Hasil pencarian
9811 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lagi di Sulawesi, Lukisan Gua Tertua Ditemukan
GUA kapur di Leang Karampuang, Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan menyimpan harta karun peninggalan masa pra-sejarah tertua di bumi Nusantara. Di sana, ditemukan lukisan gua (cadas) bergambar tiga figur menyerupai manusia yang sedang berinteraksi dengan seekor babi hutan. Lukisan tersebut diperkirakan berasal dari 51.200 tahun lalu. Demikianlah temuan yang diriset oleh tim peneliti kerjasama antara Griffith University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Southern Cross University. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal sains multidisiplin terkemuka dunia, Nature, pada 4 Juli 2024, dengan judul “Narative cave art in Indonesia by 51.200 years ago”. Tim peneliti mengaplikasikan metode analisis mutakhir melalui laser U-series (LA-U-series) untuk mendapatkan pertanggalan akurat pada lapisan tipis kalsium karbonat di atas cadas. “Kolaborasi ini telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Yang menarik dari publikasi tentang gambar cadas yang terbaru di jurnal Nature ialah perkembangan metodenya. Sekarang menggunakan laser LA-U-series, jadi (daya teropongnya) sekitar 40 mikron atau 40 kali lebih kecil dari rambut kita,” jelas Adhi Agus Oktaviana, ahli seni cadas Indonesia dari BRIN sekaligus ketua tim peneliti, dalam konferensi pers “Perspektif Baru dari Gambar Cadas Bernarasi Tertua di Indonesia” yang diselenggarakan BRIN (5/7).
- Seni Cadas Tertua di Dunia Rusak Akibat Perubahan Iklim
PERUBAHAN iklim yang cepat merusak gambar cadas di Situs Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Salah satu gambar di dinding gua situs itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi (Sus celebensis) merupakan gambar cadas tertua di dunia sejauh ini. Penelitian yang dipimpin Griffith University mengungkapkan bahwa beberapa gambar cadas (rock art) tertua di dunia itu mulai memudar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Dalam laporan penelitian yang dipublikasikan di Nature pada Kamis (13/05/2021), tim gabungan arkeolog Indonesia dan Australia mengungkapkan adanya bukti kristalisasi garam pada panel gambar cadas di 11 situs gua kapur Maros-Pangkep. “Saya terkejut dengan betapa meratanya kristal garam dan sifat kimianya yang merusak pada panel seni cadas, beberapa di antaranya kami tahu berusia lebih dari 40.000 tahun,” kata Jillian Huntley, pemimpin riset dari Griffith Centre for Social and Cultural Research yang mengkhususkan diri dalam konservasi seni cadas, sebagaimana dalam rilis media di laman Scimex.
- Gambar Cadas Tertua Ditemukan di Sulawesi Selatan
PENELITIAN arkeologi terbaru di Sulawesi Selatan mengungkap temuan yang kemungkinan adalah gambar cadas tertua di dunia. Gambar cadas ini berumur 45.500 tahun. Gambar cadas itu berupa penggambaran figuratif babi kutil Sulawesi (Sus celebensis). Babi kutil Sulawesi merupakan babi hutan endemik di Kepulauan Indonesia. Tim arkeolog dari Griffith University yang mengungkapkan temuan ini. Penemuannya berawal ketika penelitian lapangan yang dipimpin oleh lembaga penelitian arkeologi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas).
- Ketika Cicadas Dibombardir
RABU, 12 Desember 1945. Asikin Rachman tengah berjalan di kawasan Pasar Cicadas, Bandung pagi itu. Suasana sangat ramai. Lazimnya di pasar, para pedagang dan pembeli sibuk bertransaksi. Saat itulah, di langit biru tetiba muncul 6 pesawat tempur. Masing-masing berjenis 3 Mosquito dan 3 Thunderbolt. Setelah beberapa kalo bermanuver, burung-burung besi itu pun secara bersamaan menjatuhkan bom seraya memuntahkan peluru mitraIiur yang banyak. “Kami di bawah yang tadinya tidak menyangka mereka bermaksud akan membantai kami, jadinya kocar-kacir dan berlindung sebisanya,” ujar lelaki yang kini berusia 95 tahun itu. Insiden pemboman kali pertama oleh RAF (Angkatan Udara Kerajaan Inggris) itu tercatat dalam biografi Kolonel (Purn.) Mohamad Rivai, Tanpa Pamrih Kupertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Akibat pemboman itu, Markas TKR Cicadas dan Gedung Komite Nasional Indonesia Daerah Cicadas hancur berantakan, puluhan rumah penduduk hancur lebur dan banyak rakyat tewas terkena reruntuhan bangunan.
- Gambar Cadas Tertua di Dunia Ada di Kalimantan Timur
GAMBAR cadas tertua di dunia baru saja diidentifikasi dalam gua di Kalimantan Timur. Lukisan figuratif di pegunungan terpencil Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat Kalimantan Timur itu berusia 40.000 tahun. Para peneliti dari Puslit Arkenas, Griffith University, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berhasil mengungkapnya. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Nature, Rabu (7/11). Sebenarnya, sejak 1990-an diketahui gua-gua di atas pegunungan terpencil di Semenanjung Sangkulirang-Mangkalihat menyimpan serangkaian gambar purba. Termasuk penggambaran stensil tangan manusia, hewan, simbol-simbol abstrak, dan motif-motif yang saling berhubungan.
- Makin Mudah Menggali Pengetahuan Cadas Prasejarah
GUA-gua di sebelah selatan Sulawesi banyak menyimpan temuan cadas atau lukisan gua yang merekam kehidupan manusia prasejarah. Salah satunya, gua kapur Leang Karampuang di Kawasan Maros-Pangkep. Pada langit-langit gua ditemukan lukisan tiga sosok mirip manusia yang sedang berinteraksi dengan babi hutan. Cadas tersebut diperkirakan berasal lebih dari 51.200 tahun lalu dan disebut-sebut yang tertua di dunia. Cadas di gua kapur Leang Karampuang itu hanya salah satu dari sekian banyak temuan cadas di Indonesia. Meski demikian, tak mudah untuk menjangkaunya. Untuk mencapai gua kapur Leang Karampuang harus menempuh waktu berjam-jam dengan berjalan kaki. Belum lagi medan yang terjal ketika memasuki gua.
- Try Sutrisno, Wapres Paling Beken di Era Orde Baru
JENDERAL TNI (Purn.) Try Sutrisno meninggal dunia pada 2 Maret 2026 dalam usia 90 tahun. Try Sutrisno dikenal sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia yang keenam. Anak-anak generasi 1990-an tentu mengenal potretnya berdampingan bersama Presiden Soeharto yang dipampang di ruang-ruang kelas sekolah selama rentang waktu 1993–1998. Try Sutrisno lahir di Kampung Genteng, Bandar Lor, Surabaya, 15 November 1935 (beberapa versi lain menyebutkan 1937). Sebelum menjadi tentara, Try Sutrisno sebenarnya berkesempatan menjadi dokter. Setelah lulus SMA pada 1956, Ty diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Namun, Try yang sejak usia bocah sudah terpapar suasana perang kemerdekaan di Surabaya, memilih jadi taruna di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad, kini Korps Zeni). Di Atekad, Try Sutrisno termasuk taruna berpostur atletis dengan paras tampan. Setelah Try menjadi taruna senior, Atekad kedatangan junior yang juga atletis dan berwajah Indo bernama Pierre Tendean. Setelah lulus dari Atekad, Try mengenang Pierre sebagai perwira yang loyal dan solider. Baik Try maupun Pierre digadang-gadang sebagai taruna Atekad yang kariernya menjanjikan di masa depan. Namun, kiprah Pierre tak panjang karena gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 ketika bertugas sebagai ajudan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Sementara itu, karier militer Try terus melesat.
- Wisata Berburu Manusia di Sarajevo
DARI singa hingga rusa. Hewan-hewan itu lazimnya jadi “trofi” paling prestis dalam olahraga-rekreasi berburu kalangan elite sejak dahulu. Namun seiring perjalanan waktu, muncul fenomena memuakkan, yakni orang-orang kaya dari Eropa Barat mencari tantangan baru berupa “wisata” berburu anak-anak, perempuan, hingga ibu hamil di Sarajevo ketika ibukota Bosnia dan Herzegovina itu sedang terkepung tiga dekade silam. Begitulah yang diungkap riset terakhir jurnalis investigasi Kroasia Domagoj Margetić yang dibukukan dengan tajuk Plati I Pucaj! Tajne Sarajevskih Ijudskih Safarija (Pay and Shoot! Secrets of Sarajevo’s Human Safaris) dan dirilis awal 2026. Bukunya turut dibedah dalam Pameran Buku Internasional Sarjevo, 22-27 April 2026. Sejatinya, buku itu bukan upaya pertama dalam menguak fenomena “Sarajevo Safari”. Isunya pertamakali jadi perhatian global sejak kemunculan dokumenter Sarajevo Safari (2022) garapan sutradara asal Slovenia, Miran Zupanić.
- Suara Roestam di Parlemen Belanda
KEJADIANNYA pada 1935. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran Roestam Effendi kala itu. Usai Ratu Wilhelmina memberikan sambutan, seluruh hadirin bersorak: “Leve Oranje!” Saat itu pula dengan lantangnya Roestam berpekik: “Indonesia Merdeka!” Semua orang panik. Petugas keamanan menyeretnya dan menghajar sampai babak belur. Tak seperti pemuda pergerakan lainnya, namanya jarang dibicarakan. Namun, dia satu-satunya orang Hindia Belanda yang pernah menjadi anggota Majelis Rendah Belanda (Tweede Kamer der Staten General) di Negeri Belanda mewakili Partai Komunis Belanda. Roestam lahir di Padang, 13 Mei 1903. Setelah lulus Hogere Kweekschool voor Indlanse Onderwijzers (sekolah tinggi guru untuk guru bumiputra) di Bandung, dia menjadi guru HIS (sekolah dasar) di Siak Sri Indrapura, Riau. Sebelum pergi ke Belanda, dia sempat menjadi kepala sekolah di Adabiah, Padang. Dia merasa memiliki kemerdekaan untuk berbuat, sehingga kala itu dia juga terjun ke dunia politik dan aktif menulis.
- Tur Catur Max Euwe ke Indonesia
JUARA catur asal Belanda, Dr. Max Euwe, pernah mengadakan tur di Hindia Belanda. Tur itu mencakup sekitar 30 pertandingan simultan dan ceramah dalam enam minggu di Jawa dan Sumatra. Salah satu pertandingan simultan di Jawa diadakan di Magelang. Dua pemain yang ikut dalam pertandingan simultan melawan Max Euwe adalah Sudiro dan Ratib, murid Sekolah Guru Tinggi (Hogere Kweekschool). Sudiro tertarik pada catur sejak duduk di sekolah dasar HIS Netral (Neutrale Hollands Inlandsche School). Dia belajar pada L.G. Eggink, kepala sekolah yang suka catur dan menjabat hopdaktur (ketua dewan redaksi) majalah catur NISB (Nederlands Indische Schaak Bond).
- 13 Mei 1954: Kerusuhan Siswa Tionghoa Singapura Melawan Inggris
HARI ini, 13 Mei 1954, 66 tahun silam. Para siswa di sekolah-sekolah menengah Tionghoa di Singapura berkumpul di Sekolah Chung Cheng, sekolah Tionghoa terbesar di Singapura. “Mereka bermaksud mengajukan petisi kepada Gubernur Singapura Franklin Gimson,” tulis Cheong Suk-wai dalam Sound of Memories, the Recordings from the Oral History Centre, Singapore. Inti petisi mereka yakni menentang ordonansi National Service, aturan wajib militer paruh-waktu kepada pemuda berusia 18-20 tahun. Ordonansi tersebut merupakan salah satu langkah pemulihan yang diambil pemerintah kolonial Inggris untuk mengembalikan kekuasaannya di koloni selepas Perang Dunia II. Dinas wajib itu dilakukan untuk menyiasati masalah pertahanan yang saat itu praktis dipegang oleh militer yang mayoritas kulit putih dan jumlahnya tak seberapa. Padahal, rencana jangka panjang pemerintah kolonial diprioritaskan pada peningkatan kehidupan sosial-ekonomi. Peran-serta masyarakat lokal amat diperlukan. Untuk mencapainya, pemerintah berpijak pada pembangunan pendidikan modern (Barat) berbahasa pengantar Inggris. Perhatian lebih pada pendidikan Barat itu mematikan pendidikan berbahasa daerah (Tionghoa maupun Melayu) dan kemudian memunculkan sentimen negatif di kalangan siswa dan juga guru sekolah-sekolah Tionghoa terhadap pemerintah kolonial.
- Pukulan KO Berujung Kerusuhan di Hari Kemerdekaan
“FIGHT of the Century”, begitu label sebuah duel akbar tinju kelas berat antara jawara kulit hitam Jack Johnson kontra petinju kulit putih James J. Jeffries di kota Reno, Nevada, Amerika Serikat pada 4 Juli 1910. Duelnya memang digelar dalam hype Hari Kemerdekaan Amerika ke-134. Nahas, laganya justru memicu kerusuhan rasial di belasan kota lintas negara bagian. Selain lebih dari 20 ribu penonton yang memadati arena buatan di jantung kota Reno dan jutaan warga lain di seantero negeri Paman Sam yang menyimaknya via laporan live telegraf jadi saksi mata. Semua tak ingin ketinggalan untuk melihat dan mendengar pertarungan yang bukan sekadar duel biasa itu, mengingat pertarungan Johnson vs. Jeffries terjadi di masa segregasi dan diskriminasi rasial sedang tegang-tegangnya. Banyak masyarakat kulit putih tak terima dengan naik daunnya Johnson. Terutama setelah Johnson meraih gelar juara dunia kelas berat usai menang atas petinju kulit putih asal Kanada, Tommy Burns, di Sydney, Australia pada 26 Desember 1908. Kemenangan Johnson itu segera jadi kabar besar, terlebih pertarungan itu turut difilmkan dalam dokumenter The Burns-Johnson Fight (1908) garapan Charles Cozens Spencer yang menjadikan Johnson selebriti di kaum kulit hitam dan kulit berwarna di berbagai negeri di dunia.





















