Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Maddasim Dibacok Polisi
SOEPRAPTO seorang pendekar Setia Hati (SH) dari Tegal. Setelah Pemberontakan PKI di Banten pada November 1926, dirinya ikut dibuang ke Tanah Merah Boven Digoel, Papua. Bakatnya dipakai pemerintah kolonial dengan menjadikannya pemimpin satuan pengamanan yang disebut Rust en Orde Bewaarders (ROB) di Digoel. ROB, yang mempekerjakan orang-orang buangan itu, bekerja untuk memata-matai kaum pergerakan di Boven Digoel. Suatu hari, segerombolan orang buangan hendak menemui asisten residen. Mereka ingin membahas masalah makanan. Hanya itu yang mereka permasalahkan. Tidak lebih, apalagi sampai hendak membuat gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Soeprapto berupaya menemui asisten residen, namun tak berhasil. Setelah dia memberitahu asisten residen tidak ada lantaran sedang berada di Kampung D, separuh dari orang-orang itu kembali dan separuhnya lagi terus mencari asisten residen.
- Moesirin, Serdadu KNIL Jadi Digoelis
GEMPITA kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 disambut rakyat dengan pendirian berbagai organisasi maupun badan perjuangan. Pada 15 September 1945, berdirilah Partai Buruh Indonesia (PBI). Beberapa bekas pekerja di Dinas Tenaga Kerja zaman pendudukan Jepang ada di dalam partai ini. PBI kemudian dipimpin oleh Setiadjit yang baru pulang dari Belanda dan Moesirin yang belum lama pulang dari Australia. Ketika masih di Australia, Moesirin sudah bergerak melawan Kerajaan Belanda yang hendak menduduki kembali Indonesia. Koran De Waarheid tanggal 10 April 1947 menyebut Moesirin telah mengorganisir pemogokan buruh dermaga di Australia dalam rangka mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. Moesirin yang lahir di Madiun, 14 April 1901, ini memang terlibat dalam pergerakan buruh sedari muda. Berita De Locomotief edisi 9 Agustus 1927 menyebutkan Moesirin alias Soekarata sebelum 1927 adalah pegawai perusahaan kereta api negara, Staat Spoorwagen (SS). Di sana, Moesirin terus aktif berorganisasi dengan menjadi bagian dari serikat buruh perusahaan tersebut.
- Kisah Budisucitro, Buangan Digoel Nomor 1
PADA Januari 1926, tiga orang pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) diburu pemerintah kolonial Belanda. Mereka menghilang dan kemudian diketahui melarikan diri ke Singapura. Ketiga pemimpin itu adalah Musso, Soegono, dan Budisucitro. Nama terakhir kemudian ditangkap pasca gagalnya pemberontakan PKI. Dia dibuang ke Boven Digoel dengan nomor deportasi 1. Di kamp Tanah Merah, selain terkenal sebagai buangan nomor 1, Budisucitro juga cukup terhormat. Bersama Aliarcham, ia seringkali menjadi perwakilan para tahanan dalam berbagai persoalan. Misalnya ketika tunjangan 30 sen perhari hendak dicabut, Budisucitro, Aliarcham, dan Said Ali, dikirim untuk menanyakan keputusan itu. Adu debat dengan kontrolir membuahkan hasil, tunjangan tidak jadi dicabut. Peran Budisucitro berlanjut. Pada 24 hingga 27 Januari 1928, diadakan kongres untuk membentuk Centrale Raad Digoel (CRD) atau Dewan Pusat Digoel. CRD berisi 21 anggota yang mendapat suara terbanyak dalam pemilihan langsung. Pemilihan tersebut baru rampung pada 27 Februari 1928. Budisucitro berada di urutan kedua dengan mendapat 462 suara, sedangkan urutan pertama dipegang oleh Aliarcham dengan 515 suara.
- Digoelis Jadi Artis
UNTUK menyingkirkan para pemberontak, Belanda menyiapkan Boven Digoel. Lokasinya yang kelilingi hutan di tengah-tengah Pulau Papua dan sungai-sungai penuh buaya membuat para tahanan hampir mustahil untuk kabur. Selain itu malaria dan isolasi dari peradaban manapun diharapkan membuat para pembangkang kapok. Banyak dari orang-orang buangan tetap pada pendiriannya. Banyak pula yang menyerah atau pura-pura jinak agar dipulangkan ke kampung halaman. Mereka yang berhasil bebas dari Digoel ada yang tetap melawan kolonialisme, ada pula yang pensiun karena kapok dibui. Salah satunya adalah Mustajab Budrasa, Digoelis yang jadi artis. Mustajab Budrasa lahir di Tegal pada 13 April 1901. Menginjak remaja, ia masuk ke Sekolah Guru Normal dan kemudian lulus pada 1918. Ia lalu menjadi guru sekolah dasar di Pekalongan hingga 1925.
- Sontani, Pelopor Pelarian dari Kamp Boven Digoel
“Son! Tok! tok! tok! Sontani…!” “Hai, siapakah itu?" “Ssst! Lupakah kau? Aku Saleh.” “O, ya…! Silahkan masuk! Tunggulah sebentar!” “Mengapa, tadi tidak bersedia lebih dulu?” “Mana boleh, tidak bersedia lebih dulu. Lihatlah ini, sudah mulai tadi aku berpakaian, waktu tidur masih juga bersepatu.” Semua perlengkapan telah disiapkan. Parang panjang dan botol minum di pinggang. Bekal telah terbungkus karung. Topi dikenakan dan kapak besar dipanggul. “Mari!” kata Sontani kepada Saleh. Mereka pun bergegas menuju ke belakang rumah dan masuk ke dalam hutan rimba. Maka dimulailah perjalanan Sontani dan Saleh, kabur dari Boven Digoel!
- Melihat Lebih Dekat Keris Diponegoro
SEPANJANG dua minggu terakhir jagat sejarah Indonesia tengah ramai. Keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro kembali ke Indonesia setelah hampir 189 tahun berada di Belanda. Sebelum pengembalian, keris itu melalui berbagai tahap verifikasi yang melibatkan para sejarawan antara lain Sri Margana. Kesimpulannya, benar bahwa keris itu milik Pangeran Diponegoro.
- Pulangnya Keris Pusaka Warisan Puputan Klungkung
BAGIAN hulu atau gagangnya berlapis emas dengan taburan bebatuan permata. Ukirannya menggambarkan sosok Batara Bayu atau Dewa Bayu sang penguasa angin penangkal kejahatan. Sementara, bilah bergelombangnya berbahan nikel, sedangkan warangka atau sarung kerisnya berbahan kayu berlapis ukiran keemasan. Ciri-cirinya begitu khas menggambarkan keris pusaka asal Klungkung, Bali. “Kris buitgemaakt bij Klungkung” (keris yang diambil di Klungkung), begitu tajuk laporan provenance research atau penelitian asal-usul atas konfirmasi artefak tersebut dari Comissie Koloniale Collecties dengan nomor advies I-2023-2 yang diterima Historia. Keris pusaka Klungkung itu jadi satu dari 472 objek bersejarah yang direpatriasi dari Belanda. Serah terimanya sudah diresmikan Menteri Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu dan Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda, pada 10 Juli 2023. Provenance research -nya dilakukan bersama antara para pakar yang mewakili pemerintah Belanda dan Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda di bawah naungan Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek RI. Seiring pemulangan satu persatu artefak itu, beberapa di antaranya diperlihatkan kepada publik dalam pameran “Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, kurun 28 November-10 Desember 2023. Keris Klungkung termasuk yang dipamerkan.
- Selayang Pandang Keris Kiai Nogo Siluman
BERBAHAN dasar besi warna hitam, keris itu berhias ukiran berlapis emas. Ukirannya menggambarkan naga yang tubuhnya memanjang di sekujur bilah keris. Sesosok naga lainnya juga terlihat di bagian bawah bilah keris yang berdekatan dengan gagang keris. Deskripsi itu memastikan keris yang dipajang dalam pameran “Repatriasi: Kembalinya Saksi Bisu Peradaban Nusantara” di Galeri Nasional, Jakarta, sepanjang 28 November-10 Desember 2023 itu merupakan salah satu peninggalan Pangeran Diponegoro, yakni Keris Kiai Nogo Siluman. Keris pusaka itu direpatriasi pemerintah Indonesia pada tahun 2020. Keris keramat itu turut jadi saksi bisu perlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Meski begitu masih samar asal-usulnya dan bagaimana Pangeran Diponegoro mendapatkan keris itu. Peter Carey dalam biografi Diponegoro The Power of Prophecy memperkirakan, keris itu didapatkan sang pangeran dari semedinya di Gua Siluman di Pantai Selatan pada 1805.
- Bergerilya di Filipina
AKU masuk tentara sebagai operator radio pada 22 Desember 1940. Setelah mendapatkan pelatihan di Cimahi, aku bergabung dengan Skuadron Kavaleri 2 di Bandung ketika perang pecah. Setelah kejatuhan Jawa, aku ditawan bersama ribuan orang lainnya di Bandung. Setelah enam bulan, aku mendaftar sebagai tentara pembantu Jepang (Heiho) agar bisa keluar dari kamp tawanan dan bisa bertemu kerabat. Jepang telah menyatakan jika kami mau bekerja di luar memperbaiki jembatan dekat Bandung, kami akan dibayar 30 sen per hari. Tapi kami malah dibawa dengan pengawalan ke Cirebon dan kemudian Tanjung Priok. Kami dikirim ke luar negeri tanpa tahu tujuan. Akhirnya kami tiba di Rabaul, New Britain, sekira September 1942. Selama di sana aku ditugaskan sebagai penerjemah. Kami tinggal selama hampir tujuh bulan dan kemudian dibawa lagi ke Filipina.
- Kisah “Robin Hood” dari Pantura
DALAM penelitiannya, sejarawan Anton Lucas mewawancarai banyak saksi peristiwa Tiga Daerah, revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang meliputi wilayah Brebes, Tegal dan Pemalang, pada bulan Oktober 1945. Beberapa saksi berkisah tentang peran lenggaong atau para jago yang mencitrakan diri sebagai kaum republiken, pendukung kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan Sukarno dan Mohammad Hatta di Jakarta, 17 Agustus 1945. Anton merumuskan peranan para jago tersebut sebagai ciri-ciri dari revolusi sosial pascaproklamasi kemerdekaan. “Pengaruh lenggaong dalam revolusi sosial Tiga Daerah memang sangat jelas. Merekalah yang memimpin aksi dombreng dan menyerang lurah-lurah semasa revolusi sosial di bulan Oktober,” tulis Anton Lucas dalam bukunya Peristiwa Tiga Daerah: Revolusi dalam Revolusi. Mengapa lurah menjadi sasaran penyerangan dan apa yang dimaksud dengan “dombreng”? Pada era penjajahan Jepang sebagian besar sumber daya dan bahan pangan dieksploitasi demi kepentingan perang Jepang. Takluknya kolonialisme Belanda di tangan Jepang tidak membuat keadaan lebih baik, justru situasi semakin buruk. Elit-elit lokal tetap berkuasa di bawah pendudukan Jepang, sementara masyarakat harus bertahan hidup dengan jatah beras pembagian Jepang yang sangat minim.
- Pengaruh Kebudayaan India di Pantura
NUR ROHMAT, ketua pengurus pembangunan musala, membidik lokasi di tengah lahan persawahan Desa Tohyaning. Di situlah musala akan didirikan bagi para peziarah makam Ki Gede Miyono, tokoh cikal bakal masyarakat Desa Kayen, Kabupaten Pati. Ketika pembangunan musala dimulai, Nur Rohmat dan kawan-kawan menemukan struktur bangunan dan re runtuhan bata berukuran besar. Mereka kumpulkan bata yang masih untuh untuk merenovasi makam Ki Gede Miyono. Meski pondasinya telah rampung, pembangunan musala dihentikan. Lokasinya digeser 5 meter dari penemuan bata kuno. Penemuan bata kuno itu dilaporkan kepada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Setelah ditinjau oleh BP3, diketahui bahwa di Desa Kayen terdapat struktur bata kuno yang terpendam dalam tanahhampir seluas kolam renang standar Olimpiade. Temuan lain berupa arca Siwa Mahakala, keramik, dan artefak perunggu.
- Revolusi Indonesia yang Memantik Gerakan Dekolonisasi
SEBAGAIMANA preambul UUD 1945 bahwa kemerdekaan menjadi hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sosok Sukarno sebagai sebuah ide dalam perannya di dunia internasional membebaskan negeri-negeri terjajah akan selalu relevan untuk dibicarakan. Bahkan ketika zaman begitu cepat bergulir dengan teknologi 4.0. Dunia bisa menyaksikan dengan mata telanjang secara langsung lewat gawai masing-masing tentang kegetiran yang masih berlangsung di Palestina: pendudukan dan sistem apartheid di Tepi Barat serta genosida di Jalur Gaza terus dilakukan zionis Israel. Ironisnya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun gagal menghentikan pelanggaran itu hingga mengusik rasa kemanusiaan. Gencatan senjata di Gaza sejak 10 Oktober 2025 yang diklaim berhasil dicapai Presiden Amerika Serikat Donald Trump pun dianggap angin lalu oleh Israel yang hingga kini sudah lebih dari 40 kali melanggarnya. Sejarawan Belgia David Grégoire Van Reybrouck turut prihatin atas situasi itu. Ditemui selepas memberikan public lecture bertajuk “Sukarno and the Making of the New World” di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (22/10/2025) malam, ia mengatakan spirit Bandung hail Konferesi Asia-Afrika (KAA) pada 1955 bisa jadi cermin bagaimana banyak negara berkepentingan bisa satu suara untuk menggugat penjajahan.



















