Hasil pencarian
9952 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Goresan Tinta Seniman Australia Merekam Revolusi Kemerdekaan
SEKILAS goresan-goresan tinta pena di atas kertas berukuran 16 x 20,2 cm itu tampak kasar. Namun, detail dari ilustrasinya begitu nyata: seonggok tank ringan M3 Stuart dengan seorang komandannya melongok dari palka kubah atas dan di samping tank terdapat dua sosok prajurit Inggris berhelm brodie mengawaki sepucuk senapan mesin Vickers. Sketsa karya seniman dan jurnalis perang asal Australia Tony Rafty itu diberi tajuk Tank in Surabaya. Karya sketsa versi reproduksi itu merupakan satu di antara sketsa dan narasi tentang keterlibatan orang-orang Australia dalam Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) di pameran “Two Nations: A Relationship is Born” yang kembali digelar di Jakarta kurun 15 Agustus-1 September 2024. Kali ini bertempat di Ruang Serba Guna Ir. H. Djuanda di Museum Bahari, Jakarta Utara. Menurut Duta Besar (dubes) Australia untuk RI Penny Williams dalam pembukaan pameran, Selasa (13/8/2024), pameran yang dikurasi dengan kerjasamanya bersama Australian National Maritime Museum itu dihelat dalam rangka merayakan 75 tahun hubungan diplomatik RI-Australia sekaligus juga perayaan hubungan antar-masyarakat kedua negeri bertetangga itu. Indonesia-Australia punya irisan sejarah di masa revolusi kemerdekaan Indonesia.
- Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang Memicu Gerakan Global
DARI sekian banyak sejarawan asing atau Indonesianis yang meriset dan membukukan studinya tentang revolusi kemerdekaan Indonesia, David van Reybrouck mengambil perspektif berbeda yang selama ini jarang digali. Reybrouck yang seorang arkeolog dan pakar studi budaya asal Belgia “menjahit” setiap benang merah gerakan revolusi di Indonesia yang nyatanya menginspirasi perubahan dunia pasca-Perang Dunia II. Dengan mewawancarai hampir 200 saksi mata beragam peristiwa di seputar Perang Kemerdekaan RI (1945-1949) yang ia temui di Indonesia hingga Nepal, Reybrouck merangkumnya dalam sebuah buku tebal berbahasa Belanda dengan tajuk Revolusi: Indonesië en het ontstaan van de moderne wereld (2020). Pada 2024, hasil risetnya sepanjang enam tahun itu dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional Irine Hiraswari Gayatri memandang buku itu penting untuk jadi suplemen generasi muda, utamanya pelajar. Pasalnya, tidak hanya menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia dari masa pra-kemerdekaan, tapi juga menonjolkan kisah pemuda yang terlibat dalam gerakan revolusi yang namanya selama ini tak pernah ada di buku-buku sejarah.
- Begini Naskah Proklamasi Dirumuskan
SEKIRA pukul 02.00 tanggal 17 Agustus 1945. Sukarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo, mBah Soediro (sekretaris Subardjo), Sukarni, dan B.M. Diah; serta pihak Jepang terdiri dari Laksamana Tadashi Maeda, Shigetada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi (dari Kaigun Bukanfu atau kantor Penghubung Angkatan laut dan Angkatan Darat); dan Miyoshi (Angkatan Darat Jepang), berkumpul di ruang makan rumah Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1 Menteng Jakarta Pusat. “Sekarang meja bundar tersebut duduklah Sukarno, Hatta, Maeda dan Miyoshi, dan saya sendiri,” kata Subardjo dalam Lahirnya Republik Indonesia. Menurut Hatta, waktu panitia lima bekerja, Maeda mengundurkan diri ke tingkat kedua, mungkin ke kamar tidurnya. Sedangkan Miyoshi masih tinggal, duduk tidak jauh dari mereka. Dia mungkin mendengarkan segala yang dipersoalkan, tetapi dia diam saja. Dia pun mengerti bahwa penyusunan teks Proklamasi itu bukanlah hal yang harus dicampurinya.
- Proklamasi Versi Sumatera
KAUM Republiken di Padang, dimotori kaum muda dan laskar yang tergabung dalam Balai Penerangan Pemuda Indonesia (BPPI) serta Komite Nasional Indonesia (KNI) mendesak seorang pendidik terkemuka, Moehammad Sjafe’i, untuk membacakan naskah Proklamasi yang dibacakan Sukarno pada 17 Agustus 1945. Menariknya, Sjafe’i, pendiri dan kepala sekolah Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayu Tanam itu, tidak hanya membacakan naskah Proklamasi namun memberi tambahan naskah sebagai bentuk dukungan dari Sumatera. Sejarawan Audrey Kahin menyebut, tanggal 29 Agustus 1945 atas nama rakyat Sumatera, Sjafe’i mengeluarkan pernyataan umum menerima kemerdekaan Indonesia dengan menambah bumbu-bumbu penegas rasa kemerdekaan tersebut.
- Kisruh Penandatanganan Naskah Proklamasi
SETELAH naskah Proklamasi selesai diketik oleh Sayuti Melik yang kemudian disebut “naskah Proklamasi otentik,” Sukarno menyampaikan bahwa keadaan yang mendesak telah memaksa kita semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi kemerdekaan. “Rancangan teks telah siap dibacakan di hadapan saudara-saudara semua dan saya harapkan benar-benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar dini hari,” kata Sukarno. Menurut Adam Malik dalam Riwayat dan Perjuangan sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sukarno mengusulkan supaya naskah Proklamasi ditandatangani besok siang dan diumumkan di depan anggota PPKI. Usul ini ditolak keras oleh Sukarni dan Chaerul Saleh.
- Saat Proklamasi Berkumandang di Serambi Mekah
MESKI berusaha dibendung pihak militer Jepang, berita proklamasi lambat laun tetap sampai ke seluruh Indonesia . Termasuk di salah satu provinsi Indonesia paling ujung: Aceh. Namun karena jarak yang sangat jauh dari Jakarta, masyarakat Aceh sendiri baru mendengar berita itu sekira dua pekan sejak dibacakannya teks Proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Sebagaimana disarikan dari buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang dituliskan Muhammad Ibrahim dkk, masyarakat Aceh secara umum baru mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 29 Agustus 1945. Pun begitu, sedianya para staf kantor berita Hodoka Kutaradja dan surat kabar Atjeh Simbun sudah lebih dulu mendengarnya pada 21 Agustus 1945. Upaya yang terkesan berani juga coba dilakukan tiga pemuda pegawai Kantor Kepolisian Kutaradja (kini Kota Banda Aceh). Mereka nekat mengibarkan bendera merah putih di kantor tersebut pada malam hari, dengan harapan bisa segera dilihat masyarakat keesokan harinya.
- Berita Proklamasi Bergema dari Australia ke Papua
KABAR Proklamasi kemerdekaan Indonesia ternyata tidak terlalu lama sampai ke Australia. Mohamad Bondan, salah satu eks tahanan politik Boven Digul yang bermukim di Melbourne (Australia), sudah mendengarnya pada 18 Agustus 1945. Lewat siaran radio Republik Indonesia di Bukittinggi, Sumatra Barat, Bondan mendengar kabar gembira itu. Setelah mendapat kepastian, ia lantas menerjemahkan isi berita itu ke dalam bahas Inggris dan menyebarkannya ke seluruh Australia. “Bersama Arif Siregar, saya menerjemahkannya dengan bantuan seorang warga Australia yang berprofesi sebagai guru,” ungkap Bondan dalam Memoar Seorang Eks-Digulis: Totalitas Sebuah Perjuangan.
- Perempuan yang Hadir di Proklamasi Kemerdekaan
SETELAH Sukarno membaca sambutan dan Proklamasi, dilanjutkan dengan pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih. Terdengar suara seseorang meminta SK Trimurti, aktivis pergerakan, untuk mengerek bendera. “Yus Tri, kerek bendera itu.” “Tidak,” Trimurti menolak mungkin karena dia mengenakan kebaya dan jarik. Dia menganggap bendera lebih baik dikerek oleh orang yang berseragam. “Lebih baik saudara Latief (Hendraningrat) saja. Dia dari Peta.” Latief yang berseragam Peta (Pembela Tanah Air) maju sampai dekat tiang bendera. Suhud, didampingi seorang perempuan membawa baki tempat bendera Merah Putih. Bendera Merah Putih dikibarkan diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan tanpa dirijen.
- Proklamasi Kemerdekaan sampai di Banten
BERITA kekalahan Jepang yang disusul Proklamasi kemerdekaan sampai ke Banten pada 20 Agustus 1945. Berita itu dibawa oleh para pemuda: Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk dan Azis, yang diutus oleh Chairul Saleh, wakil ketua dan sekretaris Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31 Jakarta. Para anggota API diutus ke berbagai daerah termasuk Banten untuk menyebarkan berita proklamasi. Berita gembira itu terutama disampaikan kepada tokoh Banten yaitu K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun, dan Zulkarnain Surya, serta tokoh pemuda seperti Ali Amangku dan Ajip Dzuhri. Chairul Saleh juga mengamanatkan agar para tokoh dan pemuda di Serang segera merebut kekuasaan dari Jepang. Maka, Ali Amangku mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sedangkan API Puteri dipimpin oleh Sri Sahuli.
- Proklamasi Kemerdekaan Rakyat Maluku
PERINGATAN kemerdekaan Indonesia hanya tinggal menunggu hari. Berbagai persiapan pun telah dilakukan untuk menyambut peristiwa yang menegaskan posisi Indonesia sebagai bangsa merdeka yang anti penjajahan. Namun tak banyak orang Indonesia tahu, lebih dari satu abad sebelumnya (1817), proklamasi kemerdekaan pernah digaungkan di Maluku. Adalah Thomas Mattulesi alias Kapitan Pattimura yang menjadi ujung tombak dari perlawanan rakyat terhadap Belanda hingga berhasil membuka jalan menuju penyusunan akta keberatan akan keberadaan Belanda di Maluku. Proses Mencapai Kemerdekaan Kabar rencana keberangkatan pasukan Belanda pimpinan Mayor Beetjes menuju basis kekuatan peralawanan rakyat Maluku di Pulau Saparua, Maluku Tengah cepat tersebar. Sebanyak 300 tentara, terdiri dari pasukan infanteri dan marinir, dijadwalkan berangkat pada siang 17 Mei 1817 dari Pulau Seram.
- D.N. Aidit di Sekitar Proklamasi Kemerdekaan
CERITA bermula pada 15 Agustus 1945 sore. Aidit menemui kawan-kawannya di asrama Badan Perwakilan Pelajar Indonesia (Baperpi) di Cikini 71. Ia juga menghubungi Wikana. Tujuannya, mengajak mereka datang ke belakang Laboratorium Bakteriologi Eijkmann Institute. Di belakang gedung yang dipenuhi pohon jarak itu, sebuah pertemuan rahasia para tokoh pemuda dan pelajar dari berbagai golongan diadakan. Dimulai pukul 19.00. “Hadir di pertemuan itu: Chaerul Saleh, Wikana, Aidit, Djohar Nur, Pardjono, Abubakar, Sudewo, Armansjah, Subadio [Sastrosatomo], Suroto Kunto dan beberapa orang lagi. Atas usul beberapa yang hadir, Chaerul Saleh memimpin pertemuan,” tulis Sidik Kertapati dalam Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945.
- Detik-Detik Usai Proklamasi
FOTO tua yang dikeluarkan Dutch Docu Channel itu berbicara banyak. Dari arah belakang, terlihat Mohammad Hatta, Sukarno dan Dokter Muwardi (Pimpinan Barisan Pelopor) tengah menerima penghormatan dari sekelompok pemuda (sebagian besar bersenjata bambu runcing). Dikatakan oleh saluran penyedia tayangan lama tentang sejarah Belanda di situs YouTube tersebut bahwa foto itu diambil saat momen setelah pembacaan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Di buku otobiografi Sukarno (Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia) dan otobiografi Mohammad Hatta (Memoir) soal itu memang tak diceritakan. Kisah itu muncul justru dalam buku-nya Sudiro (eks pembantu urusan umum-nya Sukarno) berjudul Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945. Dituturkan oleh Sudiro, setelah upacara pembacaan proklamasi selesai, Bung Karno dan Bung Hatta bergegas masuk ke dalam kamar. Namun baru saja mereka memasuki kamar, tetiba dari arah Gambir terdengar suara derap barisan dan nyanyian sekelompok pasukan. Beberapa saat kemudian, datanglah sekira 100 anggota Barisan Pelopor dari Penjaringan pimpinan S. Brata.





















