top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • S.K. Trimurti Murid Politik Bung Karno

    LUKISAN itu berukuran 100 x 60 centimeter. Presiden Sukarno menyematkan penghargaan Bintang Mahaputra Tingkat III ke dada S.K. Trimurti. Wajahnya datar. Tak ada senyuman menghiasi bibirnya. Sementara Trimurti berusaha menahan diri agar mulut tak terbuka dan tertawa. Bagi Trimurti, kejadian ini lucu sekali. Kala itu hubungannya dengan Sukarno lagi renggang. Gara-garanya Trimurti mengkritik kebiasaan Sukarno yang doyan kawin. Dalam hati dia bertanya: “Bung Karno ini benci apa tidak kepada saya? Kok, selagi saya masih di-jothak (didiamkan), saya diberi bintang. Saya ini sebetulnya termasuk orang yang kurang ajar atau orang yang kelebihan ajar? Entahlah. Tapi ini pengalaman unik.” Hidupnya memang tak bisa lepas dari sosok Sukarno. Setelah melihat langsung pidato Sukarno dalam rapat umum Partindo di Purwokerto tahun 1932, Trimurti masuk Partindo dan sejak itu menjadi kader kesayangan Bung Karno. Hubungan guru-murid ini kemudian terputus ketika pemerintah kolonial menangkap dan membuang Sukarno ke Flores pada Agustus 1933, lalu dipindahkan ke Bengkulu pada 1938 hingga awal pendudukan Jepang. Sementara Trimurti pulang kampung dan melanjutkan perjuangan di Jawa Tengah.

  • S.K. Trimurti di Tengah Tokoh Kiri

    S.K. TRIMURTI kerap datang ke rumah Ahmad Subardjo, yang sudah jadi menteri luar negeri, di Jalan Cikini Raya untuk meminjam buku. Namun, dalam suatu kunjungan, Subardjo memperkenalkannya dengan seorang lelaki bernama Hussein, yang sejak berada di Jakarta melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh terkemuka Republik. Subardjo kemudian memberitahu nama sebenarnya pada bulan September. Kapan pertemuan pertama terjadi, Trimurti tak ingat. Dia hanya mengatakan, setelah perkenalan itu, dia sempat beberapa kali bertemu lagi dengan Hussein sebelum akhirnya tampil terbuka di muka umum dengan nama sebenarnya: Tan Malaka. Trimurti terkesan dengan kepribadian Tan Malaka. Menurutnya, Tan Malaka seorang manusia bersih, yang menyerahkan segala-galanya untuk cita-citanya, tanpa kepentingan pribadi, dan dengan tak kenal lelah bekerja untuk persatuan. Dia seorang yang jujur, tidak menjelek-jelekkan lawan-lawan politiknya dengan semena-mena melainkan selalu mendorong untuk memikirkan dan menganalisis masalah bersama-sama. Sebagaimana dikutip Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946, Trimurti menyebut, “Beliau seorang intelek, yang bukan termasuk ‘piringan hitam’ yang hanya mengulang-ulang. Dia berani mempertahankan pendapatnya dengan gigih, juga jika harus menghadapi oposisi berat.”

  • 14 Februari 1946: Peristiwa Merah-Putih di Manado

    DINI hari, 14 Februari 1946, kekuatan gabungan rakyat Manado menyerbu dan mengambil-alih tangsi militer Belanda yang berada di Teling, Manado. Mereka membebaskan pemimpin Republik dari tahanan, menawan perwira Belanda, dan mengibarkan bendera Merah-Putih. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Merah-Putih. Peristiwa Merah-Putih tak bisa dilepaskan dari berita proklamasi kemerdekaan Indonesia, yang baru sampai ke telinga rakyat Sulawesi Utara empat hari kemudian. Meski sedikit terlambat, rakyat Sulawesi Utara menyambut dengan sukacita. Namun kegembiraan itu tak berlangsung lama. Pasukan Belanda atau Netherland Indies Civil Administration (NICA), dengan membonceng tentara Sekutu, tiba dan kembali menguasai Sulawesi Utara. Para pemuda-pejuang, termasuk anggota Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) dari Minahasa, yang tergabung pada Pasukan Pemuda Indonesia (PPI) bereaksi. Mereka menyusun rencana untuk menyerang dan mengambil-alih tangsi militer Belanda. Karena beberapa pemimpin pasukan ditangkap, termasuk Charles Choesj Taulu, rencana penyerangan dialihkan kepada Mambi Runtukahu.

  • Eksperimen Penjara Berujung Malapetaka (Bagian I)

    SIRINE mobil patroli kepolisian Palo Alto meraung ketika memasuki permukiman di kawasan California, Amerika Serikat, pada Agustus 1971. Sejumlah polisi masuk ke salah satu rumah untuk menangkap seorang pemuda yang dituding terlibat kasus perampokan bersenjata. Kejadian ini sangat mengejutkan, tidak hanya bagi warga, tetapi juga keluarga pemuda yang dikenal sebagai mahasiswa sebuah universitas itu. Pemuda itu tak mengira setelah mendaftarkan diri sebagai subjek penelitian ahli psikologi di Universitas Stanford, akan dimulai dengan proses penangkapan oleh petugas kepolisian. Kejadian ini belum seberapa buruk dibandingkan dengan yang akan dihadapinya ketika eksperimen di penjara. Apa yang terjadi pada pemuda itu juga dialami oleh sepuluh mahasiswa lain yang menjadi subjek penelitian psikolog Amerika Serikat, Philip G. Zimbardo, yang ingin meneliti dampak psikologis terhadap manusia di dalam penjara. Penelitian “Stanford Prison Experiment” itu merupakan salah satu eksperimen paling terkenal dan kontroversial pada 1970-an.

  • Kiprah S.K. Trimutri Menteri Bersandal

    SUATU malam, di rumahnya di Yogyakarta, S.K. Trimurti kedatangan seorang tamu. Namanya Setiadjit, ketua Partai Buruh Indonesia (PBI). Dia bilang Presiden Sukarno meminta dirinya, Adnan Kapau (AK) Gani, dan Amir Sjarifoeddin untuk menyusun kabinet baru dalam waktu 14 jam. Dan sebagai anggota formatur kabinet, mereka akan membentuk Kementerian Perburuhan. Dia menanyakan apakah Trimurti bersedia mengisi pos itu. Spontan Trimurti menolak. “Saya merasa tidak mampu. Saya belum pernah menjadi menteri.” “Bung Karno juga belum pernah menjadi presiden.” Setiadjit mengingatkan Trimurti soal disiplin partai dan memberikan waktu untuk berpikir semalaman. Rencana pembentukan kabinet tak lepas dari kisruh politik di seputar Persetujuan Linggarjati. Karena dianggap merugikan posisi Indonesia, Kabinet Sjahrir III menuai kecaman, termasuk dari anggota partainya di dalam Sayap Kiri. Sjahrir akhirnya mundur sebagai perdana menteri pada 27 Juni 1947. Awalnya Sukarno menunjuk Amir Sjarifoeddin, Sukiman Wirjosanjoyo, A.K. Gani, dan Setiadjit sebagai formatur untuk membentuk kabinet koalisi tapi gagal karena Masyumi meminta jatah kursi-kursi penting. Sukarno lalu menunjuk Amir Sjarifoeddin, A.K. Gani, dan Setiadjit untuk membentuk kabinet nasional.

  • S.K. Trimurti di Tengah Perpecahan

    RUMAH di Pakuningratan, Yogyakarta, ini cukup besar tapi masih kosong. Rumah ini pemberian Ny. Sri Mangunsarkoro, salah seorang pendiri dan ketua Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari). Tak kehilangan akal, S.K. Trimurti menyurati kawan-kawan seperjuangannya tentang niatnya membuat kursus kader. Isinya, minta bantuan. Respons pun berdatangan. Sumbangan berupa tikar, bantal, guling, alat dapur, hingga beras mengisi rumah itu. Bangku dan papan tulis dipinjam dari sana-sini. Trimurti pun siap menghelat kursus kader Barisan Buruh Wanita (BBW) seluruh Jawa. Jumlah peserta sekira 30 orang, dengan lama kursus sebulan. “Tentu saja mereka harus mau tidur di bawah, di atas tikar. Padahal, di antara para peserta ada yang datang dari kelompok ningrat, kaum terpelajar yang termasuk orang berada. Tetapi begitulah pejuang; tidak usah manja,” ujar Trimurti dalam biografinya yang ditulis Soebagijo I.N. Para peserta mendapat pelajaran tentang langkah perjuangan. Selain Trimurti, ada pengajar lain yang datang dan membantu tanpa pamrih. Trimurti sangat gembira. Setelah kursus kader berakhir, para siswa pulang, mengemban tugas untuk Republik yang masih muda.

  • S.K. Trimurti Bukan Tokoh Kelas Berat

    SETELAH beberapa hari menjalani tahanan rumah, S.K. Trimurti mendapat panggilan untuk datang ke penjara Jurnatan, Semarang. Seorang Kenpeitai Jepang bernama Nedaci menginterogasinya. Interogasi tak berjalan lancar karena perbedaan bahasa. “Pokoknya Trimurti mengerti bahwa Jepang mendakwa dia mau melawan Jepang,” tulis Soebagijo I.N dalam S.K. Trimurti, Wanita Pengabdi Bangsa. Trimurti menjawab bahwa dia tak memusuhi Jepang, Belanda, maupun bangsa lain. Yang dimusuhinya hanyalah sikap menjajah dari bangsa-bangsa itu. Jika Jepang datang untuk menjalin persaudaraan, dia akan menyambutnya dengan baik. Tapi kalau mereka datang untuk menjajah, dia akan melawan. Mendengar jawaban Trimurti, Nedaci memelototkan mata sembari menyemburkan sumpah serapah. Dia lalu berdiri dan duduk di bangku sebelah Trimurti. Trimurti melirik. Nedaci mengambil pentungan karet di meja dan memukul kepalanya berkali-kali. “Pada saat-saat tertentu dia sudah tidak merasakan sakit lagi,” tulis Soebagijo I.N.

  • S.K. Trimurti Bergerak

    DI TENGAH kuburan Cina di Wonodri, Semarang, di bawah terang bulan, mereka mengetik atau mencetak pamflet dengan menggunakan agar-agar, “karena tak ada percetakan yang mau mencetak,” ujar S.K. Trimurti kepada Erwiza Erman. Selesai, pamflet dibungkus kain lalu disimpan. Keesokan harinya, dua polisi rahasia Belanda (PID) datang dan menemukan pamflet itu. Trimurti dan Sutarni digelandang ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan, Trimurti mengaku sebagai pembuat pamflet itu, sehingga Sutarni dibebaskan. Setelah menjalani persidangan, untuk kali pertama Trimurti merasakan dinginnya penjara. Pada 1936, dia ditahan sembilan bulan di penjara wanita di Bulu, Semarang. Sementara Sutarni tetap menjalankan Persatuan Marhaeni Indonesia (PMI).

  • Gadis Berlawan dari Sawahan

    SEBAGAI perempuan, sedari kecil, Surastri Karma Trimurti mendapat petuah dari orangtuanya bahwa perempuan, mau tak mau, pada akhirnya akan menjadi seorang istri. Seorang istri harus setia dan patuh, apa pun yang dilakukan sang suami. Trimurti menerjemahkannya bahwa perempuan mesti pandai marak, macak, masak, dan manak. “Marak, artinya menghadap, mengabdi kepada suami. Macak, berarti menghias diri, masak, mengolah dan menyediakan makanan dengan baik, sedang manak adalah melahirkan anak. Ketika petuah-petuah semacam itu meluncur dengan derasnya ke telinga saya, saya masih terlalu kecil untuk membantah,” tulis Trimurti dalam memoarnya, “Dari Politik ke Kebatinan” yang dimuat majalah Tempo, 21 April 1990. Lahir dengan nama Surastri pada 11 Mei 1912 di Sawahan, Boyolali, Trimurti tumbuh di kala kesadaran perempuan mulai meningkat. Di Jakarta sudah berdiri organisasi perempuan pertama Poeteri Mardika yang bertujuan meningkatkan derajat perempuan, yang lalu diikuti perkumpulan serupa di sejumlah daerah. Gagasan kemajuan perempuan juga meluas. Namun, kungkungan adat dan pandangan kolot belum sepenuhnya hilang.

  • Wanita Perkasa Pembela Jelata

    API Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia, menyala dalam dadanya. Sepanjang hidupnya, Surastri Karma (S.K.) Trimurti tak pernah mengesampingkan pentingnya pendidikan politik bagi perempuan. Sebuah lagu berjudul “Dialog Suami-Istri” bisa mewakili kekaguman sejumlah orang akan peran Trimurti, juga Kartini, dalam pendidikan. Lagu ini, dibawakan kakak-beradik Rita Ruby Hartland dan Yan Hartland, begitu akrab bagi pencinta musik country era 1980-an. Liriknya menyiratkan kebahagiaan sepasang suami-istri karena putri mereka menjadi seorang guru, yang mengamalkan ilmu untuk perangi kebodohan hingga jauh ke ujung desa. Begini sepenggal liriknya: Pergilah anakku simpan doaku… songsonglah tugasmu dengan senyummu banyak saudaramu yang masih buta huruf ajarilah mereka… Jadilah Kartini atau S.K. Trimurti pintarkanlah bangsamu. Namun, Trimurti bukan sekadar seorang pendidik. Dia juga wartawan, pengarang, politisi, serta aktivis buruh dan perempuan tiga zaman yang menunjukkan diri sejajar dengan sejawatnya, kaum lelaki. Dia pejuang perempuan yang komplet, yang disegani kawan maupun lawan. “Trimurti dikenal keberaniannya, kelincahan otaknya dalam perdebatan politik dan ketajaman penanya,” tulis Achmad Subardjo Djojoadisuryo dalam Lahirlah Republik Indonesia. “Yu Tri adalah satu pribadi yang istimewa dan yang jarang terdapat di kalangan masyarakat Indonesia. Api yang tetap menyala dalam tubuhnya tak mungkin dapat dipadamkan,” tulis Adam Malik dalam otobiografinya, Mengabdi Republik. “Bagi saya pribadi Yu Tri tetap Yu Tri, seorang ‘wanita jantan’ tanpa takut dan tanpa pamrih telah mengabdikan dirinya untuk kemerdekaan bangsa dan negara dan seiring ditimpa percobaan namun sama sekali tidak menyebabkannya menyesal.”* Berikut ini laporan khusus S.K. Trimurti Gadis Berlawan dari Sawahan S.K. Trimurti Bergerak Bukan Tokoh Kelas Berat Di Tengah Perpecahan Kiprah Menteri Bersandal Di Tengah Tokoh Kiri Murid Politik Bung Karno Menyalakan Api Kartini Pecah Kongsi Perkawinan Biarkan Batin Melayang Dua Buku Menguak Buruh

  • Kejaksaan Agung Membakar Buku-buku Komunisme

    SETELAH menerima Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), Letjen TNI Soeharto membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan organisasi-organisasi di bawahnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 1/3/1966. PKI ditumpas hingga ke akar-akarnya. Korbannya ditaksir mencapai ratusan ribu bahkan jutaan. Namun, PKI tetap ditakuti hingga kini. Pembubaran PKI dan pelarangan penyebaran komunisme ditetapkan dalam TAP MPRS No. XXV/1966 tanggal 5 Juli 1966 yang masih berlaku hingga kini. Berdasarkan ketetapan tersebut dan UU No. 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan, Kejaksaan Agung memiliki wewenang untuk menyita dan memusnahkan karya-karya tentang komunisme. “Dengan pemusnahan inilah wewenang Kejaksaan Agung dilaksanakan,” kata Susanto Kartoatmodjo, jaksa dari Kejaksaan Agung, kepada Ekspres, 1 September 1972. Hasil razia Kejaksaan Agung selama empat bulan (April-Juli 1972) fantastis.

  • Tidak Membakar Buku

    BUKU terjemahan 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karya Douglas Wilson mengundang reaksi. Halaman 24 buku itu tertulis: “Muhammad menjadi perampok dan perompak yang memerintahkan penyerangan terhadap karavan-karavan di Mekah. Muhammad memerintahkan pembunuhan untuk menguasai Madinah.” Front Pembela Islam (FPI) melaporkan ke Polda Metro Jaya bahwa buku tersebut menghina Nabi Muhammad Saw. Pada 13 Juni 2012, disaksikan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, pihak penerbit membakar buku itu. Pada masa kolonial Belanda, kasus serupa pernah terjadi tetapi tanpa pengerahan massa. Yang terjadi adalah polemik. Sebuah buku berjudul Mijn Mislukte Zending (Misi Saya yang Gagal) karya Sir Nevile Henderson terbit dan diresensi koran Java Bode.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page