top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • John Tobing Pencipta “Darah Juang” Berpulang

    TAK terhitung jumlah demonstasi yang pernah dia kuatkan. Lewat lagu ciptaannya, “Darah Juang”. Johnsony Maharsak Lumban Tobing alias John Tobing, sang pencipta “Darah Juang”, juga ikut serta dalam membela petani yang dirugikan karena proyek Kedungombo. Tak hanya demo, dia juga pernah mengunjungi para petani ke desa-desa. Termasuk pergi ke Cilacap, demi para petani Blangguan yang lahan bertahan hidup mereka diambil alih tentara untuk latihan perang. Dia juga sering melihat anak-anak yang perut (juga otaknya) kurang gizi. Dia tahu tidak enaknya kemiskinan itu. Semua kondisi memilukan itu menginspirasi John untuk mengabadikannya lewat lagu. John lalu mewujudkannya.

  • Cat Stevens Masuk Islam

    SEBAGIAN generasi yang tumbuh-besar di era 1990-an dan menikmati musik pop Barat hampir pasti pernah mendengar lagu “Wild World” versi rock yang dibawakan Mr Big. Sebelum Mr. Big, beberapa musisi pernah pula membawakan lagu ciptaan pria dengan nama Steven Demetre Georgiou. “Wild World (1970)” hanyalah satu dari sekian lagu yang pernah dinyanyikan dan diciptakannya dalam album Tea For The Tillermans, selain Fathers and Son. Ketika album itu dirilis, usia Steven baru 22 tahun. Dua lagu itu, setidaknya membuat Steven si bintang pop Inggris menjadi semakin mendunia. Pria dengan nama panggung Cat Stevens ini sejak 1966 sudah terkenal berkat lagu ciptaannya sendiri, “I Love My Dog”. Lagunya sempat nangkring di nomor 28 di UK Singles Chart. Sejak awal kariernya, dia menyanyikan lagu-lagu balada sambil memainkan gitar. Meski sempat belajar piano, namun The Beatles membuatnya menekuni gitar sejak usia 15 tahun.

  • 4 Sehat 5 Sempurna

    NEGERI Belanda permulaan musim semi 1949. Poorwo Soedarmo, lulusan Stovia tahun 1927, berdiri di dekat geladak kapal saat SS Polydorus memasuki Noordhollandsch Kanaal. Poorwo tak hendak pesiar. Dia bekerja sebagai dokter kapal barang SS Polydorus untuk trayek Jakarta- Amsterdam selama Februari sampai September 1949. Ketika melewati kanal itu, dia menatap anak-anak kecil bermain sembari mandi sinar matahari. Dia takjub. “Mereka tampak gemuk, gembira, dan bergairah. Sungguh suatu gambaran ideal health. Betapa bedanya dengan anak-anak di Jakarta,” kenang Poorwo dalam otobiografinya, Gizi dan Saya. Ketika mendarat di Amsterdam, Poorwo menemui beberapa dokter yang sebelum tahun 1940 pernah bertugas di Hindia Belanda, khususnya di bidang gizi. Dari Jansen B.C.P, yang pernah meneliti vitamin B1 di Hindia Belanda, Poorwo mengetahui anak-anak di Belanda gemuk dan sehat karena mendapat jatah susu di sekolah.

  • Makan Bergizi Gratis di Dunia

    KENDATI kritik tetap mengiringi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap digulirkan pemerintahan Prabowo Subianto 6 Januari lalu. Kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan yang terjadi di sana-sini makin “melanggengkan” kritik yang ada sejak program tersebut masih dikampanyekan. Soal terbanyak yang menjadi sasaran kritik kemungkinan soal anggaran pengadaan makanannya. Para pengkritik menyoroti program yang terkesan dipaksakan itu kurang tepat di tengah kesulitan ekonomi yang sedang dialami Indonesia. Sebagian dari mereka menyarankan, anggaran untuk MBG akan lebih tepat bila dialokasikan untuk hal yang lebih mendesak, seperti membuka lapangan kerja. Program semacam MBG akan lancar dan bermanfaat bila diadakan dalam kondisi keuangan negara yang sedang fit. Namun, Profesor Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan punya pendapat berbeda dari para pengkritik tersebut. Kala ditemui Historia.ID Rabu (8/1/25) lalu, dia mengungkapkan bahwa program serupa tak hanya bisa dilakukan oleh negara ketika sudah kaya. “Kalau kita lihat sekarang ini beberapa negara memang sudah melaksanakan model-model makanan bergizi gratis karena menyadari bahwa setiap wilayah itu selalu ada kemiskinan,” terang Ali Khomsan.

  • 27 Januari 1997: Kerusuhan di Pasar Tanah Abang

    PADA Senin, 27 Januari 1997, tepat 30 tahun yang lalu, kerusuhan hebat melanda wilayah Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang biasanya disesaki pedagang dan pengunjung tampak mencekam. Api berkobar dari kendaraan-kendaran yang luluh-lantak. Hari itu, para pedagang Tanah Abang berada di puncak kemarahannya sebagai bentuk perlawanan terhadap pungli atau pungutan liar. “Tanah Abang rusuh,” lansir Berita Yudha, 28 Januari 1997, “7 mobil, 1 sepeda motor, dan Kantor Kecamatan Tanah Abang dibakar dan dirusak.” Dari tujuh mobil plat merah yang dibakar, enam milik Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) serta satu mobil milik wakil camat Tanah Abang. Sebagai pusat perputaran uang di Jakarta Pusat, kerusuhan di Pasar Tanah Abang menyebabkan roda ekonomi lumpuh. Ribuan toko di seluruh blok di Tanah Abang tutup seketika. Kantor camat Tanah Abang dirusak sehingga beberapa dokumen hilang dan terbakar. Selain itu, lalu lintas terpaksa ditutup dari arah Jl. KH Mas Mansyur, Jl. Jati Baru, dan Jl. Petamburan dari pagi hingga tengah hari. Kerugian materil diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.

  • Melawan Lupa Peristiwa Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998

    AKTIVIS dan sejarawan dari Ruang Arsip & Sejarah (RUAS) Perempuan Indonesia, Ita Fatia Nadia, mengenang kembali keterlibatannya dalam perlindungan dan advokasi korban kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998. Ketika itu, Ita mendampingi beberapa korban, tidak hanya wanita muda, tetapi juga anak-anak hingga remaja. Salah satu korban yang didampingi Ita adalah anak perempuan berusia 11 tahun di wilayah Tangerang. Mantan direktur Yayasan Kalyanamitra, lembaga pemerhati isu perempuan, itu mendampingi korban di saat-saat terakhir hidupnya hingga jenazahnya dikremasi. “Ketika Fransiska meninggal, saya menelepon Pak Sandiawan dan Pak Sandiawan memberi tahu saya bahwa semua persiapan untuk pemakaman akan diurus oleh tim relawan karena waktu itu tidak ada satu pun keluarga [korban] yang mendampingi... Saya masih ingat betul Pak Sandiawan datang ke Cilincing sebelum Fransiska dimasukkan ke dalam krematorium. Tidak ada doa, tidak ada siapa pun. Maka Pak Sandiawan mengatakan, ‘saya yang berdoa untuk Fransiska’... Saya tunggu dia sampai [proses kremasi] selesai,” ungkap Ita dalam webinar dan rekoleksi IKAFITE bertajuk “Kesaksian dan Penjernihan Fakta Sejarah Peristiwa 13-15 Mei 1998” yang disiarkan di kanal Youtube HIDUPtv, 11 Juli 2025.

  • Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998 Disebut dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia

    PERNYATAAN Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang menyebut kekerasan seksual terhadap perempuan dalam kerusuhan Mei 1998 hanya rumor menuai kecaman dari berbagai lapisan masyarakat. Hal ini disampaikan mantan Wakil Ketua DPR RI itu ketika membahas penulisan ulang sejarah Indonesia bersama jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi IDN Times, Uni Zulfiani Lubis di kanal youtube IDN Times pada Rabu, 10 Juni 2025. “Betul enggak ada perkosaan massal? Kata siapa itu? Enggak ada buktinya. Itu adalah cerita. Kalau ada tunjukkan. Ada enggak di dalam buku sejarah itu? Kan tidak pernah ada. Rumor-rumor seperti itu, menurut saya, tidak akan menyelesaikan persoalan,” kata Fadli Zon. Pernyataan Fadli Zon tersebut semakin menguatkan penolakan publik terhadap proyek penulisan ulang sejarah Indonesia yang sedang dikerjakan oleh tim bentukan Kementerian Kebudayaan. Proyek buku sejarah nasional tersebut ditolak karena dikhawatirkan mengaburkan sejumlah peristiwa sensitif di masa lalu, khususnya sejarah perempuan dan kasus-kasus pelanggaran HAM berat, seperti kerusuhan Mei 1998.

  • Masuknya Kristen di Indonesia

    APRIL 1511. Setelah membaca surat dari Rui de Araujo, satu dari 19 orang Portugis yang ditahan di Malaka, Alfonso de Albuquerque, gubernur Portugis kedua di India, mengumpulkan pasukan dalam jumlah besar dan berlayar dengan belasan kapal menuju Malaka. Dalam waktu singkat, dia berhasil menaklukkan Malaka, pelabuhan perdagangan penting kala itu. Dari Malaka, Albuquerque mengirim ekspedisi ke kepulauan rempah-rempah. Mereka tiba di Banda, menuju Maluku, dan akhirnya Ternate. Di Ternate, Portugis mendapat izin membangun benteng. Di Maluku, Portugis memantapkan kedudukan sekaligus menyebarkan agama Katolik. Sekelompok pendeta Katolik yang datang bersama Antonio Galvao, kemudian jadi pemimpin Portugis di Maluku, memulai kerja misionaris mereka. Setelah menguasai Malaka, Portugis bisa memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Katolik secara lebih teratur di wilayah timur: Ambon dan Halmahera, Ternate dan Tidore. Salah satu zandeling Katolik di kawasan itu adalah Franciscus Xaverius dari Ordo Yesuit, pastor dari Spanyol yang datang dengan kapal dagang Portugis –kelak dianggap sebagai pelopor penyebaran Katolik di Indonesia.

  • Kristen Abangan ala Sadrach

    PARA pekabar Injil Belanda kelabakan mencari jalan bagaimana agar orang-orang Jawa menjadi Kristen yang sungguh-sungguh. Masyarakat Jawa tak ingin tercerabut dari akar budayanya yang telah dipegang teguh jauh sebelum Kristen datang. Lain halnya dengan para pekabar Injil awam Indo-Eropa yang memperhatikan budaya lokal. Maka muncullah jemaat bumiputera berpenampilan Jawa. Mereka disebut “jemaat Sadrach” karena pemimpinnya adalah penginjil Jawa kharismatik, Sadrach Surapranata. Sadrach tinggal di Karangjasa, sebuah desa terpencil di selatan Bagelan, bekas karesidenan di Jawa Tengah. Sejak pertengahan kedua abad ke-19, Karangjasa dikenal sebagai tempat mengabarkan Injil oleh para pejabat kolonial Belanda, Misi Gereja-gereja Gereformeerd Belanda (ZGKN), dan orang-orang Kristen Jawa. Tapi pemerintah kolonial menganggap Sadrach sebagai pemimpin pemberontak yang mengancam stabilitas, ketentraman, dan ketertiban umum. Sedangkan para zending Belanda menganggap kekuasaan Sadrach dan kepemimpinannya sudah melampaui batas-batas kekristenan yang benar dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Calvinisme. “Mereka menuduh Sadrach sebagai pemimpin orang Jawa sesat dan menganggap ajarannya sebagai campuran antara pemikiran Kristen dan bukan Kristen. Jemaatnya dianggap orang-orang Kristen palsu atau jemaat Islam yang berpakaian Kristen,” tulis Soetarman Soediman Partonadi dalam Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya. “Karenanya desa Karangjasa yang artinya ‘batu karang yang teguh berdiri’ menjadi Karangdosa yang artinya ‘batu karang dosa’.”

  • Pasang Surut Kristen di Sulawesi Tenggara

    KRISTEN Protestan di Sulawesi Tenggara pernah berjaya di era Hindia Belanda. Jumlahnya terus meningkat: 2609 jiwa pada medio 1930-an, 2806 jiwa pada akhir 1937, 3270 jiwa pada akhir 1940 masih ditambah calon baptis 6000 jiwa. Pada masa yang sama, majalah De Opwekker khusus Kristen berbahasa Belanda, mencatat jumlah penganut Protestan di seluruh Hindia Belanda sekira 700.000 orang, 100.000 orang di antaranya adalah orang Eropa. “Fakta ini menimbulkan pertanyaan, mengapa di Sulawesi Tenggara pada masa kolonial Hindia Belanda mengalami perkembangan yang pesat. Berbanding terbalik dengan kondisi kekinian di mana penganut Protestan hanya sekitar satu persen dari seluruh jumlah penduduk Sulawesi Tenggara,” ujar Basrin Malamba, sejarawan dari Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara. Kristen Protestan di Sulawesi Tenggara dibawa oleh Nederlandsche Zendings Vereeniging (NZV). Misi zending atau pekabaran injil ini mulai bekerja disana sejak 1916 hingga runtuhnya negara kolonial, 1942.

  • Percobaan Pertama Pembunuhan Sukarno

    DUA anak itu berjalan mengapit Presiden Sukarno yang terlihat sumringah saat melangkah keluar dari gedung sekolah Perguruan Tjikini. “Dengan suasana hati yang gembira aku mempermainkan rambut seorang anak yang berjalan di samping sebelah kiriku dan mendekap anak yang melekat ke kaki kananku,” kata Sukarno dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Sabtu malam itu, 30 November 1957, Sukarno menghadiri malam amal dalam rangka hari jadi Sekolah Rakyat (SR) Perguruan Tjikini yang ke-15. Dia hadir bukan sebagai presiden melainkan sebagai orang tua murid dari Guntur dan Megawati Sukarnoputri. Tapi Guntur dan Mega tak ikut pulang. Mereka memilih tetap di sekolah, menonton film yang bakal diputar selepas resepsi. Pukul 20:45 Kepala Sekolah Sumadji dan Ketua Panitia Ny. Sudardjo mengantar Presiden Sukarno menuju mobil kepresidenan yang menunggu di depan sekolah. Belum lagi langkah kaki presiden beranjak masuk ke dalam mobil, seketika ledakan menggelegar tak jauh darinya. Dar! Semula orang mengira ledakan berasal dari ban yang meletus. Namun, tak lama setelah ledakan pertama, ledakan kedua kembali terdengar. Kali ini semua orang panik, menjerit, dan berlarian menyelamatkan diri.

  • Tujuh Nyawa Putra Sang Fajar

    DI MAKASSAR, Presiden Sukarno mengalami dua kali upaya pembunuhan. Sebelum peristiwa penggranatan di Jalan Cendrawasih, dia menjadi sasaran mortir pada 1960. Kejadian itu dikenal dengan Peristiwa Mandai. “Masih dua kali lagi upaya pembunuhan terhadapku. Keduanya di Makassar,” kata Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. Setiba di lapangan terbang Mandai, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kota Makassar dengan pengawalan lengkap. “Dalam perjalanan menuju kota Makassar ini, rombongan Presiden Sukarno ditembaki oleh gerombolan dengan mortir, tetapi tidak mengenai sasaran,” kata Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945–1967.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page