Hasil pencarian
Search this site
9960 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Peran Calon Dokter dari Indonesia Timur dalam Kemerdekaan
SETELAH Belanda menyerah kepada Jepang, siswa-siswa kedokteran Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) Surabaya dan Geneeskundige Hogeschool te Batavia (GHS) melanjutkan pendidikan di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Di antara mantan siswa NIAS yang belajar di Ika Daigaku terdapat Frans Pattiasina, Piet Mamahit, dan Oscar Eduard Engelen. Frans Pattiasina lahir pada 19 Februari 1920 dari orang tua asal Ambon yang tinggal di Makassar. Piet Mamahit berdarah Minahasa tapi kelahiran Denpasar, Bali pada 10 Oktober 1920. Sementara Oscar Engelen lahir di Kema, Minahasa pada 12 Maret 1922. Frans Pattiasina, Oscar Engelen, dan Piet Mamahit terlibat dalam pergerakan pemuda kelompok Asrama Prapatan 10, Jakarta. Ketika tentara Jepang menyerah kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, mereka masih berstatus mahasiswa dan belum menjadi dokter. Seperti banyak pemuda di Jakarta, mereka mendukung negara baru Republik Indonesia yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.
- Dokter Soetomo Dokter Gadungan
AWAL tahun 2024 ini, dokter gadungan masih bisa leluasa beraksi di Indonesia. Kali korbannya bukan perorangan, rumahsakit daerah, atau perusahaan, melainkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Jika timnas PSSI berjuang mati-matian di lapangan agar tidak kebobolan oleh tim lawan, di luar lapangan PSSI malah kebobolan oleh dokter gadungan itu. Tak tanggung-tanggung, selain dua timnas PSSI yakni U-16 dan U-19, beberapa klub sepakbola juga menjadi korban penipuan dokter gadungan itu. Dokter gadungan yang mengaku lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala (USK) Aceh itu adalah Elwizan Aminudin. “Kasat Reskrim Polresta Sleman, AKP Riski Adrian, membeberkan, motif tersangka memalsukan dokumen karena alasan ekonomi. Sebelum jadi dokter palsu, Elwizan bekerja sebagai kondektur bus dan memiliki usaha toko kelontong. Elwizan juga disebut sudah menjadi dokter abal-abal sejak 2013 silam. Selain PSS Sleman, ada sejumlah klub sepak bola Tanah Air yang pernah ditangani Elwizan Aminudin,” demikian bola.com tanggal 3 Februari 2024 memberitakan.
- Perploncoan dalam Pendidikan Kedokteran Zaman Belanda
PERPLONCOAN di sekolah kedokteran sudah terjadi sejak zaman Belanda. Mohammad Roem (1908–1983) menceritakan pengalamannya diplonco ketika masuk STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra) pada 1924. Bahasa Belandannya plonco adalah ontgroening. Kata groen artinya hijau. Murid baru adalah hijau, dan ontgroening dimaksudkan untuk menghilangkan warna hijau itu. “Dia harus diberi perlakukan agar dalam waktu singkat menjadi dewasa, berkenalan dengan teman-teman seluruh STOVIA,” kata Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah Jilid 3. Menurut Roem, perploncoan sudah bertahun-tahun dilaksanakan di STOVIA –didirikan tahun 1899–, tetapi belum pernah terdengar kejadian yang tidak sedap atau melampaui batas. Hal ini karena pengawasan yang ketat, sehingga ekses dapat dihindarkan.
- Dokter Knoch dan Barry Prima
DARI arah Mauk, Banten, perahu kayu kecil itu berlayar ke arah timur menuju Batavia (kini Jakarta) pada 18 September 1938 pagi. Belum pukul 10.00 pagi, kapal –membawa dua penumpang yang hendak mencari pekerjaan: perempuan bernama Minah dan lelaki bernama Tjiran bin Maki– itu sudah hampir mencapai Pasar Ikan. Sementara di daratan Batavia, Minggu, 18 September 1939 adalah waktu luang bagi dr. Max Hermann Knoch Jr. untuk melakoni hobinya bermain perahu. Dirinya dikenal sebagai pemilik perahu motor tercepat di Batavia. Maka dia telah berada di sekitar Pasar Ikan pagi itu. Perairan di sekitar tempat dr. Knoch berada kala itu sedang diganggu gelombang. Kapal kayu yang sedang membawa Minah dan Tjiran tadi pun sedang dalam bahaya hingga akhirnya menabrak tembok di dermaga dan kandas.
- Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam
HAMPIR saja putra seorang guru itu menjadi guru juga ketika muda. Jan Gerrit Scheurer, putra guru tadi, sudah beberapa bulan menjadi mahasiswa calon guru. Namun, ketertarikannya dalam dunia penyebaran agama Kristen (misionaris) membelokkan langkah hidupnya. Gereja Reformasi Utrecht dan Nederlandsch Gereformatie Zendingvereniging (Asosiasi Misionaris Reformasi Belanda) kemudian mengarahkannya belajar kedokteran. Scheurer sekolah kedokteran di London dari 1888 hingga 1892. Namun, pendidikan kedokteran yang dijalaninya tidak untuk bertugas di Eropa, melainkan di tempat yang jauh dari tempat tinggalnya. Begitu lulus, pada 1893 Scheurer dikirim ke Surakarta. Pria kelahiran desa kecil Gelselaar pada 3 Maret 1864 itu dikirim bersama istrinya yang sudah belajar ilmu keperawatan pula.
- Agar Bahtera Tak Lekas Retak
MENTERI Agama Mukti Ali belum lagi menyelesaikan pidatonya saat sekumpulan orang meneriakkan takbir, “Allahu Akbar... Allahu Akbar...” kata mereka bersahut-sahutan. Teriakan takbir itu menutup suara Mukti. Menghentikan pidatonya dan memotong giliran Menteri Kehakiman Oemar Seno Adjie untuk menyampaikan pidato tanggapan atas pandangan umum anggota DPR menyoal Rancangan Undang-Undang Perkawinan pada 27 September 1973. Sejurus kemudian, massa menduduki kursi-kursi Ketua DPR dan menguasai jalannya sidang. Pemimpin dan anggota DPR bubar. Sidang berhenti total. Jalan mencapai UU Perkawinan kian berliku. Cita-cita yang digantungkan sejak zaman kolonial itu akhirnya kembali menemukan jalan buntu. Sama seperti respons ordonansi perkawinan yang pernah digulirkan oleh pemerintah kolonial pada 1937, RUU Perkawinan pun mendapatkan perlawanan dari kelompok Islam yang menghendaki pernikahan diatur berdasarkan syariat Islam. Setelah Indonesia merdeka, kesempatan memperjuangkan kepentingan perempuan semakin terbuka luas. Kongres perempuan pertama setelah perang usai diselenggarakan di Klaten pada Desember 1945. Maria dan Sujatin Kartowijono memimpin kongres yang menghasilkan resolusi gerakan perempuan Indonesia sepenuhnya mendukung revolusi nasional. Di alam kemerdekaan, problem yang dihadapi gerakan perempuan semasa pemerintahan kolonial dientaskan satu per satu.
- Misi S. Parman Melobi London
BRIGJEN TNI Soegih Arto, utusan Presiden Sukarno untuk berunding dengan Kementerian Luar Negeri Inggris transit di Prancis. Soegih Arto diterima oleh Kolonel Sumpono Banyuaji, Atase Militer (Atmil) Indonesia untuk Prancis. Sesampainya di kediaman Atmil, Soegih Arto kaget karena melihat atasannya Mayjen TNI S. Parman juga berada di tempat yang sama. “Baru lama kemudian, saya mengetahui bahwa Beliau mengemban tugas yang sama, hanya salurannya ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris,” tutur Soegih Arto dalam otobiografinya Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Keberadaan Parman di Paris sepertinya sudah berlangsung beberapa hari sejak Soegih Arto tiba disana. Menurut Soegih Arto, Parman punya misi yang sama dengan dirinya, yakni menyelesaikan konfrontasi dengan Malaysia melalui perantaraan Inggris. Bila Soegih Arto diutus ke Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya jaringan ke pejabat tinggi kemiliteran Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto menyaksikan Parman dijemput oleh Atmil Indonesia untuk Inggris Kolonel Sasraprawira menuju ke London.
- S. Parman, Adik Petinggi PKI yang Jadi Penentang Kuat PKI
PAHLAWAN Revolusi Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, pada 4 Agustus 1918. Ia anak keenam dari sebelas bersaudara. Ayahnya merupakan pedagang bernama Kromodihardjo. Parman menjalani pendidikan dasar di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Wonosobo. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Meer Uitgebried Lager Onderwijs (MULO setara SMP) Yogyakarta. Pada 1937, Kromodihardjo meninggal dunia. Parman pun batal melanjutkan pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS setara SMA). Parman lalu membantu ibunya berdagang di Pasar Wonosobo.
- Misi Rahasia Jenderal S. Parman
SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberi tahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman,” kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku. Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964. Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno.
- Suka Duka Bertugas di Sumatera
DI masa tuanya, Kolonel (Purn.) A.E. Kawilarang nyaris selalu bercerita kisah yang sama jika bertemu dengan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ibrahim Adjie. Kepada kawan seperjuangannya semasa bergerilya melawan tentara Belanda itu, Alex Kawilarang mengaku perutnya pernah “diselamatkan” oleh Adjie. Bagaimana ceritanya? Syahdan, ketika mereka ditugaskan ke Sumatra Utara sekira awal 1949, Letkol Alex, Mayor Utaryo dan Mayor Adjie terdampar di kawasan tempat gembala, beberapa ratus meter dari Kampung Pernantin. Karena merasa lapar, mereka lantas bergerak ke arah pasar. Setelah setengah jam berjalan-jalan, tampaklah oleh mereka sebuah kedai bubur kacang hijau yang banyak dikunjungi pembeli. Alex yang lebih antusias lantas mengajak kedua kawannya untuk singgah. Sayangnya, sejak Perjanjian Renville diberlakukan pada Februari 1948, wilayah tersebut dimasukan dalam kekuasaan Belanda, sehingga uang yang berlaku hanya “uang merah” alias “uang NICA”.
- Satgas Flu Spanyol di Hindia Belanda
PANDEMI Covid-19 di Indonesia telah berjalan selama lebih dari satu tahun lamanya. Tercatat hampir tiga juta orang terpapar virus tersebut. Hingga Juli 2021, sebagaimana dikutip laman covid.go.id, pasien meninggal di Indonesia telah menembus angka 76 ribu jiwa. Sementara pasien sembuh mencapai 2,3 juta jiwa. Pemerintah Indonesia terus berupaya menanggulangi bencana kesehatan global ini. Berbagai cara pun dilakukan untuk menekan laju penyebaran virus di masyarakat, seperti membatasi kegiatan di luar rumah, memberlakukan jam malam, mengesahkan aturan baru tentang pandemi, hingga mengadakan vaksinasi. Upaya lain dari pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Covid-19. Secara resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 dibentuk pada 13 Maret 2020, melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Pembentukan Gugus Tugas itu bertujuan untuk meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan; mempercepat penanganan Covid-19; mengantisipasi penyebaran virus; serta meningkatkan kemampuan dan kesiapan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons Covid-19.



















