top of page

Hasil pencarian

9874 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pattimura Pernah Jadi Tentara Inggris

    KETIKA Inggris kembali menjadi penguasa tunggal Maluku, rakyat diatur dalam suasana kebebasan. Inggris belajar atas kesalahan mereka di masa lalu, juga melihat kebijakan pemerintahan Belanda sebelumnya yang berhasil menyulut reaksi rakyat untuk melawan. Dampak pemerintahan baru Inggris di Maluku dinilai baik oleh semua kalangan. Rakyat tidak merasa adanya tekanan dari penguasa lama yang kembali tersebut. Hal itu dirasakan juga oleh Thomas Mattulesi dan teman-teman seperjuangannya di Lease, Kepulauan Maluku bagian tengah. Sesekali ia memanfaatkan kelonggaran peraturan pemerintah Inggris itu untuk bekayuh ke Ambon, mencari informasi sebanyak-banyaknya dari pusat pemerintahan Inggris di Maluku. “Kebebasan ini, terutama kebebasan kaum muda di seluruh negeri, nantinya mempunyai akibat buruk bagi Belanda yang kembali lagi sesudah pemerintah Inggris berakhir,” kata I. O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura.

  • Tentara Gurkha Teriak Merdeka

    LELAKI Nepal itu bernama Basin. Dia anggota British India Army (BIA) dari Batalyon 3/3 Gurkha Rifles Divisi ke-23 The Fighting Cock (Divisi Ayam Jago). Tahun 1945, Basin bersama rekan-rekannya ditugaskan untuk mengamankan jalur sepanjang Cianjur-Bandung dari para gerilyawan Indonesia. Akhir Maret 1946, Yon 3/3 Gurkha Rifles terlibat dalam pertempuran brutal dengan para gerilyawan Indonesia di tebing Ciranjang dekat Sungai Cisokan. Korban pun berjatuhan di kedua belah pihak. Lima tentara Gurkha menjadi tawanan perang termasuk Prajurit Basin. “Mereka kemudian kami amankan di suatu tempat, tetapi kami perlakukan secara manusiawi,” ujar Raden Makmur (93), eks gerilyawan Indonesia asal Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI).

  • Perkelahian Tentara Gurkha dengan Pejuang Indonesia

    AWAL 1946. Jalur Jakarta-Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung kerap dilalui hilir-mudiknya konvoi pasukan Sekutu (Inggris) dari kesatuan British Indian Army (BIA). Pengerahan pasukan secara besar-besaran itu dilakukan guna mengawal pengiriman kebutuhan logistik untuk ribuan prajurit Inggris dan 60.000 bekas tahanan perang Jepang di Bandung. “Pengiriman dari Jakarta itu kerap berjalan tersendat-sendat karena para pejuang RI tidak pernah membiarkan upaya itu berjalan lancar,” ungkap R.H.A. Saleh dalam Mari Bung Rebut Kembali! Terganggunya jalur lalu lintas utama itu otomatis mempengaruhi juga keadaan prajurit-prajurit BIA yang menempati pos-pos sepanjang Cianjur-Ciranjang-Bandung. Tak jarang pasokan logistik terlambat hingga seminggu.

  • Wartawan Jadi Tentara Gurkha Dadakan

    SETELAH menempuh perjalanan panjang, Rosihan Anwar dan Soedjatmoko tiba di Yogyakarta. Mereka baru saja selesai meliput Konferensi Malino dari Makassar. Rencananya hasil reportase itu akan disampaikan kepada Presiden Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta. “Setibanya di Stasiun Tugu, Yogya, saya bergegas ke Hotel Merdeka di Jalan Malioboro, saya jijnjing kopor pakaian dan saya kepit gulungan tikar sembahyang,” tutur Rosihan dalam Musim Berganti: Sekilas Sejarah Indonesia 1925—1950. Pada waktu itu Rosihan adalah redaktur yang bernaung di bawah harian Merdeka, media berhaluan nasionalis di masa revolusi. Menurut Rosihan keadaan di hotel kurang terpelihara karena banyak tamu yang datang silih berganti. Beruntung Rosihan masih mendapat kamar meskipun harus berbagi dengan Charles Tambu, pemimpin redaksi suratkabar berbahasa Inggris Independen. Saat itu, Charles Tambu menghindari kejaran tentara Belanda, mengungsi ke Yogya dan diperbantukan di Kementerian Penerangan.

  • Profil Pahlawan Revolusi: MT Haryono, Calon Dokter yang Memilih Jadi Tentara

    SEJATINYA, Mas Tirtodarmo (MT) Haryono bercita-cita menjadi dokter. Namun, Perang Kemerdekaan memaksanya putar haluan menjadi tentara. Profesi inilah yang membingkai namanya menjadi Pahlawan Revolusi. MT Haryono lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 20 Januari 1924. Ayahnya, Mas Harsono Tirtodarmo, merupakan asisten wedana di Gresik pada masa penjajahan Belanda. Pada 1924, Mas Harsono mendapatkan tugas menjadi jaksa di Sidoarjo. Ia pun memboyong istrinya, Alimah, yang sedang mengandung Haryono. Dalam perjalanan dari Gresik ke Sidoarjo itulah Haryono lahir.

  • Badai Tentara Merah Menyapu Pasukan Baja Jerman

    SEMALAMAN Heinz Otto Fausten berjuang mati-matian melawan cuaca minus 30 derajat Celcius yang membekukan tubuh di tengah Operasi Barbarossa (invasi Jerman Nazi atas Uni Soviet). Bersama beberapa rekannya di batalyon intai panzergrenadier Divisi Lapis Baja ke-7, Fausten berdiam di sebuah kantung pertahanan di tepi barat stasiun dan Kanal Moskow-Volga. Titik itu merupakan posisi terdekat pasukan Jerman dari gerbang barat kota Moskow yang berjarak 30 kilometer dari Kremlin, pusat pemerintahan komunis Uni Soviet. Fausten berharap pagi 5 Desember 1941 membawakan sedikit kehangatan dari sinar mentari. Namun apa lacur, mata prajurit panzergrenadier (infantri mekanis) Jerman itu justru melihat gelombang manusia dari pihak musuh. “Kanal Moskow-Volga terhampar di hadapan kami dan di seberang tepiannya, terdapat gelombang pasukan Rusia yang tiba-tiba datang. Banyaknya jumlah mereka membuat kami tak bisa berkata-kata. Barisan mereka bergerak tanpa ujung, serdadu yang naik ski dengan mantel putih mereka. Ada juga barisan tank dan unit-unit artileri serta kendaraan tempur lain yang tak terhingga jumlahnya. Dari mana datangnya mereka?” kenang Fausten dikutip David Stahel dalam The Battle for Moscow.

  • Tentara Rusia di Kapal Selam Indonesia

    ANGGOTA Korps Hiu Kencana memanggilnya: Pak Zukov. Orangnya tidak begitu tinggi namun memiliki wajah keras khas Rusia. Berbeda dengan penampakan luarnya yang garang, Zukov yang konon merupakan seorang perwira Angkatan Laut Uni Soviet (soal itu memang sengaja dirahasiakan) keseharian-nya sangat ramah. “Dia mengajarkan saya banyak hal tentang dunia kapal selam, terutama mengenai detil yang terkait dengan kapal selam kelas Whiskey yang memang dibuat Uni Soviet,” ungkap Laksda TNI (Purn) I Nyoman Suharta, eks awak kapal selam Korps Hiu Kencana TNI-AL angkatan awal. Zukov adalah salah satu dari sekira 300 anggota AL Uni Soviet yang sempat “ditugaskan” untuk mengawaki 6 kapal selam jenis Whiskey yang dibeli Indonesia. Ceritanya, sekira Juni 1962, pihak intelijen Indonesia menginformasikan HNMLS Karel Doorman milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda sudah memasuki perairan Irian. Kapal induk yang memiliki nomor lambung R81 itu khusus datang dari pangkalan mereka di Den Helder demi memperkuat pertahanan laut militer Belanda di wilayah Irian Barat (sekarang Papua).

  • Tentara Rusia di Pesawat Tempur Indonesia

    SUATU hari di tahun 1962. Beberapa prajurit Resimen Tempur ke-831 dipanggil secara mendadak ke Moskow. Di depan para anggota Angkatan Udara Uni Soviet itu, seorang petinggi militer bernama Letnan Jenderal A.F. Semyonov mengumumkan bahwa dalam waktu beberapa hari ke depan mereka akan ditugaskan di suatu tempat yang merupakan salah satu titik konflik di dunia. “Dia tidak menyebut tempat atau nama negara mana pun saat itu kepada kami. Yang jelas wilayah yang akan dituju, kata dia, memiliki perbedaan adat istiadat dan cuaca yang sangat berbeda dengan negara kami,” ungkap K. Dimitriev, seperti dikutip oleh sejarawan militer Uni Soviet Alexander Okorokov dalam buku Тайные войны СССР (Perang Rahasia Uni Soviet). Beberapa hari kemudian, Dimitriev dan kawan-kawannya sudah berada di pesawat sipil Ilyushin-18 (Il-18). Setelah transit di Tashkent, New Delhi dan Rangoon, mereka belum juga mendapatkan kepastian akan menuju negara mana. Barulah ketika pesawat lepas landas, di atas Rangoon, kopilot memberikan kepada mereka masing-masing sebuah amplop.

  • Senembah Tan Malaka

    NUN jauh di Zurich, Swiss sana, terdapat bangunan megah bernama Villa Patumbah. Nama villa itu tak berbau Eropa, melainkan mirip nama sebuah daerah di Sumatra Utara. Villa itu dibantung Karl Fürchtegott Grob (1830-1893) setelah dia kaya sepulang dari Sumatra. Selagi muda, Grob merupakan lelaki yang putus sekolah lalu mengadu peruntungan dengan menjadi pedagang. Mula-mula dia pergi ke Messina, di sekitar pulau Sisilia, Italia. Di sana dia mengenal Hermann Naeher. Keduanya lalu bersatu dalam Firma Grob & Naeher. Kabar kesuksesan penanaman tembakau di Deli sampai kepada mereka sekitar tahun 1869. Mereka pun berangkat ke Medan. Mula-mula seorang Swiss bernama Albert Breker menampung mereka untuk sementara waktu di sekitar Medan. Breker adalah pendiri perkebunan yang dikenal sebagai Onderneming Halvetia. Sampai Kesultanan Serdang memberi mereka kesempatan.

  • Kentang dalam Karamnya Kapal Selam Jepang

    PERTEMPURAN pasukan Amerika Serikat dan Jepang di Pasifik pada masa Perang Dunia II tak hanya melahirkan beragam kisah heroik, tetapi juga legenda yang menarik perhatian. Salah satu legenda yang banyak dibicarakan adalah peran kentang dalam karamnya kapal selam Jepang pada April 1943. Ketika itu, kapal perang Amerika Serikat, USS O’Bannon (DD-450) tengah berlayar kembali ke pangkalan setelah terlibat dalam kampanye militer di Kepulauan Solomon. Kapal itu berlayar di tengah malam dan bertemu kapal selam Jepang, RO-34. Menurut Glenn M. Hardin dan James W. Grace dalam “Depth Charges, Rods, and Spuds!”, termuat di majalah Naval History Volume 19, Nomor 3, Juni 2005, saat itu wilayah operasi kapal O’Bannon adalah The Slot, sebuah jalur yang sangat diperebutkan di tengah Kepulauan Solomon, tempat pasukan Angkatan Laut AS berjuang melawan Armada Gabungan Jepang untuk memperebutkan kendali. “Dalam hal pertempuran di Perang Dunia II, O’Bannon tidak main-main. Baik saat menembakkan peluru ke arah pesawat musuh yang mendekat maupun saat menghadapi kapal perang Jepang Hiei dalam Pertempuran Laut Guadalcanal, kapal ini menyerang dengan segenap kemampuannya. Hal serupa terjadi pada April 1943, ketika kapal ini mengerahkan seluruh senjatanya untuk menyerang kapal selam musuh,” tulis Hardin dan Grace. O’Bannon merupakan kapal perusak kelas Fletcher yang dilengkapi dengan tujuh belas meriam antipesawat, torpedo, bom kedalaman, dan meriam untuk melumpuhkan lawan. Kapal ini disebut sebagai mesin maut yang mengapung. Menariknya, dalam legenda pertempuran di Pasifik, keberhasilan O’Bannon menenggelamkan kapal selam Jepang bukan karena kehebatan teknologi, melainkan karena kentang dalam kotak di dek. Kapal perusak itu mendekati kapal selam Jepang yang tidak menyadari tengah menjadi sasaran. Para awak kapal selam yang tertidur lelap di geladak terkejut hingga nekat menyelam untuk menghindari serangan mendadak. “Menurut cerita, kapal perusak itu begitu dekat dengan musuh hingga para awaknya bisa melemparkan benda-benda ke arah awak kapal selam yang sedang berada di geladak. Benda terdekat yang tersedia adalah kentang dan para pelaut muda itu bersenang-senang melempari awak kapal Jepang dengan tanaman umbi tersebut. Awak kapal Jepang yang panik mencari cara menyelamatkan diri. Dalam kepanikan, mereka lupa menutup palka dan akhirnya kapal selam itu tenggelam,” tulis Hardin dan Grace. Alih-alih menyerang, awak kapal selam Jepang yang panik mengira kentang yang dilemparkan adalah granat tangan. Oleh sebab itu, mereka bersembunyi dan melemparkan kembali kentang tersebut ke laut atau ke awak kapal Amerika. Cerita tentang kentang menjadi senjata awak kapal Amerika yang menenggelamkan kapal selam Jepang menyebar hingga ke petani kentang di Maine, tempat kentang tersebut berasal. Petani memanfaatkan kisah ini untuk memasarkan produk mereka dan memberikan plakat penghargaan kepada kapal O’Bannon. Di lain pihak, legenda kentang ini membuat komandan kapal O’Bannon, Letnan Donald J. MacDonald, buka suara. Dalam laporan resmi, dia menulis, ketika itu dirinya mendeteksi kontak radar pada jarak 7.000 yard pada pukul 02.30 dini hari. Kapalnya mendekati dengan hati-hati dan mengetahui itu adalah RO-34, kapal selam Jepang berukuran sedang. “Alih-alih menyerang dengan meriam deknya dari jarak jauh atau menabrak kapal selam tersebut, MacDonald mendekatkan kapal perusak itu ke kapal selam sebelum mundur kembali agar dapat menembakkan meriam. Setidaknya satu peluru menembus menara komando. Ia kemudian menghabisinya dengan peledak,” tulis Clint Johnson dalam Tin Cans and Greyhounds: The Destroyers That Won Two World Wars. Beberapa dekade setelah perang, McDonald mengatakan dalam wawancara surat kabar bahwa dia berusaha membantah kisah tentang kentang selama bertahun-tahun. Namun, kisah ini menjadi warisan turun-temurun yang diceritakan para veteran perang kepada anak cucu mereka. Menurut Hardin dan Grace, ketidaktahuan MacDonald cukup masuk akal, sebab ketika itu dia tidak berada di geladak dan sedang sibuk memberikan perintah di tengah panasnya pertempuran. Dia tidak tahu anak buahnya di geladak melemparkan beberapa kentang. “Orang yang memiliki posisi terbaik untuk menyaksikan insiden tersebut adalah George Starkey, yang berada di lampu sorot di bagian tengah kapal. Starkey melihat orang-orang di geladak dan ingat mereka melemparkan sesuatu, meskipun dia tidak dapat memastikan apakah itu kentang,” tulis Hardin dan Grace. “Bahkan, Starkey mengatakan bahwa dia sendiri melemparkan beberapa batang karbon ke arah kapal selam tersebut. Kemungkinan besar, tidak ada seorang pun di antara awak kapal yang kemudian berlari menemui kapten untuk membanggakan diri karena telah membuang makanan dan suku cadang yang berharga.” Kisah awak kapal Amerika yang melemparkan kentang kepada awak kapal selam Jepang menjadi kenangan tak pernah usang dengan kehadiran plakat dari petani kentang Maine di kapal O’Bannon. Plakat tersebut terpajang hingga kapal itu dinonaktifkan pada 1970.*

  • Tiga Sopir Palang Merah yang Jadi Pesohor Dunia

    PALANG Merah Internasional muncul pada 1863, setelah pengalaman Jean Henry Dunant (1828-1910) dalam Pertempuran Salferino (1859). Pengalaman itu dibukukannya dalam Un Souvenir de Solferino (1862). Palang merah menjadi organ netral yang menolong siapa saja yang terluka tanpa memandang bangsa dan agama. Termasuk Dalam Perang Dunia I, palang merah hadir dan berperan penting. Kala itu kerja palang merah telah terbantu oleh teknologi bernama mobil, yang sudah dikembangkan sejak 1878 oleh Karl Benz di Jerman. Kendati punya banyak mobil, palang merah di peperangan amat kekurangan sopir sehingga membutuhkannya. Nun jauh di tanah Paman Sam, seorang pemuda bernama Ernest Hemingway ingin sekali menyaksikan langsung pertempuran dalam perang yang terjadi di Eropa itu. Maka setelah gagal mendaftar di Angkatan Darat karena penglihatannya buruk, Ernest memilih jalur lain untuk mendekati perang. Dia Menjadi tenaga sukarela untuk palang merah di Eropa.

  • Agus Widjojo Sang Jenderal Reformis

    SEMASA taruna di Akabri, Johny Lumintang dan Agus Widjojo berada dalam satu kompi. Di lapangan olahraga, Agus dikenal sebagai pemain sepakbola sementara Johny jago main tenis. Menjelang kelulusan, 20 orang dari angkatan mereka menjalani tes bahasa Inggris untuk mengikuti basic training di Amerika Serikat. Johny masih bisa mengikuti ujian writting, tapi sangat kesulitan ujian listening. “Gus, dari 50 soal hearing tuh, berapa [soal] yang kamu enggak tahu?” tanya Johny kepada Agus. “Yang paling enggak jelas paling satu,” jawab Agus santai. Johny kaget dan terbengong-bengong mendengarnya. Bagaimana tidak, dia dan kawan-kawan yang lain tidak mengerti dengan soal yang diujikan. Apalagi di Akabri saat itu belum ada lab bahasa Inggris. “Wah, kita, saya, Pak Luhut [Binsar Panjaitan], Pak Fachrul [Razi], segala macam itu paling dari 50, cuma satu yang kita tahu,” kenang Johny dalam diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Agus Widjojo dan Johny Lumintang merupakan arbituren Akabri 1970. Setelah lulus dari akademi militer, Agus langsung sekolah di Amerika. Tidak hanya sebagai prajurit TNI, Johny mengenang kolega seangkatannya itu sebagai sosok intelektual yang cerdas dan kritis. Pada periode yang berbeda, Agus dan Johny sama-sama pernah menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) dan Duta Besar Indonesia untuk Filipina. “Paling tidak enak berdiskusi dengan Pak Agus karena kita kalah terus. Gimana dia perpustakaannya 2000 buku. Lah, kita [bermodal] potongan koran sama majalah dipakai melawan dia, enggak bisalah,” kata Johny dengan nada guyon, “Makanya, Pak Agus itu di lichting saya di Sesko ABRI, beliau keluar sebagai lulusan yang terbaik. Dari situ kita sudah melihat pemikiran-pemikiran Pak Agus.” Kesan yang sama juga dikenang mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Endiartono Sutarto, junior satu angkatan di bawah Agus Widjojo. Ketika Agus menjadi komandan kompi di Batalion Brigif Linud 17, Endriartono salah satu komandan peletonnya. Selain Endriartono, Susilo Bambang Yudhoyono yang kelak menjadi presiden keenam juga menjadi komandan peleton di kompi yang dipimpin Agus Widjojo. Mereka bertugas dalam operasi militer di Timor Timur pada 1970-an. Meski bertugas dalam hubungan atasan-bawahan dan senior-junior, Endriartono mengaku cukup dekat dengan Agus. “Sehari-hari baik di satuan [pasukan], di home base, maupun di operasi kita sering berbincang. Yang kita bincangkan bagaimana menjadikan prajurit-prajurit lintas udara TNI ini menjadi suatu satuan yang bukan hanya sekadar diterjunkan sampai di tanah dengan selamat lalu berperang, tetapi dia harus benar-benar menjadi suatu operasi yang bisa menentukan atau mengubah jalannya peperangan,” tutur Endriartono. Kerja sama Endriartono dan Agus Widjojo berlanjut saat mereka ditugaskan untuk misi perdamaian di Timur Tengah dalam Kontingen Pasukan Garuda. Agus ditunjuk sebagai kepala seksi logistik, sedangkan Endriartono menjadi komandan peleton angkutan. Ketika Endriartono baru menjadi panglima TNI pada 2002, Agus sudah di pengujung masa jabatannya sebagai wakil ketua MPR dari Fraksi TNI-Polri. Di masa reformasi, Agus Widjojo dikenal sebagai jenderal yang mendukung reformasi TNI. Ketika masih menjabat Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI di masa Kepresidenan Abdurrahman Wahid, Letnan Jenderal TNI Agus Widjojo berperan dalam mengurangi peran TNI-AD dalam militer. Saat itu, Presiden Gus Dur menyerukan agar TNI-AD tak boleh lagi merasa lebih superior dibandingkan angkatan lain seperti AL dan AU. Agus menjadi salah satu petinggi TNI yang ikut dalam memberantas jenderal-jenderal nakal yang masih menginginkan dominasi militer dalam kehidupan bernegara. Dalam reformasi TNI, menurut Marcus Mietzner, peneliti politik militer Indonesia dari National University of Australia, Agus Widjojo berfokus pada masa depan struktur teritorial. Seperti kebanyakan pengamat militer, Agus menganggap struktur teritorial –meskipun di masa lalu dianggap perlu– namun pada abad 21 sudah dianggap tidak fungsional lagi. Militer yang modern di manapun sudah mengadopsi struktur yang jauh berbeda dengan struktur teritorial. “Pak Agus sebenarnya di masa Orde Baru sudah terpikir bahwa harus terjadi reformasi di bidang itu. Begitu Pak Agus punya jabatan dalam bidang itu sebagai Kaster, dia mengajukan suatu proposal untuk mereformasikan struktur teritorial secara gradual. Nah, itu tidak terjadi. Macam-macamlah pada waktu itu ada kejadian sehingga tidak berhasil,” terang Marcus. Diskusi buku Memoar Agus Widjojo: Militer Pemikir, Pemikir Militer di Kompas Institute, 22 Juni 2026. Narasumber di jajaran tengah: Marcus Mietzner, Endriartono Sutarto, dan Johny Lumintang. (Martin Sitompul/Historia.ID). Marcus menambahkan, apa yang terjadi di Indonesia saat ini, justru bertentangan dengan pemikiran Agus Widjojo. Ditandai dengan penambahan Komando Daerah Militer (Kodam) dan pembentukan struktur teritorial yang baru dalam bentuk Batalion Pembangunan. Berkebalikan dengan gagasan Agus Widjojo yang justru menginginkan penghapusan teritorial secara bertahap. “Harus dicatat memang keberanian Pak Agus untuk melawan arus. Pak Agus di banyak kalangan sudah dikenal sebagai salah seorang pemikir dan berani bertemu dengan orang-orang asing. Begitu menjadi Kaster TNI, dia banyak dilawan oleh rekan-rekannya di militer yang anggap idenya terlalu keras, terlalu radikal,” ujar Marcus. Terkait pemikiran Agus Widjojo yang melawan arus dan melampaui zaman, menurut adiknya, Nani Nurrachman, dipengaruhi oleh kultur keluarga dan kultur pendidikan. Nani dan Agus tumbuh dan dibesarkan di London ketika ayahnya, Sutoyo Siswomihardjo menjadi atase militer Indonesia di Inggris pada paruh kedua 1950. Itulah sebabnya, ketika menjadi taruna Akabri, bahasa Inggris Agus paling fasih dibanding rekan seangkatannya. Selain itu, Sutoyo terbiasa mengumpulkan anak-anaknya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapat, dan berpikir kritis. Mayor Jenderal TNI (Anm.) Sutoyo Siswomihardjo adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa G30S 1965. Sementara Agus meniti kariernya sebagai prajurit TNI, adiknya Nani kemudian menjadi psikolog. “Pendidikan di Inggris itu sedemikian rupa membuat cara berpikir kami memiliki perspektif sudut tinjauan orang Barat [dibandingkan] dengan sudut tinjauan orang Indonesia yang masih diwarnai cara berpikir lokal. Perbedaan ini kemudian berkembang setelah Mas Agus menjadi tentara,” kata Nani. Agus Widjojo wafat pada 8 Februari 2026. Saat itu, dia masih bertugas sebagai duta besar Indonesia untuk Filipina. Dia lebih dikenal sebagai tokoh intelektual TNI. Kegigihannya mendukung reformasi TNI membuat namanya dikenang sebagai jenderal reformis.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
bottom of page