Hasil pencarian
9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hoegeng, Polisi Anti Suap
KAPOLRI Jenderal Hoegeng Iman Santoso tahu betul bagaimana kentalnya tradisi menjilat di kalangan pejabat Orde Baru. Demi bercokol dalam lingkaran kekuasaan, mereka berusaha menarik simpatik Presiden Soeharto sekalipun dengan cara memalukan. Lapangan golf biasanya menjadi arena dimana praktik menyanjung dan melobi itu dilancarkan. Dalam suatu wawancara dengan George Junus Aditjodro, wartawan Tempo pada akhir 1970, terkuaklah kejengkelan Hoegeng. Dia mengungkapkan tentang seorang pejabat kabinet yang suka menjalankan aksi tersebut. Namanya, Maraden Pangabean, Menhankam/Pangab. Panggabean rela membeli stik golf paling mahal untuk menjadi rekan main golf Soeharto. Namun, saat permainan dia kerap mengalah atau pura-pura tak mampu melawan Soeharto. Saat itulah Panggabean mengeluarkan jurusnya: memuji-muji permainan golf Soeharto.
- Kisah Hoegeng Disetrap Bung Karno
MASA revolusi mempertemukan Hoegeng Iman Santoso dengan Presiden Sukarno. Pada pidato kenegaraan 17 Agustus 1947 di Yogyakarta, Hoegeng diperbantukan sebagai pengawal Bung Karno. Waktu itu Hoegeng tercatat sebagai mahasiswa Akademi Kepolisian Mertoyudan angkatan pertama (kini Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Suatu hari, Hoegeng ditugaskan komandannya untuk mengawal Sukarno ke suatu tempat. Entah bagaimana ceritanya, dia lupa sarapan saat itu. Jadilah di tengah gegap gempitanya pidato Bung Karno itu, perut Hoegeng keroncongan. Sadar Bung Karno kalau pidato memakan waktu berjam-jam, Hoegeng lantas bersiasat guna memenuhi panggillan alam dari lambungnya. “Karena saya tahu pidatonya bakal lama sekali, saya memberanikan diri njlintis (menyelinap) ke dapur,” tutur Hoegeng kepada wartawati Tempo Leila S. Chudori, 22 Agustus 1992 yang kemudian termuat dalam jilid ketiga Memoar Senarai Kiprah Sejarah.
- Dulu Hoegeng Jadi Menteri Iuran Negara
DI TENGAH isu naiknya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen, badan dan jabatan baru muncul dalam kabinet Prabowo-Gibran. “Badan Penerimaan Negara menjadi Kementerian Penerimaan Negara. Menterinya sudah ada," kata Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo. Adanya jabatan tersebut membuat Kementerian Keuangan bakal dirombak. Dalam Badan Penerimaan Negara terdapat Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea Cukai, dan Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak. Ketiganya sebelumnya berada di bawah Kementerian Keuangan. Kebijakan kabinet baru ini menuai polemik, yang mengesankan kabinet ini tidak terencana dengan baik. Apa yang dilakukan kabinet Prabowo-Gibran itu sejatinya bukan hal yang baru. Dalam kabinet Dwikora, Sukarno sudah pernah melakukannya. Namun, hasilnya tidak signifikan dalam menaikkan penghasilan negara karena krisis ekonomi parah terjadi di Indonesia pada 1965.
- Hoegeng dan Beking Judi
KONSORSIUM 303 disebut-sebut sebagai kelompok Irjen Polisi Ferdy Sambo di internal kepolisian yang menjadi beking perjudian. Sambo sendiri berstatus tersangka kasus pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Para pelaku perjudian memerlukan beking agar bisnis judinya bisa beroperasi dengan lancar. Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk pengamanan itu. Penjudi dibeking oknum aparat kepolisian itu biasa, yang luar biasa penjudi menggunakan nama Kapolri. Tak tanggung-tanggung, nama yang digunakan adalah Hoegeng. Kasus lucu ini diceritakan dalam biografi mantan Kapolri ketujuh (1974–1978) Jenderal Polisi (Purn.) Widodo Budidarmo, Semua Karena Kuasa & Kasihnya karya Imran Hasibuan, dkk. Kasus itu terjadi ketika Widodo Budidarmo menjabat Kapolda Sumatra Utara. Pada suatu hari, ketika Widodo sedang mengikuti upacara HUT kemerdekaan 17 Agustus bersama gubernur dan anggota Muspida Sumatra Utara, seorang perwira jaga Polda dengan tergesa-gesa mendatanginya. Dia menyampaikan bahwa “Pak Hoegeng ingin bicara melalui SSB (short side band) dengan Bapak, sangat penting.” Saat itu, Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso menjabat Kapolri kelima (1968–1971).
- Dari Bugel Menjadi Hoegeng
KAPOLRI Hoegeng Iman Santoso dikenal sebagai polisi yang jujur, bersih, dan sederhana. Dia menjadi polisi sejak zaman pendudukan Jepang. Kariernya terus naik hingga menjadi Kapolri berkat pendidikannya. Pada 1952, Hoegeng bersama 15 orang lulus sebagai angkatan pertama PTIK (Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian). Setelah diwisuda, mereka diundang Presiden Sukarno ke Istana Negara Jakarta. Satu persatu ditanya: nama, asal, sudah punya istri atau belum, dan lain-lain. Tibalah giliran Hoegeng memperkenalkan diri. “Hoegeng, Pak!” Sukarno menatapnya. Namanya aneh. Yang dia tahu nama “Sugeng” bukan “Hoegeng.”
- A Military Tribunal for Dutch Comfort Women
AFTER the defeat of Japan, in early January 1946, Lt. General Sir Philip Christison, the Allied commander, decided to organize military tribunals against Japanese war criminals. "The military court to be established is a Dutch court, because the Netherlands is the sovereign state in Indonesia. Therefore it is not valid to establish a British military court," Soeloeh Merdeka newspaper wrote on January 4, 1946. To carry out the plan, at a meeting in Singapore, the Dutch and British made an agreement which stipulated that very important matters would be examined by the British court. The rest, depending on the case; if it was about British interests, the British court would examine it, and if it was related to the interests of the Dutch, the Dutch court would examine it. "If the English court will examine a case that concerns the interests of both parties, namely England-Dutch, then two Dutch delegates will be seated on the English court panel and vice versa," Penjoeloeh newspaper wrote on January 10, 1946.
- Kegagalan Sekutu dalam Pengadilan Tokyo
PADA 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nakasaki. Tak lama, Sekutu menduduki Jepang dan dokumen penyerahan Jepang ditandatangani di atas kapal tempur Amerika Serikat, USS Missouri. Untuk menghukum penjahat perang Jepang, Sekutu menggelar Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh di Tokyo –lebih dikenal sebagai Pengadilan Perang Tokyo atau Pengadilan Tokyo– pada 29 April 1946 hingga 12 November 1948. Sebanyak 28 pemimpin militer dan politik Jepang dituntut melakukan kejahatan kelas A (kejahatan terhadap perdamaian) dan lebih dari 300.000 orang Jepang dituntut atas kejahatan kelas B dan kelas C –masing-masing untuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
- Pengadilan untuk Nona dan Nyonya Belanda
SETELAH kekalahan Jepang, pada awal Januari 1946, Letjen Sir Philip Christison, panglima Sekutu, memutuskan untuk menggelar pengadilan militer terhadap penjahat perang Jepang. “Pengadilan militer yang akan dibentuk itu ialah pengadilan Belanda, karena Belandalah yang menjadi negara yang berdaulat di Indonesia. Oleh karena itu tidaklah sah didirikan pengadilan militer Inggris,” tulis Soeloeh Merdeka, 4 Januari 1946. Untuk konkretnya, dalam pertemuan di Singapura, Belanda dan Inggris membuat kesepakatan. Isi kesepakatan, perkara-perkara mahapenting akan diperiksa pengadilan Inggris. Selebihnya, tergantung perkaranya; jika mengenai kepentingan Inggris, pengadilan Inggris akan memeriksanya, dan kalau mengenai kepentingan Belanda, pengadilan Belanda yang akan memeriksanya. “Jika pengadilan Inggris akan memeriksa suatu perkara yang mengenai kepentingan kedua pihak, yaitu Inggris-Belanda, maka dua utusan Belanda akan didudukkan di majelis pengadilan Inggris dan sebaliknya,” tulis Penjoeloeh, 10 Januari 1946.
- Kisah Hewan Peliharaan Sukarno dan Hatta
SEORANG petugas keamanan Plaza Indonesia tersorot kamera netizen ketika sedang memukul anjing pelacak yang berjalan bersamanya. Rekaman itu viral seketika dan menuai kecaman dari aktivis pecinta hewan. Presenter acara gosip Robby Purba pun ikut-ikutan menghujat di media sosialnya. Dari sudut pandang kamera CCTV mall, anjing pelacak itu justru terlihat sedang menerkam anak kucing. Itulah sebabnya, petugas keamanan yang diketahui bernama Nasarius itu memukul anjing pelacak guna mengoreksi agresivitasnya. Tapi, karena rekaman video itu sudah menyebar ke mana-mana, Nasarius ketiban apesnya. Satpam malang itu harus kehilangan pekerjaan alias dipecat lantaran pihak manajemen mall memutus kontraknya secara sepihak. Padahal, Nasarius hendak menyelamatkan baik anjing pelacak maupun anak kucing yang diterkam. “Saya sebagai pribadi minta maaf. Maafkan saya. Dia itu anjing saya. Saya pukul dia karena terpaksa, supaya dia berhenti terkam anak kucing. Saya sayang dia. Dia anjing saya,” kata Nasarius seraya terisak dalam video klarifikasinya.
- Presiden Sukarno Memberangkatkan Timnas Indonesia
PARA pemain Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih anyar Patrick Kluivert bertolak ke Sydney, Australia kemarin (16/3). Keberangkatan ke "Negeri Kanguru" itu dalam rangka pertandingan lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Dengan penuh harapan, Ketua Umum PSSI yang juga Menteri BUMN Erick Thohir melepas langsung keberangkatan Timnas Indonesia. “Selamat berjuang Timnas Indonesia yang malam ini berangkat ke Australia. Mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat Indonesia agar Timnas bisa memberikan yang terbaik,” kata Erick Thohir dikutip dari akun Instagram-nya. Dalam pertandingan yang bakal digelar hari Kamis (20/3) nanti, Timnas Indonesia dituntut menang atas kesebelasan tuan tumah Australia. Saat ini, Indonesia berada di posisi ke-3 klasmen sementara Grup C kualifikasi Piala Dunia Zona Asia. Sementara, Austrlia berada di urutan kedua dengan selisih satu poin saja dengan Indonesia. Kemenangan atas Australia bakal memperbesar asa Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah. Itulah sebabnya harapan publik membubung tinggi terhadap skuad Garuda, julukan Timnas Indonesia.
- Sukarno: Juara Dunia Tak Boleh Jadi Pegawai dan Berdagang!
BURUKNYA reputasi para pengusaha Indonesia yang mengekspor hasil bumi membuat banyak perusahaan Belanda menghentikan impor komoditas itu dari Indonesia. Mereka kesal, banyak barang yang diimpor ternyata isinya berkualitas buruk, beberapa bahkan berisi sampah. Kondisi yang terjadi pada tahun 1964 itu membuat Ibrahim Tambunan alias Bram Tambunan, pengusaha berjuluk “Raja Ban”, prihatin. Sebagai bentuk kepeduliannya, dia lalu menemui Presiden Sukarno. “Mereka tiba pada kesimpulan bahwa kita harus mempunyai kantor di Belanda dan berbadan hukum Belanda. Kantor inilah yang akan mengimpor hasil bumi dari Indonesia,” catat Kwik Kian Gie dalam Menelusuri Zaman.
- Oplet, Moyang Angkot di Indonesia
SEBUAH oplet berwarna biru dengan sedikit garis hitam memanjang di bagian kap mesin mendekam di ingatan banyak orang Indonesia. Oplet ini muncul di sinetron laris berjudul Si Doel Anak Sekolahan pada dekade 1990-an. Umurnya telah lanjut. Hampir setua dengan pemiliknya di sinetron. Benyamin Sueb, aktor kawakan, berperan sebagai pemilik oplet di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Dalam suatu episode, dia pernah bilang bahwa opletnya berasal dari zaman Jepang. “Ini oplet dari zaman Jepang belum pernah ditubruk. Kalau nubruk, emang sering,” begitu katanya dengan nada kocak. Celetukan Benyamin ada benarnya sekaligus ada pula salahnya. Oplet Si Doel memang berusia tua. Tapi tidak berasal dari zaman Jepang. Oplet itu buatan pabrik mobil Morris asal Inggris. Ia bertipe Morris Minor Traveler 100 keluaran 1950-an. “Oplet model begini masuk ke Jakarta pada 1960-an,” kata Ahmad Mathar Kamal, penulis buku Colek Cemplung Cerita yang Tercecer dari Tanah Betawi.



















