Hasil pencarian
9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Fasilitas “Plus-plus” dalam Konferensi Asia Afrika
SEPEKAN setelah Konfrensi Asia Afrika (KAA) rampung dengan sukses, bau skandal justru tercium ke tengah publik. Koran Indonesia Raya bikin geger dengan berita adanya “Panitia Ramah Tamah” selama konferensi tersebut. Isu itu dibongkar langsung oleh pemimpin redaksinya, Mochtar Lubis. Pada waktu meliput konferensi, seperti terkisah dalam biografinya, Mochtar Lubis diberitahu desas-desus kartu “hospitality comitee” dari Panitia Ramah Tamah. Dengan kartu itu, si empunya bakal punya akses memasuki “rumah aman” (safe house). Rumah itu seperti halnya rumah bordil yang menyediakan perempuan untuk layanan prostitusi. Untuk membuktikannya, Mochtar bahkan melakukan investigasi langsung ke rumah-rumah itu, mewawancarai para perempuan yang menjadi penghuninya dan menyiarkan berita itu sebagai liputan eksklusif. “Kemudian Mochtar menyatakan secara pribadi bahwa ia tak keberatan jika laki-laki dalam kedudukan berwenang berkunjung ke pelacur, tetapi yang ia tolak adalah pemerintah menyediakan perempuan bagi para utusan konferensi,” ungkap David T. Hill dalam Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922-2004).
- Polemik Panitia Ramah Tamah Konferensi Asia-Afrika
KETIKA hadir di perhelatan Konferensi Asia-Afrika (KAA), raut wajah Bung Hatta tampak merenggut. Agak aneh memang kalau dalam suatu momen maha penting itu Bung Hatta malah bermuka muram. Sebagai ajudan, Mayor Soegih Arto menangkap suasana “mendung” yang ditampilkan wakil presiden. Sang mayor lantas bertanya, ada apa gerangan dengan Bung Hatta. “Bung Hatta menanyakan apakah saya sudah mendengar mengenai Hospitality Committee,” tutur Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto. Isu Hospitality Comitee (HC) berkaitan dengan kartu akses yang dikeluarkan Panitia Ramah Tamah bagi delegasi negara peserta untuk menikmati fasilitas khusus. Menurut Hatta, panitia itu telah mengorganisasi dan menyediakan perempuan untuk menghibur para anggota delegasi. Hatta kemudian meminta Soegih Arto agar memanggil Roeslan Abdulgani, sekretaris jenderal KAA.
- Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika
BANDUNG, 1928. Sebuah gagasan tentang perjuangan muncul dari goresan tangan seorang anak muda asal Surabaya yang baru saja menamatkan sekolah teknik di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Tulisannya berjudul “Indonesianisme dan Asiatisme”, dimuat harian Suluh Indonesia Muda, cukup membuat gempar Hindia Belanda. Sukarno, nama sang anak muda itu, membawa gagasan baru untuk gerakan kemerdekaan di tanah airnya. Sebuah ide perjuangan yang nantinya akan membawa semangat persatuan di wilayah Asia dan Afrika. Di dalam artikel tersebut, Bung Karno banyak menyebut tentang semangat Asia. Dijelaskan Bakran Asmawi, dkk dalam Pesan Pembaharuan dari Bandung, Si Bung menggambarkan kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905, dan kemenangan Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal Pasha di medan perang Afyonkarahisar, sebagai kemenangan Asia atas Eropa. Demikian halnya dengan kemenangan Mesir, Cina, dan India atas imperialisme Inggris yang telah bercokol lama di sana. Tidak hanya untuk bangsa Asia secara umum, kemenangan atas bangsa-bangsa Eropa itu, bagi Sukarno, merupakan kemenangan Indonesia juga, sebab imperialisme yang menjerat Indonesia bukan hanya Belanda saja, tetapi imperialisme internasional.
- Dampak Konferensi Asia-Afrika Terhadap Dunia
SEJAK Konferensi Asia-Afrika sukses diselenggarakan di Bandung pada 18 hingga 24 April 1955, ibu kota Jawa Barat itu dipandang sebagai pusat gerakan pembebasan dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang mengancam perdamaian dunia. Perwakilan dari 29 negara Asia dan Afrika hadir di Bandung untuk membahas berbagai isu global dan menggalang solidaritas di tengah perebutan dominasi Barat dan Timur. Konferensi Bandung ini lebih dari sekadar pertemuan internasional terbesar pertama setelah Perang Dunia II. Konferensi ini merupakan tonggak penting dalam sejarah dunia. Sebab, dalam pertemuan inilah untuk pertama kalinya negara-negara non-Barat secara kolektif menggabungkan kekuatan tanpa Barat. Sejarawan Belgia, David van Reybrouck, mengatakan dalam kuliah umum “Peran Indonesia dalam Pembebasan Asia-Afrika” yang menjadi bagian dari acara peringatan 70 Tahun Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan PDI Perjuangan di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 26 April 2025, Indonesia bukan saja negara pertama yang mendeklarasikan kemerdekaannya sesaat setelah berakhirnya Perang Dunia II, tetapi juga menjadi salah satu negara yang berdiri paling depan dalam melawan kolonialisme dan imperialisme, serta memberikan dukungan kepada bangsa-bangsa yang tengah memperjuangkan kemerdekaan sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia serta kehidupan yang adil dan setara untuk semua bangsa.
- Suku Biak, Suku Vikingnya Papua
DALAM berbagai catatan sejarah Indonesia timur, selama ini hanya orang Bugis yang diakui sebagai pelaut-pelaut tanggguh. Selain pernah ke Madagaskar, mereka pun dikisahkan kerap bolak-balik Makassar-Australia untuk menjalin hubungan dagang dengan Suku Aborigin. Namun, tak banyak orang tahu jika suku Biak (yang mendiami Pulau Biak dan Numfor) dari Papua, juga telah di kenal lama sebagai para penjelajah lautan yang tangguh. Demikian pernyataan sejarawan A.B. Lapian dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut, Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. “Suku Biak menjelajah lautan hingga Maluku, Sulawesi, Jawa bahkan konon antara 1400-1800, mereka pernah sampai di semenanjung Malaka,” tulis A.B. Lapian. Sejatinya, masih kata Lapian, pelayaran orang Biak dan Numfor terdorong oleh beberapa hal, yaitu motif persaingan atau korfandi, lingkungan georafis Biak yang tandus dan kurang menghasilkan secara ekonomis, perang antar suku, dan adat budaya. Namun menurut Albert Rumbekwan, ada aktor lain yang menyebabkan terjadinya penjelajahan laut yang dilakukan oleh Suku Biak Numfor.
- Mandi Keringat untuk Sehat
DUA lelaki kekar duduk melingkar. Rambutnya agak cepak. Mengisap rokok dan memainkan bilah catur, begitu cara mereka menghabiskan malam sepanjang Ramadan. Tugas mereka kini hanya duduk, berjaga, dan sesekali berkeliling. Tak perlu mengatur mobil keluar-masuk. Mereka petugas keamanan sebuah sauna di wilayah Kebagusan, Jakarta Selatan. “Kami libur sebulan penuh, bang. Ngikutin edaran pemerintah daerah,” kata seorang petugas. Bila bukan bulan puasa, sauna itu buka tiap hari dari jam tiga sore sampai sepuluh malam. Pengunjung paling banyak datang pada tengah minggu dan akhir pekan. Semuanya laki-laki; muda, wangi, dan berbadan atletis. “Ini sauna khusus laki-laki,” terang petugas. Sauna itu satu dari sedikit sauna khusus laki-laki di ibu kota.
- Gubernur Jenderal Van Imhoff Melarang Mandi di Kali
CUACA panas tengah melanda sejumlah negara di Asia tak terkecuali Indonesia. Meningkatnya suhu, menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG), terjadi akibat gerak semu matahari. Fenomena ini menjadi siklus yang terjadi setiap tahun. Paparan matahari yang meningkat juga diprediksi sebagai tanda Indonesia akan memasuki musim kemarau pada akhir Mei hingga akhir September. Oleh karena itu, masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka diimbau menggunakan alat pelindung dari terik matahari. Cuaca panas membuat orang mudah gerah dan berkeringat sehingga lebih sering mandi. Kondisi Indonesia sebagai negeri tropis menyebabkan masyarakatnya terbiasa mandi dua kali sehari.
- Supaya Panglima Tertinggi Tak Celaka Lagi
MAULWI Saelan, 87 tahun, kali pertama bertemu Presiden Sukarno pada 1958. Ketika itu, Sukarno mampir di Parepare, dalam perjalanannya dari Manado. Sebagai Wakil Komandan Batalion VII/CPM (Corps Polisi Militer) Makassar, Maulwi ditugaskan bertanggung jawab atas keamanan Sukarno selama di Parepare sampai Danau Tempe, tempat terakhir perjalanan kembali ke Jakarta. Maulwi sangat terkesan dengan Sukarno. “Dia ramah dan perhatian kepada para pengawalnya,” kata Maulwi kepada Historia. Sementara itu, Sukarno sudah pula kenal Maulwi lewat penampilannya sebagai kiper sekaligus kapten timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne pada November 1956. Waktu itu timnas Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0. Setelah terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Sukarno saat salat Iduladha pada 14 Mei 1962, Menko Hankam/KASAB Jenderal TNI A.H. Nasution mengusulkan pembentukan pasukan pengawal presiden dan keluarganya. Nasution meminta Letnan Kolonel CPM Moh. Sabur, ajudan presiden, untuk menyampaikan rencana itu kepada presiden.
- Jenderal Gebrak Meja
PASANGAN capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar hadir di acara Mata Najwa. Anies blak-blakan menceritakan di balik pertemuan yang menggagalkan Agus Harimurti Yudhoyono, ketua umum Partai Demokrat, sebagai calon presiden. “Nama itu tidak ditolak tetapi tidak dideklarasikan sekarang. Dicoba dicari penjembatan sampai akhirnya tidak ketemu,” kata Anies. Puncaknya pada hari Selasa sore. Pertemuan berakhir denganDemokrat dipersilakan bila mau melakukan opsi-opsi lain. Sudah selesai tidak ada kesepakatan. “Di situ Tim 8 terjadi perbedaan pandangan yang sangat keras bahkan sampai gebrak meja,” kata Anies. Politik memang keras hingga gebrak meja. Karena intrik politik pula seorang jenderal pernah menggebrak meja di hadapan Presiden Soeharto.
- Jenderal Yani Memiting Anaknya
LEMA “piting” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti apit atau jepit (dengan kaki atau lengan). Kata ini kemungkinan diserap dari sifat hewan kepiting, yang memiliki capit untuk menangkap dan memakan mangsanya. Kata "piting" juga biasanya akrab di arena gulat sebagai jurus untuk mengunci atau membuat lawan tidak mampu bergerak. Kata “dipiting” baru-baru ini jadi viral usai Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menyerukannya di hadapan jajaran prajurit TNI menyikapi kerusuhan di Pulau Rempang. Bermula dari instruksi Yudo kepada komandan satuan bawahan untuk memiting pelaku kerusuhan di sana. Sebenarnya Yudo bermaksud agar prajuritnya tidak menggunakan senjata atau kekerasan. Tapi, barangkali dia tidak menemukan kata yang tepat, sehingga terlontarlah kata “dipitingi aja satu-satu.” Atas ucapan blundernya itu, Yudo mengaku salah dalam bertutur kata. Dia mengaku, waktu kecil suka bermain piting-pitingan dengan kawannya. Dia pun meminta maaf atas pernyataannya yang sempat menghebohkan publik itu. Permintaan maaf Yudo sekaligus mementahkan klarifikasi dari Kepala Pusat Penerangan TNI, yang menerangkan maksud kata dipiting adalah merangkul.
- Jenderal Patton Tampar dan Cekik Anak Buah
HARI itu, 3 Agustus 1934, Prajurit Charles H. Kuhl terduduk di atas sebuah kursi dengan posisi membungkuk di Rumah Sakit Evakuasi ke-15 di Nicosia, Sisilia, Italia. Tak seperti sesama serdadu Amerika Serikat di sekitarnya, Prajurit Kuhl sama sekali tak menderita luka. Hanya saja, tatapannya hampa dan pikirannya nge-blank. Ia sampai tak berdiri dan memberi hormat ketika Letjen George S. Patton datang berkunjung. Sikap dan keadaan prajurit asal Kompi L Resimen Infantri ke-26 Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika itu jelas mencolok di mata Jenderal Patton. Panglima pasukan AD ke-7 nan temperamental itu kemudian menegur Kuhl kenapa tak memberi hormat. “Sepertinya saya hanya tak sanggup lagi,” jawab Kuhl lirih, dikutip D.A. Lande dalam I Was with Patton: First-Person Accounts of WW II in George S. Patton’s Command. Apa yang diderita Kuhl tak kasat mata. Ia mengalami battle fatigue atau terkena penyakit mental berupa depresi akibat kelelahan di medan perang. Diagnosa dari bangsal medis darurat di Batalyon ke-3 Resimen ke-26 sudah mengonfirmasi mental illness yang diderita veteran front Afrika Utara itu.
- Sebelum Jenderal S. Parman Pergi
MINIATUR keretaapi dan wayang kulit. Dua hal itu jadi hobi Asisten I (Intelijen) Men/Pangad Mayjen Siswondo Parman. Soebagiono, adik Jenderal S. Parman, mengungkapkan kakaknya dekat dengan atasannya, Men/Pangad Letjen Ahmad Yani di lingkup militer dan juga dekat dengan Presiden Sukarno. Parman sering dimintai pendapat tentang lakon-lakon wayang apa yang cocok dipentaskan di Istana. “Beliau memiliki dua kotak wayang kulit. Sambil duduk di kursi malas, beliau memainkan wayang, mengikuti cerita Ki Dalang lewat siaran RRI,” kenang Soebagiono, dikutip Berita Yudha, 17 Oktober 1965. Sedangkan soal miniatur keretaapi, kata Sumirahayu istri sang jenderal dalam Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965: Tuturan Anak-Anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari, 1 Oktober 1965, Jenderal S. Parman punya beberapa koleksi yang disimpan di ruangan belakang yang cukup luas di kediamannya, Jalan Serang, Menteng, Jakarta Pusat. Sang jenderal acap memainkannya selepas kerja bakti di hari-hari libur.





















