Hasil pencarian
Cari di situs ini
10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Adu Jangkrik dari Tiongkok ke Nusantara
JANGKRIK telah menjadi perhatian orang Tiongkok sejak 300 SM. Buktinya adalah lukisan jangkrik. Sejak sebelum Dinasti Tang, 500 SM-618 M, masyarakat Tiongkok telah mengagumi suara jangkrik. Mereka pun mengadu kerik jangkrik. Kegemaran pada suara jangkrik berlanjut hingga era Dinasti Tang (618-906 M). Mereka mengurung jangkrik ke dalam kandang yang terbuat dari bambu. Pada era Dinasti Song (960-1278 M) yang diadu adalah fisik si jangkrik. Sejak itu, muncul permainan adu jangkrik yang digemari anak-anak hingga dewasa. Begitu populernya jangkrik, sampai-sampai ada “menteri jangkrik” yang dijabat oleh Jia Shi Dao (1213-1275). Selama menjabat, dia menyumbangkan buku tentang jangkrik berjudul : “Dia sampai dituduh melalaikan tugas kerena obsesi dan gairahnya mengadu jangkrik. Tapi kala itu juga terdapat puisi mengenai ‘suara jangkrik’,” kata Dwi Cahyono, sejarawan Universitas Negeri Malang. Bukan hanya “menteri jangkrik”, penguasa Dinasti Ming, Xuande (1425-1435 M), dijuluki “kaisar jangkrik” karena gemar mengadu jangkrik. Di lingkungan istana, jangkrik begitu dihargai. Tiap tahun ribuan jangkrik terpilih dikirim ke ibukota. Jangkrik yang hebat mendapat harga yang tinggi. Jangkrik pun untuk pamer kekayaan dan gengsi. “Terdapat kisah seorang petugas lumbung beras yang rela menukar kuda terpilihnya dengan jangkrik yang tangguh,” kata Dwi. Adu jangkrik bisa membuat orang kaya mendadak. Namun, tak jarang menghacurkan perekonomian keluarga. Karenanya pada era Dinasti Qing (1644-1911) adu jangkrik secara resmi dilarang. Namun, pada periode tertentu Dinasti Qing, adu jangkrik masih dihadirkan dalam olahraga nasional setiap musim gugur. Di Nusantara, sayangnya belum diperoleh bukti tekstual pra Kesultanan Mataram soal adu kerik maupun fisik jangkrik. Namun, kuatnya pengaruh Tiongkok sangat mungkin membawa kebiasaan ini masuk ke Nusantara. Pada era Kesultanan Mataram, adu jangkrik menjadi kegemaran orang Jawa dan kalangan Tionghoa peranakan. Sejarawan Denys Lombard menyebutnya dalam Bahkan, ketika masa pemerintahan Hamengkubuwono VII (1877-1921) adu jangkrik masuk lingkungan keraton. Para bangsawan dan pedagang kaya di Kota Gede mengadakan pertandingan adu jangkrik tiap Selasa dan Jumat. Menurut Tjan Tjoe Siem dalam artikel “Adoe Jangkrik”, yang dimuat majalah tahun 1940, pada awal abad ke-20, adu jangkrik sebagai praktik perjudian ramai dilakukan di Jawa Tengah. Tidak sedikit orang Tionghoa ikut (adu jangkrik) di musim jangkrik. “Pusat-pusat aduan jangkrik yang taruhannya tidak kecil berada di Magelang, Yogyakarta, dan Solo. Pada tahun 1901 diadakan pertandingan besar ‘adu jangkrik’ di Semarang,” ujar Dwi. k
- Asal Usul Umpatan Jangkrik
JANGKRIK hadir di bumi sejak 48 juta tahun lalu. Terbukti dengan ditemukannya fosil jangkrik yang terperangkap dalam getah pohon di Kolombia. Orang Indonesia menyebutnya cengkerik, jangkerik, atau jangkrik, yang memiliki unsur atau . “Penamaannya diberikan secara , yaitu sebutan yang mendasarkan kepada produksi bunyi dari yang diberi nama,” kata Dwi Cahyono, sejarawan Universitas Negeri Malang. Nama “jangkrik” muncul di Jawa paling tidak pada masa Jayabaya memerintah di Kadiri (1135-1157 M). Kata terdapat dalam kakawin , dan , yang menujuk binatang sejenis jangkrik. Mpu Panuluh, penggubah kakawin , menyebut jangkrik dalam kalimat Artinya, “ada jangkrik berbunyi di celah itu.” Jangkrik kemudian menjadi umpatan. Barangkali awalnya hanya di kalangan orang Jawa Timur. Kian populer setalah Kasino menyebutnya dalam film tahun 1980-an. Menurut Dwi, umpatan jangkrik muncul untuk memplesetkan umpatan agar tak terlampau kasar. Di kalangan orang Jawa Timur, muncul pula sejumlah kata bentukan dari jangkrik yang bernada umpatan: menghaluskan , untuk ; ada pula kalimat umpatan (emang dasar jangkrik kamu!) untuk . Dengan memakai jangkrik, alih-alih orang yang diumpat biasanya tak marah. “Tak seperti ketika diumpat dengan umpatan ataupun kata-kata jadiannya. Malahan, justru ketawi-ketiwi mendapatkan umpatan itu,” ujar Dwi. Istilah , menurut Dwi, viral di Jawa paling tidak sejak 1968 ketika lagu dipopulerkan penyanyi asal Solo, Waljinah. Lagu ini digemari dan dinyanyikan masyarakat Jawa. Jangkrik genggong salah satu jenis jangkrik yang punya tanda kuning melingkar di lehernya seperti kalung. Biasanya dimanfaatkan untuk pakan burung, pengusir tikus, aduan, atau sebagai peliharaan. “Dalam konteks umpatan, kata jangkrik memperoleh arti yang sama sekali tak terkait dengan dunia hewan, namun masuk ke dalam dunia ujaran manusia,” kata Dwi. Jauh sebelum lagu , jangkrik telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. “Aktivitas adu jangkrik, memperdengarkan suara merdu jangkrik , ataupun petualangan jangkrik (mencari dan mendapatkan jangkrik, ), adalah sebagian dari masuknya jangkrik ke dalam dunia keasyikan manusia,” kata Dwi.
- Der Panzer Tersungkur
DIFAVORITKAN di Piala Dunia 2018, sang juara bertahan Jerman malah tersungkur. Kekalahan 0-2 dari Korea Selatan di partai terakhir Grup F, Rabu (27/6/2018), mengakhiri perjalanan tim besutan Joachim Löw di Rusia. Bukan hanya para fans Der Panzer , para pengamat banyak yang terhenyak kaget bahkan kecewa. Eks pelatih dan pengamat sepakbola berdarah Jerman, Timo Scheunemann, juga geleng-geleng kepala. “Jerman gagal karena Löw lambat merombak tim walau amunisi pemain muda sangat banyak. Juga karena pemain tidak pede (percaya diri, red .),” ujar figur yang akrab disapa Coach Timo itu kepada Historia. Timo melihat para pemain yang komposisinya banyak berasal dari klub besar Bayern Munich itu belum pulih kepercayaan dirinya. Terutama pasca-kalah dari Real Madrid di final Liga Champions dan dari Eintracht Frankfurt di final DFB Pokal. Kekalahan Jerman dalam laga-laga ujicoba jelang Piala Dunia ikut menambah beban berat mereka . “Alhasil, Jerman bermain monoton tanpa kreativitas. Permainannya juga lamban dan pantas tidak lolos grup,” lanjutnya. Jerman menyandang juara bertahan terhenti di babak pertama, imbas kutukan sebelumnya? (Foto: fifa.com) Kegagalan Jerman juga menguatkan rumor kutukan juara bertahan Piala Dunia asal Eropa, para juara tumbang di fase grup Piala Dunia berikutnya. Jerman menambah deretan daftar itu setelah Prancis gagal di 2002, Italia di 2010, dan Spanyol di 2014. “Siklus atau kutukan-kutukan biasanya hanya sebuah kebetulan semata. Tapi kali ini saya rasa ada logika di belakangnya. Sudah empat juara bertahan tumbang di fase grup. Ini bukan kebetulan,” tandas Timo. Delapan Dasawarsa Silam Kegagalan di Rusia jadi kali kedua Jerman gugur di babak pertama Piala Dunia. Kegagalan pertama terjadi delapan dasawarsa silam di Piala Dunia 1938 Prancis. Kala itu Jerman juga difavoritkan. Alasan kuat yang melatarbelakangi pem-favoritan Jerman apa lagi kalau bukan sebagai penyandang juara tiga di edisi sebelumnya, serta berlimpahnya suntikan pemain dari Austria. Suntikan itu terjadi karena pada 12 Maret 1938 atau sekira dua bulan jelang Piala Dunia, Jerman di bawah Hitler menganeksasi Austria. Padahal, Austria dengan Wunderteam -nya sebetulnya sudah lolos kualifikasi. Kecuali sang kapten Matthias Sindelar yang menolak bermain di bawah panji Nazi, sembilan eks Wunderteam bergabung ke dalam tim Jerman besutan pelatih Sepp Herberger yang akan main di Prancis. Mereka antara lain Rudolf Rafti (kiper), Willibald Schmaus (bek), Stefan Skaumal (gelandang), dan Hans Pesser (penyerang). Pelatih Herberger, yang dimandatkan DFB (induk sepakbola Jerman) menampilkan komposisi starting IX antara pemain Jerman dan eks Austria dengan rasio 6:5 atau 5:6, kata David Goldblatt dalam The Ball is Round: A Global History of Football , terpaksa menerapkan sistem “WM”. Dalam taktik itu, tiga penyerang dan dua gelandang tengah membentuk formasi huruf W sementara tiga bek dan dua pemain sayap membentuk formasi huruf M. Hampir semua pemain eks-Austria gagal paham sistem tersebut. “Tuan Herberger, saya takkan pernah mengerti sistem WM,” keluh pemain belakang eks-Austria, Willi Schmaus, dalam sebuah sesi latihan di Duisburg, dikutip laman resmi DFB, 1 Juni 2018. Sayang, Herberger tetap memaksakan sistemnya. Laga Jerman vs Swiss di partai perdana babak pertama Piala Dunia 1938, di mana Jerman juga tersingkir (Foto: dfb.de) Sistem itulah yang dipakai Jerman ketika memainkan laga perdana Piala Dunia di Stadion Parc des Princes, Paris, 4 Juni 1938 kontra Swiss. Kedua tim bermain imbang 1-1. Hasil itu mengharuskan kedua tim memainkan pertandingan ulang. Lima hari berselang, keduanya bertarung lagi di venue yang sama dengan hasil getir buat pasukan Herberger. Jerman tumbang 2-4. Situasi politik membuat kekalahan Jerman jadi berita besar, terutama di Swiss. “Swiss tepuk dada membalas propaganda Jerman dengan headline karya Edwin Kleiner dari media SPORT : ‘60 juta orang Jerman melawan kami, tapi 11 pemain Swiss sudah cukup (mengalahkan Jerman)’,” tulis Walter Lutz dalam The Saga of World Football .
- Kiper Keblinger Blunder
SUDAH jadi “protapnya” bahwa seorang kiper tugasnya ya menghalau bola di bawah mistar gawang. Namun seiring perjalanan waktu, banyak kiper hobi keluar dari sarangnya untuk mengamankan bola. Evolusi terus berkembang, kiper ikut bantu bikin gol seperti yang diupayakan kiper Jerman Manuel Neuer kala menghadapi Korea Selatan (Korsel) di Kazan Arena, Rabu (27/6/2018). Namun dewi fortuna tak menaungi kiper cum kapten tim Die Mannschaft itu. Di pengujung laga saat masih tertinggal 0-1, Neuer keluar areanya untuk membantu rekan-rekannya berharap menyamakan skor. Saat mengolah bola di bidang lapangan lawan, bolanya direbut Ju Se-jong yang kemudian mengirim umpan panjang ke arah gawang Jerman. Son Heung-min yang bebas tanpa pengawalan langsung menyambut umpan itu dan dengan mudah melesakkan bola ke gawang kosong. Sontak, Jerman keok 0-2 di matchday terakhir Grup F Piala Dunia 2018 itu. Sang juara bertahan gagal di fase awal, mengulang catatan pahit delapan dasawarsa silam di Piala Dunia 1938 di Prancis. Selain mengacungi jempol buat kegigihan para “Pendekar Taeguk” (julukan Korea), mata publik tertuju pada blunder keblinger Neuer. Banyak orang nyinyir, mengkritik, hinga mencela Neuer. Pelatih Joachim Löw bahkan tak hanya menyalahkan Neuer, tapi seluruh skuadnya. “Gagal lolos menjadi kekecewaan besar. Kami tak pantas memenangkan Piala Dunia lagi. Kami tak layak maju ke babak 16 besar,” ujarnya, dimuat laman FIFA, Kamis (28/6/2018). Namun, menurut eks pelatih cum pengamat sepakbola berdarah Jerman Timo Scheunemann, Neuer tak pantas dikambinghitamkan. “Itu no problem ya. Karena memang sikon (situasi dan kondisi) mengharuskan (Neuer ikut) maju,” ujarnya kepada Historia via pesan singkat. Toh, aksi kiper out-of-the-box dan gagal Neuer bukan yang pertama. Kegagalan Neuer mengingatkan kejadian serupa di Piala Dunia Italia 1990. Memori Getir Higuita Dari sekian banyak kiper yang getol keluar sarang, kiper Kolombia René Higuita mungkin paling ikonik. Kiper nyentrik bak rocker ini menjadi kiper pertama di Piala Dunia yang bikin blunder serupa Neuer. Blunder Higuita terjadi kala Kolombia menjalani laga 16 besar menghadapi Kamerun di Stadion San Paolo, Napoli. Kedua tim mengalami deadlock , 0-0, hingga 90 menit waktu normal. Tapi di babak tambahan, Kolombia tertinggal lewat gol Kamerun di menit 106. “Tertinggal 1-0, kami harus mengambil risiko. Saat itu kami juga belum berpengalaman,” kenang Higuita, dilansir laman FIFA, 24 April 2018. Pada menit 108, setelah menerima umpan backpass rekannya, Higuita mencoba menggocek bola menghindari hadangan striker Kamerun Roger Milla. Nahas, Milla mencuri bola itu. Sekuat tenaga Higuita menguber Milla. Lantaran tak terkejar, dia mengerahkan upaya terakhir dengan coba menekel dari belakang. Tapi Milla sudah keburu mendorong bola datar ke gawang yang kosong. Saat Albert Roger Mooh Miller alias Roger Milla (kiri) mencuri bola dari kaki Jose Rene Higuita Zapata/Foto: fifa.com Kolombia sempat memperkecil kedudukan lewat gol Bernardo Redín di menit 115. Namun itu tak cukup menyelamatkan Kolombia. “Masalahnya Redín membuat gol untuk menjadikan skor 2-1. Maka media-media di negara kami menyatakan: ‘Jika Higuita tak mengacau, kita (Kolombia) bisa imbang’. Jika kami kalah 2-0, 3-0, atau 4-0 mungkin (blunder itu) takkan dipermasalahkan,” sambung Higuita. Meski publik Kolombia marah, sang pelatih Francisco Maturana tak ikut-ikutan mengkambinghitamkan Higuita. Dia menganggap Higuita masih sangat muda dan tak adil untuk “dibunuh” kariernya hanya gara-gara satu blunder. “Semua orang menyalahkannya. Situasinya masuk akal karena kami sedang tertinggal. Setelah laga, saya ingat kata-kata Pedro Zape, mantan kiper legendaris Kolombia. Dia bilang: ‘Pemuda ini putus asa dalam tangis namun lihatlah dia- masih 23 tahun usianya dan apakah dia harus selalu sempurna?’,” ujar Maturana dalam The Blizzard: The Football Quarterly .
- Denting Gitar dari Mancasan
PEMBUATAN gitar secara massal, yang dikerjakan secara rumah tangga, di Indonesia, ada di Desa Mancasan, Sukoharjo, Jawa Tengah. Perintisan kerajinan gitar di desa ini, tak lepas dari peran lima orang laki-laki yaitu Jito Pawiro, Minarto, Tarjo Wiyono, Hadi Wiyono, dan Parno. Jito Pawiro, warga Mancasan, lahir sekira tahun 1935. Mereka belajar membuat gitar dari seseorang yang tinggal di daerah Danukusuman, Dawung, Solo. “Kelima orang ini sebenarnya masih ada ikatan keluarga,” ujar Sutono (48 tahun), putra keempat Jito Pawiro, kepada Historia . Danukusuman atau Danusuman merupakan sebuah kampung kecil yang berada di sisi selatan kota Solo. “Dalam pelafalan masyarakat, biasa terjadi perubahan. Misal, kampung Mlayakusuman, dari tokoh Mlayasuma,” tulis sejarawan Heri Priyatmoko melalui surel kepada Historia . Tempo doeloe, di sana terdapat tokoh terkemuka dari keraton Kasunanan Hadiningrat, bernama Danusuma. Kemudian hari, nama tokoh tersebut dicomot oleh masyarakat sekitar untuk menyebut kampung tersebut. Asal-usul nama kampung Danusuman sendiri memang mengacu pada tradisi pemberian nama tempat yang berdasarkan nama tokoh berlatar belakang pada jabatan seseorang yang pantas dihormati, kesetiaan orang, dan pengaruh orang tersebut terhadap masyarakat sekitar dan kerajaan. “Menilik tradisi sejarah kerajaan Mataram-Islam, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada abdi dalem atau sentana dalem kerajaan yang disegani oleh rakyatnya (kawula di sekitarnya). Para tokoh kerajaan itu, seperti halnya Danusuma, dihormati lantaran berkelakuan baik, berjasa kepada masyarakat dan raja, serta berwibawa atau masih keturunan bangsawan ( sentana dalem ),” catat Heri. Dari Mancasan, sekira tahun 1950-an, Jito Pawiro muda berjalan kaki menuju Danukusuman, sekira 10 kilometer, untuk belajar atau kursus membuat gitar. Dia harus merogoh 5 rupiah per bulan dan mendapat fasilitas makan di tempat kursus. Setelah berhasil menyerap ilmu membuat gitar, Jito Pawiro memutuskan membuka usaha kerajinan sendiri di kampungnya, Mancasan. Dia mulai menekuni secara mandiri pembuatan gitar, sekira tahun 1960-an. Produksinya kala itu tak banyak. Setelah cukup mapan, Jito Pawiro baru memutuskan untuk menikah. Dari pernikahannya ini, dia mempunyai tujuh anak. Dia mewariskan ilmu membuat gitar kepada anak-anaknya. “Enam dari tujuh putra bapak, menggeluti kerajinan gitar,” ujar Sutono. Jito Pawiro tak hanya mengajarkan membuat gitar, namun juga pembuatan biola dan gambus yang terkenal sangat rumit. Generasi berganti. Pemasaran pengrajin gitar di Mancasan berkembang menjadi lebih baik memasuki tahun 1990-an. Sutono sendiri mulai terampil membuat gitar sejak tahun 1994. Empat tahun kemudian, dia mendirikan usaha kerajinan sendiri bernama Gian Musik. Dan baru tahun 2010, dia mengurus izin resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat. Gian Musik milik Sutono mempekerjakan lima orang utnuk membuat gitar. Saat musim baik, dalam arti tidak hujan, bisa memproduksi sekira 120-an buah gitar per bulan. Jika pada musim hujan, hanya separuhnya. Alasannya, dia tidak memakai oven dalam proses pembuatan gitar, namun dengan cara konvensional, dijemur di bawah terik matahari. Kompas , 23 Oktober 2009, melaporkan berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukoharjo tahun 2006 ada 162 unit usaha produksi gitar dengan produksi 169.700 lusin. Saat ini, di kelurahan Mancasan, ada sekira 200 pengrajin gitar yang tersebar di dukuh Kembangan, Ngrombo dan Wetan. “Tidak semuanya membuat gitar, namun ada pengrajin yang khusus bikin neck , body , bagian stem , bagian finishing ,” terang Sutono. Mereka pun mulai membuat paguyuban pengrajin gitar yang bernama Amanah yang beranggotakan 55 orang pengrajin. Paguyuban ini kemudian ditingkatkan statusnya menjadi koperasi. Kendala produksi gitar saat ini adalah faktor harga bahan baku. Gitar dengan kualitas nomor satu tentu memiliki bahan baku yang berbeda dengan gitar-gitar biasa. “Gitar kualitas nomor 1, neck -nya pakai kayu maple . Body depan pakai triplek cyprus , dan body belakang pakai meranti,” papar Sutono. Dia sendiri tidak bisa memenuhi pesanan dalam jumlah ratusan, sebab selain kendala bahan baku, mencari tenaga kerjanya pun sulit. Kini, kelima ‘satria bergitar’ perintis kerajinan gitar di Mancasan sudah uzur, bahkan Jito Pawiro sudah meninggal 20 tahun lalu. Dari mereka, nada merdu gitar Mancasan bergema ke seantero Nusantara.
- Sepakbola Seniman Panggung
TIM sepakbola bukan hanya milik klub profesional. Orang-orang dari dunia hiburan pun kepincut mereguk untung dari olahraga popular ini. Pada masa Hindia Belanda, sejumlah kelompok tonil –istilah saat itu untuk menyebut teater– membentuk kesebelasan sepakbola karena keuntungan yang diraup dari pertandingan sangat besar. Dalam bukunya Politik dan Sepakbola, Srie Agustina Palupi memberikan ilustrasi soal keuntungan itu. Dalam pertandingan yang diadakan Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) atau induk organisasi sepakbola Hindia Belanda di Bandung pada 1925, NIVB mendapatkan f10.633 dari penjualan 11.797 tiket. Selain itu, kelompok tonil memanfaatkan sepakbola sebagai daya tarik untuk menggaet penonton pertunjukan mereka. “Kalau kesebelasan rombongan opera atau sandiwara mencetak gol terbanyak, maka dengan sendirinya nama rombongan itu akan terangkat. Pertunjukan yang mereka adakan ikut terkenal dan dibanjiri penonton,” tulis Srie . Seni dan Sepakbola Miss Riboet Orion, kelompok tonil yang dibentuk Tio Tek Djien (T.D. Tio Jr) pada 1925, memiliki kesebelasan sepakbola yang cukup tersohor. Mereka menggelar pertandingan sepakbola di beberapa kota yang mereka singgahi. Misalnya, De Indische Courant edisi 23 Agustus 1937 melaporkan mereka melakukan pertandingan dengan klub asal Tiongkok, Nan Hwa, di Bandung. Hebatnya, kesebelasan Miss Riboet mengalahkan Nan Hwa 3-0. Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik Jilid 2 , Miss Riboet membuat tradisi baru dalam kesenian. Setiap seniman musik dan teater yang ingin bergabung dalam rombongan itu harus menguasai seni dan sepakbola. Seorang manajer kelompok tonil, menurut Srie, mencari pemain-pemain sepakbola andal dari berbagai kota demi membentuk sebuah kesebelasan yang tangguh. Mereka mengambil pemain yang bersedia ikut keliling dan menanggung kebutuhan hidupnya. Para pemain umumnya tak menyia-nyiakan kesempatan ikut keliling bersama rombongan tonil. Sebab, mereka memiliki kesempatan untuk mendapat pengalaman bertanding melawan berbagai kesebelasan sepakbola di Hindia Belanda. “Tapi, jika kurang hati-hati dalam memilih kelompok opera atau sandiwara, membuat mereka terlunta-lunta tak keruan,” tulis Srie. Pertunjukan dan Pertandingan Selain Miss Riboet Orion, kelompok tonil yang masyhur pada masa kolonial, Dardanella, yang dibentuk Willy Klimanoff (A. Piedro) pada 1926, juga memiliki kesebelasan sepakbola. Biasanya, pemain yang melamar ke kelompok tonil dimasukkan ke dalam tim sepakbola dahulu, sebelum nantinya menjadi bagian dari orang panggung. Salah satu contohnya Rempo Urip, sutradara film tahun 1950-an. Menurut majalah Dunia Film edisi 1 April 1954, Rempo masuk sebagai anggota Dardanella pada 1934. Semula dia dipasang sebagai pemain sepakbola. Beberapa waktu setelah itu dia baru naik panggung. Seperti halnya Miss Riboet, Dardanella keliling ke sejumlah kota, melakukan pertunjukan dan bertanding sepakbola. Di dalam majalah Varia edisi 24 September 1958, Andjar Asmara, mantan penulis naskah Dardanella yang pernah menjadi sutradara, menulis bahwa pada 1934, kesebelasan Dardanella pernah melumat klub profesional paling top saat itu, Hercules, dari Batavia (Jakarta) 7-1. Menurut catatan Bataviaasch N ieuwsblad edisi 28 Mei 1934, pertandingan tersebut berlangsung di Decapark (sekarang bagian utara Monumen Nasional) pada 29 Mei 1934. “Willy (Klimanoff) sering ikut main (sepakbola) sebagai centervoor (gelandang) yang lihai,” tulis Andjar dalam Varia, 24 September 1958. De Indische courant edisi 1 Februari 1934 juga menulis, Dardanella pernah mengalahkan THOR (Tot Heil Onzer Ribben) asal Surabaya 5-1. Padahal THOR adalah kampiun kompetisi klub se-Jawa Timur 1934/1935. Tentu tak semuanya kisah kemenangan. Soerabaijasch handelsblad edisi 25 Januari 1934 pernah mencatat pertandingan seru antara Dardanella melawan Blitar Bondselftal. Dalam pertandingan tersebut, Dardanella kalah 1-3. Penonton pertandingan antara kesebelasan perkumpulan tonil dan klub profesional biasanya hanya berkisar ratusan orang. Soerabaijasch Handelsblad edisi 20 Januari 1934 melaporkan pertandingan antara Dardanella melawan Hua Chiao Tsien Ning Hui (HCTNH) Kediri. “Munculnya publik tidak besar. Lebaran menarik banyak minat dari orang Belanda, tetapi tidak lebih dari 200 orang. Klub Tiongkok (HCTNH) tidak cukup kuat, dan kalah 4-1,” tulis Soerabaijasch Handelsblad . Tanggungjawab Berlipat Srie Agustina Palupi menulis, Miss Riboet Orion dan Dardanella terkenal bukan hanya dari pertunjukannya, tapi juga dari kesebelasan sepakbolanya. Usaha yang dilakukan rombongan tonil memberi corak baru bagi dunia sepakbola. Tapi, para seniman tonil yang juga pemain sepakbola itu mengalami hidup yang berat. Mereka harus memikul tanggungjawab berlipat ganda. Siang hari mereka bermain sepakbola. Malam harinya mereka harus ikut bekerja di panggung. Gaji hanya cukup untuk makan, membeli rokok, dan sedikit kesenangan untuk membunuh waktu. Terlepas dari itu, Japi Tambajong menyebut sepakbola para seniman panggung ini menginspirasi toko olahraga dan musik di kemudian hari. “Mengawinkan seni dan olahraga itulah menyebabkan mengapa sampai sekarang di Jakarta sering terlihat toko-roko yang menjual alat musik sekaligus alat olahraga pula,” tulis Japi Tambajong .
- Kostum Nyentrik Jorge Campos
Jangan remehkan Meksiko. Mereka langganan Piala Dunia dan kerap mendapat julukan “kuda hitam”. Kendati pencapaian terbaik mereka adalah perempatfinal pada 1970 dan 1986, Meksiko punya andil dalam dunia sepakbola melalui sosok Jorge Campos Navarrete. Campos adalah penjaga gawang legendaris Meksiko. Kepiawaiannya menjaga gawang, gayanya yang eksentrik, dan cara berpakaiannya yang unik masih dikenang banyak orang. Campos menyita perhatian dunia pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Meski hanya bertinggi badan 1,7 meter, dia tangguh menjaga gawang Meksiko. Dari tiga pertandingan di babak penyisihan melawan Norwegia, Republik Irlandia, dan Italia, Meksiko hanya kebobolan tiga gol. Sayangnya, Meksiko tersingkir di babak 16 besar usai dikalahkan Bulgaria dalam drama adu penalti. Toh Campos mendapat hadiah hiburan karena dinobatkan sebagai kiper terbaik ketiga dunia oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Selain tangguh di bawah mistar, Campos jadi sorotan dengan gaya kostumnya yang nyentrik: warna-warni mencolok dan kebesaran untuk ukuran tubuhnya. Menurut pengamat sepakbola Anton Sanjoyo, kostum dengan warna saling tabrak yang dikenakan Campos sudah jadi tren di olahraga tenis. “Sepakbola terkena imbasnya. Banyak kiper memakai kaus dengan warna seperti itu. Cuma, yang warnanya saling tubruk dengan model gombroh (ukuran kebesaran) yang pakai hanya Campos,” kata Anton kepada Historia. Campos kerap memakai kostum dengan warna berbeda dalam satu motif garis-garis horizontal atau zigzag. Dia mengkombinasi warna merah, ungu, hijau, kuning, dan merah muda. Terkadang, dia menyematkan tulisan “Meksiko” pada desain kostumnya. Terkadang pula menyematkan “Acapulco” di lengan atau kerah. Namun, yang paling sering, dia menyematkan tulisan “JC” (akronim dari Jorge Campos) dengan tanda tangannya di bagian bahu kanan. Sengketa Kostum Campos dilahirkan di Acapulco, 15 Oktober 1966. Acapulco merupakan sebuah kota pelabuhan besar di pantai Pasifik Meksiko, 380 kilometer selatan Mexico City. Masa muda Campos dihabiskan di pantai. Dia bermain sepakbola di atas pasir, lalu berselancar bersama teman-temannya bila sudah letih. Campos memulai karier profesionalnya bersama kesebelasan Club Universidad Nacional (Pumas/UNAM) pada akhir 1980-an. Di klub ini, Campos mulanya bukanlah penjaga gawang utama. Karena tak mau menjadi penghangat bangku cadangan, dia meminta pelatih kepala untuk ditempatkan sebagai striker. Tak sia-sia, selama dua musim Campos mengoleksi 14 gol. Campos baru dipercaya menjadi kiper pada musim berikutnya, dan punya andil membawa Pumas keluar sebagai juara liga. Dia pun terpilih memperkuat tim nasional Meksiko. Kala membela Pumas, Campos mendesain sendiri kostumnya. Menurut Grahame L. Jones dalam tulisannya “One Colorful Character: The Uniforms of Mexico’s Goalie Are Bold and Flashy by Design His Own” di Los Angeles Times edisi 16 Juni 1994, mulanya kostum Campos diproduksi di Acapulco oleh sebuah perusahaan bernama Sport. Label Surfer di kostumnya muncul pada 1989. Tak lama kemudian, Campos menandatangani kontrak dengan Nike, perusahaan alat-alat olahraga asal Amerika Serikat, untuk mendesain kostumnya. Pada 1990, Federacion Mexicana de Futbol Asociacion (Federasi Sepakbola Meksiko) meneken kontrak dengan Umbro, perusahaan alat-alat olahraga asal Inggris. Dengan kontrak tersebut, seluruh pemain tim nasional Meksiko wajib mengenakan kostum produksi Umbro. Campos, yang dipanggil memperkuat tim nasional Meksiko, menolak mematuhi kerjasama itu. Salah seorang pejabat federasi mengancam mendepak Campos dari timnas. Campos terancam tak bisa ikut dalam barisan pemain yang akan dikirim ke Piala Dunia 1994. Campos keras kepala. Dia tetap menolak mematuhi kerjasama itu. “Akhirnya, federasi mengalah dan kesepakatan tercapai. Campos pun dizinkan bermain dengan kostum hasil desain sendiri di turnamen (Piala Dunia 1994),” tulis Grahame L. Jones. Menjadi Tren Di perhelatan akbar sepakbola itu, kostum Campos menyihir mata dunia. Menurut Anton Sanjoyo, penampilan Campos dengan kostumnya yang nyentrik itu hanya sebuah cara agar terlihat beda. “Seperti Rene Higuita, kiper Kolombia tahun-tahun 1990-an,” kata Anton. Selain Campos, Higuita memiliki ciri khas yang diingat penggemar sepakbola hingga kini. Kiper berambut gondrong itu sesekali memamerkan atraksi tak biasa di lapangan hijau, yakni tendangan kalajengking. Menurut Grahame L. Jones, desain kostum Campos terinspirasi pasir, laut, dan matahari Acapulco, tanah kelahirannya. Campos juga terinspirasi pakaian para peselancar yang datang ke pantai di kota kelahirannya. “Aku terpesona pakaian brilian mereka. Warna-warna itu adalah identitasku. Mereka membentuk bagian dari kepribadian dan sejarahku,” kata Campos, dikutip Grahame L. Jones. Usai Piala Dunia 1994, Campos masih melanjutkan memakai kostum desainnya yang unik itu, baik di klub maupun tim nasional. Ian C. Friedman dalam buku Latino Athletes menulis, model kostum Campos menjadi tren anak-anak muda Meksiko pada 1990-an. Sementara menurut Richard Witzig dalam The Global Art of Soccer, model kostum Campos mengubah seragam penjaga gawang setelah generasinya. Kiper tak lagi memakai kostum dengan warna gelap dan senada. “Seragam kiper sudah berevolusi dari pola monoton ke multiwarna. Penjaga gawang Jorge Campos dari Meksiko adalah penyumbang utama yang ‘mewarnai’ kaus penjaga gawang pada 1990-an,” tulis Richard Witzig . Pumas adalah klub yang lama dibela Campos. Dia sempat pindah ke klub Amerika Serikat, yakni Los Angeles Galaxy dan Chicago Fire, sebelum kembali ke Pumas. Pada penghujung kariernya, Campos memutuskan pension dari lapangan hijau bersama Puebla yang dibelanya pada 2002-2004. Campos sempat menjadi asisten Ricardo La Volpe pada Piala Dunia 2006. Saat ini dia menjadi komentator televisi. Campos dikenang dunia hingga kini. Dia bukan saja seorang penjaga gawang ulung, tapi juga desainer yang nyentrik.
- Titian Sejarah Gitar
Tanbur Al Farabi (872-950 M), penulis buku Khitab Al-Musiqi al Khabir , menulis bahwa tanbur sudah diketemukan di jazirah Persia kuno, di jaman Akkadia, sekira 3000 SM. Instrumen ini kemudian populer di dataran Mesopotamia. ‘Leher’ tanbur, tempat bentangan senar, kebanyakan memiliki panjang sekira 70 cm. Sedangkan ‘badan’ tanbur, menyerupai buah pir. Har-Mose, musisi dari era Mesir kuno, dikuburkan bersama tanbur yang ia miliki, dimakam ratu Hatshepsut. Kithara Alat musik petik dari Yunani kuno ini terkait erat dengan upacara menghormati Dewa Apollo. Pemain kithara disebut kitharistu, biasanya untuk mengiringi sebuah lagu. Di Yunani kuno, sekira 800-479 SM, pertunjukan kithara dalam sebuah festival paling ditunggu. Kithara tersusun atas sebuah kotak resonator dari kayu yang disebut echeion , dua lengan tempat senar yang disebut pecheis , dan batang untuk menyetem nada yang dipasang melintang, menggabungkan dua lengan yang disebut kollopes . Kithara biasanya memiliki tujuh senar, yang dimainkan dengan dipetik. Laud Bangsa Moor, muslim yang mendiami semenanjung Iberia, membawa alat musik tanbur masuk ke Spanyol, sekira abad 12. Di sini, tanbur mengalami perubahan proporsi bentuk, mendekati gitar yang ada sekarang. Orang spanyol menambahkan fret , membuat ‘tubuh’ menjadi datar, dan memperpendek ‘leher’. Vihuella Pertengahan abad 15 hingga 16, alat ini banyak digunakan di Spanyol dan Portugis. Vihuella memiliki enam dawai, terbuat dari jalinan usus domba, yang dipasang ganda. Badan vihuella sudah menyerupai gitar modern, berbentuk angka delapan dan memiliki body belakang yang datar. Luis de Milan, musisi Spanyol, membuat komposisi musik vihuella berjudul Libro de música de vihuela de mano intitulado El maestro yang didedikasikan kepada Raja John III dari Portugal. Gitar Klasik Memasuki abad 19, gitar klasik mulai berkembang. Instrumennya menggunakan enam dawai tunggal dan penyeteman dengan nada E-A-D-G-B-E. Untuk menyesuaikan nada dawai, sudah menggunakan setelan bergerigi yang menggantikan model pasak. Antonio Torres (1817-1892) membuat perubahan pada body gitar menjadi lebih lebar. Gitar yang sedang berkembang di Eropa, merambat ke jazirah Amerika. Christian F. Martin, pendatang dari Eropa, mengembangkan senar baja untuk gitar akustik. Awal abad 20, muncul pemusik blues macam Robert Johnson dan Huddie Ledbetter. Gitar Modern Dawai dari baja ternyata memberi kelemahan pada gitar, yaitu tegangan senar yang kuat dapat merusak body hingga leher gitar. Kekuatan senar baja sendiri adalah suara yang lebih nyaring daripada senar yang terbuat dari usus atau serat nilon. Sekira awal 1900-an, C.F. Martin kemudian mengembangkan penahan berbentuk X di dalam tabung resonansi gitar. Gitar Elektrik Di tahun 1948, Clarence Leonidas Fender (1909-1991) meluncurkan gitar elektrik, bernama Broadcaster. Nama itu berganti menjadi Telecaster di tahun 1951. Leo Fender membuat gitar elektriknya mudah digunakan; mudah disetel; minim feed back dari senar dengan memberi amplifier khusus.
- Wartawan yang Terlupa
JAGAT literasi dan jurnalistik tanah air telah lama melahirkan nama-nama hebat. Namun, tak semua populer. Siti Danilah Salim, misalnya. Meski sama-sama aktif menulis dan berjuang, namanya tak setenar kakak kandungnya, Agus Salim. Danilah adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara. Pendidikan dasarnya dilakukan di Europesche Lagere School Riau. Dari sana dia lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (setingkat SMP) di Medan. Setelah menyelesaikannya, umur 17 tahun dia bekerja di Kantor Pos dan Bea Cukai. Danilah menikah tahun 1920 dengan seorang pegawai tambang minyak. Dia lalu mengikuti suaminya ke Kalimantan dan Semarang. Kecantol literasi Kecintaan Danilah pada dunia literasi bermula ketika dia bekerja sebagai juru koreksi di Percetakan De Evolutie, perusahaan pribumi yang mendapat subsidi pemerintah kolonial. Kala itu usianya baru 20 tahun. Satu per satu naskah dia teliti, setiap peletakan tanda baca yang salah dia koreksi. Tak satu pun naksah buku yang hendak diterbitkan De Evolutie luput dari pemeriksaannya. Danilah sangat menikmati pekerjaan itu. “Dari pengalaman bekerja sebagai korektrise dan belajar otodidak di De Evolutie itulah minat saya untuk mengarang mulai tumbuh,” kata Danilah dalam kumpulan memoar perempuan Sumbangsihku Bagi Pertiwi. Kemampuan bahasa Belanda dan Indonesianya yang baik membuat Danilah tak kesulitan membuat tulisan jurnalistik dan karangan panjang. Mulanya, Danilah menulis puisi dan esai dalam bahasa Belanda memakai nama pena Kemuning. Tulisan berbahasa Indonesia Danilah dimuat pertamakali oleh Harian Neratja , suratkabar modern pribumi karena memuat foto. Kala itu, Agus Salim mejadi pemimpin redaksinya. Danilah lagi-lagi menjadi juru koreksi di media ini. Tulisan Danilah di Neratja bersanding dengan tulisan Agus Salim, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, dan Kasuma Sutan Pamuntjak. Danilah juga aktif berorganisasi. Dia bergabung dengan Jong Sumatranen Bond dan aktif menulis di Majalah JongSumatra . “Saya senang menulis sajak di majalah JongSumatra . Laporan situasi saya kirimkan ke Harian Neratja . Saya juga menerjemahkan berita pendek dari bahasa asing,” kata Danilah. Meski sempat berpindah-pindah mengikuti suaminya, Danilah tetap menulis untuk beberapa surat kabar setempat dan mengirimkannya ke Jakarta. “Di Semarang saya menulis untuk Majalah Pestaka dan Suratkabar Bahagia mengasuh rubrik Taman Isteri,” kata Danilah. Ketika tinggal di Semarang, Danilah mulai aktif dalam gerakan perempuan dengan bergabung ke dalam Isteri Indonesia, organisasi perempuan yang didirikan pada Juli 1932 dan diketuai Maria Ulfah. Danilah terpilih sebagai ketua Istri Indonesia cabang Semarang selama lima tahun. Setelah bercerai dari suaminya pada 1938, Danilah pindah ke Jakarta. Dia tetap aktif dalam organisasi perempuan dan menulis. Danilah menjadi anggota Pengurus Besar Isteri Indonesia dan ketua cabang Kwitang. Danilah menikah lagi dengan wartawan CahayaTimur Syamsudin Sutan Makmur di masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang hengkang, mereka mendirikan Mingguan DayaUpaya namun tak bertahan lama. Syamsudin bersama Njoto dan rekannya mendirikan HarianRakyat . Di suratkabar ini, Danilah mengisi rubrik Pojok dengan nama samaran Bang Golok. Nama Bang Golok dia pilih karana menggambarkan ketajaman senjata rakyat Indonesia. Dalam salah satu karangannya, Danilah menulis bahwa rakyat harus bersatu-padu agar Indonesia tidak dijajah kembali oleh Belanda. “Radio milik Belanda, Pemancar RadioHilversum menuduh Bang Golok sebagai penghasut kelas satu agar Indonesia berontak melawan Belanda,” katanya. Ketika Isteri Indonesia hendak membuat terbitan, Danilah dipercaya menduduki ketua komisi pers lantaran sepak-terjangnya di dunia literasi dan jurnalistik. Lasmidjah Hardi dalam Perjalanan Tiga Zaman menyebut Danilah sebagai wartawan terkenal di zamannya. Danilah juga aktif menulis di Majalah Isteri Indonesia . “Kakak saya Siti Salamah menjadi pemimpin umum Majalah Isteri Indonesia ,” kata Danilah. Menurutnya, menulis tidak bisa dilepaskan dari cara pandang yang berpihak pada perempuan. Kala Sukarno menikah dengan Fatmawati, misalnya, Danilah mengkritik keras Sukarno dan menyayangkan Sukarno menduakan Inggit. Bagi Danilah, Inggit perempuan hebat yang berperan besar dalam membantu Sukarno di masa sulit. Dia kembali mengkritik Sukarno ketika menikah lagi dengan Hartini. Baginya, tak ada ruang poligini karena hal itu merugikan perempuan. Danilah berteman dekat dengan Nyonya Latief, mertua pemimpin redaksi Harian Merdeka BM Diah. Mereka sama-sama aktivis Isteri Indonesia. Nyonya Latief menjabat sebagai kepala cabang Jakarta. Ketika Isteri Indonesia mengadakan kongres di Yogyakarta, Danilah datang bersama Nyonya Latief dengan mengendarai mobil. Dari Nyonya Latief pula Danilah kenal BM Diah. Tidak hanya berhubungan dengan BM Diah, Danilah juga pernah bekerjasama dengan Parada Harahap, Abdul Muis, Datuk Tumenggung, dan beberapa nama tenar di dunia literasi. Sayang, nama Danilah tak setenar Agus Salim atau rekan seperjuangannya. Nama Danilah terlupa dalam sejarah pers dan literasi Indonesia.
- Harapan Bung Karno pada Bang Ali
DI Istana Negara, 28 April 1966 sedang berlangsung pelantikan gubernur Jakarta yang baru. Presiden Sukarno menyampaikan pidatonya. Amanat yang disampaikan bertalian dengan pembenahan ibukota. Bermacam masalah dikemukakan oleh Bung Karno. Mulai dari perencanaan kota, tata lalu-lintas, hingga soal selokan dan sampah. “Nah, saya punya pilihan jatuh kepada Mayjen KKO Ali Sadikin. Dus Ali Sadikin, als ja maar weet (ia tak mengerti sedikitpun), engkau mengalami kesulitan,” ujar Sukarno dalam pidatonya yang termuat dalam Revolusi Belum Selesai: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965—Pelengkap Nawaksara suntingan Budi Setiyono dan Bonnie Triyana. Ketika dilantik, Ali Sadikin baru berusia 39 tahun. Jabatan terakhirnya Menteri Perhubungan Laut. Latar belakang Ali sebagai perwira tinggi TNI AL mendorong Sukarno menjatuhkan pilihan. Sebagai kota pelabuhan, Sukarno membutuhkan gubernur yang paham urusan laut dan pelabuhan untuk mengurus Jakarta.
- Aroma Dendam Konflik Balkan
USAI mencetak gol pertama Swiss atas Serbia di matchday kedua Grup E Piala Dunia 2018, Sabtu (23/6/2018), gelandang Granit Xhaka langsung merayakannya dengan selebrasi berupa mendekapkan dua tangan membentuk elang berkepala dua, mirip simbol Albania. Selebrasi serupa dilakukan Xherdan Shaqiri usai mencetak gol yang memastikan kemenangan Swiss di Kaliningrad Stadium itu. Selebrasi kontroversial tersebut jadi bumbu tersendiri dalam lagi penuh gengsi itu. Ia berkalang masa lalu nan pahit. Meski Swiss dan Serbia secara formal tak pernah berkonflik, komposisi tim Swiss di Piala Dunia 2018 berisi banyak pemain berdarah Balkan. Selain Granit dan Shaqiri, Swiss juga diperkuat Blerim Dzmaili dan Valon Behrami yang –di lengan kirinya bertato bendera Kosovo dan lengan kanannya bertato bendera Swiss– juga berdarah Albania. Selain itu, ada Haris Seferovic dan Mario Gavranovic (Bosnia), dan Josip Drmic (Kroasia). Mayoritas punya masa lalu yang belum selesai dengan Serbia. Granit dan Shaqiri seakan merupakan eksponen dari konflik itu. Selebrasi keduanya dengan mendekapkan dua tangan berbentuk elang berkepala dua, mirip simbol Albania, jelas provokasi terhadap tim dan suporter Serbia. Keduanya merupakan warga berdarah Albania asal Kosovo, negeri yang pernah diperangi Serbia dalam konflik Balkan. Sebelum pertandingan, aroma dendam konflik Balkan sudah terasa saat muncul beragam pemberitaan tentang sepatu Nike Mercurial yang dikenakan Shaqiri. Di sepatu kirinya, Shaqiri memamerkan gambar bendera Swiss, sementara di kanannya bendera Kosovo, negara kelahirannya 26 tahun silam. Sepatu bola Xherdan Shaqiri dengan bendera Swiss dan Kosovo/Foto: fifa.com Hanya dengan mengenakan sepasang sepatu itu saja Shaqiri sudah memicu provokasi buat Serbia. “Jika mereka sangat mencintai Kosovo, kenapa mereka tidak bermain untuk negeri mereka sendiri saja ketimbang Swiss,” kata penyerang Serbia Aleksandar Mitrovic merespons psy war jelang laga, dikutip Washington Post , 21 Juni 2018. Kenangan Kelam Masa Silam Aksi Granit dan Shaqiri jelas politis. Emosi akibat pengalaman pahit masa lalu, disebabkan oleh Konflik Kosovo, keduanya beserta keluarga mereka belum sirna. Konflik di Kosovo meningkat jadi kekerasan bersenjata pasca-lahirnya Ushtria Clirimtare e Kosoves (UCK) alias Tentara Pembebasan Kosovo pada 1991. Hingga berakhirnya perang (11 Juni 1999), ratusan ribu sipil jadi korban. Menurut Tim Judah dalam The Serbs: History, Myth and the Destruction of Yugoslavia , sekitar 848-863 ribu atau 90 persen populasi Albania di Kosovo terpaksa mengungsi. Sekira 8.661 lainnya tewas atau hilang. Sementara di pihak Serbia, 230 ribu warga kehilangan tempat tinggal dan sekira 3.500 jiwa lainnya tewas atau hilang. Granit dan Shaqiri hanya dua dari 200-an ribu korban perang di Kosovo. Shaqiri, misalnya, sudah harus mengungsi saat masih bayi. Lahir di Gjilan, Yugoslavia (kini wilayah Kosovo) 10 Oktober 1991, Shaqiri dan tiga saudaranya dibawa kedua orangtuanya keluar dari Kosovo. Mereka mengungsi lebih dari 1000 mil hingga mencapai Augst, Swiss. Gelombang pengungsi masyarakat Albania keluar dari Kosovo/Foto: filmaid.org “Saya tak pernah lupa bahwa saya lahir di Kosovo. Negeri yang sangat miskin. Tak banyak lapangan pekerjaan, tak banyak uang. Rumah paman saya dibakar, namun rumah saya masih berdiri meski rusak di sana-sini, barang-barang dicuri dan tembok rumah saya dicorat-coret,” kenang Shaqiri, dilansir Independent , 23 Juni 2018. Sementara, Granit lahir di Basel, Swiss 25 tahun lampau dari pasangan berdarah Albania, Ragip dan Eli Xhaka. Pasangan itu awalnya tinggal di Kursumlija, Serbia. Begitu konflik pecah, orangtua pemain yang kini berkarier di Arsenal FC itu harus berpindah-pindah dari Kursumlija ke Podujevo (Kosovo) sebelum mencapai Swiss pada 1990. Saat diwawancara Dave Hytner dari The Guardian , 17 November 2017, Granit membeberkan, ayahnya pernah dipenjara pemerintah Serbia saat masih mahasiswa. “Sejauh yang saya tahu, dia baik-baik saja di awal masa tahanannya. Namun kemudian dia juga ikut dipukuli di tahanan,” kenang Granit. Ragip Xhaka diciduk pemerintah gara-gara ikut berdemonstrasi pada 1986. Demonstrasi itu bagian dari Revolusi Anti-Birokratik 1986-1989 yang menentang pemerintah otonomi Serbia di Kosovo dan Montenegro. Demonstrasi menjalar ke Pristina hingga Vojvodina. Ragip dipenjara tiga setengah tahun. Setelah dibebaskan dan menikah, dia pindah ke Swiss dan beranak-pinak di sana. Berbeda dari kakaknya, Taulant Xhaka, yang memilih membela timnas Albania, Granit memilih mengabdi buat timnas Swiss. Namun, bukan berarti dia dan Shaqiri boleh provokatif dalam sebuah pertandingan lantaran FIFA berulangkali menegaskan ingin menjauhkan sepakbola dari politik. “Komite Disiplin FIFA membuka pemeriksaan terhadap Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri terkait selebrasi gol di pertandingan Swiss vs Serbia,” ungkap FIFA, dikutip Sky Sports , 24 Juni 2018. Menilik regulasi kedisiplinan FIFA pasal 54, provokasi terhadap publik umum dalam pertandingan hukumannya dua kali larangan bertanding dan denda paling sedikit USD 5.062.
- Nani, Teman Para Perempuan yang Terluka
NANI Suwondo masih ingat salah seorang pamannya punya 30 anak. Si paman memang hobi kawin. Dari setiap istri, si paman memperoleh beberapa anak. Sayang, si paman tak mampu membiayai kebutuhan seluruh anak dan istrinya yang telalu banyak. Tapi ketika sudah pensiun, si paman tak kapok. Jumlah anaknya masih terus bertambah. Masa depan anak dan nasib si istri seolah tidak jadi perhatian dan pertimbangannya. Dia hanya tahu kawin lalu sudah, hidup sekenanya saja. Ayah Nani, Raden Soerasno, yang merasa iba ikut menanggung kehidupan kemenakannya dengan membiayai sekolah. Nani kecil kecewa dan heran pada pamannya itu. Menurutnya, perilaku si paman sangat tidak bertanggung jawab. Berkaca dari kehidupan sepupu dan istri pamannya, Nani tergerak untuk meneliti lebih jauh tentang posisi perempuan dalam pernikahan. Dia lalu ikut memperjuangkan hukum perkawinan yang adil bagi perempuan. “Undang-undang perkawinan yang bisa menjamin kedudukan perempuan belum ada,” kata Nani dalam kumpulan memoar perempuan, Sumbangsihku Bagi Petiwi I. Berjuang Lewat Jalur Hukum Nani lahir pada 15 Agustus 1918 di Semarang. Keluarganya kelas menengah melek pendidikan. Ayah-ibunya mendukung penuh keinginan Nani untuk kuliah di Rechtshogeshool (Fakultas Hukum), Batavia pada 1937. Nani termasuk mahasiswa pandai dan aktif hingga diminta Prof. Supomo untuk jadi asistennya. Nani juga ikut membantu Maria Ullfah dalam dalam Biro Konsultasi yang dibuat Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Biro ini bertugas mengadvokasi perempuan yang memiliki masalah dengan suaminya. Di sinilah Nani belajar banyak dari Maria Ullfah tentang ilmu hukum, khususnya hukum perkawinan yang memihak nasib perempuan. Di Biro ini pula Nani semakin tahu kasus-kasus dalam perkawinan, seperti perempuan yang dipoligami sewenang-wenang, diceraikan tak lama setelah kawin untuk alasan suami kabur lalu menikah dengan perempuan baru, dan ditipu lelaki yang mengaku bujang padahal beristri. Ada juga seorang perempuan yang datang padanya dalam kondisi hamil sementara si lelaki kabur. Dari penuturan si perempuan, pasangannya berjanji akan menikahi tapi malah menghilang setelah mengetahui dirinya hamil. Beragam kasus yang menimpa para perempuan semakin membuka mata Nani bahwa posisi perempuan dalam pernikahan masih amat tertindas. Perempuan dirugikan oleh sistem budaya patriarkis, beberapa jenis lelaki yang suka melukai, dan hukum yang tidak memadai. Undang-undang perkawinan yang dapat melindungi perempuan dalam perkawinan belum ada. Hal inilah yang menjadi perhatian Nani. Nani lulus saat penjajahan Jepang dimulai. Dia lalu bekerja di Sihoobu, yang setelah merdeka berubah menjadi Departemen Kehakiman. Pada masa revolusi, Nani menjadi sekretaris untuk delegasi Indonesia dalam perundingan dengan Komisi Tiga Negara (KTN) di Kaliurang, Yogyakarta. Setelah segala urusan penjajahan selesai tahun 1950-an, Nani kembali aktif dalam organisasi perempuan, seperti Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (Iswi), KPI, dan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Nani terus mengupayakan agar kedudukan dan nasib perempuan lebih terjamin dan aman dalam pernikahan. Nani akif dalam Badan Penasehat Perkawinan dan Perceraian (BP4). “BP4 sangat penting dalam usaha mendapat UU Perkawinan yang saat itu masih berupa impian,” kata Nani. Nani juga menjadi sekretaris komite Nikah Talak Rujuk (NTR) bersama para tokoh perempuan, seperti Maria Ullfah dan Sujatin Kartowijono. Menurut Saskia Eleonora Wieringa dalam Penghancuran Gerakan perempuan di Indonesia , komisi NTR dibentuk untuk merumuskan undang-undang pernikahan yang adil. Tapi, ketika komisi NTR berunding tentang RUU Perkawinan, pemerintah mengeluarkan PP No. 19 tahun 1952 tentang Pemberian Pensiun pada Janda Pegawai Negeri. Itu artinya, istri pertama, kedua, dan ketiga akan menerima pensiun. PP itu segera menuai penententangan dari para perempuan. Mendekati Hari Ibu 1953, Nani ikut menggerakkan demonstrasi pada 17 Desember, yang menuntut UU Perkawinan segera dikeluarkan dan penghapusan PP No. 19. Penolakan para perempuan terletak pada pemberian pensiun pada seluruh istri pegawai yang berarti pengakuan negara pada praktik poligami. Pemerintah secara tidak langsung mendukung praktik itu. Demonstrasi ini diterima presiden. Nani menjadi salah satu orang bertemu dengan Sukarno dan Fatmawati. Pada 1959, Nani memperoleh beasiswa Elin Wagner dari Swedia. Kesempatan itu dimanfaatkannya betul untuk meneliti kedudukan perempuan hingga 1950-an. Nani banyak menulis tentang hukum positif dan hukum adat yang berkaitan dengan perempuan. Dia menjadi salah satu pionir dalam penelitian hukum pernikahan perempuan yang kemudian diterbitkan. Lewat tulisan dan advokasinya, Nani menjadi teman dan pembela para perempuan yang terluka.





















