Suatu ketika, sayur kubis yang dibagikan tercampur sobekan sarung. Sobekan itu agaknya dipakai untuk menambal tong yang bocor. “Ranjau” lain yang pernah menyusup ke makanan yakni puntung rokok dan potongan sandal jepit. Para tapol tak ambil pusing. Mereka memilih menertawakannya, menganggap ranjau itu sebagai cakar ayam dan krecek. Lain waktu, bonus makanan berupa tambahan protein dari daging ulat dan lintah dalam campuran sayur kangkung. “Kami menganggapnya sebagai lelucon saja agar tidak merasa nelangsa,” kata Mia Bustam dalam memoarnya Dari Kamp ke Kamp.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page