Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Memercayakan Kelahiran pada Bidan
DJASMINAH panik. Perempuan yang baru jadi bidan itu mendapati masalah yang belum pernah ditemuinya kala diminta membantu persalinan perempuan Tionghoa di Kediri. Ibu yang hendak ditolong persaliannya sudah kehilangan banyak darah akibat jalur kelahiran si bayi tertutup oleh ari-ari (placenta previa). Djasminah lantas mengabari mentornya, dokter HB van Buuren, untuk segera datang memberi pendampingan kendati jarak rumah van Buuren ke tempat pasien sekira 20 km. Sembari menunggu kedatangan gurunya, Djasminah berusaha mengatasi pendarahan si ibu. Begitu tiba, Van Buuren bersama Djasminah langsung membantu pesalinan. Keadaan genting berhasil diatasi. Menurut Van Buuren, itu berkat kecekatan Djasminah dalam mengatasi pendarahan.
- Bidan Dihadirkan untuk Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi
TINGGINYA angka kematian ibu dan bayi pada awal abad ke-19 memunculkan gagasan untuk menghadirkan bidan di negeri jajahan. Kala itu, bidan Eropa masih sangat terbatas. Pelayanan kebidanan pun hanya diperuntukkan bagi orang Eropa di kota besar. Alhasil, dukun beranak jadi andalan dalam membantu persalinan orang pribumi dan indo. Bahkan, terkadang perempuan kulit putih di pelosok pun menggunakan jasa mereka. Praktik tersebut tidak disukai ahli medis Eropa. Mereka menganggap dukun bayi tidak hiegenis dan kurang pengetahuan. Mereka juga berpendapat, ketidaktahuan dan kenekatan dalam menangani kasus kelahiran yang sulit jadi penyebab kematian ibu dan anak. Oleh karena itu, para dokter Eropa memperkenalkan bidan ke negeri jajahan.
- Jenderal Keroncong Tetap Segar
SIANG 12 November 1945, segerombol serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL), pelindung pemerintah sipil Nederland Indies Civil Administration (NICA), menyatroni rumah di Jalan Kwitang nomor 10, Jakarta. Rumah itu adalah rumah Ketua Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Jakarta Raya Mr. Mohamad Roem. Tuan rumah sedang makan siang waktu serdadu-serdadu KNIL datang. “Orang-orang yang menyertainya makan siang selain Ibu Roem antara lain (Rudy, red.) Pirngadie dan Islam Salim,” catat Saifuddin Zuhri dalam Berangkat Dari Pesantren. Santap siang itu pun bubar seketika akibat kedatangan serdadu-serdadu KNIL. Tak lama setelah pintu terbuka, kaki tuan rumah “dioleh-olehi” timah panas oleh serdadu-serdadu KNIL tadi. Sang wakil Indonesia dalam perundingan Roem-Royen itu pun pincang jalannya.
- Petuah Pangeran Madrais
API adalah hal penting bagi manusia. Dalam kehidupan, api sangat membantu manusia bertahan hidup. Dalam jarak yang aman, api bisa menghangatkan tubuh. Api bahkan bisa membantu mengenyangkan perut manusia. “Segala sesuatu yang tidak baik bagi perut dapat diubah menjadi makanan yang baik dengan cara dibakar,” kata Kyai Madrais, yang dikenal dekat dengan alam, dikutip De Niuwe Vorstenlanden, 1 Agustus 1921. Madrais bukan seorang yang belajar di sekolah tinggi. Dia hanyalah warga yang tinggal di jalan utama kampung Cigugur, sekitar 8 pal dari Kuningan, Jawa Barat nan sejuk. Usianya sekitar 50 tahun. Dia mengaku sebagai putra Pangeran Alibasah I dari Gebang, Cirebon, dan masih keturunan ketujuh dari Pangeran Soetadjaja. Dia menyebut dirinya M.D.R. Martokusuma.
- Kisah Pelanduk di Tengah Perang
KOPRAL Kees mengeluh dalam catatan hariannya. Sebagai anak muda Belanda, dia merasa tak beruntung harus menghadapi situasi yang kerap mengguncangkan jiwanya selama bertugas di Indonesia. Puncaknya saat dia harus menyaksikan dua gadis kecil tengah menangis seraya memeluk tubuh kaku ibu dan adik kecil mereka di sebuah parit dangkal. “Keduanya terbunuh oleh satu peluru yang sama,” ujar Kees, dikutip Gert Oostindie dalam Serdadu Belanda di Indonesia 1945–1949. Kendati belum ada angka pasti, korban jiwa di pihak Indonesia sekitar 100.000 jiwa. “Tapi kalau pun jumlah itu betul, sudah bisa dipastikan sebagian besar rakyat sipil yang kadang-kadang tak paham mengapa mereka harus mati,” ujar Gert kepada Historia.ID.
- A Day of Terror in Rengat
THE day had just dawned over Rengat, the capital of Indragiri Regency, Riau Province, on the central eastern coast of Sumatra. That morning, at around 6, Junior Lieutenant Wasmad Rads, a TNI soldier from Battalion III Regiment IV Division IX Banteng Sumatra was taking his morning walk around the town. All of a sudden, a pair of red-painted planes flew low from the southeast of Rengat. Those P-51 Mustang bomber fighters had three colors painted on their fuselage: Red, White, and Blue. The Dutch had come to attack. "They dropped bombs on the streets, the market square where people gathered, and on people' houses. They even shot at people standing on the ground," Wasmad Rads recalled in his memoir Lagu Sunyi dari Indragiri (Song of Silence from Indragiri).
- Pembantaian Kilat di Rengat
FAJAR menyingsing di Kota Rengat, ibu kota Kabupaten Indragiri, Riau. Pagi hari sekira pukul 06.00, Letnan Muda Wasmad Rads, prajurit TNI dari Batalyon III Resimen IV Divisi IX Banteng Sumatra, berjalan-jalan menyusuri kota. Dari arah tenggara kota, tiba-tiba sepasang pesawat bercocor merah terbang rendah. Pesawat tempur pengebom jenis Mustang P-51 itu berpanji triwarna: Merah Putih Biru. Belanda datang menyerang. “Mereka menjatuhkan bom di jalan-jalan, alun-alun pasar di mana orang-orang berbelanja, dan rumah penduduk. Mereka bahkan menembaki orang-orang yang berdiri di atas tanah,” kenang Wasmad Rads dalam memoarnya Lagu Sunyi dari Indragiri.
- Intel Indonesia Bantu Pelarian Intel Prancis
KAPAL Rainbow Warrior milik organisasi lingkungan, Greenpeace, menjadi andalan dalam kampanye menentang uji coba nuklir Prancis di Pulau Moruroa, Pasifik. Pihak Prancis tak terima. Pada 10 Juli 1985, kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Auckland, Selandia Baru itu, diledakkan oleh anggota Dinas Intelijen Prancis (Direction Generale de le Securite Exterieure atau DGSE). Fotografer Greenpeace, Fernando Pereira, menjadi korban tewas. Kepolisian Selandia Baru menangkap sepasang suami-istri asal Prancis, Alain Turenge dan Sophie Turenge. Hasil penyelidikan mengungkap bahwa keduanya adalah Mayor Alain Mafart dan Kapten Dominique Prieur, anggota Dinas Intelijen Prancis.
- Lasykar Pelangi dan Operasi Setan
BEBERAPA waktu lalu (17/3), Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti mengunjungi kapal Rainbow Warrior (Lasykar Pelangi) yang tengah berlabuh di perairan Sorong, Papua. Kapal milik kelompok pecinta lingkungan Greenpeace tersebut tengah memulai muhibahnya yang bertajuk “Jelajah Harmoni Nusantara”. Papua Barat merupakan tujuan pertama mereka dalam kegiatan tersebut. Sejatinya kapal tersebut bukanlah Rainbow Warrior yang pertama. Nama Rainbow Warrior sendiri awalnya diambil dari sebuah buku berjudul Warriors of the Rainbow karangan William Wiloya dan Vinson Brown yang diterbitkan oleh Naturegraph pada 1962). Buku tersebut berkisah tentang suatu ungkapan dari para ahli nujum suku Indian Cree di Amerika Utara yang meramalkan akan datang suatu masa ketika planet Bumi sakit parah akibat ketamakan manusia. Dalam situasi kritis tersebut, Sang Dewa Agung lantas mengutus sekelompok manusia idealis yang datang dari berbagai latar budaya untuk melakukan suatu aksi nyata menyembuhkan Bumi yang tengah sekarat tersebut. Orang-orang Indian Cree menyebutnya sebagai Para Ksatria Pelangi (Warriors of the Rainbow).
- 10 Juli 1985: Akhir Tragis Kapal Greenpeace Penentang Nuklir Prancis
HARI ini, 10 Juli 1985, 34 tahun silam. Kesunyian dermaga Pelabuhan Auckland, Selandia Baru seketika berganti jadi menakutkan pada pukul 23.45 waktu setempat. Dentuman keras mengagetkan orang-orang di kapal-kapal yang bersandar maupun yang berada di daratan. “Suara apa itu? Jelas bukan bagian dari kebisingan rutin kapal. Bahkan, tidak ada suara normal kapal yang bisa didengar. Generator, yang memasok listrik ke kapal, anehnya sunyi. Gempa bumi kah?” kata Peter Willcox, kapten kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace yang merupakan salah satu kapal di dermaga itu, dalam memoarnya yang dimuat dalam Greenpeace Captain: My Adventures in Protecting the Future of Our Planet. Rainbow Warrior merupakan kapal Greenpeace, organisasi pemerhati lingkungan yang berasal dari Kanada, yang dibeli pada 1978. Bekas kapal Sir William Hardy milik Skotlandia itu lalu direparasi ulang agar berfungsi untuk pekerjaan lingkungan. Untuk menyelaraskan dengan misi yang diembannya, cat kapal didominasi warna putih dan hijau tua.
- Teror Mahasiswa Kiri
PERANG DINGIN menimbulkan gelombang kegelisahan dan kekecewaan di kalangan generasi muda Republik Federasi Jerman, atau lebih dikenal dengan nama Jerman Barat. Mereka kecewa dan marah atas dukungan negaranya terhadap setiap langkah dan manuver Amerika Serikat di berbagai belahan dunia, seperti di Vietnam dan Timur Tengah. Terlebih ketika Jerman Barat bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dengan konsekuensi adanya pangkalan dan personel militer Amerika Serikat. Mereka menuduh pemerintahnya dan pemerintah AS menjalankan agenda politik yang bercorak imperialistis, khususnya terhadap rakyat dan negara-negara di Dunia Ketiga. Pada saat bersamaan, mereka curiga bahwa pemerintah, partai-partai politik, dan aparat penegak hukum di Jerman Barat didominasi eks simpatisan Nazi. Faktor-faktor itulah yang mendorong radikalisasi, dan berujung pada kemunculan kelompok militan yang menamakan diri Rote Armee Fraktion (RAF) atau Tentara Merah Jerman. Ia lebih popular sebagai kelompok “Baader-Meinhof”, berasal dari nama dua orang pendiri dan tokoh utamanya: Andreas Baader dan Ulrike Meinhof.
- Akhir Pelarian Teroris Kiri
RUTINITAS normal Karina Ziegler di pagi itu, Senin (26/2/2024), berubah geger. Dia kaget bukan main ketika menengok barisan polisi bersenjata lengkap dekat tokonya di distrik Kreuzberg, Berlin, Jerman. Rupanya aparat-aparat itu tengah menciduk salah satu buron eks kelompok teroris kiri, Daniela Klette, di apartemen dekat toko tadi. Dalam daftar pencarian kepolisian Jerman dan Europol, Klette berstatus buron perempuan paling berbahaya. Mengutip Daily Mail, Selasa (27/2/2024), Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Lower Saxony, Daniele Behrens, menyatakan penangkapan itu menjadi salah satu milestone dalam sejarah kriminal Jerman. Klette sejak 1991 hidup secara sembunyi-sembunyi bersama Ernst-Volker Staub dan Burkhard Garweg. Belakangan, Klette menyamar dengan nama alias Claudia. Semenjak kelompoknya, Rote Armee Fraktion (RAF) atau Faksi Tentara Merah, bubar pada 1998, Klette dan dua koleganya itu beralih aktivitas menjadi perampok.




















