top of page

Hasil pencarian

9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cerita di Balik Cadas Pangeran

    YANA Supriatna, warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, hilang misterius di Cadas Pangeran, Sumedang, pada Selasa (16/11/2021) malam. Akhirnya, Yana berhasil ditemukan di Cirebon pada Kamis (18/11/2021) petang. Cadas Pangeran memang terkenal angker. Banyak orang bercerita mengalami kejadian menakutkan ketika melewati jalan ini. Nama Cadas Pangeran sendiri diambil dari nama Bupati Sumedang, Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal dengan Pangeran Kornel, yang berani menghadapi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, menyebutkan, Daendels dalam pembangunan Jalan Raya Pos menghadapi kesulitan dengan penguasa pribumi setempat terutama dalam melaksanakan bagian Cadas Pangeran.

  • Dugaan Korupsi dalam Pembangunan Jalan Raya Daendels

    INSTRUKSI Daendels pada 5 Mei 1808 merupakan landasan hukum yang kuat untuk melaksanakan pembangunan jalan raya di wilayah Priangan yang dilakukan dengan sistem upah. Pembangunan jalan ini dibayangi dugaan korupsi usai ditemukan laporan di lapangan yang menyebut pembayaran upah para pekerja tidak lancar, yang akhirnya menjadi salah satu penyebab utama kematian begitu banyak pekerja. “Dalam pembikinan jalan [raya Daendels] inilah untuk pertama kali ada angka jumlah kurban yang jatuh 5.000 orang. Bahwa angka yang diberikan begitu bulatnya telah menunjukkan tidak rincinya laporan, hanya taksiran. Mungkin kurang, mungkin lebih. Setidak-tidaknya ini adalah genosida tidak langsung demi pembangunan, demi kelangsungan penjajahan dan kebesaran, kekayaan dan kemajuan Eropa.” Demikian sastrawan Pramoedya Ananta Toer menggambarkan pembangunan jalan raya Daendels, yang membentang dari ujung barat hingga timur pulau Jawa, dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

  • Sang Marsekal Menaklukkan Raja-raja Jawa

    LAKSAMANA A.A. Buyskes memimpin tujuh kapal perang dan sebuah kapal pengangkut, mendarat di Batavia pada Maret 1808. Semula, dia yang akan mengantarkan Herman Willem Daendels ke Hindia Belanda untuk menempati posisinya sebagai gubernur jenderal. Kekuatan yang dibawa Buyskes untuk memperkuat armada laut yang menjadi prioritas Daendels dalam mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Untuk itu, Daendels segera membangun pangkalan armada laut di Teluk Meeuwen di Ujung Kulon dan Teluk Anyer yang menghadap Selat Sunda, serta di Teluk Manari di Jawa Timur, yang mengarah ke Selat Madura. “Daendels memerintahkan Buyskes untuk bertanggungjawab atas pembangunan pangkalan armada laut di ujung timur (Teluk Manari), sementara Daendels bertanggungjawab di barat (Teluk Meeuwen),” kata sejarawan Djoko Marihandono kepada Historia.ID.

  • Langkah Militer Daendels

    NAPOLEON Bonaparte, Kaisar Prancis, memandang Jawa mempunyai kedudukan penting bagi Prancis. Secara ekonomi, sebagian besar wilayah Jawa menghasilkan komoditas dagang bernilai jual tinggi di pasaran dunia. Dari segi militer, penduduk Jawa bisa berdaya guna sebagai tentara rekrutan Prancis untuk bersaing dengan Inggris di Hindia Timur. Sebab, Inggris pun mengincar Jawa. “Untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, Napoleon butuh sosok kuat dan berpengalaman di bidang militer. Pilihan Napoleon jatuh pada Daendels,” kata Djoko Marihandono. Daendels pernah ikut membantu tentara Prancis menghadapi Inggris dan sekutunya di berbagai tempat di Eropa. Daendels datang ke Jawa dengan menyandang pangkat marsekal. Dia berkuasa penuh atas angkatan darat dan laut, reorganisasi militer, pembangunan benteng pertahanan, dan strategi perang di Jawa untuk menghadapi Inggris. Berikut ini tindakan Daendels di bidang militer dan kekuatannya.

  • Reformasi Atas Nama Revolusi

    GUBERNUR Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaas Engelhard, meragukan Daendels sebagai gubernur jenderal karena tidak membawa surat resmi pengangkatan dirinya oleh Raja Belanda, Louis Napoleon. Engelhard menularkan keraguannya kepada Gubernur Jenderal A.H. Wiese dan mendesaknya jangan menyerahkan kekuasaan kepada Daendels. Menyadari keraguan Wiese, pada 9 Januari 1808 Daendels membuat pernyataan resmi secara tertulis dan dibacakan di depan sidang Pemerintahan Tertinggi (Hooge Regeering) bahwa dirinya gubernur jenderal yang baru. Engelhard memiliki kekuasaan yang besar dan kepentingannya terusik dengan kedatangan Daendels yang membawa misi mereformasi birokrasi di Hindia Belanda. “Salah satu tindakan yang diambil Gubernur Jenderal Daendels adalah reformasi total administrasi. Semua reformasi ini sangat penting. Dengan itu sistem lama Kompeni dihancurkan dan fondasi untuk sistem baru diletakkan,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia.

  • Atas Nama Hukum Napoleon Bonaparte

    PADA 1 Januari 1808, Herman Willem Daendels tiba di Pelabuhan Anyer, Banten, setelah menempuh pelayaran panjang dan berbahaya dari Belanda melalui Lisbon dan Maroko. Aroma udara yang dihirup dan cuaca lembab yang diresapinya terasa berbeda dari negeri asalnya di Belanda yang dingin dan kering. “Daendels tiba di Jawa dengan menumpang kapal Amerika yang berhasil mengecoh blokade Inggris,” tulis Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budaya: Batas-Batas Pembaratan. Lima orang ajudan turut mendampingi Daendels setibanya di pantai Anyer. Dari kejauhan, serombongan pasukan dan pejabat Hindia Belanda yang dipimpin petinggi militer Banten, Pieter P. Du Puy, mewakili Gubernur Jenderal Albertus Henricus Wiese, hadir menyongsong kedatangan Daendels.

  • Anak Hattem Penyambung Lidah Napoleon

    KARIER Burchard Johan Daendels sebagai hakim kota memasuki masa senja. Putra pertama buah cintanya dengan Josina Christina Tulleken, sejatinya akan menggantikan posisinya. Demi menapaki kemungkinan itu, Herman Willem Daendels yang lahir di Hattem, Belanda pada 21 Oktober 1762, menempuh studi hukum di Harderwijk. Semasa kuliah Daendels kepincut pada ide-ide dan gerakan patriot yang santer dikumandangkan oleh dosennya, P.A. Roscam. Upaya mengubah sistem ketatanegaraan tengah gencar dilakukan kaum patriot di Belanda. Mereka terilhami oleh gerakan kaum republiken yang menentang sistem monarki di Prancis. Serampungnya menyelesaikan studi dengan menggarap tugas akhir bertajuk De Compensations, Daendels kembali ke kampung halamannya untuk menyebarluaskan ide-ide patriot kepada teman-temannya. Ia pun bergabung dengan orang-orang militan Patriot Belanda.

  • Setelah Daendels Dipanggil Pulang

    KOLONEL Jean Phillippe Francoise Filz, pemimpin Fort Victoria, menyerahkan benteng itu beserta 400 peti rempah yang siap dikirim ke Amerika, kepada Inggris. Kalah jumlah pasukan, Filz memilih menyerah sebelum bertempur. Berikutnya Inggris menguasai benteng Nassau dan benteng Amsterdam di Manado pada 16 dan 24 Juni 1810, serta Ternate pada 26 Agustus 1810. Daendels sangat marah ketika menerima laporan bahwa Ambon diserahkan begitu saja kepada Inggris pada 19 Februari 1810. Dia memerintahkan menangkap dan mengadili Filz. Mahkamah militer tinggi memvonis Filz dengan hukuman mati. “Setelah Inggris menguasai Ambon, Daendels yakin sebentar lagi Jawa akan diserang,” kata sejarawan Djoko Marihandono kepada Historia.ID. Oleh karena itu, lanjut Djoko yang menulis disertasi tentang sentralisasi kekuasaan Daendels di Universitas Indonesia tahun 2005, “Daendels memutuskan untuk membangun benteng pertahanan terbesar di Meester Cornelis (sekarang Matraman Jakarta).”

  • Polisi Khusus Bentukan Daendels

    DI ZAMAN kolonial, Tegal yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, merupakan daerah pemasok beras ke bagian timur Nusantara. Karena punya nilai strategis, pemerintah kolonial secara khusus memproteksi kawasan ini. Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels menyebut keamanan di kota Tegal dilakukan oleh sejenis kesatuan polisi pribumi berkuda. Mereka berseragam dan berpeci biru dengan senjata kelewang dan pistol. Kesatuan tersebut dinamai: Jayeng-sekar. “Pasukan ini berada di bawah perintah masing-masing kepala distrik (kabupaten) tetapi di ibukota karesidenan (prefektur setara provinsi, red.) di bawah pejabat kulit putih,” tulis Pram.

  • Ini Alasan Kenapa Jalan Daendels Berakhir di Panarukan

    SETELAH Jalan Anyer-Panarukan selesai, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mengeluarkan tiga peraturan terkait dengan pengaturan dan pengelolaan jalan raya ini. Peraturan pertama dikeluarkan pada 12 Desember 1809 berisi aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan. Peraturan kedua keluar pada 16 Mei 1810 tentang penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya. Peraturan ketiga tanggal 21 November 1810 tentang penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah maupun swasta dari Jakarta, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya. Kendati tujuan awalnya terutama untuk kepentingan ekonomi, Jalan Anyer-Panarukan kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Pos. Daendels mengumumkan pembentukan Dinas Pos pada 3 Agustus 1808, peraturannya telah disusun pada 18 Juli 1808. Dinas Pos berada di bawah Komisaris Urusan Jalan Raya dan Pos yang dipimpin oleh Van Breeuchem dengan gaji 5.000 ringgit per tahun.

  • Sepuluh Fakta di Balik Pembangunan Jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan

    HERMAN Willem Daendels menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda selama tiga tahun (1808-1811). Dalam waktu relatif singat itu, dengan tangan besinya berhasil membangun di berbagai bidang, baik untuk kepentingan ekonomi maupun pertahanan karena ditugaskan mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. Namun, pembangunan monumental dan melekat padanya adalah Jalan Anyer-Panarukan atau Jalan Raya Pos yang panjangnya mencapai seribu kilometer. Kendati menyebut proyek Jalan Anyer-Panarukan sebagai genosida karena menelan ribuan korban, sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengakui, dibandingkan pada masanya jalan itu sama dengan jalan Amsterdam–Paris. Pembangunannya yang hanya setahun (1808-1809) satu rekor dunia pada masanya. “Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya,” tulis Pramoedya dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

  • Beratnya Medan Trikora Papua

    SATU per satu prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) gugur di Papua. Setelah Prajurit Satu Miftahul Arifin ditemukan jasadnya, tim gabungan TNI-Polri kembali menemukan tiga jenazah prajurit lain yang gugur diserang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Disrtik Mugi-Mam, Nduga, Papua, 15 April 2023. Akibat serangan itu, Panglima TNI Laksamana Yudo Margono meningkatkan status di Papua menjadi Siaga Tempur di wilayah-wilayah dengan kerawanan tinggi. Pendekatan soft approach yang dipilih selama ini dinilai mantan KSAL itu tidak efektif. Salah satu faktor terpenting yang membuat KKB sulit ditaklukkan adalah kondisi geografis. Sebagaimana dialami para prajurit TNI terdahulu, musuh utama para prajurit bukanlah prajurit lawan melainkan alam. Alam Papua, terutama di bagian tengah, yang pegunungan dengan selimut hutan lebat membuat siapapun leluasa bersembunyi tanpa mudah diketahui.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page