Hasil pencarian
Search this site
9957 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Besi dan Nama Sulawesi
DALAM wilayah Republik Indonesia, Sulawesi termasuk satu dari lima pulau terbesar. Kini ada enam provinsi di dalamnya: Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Di zaman Hindia Belanda, pulau ini tak disebut sebagai Sulawesi oleh penguasa. Pemerintah Hindia Belanda menyebutnya Celebes. Penggunaan sebuatan itu terus meluas hingga perkumpulan pemuda asal Sulawesi semasa pergerakan nasional menamakan dirinya Jong Celebes (Pemuda Celebes atau Sulawesi). Secara biodiversity, Sulawesi dianggap sebagai daerah peralihan antara daerah berfauna Asia dan daerah berfauna Australia. Adalah Max CW Weber, zoologis Jerman, yang –meneliti setelah Afred Russel Walace– mengkategorisasikannya demikian.
- Orang Hokian di Pusat Borneo
KOTA Sampit dibekap mendung senja itu. Air Sungai Mentaya berwarna kecoklat-coklatan, tanda hujan sudah mulai turun di hulu. Beberapa bocah yang sedang berenang segera merapat ke pinggir. Di Pelabuhan Sampit, orang-orang yang tengah berniaga masih saja ramai. Sekelompok pedagang nampak masih asyik beradu harga dengan para pembelinya. Mereka sebagian besar adalah orang Tionghoa. Menurut Wahyudi Kaspul Anwar, orang-orang Tionghoa sudah ada di Sampit sejak ratusan tahun yang lalu. Bahkan kata salah satu tokoh masyarakat kota yang masuk dalam wilayah provinsi Kalimantan Tengah tersebut, istilah “sampit” sendiri sejatinya berasal dari kata “sam” dan “it” yang bermakna angka “31”. Itu merujuk kepada 31 perantau Tionghoa asal Hokian (Fujian) yang kali pertama datang ke Sampit. “Mereka datang ke sini tadinya hanya untuk sekadar mencari penghidupan yang lebih baik, namun malah akhirnya membuat loji sendiri,”ungkap mantan Bupati Kotawaringin Timur itu.
- Kenapa Kalimantan Disebut Borneo?
ALKISAH, berlayarlah sebuah kapal bernama Borneo dengan kapten kapalnya bernama De Barito. Namun dalam perjalanannya, kapal itu karam di pulau bernama Kambang (kini terletak di tengah Sungai Barito, Kalimantan Selatan). Dari situlah kemudian nama kapal itu dijadikan nama pulau tempat karamnya kapal tersebut, Borneo. Lalu, sungai tempat Pulau Kambang berada, yang melintas di Pulau Borneo atau Kalimantan, dinamakan pula Sungai Barito. Begitulah cerita rakyat yang beredar secara turun-temurun. Beberapa ahli menyebut Borneo justru berasal dari kata “Brunei” atau “Burney”. Brunei adalah daerah yang terletak di sisi utara Kalimantan, yang kini merupakan sebuah negara berdaulat dengan nama Brunei Darussalam. Slamet Muljana dalam Sriwijaya mencatat bahwa Brunei terkait dengan kata “Porunai”. Nama ini terkait dengan kisah koloni dari orang India Selatan di sekitar daerah tersebut. Di daerah asalnya, ada sungai bernama Travancore, belakangan disebut Tamiraparani. Slamet Muljana kurang setuju dengan pendapat GTM McBryan bahwa Brunei berasal dari kata “Burni", bahasa Sansekerta yang artinya kesibukan.
- Asal Nama Wakatobi
WAKATOBI dikenal sebagai kawasan yang memanjakan mata para penyelam. Dengan taman lautnya, Wakatobi punya pemandangan bawah laut nan elok. Sebagai daerah kepulauan yang bukan “baru kemarin dibuka”, Wakatobi tentu punya sejarah. Bahkan, sudah ratusan tahun sejarahnya. Namun, jangan berharap bisa menemukan nama Wakatobi dalam teks sejarahnya lantaran nama Wakatobi bukan nama awal kepulauan ini. Sejarah kepulauan tersebut terkait dengan negeri bernama Hitu di daerah Leihitu, Pulau Ambon. Pada tahun 1643 hingga 1646, Hitu berperang melawan maskapai dagang Belanda Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Namun Hitu kalah.
- Asal Nama Bengkulu
MINIM pemberitaan tak berarti Bengkulu, salah satu provinsi di pantai barat Sumatra, tak punya berita. Tentu ada berita yang positif, ada pula yang negatif. Salah satu berita positif dari Bengkulu baru-baru ini adalah industri batik khas Bengkulu yang terus menggeliat. Batik Besurek, demikian nama batik khas Bengkulu, kini kian berkembang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi corak (kualitas), misalnya, motif yang ada pada batik besurek terus berkembang. Tak lagi bunga rafflesia semata, motif-motif baru terus bermunculan pada desain batik besurek sehingga variatif dan menarik minat orang.
- Siapakah Kakek Menpora Dito Ariotedjo?
PADA 3 April 2023 lalu, Presiden Joko Widodo melantik Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) yang baru, Ario Bimo Nandito Ariotedjo, atau biasa disapa Dito Ariotedjo, untuk menggantikan Zainudin Amali yang mengundurkan diri setelah terpilih sebagai wakil ketua umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) berusia 32 tahun tersebut menjadi menteri termuda dalam Kabinet Indonesia Maju setelah sebelumnya disandang Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Menristekdikti) Nadiem Makarim (35). Dito memiliki beberapa rekam jejak dan pengalaman di bidang olahraga, di antaranya sebagai Chef de Mission (CdM) kontingen Indonesia pada gelaran Youth Olympic Games 2018 di Buenos Aires, Argentina, serta bekerja sama dengan artis Raffi Ahmad membentuk RANS Sport dan menjabat sebagai chairman RANS Nusantara FC dan RANS PIK Basketball. Keluarga Dito pun tak luput dari sorotan setelah diketahui bahwa ia adalah putra bungsu dari Arie Prabowo Ariotedjo, mantan direktur utama PT Aneka Tambang (Antam) dan cucu dari Marsekal Madya TNI (Purn.) Sri Bimo Ariotedjo.
- Penduduk Belanda Melawan Nazi dengan Bunga
SATU per satu penduduk Belanda berdatangan ke Istana Noordeinde di Den Haag, Belanda, pada 29 Juni 1940 untuk merayakan ulang tahun Pangeran Bernhard. Ini merupakan ulang tahun pertama anggota keluarga kerajaan sejak Belanda diduduki Nazi Jerman. Kedatangan penduduk Belanda tidak untuk menemui anggota kerajaan, karena istana sudah tidak lagi ditinggali oleh Ratu Wilhelmina, Pangeran Bernhard, dan Putri Juliana. Ketiganya telah diungsikan ke London, Inggris, ketika Jerman menginvasi Belanda pada Mei 1940. Oleh karena itu, meski tetap ramai seperti tahun-tahun sebelumnya, penduduk hanya menandatangani buku ucapan selamat yang telah disediakan di area istana. Sementara itu, kabar mengenai rencana demonstrasi besar-besaran untuk menentang pendudukan membuat Jerman memberlakukan sejumlah larangan menjelang peringatan ulang tahun Pangeran Bernhard.
- Persiapan KAA, Gubernur Jawa Barat Bersiap Total
SANOESI Hardjadinata, gubernur Jawa Barat (1951-1957), rupanya ingin menjadi tuan rumah yang baik dalam perhelatan KAA. Demi kesuksesan hajatan bangsa-bangsa Asia-Afrika itu, Sanusi membentuk tim panitia lokal pun yang diketuai dirinya sendiri. Tim panitia lokal itu beranggotakan 14 orang dari lingkungan pemerintahan provinsi Jawa Barat. Tugas tim panitia lokal KAA meliputi persiapan akomodasi, ruangan rapat, kendaraan, telekomunikasi, alat keperluan konferensi, hingga urusan konsumsi bagi para delegasi KAA. Ada 14 hotel, 15 tempat istirahat swasta, 8 gedung pemerintah dan 8 rumah milik Palang Merah Indonesia disediakan untuk menampung 1.300 peserta KAA.
- A.A. Maramis dari Pendudukan Jepang Hingga Menjadi Anggota BPUPK
MENJADI orang kulit putih atau memiliki anggota keluarga berkulit putih adalah nasib buruk pada masa pendudukan Jepang. Jepang mengambil sikap keras pada orang-orang Eropa ataupun yang telah bercampur dengan anak negeri. Orang Eropa dan Indo jadi pariah. Dipites seolah caplak. Diinjak serupa kecoa. Di Jakarta, Jepang menyita rumah-rumah orang Belanda di kawasan Cideng. Rumah-rumah itu jadi tempat tahanan bagi perempuan sipil, anak-anak perempuan, dan anak lelaki berusia di bawah 10 tahun dari berbagai bangsa Eropa. Laki-laki sipil dewasa dan berusia di bawah 10 tahun ditempatkan secara terpisah. Mereka semua disebut interniran. Ditahan di area pagar kawat berduri dua meteran. Penjara seperti ini tersebar di beberapa tempat di Jawa. Bahkan sampai ke luar Indonesia. Yang di luar Indonesia ditujukan untuk personil militer atau aparatur pemerintahan Belanda.
- Kisah Bolang Melawan Jepang
KETIKA balatentara Jepang mendarat pada awal 1942, serdadu KNIL Frederik Bolang alias Fred Bolang bertugas di kesatuan Batalyon Garnisun Kalimantan Barat. Waktu itu, KNIL tidak berdaya, sehingga Hindia Belanda dengan mudah diambil alih balatentara Jepang. Wilayah Kalimantan ditetapkan sebagai bagian dari Armada Selatan Kedua Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun). Bolang termasuk serdadu KNIL yang menjadi tawanan perang Jepang. Namanya tercatat dalam kartu tawanan perang Jepang koleksi Arsip Nasional Belanda. Di situ tertera F.M. Bolang lahir pada 10 November 1919 dan berasal dari Kampung Kawangkoan, Tonsea, Keresidenan Manado. Dia adalah anak dari N. Bolang dan K.A. Makatuuk. Bolang ditahan selama dua tahun di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Kuching, Serawak, Malaysia. Dia lalu dipekerjakan sebagai Heiho (pembantu tentara) atau romusha (pekerja paksa) oleh militer Jepang. Dia dan beberapa kawannya berhasil melarikan diri.
- I Was There When Hiroshima Was Bombed
HIROSHIMA, 6 August 1945. That early morning, Hasan Rahaya with his three other colleagues were sitting in a lecture room. They could hear the siren signaling all clear, a sign that the U.S. aircraft had crossed the sky. The students were ready for their Physics class. The lecturer, an elderly man with a bald head, had just scribbled a few letters on the board when a blinding flash blasted the window. Hasan turned his head to the sudden intrusion. Without warning, his body darted off, smashed into the ceiling, and fell to the ground. The ceiling above him was the next to crumble, dropping a piano from the upper floor that hit Hasan’s head. Blood instantly gushed, and the shock knocked him unconscious. Fortunately, it was that same piano that shielded his life from the deadly wreckage. A few minutes later, Hasan woke up with excruciating pain weighing his head down. His skin was completely covered in ashes. He attempted to stand, clearing the debris around the piano and his body. It appeared that the surrounding buildings of Hiroshima University, his campus, had all shattered, leaving behind a mere part of the main building.
- Yang Tertinggal di Hiroshima
HIROSHIMA, 6 Agustus 1945. Pagi itu, Hasan Rahaya bersama tiga mahasiswa lainnya berada di ruang kuliah. Suara sirene tanda aman sudah terdengar; pertanda pesawat udara Amerika sudah melintas. Mereka siap mengikuti pelajaran fisika. Dosen mereka, seorang tua berkepala plontos, baru mulai menulis beberapa huruf di papan tulis ketika cahaya seperti kilat menyambar dari arah jendela. Hasan menoleh ke jendela. Tiba-tiba tubuhnya terpelanting, menghantam langit-langit, lalu jatuh ke lantai. Menyusul kemudian langit-langit ambrol. Sebuah piano terjatuh dari lantai atas mengenai kepalanya. Darah mengucur. Dia pingsan. Tapi berkat piano itu pula dia terlindung dari reruntuhan. Beberapa menit kemudian, Hasan siuman. Kepalanya sakit luar biasa. Kulitnya tertutup debu. Dia mencoba bangkit, menyingkirkan puing-puing bangunan dari sekitar piano dan tubuhnya. Dia melihat bangunan Universitas Hiroshima, kampusnya, luluh lantak. Hanya tersisa sedikit bangunan utama.




















