top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita di Balik Nama Kurma

    DI BULAN Ramadan, kurma bukan sekadar buah yang dikonsumsi untuk berbuka puasa, tetapi juga menjadi ikon untuk menyambut bulan suci yang penuh berkah. Di luar manfaatnya yang banyak, kurma juga memiliki cerita panjang terkait sejarah budidaya buah manis kaya nutrisi ini. Bahkan, dari namanya pun terselip cerita menarik yang menggambarkan bagaimana buah tersebut membentuk sejarah peradaban dunia. Berbeda dengan Indonesia yang mengenal buah manis ini dengan sebutan kurma, dalam bahasa Inggris kurma dikenal dengan nama dates. Sejarawan kuliner Nawal Nasrallah mencatat dalam Dates: A Global History, di masa lalu pohon kurma disebut dengan nama dactylifera yang merupakan gabungan dari kata dactylus (kurma) –dalam bahasa Yunani, dactylos– dan fero (menghasilkan). “Secara harfiah, kata Yunani dactylus berarti ‘jari’, dan nama tersebut diterapkan pada buah kurma yang berbentuk lonjong... Dalam Book of Dreams Artemidorus, seorang pria yang menderita penyakit di perutnya berdoa kepada dewa untuk disembuhkan. Dalam mimpinya, ia melihat dirinya berada di kuil dewa penyembuhan. Dewa itu memegang jari-jari tangan kanan pria itu dan meminta dia untuk memakannya. Begitu pria itu bangun, ia memakan lima kurma, dan sembuh. Artemidorus menjelaskan bahwa pohon kurma disebut jari,” tulis Nasrallah.

  • Membendung Invasi Mongol di Palestina

    KOTA-KOTA yang terbakar hingga jutaan nyawa manusia penduduknya melayang lazim jadi buntut invasi bangsa Mongol. Kendati di masa jayanya bangsa Mongol sampai punya wilayah kekuasaan dari pesisir Pasifik di timur hingga dekat gerbang kota Wina di barat, terdapat pula kisah serangan-serangan Mongol yang kandas. Salah satunya di Palestina. Jauh sebelum Raden Wijaya sang pendiri Majapahit membantai pasukan Mongol di Jawa (1293) dan para samurai Jepang mengusir invasi Mongol (1274-1281) serta dicegahnya invasi Mongol ke India oleh Kesultanan Delhi (1221-1327), bangsa Mongol lebih dulu merasakan getir kekalahan dari Kesultanan Mamluk (1260). Kekalahan Mongol di tanah Palestina itu disebut-sebut sebagai kekalahan menentukan dan permanen pertama Mongol karena sekaligus membendung invasi Mongol menuju kawasan Afrika Utara dan Eropa melalui Mediterania. Pasukan Mongol kocar-kacir setelah meladeni perlawanan alot Kesultanan Mamluk yang dipimpin Sultan Sayf ad-Din Qutuz dan jenderalnya, Baybars al-Bunduqdari, di Pertempuran Ain Jalut pada 3 September 1260. Ketika itu masih di bulan puasa, tepatnya tanggal 26 Ramadan 658 Hijriah. Beberapa sumber lain menyebut pertempurannya terjadi pada 6 September 1260/25 Ramadan Hijriah.

  • Kala Dubes Amerika Nyaris Digebuk Jenderal Moersjid

    PADA 1968, Duta Besar Amerika Serikat Marshall Green bersiap-siap mengakhiri tugasnya di Indonesia. Tugas baru menantinya sebagai asisten Menteri Luar Negeri AS urusan Asia Timur dan Pasifik. Untuk itulah Green sering wara-wiri ke Filipina, yang menjadi salah satu negara sekutu Amerika di kawasan Asia-Pasifik. Suatu ketika di Manila International Airport, kira-kira bulan Oktober atau November 1969, Green bersua dengan Mayor Jenderal TNI Moersjid, duta besar Indonesia untuk Filipina, di sebuah jamuan. Green tentu mengenal Moersjid. Setidak-tidaknya Green tahu bahwa Moersjid sebelumnya seorang pejabat tinggi di Markas Besar Angkatan Darat. Semasa Green awal bertugas di Indonesia tahun 1965, Moersjid menjabat sebagai Deputi I Menteri/Panglima Angkatan Darat. Dengan kata lain, Moersjid adalah wakil Jenderal Ahmad Yani yang membidangi urusan operasi dan intelijen. Dalam pertemuan itu, Green melakukan provokasi. Dalam bahasa Inggris dia bertanya kepada Moersjid, “Bagaimana kabar Si Bung? (How’s the Bung doing?). “Si Bung” yang dimaksud adalah Presiden Sukarno yang sudah lengser dari kekuasaan. Kedudukan Sukarno kian melemah setelah Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pada 1968, Sukarno sudah diberhentikan MPRS sebagai presiden dan digantikan oleh Jenderal Soeharto. Pada 1969, Sukarno bahkan harus menjalani masa-masa tahanan rumah di Wisma Yaso.

  • Howard Jones, Duta Besar Penyambung Jakarta-Washington

    AWAL 1961, Presiden Sukarno akan mengadakan muhibah keliling dunia. Selain berkampanye masalah Irian Barat, Si Bung juga ingin menggalang kekuatan negara dunia ketiga sekaligus memperkenalkan konsep non-blok menghadapi situasi Perang Dingin. Rencananya, kunjungan itu meliputi negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, terutama yang berpaham sosialisme. Duta Besar AS di Jakarta, Howard Jones mendapati informasi bahwa Sukarno akan mengadakan perjalanan selama tujuh puluh hari. Jones tahu, untuk mengunjungi Meksiko rute perjalanan Sukarno harus transit di Los Angeles, California. Hal ini dengan cepat disampaikan Jones kepada Departemen Luar Negeri AS. Jones mendesak pemerintahnya agar Kennedy mengundang Sukarno menyinggahi Washington. Jones juga menyarankan agar Kennedy menyambut langsung kedatangan Sukarno, sebagaimana penghormatan yang diterimanya ketika mengunjungi Uni Soviet. “Hubungan pribadi sangat penting dalam bidang internasional. Hubungan (Sukarno) dengan Presiden Kennedy bisa sangat berarti bagi kedua negara,” ujar Jones dalam memoarnya Indonesia: The Possible Dream.

  • Howard Jones, Duta Besar AS Karib Sukarno

    DALAM otobiografinya, Sukarno menyebut beberapa pemuka asing namun punya peran penting. Misalnya, Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, termasuk dua presiden AS: Dwight Eisenhower dan John F. Kennedy. Dari sekian nama, hanya seorang dari kelompok duta besar (dubes) yang paling berkesan bagi Bung Besar. “Seorang asing yang mengerti kepadaku adalah Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones,” kata Sukarno kepada penulis Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Kami sering terlibat dalam perdebatan-perdebatan sengit dan pahit, akan tetapi aku semakin memandangnya sebagai seorang kawan tercinta.” Jones memang piawai mengambil hati Sukarno yang senang sanjungan. Kepada Sukarno, Jones menggambarkan sosok sang presiden sebagai perpaduan antara Franklin Delano Roosevelt, presiden Amerika ke-32 dan Clark Gable, aktor tampan Hollywood. Sebagai lobi-lobi diplomatik, pujian Jones berhasil. Namun Jones bisa jadi tak membual atas ucapannya.

  • Raden Mattaher dan Durian di Muaro Jambi

    SETELAH minggu kedua bulan Desember adalah waktu yang tepat untuk makan durian di sekitar Muaro Jambi. Di poros jalan antara kota Jambi menuju arah Candi Muaro Jambi, pedagang-pedagang durian banyak terlihat. Harga durian di pinggiran jalan itu relatif murah. Apalagi jika mau berburu ke arah Kumpeh, sebuah kecamatan di Kabupaten Muaro Jambi. “Dua ratus ribu bisa bawa karung,” kisah Dwi Raharyoso, pengajar sastra Universitas Jambi, menceritakan koleganya yang sukses berburu durian ke daerah Kumpeh. Selain mengalami musim durian, Kumpeh juga mengalami musim duku. Duku Kumpeh juga terkenal. Selain terkenal dengan duku dan duriannya, Kumpeh juga punya cerita. Antara 1890 hingga 1906, terjadi Perang Kumpeh di sana. Perang tersebut antara orang-orang Jambi di bawah Kesultanan Jambi melawan tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), yang embrionya telah ada sejak kesultanan melawanan monopoli perdagangan VOC di Jambi. Kendati timbul-tenggelam, perlawanan Kesultanan Jambi terus eksis hingga menjelang abad ke-20 datang.

  • Insiden Duta Besar Marshall Green

    KETIKA menyerahkan surat kepercayaannya di Istana Negara pada 26 Juli 1965, kesabaran Duta Besar Amerika Marshall Green langsung diuji oleh Presiden Sukarno. Dalam sesi pertukaran pernyataan, Sukarno menyerang dengan keras kebijakan politik luar negeri AS. Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan turut hadir dan memperhatikan gerak-gerik Green. “Marshal Green pura-pura tidak mendengarkan serangan Bung Karno. Sebaliknya, ia dengan tertib berdiri dengan tegaknya di ruangan upacara, meskipun kemudian hari ia mengakui tidak tahan dan ingin pergi meninggalkan Istana,” kenang Saelan dalam Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa. Green dalam memoarnya mencatat, perlu waktu berminggu-minggu bagi duta besar yang bertugas di Indonesia untuk memasuki upacara seperti itu. Penerimaan yang cepat ditafsirkan Green sebagai suatu penghormatan. Tetapi, kemudian dia sadar, Sukarno barangkali ingin menggunakan kesempatan awal ini untuk menghina duta besar AS yang baru.

  • Sukarno, Jones, dan Green

    JIKA ada orang Amerika yang paling disenangi Presiden Sukarno, orang itu tentu bernama Howard Palfrey Jones. Selama delapan tahun, Jones menjembatani hubungan Jakarta dan Washington sebagai duta besar. Sukarno dalam otobiografinya menyanjung Jones selayaknya seorang sahabat yang karib. “Seorang orang asing yang mengerti kepadaku adalah Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Kerapatan Jones dan Sukarno terbukti dari begitu banyaknya hal-hal yang mereka bincangkan. Mulai dari keluarga, kelinci yang beranak-pinak, nasi goreng, aktor Hollywood, hingga persoalan serius mengenai hubungan politik antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Ketika Irian Barat dimenangkan Indonesia lewat Perjanjian New York, Jones adalah orang pertama yang memberitahu Sukarno kabar itu. Jones bahkan berperan dalam mendorong Sukarno untuk menuliskan otobiografinya.

  • 21 September 1943: Rakyat Sabah Membenamkan Matahari Terbit

    HARI ini, 21 September 1943, 79 tahun silam, Albert Kwok (Guo Heng Nan) mendirikan Kinabalu Guerillas Force. Organisasi perlawanan terhadap penguasa militer Jepang itu didirikannya sebagai respon terhadap kekerasan yang dilancarkan para serdadu Nippon sejak menduduki Kalimantan Utara (kini Sabah). Jepang menduduki Sabah pada pembukaan tahun 1942. Pendudukan Sabah, sebagaimana pendudukan kota-kota di Kalimantan yang diduduki Jepang sebelumnya, terbilang tanpa perlawanan berarti. Jurnalis Nikolaos Theotokis menulis dalam Airborne Landing to Air Assault: A History of Military Parachuting, pasukan terjun payung Jepang pertama kali terlibat dalam pertempuran selama invasi Kalimantan pada Desember 1941. Tujuan utama kampanye ini adalah ladang minyak di Miri di wilayah Sarawak dan Seria di Brunei dan lapangan terbang yang dekat dengan perbatasan dengan British Malaysia (Sarawak).

  • Pasukan Jepang Merebut Kuala Lumpur di Musim Durian

    PARA pejabat kolonialis Eropa, termasuk Residen Jenderal Federasi Negeri-Negeri Melayu (FMS) Hugh Fraser dan Panglima Komando Malaya Jenderal Arthur Percival beserta sebagian besar serdadunya sudah lari tunggang-langgang ke Singapura. Di hari itu, 11 Januari 1942, ibukota Kuala Lumpur otomatis menjadi kota terbuka yang kemudian diduduki pasukan Jepang nyaris tanpa perlawanan. Sebelumnya, Kuala Lumpur menjadi sasaran serangan udara Jepang mulai 21 hingga 22 Desember 1941. Sepekan pasca-tahun baru, Divisi ke-5 Angkatan Darat (AD) ke-25 Jepang pimpinan Jenderal Tomoyuki Yamashita menghancurkan Divisi India ke-11 di Pertempuran Sungai Slim (5-7 Januari 1942) dekat kota Tanjung Mualim. “Lalu pasukan veteran Perang China itu juga merebut pangkalan udara (lanud) Kota Baru yang strategis untuk menguasai ruang udara. Sampai kemudian pada 11 Januari 1942, mereka mencapai Kuala Lumpur. Pasukan persemakmuran [Inggris] mundur secepat mungkin ke Singapura,” tulis Michael Tai dalam China and Her Neighbours: Asian Diplomacy from Ancient History to the Present.

  • Ketika Dubes AS Dipaksa Makan Durian

    DUTA Besar Amerika Serikat (AS) Marshall Green mendapat surat kepercayaan dari Presiden Sukarno pada 26 Juli 1965. Green menggantikan Howard Jones yang sudah sejak 1964 ingin pensiun. Berbeda dari pendahulunya yang bisa bersahabat dengan Sukarno, Green justru sebaliknya. Tahun 1965 menjadi titik didih hubungan Indonesia dan (AS). Sukarno makin mesra dengan negara-negara komunis seperti Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Vietnam, atau Korea Utara dan makin anti-Amerika. Sikap Sukarno terhadap AS makin jelas pada pidato 17 Agustus 1965 yang berjudul “Tahun Berdikari”. Dalam pidatonya, Sukarno menyinggung tentang nasionalisasi modal asing termasuk milik AS. Sukarno juga menantang AS terkait dukungannya terhadap Malaysia. “Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap ‘Malaysia’ dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong ‘Malaysia’ dan memusuhi RI –ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi RI-AS,” kata Sukarno.

  • Riwayat Durian di Nusantara

    SEJAK kapan manusia mulai menyantap buah durian (durio zibethinus) atau siapa yang pertama kali menemukan buah durian tak pernah ada fakta sejarah yang pasti mengenai itu. Namun bila pertanyaan diajukan tentang sejak kapan penduduk di Nusantara mengonsumsi durian, maka jawabannya selalu tersedia. Paling tidak petunjuk tersebut terdapat dalam beberapa relief di candi Borobudur. Dari 2672 panel kisah, beberapa di antaranya menampilkan buah durian yang dijadikan sesembahan buat raja, diperjualbelikan, juga tampak orang-orang yang membawanya bersama buah lain seperti mangga dan manggis. “Dari relief ini kita bisa tahu bahwa durian sudah dikonsumsi oleh penduduk Nusantara sejak 1300 tahun yang lalu,” kata pakar durian Mohamad Reza Tirtawinata dalam diskusi tentang durian di Serang, Banten tiga pekan lalu. Reza doktor dari Institut Pertanian Bogor, orang penting di balik pendirian taman buah Mekarsari.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page