top of page

Hasil pencarian

9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • “We Were Deceived by Emperor Hirohito”

    IN a war, no one wins. War doesn't only inflict suffering to those who are attacked. In some cases, the aggressors can be the indirect victims of the hidden political agenda of the ruler. While still living in Japan, Mitsuhiro Tanaka worked as a woodcutter. After being drafted, he was trained in Manchuria, China, at the age of 20, before being assigned as a warship machinist in Indonesia. When Japan lost the war, Tanaka came to Magelang and subsequently decided to live there and marry a Chinese woman. Tanaka reasoned that at that time, there were no more ships carrying prisoners of war, and even if he insisted on returning home, he was sure he would be killed by the Allies.

  • “Kami Ditipu Kaisar Hirohito”

    MENANG jadi arang, kalah jadi abu. Perang bukan saja menyisakan kisah pedih bagi pihak yang diserang. Sesungguhnya, pihak penyerang pun merupakan korban secara tidak langsung, korban dari kepentingan politik terselubung penguasa. Ketika masih tinggal di Jepang, Mitsuhiro Tanaka berprofesi sebagai penebang pohon. Setelah mendapat panggilan wajib militer, dia dilatih di Manchuria (Tiongkok) pada usia 20 tahun. Dia kemudian ditugaskan sebagai ahli mesin kapal perang di Indonesia. Ketika Jepang kalah perang, Tanaka datang ke kota Magelang, lalu memutuskan tinggal dan menikah dengan perempuan Tionghoa. Tanaka beralasan, waktu itu kapal yang mengangkuti tawanan perang sudah tak ada lagi. Seandainya pulang pun, dia yakin akan dibunuh Sekutu.

  • Gelar Juara di Tengah Prahara

    MEI 1998. Huru-hara melanda ibukota dan beberapa kota lain Indonesia. Periode 13-14 Mei menjadi puncak chaos bernuansa rasialis. Rumah dan pertokoan milik orang Tionghoa nyaris tak ada yang luput jadi sasaran penjarahan dan pembakaran. Puluhan bahkan ratusan orang Tionghoa jadi korban pelecehan, pemerkosaan, hingga pembunuhan. Namun di tengah gejolak itu, setitik embun penyejuk datang dari para pendekar bulutangkis yang bertarung di Thomas dan Uber Cup di Hong Kong. Ironisnya, embun itu datang justru dari mereka yang mayoritas keturunan Tionghoa.

  • Thomas Cup, Piala Dunia-nya Bulutangkis

    SEJAK juara kali pertama tahun 1958, Indonesia masih jadi negara pengoleksi juara Thomas Cup terbanyak dengan 14 gelar. Rekor ini dikuntit China dengan mengoleksi sebelas trofi. Thomas Cup merupakan turnamen bulutangkis beregu putra paling prestisius. “Thomas Cup digagas Sir George Alan Thomas, pebulutangkis Inggris yang sangat sukses di awal 1900-an, di mana dia terinspirasi Piala Davis tenis dan Piala Dunia sepakbola yang sudah ada sejak 1930,” tulis Anil Taneja dalam World of Sports Indoor. Sir Thomas, presiden International Badminton Federation (IBF), pada 11 Maret 1939 mengajukan ide itu ke komite IBF saat berlangsungnya turnamen All England di London’s Royal Horticultural Hall. Dalam majalah Allsports edisi Mei 1984, Sir Thomas mengajukan gagasan itu karena merasa sudah waktunya ada turnamen internasional yang lebih global dari All England.

  • Julie Sulianti Saroso bukan Dokter Biasa

    DI ANTARA desing peluru, dentum meriam, pekik kemerdekaan, dan jerit parau para pejuang yang terluka, seorang dokter muda dengan cekatan menolong para pejuang yang terluka di front terdepan. Dia mengorganisasi dapur umum untuk memenuhi kebutuhan gerilyawan yang masuk kota. Tanpa kenal takut, dia terjun di front Tambun (Jawa Barat), Gresik, Demak, dan Yogyakarta. Karena keberaniannya, ia sempat ditahan oleh pemerintah kolonial Belanda selama dua bulan di Yogyakarta. Sul, sapaan akrab dokter muda itu, lahir pada 10 Mei 1917 di Karangasem, Bali, dengan nama lengkap Julie Sulianti. Setelah menamatkan studi di Gymnasium Bandung, dia melanjutkan jejak sang ayah, dr Sulaiman, dengan mendaftar ke Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Batavia. Lulus pada 1942, Sul bekerja di bagian penyakit dalam Centrale Burgelijke Ziekenhuis –kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)– lalu bekerja di bidang penyakit anak Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta.

  • Tak Sekadar Menangkis Bulu

    INDONESIA berusaha keras memperjuangkan Piala Sudirman agar disetujui IBF. Ternyata, anggota IBF dari Eropa juga mengusulkan Herbert A.E. Scheele Trophy (sekretaris jenderal IBF) sebagai nama piala untuk kejuaraan beregu campuran putra-putri, yang digelar dua tahun sekali. Tiga hari sebelum diputuskan dalam pertemuan dewan IBF pada Oktober 1988, Titus K. Kurniadi, salah seorang ketua komisi IBF, segera meminta agar Suharso menemui Ian Palmer, Presiden IBF asal Selandia Baru, di Singapura. Sebagai sahabat kentalnya, Suharso yakin dapat membujuk Ian agar merestui Piala Sudirman, daripada Herbert A.E. Scheele Trophy. Didampingi Titus, Suharso melobi Ian di di Singapura. “Ian, di bawah kepengurusan Anda IBF berjalan dengan baik. Seharusnya Anda pegang jabatan Presiden 2-3 tahun lagi,” kata Suharso dalam biografinya, Suharso Suhandinata, Diplomat Bulutangkis.

  • Sudirman Bukan Sembarang Piala

    KEJUARAAN bulutangkis Piala Sudirman yang akan digelar di Dongguan, Tiongkok, 10-17 Mei 2015, tidak akan dapat disaksikan melalui layar kaca. Pasalnya, tidak ada satupun televisi nasional yang membeli hak siarnya. Melalui twitter, netizen pun protes dengan tagar #RIPTVNasional pada Minggu (12/4). Padahal, perjuangan mewujudkan Piala Sudirman menempuh jalan yang panjang. Indonesia harus bangga karena putra terbaiknya, Dick Sudirman, diabadikan menjadi nama kejuaraan beregu campuran putra dan putri: Piala Sudirman. Sudirman, pendiri PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia), didaulat sebagai Bapak Bulutangkis Indonesia. Dia menjabat ketua umum PBSI (1952-1963 dan 1967-1981) dan wakil presiden IBF (International Badminton Federation, kemudian jadi Badminton World Federation) pada 1975. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasinya dalam bulutangkis Indonesia, namanya diusukan sebagai Piala Sudirman untuk kompetisi beregu putra dan Piala Rameli Rikin untuk beregu putri. Usul itu kali pertama dikemukakan pada kongres PBSI tahun 1963 di Makassar. Namun, Sudirman selalu menolak usul itu, sampai dia meninggal pada 10 Juni 1986.

  • Jalan Terjal Alhilaal

    MINGGU, 14 Oktober 1934. Para penonton memadati lapangan alun-alun Pekalongan, Jawa Tengah. Pertandingan ini selalu ditunggu-tunggu penikmat sepakbola. Mempertemukan Alhilaal, klub sepakbola Arab, dan Tsing Hua Hui (THH), klub sepakbola Tionghoa. Kendati satu kota, kedua kesebelasan punya sejarah rivalitas yang kuat. Mereka juga punya pendukung fanatik. “Begitu populernya kedua kesebelasan itu sehingga saya masih hafal beberapa nama pemainnya. Dari kesebelasan Alhilaal antara lain Bachtir (kiper), Baldjoen, Soengkar dan Maliki (barisan penyerang), sedangkan pemain kesebelasan THH antara lain Yap Chau dan Oei Guat Hoen,” kenang Hoegeng Imam Santoso, yang kelak menjabat kepala Kepolisian RI dan dikenal sebagai “polisi bersih”, dalam otobiografinya. Pertandingan ini merupakan program amal untuk mengumpulkan dana krisis (afdeelingscrisisfonds), termasuk menangani penggangguran. Panitia diketuai oleh pelaksana tugas walikota dan dibantu oleh beberapa ahli sepakbola Pekalongan. Program dilaksanakan setelah mendapat izin dari Voetbalbond Semarang en Omstreken (VSO), federasi sepakbola Semarang dan sekitarnya.

  • Saling Hajar Masyumi-PKI

    PEMILU 2019 akan berlangsung 44 hari lagi. Namun persaingan antar partai politik, terutama partai-partai politik besar, dan calon presiden sudah terasa sejak hari-hari kemarin. Berbagai cara dilakukan untuk menonjolkan kualitas masing-masing konstestan. Tak jarang itu dilakukan lewat prilaku saling menjatuhkan dan menjelek-jelekan lawan politik. Media sosial menjadi palagan efektif untuk melontarkan kampanye dan sumpah serapah politik. Kompetisi antara kubu #2019 Ganti Presiden dengan #2019 Tetap Jokowi pun terselenggara dalam situasi yang banal dan nyaris tanpa akal sehat. Situasi yang nyaris sama pernah terjadi menjelang berlangsungnya Pemilu 1955. Partai Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dan PKI (Partai Komunis Indonesia) kerap terlibat adu tegang. Tidak hanya lewat poster, para juru kampanye kedua partai politik itu tak jarang menghamburkan provokasi yang kadang menimbulkan adu fisik masing-masing massa pendukung.

  • Ikhwanul Muslimin, PKI, dan D.N. Aidit

    PADA akhir tahun 1991, melalui kolom surat pembaca di Al Muslimun, majalah milik organisasi Persatuan Islam di Bangil, seorang sarjana sejarah bernama Abdul Rojak protes keras kepada Kuntowidjojo. Pasalnya, orang yang mengaku sebagai pemerhati sejarah Islam di Indonesia itu tidak menerima sang budayawan menyebut “Ikhwanul Muslimin sebagai kepunyaan Partai Komunis Indonesia (PKI)” dalam bukunya Paradigma Islam, Intepretasi untuk Aksi. “Saya kecewa. Apa maksudnya Pak Kunto menyebut organisasi Islam terkemuka di dunia tersebut sebagai kepunyaan PKI?” tulisnya.

  • Portiere Flamboyan Itu Bernama Walter Zenga

    SATU lagi pesepakbola legendaris dunia mampir ke tanah air. Dialah Walter Zenga, kiper Inter Milan dan timnas Italia yang masa keemasannya era 1980-an. Kedatangannya bukan sekadar untuk tampil di laga fun football apalagi jadi duta brand atau perusahaan tertentu, melainkan terjun langsung membimbing klub Liga 1 Indonesia Persita Tangerang. Zenga hadir bersamaan peluncuran jersey dan skuad Persita jelang kompetisi Liga 1 musim 2023/2024 di Serpong, Tangerang, Senin (26/6/2023). Presiden Persita Ahmed Rully Zulfikar memperkenalkan Zenga yang akan memanggul jabatan Director of Institutional and Infrastructure Development dengan tugas utama membangun fondasi klub sekaligus jadi penasihat pengembangan infrastruktur, termasuk stadion yang jadi kandang klub di pinggiran ibukota itu. “Karier saya sebagai pemain sangat luar biasa tapi itu masa lalu. Saya akan memanfaatkan masa lalu untuk mengangkat momen saat ini. Ada peluang besar di sini dan saya di sini untuk membantu tim, untuk mendukung semuanya. Saya berharap musim ini berjalan dengan baik untuk kita semua,” kata Zenga, dikutip laman resmi klub, Selasa (27/6/2023).

  • Pajak Kasino untuk Pembangunan Jakarta

    PUSAT Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap sejumlah kepala daerah yang menyimpan uang puluhan miliar di kasino luar negeri. “PPATK menelusuri transaksi keuangan beberapa kepala daerah yang diduga melakukan penempatan dana dalam bentuk valuta asing dengan nominal setara Rp50 miliar ke rekening kasino di luar negeri,” kata Kiagus Ahmad Badaruddin, ketua PPATK, di kantor PPATK, Jumat (13/12/2019), dikutip cnnindonesia.com. Kepala daerah dan kasino mengingatkan kita pada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta (1966-1977). Dia mengeluarkan kebijakan kontroversial dengan melegalkan judi dan memajakinya untuk mendapatkan dana pembangunan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page