top of page

Hasil pencarian

9792 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Terpaksa Mengungsi karena Gunung Berapi

    Kota Berenike di pantai Laut Merah didirikan antara 275 dan 260 SM. Penduduknya meninggalkan kota pesisir itu pada 220 hingga 200 SM, sebelum dihuni kembali selama berabad-abad kemudian. Kekeringan parah memaksa mereka mencari tempat tinggal baru. Marek A. Wozniak, arkeolog dari Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia Institut Kebudayaan Mediterania dan Oriental, dan James A. Harrell, profesor emeritus dari Departemen Ilmu Lingkungan Universitas Toledo, Amerika Serikat, mendapatkan bukti setelah mengekskavasi situs Berenike pada 2004. Hasil penelitiannya, “When the well runs dry: climatic instability and the abandonment of early Hellenistic Berenike”, terbit di laman   Cambridge University Press , Jumat (19/03). “Bukti menunjukkan, penduduk pindah pada akhir abad ke-3 SM mungkin karena kekeringan selama beberapa tahun dan membuat sumber air tawar kota itu mengering,” tulis Wozniak dan Harrell. Mereka menemukan sisa-sisa gerbang dan menara di dinding benteng. Di bawah lantai sebuah gedung, mereka menemukan sumur yang masih menyimpan air sampai sekarang. Sumur ini mengering antara 220 dan 200 SM, lalu terisi pasir yang tertiup angin. Pasir ini terawetkan di dalam sumur.  Di dalam sumur ditemukan dua koin perunggu dari dekade sebelum 199 SM. Sementara di tempat lain di benteng, hanya ditemukan sedikit artefak dari masa itu. Ini menunjukkan Berenike sudah ditinggalkan penduduknya. “Pasti terjadi kekeringan selama beberapa tahun yang membuat sumur mengering,” tulis Wo z niak dan Harrell . Mereka memperkirakan kekeringan itu dipicu oleh letusan gunung berapi pada 209 SM. Penelitian Jennifer Marlon dari Universitas Yale yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2017, menemukan bahwa pada 209 SM, letusan gunung berapi melepaskan banyak aerosol sulfat ke atmosfer bumi. Inilah yang menyebabkan curah hujan turun pada musim panas di atas hulu Sungai Nil. Akibatnya, sungai itu kekeringan yang berbuntut pada pemberontakan penduduk yang kelaparan pada 207–186 SM di Mesir Hulu. Namun, belum jelas gunung berapi mana yang meletus. Wozniak dan Harrell menyebut empat kemungkinan, yaitu Gunung Popocatepetl di Meksiko, Pelee di pulau Martinique di Lesser Antilles, Tsurumi dan Hakusan di Jepang. Kendati demikian, penggalian di Berenike tidak hanya mengungkap keberadaan kota era Helenistik pertama di pantai Afrika Timur, melainkan juga berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik mengenai efek bencana alam pada masyarakat kuno. Peta wilayah Berenike oleh James A. Harrell menggunakan foto satelit dari Google Earth ( cambridge.org ). Pusat Kerajaan Mataram Kuno Pindah Peristiwa serupa terjadi di Jawa. Peninggalan candi di Yogyakarta, seperti Candi Sambisari, Candi Kedulan, Candi Kimpulan, dan Candi Losari, ditemukan terkubur material muntahan Gunung Merapi. Asumsi lama menyebutkan letusan besar Gunung Merapi pada 1006 menyebabkan Kerajaan Mataram Kuno pindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pendapat ini dikemukakan geolog Belanda, Reinout Willem van Bemmelen dan D.H. Labberton. Mereka menduga penyebab runtuhnya Mataram Kuno adalah letusan Merapi yang dipicu gempa tektonik. Gempa ini merusak sebagian Candi Borobudur dan Candi Mendut di Magelang, Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-9. Sementara materi letusan menutup banyak bangunan candi di sekitarnya, termasuk menghancurkan Mataram Kuno. Mereka mendasarkan pendapatnya pada Prasasti Kalkuta atau Prasasti Pucangan tahun 963 Saka (1041). Prasasti ini menyebutkan adanya bencana besar ( pralaya ) pada 928 Saka (1006).  Pendapat mereka disanggah oleh epigraf Boechari dalam makalah “Some consideration of the problem of the shift of Mataram’s center of government from Central to East Java in the 10th Century A.D.”, yang termuat dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti . Boechari menyebutkan bahwa Mataram Kuno telah pindah ke Jawa Timur sejak 928. Mpu Sindok, penguasa Mataram Kuno,telah memerintah di Delta Brantas, wilayah Jawa Timur sekarang. Pendapat Boechari dibuktikan Prasasti Anjukladang yang dibuat Mpu Sindok pada 937. Prasasti ini merupakan prasasti Mataram Kuno pertama setelah pindah ke Jawa Timur. Dalam Prasasti Pucangan juga jelas disebutkan bahwa pralaya di Mataram Kuno pada 1016 disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram pada zaman pemerintahan Raja Dharmawangsa Tguh (991–1016). Supriati Dwi Andreastuti, peneliti Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian, Yogyakarta, dkk. dalam makalah “Menelusuri Kebenaran Letusan Gunung Merapi 1006”, Jurnal Geologi Indonesia , Vol. 1 No. 4 Desember 2006, menyebutkan bahwa catatan rinci yang menjelaskan letusan Gunung Merapi pada 1006 tidak ditemukan. Karenanya kebenaran letusan besar pada tahun itu diperdebatkan. “Bukti-bukti ini menyimpulkan bahwa letusan besar Gunung Merapi pada 1006 tidak pernah terjadi,”tulis Supriati, dkk. Supriati, dkk.menjelaskan dari penemuan endapan Selo tefra dan berdasarkan fakta bahwa Mpu Sindok memerintah pada 928/929–948, kemungkinan letusan Merapi cukup besar terjadi pada 765–911. Letusan ini yang mendorong penduduk Mataram Kuno mulai pindah ke Jawa Timur. S elain intensitas letusan Merapi yang tinggi, perpindahan pusat kerajaan juga untuk menghindar i serangan Kerajaan Sriwijaya. Masyarakat Mataram Kuno memperhitungkan lokasi perdagangan yang lebih strategis di daerah Delta Brantas.

  • Di Balik Panggung Sejarah Grammy Award

    SUDAH sepekan berlalu sejak perhelatan Grammy Award ke-63 pada 14 Maret 2021 di Los Angeles Convention Center. Tak hanya menghadirkan sejarah baru, penghargaan musik paling sohor itu masih menyisakan kontroversi. Biduan Queen Bey alias Beyoncé Knowles yang mendapat sembilan nominasi, pulang dengan memenangkan empat penghargaan. Keempatnya di kategori Best R&B Performance untuk single  “Black Parade”, kategori Best Music Video untuk tembang “Brown Skin Girl”, serta kategori Best Rap Performance dan Best Rap Song untuk lagu “Savage”. Tambahan itu membuat Beyoncé punya koleksi 28 Grammy sejak awal berkarier, termasuk tiga di antaranya saat masih tampil sebagai trio di grup Destiny’s Child. Capaian tersebut membuatnya jadi musisi perempuan dengan koleksi penghargaan terbanyak dalam sejarah Grammy. Ia juga menyamai prestasi Quincy Jones dengan total penghargaan yang sama, serta hanya selisih tiga penghargaan dari komposer legendaris Georg Solti yang masih sebagai pemilik Grammy terbanyak (31 penghargaan). “Sebagai seniman, saya percaya bahwa adalah tugas kita semua untuk bercermin pada perjalanan waktu dan belakangan ini masa itu adalah masa yang sulit. Seumur hidup saya sudah bekerja keras…(masa ini) sungguh merupakan malam yang magis,” ungkap Beyoncé, dikutip   Richmond Free Press , 18 Maret 2021. Mula Grammy Award Anugerah musik beragam genre selevel Piala Oscar di bidang perfilman itu bermula dari sebuah gagasan yang tidak disengaja. Henry Schipper dalam Broken Record: The Inside Story of the Grammy Award  menyingkap, kelahiran Grammy Award tak terlepas dari proyek legendaris Walk of Fame yang akan dibuat di Hollywood Boulevard, California, Amerika Serikat pada pertengahan 1950-an. “Cerita tentang Grammy dimulai pada 1955 ketika sebuah komite kecantikan (dari Kamar Dagang Hollywood, red. ) meminta para eksekutif dari lima perusahaan rekaman besar untuk menentukan   siapa yang pantas atau tidak untuk mendapatkan sebuah bintang di Hollywood Walk of Fame,” tulis Schipper. Walk of Fame yang diinisiasi   E.M. Stuart,   petinggi Kamar Dagang Hollywood, ingin mempopulerkan Hollywood sebagai kawah candradimuka dunia hiburan dengan mengapresiasi para seniman (perfilman, pertelevisian, musik, dan radio)   yang namanya diabadikan dengan simbol bintang perunggu. Khusus untuk bidang musik, lanjut Schipper, Kamar Dagang Hollywood mempercayakan seleksi itu kepada para bos di lima perusahaan rekaman: Axel Stordahl, Paul Weston dan Doris Day (Columbia Records); Dennis Farnon (RCA Records); Sonny dan Milt Gabler (Decca Records); Lloyd Dunn dan Richard Jones (Capitol Records); dan Jesse Kaye (MGM Records).   Kelimanya   disertakan Kamar Dagang Hollywood dalam sebuah komite musik. Trofi-trofi penghargaan Grammy Award. ( grammy.com ). Komite tersebut pada 1957 bertransformasi menjadi National Academy of Recording Arts and Sciences (kini The Recording Academy). Dalam pertemuan dan tukar pikiran para petinggi lima perusahaan rekaman itu, muncul ide untuk mengadakan anugerah untuk para seniman musik sebagaimana Academy Awards atau Piala Oscar untuk seniman film dan Emmy Awards di industri televisi. Weston dkk. Lalu   membentuk komite-komite di dalam The Recording Academy di berbagai kota selain Los Angeles. Di antaranya di New York, Chicago, dan Memphis.   Komite diisi para musisi macam Frank Sinatra, Bing Crosby, dan   Nat King Cole. Ide itu kemudian diejawantahkan dengan proses seleksi nominasi pada 1958.Malam puncaknya digelar pada 1959 dengan disponsori kelima perusahaan rekaman di atas. Trofinya yang desain dan namanya sudah dipikirkan sejak 1957, kemudian disepakati berupa bentuk gramofon berlapis emas.Gramofon dianggap jadi penemuanpaling berpengaruh dalam industri musik. Trofi Grammyyang didesain tim The Recording Academy dibuat berdimensi 18,5 x 8 cmdan pengerjaannya dilakukan di Billing Artworks di Ridgway, Colorado. “Kami sedang membuat trofinya dan sebuah komite penghargaan juga sedang memikirkan namanya,” ungkap Weston kepada suratkabar The Deseret News edisi 9 Agustus 1957. Inagurasi Grammy Award pertama di Hotel Hilton, Beverly Hills, California pada 1959. ( grammy.com ). Komite itu, sambung suratkabar tersebut, juga sempat berdiskusi alot soal penamaan penghargaannya. Beberapa anggotasempat mengusulkan nama “Eddie Award” yang mengacu pada nama Thomas Alva Edison, penemu gramofon pada 1877. Namun akhirnya disepakati anugerah itu dinamai “Grammy” sebagai kependekan sebutan gramofon. Trofi akan diperebutkan da lam inagurasi Grammy Award pertama yang digelar pada 4 Mei 1959 di dua tempat sekaligus : pesisir barat di Hotel Hilton di Beverly Hills, California dan pesisir timur di Hotel Sheraton Park , New York. Tak hanya di- cover media cetak dan radio, inagurasinya juga di rekam kamera televisi NBC walau belum disiarkan langsung. Siaran live baru dilakukan di puncak penganugerahan Grammy Award ke-13 ( 1971 ) . “Gelaran pertamanya menampilkan nominasi-nominasi yang dipilih oleh anggota-anggota (komite) dengan bantuan perusahaan-perusahaan rekaman. Terdapat 28 kategori, dimulai dari kategori rekaman, album, lagu, sampai rekaman anak-anak, penampilan klasik, dan sampul album terbaik,” demikian dilaporkan suratkabar Ocala StarBanner , 8 April 1959. Dari sejumlah seniman musik yang mendapat penghargaannya, biduan Ella Fitzgerald, Count Basie, Domenico Modugno, Ross Bagdasarian, dan Henry Mancini langsung menorehkan sejarah dengan masing-masing memenangi dua penghargaan. Dari masa ke masa, Grammy Award pun selalu menambah kategorinya.Dari 28 kategori pada hajatan pertamanya (1959), Grammy ke-63 tahun ini sudah memiliki 83 kategori. Sarat Kontroversi Dari tahun ke tahun, Grammy meninggalkan sejumlah kontroversi. Salah satunya gelaran itu masih belum “bersahabat” dengan karya-karya musisi Asia. Salah satu contohnya,pengalaman boyband Korea Selatan (K-Pop)BTS. Single mereka, “Dynamite”, masuk nominasi Best Pop Duo/Group Performance, namun dikalahkan duet Lady Gaga dan Ariana Grande dengan tembang “Rain on Me”. Jutaan BTS Army (sebutan fans fanatik BTS) pun mencak-mencak.Mereka  melantangkan sindiran “Scrammy” di beragam media sosial. Mereka tak terima “Dynamite” bisa kalahkendati merajai top chart di mana-mana, termasuk mendapat lebih dari 945 juta viewers di Youtube sejak dirilis 21 Agustus 2020. Alhasil BTS gagal mencetak sejarah sebagai musisi Asia pertama yang memenangi Grammy. “Kami yakin Army merasakan emosi yang sama, jadi kami akan kembali dengan karya yang lebih hebat, penampilan yang bagus , dan bahkan musik yang lebih baik. Jadi kami akan lebih bekerja keras tahun ini dan kami akan kembali dengan musik dan penampilan lebih bagus yang bisa kalian semua nantikan,” kata BTS, dilansir Esquire , 15 Maret 2021. Boyband K-Pop, BTS yang gagal menang meski nyaris punya satu miliar viewers  di Youtube. ( grammy.com ). Musikus Zayn Malik ikut mengkritik Grammydi akun Twitter -nya, @zaynmalik , pada 15 Maret 2021. Menurutnya, problem transparansi yang sama masih terjadi dari masa ke masa dan terjadi pada sejumlah musisi lain, tak hanya BTS. “@recordingacad melangkah hanya satu inci ke depan sementara kami butuh mereka melangkah dalam ukuran mil. Saya terus mendesak dan memperjuangkan transparansi dan inklusi. Kita harus pastikan bahwa kita dihormati dan merayakan kreativitas secara keseluruhan. Akhiri komite rahasia. Sampai semua itu dilakukan…#fuckthegrammys,” cuit Zayn. Kontroversi Grammy sejatinya sudah muncul sejak Grammy Award pertama . Kontroversi itu meliputi soal rasisme hingga transparansi dalam sistem voting oleh 12 ribu anggota untuk m enentu k an nominasi, d a n kemudian pemilihan pemenang oleh komite kecil yang disebutkan Zayn Malik sebagai “komite rahasia”. Soal diskriminasi rasialisme, disuarakan para musisi kulit hitam. Mereka menyoroti fakta bahwa sejak 1959 hingga 2017hanya ada 10 musisi kulit hitam yang memenangi Grammy Award untuk kategori album terbaik. Kasus paling kentara adalah tidak masuknya album Michael Jackson bertajuk Off the Wall (1979) dan album Prince bertajuk 1999 (1982) di nominasi kategori album terbaik. Kedua album tersebut sekadar masuk Grammy Award Hall of Fame pada 2008.Khusus album Michael Jackson, masih relevan lantaran jadi inspirasi para musisi kekinian seperti Justin Bieber, The Weeknd, hingga Beyoncé. “Album ( Off the Wall ) menahbiskan dirinya sebagai musisi dengan talenta luar biasa dan layak mendapatkan bintang paling bersinar untuk disematkan pada dirinya sendiri. Itu adalah album visioner, sebuah rekaman yang menemukan cara menembus batas (genre) disko dan membuka pintu lebar ke dunia baru di mana beat -nya tak terbantahkan lagi,” tutur kritikus Stephen Thomas Erlewine yang dikutip Jean-Pierre Hombach dalam Michael Jackson King Of Pop. Album Off the Wal l karya Michael Jackson (kiri) dan 1999  yang dirilis Prince. (Epic Records/Warner Bros). Selain rasialisme, diskriminasi terhadap musisi perempuan juga masih jadi kanker di internal The Recording Academy. Paling mencolok adalah catatan sepanjang 2013-2018, di mana dari 899 nominasi, hanya 10 persen diisi musisi perempuan. Bukannya memaparkan alasan logis, Presiden The Recording Academy Neil Portnow malah balik menyindirpara musisi perempuan. “Perempuan yang punya kreativitas, yang ingin jadi musisi, teknisi, produser dan ingin jadi bagian dalam industri (musik) di level eksekutif(mereka) harus melangkah ke depan karena saya pikir mereka akan diterima,” ujarnya, disitat Vulture , 29 Januari 2018. Portnow pun kebanjiran kritik akibat komentarnya itu hingga mengundurkan diri pada Agustus 2019. Untuk meredam kritik itu, The Recording Academy mengangkat presiden pengganti dari kalangan perempuan, Deborah Dugan. Namun, Deborah hanya bertahan selama enam bulan lantaran jelang gelaran Grammy Award ke-62,16 Januari 2020,ia dinonaktifkan dan resmi dipecat pada 2 Maret. Kasus itu terjadi tak hanya gegara Deborah melaporkan (dugaan) pelecehan seksual terhadapnya oleh seorang penasihat umum senior di The Academy Award bernama Joel Katz. Tetapi juga klaim bahwa sistem voting untuk nominasi dan pemenang pada Grammy Award ke-61 (2019) adalah hasil yang korup dan sarat kepentingan. “Sistem (voting) harus transparan dan bahwa memang ada beberapa kejadian konflik kepentingan yang menodai hasilnya. Lebih parah lagi, dewan (komite voting) mengizinkan penambahan nominasi musisi yang bahkan tak masuk dalam daftar 20 (yang diseleksi anggota) organisasi. Biasanya, para anggota dari 12 dewan dan komite rahasia memilih musisi yang punya hubungan bisnis atau pribadi dengan mereka. Tahun ini, 30 musisi yang sebelumnya tak dipilih (anggota) justru ditambahkan oleh komite ke daftar nominasi,” kataDeborah kepada Good Moring America , 23 Januari 2020.

  • Larangan Jaksa Agung Membicarakan Politik di Rumah Ibadah

    RADEN Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung periode 1950–1959, diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Selama menjadi jaksa, dia dipandang memiliki integritas dan berjasa dalam memperbaiki keadilan dan hukum di Indonesia. “[Dia] Membangun institusi kejaksaan, menegakkan hukum tanpa pandang bulu, memberi contoh bagi bawahan dan keluarga, bekerja melebihi tugasnya, berjuang sepanjang hayat,” kata Asvi Warman Adam, profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam seminar “Pengusulan Jaksa Agung R. Soeprapto Sebagia Pahlawan Nasional” via zoom , Rabu (17/03). Tapi sepak terjang Soeprapto pun tak luput dari kontroversi. Iip D. Yahya, penulis buku Mengadili Menteri Memeriksa Pewira , mencatat serangkaian keputusan kontroversial Soeprapto. Salah satunya terjadi ketika Soeprapto mengeluarkan Surat Edaran Jaksa Agung No. 9/Plk/04/1632, 17 Juni 1953. Isi surat tadi larangan pidato dan membicarakan politik di masjid, surau, pesantren, dan gereja. “Surat edaran ini perlu kami keluarkan, berhubung dengan kejadian-kejadian di belakang ini, yang mudah dapat membahayakan keamanan dalam negeri, dengan akibat-akibat yang tidak diinginkan,” kata Soeprapto, seperti dikutip Iip. Kala itu, situasi politik dalam negeri tengah panas. Sistem parlementer atau demokrasi liberal yang dianut Indonesia memberi kebebasan bagi tiap orang untuk berpendapat. Ini merembet kepada saling serang antarkelompok politik dan aliran. Kabinet pun gontok-gontokan. Para pendukung partai saling caci dan tuduh. Muncul pula pergolakan di daerah. Tak jarang serangan dari satu kelompok ke kelompok lainnya membawa-bawa agama. “Hasutan dan agitasi golongan agama yang satu terhadap golongan agama yang lain adalah berbahaya sekali untuk persatuan bangsa kita, dan juga untuk ketenteraman dan keamana di dalam masyarakat,” catat surat kabar Pedoman dalam Lembaran Berita Antara 1953 seperti dikutip Iip. Soeprapto gelisah melihat perkembangan seperti itu di masyarakat. Karena itulah Soeprapto merasa perlu bertindak. Sebagai Jaksa Agung, dia berwenang mengeluarkan surat edaran itu. Lengkap dengan peringatan jika ada orang yang melanggar larangan itu. “Bertindak sekeras-kerasnya, terhadap barang siapa yang melanggar Pasal 156 KUHP yang mengeluarkan ucapan kebencian, permusuhan, atau penghinaan terhadap sesuatu golongan penduduk di negara Indonesia,” tulis surat edaran itu. Tiga hari setelah beredar, surat itu mendapat protes keras dari ormas Islam. “Protes itu pada intinya mengemukakan keberatan atas berlakunya larangan itu, karena dianggap mengurangi hak asasi rakyat dalam membicarakan soal-soal masyarakat dan negara,” tulis Iip. Ormas Islam meyakini Islam tak memisahkan politik dari agama. Mereka mengatakan politik bagian dari Islam. Selain ormas Islam, sejumlah media juga menyatakan keberatannya terhadap surat edaran itu. Keng Po,  surat kabar berbahasa Melayu-Tionghoa, mengakui ada keterkaitan antara agama dan politik. “Melarang pembicaraan politik di dalam mesjid dan gereja merupakan perkosaan terhadap hak-hak asasi dari kemerdekaan beragama dan berbicara,” catat Keng Po. Sin Po,  surat kabar Tionghoa berbahasa Melayu, juga berpendapat serupa. “Harian merasa khawatir bahwa perumusan di dalam surat edaran itu memberikan kelonggaran yang luas untuk adanya tafsiran yang bermacam-macam, yang dapat menimbulkan reaksi dan kegelisahan yang lebih besar lagi.” Meski Keng Po dan Sin Po  berkeberatan dengan rumusan surat edaran itu, mereka tetap sepakat dan memahami alasan Soeprapto mengeluarkannya. Mereka sama resahnya dengan Soeprapto melihat kelompok masyarakat saling hantam dengan cara-cara barbar. Sementara itu, perwakilan ormas Islam meminta pertemuan dengan Soeprapto. Sadar surat edaran itu membuat kegaduhan, Soeprapto meluluskan permintaan itu. Dia bersedia berbicara dengan perwakilan ormas Islam pada 1 Juli 1953. “Dalam kesempatan ini, Jaksa Agung menjelaskan bahwa surat edarannya tidak bermaksud melanggar hak-hak asasi manusia,” tulis Iip. Perwakilan ormas Islam kekeuh meminta surat itu dicabut. Mereka mengajukan landasan penolakan dari sisi yuridis, politis, psikologis, dan agama. Setelah berdebat, Soeprapto dan perwakilan ormas Islam akhirnya mencapai titik kompromi. Surat edaran itu tetap berlaku. Tapi isinya berubah menjadi “Mengawasi di mana-mana saja supaya jangan terjadi pernyataan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap pemerintah Indonesia atau sesuatu atau beberapa golongan penduduk negara Indonesia di muka umum.” Perubahan isi surat itu meredam ketegangan lebih jauh. Soeprapto dan perwakilan ormas Islam memahami satu sama lain. Soeprapto tetap bisa melaksanakan tugasnya sebagai jaksa dengan memberi peringatan dini pada masyarakat, sedangkan kelompok agama masih bebas membicarakan politik di rumah ibadah. Iip menilai kontroversi ini menunjukkan karakter Soeprapto yang tak mudah ditekan. Di sebalik itu, Soeprapto juga memperlihatkan karakter mau mendengar keberatan pihak lain.*

  • Menjaga Muatan Kapal Tenggelam Tetap di Situsnya

    Peninggalan arkeologi bawah air menjadi perbincangan setelah pemerintah membuka investasi asing dalam bidang pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).  Namun, sejauh ini pemerintah belum mendapatkan satu sudut pandang dalam strategi pengelolaan peninggalan arkeologi bawah air. Sementara itu, UNESCO sudah mempromosikan konvensi tahun 2001 tentang perlindungan cagar budaya bawah air. Salah satu prinsipnya adalah penerapan pelestarian in situ ( in-situ preservation ). Beberapa situs di Indonesia dan dunia sudah ada yang mengelola tinggalan bawah lautnya dengan metode itu. Pelestarian In Situ Agni Sesaria Mochtar, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam “In-Situ Preservation sebagai Strategi Pengelolaan Peninggalan Arkeologi Bawah Air Indonesia”,   Kalpataru: Majalah Arkeologi Vol. 25 No. 1 (2016)   berpendapat pelestarian  in situ  bisa menjaga kondisi artefak, terutama artefak berbahan organik. Artefak itu bisa tetap terawetkan karena masih berada dalam lingkungan aslinya. Metode in situ  sudah diterapkan pada Situs Punjulharjo, Rembang, yang ditemukan pada 2008. Bangkai kapal kayu itu diekskavasi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta. Setelah selesai digali pada 2009, bangkai kapal itu tetap berada di konteks aslinya. Situsnya   dijaga agar tetap terendam air laut. “Dilakukan dengan pertimbangan keaslian lingkungan akan berperan penting dalam konservasi bahan kayu yang mudah lapuk jika mengalami perubahan kondisi yang ekstrem,” tulis Agni. Konvensi UNESCO tahun 2001 juga menyebutkan, selain menjamin kelestarian situs, yang menjadi prioritas juga agar masyarakat bisa mengakses peninggalan arkeologi bawah air itu. Tentunya dengan tidak merusak kondisi aslinya. Contohnya   situs bangkai kapal USAT Liberty  di Tulamben, Bali. Situs ini menjadi tujuan wisata sejak 1997 hingga sekarang. Para pengusaha asing, nasional, lokal berdatangan menanamkan investasinya di wilayah Desa Tulamben. Penginapan, restoran, dan berbagai fasilitas lainnya terkait wisata selam dibangun di sepanjang perkampungan. “Adanya penegakan hukum dari hukum adat awig-awig menjadikan situs ini terjamin kelestariannya dan tetap bisa diakses masyarakat,” tulis Agni. Bangkai Kapal Yunani Kuno Contoh lain adalah kapal kargo Paristera di Yunani. Kapal ini memuat sekira 4.000 amphorae tanah liat, yakni wadah berbentuk vas dengan dua pegangan yang bagian lehernya lebih panjang dan sempit dari bagian badannya. Amphorae itu kemungkinan berisi anggur ketika kapal yang mengangkutnya tenggelam pada akhir abad ke-5 SM di Laut Aegea, di lepas pantai pulau Alonissos. Menariknya, sebagian besar muatan kapal itu masih utuh meski rangka kayu kapal telah membusuk selama ribuan tahun. Tahun lalu, bangkai kapal berusia ribuan tahun itu dibuka untuk umum sebagai museum bawah air. Atraksi maritim yang berpusat di sekitar kapal karam Paristera menyambut pengunjung sejak 3 Agustus hingga 2 Oktober 2020.   Sebagaimana dikutip dari AP News , selama beberapa dekade sebelumnya, warisan bawah air Yunani yang kaya telah lama menjadi kawasan yang dilarang didekati semua orang kecuali orang-orang tertentu terutama arkeolog. Penyusun kebijakan setempat khawatir penyelam akan menjarah artefak-artefak yang ada di dalamnya. Aktivitas penyelaman terus dilarang di seluruh negeri itu, kecuali di beberapa lokasi, sampai aturannya direvisi pada 2005. Yunani mulai membuka beberapa situs tertentu untuk penyelam umum. Sekarang, penemuan kapal karam Paristera yang spektakuler itu menjadi bangkai kapal kuno pertama yang dapat diakses oleh publik di Yunani, termasuk penyelam rekreasi. Situs ini sekaligus menjadi museum arkeologi bawah air pertama di negara itu. Pengunjung yang ingin melihat sisa-sisa Paristera dapat melakukan tur di sekitar kapal dengan ditemani pemandu berlisensi. Untuk melihat Paristera , mereka mesti menyelam sejauh 92 kaki atau 28,0416 m di bawah permukaan air. Sementara bagi mereka yang tidak dapat menyelam tetap bisa menikmati tur dunia dasar laut menggunakan teknologi realitas virtual di pusat informasi Kementerian Kebudayaan di Alonissos. Dimitris Kourkoumelis, arkeolog yang memimpin persiapan situs untuk kunjungan wisatawan mengatakan, butuh waktu lama untuk mengizinkan pengunjung mengakses bangkai kapal kuno itu. Sangat penting untuk mengatur proyek dan kondisi penyelaman dengan benar. Termasuk memastikan situs-situs itu sudah terlindungi sebelum bisa dibuka bagi publik.   “Butuh waktu bertahun-tahun dan itu logis. Situs kuno bawah air dan khususnya bangkai kapal kuno terekspos dan rapuh,” katanya dikutip oleh New York Post . “Semua syarat harus dipastikan agar situs ini tetap aman di masa depan dan generasi mendatang.” Ke depannya, pihak berwenang Yunani berencana membuka empat bangkai kapal kuno lain untuk penyelam amatir.Tujuannya untuk membentuk taman selam yang akan menarik lebih banyak wisatawan. Komersialisasi Masih Dilindungi Regulasi Indonesia belum menerapkan metode in situ sebagai pilihan pertama. Alasanya, kata Agni, karena belum meratifikasi konvensi UNESCO tahun 2001.Usulan pelestarian in situ masih menjadi lompatan yang terlalu jauh untuk dilakukan. Pasalnya, pemerintah masih belum secara resmi membubarkan Panitia Nasional (PANNAS) BMKT. Artinya, kegiatan eksploitasi ekonomi terhadap peninggalan arkeologi bawah air masih dilindungi regulasi. Padahal , sebagaimana dikatakan Surya Helmi, anggota senior Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) , dari puluhan pengangkatan muatan kapal tenggelam yang sudah dilakukan, hanya beberapa yang dinilai berhasil. Yang tidak berhasil hanya menghasilkan puluhan ribu benda, sebagian besar berupa keramik, yang tak memiliki nilai komersial dan tak laku dijual. Benda-benda itu kemudian bertumpuk di gudang BMKT Cileungsi. Sebagian lainnya tersimpan di gudang penyimpanan para investor yang tersebar di berbagai tempat di Indonesia. Hingga kini belum ada kesepakatan pemanfaatannya oleh instansi terkait yang berwenang. “Puluhan ribu keramik bertumpuk di Cileungsi. Mau diapakan? Saya nggak tahu, kita pikirkan bersama,” kata Surya dalam diskusi “Nasib Warisan Budaya di Laut dalam Perpres No. 10 Tahun 2021” yang diadakan IAAI Pusat lewat daring, Rabu (10/03). Harry Satrio,direktur utama PT. Cosmix Asia sekaligus Sekjen Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT, memandang peninggalan arkeologi bawah air perlu diangkat. Kalaupun dibiarkan di situs aslinya, sulit menjamin keamanan situs akan tetap terjaga. “Kenapa pemerintah tak memanfaatkan kami pengusaha lokal, modalnya 100 persen dari kami untuk menjaga barang-barang itu. Paling bagus diselamatkan di angkat. Sampai atas monggo mau untuk penelitian. Dari situ baru punya nilai intelektual,” kata Harry dalam forum konsultasi terkait pengelolaan BMKT pasca terbitnya UU Cipta Kerja No. 11 Tahun 2020 yang diadakan Kementerian Kelautan dan Perikanan lewat daring, Kamis (18/03). Harry prihatin melihat maraknya pencurian muatan kapal tenggelam yang masih ada di bawah laut. Dia pernah melihat pengangkatan muatan kapal karam ilegal di Kepulauan Riau. “Karena kami prihatin sampai detik ini pencurian di Kepulauan Riau, cukong-cukong membeli dari nelayan, terutama akhir pekan,” katanya. Harry berkeinginan pengangkatan muatan kapal tenggelam tetap dengan kaidah arkeologi. Lalu prosesnya didokumentasikan dan lebih jauh dimuseumkan. “Ini jadi nilai jual. Museum yang kami maksud juga bukan cuma bangunan ada keramik dalam kaca. Kalau begini di Jalan Surabaya banyak. Tapi ada diorama, ada film, perusahaan apa yang mengangkat. Ada ceritanya,” ujar Harry. Harry juga menjelaskan sejak perusahaannya didirikan pada 2010 tak pernah menerima keuntungan. Begitu pula anggota lainnya yang tergabung dalam APPP BMKT. “Barang kami masih di gudang kami sendiri. Dengan biaya kami sendiri. Tiap tahun kami minimal keluarkan Rp300juta untuk merawat barang-barang itu, sewa gudang, bayar listrik,” kata Harry. “Ini usaha hobi sebenarnya. Fakta di lapangan, kami prihatin dengan pencurian.”  Sementara itu, menurut Agni, in-situ preservation bisa menjawab kesulitan dalam penanganan peninggalan arkeologi bawah air , seperti biaya pengangkatan yang besar, kebutuhan gudang penyimpanan, serta ancaman kerusakan artefak karena perbedaan kondisi air laut dan daratan.

  • Melihat Kolonialisme Bekerja lewat Teropong Sastra

    Bagaimana kolonialisme bekerja tak hanya bisa dilihat dari tulisan-tulisan sejarah. Ada karya sastra yang berangkat dari kisah sejarah, yang dapat menyuguhkan potret-potret masa penjajahan yang tak tertangkap oleh narasi sejarah. Karya-karya itu dibuat penulis sezaman maupun penulis pasca-kemerdekaan. Peneliti imagologi dan penerjemah Widjajanti Dharmowijono dalam Dialog Sejarah "Wajah Kolonialisme dalam Sastra" di saluran Youtube  dan Facebook Historia , Jumat, 19 Maret 2021, menyebut bahwa ada ratusan karya sastra yang disebut sebagai sastra Indis-Belanda yang merepresentasikan kondisi tanah jajahan pasa masanya. Widjajanti, yang akrab disapa Inge, menyelesaikan disertasinya di Universiteit van Amsterdam dengan judul Van Koelies, Klontongs en Kapiteins, Het Beeld van de Chinezen in Indisch-Nederlands Literair Proza 1880-1950 yang kemudian diterjemahkan menjadi Bukan Takdir, Kisah Pencitraan Orang Tionghoa di Nusantara. Disertasi Inge menyoroti bagaimana orang Tionghoa dicitrakan dalam karya-karya sastra yang dibuat oleh penulis-penulis Belanda dan satu penulis Hungaria. Karya-karya yang diteliti Inge antara lain Perkebunan Tembakau di Deli  (1898) karya De-lillah, Orang Indo dan Cina di Kebun Kopi  (1901) karya Boeka, Tambang Timah  (1912) dan Karier Seorang Kelontong (1894) karya Jacob Dermout, Pembantaian Orang Cina di Batavia tahun 1740  (1947) karya Simon Franke, Perdagangan Opium  (1886) karya M.T.H. Perelaer, Perang Memusnahkan Kongsi Pendulang Emas di Kalbar (1881) karya W. van Rees, Perkebunan Karet  (1932) karya M. Szekely-Lulofs dan Indrukken van Een “Totok”  (1897) karya Justus van Maurik. Dari karya-karya De-lillah misalnya, Inge mendapati potret kejamnya para pekebun Eropa di perkebunan tembakau. De-lillah juga banyak bercerita mengenai nyai-nyai yang tinggal di perkebunan tembakau, dari nyai Cina, nyai Jawa, hingga nyai Sunda. De-lillah sendiri merupakan istri dari seorang pekerja perkebunan. “Dia menulis apa yang dilihat dan apa yang dialami pada waktu itu. Jadi kita bisa banyak percaya bahwa apa yang ditulisnya itu memang betul-betul kejadian,” sebut Inge. De-lillah menggambarkan, misalnya, jika ada kuli yang kurang giat bekerja, kuli itu akan dipukuli sampai mati kemudian dikubur di tengah hutan. Kematian kuli Cina dianggap biasa dan tidak ada nilainya. Orang-orang Eropa bisa dengan mudah mencari gantinya dengan mendatangkan orang Cina dari Tiongkok. Diskriminasi berdasarkan ras memang dipakai orang Eropa untuk mengontrol para kuli. Orang Eropa, jelas Inge, sebenarnya takut dengan para kuli, terutama kuli Cina, karena pada saat-saat tertentu mereka bisa mengamuk dan membunuh si tuan. “Dan itu beberapa kali terjadi dalam novel-novel si De-lillah ini,” ungkap Inge. Kontrol orang-orang Eropa terhadap para kuli juga ditampilkan dalam bentuk-bentuk kepatuhan kuli terhadap tuan mereka. Misalnya, jika kuli melewati rumah tuannya, ia harus turun dari kuda atau keretanya serta melepas topinya sebagai tanda hormat. Pada karya-karya sastra sezaman tersebut, gambaran mengenai kolonialisme sedikit-banyak telah direpresentasikan oleh penulis yang juga hidup sezaman. Meski fiksi, karya-karya sastra tersebut mengisi celah-celah kosong dalam narasi sejarah. Karya sastra berlatar belakang kolonialisme bukan hanya ditulis oleh orang Belanda. Pramoedya Ananta Toer banyak mengangkat tokoh-tokoh masa Hindia Belanda. Pada angkatan sebelumnya, ada Balai Pustaka dan antitesisnya “Bacaan Liar” yang juga merepresentasikan kolonialisme. Sementara karya orang Belanda yang sudah cukup populer ialah Max Havelaar karya Multatuli. Max Havelaar bahkan sering disebut sebagai novel yang membunuh kolonialisme. Sastra dan Sejarah Karya satra tentu tak bisa disejajarkan dengan karya sejarah. Wartawan dan penulis Joss Wibisono menyebut bahwa perbedaan penting antara sejarah dan fiksi sejarah adalah nuansa. Jika sejarah lebih fokus pada kronologi kejadian, fiksi sejarah memberikan “rasa” pada kejadian. “Jadi rasanya seperti apa, suasananya seperti apa itu yang penting, bukan urut-urutan. Kalau sejarah itu kan urut-urutan, kita harus tahu urut-urutannya seperti apa,” jelas Joss. Joss adalah penulis yang banyak mengambil tema kolonialisme dalam karya fiksinya. Pada 2017, Joss menerbitkan dua buku: kumpulan cerpen Rumah Tusuk Sate di Amsterdam Selatan dan novel Nai Kai . Joss menyebut bahwa tokoh Nai Kai benar-benar nyata dalam sejarah. Nai Kai merupakan seorang budak dari Flores yang kemudian dijual ke Bali, lalu dibeli seorang yang bekerja untuk VOC dan dibawa ke Batavia. Dari Batavia, Nai Kai dibawa lagi ke Leiden, Belanda. Nai Kai lalu bekerja sebagai satpam di Ministerie van Oorlog (Kementerian Perang) di Delf. Berbeda dengan kisah aslinya, Joss mengubah alur perjalanan Nai Kai. Nai Kai yang seharusnya dibawa ke Belanda, dalam cerita Joss dibeli oleh musikus di Istana Gubernur Jenderal. Nai Kai belajar menyanyi hingga kemudian menjadi penyanyi di Belanda. “Saya ubahnya gitu. Tapi suasana perbudakan itu yang ingin saya gambarkan, kan. Apa itu sebenarnya budak? Seperti apa? Jadi itu semua ingin saya gambarkan. Suasananya itu. Yang penting adalah suasana dan perasaannya bagaimana dia sebagai budak gitu lho,” terang Joss. Dalam menulis fiksi sejarah, Joss tidak menampilkan tokoh-tokohnya secara hitam-putih. Meski Nai Kai adalah korban kolonialisme dan perbudakan, ia juga ditolong oleh orang Belanda yang membuatnya bisa menjadi penyanyi. Senada dengan Joss, penulis Iksaka Banu juga melakukan hal yang sama. Dalam kumpulan cerpennya Semua untuk Hindia (2014), ia tak menampilkan orang Belanda dan orang Indonesia secara hitam-putih. Meski demikian, ia juga tidak menghapus kenyataan kejam kolonialisme. Banu menyebut ada beberapa pendekatan dalam menulis fiksi sejarah. Ada yang berangkat dari kisah sejarah asli kemudian didramatisasi, ada pula yang menambahkan tokoh-tokoh fiktif dalam latar dan kejadian yang benar-benar pernah terjadi. “Melalui tokoh-tokoh fiktif itulah cerita besarnya dipotret, digelontorkan, ditambah lagi cerita dari tokoh-tokoh fiktif saya itu. Sehingga ketika kedua hal itu disulam, itu menjadi satu cerita yang saya harap bisa menceritakan kedua hal, ada unsur ceritanya, fiksinya, tetapi ada unsur sejarahnya,” ungkap Banu. Membingkai Kolonialisme Joss Wibisono punya kritik sendiri terhadap karya-karya sastra sejarah yang ditulis orang Belanda. Ia menyebut, misalnya, sastrawan besar Belanda Hella Haasse (1918-2011). Menurutnya, karya-karya Haasse melulu berpusat pada orang Belanda sebagai subjek utama. Orang Indonesia hanya menjadi figuran. Berbeda dari Haasse, Louis Couperus (1863-1923) lebih memiliki keberpihakan pada orang Indonesia. Dalam De Stille Kracht (1900), Couperus menggambarkan bahwa orang Indonesia tidak mau terus-menerus menjadi bagian dari Belanda. Meski telah meninggal pada 1923, jelas Joss, Couperus telah meramalkanbahwa orang Indonesia memiliki hasrat untuk merdeka. Dan kemerdekaan itu kemudian benar terjadi pada 1945. “(Sementara) Hella Haasse itu mengalami zaman Indonesia merdeka tetapi dia tidak menulis hasrat kemerdekaan Indonesia itu di dalam novelnya. Aneh kan?” jelas Joss. Mengenai bingkai yang dibuat dalam karya-karya sastra itu, Iksaka Banu berpendapat bahwa sebenarnya ada transformasi sudut pandang. Paulus Adrianus Daum (P.A. Daum), misalnya. Dalam Dari Gula ke Tembakau (1885) , Daum menggambarkan orang Belanda sebagai tokoh utama, sementara orang Indonesia hanya “tempelan”. “Tapi ketika dia mulai menulis Goena-goena , lalu juga Nummer Elf ( Nomer Sebelas ), lalu juga Aboe Bakar , nah itu kita sudah melihat ada pergeseran,” sebut Banu. Pergeseran yang dimaksud Banu adalah, Daum mulai melihat bahwa orang-orang Indonesia juga merupakan manusia yang memiliki perasaan. Para nyai, misalnya, mulai digambarkan tidak selalu jahat, suka mencuri, suka mengirim guna-guna, atau suka memberi racun ke dalam minuman untuk merebut harta tuannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ferdinand Wiggers dalam Tjerita Njai Isah (1904). Sang Nyai ditampilkan sebagai sosok yang setia dan tidak berambisi pada harta. Ketika tuannya bangkrut, ia justru berjualan pisang goreng dan beras tumbuk. “Penulis-penulis ini seolah-olah ingin memutar tuduhan itu dan puncaknya itu kita bisa lihat di Nyi Paina ya, itu (karya) si Kommer. Nah itu yang kita anggap sangat radikal, bahwa si nyai-nya bisa melawan. Jadi dia dipaksa kawin kemudian dia sengaja memeluk orang cacar dan si tuannya itu dipeluk supaya dia ketularan juga dan mati. Dan cerita ini kemudian menginspirasi Pram untuk dimasukkan ke dalam Bumi Manusia , kan,” terang Banu.

  • Antimiras Zaman Kolonial

    Sejak masa kolonial, minuman keras ilegal kerap meresahkan. Sejumlah organisasi politik dan Pemerintah Hindia Belanda pun bertindak.

  • Ketika Hatta Kehabisan Uang

    Suatu pagi di pertengahan Agustus 1925. Serangkaian kereta berhenti di jalur antara Oslo dan Bergen, Norwegia. Masinis memberi kesempatan selama setengah jam kepada para penumpang untuk menikmati pemandangan alam yang sangat menakjubkan di area tersebut, terutama melihat keindahan lembah Fjord. Mohammad Hatta menjadi salah seorang penumpang itu. Dia sedang dalam perjalanan menuju Bergen, kota pelabuhan di pantai barat Norwegia. Bersama seorang kawan dari Perhimpunan Indonesia (PI), Samsi Sastrawidagda, Hatta ditugasi untuk mempelajari sistem kooperasi di Norwegia, Swedia, dan Denmark. Sebagai ekonom andalan organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Belanda itu, keduanya harus mempelajari cara orang-orang Skandinavia mengelola keuangannya. Tujuan misi belajar tersebut juga antara lain meningkatkan keuangan di tubuh PI secara efektif, serta menerapkan pengetahuannya kelak di tanah air setelah terbebas dari penjajahan.   Setelah melalui perjalanan cukup panjang, kira-kira pukul 4 sore, Hatta tiba di Bergen. Dia segera mencari tempat untuk bermalam. Selesai menaruh barang, keduanya bergegas menuju kantor pos untuk mengambil surat kiriman Nazir Pamontjak dari Belanda. Ketika di Denmark, Samsi sempat mengirim surat kepada Nazir untuk memberitahukan kesulitan yang sedang dihadapi mereka: kehabisan ongkos. “Sebelum berangkat dari Negeri Belanda, Nazir Pamontjak berkata kepada Samsi, apabila kamu orang kehabisan uang, tulis lekas surat atau telegram. Samsi percaya, bahwa Nazir Pamontjak akan berusaha mencarikan bantuan dari teman-teman,” tulis Hatta dalam otobiografinya  Memoir . Sewaktu bertanya kepada pegawai kantor pos, surat yang dimaksud rupanya sudah sampai. Pengirimnya benar Nazir Pamontjak. Betapa senang Hatta dan Samsi menerimanya. Waktu Samsi membaca isi surat itu, wajahnya tiba-tiba berubah, dia marah. Bukannya bantuan dana yang didapat, Nazir malah menyuruh mereka untuk pulang. Dia mengatakan PI tidak bisa memberikan tambahan uang. “Tidak perlu kita marah. Kita  toh  tahu kebiasaan Nazir Pamontjak memudahkan segala hal. Besok kita dapat pergi ke Konsul Belanda di sini, menerangkan kesulitan kita, meminjam uang kepadanya dengan berjanji sekembali kita di Nederland, utang itu akan kita bayar dengan wesel kawat,” kata Hatta mencoba menenangkan Samsi yang tak kunjung reda amarahnya. Samsi menerima usul kawannya itu. Keduanya memutuskan kembali ke penginapan. Mereka lalu menghitung sisa uang yang mereka punya untuk bertahan hidup di Bergen. Rupanya uang itu hanya cukup untuk ongkos tinggal selama dua hari. Itu pun sudah berhemat dengan hanya makan dua kali, pagi dan malam saja. Keduanya bisa sarapan agak siang, sementara makan malam bisa lebih awal. Cara itu dilakukan agar tubuh mereka bisa menerima ketiadan asupan di siang hari. Selama dua hari di Bergen, Hatta dan Samsi banyak menghabiskan waktu di kantor kooperasi perikanan dan pelabuhan. Sebagai daerah penyuplai ikan di Norwegia, Hatta ingin mempelajari cara-cara kooperasi perikanan Bergen mengatur distribusi dari pelabuhan ke pasar-pasar di pedalaman, mengingat waktu yang mereka punya cukup singkat agar kualitas hasil tangkapan tetap baik saat dijual. Selesai mempelajari segala hal tentang kooperasi perikanan Bergen, Hatta mulai memikirkan cara untuk kembali ke Nedeland. Di penginapan, dia menghubungi konsul Belanda honorair, membuat janji untuk bertemu. Tepat pada waktu yang ditentukan, Hatta dan Samsi telah berada di kediaman Si Konsul. Setelah memperkenalkan diri, keduanya menceritakan kesulitan keuangan yang tengah dihadapi. Mereka memberanikan diri meminjam uang untuk ongkos perjalanan pulang ke Nederland.  Konsul Belanda yang namanya tidak Hatta ingat itu sebenarnya bersedia memberi uang sebesar yang dibutuhkan, tetapi dia terikat oleh aturan dinas. Dia hanya boleh meminjami uang untuk kereta dari Bergen ke Oslo. Baru di ibu kota Norwegia itulah mereka akan mendapat bantuan lengkap dari konsul-jenderal untuk pulang ke Nederland. Maka diberinya mereka uang untuk berangkat menumpang kereta malam menuju Oslo. “Menurut kebiasaan di Norwegia pada waktu itu tiap orang yang menumpang kereta api malam selalu mengambil kereta tempat tidur, sekalipun ia meumpang kelas 3. Secara itu pula kami diperlakukan oleh konsul honorair. Tetapi esok harinya kami tidak menyewa kereta tidur, kami ambil saja kelas 3 biasa, yang mengherankan pegawai yang menjual karcis di stasiun. Dengan cara begitu kami dapat menghemat beberapa  krona ,” ujar Hatta. Setiba di stasiun Oslo, Hatta dan Samsi segera menuju hotel tempat mereka pernah menginap. Dari hotel keduanya menghubungi Konsul Jenderal, berharap bisa membuat janji bertemu hari itu juga. Tetapi sayang hari itu Si Konsul harus menghadiri rapat sehingga waktu bertemu terpaksa mundur sehari. “Menunggu sehari itu bertambah besar ongkos hidup kami di Oslo. Kami terpaksa makan di hotel, sebab sisa uang yang kami bawa dari Bergen tidak cukup apabila kami makan di luar,” kata Hatta. Esok paginya Hatta datang pada waktu yang disepakati. Sama seperti di Bergen, mereka menceritakan kesulitan yang menimpa mereka, serta kesediaan meminjami uang. Konsul Jenderal pun bersedia menyediakan uang sebanyak yang diperlukan untuk membayar sewa hotel dan tiket kerata api sampai di Nederland. Keesokan harinya Hatta dan Samsi kembali ke Nederland dengan kereta api pertama. Keduanya sampai dengan selamat di Amsterdam pada malam hari.

  • Bukti Keberagaman dari Muatan Kapal Tenggelam

    Pemerintah membuka peluang investasi asing dalam   pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia. Namun, para ahli arkeologi mengkritik kebijakan itu.  Selain terjegal aturan ketat dalam UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kapal tenggelam   juga menjadi bukti keberagaman di Indonesia. “Jadi, bicara tentang temuan arkeologi bawah laut bukan cuma kapalnya, tapi kebudayaan yang dibawanya,” kata Widya Nayati, pengajar arkeologi maritim di Universitas Gadjah Mada, dalam forum konsultasi pengelolaan BMKT pasca terbitnya Perpres No. 11 Tahun 2021, yang diadakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) via daring, Kamis (18/03). Indonesia menjadi pusat pertemuan global pada 1480–1650, yang oleh Anthony Reid, sejarawan Australia National University, disebut sebagai age of commerce. Dengan lautnya yang luas dan posisinya yang strategis, banyak kapal bermuatan barang berharga melintasi kepulauan Nusantara. Sehingga tak mengherankan   banyak peninggalan arkeologi bawah air di perairan Indonesia. Badan Riset Kelautan dan Perikanan KKP memperkirakan sekira 463 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia. Sedangkan laporan UNESCO mencatat 5.000 kapal tenggelam di Asia Tenggara, sepuluh persennya di perairan Indonesia. “Kapal tenggelam di lautan Indonesia ini warisan budaya yang menjadikan Indonesia punya budaya bermacam-macam seperti sekarang,” kata   Widya.  Fitra Arda, pelaksana tugas Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemendikbud, menjelaskan  cagar budaya bawah air bukan hanya kapal tenggelam, melainkan semua data arkeologi yang ditemukan di bawah air, baik di laut, sungai, maupun danau. Pun meliputi seluruh aspek hubungan manusia dengan laut, danau, sungai, dan rawa.  “Tak bisa lepas dari konteksnya. Tidak hanya menyangkut teknologi, melainkan juga aspek sosial, ekonomi, politik, dan religi,” kata Fitra. Misalnya, dari teknologi kapal yang tenggelam bisa diketahui asal-usul kapal itu, apakah milik Tiongkok, Arab, Asia Selatan, Eropa, atau Asia Tenggara. “Dari sisa-sisa muatannya bukan hanya keramik tapi komoditas darat dari tempat-tempat yang disinggahinya,” kata Widya. Dari muatan yang dibawa oleh kapal itu juga bisa diketahui proses transfer kebudayaan dari satu tempat ke tempat lain. Widya menyebut koin Romawi yang ditemukan bersama dengan koin dari Dinasti Han, Tiongkok, di Sungai Brantas.  “Ia kontaknya tak hanya satu jalur, tapi banyak jalur. Saya bisa membayangkan kalau orang sekarang pulang dari Singapura di dompetnya masih ada uang dolar Singapura,” kata Widya.   Di dataran tinggi Dieng, di mana terdapat kompleks percandian Dieng dari abad ke-7-8 M, ditemukan keramik asal Changsha, Tiongkok. Kemudian di Situs Liyangan yang terletak di lereng Gunung Sindoro, Kabupaten Temanggung, juga ditemukan berbagai keramik dari masa Dinasti Tang pada abad ke-9-10 M.  “Artinya, kita tahu pengaruh Tiongkok sudah sampai sana. Bagaimana sampai ke sana?” kata Widya. Kontak dengan Tiongkok Lewat Keramik Keramik merupakan komoditas paling digemari masyarakat dunia pada masa lalu. Menurut Listiyani, peneliti Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi, dalam “Keramik BMKT Hasil Survei Kepurbakalaan di Kabupaten Belitung”,   jurnal Relik No. 06 September 2008, hampir di setiap muatan kapal karam ditemukan keramik dalam jumlah yang tidak sedikit. Umumnya keramik-keramik itu dalam kondisi masih baik. Kendati ada pula yang sudah tidak utuh. Keramik yang diangkat dari kapal tenggelam kebanyakan dari Tiongkok masa Dinasti Tang hingga Dinasti Qing. Namun, sering juga ditemukan barang-barang keramik dari Thailand, Vietnam, Jepang, dan Eropa. Keramik juga menjadi muatan terbanyak yang ditemukan dalam kapal tenggelam di perairan Cirebon. Dari kapal yang dieksplorasi pada 2005–2007 itu diangkat 314.000 barang, 90 persen adalah keramik utuh dan pecahan. Menurut Eka Asih Putrina Taim, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam “Keramik Muatan Kapal Karam Cirebon: Sebaran di Situs-Situs Arkeologi Sumatera Bagian Selatan”, jurnal Kalpataru  Vol. 25 No. 1, Mei 2016, selain keramik ditemukan juga berbagai jenis benda berharga, seperti perhiasan emas, batuan permata, artefak perunggu berupa arca, cermin dan alat-alat upacara; manik-manik, benda-benda logam dari emas, perak, perunggu, dan besi; serta koin, benda dari kaca, dan kayu. Eka menjelaskan, dari hasil analisis keramik diketahui hampir seluruh keramik kapal tenggelam di perairan Cirebon berasal dari masa Dinasti Tang Akhir atau periode Lima Dinasti berkuasa pada abad ke-9–10. Sebagian besar keramik itu dibuat di tempat pembakaran ( kiln ) di Provinsi Zhejiang. “Zhejiang merupakan pusat dan tempat awal keramik kualitas terbaik diproduksi di Tiongkok, dan telah berkembang sejak 1000 tahun yang lalu,” tulis Eka.Eka. Menariknya, dilihat dari bentuk dan teknologi kapal, kapal yang tenggelam di perairan Cirebon itu menunjukkan teknologi yang umum dipakai oleh kapal-kapal di Asia Tenggara. Sehingga kapal itu diduga merupakan kapal Nusantara, bukan kapal Arab, Tiongkok maupun negara lain.   Kapal itu diduga kuat adalah kapal penyambung jalur lintas dagang yang membawa muatan dari pelabuhan di Pantai Timur Sumatra ke pelabuhan di utara Jawa pada abad ke-9-10. “Kita bicara masalah transfer kebudayaan, sehingga di Indonesia saya lihat selintas, saya bisa ngomong oh itu keturunan Arab, Tiongkok, Jepang, India. Itu bukti kebesaran transportasi yang membawa barang dan kebudayaan,”  kata Widya. Narasi Sejarah Bangsa Masalahnya, menurut Surya Helmi, anggota senior Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dalam diskusi “Nasib Warisan Budaya di Laut dalam Perpres No. 10 Tahun 2021” yang diselenggarakan IAAI Pusat   lewat daring, Rabu (10/03),   potensi cagar budaya bawah air terancam karena tak kunjung jelas pemanfaatan dan pengelolaannya. Kapal-kapal tenggelam yang menyimpan “harta karun” pengetahuan budaya dan sejarah jika dibiarkan takkan membawa manfaat karena keburu rusak oleh alam atau perburuan ilegal. Harry Satrio, direktur utama PT. Cosmix Asia sekaligus Sekjen Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan BMKT, mengatakan bahwa saat ini pemangku kebijakan menghadapi pilihan sulit. Melakukan pencarian, pengangkatan, dan pengelolaan barang-barang muatan kapal tenggelam membutuhkan dana yang besar. “Pemerintah punya dana [melakukan pengangkatan dan pengelolaan]? Ini pertanyaan saya. Lalu ke depannya bagaimana? Bagaimana membuat perusahaan tertarik [investasi] tapi bagaimana caranya agar Indonesia tak kehilangan warisan budayanya?” katanya. Harry prihatin dengan pencurian muatan kapal tenggelam yang masih ada di bawah laut. Dia pernah melihat pengangkatan muatan kapal tenggelam ilegal di Kepulauan Riau. “Kami prihatin sampai detik ini masih terjadi pencurian di Kepulauan Riau, cukong-cukong membeli dari nelayan, terutama akhir pekan,” katanya. Harry Octavianus Sofian, arkeolog Balai Arkeologi Palembang dalam “Benda Muatan Asal Kapal Tenggelam di Situs Karang Kijang–Belitung: Survei Awal Arkeologi Bawah Air”, Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat TH. III No. 1, Juni 2011, mencatat rusaknya Situs Karang Kijang di sebelah barat Selat Gaspar di perairan Pulau Belitung. Situs ini merupakan salah satu situs arkeologi bawah air yang dangkal. Kedalamannya hanya 1,5 m di bawah permukaan laut. “Karena letak dan kedalaman yang mudah dicapai oleh manusia serta BMKT-nya bernilai ekonomis maka Situs Karang Kijang dijarah, sehingga situs arkeologi ini menjadi rusak,” tulisnya. Harry mencatat, tinggalan arkeologi yang masih ada di situs itu berupa keramik dengan motif flora, naga, dan kura-kura. Keramik-keramik ini bentuknya mangkuk, buli-buli, dan guci. Sementara menurut nelayan, ada ribuan artefak keramik berupa mangkuk, buli-buli, dan guci utuh yang ditemukan dan dijarah oleh masyarakat. Karena sudah dirusak, tak diketahui lagi kapal apa yang mengangkut barang-barang   itu.   “Tidak diketahui pasti kapal kandas yang membawa kargo di Situs Karang Kijang. Apakah kapal China, seperti Situs Tek-Sing, apakah kapal Arab seperti Situs Belitung Wreck, atau kapal Eropa atau Nusantara yang mengangkut kargo keramik China,” tulisnya. Kendati sudah dirusak, kata Harry, situs ini menjadi bukti arkeologi keganasan Selat Gaspar dengan karangnya yang mampu membuat kapal kandas dan menumpahkan muatannya. Sebagaimana namanya, Karang Kijang yang merupakan penamaan lokal masyarakat setempat, hal ini untuk membedakan letak gugusan karang yang banyak terdapat di perairan Belitung. Menurut Widya, dari sebuah kapal tenggelam narasi tentang sejarah bangsa yang dibanggakan masyarakatnya bisa ditulis. Indonesia yang memiliki jalur rempah bisa dibuktikan salah satunya dengan muatan-muatan kapal tenggelam. Pun Indonesia yang kini beragam agamanya, DNA-nya, itu karena beraneka macam pula manusia yang datang ke Nusantara menggunakan kapal. “Kapal yang tenggelam itu hanya sebagian kecil dari cerita. Dari yang tenggelam itu kita bisa merekonstruksi sejarah Indonesia,” kata Widya. “[Kapal] yang tidak tenggelam ya kita tidak tahu ceritanya. Mereka selamat sampai rumah. Cagar budaya itu warisan, kalau mau dijual saya nangis  dulu deh , kita belum selesai menulis sejarah kita.”

  • Jajanan Tiga Bapak Bangsa

    RUTINITAS sore di Jalan Gereja Theresia No.72 Jakarta pada 1950-an itu masih diingat secara jelas oleh Ilya Arslaan. Bersama sang kakek Haji Agus Salim, Ilya kerap menunggu kedatangan tukang otak-otak (penganan yang terbuat dari sejenis ikan laut) langganan mereka. Yang ditunggu biasanya baru datang sekira jam 17. “Kalau sudah datang, kakek saya biasanya memanggil semua orang di rumah terutama cucu-cucunya untuk ikut jajan otak-otak,” kenang lelaki berusia 80 tahun itu. Ilya tak paham sejak kapan Haji Agus Salim menggandrungi kudapan yang biasanya selalu dibungkus dengan daun pisang itu. Namun yang jelas tiap sore dia kerap melihat sang kakek menikmati otak-otak. Biasanya penganan itu disajikan dengan segelas jus buah dan dihidangkan kala Haji Agus Salim melakukan kegiatan rutin membaca buku. “Hebatnya saat itu kami sudah memiliki blender , seseorang mengirimkannya langsung dari Amerika Serikat. Entah siapa, saya lupa. Yang jelas kalau membeli sendiri barang itu, jelas kami tidak akan sanggup,” ujar Ilya sambil tertawa. Lain dengan Haji Agus Salim, perdana menteri Republik Indonesia (RI) pertama Sutan Sjahrir memiliki kesukaan jajan sate ayam Madura. Dari salah seorang putri-nya, sejarawan Rushdy Hoesein sempat mendapat keterangan jika Sjahrir datang ke suatu tempat maka dia selalu mengutamakan sate ayam sebagai menu makan-nya. Ketika tinggal di Jalan Jawa No.61 Jakarta (sekarang Jalan H.O.S. Cokroaminoto), bersama keluarganya, Sjahrir tak jarang mendatangi tukang sate langganannya. Tempatnya ada di ujung Jalan Jawa. “Jadi kalau mau jajan sate ke sana, Sjahrir selalu jalan kaki bersama istri dan anak-anaknya,” ungkap Rushdy.  Sama seperti Sjahrir, salah satu makanan kesukaan Sukarno adalah sate ayam. Bahkan bukan rahasia lagi jika tiap mengunjungi satu tempat, Sukarno selalu meminta untuk disertakan hidangan sate ayam ini dalam menu makanannya. Terkait jajanan kesukaan Bung Karno itu, dikonfirmasi oleh putera sulungnya Guntur Sukarnoputra. Menurut Guntur, untuk sate ayam, di Jakarta Bung Karno memiliki langganan khusus yakni sebuah restoran sate ayam Madura bernama Layar Terkembang . Letaknya berada di kawasan Cilincing, perbatasan antara Bekasi dengan Jakarta. “Bapak sering mengajak saya mampir di restoran itu…” ungkap Guntur dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Soal berburu sate ayam itu ternyata tidak hanya dilakukan oleh Bung Karno di Jakarta saja. Saat dia tengah berkunjung ke luar kota pun, sang presiden kerap melakukan kebiasaannya itu. Priyatna Abdurrasyid (eks Jaksa Agung) masih ingat, bagaimana setiap ke Bandung, Bung Karno selalu singgah di tukang sate ayam favoritnya yang terletak di ujung Jalan Asia Afrika. “Dengan menumpang jip dan memakai kaos putih oblong, celana pendek dan sandal, Bung Karno didampingi (Brigjen) Sabur (komandan Resimen Tjakarabirawa) keluar untuk makan sate,” kenang Priyatna dalam otobiografinya, Dari Cilampeni ke New York: Mengikuti Hati Nurani (disusun oleh Ramadhan K.H.) Uniknya, Bung Karno sama sekali tak memegang uang untuk membeli makanan kesukaannya itu. Sebelum pergi, kata Priyatna, selalu dia akan menemui terlebih dahulu Mayor Jenderal Ibrahim Adjie (Panglima Kodam Siliwangi saat itu) di Pakuan. Begitu bertemu perwira tinggi yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu, Bung Karno tanpa ragu-ragu akan meminta uang. “Djie coba beri aku uang seribu rupiah! Aku mau makan sate nih…” Tanpa banyak bicara, Adjie pun akan merogoh saku celananya dan langsung memberikan uang ribuan kepada Bung Karno. Jauh sebelumnya, Bung Karno memang sudah menggandrungi sejenis daging ayam bakar tersebut. Bahkan ketika  usai pengangkatannya sebagai presiden pertama RI pada 18 Agustus 1945, dia “merayakannya” dengan jajan 50 tusuk sate ayam di pinggiran jalan Jakarta. “Aku jongkok di sana dekat selokan dan kotoran. Kumakan sateku dengan lahap dan inilah seluruh pesta atas pengangkatanku sebagai kepala negara,” ungkap Sukarno seperti dikisahkannya kepada Cindy Adams dalam Bung Karno: Penjambung Lidah Rakjat Indonesia.

  • Wisata Sumatra Era Kolonial

    Seberkas iklan pariwisata zaman kolonial menerangkan informasi yang menarik. Terlihat peta Pulau Sumatra dengan titik destinasi wisata andalan yang terhubung satu sama lain. Mulai dari keelokan Danau Toba di jantung Tanah Batak, pesona rumah gadang di Kota Padang, hingga Pulau Nias nan eksotis. Tempat-tempat wisata itu dapat dikunjungi lewat dua jalur rute perjalanan, yakni Pantai Barat dan Pantai Timur Sumatra. “Sebuah tamasya yang indah untuk perjalanan liburan Anda berikutnya,” demikian pesan promosi yang ditawarkan Perusahan Pelayaran Belanda (KPM) bertitimangsa 1930 itu. Menurut sejarawan Achmad Sunjayadi, kegiatan kepariwisataan di Sumatra pada masa kolonial tidak kalah dengan kepariwisataan di Jawa . Pada akhir abad  ke-19 hingga awal abad ke- 20, sejumlah destinasi wisata di Sumatra banyak tersua dalam buku catatan perjalanan maupun buku panduan turisme. Kebanyakan objek wisata yang ditawarkan adalah wisata pemandangan alam seperti gunung berapi, pegunungan, air terjun, ngarai (lembah), dan danau. Objek lain yang juga menjadi perhatian adalah bentuk bangunan rumah, seperti rumah gadang di wilayah Pantai Barat Sumatra. “Perbedaan dengan di Jawa adalah belum semua wilayah di Sumatra dipersiapkan untuk kegiatan wisata, khususnya sarana infrastruktur dan akomodasi yang baik,” kata pengajar Prodi Sastra Belanda UI yang meneliti “Pariwisata di Hindia Belanda” sebagai disertasinya ini kepada Historia .  Terbentur Infrastruktur Perhatian terhadap kegiatan kepariwisataan di Sumatra sebenarnya telah dipikirkan oleh beberapa pejabat kolonial yang progresif. Salah satunya ialah Louis Constant Westenenk, seorang pejabat kolonial di wilayah Pantai Barat Sumatra. Dia memperkenalkan potensi turisme, terutama kawasan bovenlanden (dataran tinggi) di Pantai Barat Sumatra. Pada 1907, Lois menyusun buku Veertien dagen in de Padangsche Bovenlanden. Karya tersebut pada 1913 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris bekerja sama dengan Vereniging Toeristenverkeer – VTV, asosiasi turisme Hindia Belanda – menjadi Sumatra: Illustrated Tourist Guide. A fourteen day’s trip in the Padang Highlands (the land of Minangkabau) .  Buku itu menjadi rujukan penting bagi para turis maupun pelancong yang ingin berkunjung ke dataran tinggi Minangkabau. Pada 1916, di Padang lahir Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra (VTS). Para pengurus dan anggota VTS merupakan gabungan dari pemerintah dan pengusaha yang berkaitan dengan kegiatan kepariwisataan, seperti pelayaran, kereta api, perbankan, perhotelan.Dari organisasi itu promosi dilakukan untuk menawarkan daya tarik objek wisata. “ Kebijakan pemerintah kolonial yang terpenting adalah promosi. Wilayah yang dipromosikan adalah Keresidenan Pantai Barat Sumatra dan Tapanuli,” ungkap Achmad Sunjayadi. Potensi turisme di Sumatra sayangnya tidak dipoles dengan infrastruktur dan akomodasi yang memadai. Kendala ini mengakibatkan industri wisata tidak dapat menyentuh seluruh wilayah. Karena pertimbangan stratergis, hanya segelintir yang mendapat dukungan infrastruktur. Daerah perkebunan Deli di Medan dan kota benteng pertahanan seperti Fort de Kock di Bukittinggi dan Fort van der Capellen di Batu Sangkar adalah beberapa diantaranya. Pemerintah kolonial menaruh perhatian untuk mengembangkan wisata di sana sebab keuntungan ekonomi dan keamanan sudah terjamin. Tantangan lainnya, pemerintah ketika itu lebih mengedepankan Jawa daripada Sumatra. “Hal ini menjadi kritik Vereeniging Toeristenbelang op Sumatra terhadap Vereniging Toeristenverkeer di Batavia yang lebih menitikberatkan Jawa,” kata Sunjayadi lagi. Perbaikan Infrastruktur Selain promosi, pemerintah kolonial berupaya membangun dan memperbaiki infrastruktur berikut sarana penunjang kegiatan kepariwisataan. Akan tetapi, membutuhkan waktu panjang untuk mewujudkan itu semua. Sebagaimana dicatat sejarawan Anthony Reid dalam Menuju Sejarah Sumatera: Antara Indonesia dan Dunia , “jalan trans-Sumatra dibahas untuk pertama kali pada 1916, tetapi baru akhirnya selesai pada 1938.” Menurut Achmad Sunjayadi, pembangunan jalan di beberapa wilayah di Sumatra sudah dimulai sejak awal abad ke-19. Mengutip Encyclopedia van Nederlandsch Indië  pembangunan itu bermula dari Padang menuju wilayah di pedalaman. Salah satu jalurnya melewati Lembah Anai. Jalur lainnya melewati Tiku menuju Lubuk Basung dan Matua. Jalur lain menghubungkan Fort de Kock dan Lembah Bonjol.   “Pembangunan jalan lintas Trans Sumatra pada 1920-an tentu memiliki kontribusi untuk kegiatan kepariwisataan di Sumatra, khususnya para wisatawan atau pejalan ( travellers ) yang menggunakan mobil (wisata mobil),” jelasnya. Wisatawan tipikal demikian adalah mereka yang senang bertualang dan memiliki banyak waktu menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Sebelumnya, para wisatawan hanya mengandalkan jalur laut. Minimnya minat wisatawan tipikal petualang di Sumatra lantaran tidak di semua kota tersedia akomodasi yang memadai dan juga tawaran untuk melihat objek wisata. Hal lain adalah faktor keamanan. Belum ada asuransi yang berani menjamin keamanan para wisatawan yang plesiran di Sumatra saat itu. Proyeksi pemerintah kolonial dalam kepariwisataan memang tidak pernah terwujud. Pada 1942, Jepang datang mengakhiri negara kolonial Hindia Belanda. Setelah itu,  zaman Indonesia merdeka berlangsung sampai saat ini. Kendati zaman berubah, Achmad Sunjayadi melihat adanya kesinambungan pengembangan kepariwisaan dari masa kolonial hingga era Indonesia. Seperti contoh, Danau Toba merupakan salah satu objek wisata yang disarankan dan dipromosikan dari dulu sampai sekarang. Begitu pula dengan objek wisata rumah gadang yang pernah menjadi ikon promosi kepariwisataan masa kolonial di Sumatra. Meskipun saat ini rumah gadang di Sumatra Barat sudah tidak sebanyak pada masa kolonial. Menurut Achmad, yang perlu dibenahi saat ini adalah sinergi berbagai pihak untuk kemajuan wilayah. Apalagi kini bergulir pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra yang dapat  mempermudah wisatawan petualang menjelajahi wilayah Sumatra. “Meminjam konsep pentahelix pada kegiatan kepariwisataan masa kini yaitu bisnis (pengusaha), pemerintah (dari pusat hingga desa), komunitas, akademisi, dan media yang akarnya ternyata sudah ada pada masa kolonial. Lalu bagaimana mengedukasi para wisatawan untuk ikut juga berperan (wisatawan atau pejalan bijak) dalam kegiatan kepariwisataan, supaya tidak hanya sekedar sebagai tamu,” pungkasnya.

  • R. Soeprapto, Jaksa Agung Perintis Reformasi Hukum

    SUATU hari di ruang kerja Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo terjadi perdebatan sengit. Kala itu, Ali memanggil Raden Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung, untuk membicarakan kasus dugaan korupsi Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, pada 1956. Ali meminta Soeprapto mendeponir atau membatalkan kasus Roeslan. Ali berpendapat dakwaan terhadap Roeslan tak bisa dilanjutkan. Meski Roeslan diberatkan oleh tiga orang saksi, ada tiga saksi lain yang meringankan Roeslan. Jadi kasusnya seimbang. Tapi Soeprapto menolak mentah-mentah argumen itu. Kasus hukum bukanlah pertandingan sepakbola yang bisa berakhir imbang. Ali terus mendesak Soeprapto. Dia mengatakan penuntutan terhadap seorang menteri dari partai besar bisa menyebabkan gejolak pemerintahan. Apalagi pemerintah lagi pusing-pusingnya dengan pergolakan daerah. Soeprapto membalas, urusan gejolak dan pergolakan daerah adalah tanggung jawab pemerintah. Tak ada sangkutannya dengan kasus Roeslan.    Ali dan Soeprapto sama-sama keras. Tak ada kesepakatan pada pertemuan itu. Soeprapto bosan juga didesak terus. Akhirnya, dia mengatakan lantang kepada Ali. “Saya berada di bidang judicial service , bukan civil service ,” kata Soeprapto. Dia lalu keluar ruangan sembari membanting pintu. Demikian kenangan Prof. Dr. Andi Hamzah, mantan juniornya Soeprato, dalam seminar “Pengusulan Jaksa Agung R. Soeprapto Sebagai Pahlawan Nasional” yang digelar oleh Kejaksaan Agung bekerja sama dengan Masyarakat Pemantau Peradilan Indonesia Fakultas Hukum Indonesia via zoom  pada 17 Maret 2021. Andi menambahkan, Soeprapto memegang teguh independensi lembaga dan profesinya sesuai dengan undang-undang saat itu. Karena itu, dia menolak segala bentuk intervensi dari lembaga eksekutif. Dia juga tak segan mengadili orang-orang yang menyeleweng. Sekalipun posisinya setingkat menteri. “Dia menangkap tiga menteri: Menlu Abdulgani, Menteri Kehakiman Mr. Djody Gondokusumo, dan Menteri Kemakmuran Iskaq Tjokrohadisurjo,” kata Andi. Selain menteri, Soeprapto juga mengadili sejumlah perwira militer, pengusaha kakap, dan tokoh politik Sultan Hamid II. Ketika mengadili teman seorang perwira militer, Soeprapto memperoleh tantangan. Perwira itu tak suka temannya diadili oleh Soeprapto dan anak buahnya. Si perwira mengutus bawahannya untuk menemui Soeprapto. Bawahan itu menyampaikan akan ada penangkapan terhadap jaksa yang menjadi tim Soeprapto. Soeprapto tak gentar dengan ancaman itu. Di hadapan anggota militer itu, dia meletakkan pistolnya di meja. “Bila akan melakukan upaya paksa penahanan kepada jaksanya, silahkan melangkahi diri dan mayat beliau dulu,” kata Prof. Dr. Indriyanto Seno Adji, anak dari Oemar Seno Adji, salah satu teman kerja Soeprapto. Indriyanto mengaku banyak mendengar integritas dan sikap Soeprapto dari ayahnya. Menurut Oemar, Soeprapto memiliki pandangan bahwa tak boleh ada diskriminasi dalam penegakan hukum. “Itu sebabnya Soeprapto menangani perkara besar dan kecil, kaya dan miskin, tanpa dipilih,” kata Indriyanto. Soeprapto juga sohor dengan sikap sederhana dalam hidup. Dia tak banyak mengejar harta benda. Bahkan, dia menolak pemberian hadiah gelang emas untuk anaknya. “Jarang sekali penegak hukum seperti Pak Soeprapto. Jujur, sederhana. Jaksa yang perutnya kempis,” kata Indriyanto. Indriyanto menerangkan, kesederhanaan Soeprapto tampak dalam tindakannya. “Dia tak banyak omong. Dia lebih memegang adagium facta sunt potentiora verbis  atau perbuatan itu lebih kuat daripada kata-kata,” kata Indriyanto. Asvi Warman Adam, profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menggambarkan karakter lain Soeprapto. Meski tegas dan tak sungkan berbeda pendapat dengan orang lain, Soeprapto tetap menaruh hormat pada orang tersebut. Ini kelihatan dari peristiwa perdebatan Perdana Menteri Ali dengan Soeprapto. “Sekalipun Ali dan Soeprapto sama bersikap koersif dalam rapat kabinet. Seusai rapat, sikap keras itu hilang. Soeprapto menaruh hormat kepada Ali dan mengobrol tentang soal lain seperti tidak pernah terjadi apa-apa,” kata Asvi. Fahrizal Afandi, doktor hukum jebolan Universitas Leiden, menyoroti peran Soeprapto sebagai perintis reformasi hukum di Republik Indonesia pada 1950-an. “Soeprapto turut berperan dalam membangun jaringan struktur peradilan di Indonesia,” kata Fahrizal. Peran Soeprapto paling nyata terlihat ketika dia mengubah sifat pengadilan. “Dari lembaga untuk memata-matai anak negeri, menjadi lembaga pengadilan yang digunakan untuk menegakkan hukum di tengah-tengah masyarakat,” kata Fahrizal. Peran Soeprapto bukan tanpa hambatan. Fahrizal melihat ada dua jenis hambatan selama Soeprapto berikhtiar memperbaiki hukum di Indonesia. Hambatan itu terbagi dua, internal dan eksternal. “Hambatan internal berasal dari lembaga yang dipimpin Soeprapto. Antara lain kurangnya pegawai terlatih, minimnya anggaran, dan minimnya fasilitas,” kata Fahrizal. Sementara hambatan eksternal muncul dari keadaan dalam negeri secara nasional. “Kondisi politik tidak stabil, pemberontakan di daerah, dan intervensi dari partai,” kata Fahrizal. Tapi Soeprapto berhasil mengatasi hambatan tersebut. Hukum tegak dan pengadilan memberikan kepastian hukum. “Sampai Daniel S. Lev dan Herbert Feith, dua Indonesianis terkemuka, menyebut periode di mana Jaksa Agung Soeprapto memimpin Kejaksaan (1950–1959), merupakan zaman keemasan sistem peradilan pidana di Indonesia,” kata Fahrizal. Susanto Zuhdi, guru besar sejarah Universitas Indonesia, menyatakan sepak terjang Soeprapto telah membuatnya jadi pahlawan di kalangan penegak hukum. “Nilai dan semangat perjuangan Soeprapto begitu melekat. Dia selalu hidup. Pahlawan itu selalu hidup,” kata Susanto. Susanto memaparkan, sepak terjang Soeprapto tak terbentuk semalam. Sikap itu terbentuk melalui proses panjang. Temuan risetnya menunjukkan Soeprapto telah masuk dalam daftar orang terkemuka di Jawa buatan Jepang. Daftar itu memuat orang-orang penting pada masanya. Bisa karena keahlian atau pengaruhnya di masyarakat. Menurut Susanto, ingatan tentang Soeprapto perlu dihidupkan kembali dalam tindakan keseharian penegak hukum masa ini. Di tengah karut-marut dan rusaknya lembaga penegak hukum, kehadiran Soeprapto sangat penting. “Sebab pahlawan itu dihadirkan karena ada kebutuhan kita yang mengharuskannya hadir,” kata Susanto.*

  • Boikot All England

    Badminton World Federation (BWF) mengeluarkan keputusan yang mengejutkan dan merugikan Indonesia. Tim bulu tangkis Indonesia dipaksa mundur dari turnamen All England 2021. Alasannya, otoritas kesehatan Inggris menyatakan ada penumpang yang positif Covid-19 dalam pesawat yang sama dengan tim bulu tangkis Indonesia. Tim bulu tangkis Indonesia pun harus menjalani isolasi sampai 23 Maret 2021. Melalui media sosial, rakyat Indonesia menyuarakan kekecewaannya kepada BWF. Mereka melambungkan tagar #BWFMustBeResponsible  dan #AllEngland2021UnFair. Ada juga warganet yang mengajak boikot BWF.   Dalam sejarah, Indonesia pernah berusaha untuk tetap mengirimkan tim bulu tangkis ke All England, sementara negara-negara anggota Asia Badminton Confederation (ABC) memboikotnya. ABC menyerukan boikot All England 1976 karena China ditolak keanggotaannya oleh International Badminton Federation (IBF). Pasalnya, China meminta agar Taiwan dikeluarkan dari IBF. China menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsinya, tapi Taiwan menempatkan diri sebagai negara berdaulat. Pada 1974, ABC telah mengeluarkan Taiwan dan menerima China sebagai anggota. “Salah satu buntut itu adalah ajakan pemboikotan turnamen All England oleh ABC yang dijurubicarai oleh Thailand. Organisasi yang bisa disebut ‘ujung tombak’ China ini mengajak anggota-anggotanya memboikot All England 1976, dengan tidak mengirimkan pemain-pemainnya ke turnamen itu. Ajakan ini tentu saja ditolak oleh PBSI,” kata Suharso Suhandinata dalam biografinya, Diplomat Bulu Tangkis . Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) punya kepentingan mengirimkan pemainnya agar Rudy Hartono bisa memecahkan rekor juara tunggal putra All England delapan kali, melampaui Erland Kops dari Denmark yang memegang tujuh kali juara tunggal putra. “Pemecahan rekor inilah yang menjadi obsesi utama para pengurus [PBSI] di tahun 1976 itu,” kata Suharso. Pengurus teras PBSI, Suharso Suhandinata dan J.C. Tambunan, kemudian diutus untuk memberikan penjelasan kepada seluruh anggota ABC, terutama Presiden ABC Letjen Pol. Chumpolt Lohachala. “Misi khusus yang kami tugaskan kepada Suharso dan Tambunan berhasil dengan gemilang. Bahkan, Chumpolt memberi dukungan atas pengiriman Rudy ke All England dan dia berharap, kalau Rudy menang agar mampir ke Bangkok dalam perjalanan pulang ke Indonesia dan akan disambut serta dirayakan,” kata Sudirman, ketua umum PB PBSI. Setelah pertemuan IBF di London pada Juni 1975, pada bulan yang sama ABC mengadakan rapat anggota untuk membahas penolakan IBF terhadap keanggotaan China. Rapat yang dihadiri oleh sebelas negara anggota dijurubicarai oleh mantan bintang Piala Thomas Thailand, Charoen Wattanasin. Charoen menyerukan demi solidaritas sesama negara Asia, seluruh anggota ABC agar memboikot All England sebagai proyek Inggris. Menurutnya, tanpa partisipasi pemain-pemain Asia, All England tidak ada artinya. Hampir seluruh delegasi mendukung kecuali Indonesia dan Jepang. Suharso kemudian mendekati Charoen dan wakil dari China. Suharso mengatakan, “Seratus tiga puluh juta rakyat Indonesia berkeinginan keras agar Rudy Hartono meraih gelar juara All England yang ke-8 kalinya. Bagaimana pendapat Anda terhadap keinginan rakyat Indonesia itu?” Charoen terdiam mendengar pertanyaan di luar dugaannya itu. Beberapa saat kemudian, wakil dari China menjawab, “Ya, kalau begitu kirim saja Rudy.” Setelah Rudy Hartono lolos, Suharso mengatakan, “Indonesia juga memegang supremasi ganda putra (Tjun Tjun/Johan Wahjudi). Bagaimana ini?” “Baiklah! Kalau begitu Indonesia dikecualikan dalam persoalan pemboikotan All England ini,” kata wakil China itu. Suharso Suhandinata, tokoh bulu tangkis dan pengurus PBSI. (Repro Diplomat Bulu Tangkis ). Namun, pada minggu ketiga awal tahun 1976, PBSI menerima surat dari honorary secretary  ABC, Teh Gin Sooi. Surat itu menyebutkan pernyataan Herbert A.E. Scheele, sekjen IBF, di salah satu media di Singapura: “Seandainya negara-negara lain di Asia termasuk Indonesia dan Jepang ikut memboikot, All England tetap berjalan terus dan sedikit pun tidak akan memusingkan saya, karena di luar benua Asia masih banyak pemain bulu tangkis yang baik.” Pernyataan Scheele itu dianggap telah meremehkan seluruh anggota ABC termasuk Indonesia. Oleh karena itu, Indonesia diminta meninjau kembali keputusannya. Menanggapi surat tersebut, PBSI mengutus Suharso dan Tambunan untuk meyakinkan para petinggi ABC bahwa Indonesia tetap harus mengirimkan pemainnya ke All England. Dengan cerdik, Suharso mengatakan bahwa ABC-lah yang harus memaksa Indonesia untuk mengirimkan pemainnya karena kemenangan Rudy adalah kemenangan bangsa-bangsa di Asia. “Bila Rudy berhasil menjuarai All England delapan kali, ini akan menjadi riwayat yang akan terpatri dengan tinta emas. Seorang putra dari benua Asia akan menjadi ‘raja di benua kulit putih’,” kata Suharso. “Dan untuk itulah, saya minta pendapat Jenderal Chumpolt.” Setelah berbicara serius dengan Charoen Wattanasin, Chumpolt mengatakan, “Saya mengakui kebenaran Anda dan sependapat dengan pemikiran itu, bahwa kemenangan Rudy adalah kemenangan bangsa Asia.” Rudy Hartono berhasil menjadi juara tunggal putra All England 1976 setelah mengalahkan Liem Swie King (15-7 dan 15-7). Dengan demikian, Rudy menjadi pemain pertama di dunia yang memecahkan rekor sebagai juara tunggal putra All England delapan kali. Rekor ini belum terpecahkan hingga kini. Sekembalinya ke Indonesia, Liem Swie King ditanya banyak orang, apakah dia “mengalah” demi Rudy dapat memecahkan rekor. Banyak penggemarnya tidak percaya, apalagi setelah dia berhasil mengalahkan Rudy, Iie Sumirat, dan Tjun Tjun, dalam uji coba menjelang Piala Thomas 1976. “Aku memang sangat menyesal tidak menjadi juara All England 1976. Padahal aku merasa berada di puncak prestasi dan kondisiku sangat fit… Aku menyesal tidak bermain sampai berdarah-darah dalam partai final All England itu,” kata Liem Swie King dalam biografinya, Panggil Aku King karya Robert Adhi Ksp. Sementara itu, ABC tak berhenti sampai memboikot All England 1976. China didukung Hongkong dan Thailand mendirkan badan bulu tangkis dunia baru. World Badminton Federation (WBF) dibentuk pada 1978. “ABC inilah yang menjadi inti pembentukan badan dunia baru WBF,” kata Suharso. WBF dan IBF kemudian bergabung pada 1981. Rapat umum luar biasa pada 2006 menetapkan organisasi bulu tangkis dunia itu bernama BWF.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page