top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Drama Penangkapan Brigjen Soepardjo

    BRIGJEN TNI Mustafa Sjarief Soepardjo jadi buronan kelas kakap. Kodam V/Jaya memasukkan namanya ke dalam daftar hitam pencarian. Soepardjo diburu karena dianggap bertanggung jawab dalam operasi makar Gerakan 30 September 1965 (G30S). Padahal, Soepardjo sebelumnya bertugas di Kalimantan Barat sebagai panglima Komando Tempur Ganyang Malaysia. Soepardjo dalam kesaksiannya di Mahkamah Militer Luar Biasa: Perkara M.S. Supardjo, mencatat bahwa banyak sekali berita-berita suratkabar ibukota yang memberitakan dirinya. Termasuk pula foto-foto maupun reklame yang bertuliskan, “tangkap hidup atau mati Supardjo ex brigadir jenderal TNI adalah gembong Gestapu/PKI” dan sebagainya. Dewan Revolusi yang berada di balik G30S, menempatkan Soepardjo sebagai orang kedua setelah Letkol Untung Sjamsuri. Untung sendiri telah dieksekusi mati pada akhir Maret 1966 di daerah Cimahi, Jawa Barat. Sementara itu, pemimpin PKI D.N. Aidit sudah lebih dulu dieksekusi di Boyolali, Jawa Tengah, diperkirakan itu terjadi pada November 1965.

  • Sang Penangkap Diponegoro

    WAKTU Perang Jawa (1825-1830) berkecamuk, di Sulawesi Utara Residen D.E.W. Pietermaat minta orang Minahasa menolong Belanda dalam perang tersebut. Sebagai kelanjutan darinya, terbentuklah sebuah pasukan tempur berjumlah 1.421 orang yang disebut Serdadu Manado atau Pasukan Tulungan. Komandannya Tololiu Hermanus Willem Dotulong yang diberi pangkat mayor. Dotulong dibantu tiga kapten. “Mereka antara lain Benjamin Sigar (Langowan), D. Rotinsulu (Tonsea), dan Polingkalim (Tondano),” tulis Jessy Wenas dalam Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) Minahasa ini adalah sebagian dari banyak hulptroepen yang membantu Belanda. Setelah terbentuk, pasukan itu langsung diberangkatkan ke Jawa.

  • Wabah Penyakit Mematikan di Banten dan Jawa Tengah

    VIRUS Corona atau Covid-19 telah ditetapkan sebagai pandemik. Wabah penyakit yang berasal dari Wuhan, China, itu kini telah menyebar di 157 negara per 16 Maret 2020. Di Indonesia tecatat 117 positif, 8 sembuh, dan 5 meninggal dunia. Sejarah telah mencatat, Indonesia tidak kebal terhadap wabah penyakit menular. Sebut saja flu Spanyol tahun 1918 telah membunuh 1,5 juta penduduk Indonesia. Jauh sebelumnya, pada abad ke-17, wabah penyakit menular juga melanda Jawa yang mengakibatkan kematian dalam jumlah besar. H.J. de Graaf, ahli Jawa kuno, dalam Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, menyebut setelahSurabaya menyerah, tampak kemunduran dalam kegiatan militer Susuhunan (Sultan Agung). Kecuali disebabkan oleh perluasan keraton dan keletihan oleh kerja keras selama tahun-tahun sebelumnya, kemunduranini juga akibat penyakit menular. Dalam laporan ke Negeri Belanda tanggal 27 Oktober 1625 telah diberitakan bahwa rakyat mengalami cobaan berupa “kematian, peperangan, kelesuan, bahan makanan yang mahal, dan pajak yang berat di seluruh tanah Jawa”.

  • Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit

    VIHARA Avalokitesvara terletak di Kampung Pamarican, Kota Serang, Provinsi Banten. Avalokitesvara merupakan bahasa Sanskerta untuk Dewi Kwan Im yang diyakini suka menolong manusia dari berbagai kesulitan. Lokasi wihara itu sekitar 500 meter di sebelah utara Masjid Agung Banten dan Keraton Surosowan di Kawasan Banten Lama. Wihara itu dibangun tahun 1652 pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa (berkuasa 1651–1683). Awalnya wihara itu dibangun di Kampung Dermayon, Kabupaten Serang, sekitar 500 meter di selatan Masjid Agung Banten. Menurut sejarawan Prancis, Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban X–XII, kita hanya memiliki sumber tak jelas mengenai tempat-tempat ibadah orang Tionghoa. Padahal, Banten terkenal karena adanya kelenteng yang dijadikan Vihara Avalokitesvara. Jika sudah ada pada abad ke-17, pasti kelenteng ini disebut-sebut dengan jelas dalam sumber.

  • Petualangan Orang Makassar di Kesultanan Banten

    PERTENGAHAN Agustus 1671 di Jepara muncul seorang bernama Kassi’-jala. Kehadirannya cukup menggemparkan residen setempat. Hal itu disebabkan dia membawa serta 150 orang bersamanya. Mereka tidak terlihat seperti penduduk Jawa. Perawakannya kekar, warna kulit serta wajahnya terlihat asing untuk disamakan dengan orang-orang sekitarnya. Diketahui mereka adalah kelompok pelaut dari Makassar. Berdasar catatan harian pejabat VOC di Jepara (Daghregister, 24 Agustus 1671), Kassi’-jala dan kelompoknya datang untuk menemui dua pangeran Makassar, Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’. Bersama dua peangeran itu, rencananya mereka akan berlayar menuju Banten. Menurut sejarawan H.J. De Graaf, keterangan tersebut menjadi berita pertama kepindahan orang Makassar ke Banten. Dikisahkan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, pelayaran orang-orang Makassar itu terjadi setelah Gowa mengalami kekalahan perang pada 1669. Pemerintahan Arung Palakka yang bersifat menindas juga menjadi alasan para pelaut itu rela meninggalkan tanah airnya menuju tempat asing yang belum tentu menerima keberadaan mereka.

  • Ratu Banten Ditahan di Pulau Edam

    SULTAN Zainul Arifin memimpin Kesultanan Banten antara 1733-1748. Namun, istrinya, Ratu Syarifah Fatimah, menginginkan kekuasaannya. Untuk memuluskan tujuannya, Ratu Syarifah bersekutu dengan VOC. Ratu Syarifah merancang konflik antara Sultan Zainul Arifin dan putranya, Pangeran Gusti. Hasilnya, putra mahkota diasingkan ke Ceylon (Sri Lanka). Ratu Syarifah kemudian mendorong kemenakan laki-lakinya, Syarif Abdullah, sebagai putra mahkota yang baru pada 1747. Namun, menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, putra mahkota yang baru itu terlalu muda untuk memerintah, sementara Zainul Arifin menunjukkan tanda-tanda penyakit jiwa. Karenanya, atas persetujuan Ratu Syarifah, VOC menangkap dan membuang Sultan Zainul Arifin ke Ambon. Atas restu VOC, Ratu Syarifah kemudian menjadi “wali Sultan”. Namun kalangan elite Banten menentang pemerintahan Ratu Syarifah yang menindas.

  • Pangeran Jepara Menuntut Takhta Banten

    SULTAN Banten Hasanuddin dikaruniai dua anak laki-laki dari pernikahannya dengan putri Sultan Demak, Tranggana, pada 1552. Yang sulung, Maulana Yusuf, menggantikan ayahnya yang meninggal pada 1570. Sedangkan adiknya diasuh dan dijadikan anak angkat oleh bibi dari pihak ibunya: Ratu Kalinyamat, karena tidak memiliki anak. “Dia diberi nama Pangeran Aria dan kemudian Pangeran Jepara; di Jepara dia diperlakukan sebagai ‘putra’ mahkota; dan setelah bibinya meninggal, dia memegang kekuasaan di kota pelabuhan itu,” tulis H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Ratu Kalinyamat dijuluki Ratu Pajajaran. Pemberian julukan itu menandakan di Keraton Demak pada pertengahan abad ke-16 ada kebiasaan memberi nama gelar kepada para pangeran atau putri keturunan raja yang menunjuk ke daerah-daerah yang jauh.

  • Pangeran Diponegoro Suka Main Catur

    USTAZ Abdul Somad (UAS) menjadi viral di media sosial karena media daring memberitakan tausiahnya yang mengharamkan permainan domino dan catur. Berita itu turun setelah dia memberi tausiah di Komisi Pemberantasan Korupsi pada Rabu, 20 November 2019. Tausiah itu diunggah di channel Youtube Teman Ngaji pada 26 Juli 2017. Dalam tausiahnya itu, UAS membacakan pertanyaan dari jemaah tentang hukum main domino. “Maaf Pak Ustaz, boleh tidak main domino untuk mengisi luang, biasanya 17 Agustus?” UAS menjawab bahwa mazhab Hanafi mengharamkan dadu dan catur. Alasannya karena main catur bisa membuat orang melalaikan salat dan lupa waktu. Dia juga tak setuju jika catur dijadikan olahraga.

  • Benda-Benda Peninggalan Pangeran Diponegoro

    PEMERINTAH Belanda telah resmi mengembalikan keris pusaka Kiai Nogo Silumanmilik Pangeran Diponegoro ke Indonesia. Keris tersebut dibawa Duta Besar Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja dan diserahkan kepada Kepala Museum Nasional Indonesia Siswanto pada Kamis, 5 Maret 2020. Keris Kiai Nogo Siluman sempat dinyatakan hilang. Melalui riset bertahun-tahun, keris ini akhirnya bisa ditemukan, diidentifikasi, dan dipulangkan ke Indonesia. Pulangnya keris Kiai Nogo Silumanmendapat apresiasi dari banyak pihak. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan pemerintah akan memberikan kesempatan kepada publik untuk ikut menikmati kebahagiaan ini.

  • Alkisah Tongkat Pangeran Diponegoro

    DARI sekian banyak isu yang jadi faktor di-reshuffle-nya Anies Baswedan selaku menteri pendidikan dan kebudayaan periode 2014-2016 adalah isu penerimaan salah satu pusaka Pangeran Diponegoro yang dipulangkan Belanda pada 2015. Dikatakan jurnalis senior Andy F. Noya dalam program di Metro TV, “Kick Andy: Dosa-Dosa Anies”, Minggu (18/6/2023) Anies dianggap menelikung Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Andy menyampaikan isunya, ketika itu tongkat komando Pangeran Diponegoro (Tongkat Kiai Cokro) jadi salah satu artefak yang dirampas Belanda saat penangkapan Pangeran Diponegoro di fase akhir Perang Jawa, pada 28 Maret 1830. Anies, lanjut Andy, dianggap menelikung Presiden Jokowi lantaran terdapat kepercayaan bahwa barangsiapa yang menerima dan memegangnya pertamakali, maka ia punya peluang untuk jadi pemimpin. Anies mengklarifikasi bahwa info tentang pengembalian itu awalnya datang dari Kedutaan Besar Belanda di Jakarta, tetapi prosesnya akan dirahasiakan. “As a top secret, tidak bisa diketahui siapapun, kapan waktunya, dll. Semua dijaga confidentiality-nya karena nilai barang ini priceless. Banyak orang yang mencoba memburu barang ini. Jadi mereka menempatkan ini sebagai sebuah operasi khusus. Kemudian (tongkat) Cakra tadi dibawa dari Belanda dan pemerintah Belanda tidak memberi tahu jam penerbangan, siapa yang membawa, enggak ada yang tahu,” terang Anies.

  • Klewang Pangeran Diponegoro di Gudang Museum Belanda

    PASCA-kekalahan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1930), banyak benda peninggalannya diangkut ke Belanda untuk dijadikan “trofi”. Mulai dari pelana dan tali kekang kuda, keris Kiai Nogo Siluman, tongkat Kiai Cokro, tombak Kiai Rondhan, hingga klewang. Klewang, sebilah senjata tajam (sajam) jenis sabel melengkung, lebih kondang dalam sejarah perjalanan kolonialisme Belanda di Nusantara sebagai senjata jarak dekat yang digunakan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) dan pasukan khususnya, Marsose. Jika keris, tongkat, dan tombak Diponegoro sudah dikembalikan ke Indonesia, klewangnya masih tersimpan di Belanda. Kabar itu diungkapkan peneliti Museum Bronbeek, John Klein Nagelvoort dan Pauljac Verhoeven, belum lama ini. Kepada NRC, Selasa (28/11/2023), Nagelvoort berkisah bahwa klewang Diponegoro itu sempat jadi koleksi benda pamer di Istana Het Loo di Apeldoorn sebelum berakhir di gudang Museum Bronbeek di Arnhem. Masih jadi pertanyaan, kenapa pihak Indonesia belum memintanya.

  • Pelana dan Tombak Pangeran Diponegoro Punya Cerita

    PEGUNUNGAN Gowong, Kedu, Jawa Tengah pada 11 November 194 tahun silam. Bertepatan dengan genap 44 tahun usianya, Pangeran Diponegoro dan pengikutnya terus berlari dari kejaran pasukan Belanda pimpinan Mayor A.V. Michiels. Kakinya sampai terluka. Namun dia beruntung, lolos dari penyergapan. Mayor Michiels gigit jari. Sasarannya luput dan kabur ke pedalaman hutan Bagelen Barat. Yang didapatnya hanya sejumlah barang Pangeran Diponegoro yang tertinggal. Dua di antaranya adalah kuda beserta pelananya dan sebuah tombak pusaka. “Sang Pangeran terpaksa terjun ke jurang dan bersembunyi di balik rumput gelagah tinggi untuk bisa lolos dari pasukan Belanda dari Manado. Dengan meninggalkan beberapa ekor kuda miliknya dan tombak pusaka,” tulis sejarawan Peter Carey dalam Kuasa Ramalan: Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa 1785-1855.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page