Hasil pencarian
Cari di situs ini
10059 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- 11 Agustus 1966: Jakarta Accord Bikin Indonesia dan Malaysia Tak Saling Ngotot
HARI ini, 11 Agustus 1966. Ruang Pancasila di Gedung Departemen Luar Negeri, Pejambon, Jakarta Pusat ramai. Bersama jajarannya, Menlu Adam Malik menerima delegasi Menlu sekaligus Deputi Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak. Keduanya akan memulai babak baru hubungan kedua negara. Tun Razak bertolak ke Jakarta pagi hari yang sama. Malam sebelumnya, 10 Agustus, dia masih menghadiri sebuah resepsi di Kuala Lumpur sebagai ungkapan rasa syukur terkait rencana kunjungannya ke Jakarta. Dalam resepsi itu, Tun Razak menerima hadiah pena berlapis emas seharga 100 dolar dari penduduk asal Distrik Rompin dan diberikan untuk tujuan khusus. “Hadiah itu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tun Razak atas usahanya dalam mewujudkan perdamaian,” kata Mentri Besar Pahang Dato Yahya bin Haji Mohamed She yang hadir dalam resepsi itu, sebagaimana dilansir The Straits Times, 10 Agustus 1966. “Tun Razak harus menggunakannya untuk menandatangani pakta perdamaian.”
- Pudarnya Pesona Hostel Pertama di Jakarta
DI Jakarta ada satu nama jalan yang unik. Biasanya nama jalan berasal dari nama pahlawan, tokoh setempat, atau tetumbuhan. Tapi jalan yang satu ini diberi nama dari profesi: Jalan Jaksa. Nama ini mengacu pada orang-orang yang pernah tinggal di jalan ini. Sebagian besar mahasiswa Rechts Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum Batavia. Mahasiswa itu hampir tiap hari mengikuti kuliah di Koningsplein atau sekarang wilayah Monumen Nasional. Banyak di antaranya berasal dari luar Batavia. Mereka mencari penginapan murah yang tak terlalu jauh dari kampusnya. Pilihannya jatuh pada wilayah Gondangdia.
- Jejak Bung Karno di Jakarta
MENGULAS Bung Karno dari berbagai segi tak akan ada habisnya. Pemikiran dan gagasannya masih hidup hingga saat ini. Salah satunya tentang pembangunan kota. Pria kelahiran 6 Juni ini punya andil besar atas berdirinya bangunan dan monumen di Jakarta sehingga kota ini memiliki identitas tersendiri. Berikut adalah beberapa bangunan dan monumen yang lahir dari ide Bung Karno.
- Aksi Barisan Berani Mati di Jakarta
BELANDA melancarkan agresi militer pertama pada 21 Juli 1947. Tentara Indonesia dan barisan-barisan perjuangan melawan Belanda dengan bergerilya, baik dengan menyingkir ke daerah-daerah pedalaman maupun di dalam kota. Seperti Barisan Berani Mati yang bergerilya di dalam kota Jakarta. Barisan Berani Mati dipimpin oleh Sersan Mayor Hindoroto yang berada di dalam kota Jakarta sejak Desember 1946. Kelompok yang beranggota 13 orang ini semakin giat menjalankan aksinya setelah agresi militer Belanda pertama. Mereka beraksi dengan melemparkan granat ke arah tentara Belanda. A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia: Perang Gerilya Semesta I menyebutkan, Pasukan Berani Mati melemparkan granat ke truk militer Belanda di dekat bioskop Capitol pada 12 Desember 1947 malam. Sebuah truk militer rusak berat dan 12 orang menderita luka-luka karena saat itu para penonton tengah keluar bioskop.
- RSUD Pertama di Jakarta
GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan meresmikan penjenamaan atau rebranding logo “Rumah Sehat untuk Jakarta” di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/8). Gagasan ini dicanangkan sejak 2019. Namun, tertunda lantaran pandemi Covid-19. Tujuannya untuk mengubah mindset dan orientasi setiap orang ketika datang ke Rumah Sakit bukan sekadar untuk berobat tapi untuk lebih sehat. Anies menjelaskan bahwa “Rumah Sehat untuk Jakarta” hadir agar orang tidak hanya datang pada saat kondisi sakit saja, namun juga dalam menjaga kualitas kesehatan. Selama ini Rumah Sakit hanya berorientasi pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif, sehingga orang datang ke rumah sakit hanya untuk sembuh. “Saya ingin agar Rumah Sehat menjalankan pelayanan preventif dan promotif dalam menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan,” kata Anies dikutip dari dinkes.jakarta.go.id.
- Ketika Perayaan HUT RI Marak Lagi di Jakarta
MERAYAKAN Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap 17 Agustus sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia. Mulai dari melaksanakan upacara, ziarah ke makam para pejuang kemerdekaan dan mengadakan lomba-lomba yang mengundang keramaian umum. Begitulah hari kemerdekaan dirayakan bangsa ini. Tradisi itu tentu terganggu setelah bulan Maret 2020, ketika pandemi covid 19 melanda bumi Indonesia. Demi mencegah penyebaran virus covid 19, mau tak mau keramaian pun harus dihindari selama lebih dari dua tahun. Bangsa Indonesia pun jadi kehilangan kegembiraannya dalam HUT RI 2020 dan HUT RI 2021 silam. Rasa kehilangan itu sempat diganti dengan berbagai lomba secara virtual, tentu saja ada rasa yang berbeda di dalamnya.
- Setahun Pos Bloc Jakarta
PARA model lenggak-lenggok mengenakan pakaian bertemakan vintage. Peragaan busana itu digelar di Pos Bloc Jakarta di Jalan Pos No. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada 27 September 2022. Sejak diresmikan tahun lalu pada 10 Oktober 2021, Pos Bloc Jakarta menjadi tempat alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Bekas gedung kantor pos ini menjadi ruang kreatif publik yang memadukan seni, budaya, hiburan, dan sejarah. Pos Bloc Jakarta buka setiap hari kerja mulai pukul 10:00 hingga 21:00 WIB dan pada akhir pekan mulai pukul 07:00 sampai 21:00 WIB. Sejak dibuka jumlah pengunjung rata-rata 2.000 orang per hari yang sebagian besar anak-anak muda. “Orang Indonesia sangat berbeda kebiasaannya dengan orang Eropa, tempat nongkrong atau kafe-kafe lebih sering dikunjungi daripada museum,” ujar Niko Tomas, salah satu pengunjung yang sedang memotret bangunan Pos Bloc.
- Ki Ageng Selo, Sang Penangkap Petir
Film Gundala (2019) garapan sutradara Joko Anwar tengah tayang di bioskop. Penciptaan Gundala oleh komikus Harya Suraminata disebut-sebut terinspirasi oleh Ki Ageng Selo, tokoh legenda yang diceritakan bisa menangkap petir. Nama Gundala sendiri berasal dari kata "gundolo" yang artinya petir. Dalam tradisi lisan di beberapa daerah di Jawa Tengah, Ki Ageng Selo merupakan tokoh yang terkenal bisa menangkap petir. Diceritakan, suatu hari Ki Ageng Selo sedang mencangkul di sawah. Langit mendung lalu turun hujan dan tiba-tiba petir menyambarnya. Namun, dengan kesaktiannya, dia berhasil menangkap petir itu. Petir tersebut berwujud naga. Ki Ageng Selo mengikatnya ke sebuah pohon Gandrik. Ketika dibawa kepada Sultan Demak, naga tersebut berubah menjadi seorang kakek. Kakek itu kemudian dikerangkeng oleh Sultan dan menjadi tontonan di alun-alun. Kemudian datanglah seorang nenek mendekat, lalu menyiram air dari sebuah kendhi ke arah kakek tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara petir menggelegar dan kakek nenek tersebut menghilang.
- Ketika Hujan Es Melanda Jakarta
BEBERAPA pekan belakangan ini, tingkat polusi di Jakarta dan sekitarnya meninggi. Kabut pekat hasil polutan tampak memenuhi langit Jakarta. Bertambahnya limbah industri, asap pabrik, dan emisi karbon kendaraan bermotor sebagaimana di kota besar, berkontribusi dalam kenaikan tingkat polusi. Imbasnya cukup berbahaya. Mulai dari perubahan cuaca yang menjadi lebih panas hingga menyebabkan gangguan pernapasan saluran atas (ISPA) kepada masyarakat. Berbagai cara dilakukan untuk mengurangi polusi. Seperti penyiraman jalan sampai penyemprotan air dari helikopter. Namun, sampai saat ini indeks kualitas udara Jakarta masih dalam kategori tidak sehat untuk masyarakat rentan (AQI interval 101-150). Anomali perubahan cuaca yang sebaliknya juga terjadi di masa silam. Fenomena hujan es beberapa kali pernah mengguyur Jakarta. Sepanjang dekade 1950-an, setidaknya tercatat dua kali hujan es turun di beberapa kawasan Jakarta.
- Samsi Maela Pejuang Jakarta
SEBUAH gubuk di daerah kampung di Jembatan Lima menarik perhatian aparat polisi Belanda di daerah pendudukan Jakarta. Sebagian polisi itu pun bergegas masuk ke gubuk itu. Setelah gubuk itu dimasuki, mereka menemukan seorang laki-laki kurus yang terbaring di sebuah dipan. Di dekat laki-laki itu terdapat sebuah dokumen yang tidak diketahui asal-usulnya. Laki-laki kurus itu mulanya mengaku tidak tahu apa-apa. Cahaya di dalam gubuk pun kemudian makin terang benderang. Salah seorang polisi di dalam kemudian terkejut. Kata polisi yang terkejut itu, orang yang terbaring itu adalah Moestapha Doela alias Mustofa Dulah, orang yang mereka cari-cari. Belanda sedang mujur. Aparat keamanannya di Betawi berhasil membekuk orang yang mereka anggap sebagai pemimpin geng teroris di Betawi sekitar akhir Agustus 1948. Moestapha Doela alias Mustofa Dulah adalah ketua geng Kelelawar.
- Ledakan di Selatan Jakarta
SABTU, 30 Maret 2024, gudang munisi daerah (gudmurah) milik Kodam Jaya di Kampung Parung, Ciangsana Bogor, meledak. Sebelumnya ada berita bahwa yang meledak adalah gudang senjata Yonarmed 7, namun hal ini dibantah Pangdam Jaya Mayor Jenderal Mohamad Hasan. Yang meledak, kata Hasan, adalah gudmurah milik Kodam, bukan Yon Armed. Sumber ledakan, ujar Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, adalah gesekan amunisi yang telah kadaluarsa. Akibat ledakan itu tak hanya bangunan militer yang rusak, setidaknya 31 rumah di Ciangsana rusak. Tak ada korban jiwa dalam ledakan tersebut, namun ledakan tersebut membuat ratusan warga sipil dari sekitar komplek militer tersebut harus mengungsi. Meledaknya gudang senjata di lingkungan Kodam Jaya ini jelas bukan yang pertama dalam sejarah TNI. Hampir empat dekade silam, ledakan serupa pernah terjadi di Cilandak, Jakarta Selatan, yakni di gudang senjata milik Korps Marinir TNI AL. Sumber ledakan dalam peristiwa ini dicurigai berasal dari peluru mortir 80 mm buatan Yugoslavia. Peluru ini memakai mesiu cair.
- Koloni Kusta di Teluk Jakarta
TAK ada yang lebih menakutkan bagi penduduk Batavia di paruh kedua abad ke-17 selain terinfeksi penyakit kusta. Wabah penyakit kusta memicu kepanikan masyarakat, khususnya orang-orang Eropa. Seiring bertambahnya jumlah penderita kusta, Lazarus Huis yang didirikan di Angke pada 1666 sebagai tempat perawatan pasien kusta menjadi semakin padat. Oleh karena itu, pada 1667 diputuskan bahwa mereka yang terinfeksi penyakit kusta harus mendaftarkan diri ke rumah sakit Batavia untuk menjalani pemeriksaan. Sayangnya, upaya ini tak sepenuhnya berhasil mengatasi wabah penyakit kusta. Menurut sejarawan Leo van Bergen dalam Uncertainty, Anxiety, Frugality: Dealing with Leprosy in the Dutch East Indies, pada 1678 masih ada 70 orang penderita kusta, tetapi tak menjalani perawatan di Lazarus Huis. Willem ten Rhijne, seorang dokter Belanda, yang telah meneliti penyakit kusta menawarkan solusi untuk mengatasi wabah penyakit kusta yang melanda Batavia. Menurutnya, kusta dapat menular melalui kontak fisik antara penderita dengan orang sehat. Oleh karena itu, isolasi menjadi cara yang paling tepat untuk menghentikan laju penyebaran penyakit kusta. Berdasarkan hal tersebut, pembangunan rumah sakit kusta di sebuah pulau yang terpisah dari Batavia mulai dilakukan pada 1679. Pulau itu dikenal dengan nama Purmerend yang berarti Pulau Sakit atau pulau untuk orang-orang sakit.





















