Hasil pencarian
9811 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Insiden Duta Besar Marshall Green
KETIKA menyerahkan surat kepercayaannya di Istana Negara pada 26 Juli 1965, kesabaran Duta Besar Amerika Marshall Green langsung diuji oleh Presiden Sukarno. Dalam sesi pertukaran pernyataan, Sukarno menyerang dengan keras kebijakan politik luar negeri AS. Wakil Komandan Tjakrabirawa Kolonel Maulwi Saelan turut hadir dan memperhatikan gerak-gerik Green. “Marshal Green pura-pura tidak mendengarkan serangan Bung Karno. Sebaliknya, ia dengan tertib berdiri dengan tegaknya di ruangan upacara, meskipun kemudian hari ia mengakui tidak tahan dan ingin pergi meninggalkan Istana,” kenang Saelan dalam Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66: Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa. Green dalam memoarnya mencatat, perlu waktu berminggu-minggu bagi duta besar yang bertugas di Indonesia untuk memasuki upacara seperti itu. Penerimaan yang cepat ditafsirkan Green sebagai suatu penghormatan. Tetapi, kemudian dia sadar, Sukarno barangkali ingin menggunakan kesempatan awal ini untuk menghina duta besar AS yang baru.
- Sukarno, Jones, dan Green
JIKA ada orang Amerika yang paling disenangi Presiden Sukarno, orang itu tentu bernama Howard Palfrey Jones. Selama delapan tahun, Jones menjembatani hubungan Jakarta dan Washington sebagai duta besar. Sukarno dalam otobiografinya menyanjung Jones selayaknya seorang sahabat yang karib. “Seorang orang asing yang mengerti kepadaku adalah Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones,” kata Sukarno kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Kerapatan Jones dan Sukarno terbukti dari begitu banyaknya hal-hal yang mereka bincangkan. Mulai dari keluarga, kelinci yang beranak-pinak, nasi goreng, aktor Hollywood, hingga persoalan serius mengenai hubungan politik antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Ketika Irian Barat dimenangkan Indonesia lewat Perjanjian New York, Jones adalah orang pertama yang memberitahu Sukarno kabar itu. Jones bahkan berperan dalam mendorong Sukarno untuk menuliskan otobiografinya.
- 21 September 1943: Rakyat Sabah Membenamkan Matahari Terbit
HARI ini, 21 September 1943, 79 tahun silam, Albert Kwok (Guo Heng Nan) mendirikan Kinabalu Guerillas Force. Organisasi perlawanan terhadap penguasa militer Jepang itu didirikannya sebagai respon terhadap kekerasan yang dilancarkan para serdadu Nippon sejak menduduki Kalimantan Utara (kini Sabah). Jepang menduduki Sabah pada pembukaan tahun 1942. Pendudukan Sabah, sebagaimana pendudukan kota-kota di Kalimantan yang diduduki Jepang sebelumnya, terbilang tanpa perlawanan berarti. Jurnalis Nikolaos Theotokis menulis dalam Airborne Landing to Air Assault: A History of Military Parachuting, pasukan terjun payung Jepang pertama kali terlibat dalam pertempuran selama invasi Kalimantan pada Desember 1941. Tujuan utama kampanye ini adalah ladang minyak di Miri di wilayah Sarawak dan Seria di Brunei dan lapangan terbang yang dekat dengan perbatasan dengan British Malaysia (Sarawak).
- Pasukan Jepang Merebut Kuala Lumpur di Musim Durian
PARA pejabat kolonialis Eropa, termasuk Residen Jenderal Federasi Negeri-Negeri Melayu (FMS) Hugh Fraser dan Panglima Komando Malaya Jenderal Arthur Percival beserta sebagian besar serdadunya sudah lari tunggang-langgang ke Singapura. Di hari itu, 11 Januari 1942, ibukota Kuala Lumpur otomatis menjadi kota terbuka yang kemudian diduduki pasukan Jepang nyaris tanpa perlawanan. Sebelumnya, Kuala Lumpur menjadi sasaran serangan udara Jepang mulai 21 hingga 22 Desember 1941. Sepekan pasca-tahun baru, Divisi ke-5 Angkatan Darat (AD) ke-25 Jepang pimpinan Jenderal Tomoyuki Yamashita menghancurkan Divisi India ke-11 di Pertempuran Sungai Slim (5-7 Januari 1942) dekat kota Tanjung Mualim. “Lalu pasukan veteran Perang China itu juga merebut pangkalan udara (lanud) Kota Baru yang strategis untuk menguasai ruang udara. Sampai kemudian pada 11 Januari 1942, mereka mencapai Kuala Lumpur. Pasukan persemakmuran [Inggris] mundur secepat mungkin ke Singapura,” tulis Michael Tai dalam China and Her Neighbours: Asian Diplomacy from Ancient History to the Present.
- Ketika Dubes AS Dipaksa Makan Durian
DUTA Besar Amerika Serikat (AS) Marshall Green mendapat surat kepercayaan dari Presiden Sukarno pada 26 Juli 1965. Green menggantikan Howard Jones yang sudah sejak 1964 ingin pensiun. Berbeda dari pendahulunya yang bisa bersahabat dengan Sukarno, Green justru sebaliknya. Tahun 1965 menjadi titik didih hubungan Indonesia dan (AS). Sukarno makin mesra dengan negara-negara komunis seperti Republik Rakyat Tiongkok, Republik Demokratik Vietnam, atau Korea Utara dan makin anti-Amerika. Sikap Sukarno terhadap AS makin jelas pada pidato 17 Agustus 1965 yang berjudul “Tahun Berdikari”. Dalam pidatonya, Sukarno menyinggung tentang nasionalisasi modal asing termasuk milik AS. Sukarno juga menantang AS terkait dukungannya terhadap Malaysia. “Apakah mereka akan menghentikan sokongan mereka terhadap ‘Malaysia’ dan bersahabat kembali dengan Indonesia, ataukah sebaliknya tetap menyokong ‘Malaysia’ dan memusuhi RI –ini adalah persoalan yang terpenting dewasa ini dalam relasi RI-AS,” kata Sukarno.
- Riwayat Durian di Nusantara
SEJAK kapan manusia mulai menyantap buah durian (durio zibethinus) atau siapa yang pertama kali menemukan buah durian tak pernah ada fakta sejarah yang pasti mengenai itu. Namun bila pertanyaan diajukan tentang sejak kapan penduduk di Nusantara mengonsumsi durian, maka jawabannya selalu tersedia. Paling tidak petunjuk tersebut terdapat dalam beberapa relief di candi Borobudur. Dari 2672 panel kisah, beberapa di antaranya menampilkan buah durian yang dijadikan sesembahan buat raja, diperjualbelikan, juga tampak orang-orang yang membawanya bersama buah lain seperti mangga dan manggis. “Dari relief ini kita bisa tahu bahwa durian sudah dikonsumsi oleh penduduk Nusantara sejak 1300 tahun yang lalu,” kata pakar durian Mohamad Reza Tirtawinata dalam diskusi tentang durian di Serang, Banten tiga pekan lalu. Reza doktor dari Institut Pertanian Bogor, orang penting di balik pendirian taman buah Mekarsari.
- John Tobing Pencipta “Darah Juang” Berpulang
TAK terhitung jumlah demonstasi yang pernah dia kuatkan. Lewat lagu ciptaannya, “Darah Juang”. Johnsony Maharsak Lumban Tobing alias John Tobing, sang pencipta “Darah Juang”, juga ikut serta dalam membela petani yang dirugikan karena proyek Kedungombo. Tak hanya demo, dia juga pernah mengunjungi para petani ke desa-desa. Termasuk pergi ke Cilacap, demi para petani Blangguan yang lahan bertahan hidup mereka diambil alih tentara untuk latihan perang. Dia juga sering melihat anak-anak yang perut (juga otaknya) kurang gizi. Dia tahu tidak enaknya kemiskinan itu. Semua kondisi memilukan itu menginspirasi John untuk mengabadikannya lewat lagu. John lalu mewujudkannya.
- Cat Stevens Masuk Islam
SEBAGIAN generasi yang tumbuh-besar di era 1990-an dan menikmati musik pop Barat hampir pasti pernah mendengar lagu “Wild World” versi rock yang dibawakan Mr Big. Sebelum Mr. Big, beberapa musisi pernah pula membawakan lagu ciptaan pria dengan nama Steven Demetre Georgiou. “Wild World (1970)” hanyalah satu dari sekian lagu yang pernah dinyanyikan dan diciptakannya dalam album Tea For The Tillermans, selain Fathers and Son. Ketika album itu dirilis, usia Steven baru 22 tahun. Dua lagu itu, setidaknya membuat Steven si bintang pop Inggris menjadi semakin mendunia. Pria dengan nama panggung Cat Stevens ini sejak 1966 sudah terkenal berkat lagu ciptaannya sendiri, “I Love My Dog”. Lagunya sempat nangkring di nomor 28 di UK Singles Chart. Sejak awal kariernya, dia menyanyikan lagu-lagu balada sambil memainkan gitar. Meski sempat belajar piano, namun The Beatles membuatnya menekuni gitar sejak usia 15 tahun.
- 4 Sehat 5 Sempurna
NEGERI Belanda permulaan musim semi 1949. Poorwo Soedarmo, lulusan Stovia tahun 1927, berdiri di dekat geladak kapal saat SS Polydorus memasuki Noordhollandsch Kanaal. Poorwo tak hendak pesiar. Dia bekerja sebagai dokter kapal barang SS Polydorus untuk trayek Jakarta- Amsterdam selama Februari sampai September 1949. Ketika melewati kanal itu, dia menatap anak-anak kecil bermain sembari mandi sinar matahari. Dia takjub. “Mereka tampak gemuk, gembira, dan bergairah. Sungguh suatu gambaran ideal health. Betapa bedanya dengan anak-anak di Jakarta,” kenang Poorwo dalam otobiografinya, Gizi dan Saya. Ketika mendarat di Amsterdam, Poorwo menemui beberapa dokter yang sebelum tahun 1940 pernah bertugas di Hindia Belanda, khususnya di bidang gizi. Dari Jansen B.C.P, yang pernah meneliti vitamin B1 di Hindia Belanda, Poorwo mengetahui anak-anak di Belanda gemuk dan sehat karena mendapat jatah susu di sekolah.
- Makan Bergizi Gratis di Dunia
KENDATI kritik tetap mengiringi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap digulirkan pemerintahan Prabowo Subianto 6 Januari lalu. Kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan yang terjadi di sana-sini makin “melanggengkan” kritik yang ada sejak program tersebut masih dikampanyekan. Soal terbanyak yang menjadi sasaran kritik kemungkinan soal anggaran pengadaan makanannya. Para pengkritik menyoroti program yang terkesan dipaksakan itu kurang tepat di tengah kesulitan ekonomi yang sedang dialami Indonesia. Sebagian dari mereka menyarankan, anggaran untuk MBG akan lebih tepat bila dialokasikan untuk hal yang lebih mendesak, seperti membuka lapangan kerja. Program semacam MBG akan lancar dan bermanfaat bila diadakan dalam kondisi keuangan negara yang sedang fit. Namun, Profesor Gizi di Institut Pertanian Bogor (IPB) Ali Khomsan punya pendapat berbeda dari para pengkritik tersebut. Kala ditemui Historia.ID Rabu (8/1/25) lalu, dia mengungkapkan bahwa program serupa tak hanya bisa dilakukan oleh negara ketika sudah kaya. “Kalau kita lihat sekarang ini beberapa negara memang sudah melaksanakan model-model makanan bergizi gratis karena menyadari bahwa setiap wilayah itu selalu ada kemiskinan,” terang Ali Khomsan.
- 27 Januari 1997: Kerusuhan di Pasar Tanah Abang
PADA Senin, 27 Januari 1997, tepat 30 tahun yang lalu, kerusuhan hebat melanda wilayah Tanah Abang. Pasar Tanah Abang yang biasanya disesaki pedagang dan pengunjung tampak mencekam. Api berkobar dari kendaraan-kendaran yang luluh-lantak. Hari itu, para pedagang Tanah Abang berada di puncak kemarahannya sebagai bentuk perlawanan terhadap pungli atau pungutan liar. “Tanah Abang rusuh,” lansir Berita Yudha, 28 Januari 1997, “7 mobil, 1 sepeda motor, dan Kantor Kecamatan Tanah Abang dibakar dan dirusak.” Dari tujuh mobil plat merah yang dibakar, enam milik Dinas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) serta satu mobil milik wakil camat Tanah Abang. Sebagai pusat perputaran uang di Jakarta Pusat, kerusuhan di Pasar Tanah Abang menyebabkan roda ekonomi lumpuh. Ribuan toko di seluruh blok di Tanah Abang tutup seketika. Kantor camat Tanah Abang dirusak sehingga beberapa dokumen hilang dan terbakar. Selain itu, lalu lintas terpaksa ditutup dari arah Jl. KH Mas Mansyur, Jl. Jati Baru, dan Jl. Petamburan dari pagi hingga tengah hari. Kerugian materil diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar.
- Melawan Lupa Peristiwa Kekerasan Seksual dalam Kerusuhan Mei 1998
AKTIVIS dan sejarawan dari Ruang Arsip & Sejarah (RUAS) Perempuan Indonesia, Ita Fatia Nadia, mengenang kembali keterlibatannya dalam perlindungan dan advokasi korban kekerasan seksual dalam kerusuhan Mei 1998. Ketika itu, Ita mendampingi beberapa korban, tidak hanya wanita muda, tetapi juga anak-anak hingga remaja. Salah satu korban yang didampingi Ita adalah anak perempuan berusia 11 tahun di wilayah Tangerang. Mantan direktur Yayasan Kalyanamitra, lembaga pemerhati isu perempuan, itu mendampingi korban di saat-saat terakhir hidupnya hingga jenazahnya dikremasi. “Ketika Fransiska meninggal, saya menelepon Pak Sandiawan dan Pak Sandiawan memberi tahu saya bahwa semua persiapan untuk pemakaman akan diurus oleh tim relawan karena waktu itu tidak ada satu pun keluarga [korban] yang mendampingi... Saya masih ingat betul Pak Sandiawan datang ke Cilincing sebelum Fransiska dimasukkan ke dalam krematorium. Tidak ada doa, tidak ada siapa pun. Maka Pak Sandiawan mengatakan, ‘saya yang berdoa untuk Fransiska’... Saya tunggu dia sampai [proses kremasi] selesai,” ungkap Ita dalam webinar dan rekoleksi IKAFITE bertajuk “Kesaksian dan Penjernihan Fakta Sejarah Peristiwa 13-15 Mei 1998” yang disiarkan di kanal Youtube HIDUPtv, 11 Juli 2025.





















