Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Anzio, Palagan Sengit Merebut Roma
DARI anjungan kapal USS Biscayne, Mayjen John P. Lucas merapal doa dalam hati. Pukul dua dini hari 22 Januari 1944, Panglima Korps ke-6 Tentara ke-5 Angkatan Darat Amerika Serikat (AD AS) itu lantas memelototi binokularnya untuk mengecek keadaan pasukannya yang baru beringsut dari kapal-kapal pendarat menuju kota pantai Anzio, Italia. Operasi Shingle yang jadi tanggung jawab Jenderal Lucas itu pun dimulai. Dua gugus tugas pasukan Sekutu yang terdiri dari Divisi Infantri ke-3, Korps ke-6 AD AS, dan Divisi Infantri ke-1 AD Inggris dengan total 36 ribu personel berangsur-angsur mulai diangkut dengan 16 landing craft, delapan landing ship infantry, 84 landing ship tank, 96 landing craft infantry, dan 50 landing craft tank dari ratusan kapal dalam konvoi yang berangkat dari Pelabuhan Napoli pada 21 Januari malam. Lucas bersyukur. Di luar dugaan, sekira 20 ribu serdadu Sekutu yang menggelar pendaratan amfibi itu tak sekalipun memicu tembakan meriam maupun senjata lain dari pihak musuh. Unsur pendadakan Operasi Shingle telah tercapai.
- Benteng Labrador Saksi Bisu Pertahanan Terakhir Singapura
MOUNTING meriam, parapet, dan hoist-nya di beberapa bagian sudah berlumut. Laras meriam 6 incinya yang moncongnya menghadap ke arah Selat Pandan itu pun sudah sedikit berkarat. Pun cat tiga patung krunya, sudah mulai mengelupas. Meski begitu, monumen di Benteng Pasir Panjang tersebut tetap berfungsi baik sebagai pengingat gigihnya pertahanan Singapura saat diinvasi Jepang di pekan kedua Februari 1942. Terlebih, monumen yang juga acap dikenal sebagai Baterai Labrador itu sangat tertata rapi saat dikunjungi penulis pada medio September 2014. Tak semua sisa-sisa situs baterai ditampilkan lengkap, memang. Beberapa objek situs lain hanya tersisa mounting, parapet, dan hoist tanpa meriamnya. Menurut Yusof Mahmud, guide dari Singapore Tourism Board (STB), meriam yang dimaksud di atas hanya salah satu bekas meriam yang mirip dengan yang pernah ditempatkan di Baterai Labrador. Meriam yang ditampilkan itu merupakan temuan meriam yang terkubur di situs Kamp Beach Road pada Maret 2001. Oleh National Heritage Board, meriam itu lalu ditempatkan di Baterai Labrador, dilengkapi dengan tambahan tiga patung kru yang sedang mengoperasikan meriam.
- Palagan Terakhir di Eropa
PERAYAAN VE Day (Victory Europe) atau Hari Kemenangan Perang Dunia II di Eropa ke-75 terasa begitu berbeda pada Jumat (8/5/2020). Tak ada parade maupun festival mengenang heroisme Sekutu mengenyahkan Nazi di Eropa. Jalan-jalan kota London, Inggris yang biasanya disesaki lautan manusia, kini sunyi mengingat negeri Ratu Elizabeth II itu masih bergelut dengan pandemi virus corona. Perayaan VE Day tetap bergulir sesuai protap-nya. Pada pukul 08.40 pagi waktu Inggris, papan-papan iklan di Piccadilly Circus memajang poster-poster VE Day. Pesawat-pesawat tempur RAF (AU Inggris) tetap beratraksi di langit kota Edinburgh hingga Cardiff City. Setelah meletakkan karangan bunga di Westminster Hall pada pukul 11 pagi, Ketua Parlemen Sir Lindsay Hole tetap membacakan kembali pidato Perdana Menteri Winston Churchill 75 tahun lampau. Rangkaian prosesi perayaan itu bakal ditutup pidato Ratu Elizabeth II di Istana Windsor pada pukul 9 malam sebagaimana yang dilakukan ayahnya, Raja George VI, di tempat dan waktu yang sama via radio.
- Hendrick Arnold Koroh, Pejuang dari Timor
PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia bergema. Tak ingin kehilangan jajahannya, Belanda mencoba melemahkan negara baru itu dengan membuat negara-negara federal pada 1946. Di wilayah Indonesia timur, Belanda mengundang raja-raja antero Timor hadir dalam Konferensi Malino pada 15-25 Juli 1946. Tujuannya mengajukan usulan pembentukan Negara Indonesia Timur. Rencana Belanda terhadang. Sebab, seorang raja Timor menolak usulan Belanda. Raja itu bernama Hendrick Arnold Koroh, seorang Raja Amarasi dari Timor. Koroh juga utusan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Timor, partai berhaluan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Timor. Koroh menginginkan wilayah timur Indonesia masuk Republik Indonesia.
- Cara Barat Memata-matai Soviet Lewat Tisu Toilet
SETELAH Nazi kalah dalam Perang Dunia II, Jerman diduduki negara-negara pemenang perang. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis mengelola wilayah Jerman Barat, sementara Jerman Timur dikuasai Uni Soviet. Namun, ketegangan baru muncul antara Barat dan Timur yang menandai Perang Dingin. Masing-masing mengerahkan mata-mata untuk mendapatkan informasi pengembangan sistem keamanan dan pertahanan. Misi mata-mata Barat yang produktif dan berpengaruh adalah Operasi Tamarisk. Menurut Andrew Long dalam BRIXMIS and the Secret Cold War: Intelligence Collecting Operations Behind Enemy Lines in East Germany, Operasi Tamarisk adalah aksi mata-mata yang dilakukan dengan memilah sampah para tentara Soviet di wilayah Berlin Timur. Sampah-sampah itu umumnya robekan kertas yang digunakan serdadu Soviet untuk membersihkan diri setelah buang air besar.
- Ganden Sang Ksatria
MATAHARI masih bersinar ketika sekelompok orang Aceh membawa rotan dan melintas dekat bivak serdadu KNIL di Keumala Raja, Pidie, Aceh, pada 20 Juni 1907. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Bivak kala itu sudah ditutup. Salah seorang Aceh itu lalu mendatangi petugas bivak dan menyerahkan sebuah izin. Rekan-rekannya kemudian langsung membuang rotan mereka. Terlihatlah bahwa mereka sedang memegang klewang yang sedari tadi disembunyikan di dalam rotan. Perlawanan rakyat Aceh terhadap militer Hindia Belanda masih berkobar di Keumala Raja. Belanda sudah mereka cap sebagai kafir. Para serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) tentu menjadi sasaran orang-orang Aceh itu.
- Kakek Glenn Fredly Disiksa Jepang
SEBELUM tentara Jepang datang, Peter Dominggus Latuihamallo adalah siswa Hoogere Theologische School (HTS) di Batavia. Peter masuk jenjang pendidikan itu setelah selesai belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Makassar. Menurut Karel Stenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia, HTS berdiri di Bogor pada 1934 dan pindah ke Batavia pada 1936. Belakangan, sekolah ini menjadi Sekolah Tinggi Teologi (STT). Ketika Peter belajar di HTS, banyak pengajarnya orang Belanda. Karena itulah begitu Jepang menduduki Jawa pada Maret 1942, sekolah ini tak bisa berjalan lagi. Banyak pengajarnya ditawan oleh tentara Jepang.
- Angan-Angan “Kemenangan”
PAGI itu, pukul 10, Selasa, 20 November 1917, ratusan orang berkumpul di ruang sidang gedung Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang. Mereka hendak menyaksikan persidangan yang tidak biasa: seorang Belanda totok dimejahijaukan. Henk Sneevliet, nama pesakitan itu, diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya yang berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers, 19 Maret 1917. Kisah pengadilan Sneevliet bermula dari kabar revolusi di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917 kaum buruh di Petrograd turun ke jalan, demonstrasi besar-besaran sambil menyanyikan Mareseillese. Tentara dikirim untuk membubarkan demonstrasi. Alih-alih menembaki demonstran, mereka malah berbalik mendukung. Revolusi Rusia meletus hari itu. Lewat secarik telegram pada 18 Maret 1917, Sneevliet menerima kabar revolusi di Rusia itu. Terinspirasi revolusi di Rusia, dia bergegas menulis artikel yang diberi judul Zegepraal (Kemenangan). Melalui artikelnya, Sneevliet mengajak kaum buruh di Hindia Belanda bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme.
- Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan
PERSETERUAN Henk Sneevliet dengan kaum sosialis moderat di Belanda membuatnya kehilangan pekerjaan. Dia dicopot sebagai ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP) yang berada di bawah kendali SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat) karena bergabung dengan pecahannya, SDP (Partai Sosial Demokrat) –kemudian menjadi Partai Komunis Belanda. Sneevliet meninggalkan SDAP karena kaum sosialis moderat itu menolak mendukung demonstrasi kaum buruh pelabuhan di Amsterdam. Tak ada lagi pekerjaan sejenis yang ditemukannya di Belanda. Kebanyakan swasta enggan mempekerjakan seorang penyulut api tersohor seperti dirinya. Dia memutuskan mencari peruntungan ke Hindia Belanda. “Sneevliet datang ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan, tetapi rasa panggilan revolusionernya membuatnya tak terhindarkan bahwa kegiatan utamanya ialah memberikan khotbah akan keyakinan politiknya,” tulis sejarawan Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia.
- Kolonel Junus Jamosir Digunjing Setelah G30S
SEBAGAI orang kedua di jajaran intelijen Angkatan Darat, Kolonel Junus Samosir selalu melaporkan informasi penting kepada atasannya Mayjen S. Parman. Apakah itu menyangkut keamanan dalam negeri maupun isu politik nasional yang sedang hangat. Pada Oktober 1964, Junus Samosir melaporkan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada Jenderal Parman. “Setelah laporan-laporan dari lapangan disaring, maka hasilnya disampaikan kepada Letnan Jenderal Yani pada tanggal 13 September 1965. Tetapi ketika disampaikan kepada Bung Karno, Yani mendapat teguran keras, ‘Yan, ojo phobi,’ kata Bung Karno,” seperti dicatat Payaman Simanjuntak dalam Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn.) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan. Data intelijen yang dipasok Junus Samosir sehubungan dengan kedudukannya sebagai Wakil Asisten (Waas) I Menpangad. Sementara, Mayjen S. Parman menjabat Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen (SUAD I), sedangkan Letjen Ahmad Yani menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad).
- Junus Samosir, D.I. Panjaitan, dan G30S
SEKALI waktu, Kolonel Junus Samosir bertandang ke kediaman sahabatnya Brigjen Donald Isaac Pandjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran, Jakarta Selatan. Di dalam kamarnya, Pandjaitan memperlihatkan sebuah senapan kepada Junus Samosir. Keduanya memang sahabat seperjuangan sedari lama. “Lihat Lae (ipar), ini senjata untuk berjaga-jaga. Lae juga bikin seperti ini di rumah, apalagi kamu intel,” kata Pandjaitan kepada Junus Samosir seperti terkisah dalam biografi Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan yang ditulis Payaman Simanjuntak. Waktu itu, bulan September tahun 1965, beberapa hari menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Junus Samosir adalah Wakil Asisten (Waas) I/Intelijen Menpangad. Dalam jajaran SUAD I, Samosir merupakan orang nomor dua setelah Asisten I/Intelijen Menpangad Mayjen S. Parman. Sementara itu, Pandjaitan menjabat Asisten IV/Logistik Menpangad.
- Cara Farid Hardja Bikin Lagu
GITARIS band Gigi Dewa Budjana punya kenangan pahit maupun manis dengan penyanyi legendaris Farid Hardja. Suatu kali, Budjana muda hendak mendatangi penyanyi unik yang dandanan sewaktu mudanya mirip Elton John itu. Berbekal sebuah surat, Budjana pun mendekat Denny Sabrie yang menjadi manager band Bani Adam yang didirikan Farid. “Farid lagi sibuk, jadi nggak bisa ketemu,” kata Denny Sabrie kepada Budjana, yang hanya bisa melihat Farid Hardja dari kejauhan, dikutip Adib Hidayat dalam Gigi: Peace, Love & Respect. Budjana pun pulang dengan kecewa. Bagi Budjana, itu adalah pengalaman pahit. Tak jadi bertemu bintang idola. Namun, Budjana tak pernah putus asa. Pada 1988, dirinya sudah berada di Jakarta jadi gitaris dan akrab dengan industri musik Indonesia. Pada tahun-tahun itu, laki-laki kelahiran Agustus 1963 itu jadi session player yang kerap mengiringi banyak penyanyi dalam rekaman. Termasuk Farid Hardja. Bedanya, kini Farid sudah paham kemampuan Budjana. Budjana pernah indekos di daerah Pondok Karya. Farid pernah menghampirinya di sana. Budjana semula tidak yakin bahwa Farid yang datang bertamu. Baru setelah melihat Farid keluar dari taksi, Budjana yakin itu adalah Farid. “Ayo rekaman, Budj,” kata Farid mengajak sang gitaris. Farid, yang kelahiran Sukabumi pada 7 September 1950, sudah jadi penyanyi sohor di awal era 1990-an itu. Lagu-lagunya seperti “Asmara”, “Karmila”, “Romantika Di Amor”, “Ini Rindu” kerap muncul di televisi dan mengalun radio hingga disukai banyak pendengar musik Indonesia. Musik pop Farid diperkaya dengan rap dan reggae. Capaian itu jelas tak setahun-dua diupayakan Farid. Setidaknya Farid sudah terjun ke dunia musik sejak usia belasan tahun, sekitar 1966. Dia terbiasa dengan lagu-lagu berbahasa Inggris macam karya-karya The Beatles maupun lagu-lagu pop Indonesia hasil karya Koes Bersaudara dan lain-lain. Waktu musik rock n’roll yang dicap Sukarno sebagai “Ngak Ngik Ngok” dilarang –termasuk oleh stasiun milik negara Radio Republik Indonesia (RRI), Farid malah menikmatinya. “Saya hanya bisa dengar dari Radio Malaya, waktu itu. Namanya memang Malaya, bukan Malaysia. Atau Radio Singapura, atau Radio Australia. Jam-jam tertentu, kapan ada jam acara musik saya tahu. Sehingga saya punya jadwal dengar lagu, seperti punya piringan hitam sendiri,” kenang Farid Hardja kepada Mutiara, 24-30 Januari 1995. Selain di radio, kala itu musik bisa didengarkan lewat kaset pita dan piringan hitam. “Saya bisa menghafal lewat radio-radio. Meskipun bahasanya kacau,” aku Farid. Meski begitu, teman-teman Farid terus mendorong Farid yang bersemangat. Mereka pun menasehati Farid. “Farid kamu kalau nyanyi lagu Inggris, di-inggris-kan lagi ya,” kata mereka. Entah kenapa, Farid belakangan justru lebih sering menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Mungkin dia insyaf pasarnya adalah orang Indonesia yang saat itu mayoritas masih belum “melek” Inggris. Meskipun begitu, Farid sadar akan penampilan. Setidaknya itu mungkin bisa dijual meskipun lagu-lagunya “melempem”, terbukti dari tidak berkibarnya nama Farid meski sudah bikin album berisi lagu-lagu berbahasa Indonesia di Bandung. Maka, dandanan Farid di era 1970-an sengaja dibuat mirip Elton John dan itu konsisten dia tampilkan. Keunikan itu agaknya yang menjadi nilai plus bagi Farid. Suatu kali di pertengahan 1970-an, Denny Sabrie sebagai salah seorang pencari bakat musik, bertemu dengannya. Farid kala itu sudah punya band bernama Bani Adam. Denny pun melihat keunikan Farid yang bisa “dijual”. “Waktu itu Denny Sabrie mengenalkan saya dengan Jackson Records,” aku Farid. Jackson Records merupakan label milik Jackson Arief (1949-1994) yang berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Senang membuat gebrakan dengan menawarkan hal baru, label yang awalnya produsen film tersebut melahirkan nama-nama beken seperti Vina Panduwinata, Franky and Jane, dan Ebiet G. Ade. Jackson Records yang senang menggebrak sesuatu yang konvensionil, kepincut pada Farid. Menawarkan hal baru pada pecinta musik tanah air saat itu yang masih didominasi lagu-lagu sendu kemungkinan jadi alasan di balik kerjasama Jackson Records dan Farid. “Buktinya, sesudah meninggalkan bisnis elektronika, Jackson (awal 1978) menggaet Farid Bani Adam (Farid Hardja) –penyanyi asal Sukabumi, bertubuh gempal dan botak – ke studio rekamanannya. Saat itu udara musik pop masih dikuasai warna sendu nyanyian Koes Ploes dan Kelompok Favourite,” kata buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984. Kerjasama Farid dan Jackson Records pun sukses melahirkan album Karmila. Dalam album itu, Farid diiringi rekan-rekannya di band bernama Bani Adam –dinamakan demikian karena Farid yakin kita semua adalah keturunan Nabi Adam. Album Karmila dengan hits berjudul sama, “Karmila”, menjadi album sukses pertama Farid. Lagu “Karmila” sendiri termasuk salah satu lagu Farid yang terkenal dan diingat banyak pendengarnya. Karmila melejitkan nama Farid. Meski kemudian dirinya berganti label, nama Farid sudah menjadi jaminan bagi album-albumnya berikutnya. Tak hanya menyanyi, Farid pernah jadi pemain bass ketika main band semasa muda. Farid juga pandai membuat lagu. Dalam mengarang lagu, biasanya setelah nada-nada tersusun di kepala, Farid akan mengeluarkannya dengan menyanyikannya dengan bantuan iringan gitar. Setelah itu, barulah lagu akan ditata dengan bantuan penata musik. Dia tidak tergantung pada alat musik tertentu untuk menuliskan lagu. “Saya nggak pernah terikat sebab saya jalan kaki juga terus mengarang di otak. Kepala saya terus membuat lagu. Apakah itu sedang di mobil, jalan kaki dan di mana saja. Saya tidak pernah terikat pada alat musik,” ujar Farid yang tutup usia di Jakarta pada 28 Desember 1998.*





















