Hasil pencarian
9954 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Bombshell yang Menumbangkan Pemred Cabul
DALAM layar kaca, segalanya bergantung pada pandangan mata. Megyn Kelly (diperankan Charlize Theron) memberi tur singkat dalam dapur redaksi televisi berita Fox News. Ia memperlihatkan sedikit-banyak soal kebijakan seksisme oleh siapa lagi kalau bukan sang pemimpin redaksi (pemred) Roger Ailes (John Litgow),yang memimpin tv berita milik taipan media Rupert Murdoch (Malcom McDowell) itu sejak 1996. “Sejak dini dia menyadari cara jaringan berita untuk bertahan 24 jam sehari, adalah Anda butuh sesuatu yang bisa mempertahankan pemirsanya. Tiada lain adalah keindahan kaki. Ada alasan khusus mengapa meja (pembaca berita) berkaca bening,” cetusnya, selain memaparkan semua karyawati Fox News wajib mengenakan rok mini nan ketat. Begitulahadegan yang disuguhkan sutradara Jay Roach dalam membuka biopik Bombshell. Film itu berpusar pada pergulatan tiga perempuan pekerja Fox News yang mengalami pelecehan seksual. Dengan cara singkat itu Jay ingin penontonlebih dulu paham pengantar sebelum masuk keinti cerita yang berdasarkan kisah nyata itu.
- 23 Februari 1942: Pantai Barat Amerika Dibombardir Jepang
HARI ini, 23 Februari 1942. Kapten Kozo Nishino, komandan kapal selam AL Jepang I-17, mendapat momen emas. Kilang minyak Ellwood Oil Field dekat Santa Barbara, California, Amerika Serikat sudah di depan mata, hanya satu mil dari kapal selamnya. Kesempatan itu tak ingin disia-siakannya untuk menjadikan kilang itu sebagai sasaran balas dendamnya. Nishino pun langsung mempersiapkan serangannya pada pembukaan malam itu. “Tepat setelah matahari terbenam pada 23 Februari 1942, Komandan Kozo Nishino, komandan I-17, memunculkan kapalnya di Santa Barbara Channel,” tulis Joseph Jeremiah Hagwood Jr. dalam Engineers at the Golden Gate. Sementara Nishino mempersiapkan serangannya, penduduk kota sedang serius di depan radio mereka. Mereka bersiap mendengarkan pidato radio Presiden AS Franklin D. Roosevelt petang itu.
- Bomber Sangar Itu Bernama Gerd Müller
AWAN duka menaungi persepakbolaan Jerman. Pemain legendarisnya yang sangat berpengaruh pada prestasi Timnas Jerman dan Bayern Munich, Gerd Müller, menghadap Sang Pencipta pada Minggu, 15 Agustus 2021 lalu. Pemain gempal berjuluk Der Bomber itu wafat setelah enam tahun bertarung melawan penyakit alzheimer. Bagi kebanyakan warga Jerman, nama Müller dibesarkan Bayern Munich. Namun tidak bagi Franz Beckenbauer, pemain dan pelatih legendaris Jerman yang merupakan rekan Muller. Menurut Beckenbauer, Bayern besar karena Müller. Bayern yang mapan di Eropa saat ini, kata Beckenbauer, takkan eksis jika tak ada Müller di skuad Bayern era 1960-an. “Tanpa Gerd Müller dan gol-golnya, kami semua (Bayern, red.) masih akan berada di pondokan kayu kami di (kamp latihan) Säbener Straße,” kata Beckenbauer di laman resmi Bundesliga.
- Bom Fosfor Putih Bukan Senjata Biasa
LEPAS empat hari pasca-militer Hamas melancarkan serangan roket kolosal, pasukan IDF Israel makin gencar melancarkan serangan balik ke Jalur Gaza, Palestina. Serangan membabi-buta yang juga menyasar penduduk sipil itu diberitakan juga menggunakan senjata terlarang, bom fosfor putih, sejak Selasa (10/10/2023) malam. “Pesawat-pesawat tempur dan artileri Israel menggunakan (bom) fosfor putih yang dilarang dunia internasional, menghancurkan pemukiman #Al_Karama di barat laut Gaza dengan serangkaian serangan udara terus-menerus. Korban jiwa dan luka berjatuhan, sementara ambulans-ambulans dan kendaraan pertahanan sipil tak bisa mencapai area itu karena intensitas serangan udara dan penghancuran jalan-jalan,” ungkap Kementerian Luar Negeri Palestina di akun X-nya, @pmofa, Rabu (11/10/2023). Hal serupa juga disuarakan Muhammad Hussein, warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai relawan Mer-C di Gaza. Lewat sambungan jarak jauh, kepada program “Kabar Pagi” tvOne, dia menyatakan ini bukan kali pertama Israel menggunakan senjata kimia itu untuk menyerang penduduk sipil di Gaza.
- Sosok yang Menyelamatkan Kyoto dari Bom Atom
“SAYA tidak ingin Kyoto dibom,” kata Sekretaris Perang Amerika Serikat, Henry L. Stimson kepada Jenderal Leslie R. Groves, perwira Korps Insinyur Angkatan Darat Amerika Serikat sekaligus direktur proyek pengembangan bom atom yang dikenal dengan Proyek Manhattan, ketika membahas beberapa kota di Jepang yang menjadi target bom atom pada akhir Mei 1945. “Saya tidak sepakat. Saya tidak suka Kyoto dijadikan sasaran,” ulang Stimson menegaskan pendiriannya. Beriringan dengan proyek pengembangan bom atom, Komite Target yang terdiri dari jenderal dan perwira militer, serta ilmuwan, bertugas menyusun daftar kota-kota yang menjadi target bom atom. Salah satu kota yang dianggap sempurna adalah Kyoto, ibu kota Jepang di masa lalu yang menjadi rumah bagi ribuan kuil Buddha dan Shinto serta dikenal sebagai pusat intelektual Jepang.
- Kyoto Lolos dari Bom Atom
PROYEK bom atom yang dikembangkan Amerika Serikat pada 1940-an dipandang sebagai pertaruhan yang penting. Sebab, di tengah Perang Dunia II, proyek yang diberi nama Proyek Manhattan itu menjadi harapan Amerika untuk mengalahkan Nazi Jerman dan mengakhiri perang. Awalnya, Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt dan para ajudan utamanya beranggapan bom atom akan menjadi senjata yang sah untuk digunakan pertama kali melawan Nazi Jerman. Namun, mereka berubah pikiran pada pertengahan tahun 1944 karena lanskap perang telah berubah. Memanasnya pertempuran di Pasifik membuat Roosevelt dan para penasihat utamanya melihat Jepang sebagai musuh utama atau lawan yang harus segera ditundukkan. Dengan demikian, target bom atom kini mengarah pada Jepang. “Pandangan ini muncul karena perang dengan Jerman tidak diragukan lagi akan berakhir jauh sebelum bom atom yang dikembangkan Amerika siap, sekitar musim semi 1945. Dalam sebuah memorandum rahasia pada September 1944 di Hyde Park, Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill meratifikasi pergeseran dari Jerman ke Jepang,” tulis Barton J. Bernstein dalam “The Atomic Bombings Reconsidered,” termuat di Foreign Affairs Vol. 74, No. 1 (Januari-Februari 1995).
- Napak Tilas di Tanah Perdamaian
DARI kota Beppu, saya bertolak menuju Nagasaki, wilayah barat Pulau Kyushu, Jepang. Setelah tiga kali berganti kereta, menghabiskan setengah jam perjalanan, saya akhirnya menginjakkan kaki di Nagasaki, kota yang terkenal dengan industri perkapalannya. Miniatur beragam kapal menyambut begitu tiba di stasiun JR Nagasaki Station. “Atomic Bomb wa doko des ka?” tanya saya kepada petugas informasi di stasiun mengenai lokasi jatuhnya bom atom. Sebetulnya, saya kurang percaya diri dengan bahasa Jepang yang saya pelajari secara kilat hanya dengan membaca kamus kecil di buku pedoman perjalanan ke Jepang. Karena petugas informasi itu tak fasih berbahasa Inggris, jadilah saya yang mengalah. “Kaite kuremasen ka?” pinta saya kepadanya untuk menuliskan bagaimana menuju ke sana.
- Kisah Gerilyawan dari Korea
PAGI baru saja menyeruak di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya, Garut, Jawa Barat. Hawa sejuknya bersanding dengan kehangatan cahaya matahari yang menyentuh bentangan rerumputan dan pohon-pohon hijau. Di sebuah sudut, seorang perempuan muda berwajah oriental terpaku di hadapan makam bernisan kelabu yang bertuliskan: Komaruddin/Yang Chil Sung. “Tadinya saya tak percaya ada orang Korea yang ikut berjuang demi kemerdekaan Indonesia, tapi inilah buktinya,” ujar Chae-eui Hong, perempuan muda tersebut, seorang jurnalis Korea Selatan. Baginya, sulit membayangkan seseorang rela mati ribuan kilometer dari kampung halamannya demi kemerdekaan bangsa lain. “Dia pasti punya alasan yang sangat istimewa,” ujarnya.
- Penutur Terakhir Bahasa yang Punah
CATATAN perjalanan Alexander von Humboldt, penjelajah sekaligus ahli geografi Jerman, berisi tentang kisah-kisah eksotis flora dan fauna serta interaksinya dengan suku-suku yang ditemuinya dalam ekspedisi ilmiah di benua Amerika. Tidak hanya itu, catatan itu juga memuat cerita tentang burung nuri tua yang diyakini sebagai penutur terakhir dari bahasa suatu suku yang telah punah. Humboldt mendengar cerita tentang burung nuri itu ketika mencari hulu Sungai Orinoco di Amerika Selatan pada awal abad ke-18. Dia bertemu sekelompok suku Indian yang memiliki beberapa burung nuri. Menariknya, salah satu burung nuri menuturkan kata-kata dalam bahasa asing. Penduduk lokal menyebut burung nuri itu menuturkan bahasa yang digunakan oleh suku Atures, kelompok masyarakat adat di Venezuela, yang telah punah. “Menurut cerita, von Humboldt tiba di desa tua suku Atures bernama Maypures. Dia dibawa dengan penerangan obor menuju penutur terakhir bahasa tersebut, yang ternyata berada di dalam sangkar... Di tengah bayang-bayang gubuk di Maypures, von Humboldt diperlihatkan seekor burung nuri yang bisa berbicara... Bahasa Atures telah punah di kalangan manusia. Bahasa itu terakhir kali terdengar dari paruh seekor burung,” tulis Shaylih Muehlmann dalam “Von Humboldt’s parrot and the countdown of last speakers in the Colorado Delta”, termuat di Language & Communication Volume 32, Issue 2, April 2012.
- Sepuluh Warisan Kolonial yang Meresahkan
KEMERDEKAAN Republik Indonesia sudah menyongsong dirgahayunya yang ke-78. Alam kolonialisme pun sudah cukup lama lenyap di Bumi Pertiwi. Akan tetapi secara sengaja atau tidak, sejumlah warisan kolonialisme Belanda itu masih eksis di tengah masyarakat Indonesia saat ini. Sejarawan Bonnie Triyana mengungkapkan pola-pola yang ada di zaman kolonialisme itu, masih bisa dirasakan, setidaknya dalam 10 aspek yang mendegradasi cara berpikir masyarakat. Terlebih pola-pola yang serupa tapi tak sama itu selama hampir delapan dekade terus bisa dikenali tanpa pernah dibatasi atau diputus. “Banyak hubungan kekuasaan institusional, sosial, dan budaya dapat ditelusuri kembali ke struktur dan budaya selama periode kolonialisme itu. Maka gerakan dekolonialitas untuk mengidentifikasi metode di mana cara-cara berpikir dan sistem pengetahuan Barat telah diuniversalkan dan menjadi penting untuk membongkar kolonialitas yang masih berlaku sampai sekarang,” ujar Bonnie pada pidato kebangsaan bertajuk “Apa yang Kita Warisi dari Kolonialisme?” dalam rangkaian Festival Seni Multatuli 2023 di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (16/6/2023) malam.
- A.W.V. Hinne, Sherlock Holmes dari Hindia Belanda
Sosok Adolf Wilhelm Verbond Hinne begitu populer di kalangan masyarakat Batavia pada awal abad ke-20. Selama lebih dari 20 tahunbertugas sebagai polisi di Batavia, ia turut andil dalam penangkapan tokoh-tokoh terkenal,salah satunya Si Pitung. Sebelum bertugas sebagai polisi di Batavia, pria kelahiranBorneo pada 1852 itu memulai kariernya di kantor Keresidenan Padang, Sumatra Barat. Ia juga pernah menjadi kepala kantor pos di Ternate dan penjaga hutan di Jawa Tengah. Menurut Margreet van Till dalam Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api, karier Hinne di kepolisian dimulai dari jabatan onderschout di wilayah Batavia, yakni di kawasan Tanah Abang. Kemunculannya sebagai polisi di Batavia terjadi pada 1887.
- Ujian Haji Masa Kolonial Belanda
JEMAAH dari berbagai wilayah di Indonesia telah berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Keberangkatan jemaah haji tahun ini dibagi duagelombang.Gelombang pertama berakhir pada 16 Juni 2023, sementara gelombang kedua mulaiberangkat tanggal 7 hingga 22 Juni 2023. Ibadah haji menjadi cita-cita bagi umat muslim di Nusantara sejak masa lampau. M. Dien Majid menulis dalam Berhaji di Masa Kolonial, pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20, jemaah haji dari berbagai wilayah di Nusantara berjumlah lebih dari 40 persen dari seluruh jemaah haji dari berbagai negara di dunia. Besarnya minat umat muslim Nusantara menunaikan ibadah haji menjadi sorotan pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir dapat mengganggu status quo mereka sebagai penguasa di wilayah koloninya. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menyusun sejumlah peraturan terkait pelaksanaan ibadah haji. Kees van Dijk dalam “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, termuat dalam Outward Appearances yang disusun oleh Henk Schulte Nordholt dan M. Imam Aziz, menyebut pada pertengahan abad ke-19 pihak Belanda sempat mempertimbangkan kemungkinan melarang penggunaan titel haji dan mencegah orang-orangyang telah melakukan perjalanan ke Tanah Suci memakai pakaian-pakaian khusus, yangdideskripsikan sebagai “kostum Muhammad dan turban”.





















