top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menyapu Dien Bien Phu

    JENDERAL Vo Nguyen Giap begitu bersemangat. Di persinggahan tepi Sungai Da, dia merasakan kondisi moril para prajuritnya, dan juga rakyat, amat tinggi. Meski harus menempuh medan berat dan perjalanan masih jauh, dia tak mendengar sedikit pun keluhan. Mereka semua bulat tekad berperang untuk mengusir imperialis Prancis. Kejadian yang berlangsung sekitar Oktober 1953 itu meninggalkan kesan mendalam dalam benak Giap. Dia menuliskannya dalam memoar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Letjen TNI (Purn.) M. Munir dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2017. Dien Bien Phu, yang dikelilingi lembah dan perbukitan, adalah tujuan mereka. Ia merupakan tempat paling strategis di Indochina barat-laut, memiliki akses menuju Laos di barat dan Tiongkok di utara. Di sana pulalah Prancis membangun basis pertahanannya.

  • Ujian Pertama Ho Chi Minh

    USAI kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik, pada Agustus 1945 Ho Chi Minh mempengaruhi Kaisar Bao Dai untuk turun takhta dan mendeklarasikan Vietnam sebagai sebuah negara merdeka. Vietnam dikenal sebagai Republik Demokratik Vietnam (DRV), dan Ho Chi Minh menjadi presiden pertama. Namun, perjuangan Ho masih terbentang luas. Eskalasi politik dan militer meningkat. Terjadi kekerasan senjata antara Vietnam dan Prancis. Sementara itu, hasil Konferensi Potsdam, yang diadakan Sekutu di Berlin pada Juli dan Agustus 1945, tak menguntungkan posisi Paman Ho. Konferensi Potsdam membagi Vietnam menjadi Utara dan Selatan. Pascaperang, administrasi Vietnam Utara untuk sementara diberikan kepada Nasionalis China di bawah Jenderal Chiang Kai-shek, sedangkan Selatan kepada Inggris. Pada 13 September 1945, pasukan Inggris tiba di Saigon, Vietnam Selatan. Tugas mereka melucuti tentara Jepang dan membebaskan tawanan perang. Namun, Inggris bukan saja membebaskan tawanan perang Prancis, tetapi juga mengizinkan tentara Prancis masuk kembali ke Vietnam Selatan. Inggris berkeyakinan bahwa penguasaan atas koloni yang menguntungkan itu adalah penting untuk pemulihan ekonomi Prancis pascaperang.

  • Jalan Menuju Kemerdekaan

    GENDERANG Perang Dunia II ditabuh ketika Jerman menyerang Polandia pada 1 September 1939. Beberapa hari setelahnya, sekutu Polandia seperti Prancis, Britania Raya, Australia, dan Selandia Baru menyatakan perang terhadap Jerman. Berhasil menaklukkan Polandia, Jerman menyasar Prancis sebagai target berikutnya. Prancis tak bisa membendung tentara Nazi Jerman. Tentara di Indochina, termasuk Vietnam, pun terpaksa ditarik. Mengetahui posisinya melemah, Prancis mengajukan gencatan senjata pada Juni 1940. Sementara itu, tentara Jepang (poros Jerman) mulai bergerak menuju Tonkin (utara Vietnam). Mereka tiba pada September 1940 dan menandai akhir penguasaan Prancis di Vietnam sejak pertengahan abad ke-19. Tapi Jepang tetap mempertahankan sebagian pasukan Prancis untuk menghadapi kemungkinan pemberontakan kaum pergerakan. Prancis terus menjalankan koloninya tapi kekuasaan tertinggi berada di tangan Jepang. Perpindahan kekuasaan ini tak lantas dianggap menguntungkan oleh kaum pergerakan Vietnam. “Penguasaan Prancis memang selalu dibenci, tapi perpindahan kekuasaan kepada Jepang dengan menjadikan Vietnam sebagai wilayah protektorat telah menimbulkan rasa permusuhan,” tulis J.M. Pluvier dalam South-East Asia From Colonialism to Independence. Tapi bagi sebagian kaum nasionalis seperti Liga Phuc Quoc, kehadiran Jepang harus disambut. Tak pelak, kaum pergerakan Vietnam terbagi menjadi dua kubu.

  • Belajar Merdeka di Negeri Orang

    KETIKA Perang Dunia I meletus, Ho Chi Minh memutuskan tinggal di London setelah meninggalkan negerinya dan mengakhiri sejenak petualangannya di kapal uap Prancis. Di kota itu, dia bekerja serabutan. Kala itu London tengah memasuki musim dingin. Siang hari, Ho bekerja sebagai pembersih salju di sebuah sekolah. Bila malam tiba, Ho segera pergi ke Hotel Carlton untuk membantu koki. Entah bagaimana Ho Chi Minh memanfaatkan waktunya, dia tetap menjalin hubungan dengan orang Asia lainnya yang tinggal di London. Bahkan, dia sempat bergabung ke Lao-Dong Hai-Ngoa, sebuah asosiasi pekerja perantauan yang dipimpin orang-orang Tiongkok. Organisasi ini mendukung kemerdekaan Irlandia, salah satu negeri jajahan Inggris. Ho merasa pandangan organisasi ini sejalan dengannya: antipenjajahan. Terlahir di negeri terjajah, Ho Chi Minh bisa merasakan apa yang dialami orang-orang Irlandia. Karena itu, dia bergabung tanpa ragu. Selain itu, Ho juga memiliki alasan politis. Dia ingin belajar cara memperjuangkan kemerdekaan sebuah negeri melalui organisasi. Ho mendengar organisasi ini kerap memberikan kursus antikolonial kepada anggotanya. Dari organisasi inilah Ho mendapatkan kursus-kursus politik antikolonial pertamanya.

  • Keluarga Revolusioner

    PADA awal 1908, keresahan melanda para petani. Mereka menyuarakan ketidakpuasan atas kenaikan pajak, kewajiban kerja rodi, dan korupsi di kalangan pemerintah. Demonstrasi kerap terjadi. Pada minggu pertama Mei, para petani di desa pinggiran Cong Luong berdemonstrasi menolak pajak yang tinggi. Ketika pejabat mandarin setempat datang dengan pasukan, kerusuhan pecah. Pejabat itu ditangkap dan sehari kemudian dibawa ke ibukota, Hue, di mana mereka berkumpul di depan kantor resident superieur Prancis sembari menyuarakan tuntutan mereka. Pada 9 Mei, sekelompok siswa sekolah menengah berkumpul di tepi sungai di depan sekolah mereka, Quoc Hoc School, menonton kelompok besar petani yang membanjiri kota dari desa. Nguyen Tat Thanh mengajak kedua temannya untuk bergabung dengan kerumunan itu. Dia ingin menjadi penerjemah protes para petani kepada otoritas Prancis. Namun situasi memanas. Polisi menghadapi para petani dengan pukulan tongkat. Nguyen terkena beberapa kali. Ketika kerumunan kian merangsek maju, resident superieur M. Lavecque setuju mengizinkan perwakilan petani untuk berdialog. Thanh menjadi penerjemah. Namun dialog menemui jalan buntu. Para petani menolak bubar. Akhirnya tentara Prancis tiba dan melepaskan tembakan ke arah demonstran yang menimbulkan jatuh korban.

  • Sinong Kurir Kahar Muzakkar

    INI adalah kali ketiga dia memasuki kota Makassar setelah beberapa tahun tergabung dalam kelompok yang tidak puas dengan pemerintah pusat di Jakarta. Minggu-minggu sebelumnya dia berada di Palopo yang –berjarak sekitar 372 km dari Makassar– masih dikuasai kelompok Kahar Muzakkar. Kali ini, di Makassar keberuntungan jauh darinya. Dirinya tertangkap oleh aparat pemerintah di kota tersebut. Koran Java Bode, 14 April 1954, memberitakan, kurir malang ini tertangkap pada Senin, 12 April 1954 setelah 11 hari meninggalkan Palopo. Kurir Kahar Muzakkar yang tertangkap ini kemudian diidentifikasi sebagai Sinong, yang berusia 28 tahun. Setelah ditangkap, Sinong diperiksa di bawah Komandan Militer Kota Makassar Mayor Mochtar. Keesokannya, Selasa, 13 April 1954 aparat mengadakan jumpa pers dengan wartawan. Dalam jumpa pers itu Sinong mengaku dirinya masuk Makassar sebagai “kurir khusus” Kahar Muzakkar. Tugasnya adalah menilai situasi di Makassar dan menyelidiki berbagai hal.

  • Kahar Muzakkar Buka Warung Kala Perang Dunia

    LA DOMENG muda cukup beruntung dibanding anak-anak Indonesia kebanyakan. Setidaknya, dia bisa bersekolah, bahkan pernah sekolah Muhammadiyah di kota Solo. Selama bersekolah di Jawa itu, ada tokoh Muhammadiyah terkena bernama Kahar Muzakkir. Nama itulah yang kemudian digunakan La Domeng hingga akhir hayatnya. Setelah bertahun-tahun belajar di Jawa, Kahar Muzakkar (1920-1965) pulang kampung ke Sulawesi Selatan. Dia membantu bisnis orangtuanya dan terlibat bisnis pengiriman kulit kayu bakko ke Jepang. Namun, kerjasama dagang Jepang itu membawa konsekuensi politik bagi keluarga tersebut. Sebab, Jepang sudah diawasi pemerintah Hindia Belanda sejak sebelum 1940 meski barang-barang buatan Jepang sudah banyak masuk ke Jawa dan kota-kota lain di Hindia Belanda. Arsip Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 menyebut nama Kahar kemudian masuk dalam daftar hitam pemerintah Hindia Belanda.

  • Pasukan Momok Kahar Muzakkar

    S.M. KARTOSOEWIRJO, imam DI/TII di Jawa Barat, mengirimkan sepucuk surat kepada Kahar Muzakkar, menawarkan pimpinan Tentara Islam Indonesia (TII) di Sulawesi. Kahar menerima tawaran itu pada 20 Januari 1952. Kahar memiliki dua komandan kepercayaan, yaitu Bahar Mattaliu dan Sjamsul Bachri. Namun, Bahar kemudian menyerah kepada pemerintah karena menentang keputusan Kahar dalam pembentukan pasukan Momok. Kahar membentuk empat kesatuan kawakan itu untuk meningkatkan kapasitas tempur dalam melawan pasukan Republik. “Satuan-satuan ini diberinya nama Momok, kependekan dari Moment Mobile Komando,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan.

  • Di Balik Tabir Pahlawan Nasional Abdul Kahar Mudzakkir

    MASYARAKAT Yogyakarta mendapat kehormatan besar. Dua dari tokohnya ditetapkan Presiden Joko Widodo sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres 120/TK/Tahun 2019 pada 8 November 2019. Dr. M. Sardjito dan Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir, masing-masing diusulkan oleh Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Muhammadiyah. KH Mudzakkir jadi satu dari tiga anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun ini. Selain Mudzakkir, ada A.A. Maramis dari Sulawesi Utara dan KH. Masjkur dari Jawa Timur. Mengutip situs UII, nama Mudzakkir, salah satu penggagas Piagam Jakarta, sudah empat kali diajukan sebagai pahlawan nasional sejak 2014. Namun, selalu kandas. Cendekiawan Muhammadiyah itu lebih banyak berkiprah membangun pendidikan di Yogyakarta selepas proklamasi. Kiprahnya selain menjadi rektor pertama UII (1948-1960), ialah mendirikan Akademi Tabligh Muhammadiyah Yogyakarta (kini Fakultas Agama Islam UMY) dan mendirikan Universitas Aisyiyah, sebagai perwujudan dari gagasan kaum perempuan berpendidikan tinggi.

  • Operasi Penyelamatan Seorang Pastor dari Kahar Muzakkar

    DI TENGAH konflik TNI dengan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan terdapat satu kisah penyelamatan seorang pastor asal Belgia. Adalah Harry Versteden, pemuka Katolik di Minangga, Tana Toraja yang pernah menjadi korban penculikan oleh DI/TII. “Pastor Harry Versteden dari CICM (Congregation of the Immaculate Heart of Mary) pernah disekap di pedalaman selama sembilan tahun,” tulis Huub J.W.M. Boelaars dalam Indonesianisasi: Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia. Versteden diberitakan mulai menghilang sejak 12 Februari 1953. Menurut para saksi, ia telah dibawa oleh sekelompok orang bersenjata dari tempat peribadatan di Minangga, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, dengan alasan untuk menyambuhkan orang sakit lewat pelayanan sakramen. Kedatangan sekelompok orang itu juga disebutkan dalam kesaksian kolega Verstedan, M. Pijnenburg dalam tulisan Uit het Oirschotse Roomse leven oleh Clari van Esch-van Hout.

  • Jenazah Kahar Muzakkar Dikenali dari Celana Dalam

    PADA akhir Januari 1965, Peleton I/Kompi D seharusnya sudah kembali ke basis karena perbekalan sudah habis sehingga mereka makan dedaunan. Pasukan di bawah komandan Peltu Umar ini bagian dari Operasi Kilat yang mengerahkan empat Kompi Yon 330/Kujang, pasukan RPKAD, dan Kompi Raiders/Hasanuddin. Peltu Umar meneruskan patroli sepanjang Sungai Lasolo karena mendapat petunjuk baru letak markas Kahar Muzakkar, pemimpin DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang mendeklarasikan Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII). Markas persembunyian Kahar dibocorkan oleh perwira kepercayaannya, Letkol Kadir Junus yang menyerahkan diri kepada TNI. Dia memberitahu bahwa Kahar bersembunyi di suatu tempat di Sulawesi Tenggara, sekitar Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari. Namun, menurut Brigjen TNI M. Jusuf, Panglima Operasi Kilat, kepastian persembunyian Kahar didapat setelah pasukan RPKAD menyergap sekelompok orang di sekitar Lawate pada 22 Januari 1965. Di antara dokumen yang disita terdapat surat-surat yang baru ditulis oleh Kahar kepada Mansjur.

  • Arsip Korupsi Sejak Zaman Kompeni

    KONGSI Dagang Hindia Timur atau VOC berkuasa penuh di Nusantara setelah memperoleh hak oktroi dari pemerintah Kerajaan Belanda. Ibarat negara dalam negara, VOC memiliki pasukan, mencetak mata uang sendiri, dan memonopoli perdagangan. Bercokolnya VOC di Nusantara sejak 1600 menjadi cikal bakal kolonialisme Hindia Belanda. “VOC ini perusahaan Belanda tapi diberikan hak oktroi oleh parlemen Belanda pada 1602. Dia kemudian bangkrut di tahun 1800-an dan ini katanya karena korupsi,” kata Wakil Ketua KPK Agus Joko Pramono dalam seminar “Satukan Aksi Basmi Korupsi” di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), 2 Desember 2025. Dalam acara ini diluncurkan pula naskah sumber arsip Korupsi dalam Khazanah Arsip: Jejak Korupsi Masa VOC hingga Masa Kolonial Belanda terbitan ANRI. Negeri koloni Hindia Belanda kini telah menjadi Republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Namun, Indonesia masih belum bebas sepenuhnya dari praktik korupsi. Bahkan, korupsi makin menggerogoti sendi-sendi kehidupan bernegara. Banyak aparat negara terjerat kasus korupsi. Mulai dari eksekutif, legislatif, hingga yudikatif; dari pusat hingga daerah, pejabat tinggi maupun rendah. Tak heran bila Indonesia masuk dalam golongan negara paling korup di dunia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page