Hasil pencarian
9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Awal Mula Zebra Cross di Indonesia
TAK ada lagi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di satu sudut Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta telah merobohkannya. JPO diganti pelican crossing, sejenis zebra cross dengan tombol dan lampu pengatur lalu-lintas. Ada empat petugas dinas perhubungan berjaga di sekitar pelican crossing untuk mengatur penyeberangan orang. Pelican Crossing menandakan cara orang menyeberang di Jakarta telah masuk era baru. Orang menyeberang semakin perlu panduan petugas dan alat. Pada awal abad ke-20, orang bisa menyeberang dengan mudah tanpa panduan. Jalanan masih lengang. Tak ada marka jalan dan zebra cross. Kendaraan paling banyak hilir-mudik di jalan adalah sado dan sepeda. Mobil tampak satu-dua saja. Trem melintas sesekali. Demikian tersua dalam album foto kartu pos Jakarta: Postcards of a Capital 1900-1950 karya Scott Merrillees.
- Catatan Tentang Kerajaan Tulang Bawang
SECARA administratif, Tulang Bawang sebagai pemerintahan memang baru berdiri pada 1997. Namun, daerah yang dijadikan nama kabupatan tersebut sejatinya telah lama eksis. Di masa lalu, pernah ada Kerajaan Tulang Bawang yang kadang disebut sebagai Tulimbavan. Kerajaan Tulang Bawang dianggap kerajaan tertua di Lampung. “Dari sumber Cina dapat kita ketahui bahwa kerajaan yang pertama terdapat di daerah Lampung ialah Kerajaan Tulang Bawang,” tulis Bukri dkk. dalam Sejarah Daerah Lampung. Sumber tersebut mengatakan Kerajaan Tulang Bawang sudah ada sejak abad ke-7 di daerah Lampung bagian utara. Sumber itu menyebut ada nama To-lang dan Po-hwang, setelah disatukan keduanya menjadi Tulang-Bawang.
- Kerajaan Karo Itu Ada
MATAHARI masih bersinar terang pukul 06.10 sore tanggal 20 Juni 2024 di perairan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Pada sore yang cerah ini, KRI Dewaruci sedang bergerak ke arah utara mengitari Selat Malaka. Beberapa kapal dagang dan kapal nelayan terlihat di sisi kiri Dewaruci. Belawan dikenal sebagai pelabuhan penting di sekitar Medan. Ibukota Sumatra Utara itu merupakan kota di Republik Indonesia paling ramai di kawasan Sumatra. Sejak lama hingga kini Medan menjadi daerah niaga penting di Indonesia bagian barat. “Medan itu ada di pertemuan Sungai Bapura dan Sungai Deli,” kata Nasrul Hamdani, sejarawan dari Balai Pelestarian Kebudayaan II Sumatra Utara.
- Indonesia antara Republik dan Kerajaan
ADA beberapa hal yang menjadi pembahasan para tokoh bangsa dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya bentuk negara yang akan dipilih, apakah republik, kerajaan atau federal. Silang pendapat sempat terjadi ketika Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) menggelar sidang untuk mempersiapkan rencana kemerdekaan Indonesia di tahun 1945. Dalam rapat tersebut, sejumlah anggota menjabarkan pandangan mereka mengenai bentuk negara yang ideal untuk Indonesia. Tak hanya para anggota BPUPK yang menaruh perhatian besar terhadap bentuk negara Indonesia. Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams, juga pernah membahas hal ini bersama Hatta. “Pada bulan Maret [1945], Hatta dan aku terbang ke Makassar. Misi rahasia yang kami lakukan adalah melakukan pembicaraan tingkat tinggi guna menentukan bentuk yang sebenarnya dari negara kami nantinya,” sebut Sukarno.
- Riwayat Kontes Keroncong
KERONCONG jadi raja sehari. Ia terdengar di banyak tempat saat hari ulang tahun ke-488 Jakarta. Stasiun Gambir, radio, dan televisi memperdengarkan keroncong. Sehari kemudian, keroncong sunyi lagi. Ia hanya karib dengan orangtua dan segelintir pengolah keroncong. Padahal hampir seabad lampau, keroncong pernah mencapai puncak popularitasnya. Keroncong wujud akulturasi kebudayaan orang Portugis dan anak negeri pada abad ke-17. Keroncong semula hanya berkembang di wilayah Tugu, Batavia. Melalui jasa seniman sandiwara keliling, keroncong menyebar ke pelbagai penjuru Hindia Belanda dan Malaya pada akhir abad ke-19. Keroncong kian menancap di sanubari rakyat dengan semaraknya konkurs (kontes) keroncong. Konkurs hadir di taman-taman kota Batavia pada 1910-an. “Di park-park seperti Deca Park, Lunapark, dan sebagainya senantiasa ada pertandingan keroncong,” tulis W. Lumban Tobing, penulis musik produktif pada 1950-an, dalam “Musik Krontjong,” Aneka, 20 Oktober 1954.
- Legenda Keroncong Itu Berpulang
DARI Surabaya, ia menapaki kebintangannya. Bermula dari pop, Mus Mulyadi hingga akhir hayatnya dikenal sebagai Raja Keroncong. Dalam beberapa kesempatan, mendiang juga dijuluki Buaya Keroncong, untuk mengingatkan pada kota kelahirannya. Hari ini, Kamis (11/4/2019), kakak maestro jazz Mus Mujiono itu berpulang di usia 73 tahun. Kabar duka itu datang dari putra keduanya, Erick Haryadi, melalui akun Instagram-nya. Mus Mulyadi mengembuskan nafas terakhir pada Kamis pagi di Rumah Sakit Pondok Indah karena penyakit diabetes. Pria kelahiran 14 Agustus 1945 itu lalu dimakamkan di Joglo, Jakarta Barat. Mus Mulyadi sudah berjuang melawan penyakitnya sejak 1984. Sejak itu, penglihatannya mulai terganggu. Bahkan pada 2004 mata kanannya sudah tak lagi bisa melihat dan lima tahun berselang mata kirinya juga tak lagi bisa berfungsi normal.
- Palu Arit di Ladang NU
AGAR bisa menampung kegiatannya yang kian bejubel, PBNU pindah kantor ke Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Letaknya strategis. Masyumi, Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI) juga berkantor di Jalan Kramat Raya. Suatu hari, KH Faqih Usman, tokoh terkemuka Muhammadiyah di Masyumi, berkunjung dan melihat-lihat kantor PBNU. Dari jendela, dia melihat kantor PKI di seberangnya. “Lho, ternyata NU ini amat dekat dengan PKI, ya?” ujar Usman setengah menyindir. “Habis… Masyumi dan PNI saling menjauhi, makanya PKI kami hadapi setiap hari setiap saat.” Keduanya tertawa. Penuturan Saifuddin Zuhri dalam otobiografinya, Berangkat dari Pesantren itu bukanlah candaan semata, setidaknya bagi NU. Sejak lama mereka antipati terhadap PKI.
- Palu Arit dan Baju Hijau
SEBUAH bungalow berdiri anggun. Ia dikelilingi taman bunga. Letaknya persis di pinggir jalan raya, di sudut tikungan jalan menuju Ciloto sebelum jembatan memasuki kota Cipanas. Di tempat inilah PKI menggelar Konferensi Nasional (Konfernas) tahun 1952, kali pertama sejak Aidit mengambil-alih kepemimpinan partai. Pukul tujuh malam, Konfernas untuk SC se-Jawa Tengah resmi dibuka. Pidato pembukaan dan pengarahan disampaikan D.N. Aidit, sekjen CC PKI. Dia mengemukakan perlunya konsolidasi dan langkah-langkah operasional di bidang organisasi, ideologi, dan perluasan gerakan massa. Keesokan harinya, dilakukan pembahasan laporan semua SC mengenai daerah masing-masing dan usul pemecahannya. Salah satu yang dibahas adalah gerilyawan Merapi Merbabu Complex (MMC), sisa-sisa dari kekuatan bersenjata kiri. CC menginginkan agar para gerilyawan MMC bergabung dengan kesatuan-kesatuan TNI. Alasannya, dalam keadaan partai legal, tak mungkin membiarkan gerilyawan semacam MMC tetap eksis.
- Palu Arit dan Bulan Sabit Pada Suatu Masa
AYU Muyasarah, 87 tahun, masih ingat sebuah kisah yang dituturkan ayahnya, Entol Endjun Djuhrani, tentang sekelompok pria yang ditangkap Belanda di Menes, Kabupaten Pandeglang, Banten usai pemberontakan PKI 1926. “Caca,” demikian Muyasarah memanggil ayahnya, “terus menunduk waktu pemimpin pemberontakan dipaksa polisi Belanda menunjuk siapa saja yang ikut berontak,” ujarnya. Menurut Muyasarah, ayahnya bukan seorang ateis. “Dia rajin salat. Taat sama agama.” Djuhrani luput dari hukuman mati dan pembuangan ke Boven Digul, Papua. Dia hanya dihukum kerja paksa sesaat. Setelah bebas, dia meninggalkan Menes, kampung halamannya dan pindah ke Batavia di mana dia bekerja sebagai pegawai perusahaan kayu jati di Tanah Sereal. Muyasarah menuturkan, “Setelah lama di Batavia, Caca pulang lagi ke Banten, terus jadi mandor perkebunan dan mantri pasar. Waktu kemerdekaan, Bung Karno kasih penghargaan perintis kemerdekaan.” Melalui keputusan UU No. 5 Prps Tahun 1964 tentang Pemberian Penghargaan/Tunjangan kepada Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan, Djuhrani dan seluruh aktivis politik yang terlibat Peristiwa 1926 berhak menerima tunjangan dari negara. Jasa mereka diakui sebagai perintis gerakan kemerdekaan Indonesia.
- Tanding Sengit Bulan Sabit vs Palu Arit
SEBUAH perhelatan besar tandingan digelar Masyumi untuk menandingi rapat umum PKI di Malang. Massa Masyumi yang datang dari Surabaya dan Malang membaur bersama ribuan anggota PKI yang menunggu kehadiran Ketua CC PKI D.N. Aidit dan Eric Aarons, wakil Partai Komunis Australia yang juga didaulat berpidato. Pertemuan yang dihelat di alun-alun Malang pada 28 April 1954 itu sudah panas sejak mula. Selembar spanduk membentang tak jauh dari podium: “Kutuk teror perampok Masjumi-BKOI”. Spanduk itu merespons demonstrasi Masyumi-BKOI di Jakarta pada 28 Februari 1954 yang berakhir rusuh dan mengakibatkan tewasnya perwira TNI Kapten Supartha Widjaja. Bagi PKI, demonstrasi itu teror, buat Masyumi spanduk itu fitnah. BKOI adalah Badan Koordinasi Organisasi Islam. Emosi massa Masyumi makin terbakar ketika kritik meluncur dari mulut Aidit: “Nabi Muhammad Saw bukanlah milik Masjumi sendiri, iman Islamnya jauh lebih baik daripada Masjumi. Memilih Masjumi sama dengan mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masjumi itu haram sedangkan masuk PKI itu halal,” kata Aidit langsung disambut teriakan, “dusta… tidak benar… ingat Madiun,” ujar para pemuda Masyumi seperti dikutip dari Abadi, 17 Mei 1954.
- Tugu-Tugu Palu Arit di Indonesia
SEBUAH tugu di Madiun tengah menjadi sorotan. Tugu yang berada di interchange menuju gerbang tol Madiun itu disebut mirip simbol palu arit. Isu ini viral setelah Roy Suryo melalui akun twitter-nya mengunggah kicauan mengenai tugu ini. “Tweeps, Patung yg terletak di pinggir Jalan Tol Madiun ini lagi kontroversi, banyak pihak yg menginginkan Patung ini dibongkar karena mengingatkan Trauma masa lalu di daerah tersebut sekitar tahun 1948 silam. Bagaimana pendapat anda? Benarkah Patung ini mirip2 simbol2 tertentu?” tulis Roy Suryo disertai foto tugu tersebut. Unggahan tersebut kemudian ditanggapi oleh politikus Partai Gerindra Fadli Zon. “Kesan ‘Palu Arit’ tak bisa dinafikan. Apakah ada kesengajaan?” cuitnya.
- Palu Arit ala PKI dan PRD
LAMBANG komunis, palu-arit, bukan hanya milik Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam sejarah Indonesia, ada organisasi lain yang memiliki lambang sama dengan PKI. Karena itu pula perselisihan terjadi. Terlebih setelah ada selebaran berlambang palu-arit yang beredar di Jakarta. Menindaklanjuti keberadaan selebaran itu, PKI membuat Maklumat No. 1 yang disiarkan kantor berita Antara. Maklumat itu ditandatangani Ketua PKI Mr. Moh. Joesoeph dan A. Kasim. Isinya maklumat itu antara lain menyebutkan, “... bahwa Maklumat yang memakai Palu dan Arit yang telah disebarkan bukan berasal dari kami tetapi dari pihak musuh yang hendak mengacaukan dan membingungkan rakyat. Untuk mencegah kekacauan yang seperti itu, Maklumat yang akan kami sebarkan selanjutnya harus ada tandatangan dari Markas Besar Partai Komunis Indonesia,” demikian Maklumat PKI seperti dikutip dari Suara Rakyat, 7 November 1945.





















