Hasil pencarian
Search this site
9963 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cara Makar Menangkan Golkar
KECUALI Serkarmadji Maridjan Kartosoewirjo, imam DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang sudah dieksekusi mati pada 12 September 1962, sekira 32 perwira utama DI/TII mendapat amnesti. Pada 1 Agustus 1962, mereka menandatangani ikrar bersama menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia. Menurut laporan International Crisis Group (ICG), organisasi nirlaba yang mencegah dan menangani konflik, penandatanganan ikrar mempersulit masalah suksesi pengganti Kartosoewirjo selaku Komandan Perang Seluruh Indonesia (KPSI). Para penandatangan ikrar telah cacat karena menyerah kepada pemerintah. Selama satu dasawarsa secara efektif DI/TII tidak memiliki pemimpin. “Sejumlah besar penandatangan ikrar telah menerima berbagai tunjangan untuk memperkuat loyalitas mereka, misalnya dalam bentuk mobil, tanah, dan pada satu kasus, usaha penyalur minyak tanah,” tulis ICG dalam Daur Ulang Militan di Indonesia.
- A.A. Maramis Bergelut dengan Kesehatan
CAHAYA jingga menyembul di langit Bandara Halim Perdanakusuma sore itu. Beberapa tokoh penting dalam sejarah Republik Indonesia tengah menunggu A.A. Maramis pulang. Ahmad Subardjo, Sunario, Arnold Monotutu, dan Rachmi Hatta tampak di antaranya. Hadir pula pejabat Departemen Luar Negeri dan tokoh-tokoh Minahasa dari Paguyuban Kawanua. Para wartawan turut mengintili. Sebuah pesawat milik Garuda mendarat di landasan pacu, merapat ke sisi terminal, dan berhenti. Sepasang kakek-nenek keluar, tertatih-tatih menuruni tangga pesawat. Sang kakek terlihat lemah. Dia celingak-celinguk memandang deretan Subardjo dan kawan-kawannya. Dialah Alexander Andries Maramis, salah satu founding father RI yang tersisa. Dia akhirnya pulang ke Indonesia pada Minggu, 27 Juni 1976, setelah malang-melintang di mancanegara.
- Awal Mula Profesi Calo Angkot
LAJU kendaraan bermotor di depan pusat belanja Depok Town Square, Jawa Barat, terhambat. Sebuah angkot mendadak banting setir ke kiri untuk berhenti menunggu penumpang. Seorang pemuda menghampiri angkot dan berteriak, “Ayo, Bang! Pal… Pal. Ayo, Bang! Pal… Pal… Jalan duluan!”Angkot pun penuh penumpang. Pemuda menyuruh sopir lekas tancap gas. Sopir memberi pemuda itu Rp2.000. Pemuda mencatat waktu ke berangkatan angkot di buku. Para sopir menyebut si pemuda sebagai timer. Tokoh ini jamak terjumpa di terminal bayangan bus dan angkot di kota-kota besar. Mereka kali pertama muncul di Jakarta pada dekade 1950-an. Bersamaan dengan penggunaan angkutan umum bermotor di Jakarta seperti oplet, taksi, dan bus. “…Pangkalan oplet dan taksi di Jakarta tentu mesti ada calok,” tulis Sunday Courier, 2 Agustus 1953. Majalah Sunday Courier menjadi media pertama yang menggunakan kata “calok” dalam pemberitaan tentang profesi tersebut. Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Dialek Jakarta karya Abdul Chaer menulisnya “calo” tanpa huruf “k”.
- Persidangan Pelaku Kudeta 3 Juli 1946
PEMANDANGAN tak biasa terlihat di Jalan Secodiningratan (kini Jalan Pangeran Senopati), Yogyakarta, 19 Februari 1948. Matahari belum lama naik, namun orang-orang telah berdatangan ke gedung Mahkamah Tentara Agung untuk menyaksikan sidang perdana peristiwa 3 Juli 1946. Sidang kasus penculikan Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan upaya menggulingkan pemerintahannya itu akan digelar pukul 09.00. Sebelum sidang dimulai, orang-orang berusaha memasuki ruangan berukuran 7x20 meter itu agar dapat tempat untuk menyaksikan jalannya persidangan. Wakil-wakil dari pemerintah, Badan Pekerja KNIP, dan partai-partai politik juga hadir. Keluarga para terdakwa hadir untuk memberikan dukungan moral. Tingginya antusias masyarakat membuat penjagaan diperkuat. Dua pengeras suara dipasang di luar agar orang-orang yang tak bisa masuk dapat mengikuti jalannya persidangan. Setelah ditunda satu setengah jam, sidang dibuka pukul 10.30 oleh Ketua Mahkamah Koesoemaatmadja, yang didampingi hakim anggota, Wirjono Prodjodikoro, adik Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprodjo; dan tiga perwira tinggi militer, yakni Sukono Djojopratiknjo, Didi Kartasasmita, dan Sukarnaen Martodikusumo.
- Suka Duka Siti Djauhari Sudiro
BERKUMPUL dengan orangtua merupakan kemewahan bagi banyak anak pejabat. Tanto Sudiro, putra bungsu walikota Jakarta Raya periode 1953-1960 R. Sudiro Hardjodisastro, merasakan betul hal tersebut. Tak hanya sang ayah, ibundanya, Siti Djauhari, pun sosok perempuan yang juga sibuk. “Saya lebih rapat sama kakak-kakak karena yang mengurus ya kakak saya. Bapak saya repot. Ibu juga aktif organisasi. Kadang ada di rumah. Bapak enggak pernah main [sama anak-anak], cuma ngobrol. Kalau lagi di rumah, tamunya enggak putus-putus sementara kita jam tujuh malam sudah tidur,” kenang Tanto kepada Historia.ID. Sebagai walikota ibukota, Sudiro sibuk mengurus kotanya sekaligus urusan pemerintah pusat di ibukota. Maka nyonya walikota selain mendampingi Sudiro juga sibuk di berbagai organisasi. Antara lain di Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) dan Badan Penghubung Organisasi-Organisasi Wanita (BPOW, kini Badan Kerjasama Organisasi Wanita/BKOW).
- Ietje, A Woman of Courage
MIENARSIH Soedarpo recalled Maria Ullfah, her senior at Koning Willem III School who, decades later, would become her sister-in-law. Mien recounted that she had known Maria for a long time because Maria came from a large, prominent family. “The Djajadiningrat family has indeed been famous for a long time. Back then on Kebon Sirih Street, there were several famous names: Kusumo Utoyo, Achmad Djajadiningrat, and my father, Wiranatakusumah,” Mien recalled. Mienarsih Soedarpo was the widow of businessman and activist Soedarpo Sastrosatomo. She was the daughter of Syarifah Nawawi and R.A.A. Wiranatakusumah, the regent of Bandung. When she was still a young woman in Suliki, West Sumatra, Syarifah was the love interest of Tan Malaka. Soedarpo’s older brother, Soebadio Sastrosatomo, married Maria Ullfah in 1964, while Soebadio was a political prisoner under Sukarno.
- Mengintip Kegiatan Sekolah Masa Jepang
SEMBILAN bulan pandemi Covid-19 menyerang Indonesia. Sekolah merumahkan siswanya dan mengganti sistem kelas tatap muka dengan sistem dalam jaringan untuk menekan penyebaran virus. Mendikbud, Menag, Mendagri, dan Menkes berencana membolehkan sekolah kembali menggelar pembelajaran tatap muka mulai Januari 2021 dengan persyaratan ketat. Sembilan bulan bukan waktu singkat bagi siswa menjalani hari-hari bersekolah yang berbeda. Hal serupa juga pernah terjadi pada masa Jepang. Menjelang kedatangan Jepang pada akhir 1941, sekolah-sekolah di Hindia Belanda meliburkan siswanya tanpa berbatas waktu. Para guru berbangsa Belanda kembali ke negerinya. Maret 1942, Jepang mengambil alih Hindia Belanda. Pemerintah militer Jepang menutup semua jenis dan jenjang sekolah. Mereka ingin merombak ulang pendidikan di Indonesia. Buku-buku sekolah berbahasa Belanda disita, diperiksa, dan dinilai ulang. “Semua itu dimaksudkan untuk menghilangkan pengaruh Barat,” catat tim Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dalam Di Bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang Mengalaminya.
- Sekolah Masa Revolusi
LONCENG sekolah berbunyi. Murid-murid masuk ke kelas. Seorang guru lelaki mengambil tumpukan rapor di mejanya dan memanggil nama muridnya satu per satu. Murid-murid cemas. Sampai di meja guru, murid melihat rapornya masing-masing. Ada yang wajahnya berubah senang, ada juga yang tegang. Sebagian murid tak naik kelas. Harus mengulang lagi setahun. Nilai rapornya jelek. Matanya basah. Murid lainnya tampak sumringah. Senyumnya lebar. Mereka naik kelas. Nilai rapornya bagus. “Ruang kelas dalam sekejap terisi oleh para pelajar yang bergembira diselingi dengan pelajar-pelajar yang berlinang-linang matanya. Banyak pula yang menangis terisak-isak terutama murid wanitanya,” cerita Asmadi tentang suasana pembagian rapor murid kelas 2 Sekolah Menengah Tinggi (SMT) di Malang pada Juli 1947 dalam Sangkur dan Pena.
- Setelah Pulang Sekolah
PENABUR trending topic setelah akun Dea Dwi Nugraha @deangrh_ (24/5) mengunggah video TikTok akun @smakabj tentang sosialisasi Polsek Pondok Aren di SMAK Penabur Bintaro Jaya, Tangerang Selatan. Pak polisi meminta agar para siswa “tidak tawuran, tidak balap liar, tidak narkoba, dan bijak bermedsos”. Dua pesan terakhir masih masuk, tetapi dua pesan pertama dianggap oleh warganet “salah market” karena pelajar Penabur biasanya pergi les setelah pulang sekolah. Sehingga tidak ada waktu untuk tawuran dan balap liar. Kunjungan polisi dari Polsek Pondok Aren ke SMAK Penabur Bintaro Jaya itu merupakan program police goes to school. Tawuran pelajar terus terjadi sehingga menjadi perhatian polisi. Belum lama ini, pada 28 Maret 2022, seorang siswa MTS Negeri 6 Tangerang tewas di Tanjung Pasir, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Tiga orang pelaku ditetapkan sebagai tersangka. “Ini pola lama. Kerap kali terjadi pada saat mereka konvoi-konvoi, berkumpul, bertemu dengan kelompok lain, saling ejek, maka terjadi tawuran,” kata Komisaris Besar Komarudin, Kapolres Metro Tangerang Kota, dikutip kompas.com.
- Sekolah Jerman di Sarangan
ADA yang dikelabang, ada pula yang dikuncir, tapi kebanyakan sekadar dibiarkan terurai rambutnya. Lalu ada yang tersenyum lebar, sedikit simpul senyum, tapi mayoritas ekspresi wajah mereka hanya diam entah karena malu ataupun bingung. Itulah ekspresi gadis-gadis cilik murid Sekolah Jerman yang ada di Sarangan, Jawa Timur. Bocah-bocah lugu yang tak tahu apa-apa soal politik itu hanyalah korban dari situasi perang yang melanda hampir setiap penjuru bumi alias Perang Dunia II. Kesialan melanda orang-orang Jerman di bekas Hindia Belanda setelah tentara Jerman menduduki Negeri Belanda pada 10 Mei 1940. Sebelum Jepang –sekutu Jerman dalam Perang Dunia II– datang pada 1942, banyak orang Jerman ditangkapi. Ada yang dikenai tahanan rumah. Bahkan ada orang Jerman yang hendak ditahan ke India. Penahanan-penahanan itu yang pasti memisahkan suami dari istri dan anak-anaknya. Setelah 1942, orang Jerman bisa sedikit bernafas lega meski perang belum berakhir. Pasalnya, tentara Jepang telah menduduki Hindia Belanda. “Ketika kemudian wilayah Indonesia diduduki oleh pasukan Jepang, para interniran tersebut menjadi orang bebas,” tulis Julius Pour dalam Laksamana Sudomo Mengatasi Gelombang Kehidupan.
- Sekolah di Sabang
KOTA Sabang punya museum. Letaknya di Jalan Oentoeng Surapati. Museum itu menampilkan banyak foto dan benda yang berkaitan dengan masa lalu kota Sabang sebagai kota pelabuhan penting di Aceh. Pelabuhan Sabang dulu dikelola oleh NV Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia alias Sabang Maatschappij. Sejak 1896, Sabang hendak dijadikan pelabuhan bebas. Maka kota Sabang selain punya pelabuhan juga punya kantor, perumahan, dan sekolah. Sekolah yang terletak di seberang Museum Sabang itu gedungnya masih berdiri kokoh dan kini menjadi SDN 2 Sabang. Didirikan hanya berdasarkan kebutuhan pegawai kolonial semata, sekolah itu hanya sekolah dasar tujuh tahun berbahasa Belanda dengan standar anak Eropa, Europe Lager School (ELS). Tak sembarang siswa bisa besekolah di sana alias hanya anak Eropa atau pembesar bumiputra saja yang bisa.
- Mula Sekolah Mengemudi di Zaman Kolonial Belanda
PADA awal abad ke-20, seiring banyaknya kendaraan di Hindia Belanda, upaya menyusun peraturan mengenai tata cara berkendara, penggunaan tanda nomor kendaraan, hingga surat izin mengemudi atau rijbewijs mulai menjadi perhatian berbagai pihak. Selain itu, sekolah pelatihan mengemudi juga mulai muncul mengingat banyak kecelakaan di jalanan yang melibatkan pengemudi. Usulan mendirikan sekolah mengemudi muncul di surat kabar De Express, 27 Juni 1914. Dalam surat terbuka kepada Java Motor Club, beberapa warga Bandung mengusulkan agar segera dibuka sekolah pelatihan bagi pengemudi. “Permintaan akan pengemudi biasanya melebihi pasokan, yang menyebabkan berbagai pelanggaran. Akibatnya, demi mendapatkan pekerjaan dan gaji yang relatif tinggi, banyak orang yang seringkali tidak dapat diandalkan menyamar sebagai pengemudi... Oleh karena itu, diperlukan kesempatan yang sesuai untuk melatih pengemudi, yang juga akan meningkatkan pasokan akan permintaan yang tinggi,” tulis De Express.





















