top of page

Hasil pencarian

Search this site

9957 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penutur Terakhir Bahasa yang Punah

    CATATAN perjalanan Alexander von Humboldt, penjelajah sekaligus ahli geografi Jerman, berisi tentang kisah-kisah eksotis flora dan fauna serta interaksinya dengan suku-suku yang ditemuinya dalam ekspedisi ilmiah di benua Amerika. Tidak hanya itu, catatan itu juga memuat cerita tentang burung nuri tua yang diyakini sebagai penutur terakhir dari bahasa suatu suku yang telah punah. Humboldt mendengar cerita tentang burung nuri itu ketika mencari hulu Sungai Orinoco di Amerika Selatan pada awal abad ke-18. Dia bertemu sekelompok suku Indian yang memiliki beberapa burung nuri. Menariknya, salah satu burung nuri menuturkan kata-kata dalam bahasa asing. Penduduk lokal menyebut burung nuri itu menuturkan bahasa yang digunakan oleh suku Atures, kelompok masyarakat adat di Venezuela, yang telah punah. “Menurut cerita, von Humboldt tiba di desa tua suku Atures bernama Maypures. Dia dibawa dengan penerangan obor menuju penutur terakhir bahasa tersebut, yang ternyata berada di dalam sangkar... Di tengah bayang-bayang gubuk di Maypures, von Humboldt diperlihatkan seekor burung nuri yang bisa berbicara... Bahasa Atures telah punah di kalangan manusia. Bahasa itu terakhir kali terdengar dari paruh seekor burung,” tulis Shaylih Muehlmann dalam “Von Humboldt’s parrot and the countdown of last speakers in the Colorado Delta”, termuat di Language & Communication Volume 32, Issue 2, April 2012.

  • Sepuluh Warisan Kolonial yang Meresahkan

    KEMERDEKAAN Republik Indonesia sudah menyongsong dirgahayunya yang ke-78. Alam kolonialisme pun sudah cukup lama lenyap di Bumi Pertiwi. Akan tetapi secara sengaja atau tidak, sejumlah warisan kolonialisme Belanda itu masih eksis di tengah masyarakat Indonesia saat ini. Sejarawan Bonnie Triyana mengungkapkan pola-pola yang ada di zaman kolonialisme itu, masih bisa dirasakan, setidaknya dalam 10 aspek yang mendegradasi cara berpikir masyarakat. Terlebih pola-pola yang serupa tapi tak sama itu selama hampir delapan dekade terus bisa dikenali tanpa pernah dibatasi atau diputus. “Banyak hubungan kekuasaan institusional, sosial, dan budaya dapat ditelusuri kembali ke struktur dan budaya selama periode kolonialisme itu. Maka gerakan dekolonialitas untuk mengidentifikasi metode di mana cara-cara berpikir dan sistem pengetahuan Barat telah diuniversalkan dan menjadi penting untuk membongkar kolonialitas yang masih berlaku sampai sekarang,” ujar Bonnie pada pidato kebangsaan bertajuk “Apa yang Kita Warisi dari Kolonialisme?” dalam rangkaian Festival Seni Multatuli 2023 di Pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (16/6/2023) malam.

  • A.W.V. Hinne, Sherlock Holmes dari Hindia Belanda

    Sosok Adolf Wilhelm Verbond Hinne begitu populer di kalangan masyarakat Batavia pada awal abad ke-20. Selama lebih dari 20 tahunbertugas sebagai polisi di Batavia, ia turut andil dalam penangkapan tokoh-tokoh terkenal,salah satunya Si Pitung. Sebelum bertugas sebagai polisi di Batavia, pria kelahiranBorneo pada 1852 itu memulai kariernya di kantor Keresidenan Padang, Sumatra Barat. Ia juga pernah menjadi kepala kantor pos di Ternate dan penjaga hutan di Jawa Tengah. Menurut Margreet van Till dalam Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit, dan Senjata Api, karier Hinne di kepolisian dimulai dari jabatan onderschout di wilayah Batavia, yakni di kawasan Tanah Abang. Kemunculannya sebagai polisi di Batavia terjadi pada 1887.

  • Ujian Haji Masa Kolonial Belanda

    JEMAAH dari berbagai wilayah di Indonesia telah berangkat menuju Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Keberangkatan jemaah haji tahun ini dibagi duagelombang.Gelombang pertama berakhir pada 16 Juni 2023, sementara gelombang kedua mulaiberangkat tanggal 7 hingga 22 Juni 2023. Ibadah haji menjadi cita-cita bagi umat muslim di Nusantara sejak masa lampau. M. Dien Majid menulis dalam Berhaji di Masa Kolonial, pada akhir abad ke-19 dan awal abad 20, jemaah haji dari berbagai wilayah di Nusantara berjumlah lebih dari 40 persen dari seluruh jemaah haji dari berbagai negara di dunia. Besarnya minat umat muslim Nusantara menunaikan ibadah haji menjadi sorotan pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir dapat mengganggu status quo mereka sebagai penguasa di wilayah koloninya. Oleh karena itu, pemerintah kolonial menyusun sejumlah peraturan terkait pelaksanaan ibadah haji. Kees van Dijk dalam “Sarung, Jubah, dan Celana: Penampilan sebagai Sarana Pembedaan dan Diskriminasi”, termuat dalam Outward Appearances yang disusun oleh Henk Schulte Nordholt dan M. Imam Aziz, menyebut pada pertengahan abad ke-19 pihak Belanda sempat mempertimbangkan kemungkinan melarang penggunaan titel haji dan mencegah orang-orangyang telah melakukan perjalanan ke Tanah Suci memakai pakaian-pakaian khusus, yangdideskripsikan sebagai “kostum Muhammad dan turban”.

  • Cara Kolonial Bangun IKN

    KEHEBOHAN terjadi lagi di Indonesia. Biang keroknya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2024 tentang Percepatan Pembangunan Ibukota Nusantara. Pasalnya, ada sebuah jaminan yang di luar kebiasaan di dalamnya. “Otorita Ibu Kota Nusantara memberikan jaminan kepastian jangka waktu hak atas tanah melalui 1 (satu) siklus pertama dan dapat dilakukan pemberian kembali 1 (satu) siklus kedua kepada Pelaku Usaha, yang dimuat dalam perjanjian,” demikian bunyi pasal 9 ayat 1 Perpres tersebut. Ayat 2 pasal tersebut kembali menjelaskan durasi hak guna usaha. “Hak guna usaha untuk jangka waktu paling lama 95 (sembilan puluh lima) tahun melalui 1 (satu) siklus pertama dan dapat dilakukan pemberian kembali untuk 1 (satu) siklus kedua dengan jangka waktu paling lama 95 (sembilan puluh lima) tahun berdasarkan kriteria dan tahapan evaluasi.”

  • Malpraktik Dukun Zaman Kolonial

    PENYAKIT gondok di leher membuat Mbok Catem, warga Desa Singaparna, Kecamatan Bumiayu, Brebes, tak bisa tinggal diam. Upaya penyembuhan ditempuhnya dengan mendatangi dukun kampungnya. Di era Hindia Belanda itu, tepatnya pada 1931, kebanyakan orang pribumi lebih mempercayakan kesembuhan mereka pada dukun ketimbang dokter. Adalah Ahmad yang menjadi dukun kampung tempat Mbok Catem tinggal. Koran De Locomotief, 6 Februari 1931 menyebut, dukun Ahmad punya keahlian dalam “menyembuhkan kaki dan tangan yang patah, mengusir setan, singkatnya, membuat manusia semakin sakit dan dalam melakukannya bahkan menyembuhkan pasien.” Kepada dukun Ahmad, Mbok Catem pun meminta penyembuhan gondok yang dideritanya. Dukun Ahmad yang yakin bisa menyembuhkan penyakit itu lalu memilih operasi sebagai jalan keluar terbaik buat menyembuhkan gondok itu.

  • Kolonialis Belanda Membuka Pertambangan Pertama

    DALAM pidato sambutannya di pembukaan Indo Defence 2025 Expo & Forum pada Rabu (11/6/2025) lalu, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan pertahanan jadi jaminan terhadap kesejahteraan dan kedaulatan. Sejarah sudah membuktikannya. Saat masih dijajah, bangsa Indonesia kehilangan lebih dari Rp500 kuadriliun. “Baru ada suatu riset beberapa minggu lalu yang menceritakan bahwa selama menjajah kita, Belanda telah mengambil kekayaan kita senilai –dengan uang sekarang– 31 triliun dolar Amerika (setara Rp505 kuadriliun, red.). Produksi domestik bruto kita sekarang 1,5 triliun dolar (setara Rp24,4 triliun). Berarti kekayaan yang diambil dari bangsa Indonesia sama dengan mungkin 18 kali produksi bangsa Indonesia, 18 kali GPD kita, atau sama dengan kurang lebih 140 tahun anggaran kita. Dan selama menduduki Indonesia, Belanda menikmati GPD per kapita nomor satu di dunia,” ujar Presiden Prabowo dalam salinan pidatonya, dilansir laman resmi Sekretariat Negara, Rabu (11/6/2025). Namun, Presiden Prabowo tak menguraikan lebih jauh riset yang dikutipnya. Atau setidaknya, riset periode kapan. Apabila dikaitkan dengan fakta historis, pernyataannya bisa melenceng dari kebenaran. Terlebih, beberapa waktu belakangan terdapat keraguan bahwa bangsa Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun. Sebab, hitungan itu diambil dari awal kedatangan bangsa Belanda, yakni ekspedisi De Houtman Bersaudara pada 1596.

  • Perlawanan Muhammadiyah terhadap Penyelenggaraan Haji Kolonial

    MUSIM haji 1926 baru saja berakhir dan haji dari Hindia Belanda mulai pulang ke tanah air. Salah satunya adalah Haji Muhamad Sudjak (1885-1962) dari Yogyakarta. Selain terkenal dalam dunia perdagangan dan industri di Yogyakarta, ia juga terkenal intelek. Faktor terakhir inilah yang kemudian ikut membuat pengalamannya berhaji dikorek. Pasalnya, kekritisannya di masa karantina membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda selaku penyelenggara haji “kebakaran jenggot”. Di masa itu, para haji dikarantinakan di Pulau We (Sabang) di Aceh dan Pulau Onrust di Teluk Jakarta sebelum mencapai daerah masing-masing. Pelayanan administrasi, makanan dan lain-lainnya selama di karantina itu dianggap buruk oleh Haji Soedjak. Baik di Sabang maupun di Onrust.

  • Para Pionir Wasit Perempuan

    SOSOK bersenjata peluit dengan jersey biru sendiri di dalam duel dua tim di lapangan hijau itu pasti memiliki fisik dan stamina prima. Selain mesti berlari mengikuti ke mana bola pergi dengan jarak maksimal 20 yard (18 meter) dari bola sepanjang laga, ia berani dan tegas. Itulah Stéphanie Frappart, wasit yang memimpin laga terakhir Grup E antara Kosta Rika kontra Jerman pada 1 Desember 2022. Kehadiran Frappart di Ahmad bin Ali Stadium itu jadi momen bersejarah bagi kaum perempuan. Untuk pertamakalinya dalam 92 tahun dan 942 pertandingan dalam catatan sejarah Piala Dunia, wasit perempuan memimpin pertandingan. Di momen bersejarah itu, Frappart tak hanya sendiri. Wasit kelahiran Le Plessis-Bouchard, Prancis pada 38 tahun silam itu ditemani duet hakim garis yang juga perempuan, Neuza Ines Back dari Brasil dan Karen Díaz Medina asal Meksiko.

  • Awal Mula Wasit Meniup Peluit dalam Pertandingan Sepakbola

    WASIT memainkan peran penting dalam pertandingan sepakbola. Selama pertandingan berlangsung, sang pengadil melakukan tugasnya mulai dari memulai, menghentikan, menunda, sampai mengakhiri pertandingan. Wasit harus memastikan pertandingan berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku. Dalam sejarah sepakbola, wasit pertama kali hadir di lapangan diperkirakan pada 1841 kala klub Body-Guards berhadapan dengan Fear-Noughts di kota Rochdale, Inggris. Luciano Wernicke dalam Mengapa Sebelas Lawan Sebelas? Dan Serba-Serbi Sejarah Sepak Bola Lainnya menyebut kedua tim tersebut memutuskan untuk bertaruh segentong jenewer dan sejumlah uang. Sebelum pertandingan digelar, masing-masing tim menunjuk seorang wasit ditambah orang ketiga yang dianggap netral.

  • Wasit yang Tak Mempan Digoda Suap

    SEJAK dibentuk Polri pada pertengahan Januari 2019, Satgas Antimafia Sepakbola sudah menetapkan 16 tersangka match fixing alias pengaturan skor. Selain para pengurus PSSI dan klub, enam di antaranya merupakan perangkat pertandingan, baik wasit maupun Komite Wasit hingga Direktorat Penugasan Wasit PSSI. Hampir di semua skandal suap dan pengaturan skor yang terjadi dalam sepakbola di berbagai penjuru dunia, keterlibatan perangkat pertandingan senantiasa hadir. Di Indonesia, perkara yang berembus kencang pascaprogram “Mata Najwa” akhir tahun lalu itu sejatinya bukan barang baru. Makanya, Kosasih Kartadiredja geleng-geleng kepala kendati tidak kaget. “Dari dulu itu mah. Di zaman saya juga sudah marak pengaturan skor, tapi cukong-cukong orang Tionghoa itu pelakunya,” ujar Kosasih saat ditemui Historia di kediamannya di Cikole, Sukabumi pada 12 Februari 2019.

  • Wasit Pemberani Bernama Tjen A. Kwoei

    KEBANYAKAN orang tentu tak asing dengan permainan basket yang setiap regu beranggotakan lima pemain. Pertandingan olahraga ini diselenggarakan terpisah untuk putra dan putri. Meski begitu, ada olahraga yang serupa dengan basket namun di setiap regu terdapat pemain pria dan wanita. Cabang olahraga itu adalah bola keranjang atau korfball. Sesuai namanya, korf dalam bahasa Belanda berarti keranjang, dan bal berarti bola, cabang olahraga ini berasal dari Negeri Kincir Angin yang diperkirakan munculawal abad ke-20. Adrian Room, ahli toponimi dan onomastik dari Inggris, menulis dalam Dictionary of Sports and Games Terminology, permainan asal Belanda yang menyerupai bola basket itu dimainkan oleh dua tim beranggotakan delapan orang, dengan tujuan mencetak gol ke dalam keranjang gantung yang terbuat dari anyaman rotan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page