top of page

Hasil pencarian

9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Papa Mengepung Kota

    RAJA Dangdut Rhoma Irama punya gambaran tentang gelandangan, yang dia sebut tunawisma. Dengarkan saja lagunya, “Gelandangan”: Langit sebagai atap rumahku/ Dan bumi sebagai lantainya/ Hidupku menyusuri jalan/ Sisa orang yang aku makan. Dalam sejarah Nusantara, gelandangan adalah para pengembara atau pengelana, seperti ditulis dalam kitab termasyhur Jawa Serat Centhini, yang ditulis pada awal abad ke-19. Mereka, tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya, memasuki tempat-tempat paling tersembunyi di dunia pinggiran dan terpesona olehnya. Dunia pinggiran itu berfungsi sebagai katup pengaman sosial maupun cagar budaya. Hilangnya hutan-hutan mengakibatkan mereka beralih ke daerah-daerah kumuh di kota-kota besar dan mulai kehilangan gengsi.

  • Cerita Penderita Kusta Jadi Mata-mata di Perang Dunia II (Bagian I)

    JOSEFINA “Joey” Guerrero berjalan terseok-seok di jalanan Manila ketika ibu kota Filipina itu diduduki Jepang pada 1940-an. Sebagai bagian dari gerakan bawah tanah menentang pendudukan Jepang, Joey mendapat tugas untuk mengumpulkan informasi tentang gerak-gerik prajurit dan fasilitas militer Jepang. Selain itu, ia juga berperan sebagai kurir yang menghubungkan informasi rahasia di antara gerilyawan. Pasukan Dai Nippon terkenal keji dalam mengawasi masyarakat di wilayah koloninya. Mereka tak segan melakukan kekerasan kepada orang-orang yang dituduh mata-mata atau gerilyawan saat melakukan pemeriksaan dan interogasi. Akan tetapi, sikap prajurit Jepang berbeda kepada Joey karena kondisinya sebagai pengidap kusta. Dalam artikel “Heroes: Joey” di majalah TIME, 19 Juli 1948, dilaporkan bahwa sebelum perang Joey adalah seorang primadona di masyarakat Manila. Ia muda, cantik, dan lincah. Suaminya seorang mahasiswa kedokteran kaya raya di Universitas Santo Tomas. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan. Wanita yang lahir di Quezon, Filipina, pada 1917 dengan nama Josefina Veluya itu mulai menderita kusta pada 1941.

  • Cerita Penderita Kusta Jadi Mata-mata di Perang Dunia II (Bagian II-Selesai)

    PADA suatu malam di bulan Desember 1944, Joey sedang berbaring di tempat tidur ketika tiba-tiba terdengar suara kendaraan yang semakin dekat. Wanita yang terlahir dengan nama Josefina Veluya –lalu dikenal sebagai Josefina Guerrero setelah menikah dengan mahasiswa kedokteran bernama Renato Maria Guerrero– di Filipina pada 5 Agustus 1917 itu terkejut saat mengintip dari jendela, sebuah mobil perwira Jepang berhenti di depan rumahnya di Ermita. Jantungnya berdegup kencang. Sejak beberapa waktu lalu ia menjadi buruan Kempeitai yang terkenal sangat kejam karena dicurigai sebagai mata-mata yang membantu gerilyawan Filipina dan militer Amerika Serikat. Rekan-rekan gerilyawan meminta Joey untuk menghilang selama beberapa waktu. Namun, ketika pencarian terhadapanya mulai mengendur, ia kembali beraksi sebagai mata-mata. Tak lama setelah mengintip dari jendela, suara langkah kaki diikuti ketukan keras di pintu menyadarkan Joey dari kepanikan. Ia bertanya-tanya adakah yang mengadukannya ke pihak Jepang dan membocorkan informasi tempat tinggalnya kepada mereka. Ketika ketukan semakin keras, ia pun membuka pintu. Begitu pintu dibuka, dua orang pria menerobos masuk ke dalam rumah Joey. Ternyata, kedua tamu tersebut bukan orang Jepang, melainkan seorang gerilyawan Filipina dan perwira Amerika. Mereka meminta izin untuk menyimpan “ban cadangan”, yang sebenarnya adalah bahan peledak rakitan, di rumahnya. Bahan peledak itu kemudian digunakan gerilyawan Filipina untuk menyerang titik-titik pertahanan dan fasilitas milik Jepang.

  • Jaksa Priyatna Tantang Jenderal Duel Pistol

    SEPAK terjang Priyatna Abdurrasyid di dalam Paran (Panitia Retooling Aparatur Negara) akhirnya menghasilkan banyak musuh di kalangan Angkatan Darat. Banyak pejabat perusahaan negara dan militer berlindung di balik orang-orang kuat seperti Sukarno atau Jenderal Yani yang tak sadar dijadikan tameng oleh mereka. Sementara itu Operasi Budhi yang keras melawan korupsi pun mengusik perasaan presiden ketika Direktur Perusahaan Dagang Negara Harsono Reksoatmodjo diperiksa atas tuduhan menggunakan wewenangnya untuk mendirikan perusahaan pribadi. Orang dekat presiden itu dituduh telah merugikan negara ratusan juta rupiah. Priyatna ingat suatu sore dia sampai harus meminta nasihat Menteri Pertama Djuanda ketika tugas mengharuskannya menangkap Harsono. Priyatna tak takut, tapi gamang lantaran tak ingin melukai hati sang presiden.

  • Para Haji dan Uang Palsu

    KAWASAN Sepanjang di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo amatlah strategis. Selain dekat kawasan industri, ia juga tak sampai 10 kilometer dari Bandara Internasional Djuanda, Surabaya. Daerah yang berbatasan dengan Karangpilang (Surabaya) dan Kabupaten Gresik ini ada yang menyebut namanya berasal dari nama salah satu panglima orang Tionghoa yang berontak melawan VOC pada 1740. Sepanjang yang strategis, sudah ramai pedagang di zaman Hindia Belanda. Sebagai kawasan ramai, Sepanjang tentu tak luput dari kejahatan. Terutama pasca-Depresi Ekonomi Dunia (Black Tuesday) tahun 1929 dan awal 1930-an. Pelarian dari Surabaya banyak yang menyasar Sepanjang untuk mencari perlindungan.

  • Habis Transmigrasi Datanglah Misi

    SETELAH lebih dari 30 tahun Lampung dijadikan tempat tujuan kolonisatie (transmigrasi kolonial) oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, permasalahan agama di daerah itu muncul di Volksraad (Dewan Rakyat). Lampung kala itu dikenal sebagai daerah yang penduduk aslinya penganut Islam. “Dikatakan bahwa pekerjaan misionaris di daerah kolonisasi di Lampong sekarang sangat intensif dan bahwa kegiatan misi tidak terbatas, atau hanya secara teori, pada perawatan orang sakit. Steller khawatir bahwa kegiatan misi akan mengurangi kecenderungan untuk beremigrasi, terlepas dari propaganda pemerintah,” kata Soeroso dalam sidang Volksraad di Batavia, seperti diberitakan De Post Sumatra, 18 Januari 1938. Kala itu, sebuah gereja telah berdiri di Pringsewu. Gereja itu sebagai akomodir atas kebutuhan umat Kristiani yang terus berkembang di daerah koloni. Antara 1905 (ketika program transmigrasi dimulai) hingga 1938, agama Kristen sudah dianut di daerah transmigrasi. Yang membawanya para misionaris.

  • Cerita Desa Transmigrasi Dinodai Seorang Haji

    SEORANG haji mestinya menjadi panutan di manapun dia berada. Namun tidak dengan Haji Soedjak. Ulahnya justru memancing kericuhan hingga membuat seorang pejabat Belanda sampai mesti turun tangan akibat ulahnya di suatu siang Desa Mataram. Desa Mataram adalah nama sebuah desa di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Desa ini baru dibuka sekitar tahun 1921 oleh para kolonis (kini transmigran) Jawa dalam program Kolonisatie (transmigrasi kolonial). Para penduduknya sibuk bertani sehingga konsentrasi mereka tidak terpecah ke hal-hal lain. Desa Mataram terus berkembang pun tenang. Namun, tidak pada tanggal 31 Mei 1926. Pada pukul empat sore hari itu, di Desa Mataram muncul Haji Soedjak. Penagih utang itu hendak mendatangi salah satu warga transmigran. Kemunculan Haji Soedjak sampai membuat seorang pejabat Belanda datang ke sana untuk menghampirinya dan menanyai surat-suratnya.

  • Habis Transmigrasi Terbitlah Korupsi

    ASISTEN Wedana Gadingrejo, Lampung Raden Pirngadi membuat gempar. Bukan karena dia seorang pejabat lumayan tinggi untuk ukuran orang bumiputra, tapi karena ulahnya menggelapkan uang. Tak hanya mencoreng nama baik dia dan keluarganya, ulahnya tentu mencoreng program Kolonisati (transmigrasi kolonial) yang dilancarkan pemerintah Hindia Belanda. Kolonisatie yang dirintis pemerintah kolonial sejak 1905 terbilang sukses kendati ada masalah di sana-sini. Munculnya desa-desa baru yang menghasilkan aneka bahan pangan dan perputaran ekonomi menjadi indikatornya. Bahkan, perkebunan-perkebunan yang tergolong modern pun muncul di Gisting. Munculnya desa-desa baru, apalagi yang tidak berada di bawah pengaruh kepala marga (semacam pasirah), tentu mempengaruhi sistem pemerintahan di Lampung. Hal itu menguntungkan aparat pemerintahan kolonial. Sebab, menurut Kian Amboro dkk. dalam Metro Tempo Dulu Sejarah Metro era Kolonisasi 1935-1942, sejak lama para pejabat Belanda seperti Residen Pruys van der Hoeven (berkuasa 1870-1873) sangat ingin menghilangkan pengaruh para keluarga marga di Lampung.

  • Lintah Darat di Kampung Transmigran

    SETELAH Gedong Tataan dibuka sebagai wilayah transmigrasi pada 1905, banyak daerah lain di Lampung yang mengikutinya dan dengan nama seperti nama-nama tempat di Jawa pula. Wates –yang dalam bahasa Jawa berarti batas atau pembatas– salah satunya, dengan penduduk juga kebanyakan orang Jawa. Anang dan Abdulrachman Hamim merupakan di antara transmigran asal dari Wates yang berada di dalam Gedong Tataan itu. Sebagai perantau, Anang tentu harus memulai hidup dari nol. Maka, kendati telah mendapat bekal modal berupa lahan, dia seperti banyak transmigran lain pun menganggap perlu meminjam uang untuk modal memulai putaran roda ekonomi kehidupannya. Het Nieuws van den dag, 26 September 1933, mengisahkan bahwa Anang pada awal 1928 meminjam uang sebesar 300 gulden pada Abdulrachman Hamim. Dari pinjaman sebesar itu, tiap bulannya Anang harus membayar uang pokok pinjamannya itu plus bunga sebesar 20 gulden.

  • Gisting Daerah Transmigrasi Indo Eropa di Lampung

    ALIH-ALIH beruntung dan bisa hidup enak, wajah dan perawakan mirip orang kulit putih justru membuat orang-orang Indo-Eropa “semakin” berat hidupnya. Mereka dipinggirkan alias tak diterima di mana-mana. Hal itu mendorong mereka acapkali mencari tempat baru yang bisa menerima. Maka setelah tahun 1905 banyak desa orang Jawa –menjadi transmigran dalam program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial– terbentuk di Desa Bagelen dan sekitarnya di Kecamatan Gedong Tataan, Lampung, orang-orang Indo-Eropa yang termarjinalkan di Hindia Belanda pun tertarik membuka “koloni” atau daerah baru di Lampung. Indo-Europeesch Verbond (IEV) selaku organisasi orang Indo Eropa di Hindia menjadi sponsornya. “Saya datang ke sini tahun 1925,” kata Karl Emile August Kloer (1877-1966) dalam Winschoter Courant, 2 Juli 1949, “sebagai pemimpin kelompok kecil orang Indo-Eropa yang mencari kehidupan di sini sebagai kolonis. Kami mendapat pinjaman satu ton dan tanah itu dibagi menjadi 11 bidang tanah sewa selama 75 tahun.”

  • Haji Ghalib Transmigran Sukses

    SETELAH berjalan sekitar 20 tahun, kabar transmigrasi dari Jawa ke Lampung menggema di Pulau Jawa. Namun, kabar menarik itu tak langsung berhasil menarik orang-orang Jawa untuk mengikuti jejak para saudaranya di Sumatra. Kebanyakan orang Jawa takut menyebrangi lautan. Ghalib termasuk dari sedikit orang Jawa yang tidak takut menyeberangi lautan. Maka, dengan sukarela santri yang pernah berguru di Jombang, Jawa Timur ini menyeberangi lautan pada tahun 1920-an demi menggapai hidup yang lebih baik di Lampung. Usai menyeberangi Selat Sunda dengan Anak Krakataunya yang masih aktif, Ghalib akhirnya tiba di Lampung. Di sana dia lalu mengelola sawahnya. Sawahnya yang tadinya hanya menghasilkan padi untuk menghidupinya dan keluarganya, terus meluas. Hasil yang didapatnya pun lebih dari sekadar untuk mengenyangkan perut.

  • Gedong Tataan Lokasi Transmigrasi Pertama

    SEBELUM banyak orang Jawa mendatanginya, daerah ini sudah bernama Gedong Tataan. Sejak 1905, nama Gedong Tataan mulai disebut-sebut di koran-koran Hindia Belanda karena adanya kolonisatie (kolonisasi) atau kini disebut transmigrasi, dengan para pelakunya disebut kolonis. Setelah Trias Politik mulai dianut, pemerintah Hindia Belanda terpikir untuk membangun “koloni” Jawa di Lampung. Transmigrasi sendiri bagian dari Politik Etis yang –penerapannya bertolak dari Trias Politik– dijalankan pemerintah kolonial. Jawa sudah terlalu penuh dengan perkebunan, industri, dan ladang sehingga persawahan untuk rakyat harus dicari lagi. Persiapan pembukaan “koloni” dilakukan sebelum pendatang dari Jawa tiba. Pada 1904, Gedong Tataan dipilih sebagai daerah sasaran. Soerabaijasch Handelsblad, 14 Mei 1907, menulis, sejak 12 Mei 1905 dua mantri dari Jawatan Pengairan dan ahli ukur dikirim ke sana untuk memeriksa. Mereka memetakan daerah yang hendak dijadikan ladang dan permukiman. Setelah keluar kajian yang dilakukan HG Heijting, mantan asisten residen Sukabumi, pemerintah mengeluarkan Goverment Besluit 19 Oktober 1905 nomor 46.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page