Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kepala Polisi Era Revolusi
JAKARTA, pertengahan Oktober 1945. Kabar buruk bertiup kencang dari Bekasi: pasukan Kaigun atau Angkatan Laut Jepang yang akan bergerak ke arah Bandung dengan kereta api dicegat lalu dibantai di tepi Kali Bekasi. Tak jelas siapa pelakunya. Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setempat yang saat kejadian ada di situ, alih-alih mencegah malah terlibat dalam pembantaian. “Padahal komandan Kaigun itu sudah memperlihatkan surat jalan dari Menteri Luar Negeri Achmad Soebardjo dengan dibubuhi tandatangan Presiden Sukarno,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Laksamana Muda Tadashi Maeda, komandan penghubung Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang, berang dan melayangkan protes keras kepada pemerintah Indonesia.
- Sebelum Soekanto Jadi Kepala Polisi
DENGAN berpakaian preman, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo kerap mengunjungi tempat-tempat yang dianggap rawan. Tengah malam, sebelum pulang ke rumah, dia singgah ke kantornya. Di ruang penjagaan, dia menemukan komandan jaga, seorang inspektur berkebangsaan Belanda, tidur terlelap. Soekanto ingin memberi pelajaran. Dia merogoh saku sang inspektur dan mengambil revolver. Soekanto juga melaporkan peristiwa itu ke atasannya agar memberikan sanksi. Yang terjadi, petugas itu dipecat dari kepolisian. Selama menjadi polisi, Soekanto dikenal disiplin tanpa ampun. “Pak Kanto itu sangat disiplin, bahkan untuk hal-hal kecil seperti kebersihan dia teliti,” ujar Supardi (75 tahun), keponakan Soekanto, kepada Historia. Semarang menjadi tempat dinas pertama Soekanto sebagai polisi. Dia mendapat penugasan di bagian yang berbeda-beda, dari lalulintas, reserse, hingga dinas intelijen polisi (PID). Yang disenanginya adalah tugas-tugas reserse. Salah satu yang sukses diungkap adalah kasus pembunuhan seorang pria Belanda bernama Borg oleh istrinya dengan motif mendapatkan warisan.
- Misi Rahasia Soekanto Mencari Senjata
PERINTAH datang dari Mohammad Hatta, wakil presiden yang juga perdana menteri. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo selaku kepala Djawatan Kepolisian Negara (DKN) diberi kuasa untuk meninjau dan mempelajari bentuk, susunan, dan perlengkapan kepolisian di luar negeri. “Tidak ada agenda lain. Tidak ada by design. Dari sisi surat perintah, ya cuma untuk mempelajari polisi di negara lain,” ujar sejarawan Ambar Wulan. Bersama Awaloedin Djamin, Ambar menulis biografi Jenderal Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo. Semestinya Soekanto berangkat pada Juli 1948. Namun, karena situas politik, dia baru bisa melaksanakannya pada September. Dia membawa Katik Soeroso, siswa Sekolah Tinggi Polisi Negara angkatan pertama yang sedang ditugaskan di DKN. Soekanto dan Katik menumpang pesawat dari Lapangan Maguwo (sekarang Adi Sucipto) Yogyakarta, menembus blokade Belanda. Dalam perjalanan mereka sempat mendarat di Palembang, Bangkok, New Delhi, London, hingga akhirnya tiba di New York, Amerika Serikat, pada 8 Oktober 1948.
- Soekanto Dikudeta di Tengah Prahara
TAHUN 1959 adalah tahun terberat bagi Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo dalam kedudukannya sebagai Menteri Muda/Kepala Kepolisian Negara. Kepentingan partai politik menyusup di antara perwira-perwira polisi. Salah satunya AKBP Soetarto, kepala Bagian Dinas Pengawasan Keamanan Negara (DPKN) Komisariat Jawa Tengah yang bersimpati pada Partai Komunis Indonesia (PKI). Soetarto pula, sebagai ketua umum Persatuan Pegawai Polisi Republik Indonesia (P3RI), yang mendesak Soekanto untuk mengadakan konferensi kepala-kepala polisi seluruh provinsi di Indonesia. Menanggapi desakan itu, Soekanto menghelat Konferensi Dinas Kepolisian Negara pada 19-20 Oktober 1959. Dalam Konferensi, Soekanto menjelaskan dasar pelaksanaan Dekrit Presiden dan perlunya herordering (penataan ulang) dan retooling (pembersihan) di lapangan organisasi, pelaksanaan tugas, cara bekerja, dan orang-orangnya dengan menentukan syarat-syarat tertentu. Di tengah Konferensi, tiba-tiba Soetarto dan kawan-kawannya mengajukan mosi tidak percaya kepada Soekanto. Tujuannya agar Soekanto mengundurkan diri.
- Jenderal Polisi (Purn.) Awaloedin Djamin: Soekanto Bapak Polisi Kita
MENDIANG Jenderal Polisi (Purn.) Awaloedin Djamin mantan Kapolri periode 1978-1982, menaruh rasa hormat yang mendalam kepada Kapolri pertama, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo. Ketika menjadi kepala seksi umum kepolisian pada dekade 1950-an, Awaloedin mendampingi Soekanto sebagai juru catat. Menurutnya, Soekanto adalah peletak dasar organisasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang profesional dan modern. Sebagai bentuk rasa hormat itu, Awaloedin Djamin menyusun biografi Soekanto berjudul Jenderal Polisi R.S. Soekanto Tjokrodiatmodjo: Bapak Kepolisian Negara RI. Penulisan biografi tersebut dikerjakan bersama Ambar Wulan, sejarawan dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 2016. Sekira Juli 2017, jurnalis Historia, Martin Sitompul dan Aryono berkesempatan mewawancarai Awaloedin Djamin yang kala itu sudah mulai sakit-sakitan. Meski demikian, ingatan Awaloedin masih sangat segar. Dengan bersemangat dia menuturkan pengalamannya bekerja bersama Soekanto. Awaloedin juga berkisah banyak hal: mulai tentang sejarah berdirinya institusi Polri, visi Soekanto membangun Polri, hingga kebiasaan unik Soekanto. Pada 31 Januari 2019, Awaloedin meninggal dunia dalam usia 91 tahun. Berikut petikan wawancaranya:
- Ketika Soekanto Menguji Rompi Sakti
RADEN Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menjadi tokoh pejuang yang memperoleh gelar pahlawan nasional tahun ini. Dia adalah kepala kepolisian Republik Indonesia yang pertama dan paling lama (1945-1959). Di bawah kepemimpinannya, kepolisian Indonesia mengalami masa keemasan. Karena kiprahnya dalam membangun dunia kepolisian negeri itulah Soekanto dinilai patut masuk dalam album pahlawan nasional. Soekanto merintis karier kepolisiannya sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Berbagai kedinasan digeluti Soekanto. Dari bagian lalu lintas, dia dipindahkan ke bagian reserse, kemudian ke dinas intelijen polisi Hindia Belanda (Politiek Inlichtingen Diens/PID). Dari semua itu, Soekanto paling senang ketika bertugas sebagai Kepala Polisi Seksi IV bagian reserse, di Candi, Semarang. Periode itu berlangsung pada 1933-1934. Sekali waktu di tengah malam, Soekanto, mengadakan inspeksi. Berpakaian preman, Soekanto patroli di sekitar kantornya. Sekonyong-konyong dia menemukan komandan jaga, seorang inspektur berkebangsaan Belanda, sedang tidur terlelap. Soekanto memberinya pelajaran dengan merogoh saku sang inspektur dan mencolong pistolnya. Akibatnya, inspektur itu mendapatkan sanksi atas kelalaiannya dengan penurunan pangkat. Selama menjadi polisi, Soekanto memang dikenal disiplin tanpa ampun.
- Era Soekanto, Era Emas Kepolisian Indonesia
KEPALA Kepolisian Republik Indonesia pertama Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo merupakan seorang spiritualis. Ia aktif dalam beberapa organisasi kebatinan, teosofi, maupun vrijmetselarij atau freemason. Namun, kegiatannya dalam kebatinan ternyata tak mengganggu pekerjaan Soekanto sebagai Kapolri. Pada masa kepemimpinannya (1950-1959) Polri justru berada dalam masa keemasan. Soekanto pertama kali bergabung dengan vrijmetselarij ketika menjadi polisi Hindia Belanda di Semarang. Ia tercatat sebagai anggota Lodge La Contante et Fidele pada 15 November 1938. Namun, aktivitas vrijmetselarij harus berhenti pada masa pendudukan Jepang dan loji-loji ditutup. Peneliti Freemason Indonesia, Sam Ardi dalam Dialog Sejarah "Soekanto: Pahlawan Nasional, Bhayangkara, dan Freemason" di saluran Youtube dan Facebook Historia.ID, Selasa, 17 November 2020, menyebut bahwa loji-loji mulai bangkit pada 1950. Sementara itu, Soekanto dilantik sebagai murid di Loji Timur Agung yang kemudian menjadi Lodge Agung Indonesia. Dalam Loji Agung Indonesia, kemudian hari Soekanto menjabat posisi prestisius, yakni Penasehat Agung.
- Buick Bung Karno Masih Jalan
DIMULAI dari Gedung Joang ’45 di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, sedan hitam itu melaju menuju Jalan Imam Bonjol No. 1, tempat Museum Perumusan Naskah Proklamasi berada. Tidak lama di sana, ia kembali melanjutkan perjalanan ke Jalan Proklamasi, tempat Tugu Proklamasi. Begitulah aktivitas yang dilakukan sedan Buick 7 zits –nama resminya Buick Series 90 Limited– itu pada siang 16 Agustus 2023 ini. Lewat sebuah kirab, ia menyambangi tempat dulu Bung Karno dan kawan-kawan merumuskan naskah proklamasi hingga pembacaan proklamasi. Kendati sudah “sepuh”, sedan “bongsor” itu masih kuat menyusuri jalan-jalan ibukota. “Luar biasa,” kata Fitra Eri, pengulas otomotif tersohor yang hari ini mendapat kehormatan mengemudikan mobil bersejarah itu, kepada Historia.ID.
- D.I. Pandjaitan Dimarahi Bung Karno
SUASANA makan malam Presiden Sukarno mendadak terasa suram. Dia marah besar setelah mendapat kabar tentang Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman yang menentang gagasannya soal Manifesto Politik (Manipol) dan Kabinet Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis). Peristiwa itu terjadi di sela-sela perhelatan Konferensi Gerakan Non Blok (GNB) di Beograd, Yugoslavia, pada September 1961. “Istri atase militer Indonesia di Beograd, Letkol Samosir, yang mendengar itu saat menyiapkan hidangan, menelepon malam itu juga ke Jerman Barat kepada Kolonel D.I. Pandjaitan,” catat Midian Sirait dalam Revitalisasi Pancasila: Catatan-catatan tentang Bangsa yang Terus Menerus Menanti Perwujudan Keadilan Sosial. Kolonel Donald Isaac Pandjaitan, atase militer Indonesia di Jerman, disebut-sebut sebagai “sponsor” atas sikap PPI Jerman. Tudingan itu berasal dari Menteri Penerangan Achmadi ketika menghadiri Kongres ke-IV PPI se-Eropa di Praha, Cekoslovakia, Agustus 1961. Dari Praha, Achmadi kemudian bergabung dengan rombongan kepresidenan di Beograd dan melaporkan hasil kongres kepada Sukarno.
- Sesaat Setelah Bung Karno Wafat
LANGIT Jakarta terbuka cerah pada pagi tanggal 21 Juni 1970. Paling tidak, cukup cerah bagi Jenderal Maraden Panggabean untuk mengayunkan stik golfnya di lapangan Senayan. Ketika hendak memukul bola, Maraden tetiba mendapat pesan penting melalui walky talky-nya. Bung Karno, presiden RI pertama, telah wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Buru-buru Maraden meninggalkan lapangan golf untuk melayat. “Sewaktu saya tiba di RS Gatot Subroto, Pak Harto telah berada di sana, demikian pula Ibu Dewi Sukarno dan almarhum Brigadir Jenderal G. Dwipayana lengkap dengan kamera dan alat-alat perekamnya. Saya memegang dahi dan tangan Bung Karno, tubuhnya masih lemas, belum kaku,” kenang Maraden dalam otobiografinya Berjuang dan Mengabdi. Bung Karno dikabarkan sudah mulai tak sadarkan diri sejak pukul 03.50. Menjelang nafasnya yang penghabisan, Bung Karno didampingi oleh anak-anaknya: Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati, dan Guruh. Turut pula kedua menantu, Ommy Marzuki dan Dedy Soeharto, serta seluruh tim dokter yang merawatnya. Sebelum meninggal, Bung Karno sempat bertemu Kartika, putrinya dari Ratnasari Dewi yang masih berusia tiga tahun.
- Ulah Letkol Sitompul Bikin Bung Karno Marah
SEMASA Perang Kemerdekaan, Pandapotan Sitompul dikenal sebagai komandan TKR di Tapanuli. Perwira jebolan Giyugun di zaman Jepang ini memimpin pasukan Divisi VI Sumatra yang bermarkas di Sibolga. Di luar urusan militer, Pandapotan cukup akrab dengan bawahannya. Kapten Donald Isaac Pandjaitan termasuk salah satunya. Komandan Batalion I Resimen IV TKR Riau itu ketemu jodohnya, Marieke Tambunan, berkat dicomblangi Pandapotan. “Sosok Marieke yang kebetulan sedang berkunjung ke Sibolga, terlihat dan tersidik oleh Komandan Divisi VI Sumatra, Letnan Kolonel Pandapotan Sitompul. Kemudian Letkol Pandapotan menceritakan itu ke Donald saat si Kapten melapor mau cuti pulang kampung sekaligus akan mencari jodoh,” tutur Herry Gendut Janarto dalam biografi Matiur Panggabean br. Tambunan Bunga Pansur dari Balige: Pengabdian dan Keteguhan Seorang Istri Prajurit. Matiur merupakan adik dari Marieke, maka adik ipar D.I. Pandjaitan. Matiur kemudian diperistri Maraden Panggabean yang pernah menjadi kepala staf Divisi VI pimpinan Pandapotan Sitompul. Jadi, Pandapotan Sitompul cukup dekat dengan D.I. Pandjaitan dan Maraden Panggabean.
- Kiai Tunggul Wulung Menangkal Wabah Penyakit
RAJA Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X menyampaikan pidato sapa aruh untuk warga Yogyakarta dalam menghadapi pandemi virus corona (Covid-19) pada 23 Maret 2020. “Berbeda dengan bencana gempa tahun 2006 yang kasat-mata,” kata Sultan. “Sekarang ini, virus corona itu jika memasuki badan, tidak bisa kita rasakan, dan menyerangnya pun tak terduga-duga. Menghadapi hal itu, kita selayaknya bisa menjaga kesehatan, laku prihatin, dan juga wajib menjalankan aturan baku dari sumber resmi yang terpercaya.” Strategi mitigasi yang diambil Sultan dalam menghadapi bencana non-alam ini, bukan lock-down melainkan calm-down untuk menenangkan batin dan menguatkan kepercayaan diri, agar eling lan waspada.





















