top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gerakan Aron di Sumatra Timur

    PADA masa pendudukan Jepang muncul gerakan subversif di wilayah Sumatra Timur yang meresahkan pemerintah Jepang dan kesultanan. Gerakan ini dinamai Aron, di mana para petani merebut dan menggarap lahan pertanian secara ilegal. Menyebabkan sejumlah tragedi berdarah, namun dianggap heroik di kemudian hari. Gerakan Aron bermula dari Gerakan Indonesia Raya (Gerindo) Sumatra Timur. Kader-kader Gerindo juga bergabung dengan Serikat Tani Indonesia. Tujuannya untuk menyusun program-program yang membela kaum tani. Organisasi ini mempunyai komite-komite perladangan. Serikat Tani Indonesia kemudian menjadi gerakan Aron. Aron mengacu pada sekelompok petani yang bekerja secara bergotong-royong. Gerakan Aron, menurut Brahma Putro dalam Karo dari Zaman ke Zaman, serupa dengan gerakan gotong-royong, di mana anggotanya bekerja demi kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Orang yang masuk gerakan Aron, biasanya muda-mudi dan ibu-ibu, disebut Raron.

  • Insiden-insiden Gerakan Aron

    KONFLIK lahan di Sumatra Timur pecah pada 19 Juni 1942. Ratusan petani Karo berbondong-bondong mengepung pos polisi di Pancur Batu. Aksi berlangsung selama dua hari sebelum dibubarkan. Musababnya, para petani marah karena 18 kawan mereka ditembak mati oleh polisi Kesultanan sehari sebelumnya. Penembakan keji itu bermula pada awal Juni ketika konflik petani Aron dan kaum bangsawan mencapai puncaknya. Di distrik Sunggal, Deli, kepala desa yang mencoba mencegah aksi petani Aron merebut lahan, dirampok atau ditakuti-takuti. Dua orang terbunuh dalam ketegangan di Sunggal. Polisi Kesultanan membalas dengan menembak mati 18 petani. “Catatan Jepang tidak menunjukkan bahwa ada pejabat atau polisi Jepang yang terlibat pada tahap ini; amarah Aron tampaknya ditujukan kepada Datuk Sunggal, agen-agennya di Pancur Batu, dan kepada para kepala desa yang mendukung mereka,” tulis Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatra, antara Indonesia dan Dunia.

  • Menumpas Gerakan Aron

    INOUE Tetsuro, Kepala Kepolisian Kabupaten Deli-Serdang telah mempersiapkan semuanya pada 11 Agustus 1942 untuk memberantas gerakan Aron. Ia mengumpulkan 30 kuli untuk membawa peralatan, makanan dan obata-obatan, sepuluh polisi sebagai penjaga, seorang penerjemah bahasa Karo dan seorang penerjemah bahasa Indonesia, serta seorang petani Karo sebagai pemandu. Tetsuro begitu detil menulis misinya itu dalam memoarnya “Bapa Jango: Bapa Djanggut” yang termuat dalam The Japanese Experience in Indonesia: Selected Memoirs of 1942–1945. “Selain itu, kami memiliki seekor kuda bernama Marco untuk saya (ras Anglo Norman), dan dua kuda (ras lokal) untuk penerjemah. Sebelum kami berangkat, saya menginstruksikan urutan berbaris berikut (dengan kepala di sebelah kiri): polisi, pemandu, saya, penerjemah bahasa Indonesia, inspektur polisi, polisi, kuli, penerjemah bahasa Karo, polisi,” tulis Tetsuro.

  • Cerita di Balik Kedatangan Pele ke Indonesia

    EDSON Arantes do Nascimento alias Pele datang ke Indonesia pada pertengahan 1972. Saat itu, Pele berusia 32 tahun dan bermain untuk klub Brasil Santos FC. Reputasi mentereng sebagai ujung tombak Brasil kampiun Piala Dunia 1958, 1962, dan 1970 melekat pada diri Pele. Tapi, untuk ukuran pesepakbola profesional, Pele tentu sudah tak muda lagi. Sisa kontraknya untuk bermain di Santos tinggal dua tahun. Kabar santer menyatakan Pele bakal menjadi pelatih setelah kontraknya selesai. Namun, Pele sendiri membantah rumor tersebut. “Hanya sebagai penasihat untuk pemain-pemain muda dalam kontrak saya dengan Pepsi Cola,” katanya di hadapan awak media Indonesia sesaat setelah mendarat di Bandara Kemayoran pada 19 Juli 1972, sebagaimana diberitakan Harian Kami, 20 Juni 1972. Kendati telah melewati masa-masa produktif sebagai pemain bola, publik sepakbola Indonesia sangat antusias menyambut kedatangan Pele. Mereka menantikan si raja bola asal Brasil itu “menari” di lapangan utama Senayan saat bertanding menghadapi tim nasional (timnas) Indonesia. Namun, bukan perkara mudah untuk mendatangkan Pele ke Indonesia. Butuh uang dalam jumlah besar sebagai ongkos kepada tim Santos.

  • Ketika Pele Dimaki Suporter Indonesia

    LEBIH dari seratus ribu penonton memadati Stadion Utama Senayan (kini Gelora Bung Karno) pada Rabu petang, 21 Juni 1972. Mulai dari jelata hingga pejabat tinggi sipil dan militer tumpah ruah di sana, termasuk Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Mata mereka tertuju pada pemain nomor punggung 10 berseragam Klub Santos FC. Hari itu digelar laga persahabatan antara Timnas Indonesia (PSSI) menghadapi klub Brasil Santos FC. Pele, pemain terbaik dunia, memperkuat tim Santos dan dimainkan sejak menit pertama. “Pele si raja bola tampak tidak banyak bergerak. Tetapi dengan demikian ia berhasil membuka pertahanan barisan belakang PSSI,” diwartakan Harian Kami, 22 Juni 1972. Meski laga persahabatan, Santos FC tampil dengan pemain inti. Dua penyerang sayap Jader da Silva (Jader) dan Jonas Eduardo Americo (Edu) jadi tandem Pele di lini depan. Sementara itu, Timnas Indonesia juga turun dengan skuad terbaiknya yang diambil dari klub-klub papan atas seperti PSMS Medan, Persija, Persebaya, dan PSM Makassar. Mulai dari kiper Ronny Paslah, Juswardi, Sunarto, Muljadi, Anwar Ujang, Suaeb Rizal, Abdul Kadir, Moh. Basri, Jacob Sihasale, Risdijanto, dan Iswadi diturunkan untuk menghadapi Pele dan kawan-kawannya. Di bawah asuhan pelatih Endang Witarsa, Timnas PSSI memainkan strategi bermain dalam tempo tinggi untuk menekan Santos.

  • Pele Datang ke Indonesia

    SESOSOK pria tegap berambut keriting dan berkulit gelap turun dari pesawat Garuda dengan nomor penerbangan 899/892 di Bandara Kemayoran, Senin sore, 19 Juni 1972. Di landasan, ratusan orang telah menantinya berdesak-desakan. Meski bukan tamu resmi kenegaraan, dia disambut bak raja. Orang-orang tak henti meneriakkan namanya, “Pele…Pele..Pele!” “Lebih dari sambutan kepada Ratu Juliana,” kata seorang pemuda yang ikut berjejal-jejal di antara lautan manusia yang membuat sempit Jl. Patrice Lumumba (kini Jl. Angkasa), demikian diberitakan Harian Kami, 20 Juni 1972. Demikianlah suasana kedatangan Edson Arantes do Nascimento alias Pele di Indonesia. Kunjungan pesepakbola asal Brasil itu bertepatan dengan puncak prestasinya sebagai pemain dengan gelar juara dunia tiga kali. Brasil baru saja menjuarai turnamen sepakbola Piala Dunia 1970 di Meksiko. Kesebelasan Brasil saat itu disebut-sebut yang terbaik sepanjang sejarah. Pele menjadi striker andalan Brasil dengan torehan enam gol. Sebelumnya, Pele juga membawa Brasil jadi kampiun Piala Dunia 1958 dan 1962.

  • Ayah Suzzanna Gugur di Subang

    HINDIA Belanda menjadi tempat yang diimpikan banyak pria Belanda untuk mengubah nasib. Di tanah subur nan kaya yang diperintah “kaki-tangan” ratu Belanda itu, kehidupan sejahtera jauh lebih mungkin diwujudkan ketimbang di negeri asal mereka, Belanda. Terlebih, warna kulit putih mereka memungkinkan mendapat keistimewaan-keistimewaan yang tidak didapatkan orang-orang kulit berwarna akibat sistem rasis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Faktor itulah yang mendorong Willem van Osch yang lahir pada 19 Juni 1910 rela bertaruh nyawa mengarungi samudera ribuan kilometer jauhnya demi bisa mencapai Hindia Belanda. Pria asal Rosmalen, Belanda ini kemudian menjalani kehidupan berbeda di tempat yang baru. Dia diterima menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Pangkatnya sudah sersan mayor (serma) infanteri, dengan nomor stamboek-nya 89068. Di Hindia Belanda pula Willem menemukan jodoh dan berkeluarga. Koran De Locomotief, 24 Januari 1936 memberitakan, Willem van Osch menikah di Magelang –kota tangsi bagi KNIL– pada 22 Januari 1936 dengan Johanna Bojoh. Johanna merupakan gadis berdarah Sunda dan Manado. Staatsblad van het Koningrijk der Nederlanden, 1974, no. 1-101, 01-01-1974, menyebut Johanna lahir di Kotaraja (kini Banda Aceh) pada 10 Desember 1915. Pasangan Willem-Johanna menganut agama Katolik Roma. Mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Willem Charles van Osch sebelum tentara Jepang datang.

  • Ludruk Marhaen di Kiri Panggung

    GELANGGANG kebudayaan Indonesia pasca kemerdekaan memang cukup riuh. Bukan hanya pada ranah sastra, musik atau film, panggung seni pertunjukan pun turut masuk dalam pusaran di mana bangsa Indonesia tengah mencari identitas kebudayaannya. Salah satunya ludruk, teater rakyat asal Jawa Timur. Dan nama Ludruk Marhaen merupakan yang paling terkenal pada era 1950-an hingga 1965. Tak hanya menyematkan nama Marhaen yang terdengar politis, ludruk ini juga turut andil dalam pergulatan kebudayaan Indonesia saat itu. Menurut Henri Supriyanto dalam Lakon Ludruk Jawa Timur, Ludruk Marhaen didirikan oleh pelawak Rukun Astari dan Shamsudin pada 19 Juni 1949. Namun, kelompok ludruk asal Surabaya ini awalnya telah dibentuk sekitar tahun 1945, pasca Proklamasi.

  • Jalan Panjang Piala Dunia Kaum Hawa

    PERIODE musim panas dalam sepakbola dunia tahun ini masih diramaikan isu-isu transfer, soal AC Milan yang disanksi financial fair play hingga tak bisa ikut Europa League, atau Copa América yang sudah memasuki fase semifinal. Sayang, isu-isu itu nyaris tak memberi tempat pada pemberitaan tentang Piala Dunia-nya kaum hawa. Piala Dunia Wanita FIFA tahun ini yang dihelat di Prancis, 7 Juni-7 Juli 2019, sudah edisi kedelapan. Pekan ini juga sudah masuk ke babak semifinal. Nama-nama bidadari lapangan hijau seperti Valentina Giacinti, Megan Rapinoe, Steph Houghton, Sakina Karchaoui tetap masih asing di telinga. Kalau pemain sekaliber mereka masih asing di telinga, apalagi srikandi-srikandi lapangan hijau tanah air. Padahal, sepakbola di tanah air sempat digemari para kaum hawa sejak akhir 1960-an. Putri Priangan menjadi klub sepakbola wanita pertama di Indonesia. Namun, dari masa ke masa sepakbola putri Indonesia justru berjalan mundur dan di era “4.0”, para remaja putri lebih kenal dan suka futsal ketimbang sepakbola wanita.

  • Rupa-rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama

    NEGARA mana yang tak ingin ikut serta dalam Piala Dunia? Tingginya prestise event sepakbola empat tahunan itu membuat hampir tiap negara rela melakani tahap demi tahap kualifikasi untuk bisa mengikutinya. Padahal, ketika Piala Dunia pertama dihelat di Uruguay pada 13-30 Juli 1930, banyak negara, khususnya asal benua Eropa, ogah berpartisipasi. Selain alasan jarak yang terpisah bentangan Samudera Atlantik, perkara finansial jadi pengganjal lantaran masih terdampak depresi ekonomi. Hanya empat negara Eropa yang ikut serta: Prancis, Rumania, Yugoslavia, dan Belgia. Selain berkat jasa lobi-lobi Presiden FIFA Jules Rimet, keempat negara itu berkenan datang karena akomodasinya, mulai dari perjalanan sampai kebutuhan mereka di Uruguay, ditanggung panitia pelaksana tuan rumah. Ketiga tim itu, termasuk Rimet dan tiga ofisial pertandingan, menyeberangi Atlantik dengan kapal pesiar SS Conte Verde yang dicarter panitia pelaksana tuan rumah.

  • Dari Perang Dunia ke Piala Dunia

    DARI pinggir lapangan, Josef ‘Sepp’ Herberger tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Sang pelatih timnas Jerman itu puas bukan kepalang karena merasa tak salah pilih kala memberi kesempatan pada bintang muda, Fritz Walter, untuk melakoni debut internasionalnya. Permainan ciamik Walter dalam laga persahabatan itu bikin sekira 40 ribu penonton di Waldstadion, Frankfurt am Main, 14 Juli 1940, bergemuruh kagum. Laga persahabatan itu digelar untuk memperkuat ikatan aliansi “Axis” antara Jerman, Rumania, dan Italia yang diwakili wasit Raffaele Scorzoni. Jerman yang superior di atas kertas memulai pesta golnya sejak menit ke-16 lewat Ernst Plener. Tetapi yang jadi sorotan utama tetaplah Fritz Walter, gelandang serang yang baru berusia 20 tahun. Gelandang yang sebelumnya mengukir kiprah manis di klub kota kelahirannya, FV Kaiserslautern (kini 1 FC Kaiserslautern), itu mencetak hattrick (trigol) di menit ke-33, 76, dan 81 untuk menyempurnakan kemenangan telak 9-3. Senyum Herberger senantiasa tersungging ketika berjalan hendak merangkul Walter usai laga.

  • Wartawan Indonesia di Piala Dunia

    KERETA api itu berhenti di dekat Stadion Santo Yakobus, Basel, Swiss. Sebagian besar penumpangnya orang Jerman Barat. Dari jendela kereta, penumpang bisa melihat pertandingan Jerman Barat melawan Hungaria pada 20 Juni 1954. Sebab letak rel kereta berada lebih tinggi daripada stadion. “Dengan demikian orang-orang Jerman masih juga dapat mengikuti pertandingan itu dari jendela kereta api,” tulis Suharso dalam “Kesan-Kesan Semasa Merebut Kedjuaraan Sepakbola Sedunia 1954”, termuat di Aneka, No 15, 20 Juli 1954. Suharso bekerja sebagai kontributor majalah Aneka dalam Piala Dunia 1954. Dia mungkin menjadi salah satu wartawan asal Indonesia yang paling awal meliput Piala Dunia setelah kemerdekaan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page