Hasil pencarian
9656 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kahar Muzakkar Buka Warung Kala Perang Dunia
La Domeng muda cukup beruntung dibanding anak-anak Indonesia kebanyakan. Setidaknya, dia bisa bersekolah, bahkan pernah sekolah Muhammadiyah di kota Solo. Selama bersekolah di Jawa itu, ada tokoh Muhammadiyah terkena bernama Kahar Muzakkir. Nama itulah yang kemudian digunakan La Domeng hingga akhir hayatnya. Setelah bertahun-tahun belajar di Jawa, Kahar Muzakkar (1920-1965) pulang kampung ke Sulawesi Selatan. Dia membantu bisnis orangtuanya dan terlibat bisnis pengiriman kulit kayu bakko ke Jepang. Namun, kerjasama dagang Jepang itu membawa konsekuensi politik bagi keluarga tersebut. Sebab, Jepang sudah diawasi pemerintah Hindia Belanda sejak sebelum 1940 meski barang-barang buatan Jepang sudah banyak masuk ke Jawa dan kota-kota lain di Hindia Belanda. Arsip Kabinet Perdana Menteri 1950-1959 nomor 939 menyebut nama Kahar kemudian masuk dalam daftar hitam pemerintah Hindia Belanda.
- Pasukan Momok Kahar Muzakkar
S.M. Kartosoewirjo, imam DI/TII di Jawa Barat, mengirimkan sepucuk surat kepada Kahar Muzakkar, menawarkan pimpinan Tentara Islam Indonesia (TII) di Sulawesi. Kahar menerima tawaran itu pada 20 Januari 1952. Kahar memiliki dua komandan kepercayaan, yaitu Bahar Mattaliu dan Sjamsul Bachri. Namun, Bahar kemudian menyerah kepada pemerintah karena menentang keputusan Kahar dalam pembentukan pasukan Momok. Kahar membentuk empat kesatuan kawakan itu untuk meningkatkan kapasitas tempur dalam melawan pasukan Republik. “Satuan-satuan ini diberinya nama Momok, kependekan dari Moment Mobile Komando,” tulis Cornelis van Dijk dalam Darul Islam, Sebuah Pemberontakan .
- Di Balik Tabir Pahlawan Nasional Abdul Kahar Mudzakkir
MASYARAKAT Yogyakarta mendapat kehormatan besar. Dua dari tokohnya tahun ini ditetapkan Presiden Joko Widodo sebagai pahlawan nasional lewat Keppres 120/TK/Tahun 2019, 8 November 2019. Dr. M. Sardjito dan Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir, kedua tokoh yang dijadikan pahlawan itu, masing-masing diusulkan oleh Universitas Gajah Mada dan Universitas Islam Indonesia (UII) bersama Muhammadiyah. KH Mudzakkir jadi satu dari tiga anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang ditetapkan sebagai pahlawan tahun ini. Selain Mudzakkir, ada AA Maramis dari Sulawesi Utara dan KH. Masjkur dari Jawa Timur.
- Duel Sniper Legendaris di Stalingrad
RISAU oleh kampanye “sniperisme” Rusia, Jerman menjawab: membuat propaganda tandingan. Jerman langsung menerbangkan supersniper dari Berlin untuk menghabisi Vasily Zaitsev dan menetralisir sniper-sniper Rusia. Dari salah seorang tawanan Jerman, Rusia mendapatkan informasi bahwa tak lama lagi Vassily akan dihabisi oleh supersniper itu. Hingga kini, tidak ada kepastian siapa sebenarnya supersniper Jerman itu. William Craig dalam Enemy at the Gates menulis, sniper Jerman itu adalah Mayor Konings. Sedangkan Alan Clark, penulis Barbarossa, punya pendapat lain: supersniper Jerman itu adalah kepala sekolah di sebuah sekolah sniper di Zossen, Standartenfuehrer SS Heinz Thorwald (banyak orang menuliskan namanya Heinz Thorvald). Vasily sendiri dalam memoarnya hanya menulis: ketika kami mengangkat jasadnya dari lubang perlindungan, kami menemukan bahwa dia kepala sebuah sekolah sniper di Berlin.
- Paman Sam dan Tukang Daging
BANYAK orang percaya Paman Sam benar-benar pernah ada. Dia tokoh sungguhan yang hidup awal abad ke-19. “Paman Sam benar-benar pernah ada. Namanya Samuel Wilson dan dia merupakan seorang pengawas daging di sebuah perusahaan yang menyuplai daging untuk ransum tentara selama Perang 1812,” tulis Bill Lawrence dalam Fascinating Facts From American History . Samuel Wilson diyakini lahir di Menotomy (kini Arlington), Massachussett, pada 13 September 1766. Dia pernah jadi tukang batu sebelum akhirnya bekerja sebagai pengawas di perusahaan milik pamannya, Elbert Anderson, pengusaha daging yang memasok ransum militer AS dalam Perang 1812. Saat itu, AS yang mendeklarasikan perang pada 18 Juni 1812, mencoba merebut Kanada dari tangan Inggris.
- Adu Taktik Sniper di Front Timur
GERBONG keretaapi barang itu penuh sesak pada suatu hari di musim gugur 1942. Selain warga sipil, sejumlah personil Tentara Merah ikut di dalamnya. Vasily Zaitsev (diperankan Jude Law) salah satu serdadu itu. Selain tidak nyaman karena sesak, perjalanan itu amat membosankan. Dalam pandangan mata Vasily, terlihat hanya hamparan stepa yang seolah tak berujung. Namun, waktu membosankan itu tetiba sirna ketika kedua mata Vasily tertumbuk pada sesosok gadis cantik, Tania Chernova (Rachel Weisz), yang sedang membaca buku. Sayang, kesenangan itu hanya sesaat. Keduanya mesti berpisah tanpa bisa berkenalan karena warga sipil diperintahkan turun di sebuah stasiun.
- Neraka Hitler di Stalingrad
SUATU tempat di barat Rusia, 129 tahun pasca-invasi Napoleon Bonaparte ke negeri itu. Suasana tak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Serdadu Tentara Merah di pos perbatasan tetap berjaga seperti biasa hingga sesuatu yang ganjil terjadi sekitar pukul 03.30 tanggal 22 Juni 1941. “Beberapa saat sebelum subuh 22 Juni 1941, serdadu patroli dan pos jaga terluar front barat Uni Soviet mencatat ada sesuatu yang janggal terjadi di langit. Bintang-bintang aneh terlihat di kejauhan, melintasi wilayah-wilayah Polandia yang telah direbut Nazi, menerangi garis langit sebelah barat,” tulis Sergei Smirnov dalam Heroes of Brest Fortress.
- Benarkah Kesultanan Demak Bagian dari Turki Usmani?
DALAM video yang beredar terdapat cuplikan pidato sambutan Sri Sultan Hamengkubuwono X pada pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta pada 8–11 Februari 2015, sebagai berikut: “Pada 1479 Sultan Turki mengukuhkan Raden Patah sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan Kekhalifahan Islam Turki untuk Tanah Jawa dengan menyerahkan bendera Laa Ilaaha Illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain kiswah Ka’bah dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Keraton Yogyakarta sebagai pusaka penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat sebagai wakil Kekhalifahan Turki.” Mengomentari pernyataan tersebut, Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengatakan bahwa dalam konteks sejarah, data harus ditampilkan apa adanya, bahwa kemudian ada penafsiran tentu saja sah asalkan sesuai ketentuan keilmuan. Penafsiran itu biasa tapi menjadi masalah ketika penafsiran itu diarahkan untuk menjustifikasi apa yang sudah ada di kepala kita. Karena dalam konteks akademik, kita yang harus mengikuti data, bukan data yang dipaksa mengikuti keinginan kita. Jadi, harus hati-hati dalam menafsirkan.
- Sultan Alaudin Sulit Dikalahkan Belanda
MESKIPUN sudah memeluk Islam, Raja Gowa Sultan Alauddin menjaga hubungan baiknya dengan bangsa-bangsa lain, termasuk yang non-Islam, tetap terpelihara. Maka dirinya membiarkan orang-orang Eropa datang bersama agamanya. Termasuk orang Portugis yang bersekutu dengannya, bahkan Belanda yang ketika itu masih pendatang baru di Nusantara. Pelabuhan Gowa yang ramai terus dijaganya menjadi pelabuhan perdagangan rempah-rempah, komoditas yang amat dicari orang-orang Eropa untuk diperdagangkan. Tingginya nilai ekonomis rempah itu membuat Belanda tak ingin tertinggal menikmati “manisnya” laba jualan rempah. Maskapai dagang Hindia Timur Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), pun mengirim kapal-kapalnya ke sana. “Pada waktu kapal De Eendrach sandar di Bandar niaga Somba Opu, juru mudi bersama 15 awaknya setelah turun dari tangga kapal memperlihatkan kecongkakannya, seakan-akan tidak menghargai petugas pelabuhan. Atas tindakan itu Sultan marah, ke-15 awak itu diserang dan semuanya terbunuh. Atas tindakan itu, Belanda marah. Sultan yang sudah lama siap mengantisipasi serangan balik itu menyebar pasukannya di lautan maupun di darat,” catat Hannabi Rizal dkk. dalam Profil Raja & Pejuang Sulawesi Selatan 1 . Akibat kejadian yang berlangsung pada akhir 1616 itu, Belanda masuk sebagai daftar hitam Kerajaan Gowa. Oleh karenanya, berbagai cara diupayakan Belanda untuk menaklukkan Gowa. Meski begitu, Gowa bukanlah kerajaan yang mudah diatasi oleh orang-orang Belanda. Ketika itu, orang-orang Gowa-Tallo sudah kenal teknologi senjata api dan bumi Nusantara punya bahan baku untuk dijadikan bubuk mesiu. Banyak orang membuat bedil sendiri. Kondisi Gowa yang sulit ditaklukkan itu membuat Belanda mencoba peruntungannya dengan bergeser ke Maluku. Namun di sana pun sama, Belanda kesulitan untuk menganggu Kesultanan Ternate. Seperti Gowa, Ternate juga sahabat Portugis. Maka ketika kabar Gowa dan Ternate mulai diganggu, Portugis yang berpusat di Malaka –dan juga sudah mulai diganggu oleh Belanda– tak tinggal diam. Portugis, yang sudah sejak 1511 berkuasa atas pelabuhan internasional Malaka, rela berbagi dengan sekutu-sekutu lokalnya demi keamanan. “Salah satu bantuan yang paling penting, di samping kerjasama, bantuan senjata dan amunisi, adalah pembenahan armada laut Kerajaan dengan memberikan instruktur dalam membangun kapal perang tipe gallei,” catat Mukhlis Paeni dkk. Sejarah Kebudayaan Sulawesi . Bentuk gallei atau galeon itu mirip dengan dengan model kapal Portugis Flor de la Mar yang karam –setelah merampas banyak emas dari Malaka– di perairan Aceh pada 1511. Gallei yang diperkenalkan Portugis kepada Gowa itu pun menjadi kapal andalan Kerajaan Gowa. Teknologi kapal di Sulawesi Selatan, yang sudah eksis jauh sebelum itu, jadi berkembang karenanya. “Gowa menyusun satu armada perang yang kuat. Kapal- kapal perang Gowa berbentuk jung yang panjangnya sampai 27 meter dan lebar perutnya 5 meter. Kapal-kapal kenaikan raja dan laksamana pada umumnya berbentuk galle (galei),” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan . Di zaman Sultan Alaudin, tepatnya 1620-an, banyak kapal berbentuk gallei dibuat untuk Gowa. Kapal-kapal itu membuat Gowa bisa terlibat dalam pertempuran laut melawan armada laut Belanda. Gowa, disebut Nasaruddin Koro dalam Ayam Jantan Tanah Daeng , adalah penghalang besar bagi VOC dalam hal perdagangan antar-pulau. Terutama di wilayah yang kini jadi Indonesia Timur. Kuatnya armada laut Gowa membuat Sultan Alaudin tak semata menggunakannya untuk mengamankan wilayah kerajaannya saja, tapi juga memberi bantuan pada sekutu-sekutunya yang membutuhkan. Pada 1631-1634, bentrokan antara armada Ternate dengan armada VOC terjadi Kepulauan Maluku. Sebagai sahabat sejak zaman Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tunijallo berkuasa, Sultan Alauddin pun mengirimkan 100 kapal untuk membantu Ternate melawan armada VOC dalam perang yang disebut Perang Hongi itu. Ketika itu Belanda berusaha memonopoli cengkeh dengan menghancurkan cengkeh-cengkeh milik pesaingnya. Sepeninggal Sultan Alauddin, kekuatan militer kerajaannya tetap terjaga. Penerus-peneursnya, yakni Sultan Malikussaid I dan Sultan Hasanuddin –cucu Alauddin, terus menjaga warisan Sultan Alauddin itu. Alhasil, VOC masih tetap kesulitan untuk mengalahkan Gowa. Untuk menghormati jasa-jasa Sultan Alauddin, namanya pun diabadikan menjadi nama Universitas Islam Negeri (UIN) di Makassar.*
- Senandung Nada di Lokananta
DI jantung Kota Solo, terdapat tempat yang menjadi saksi perjalanan musik Indonesia. Di antara riuhnya tradisi dan gema seni Nusantara, tempat ini hidup sebagai ruang yang bersenandung sejak tahun 1956. Lokananta turut berperan dalam perkembangan karier sosok-sosok hebat nan terkenal seperti Titiek Puspa, Gesang, Waldjinah, Bing Slamet, Sam Saimun, hingga Didi Kempot. Lokasi Lokananta berada di Jalan Ahmad Yani Nomor 379, Kerten, Solo, Jawa Tengah. Dalam Pekan Kebudayaan Nasional, Senin-Minggu, 7-13 Oktober 2019 terbitan Direktorat Jenderal Kebudayaan disebutkan Lokananta menyimpan lebih dari 53.000 piringan hitam dan 5.670 master rekaman bersejarah. Rekaman yang paling fenomenal adalah pembacaan teks Proklamasi kemerdekaan oleh Presiden Sukarno.
- Chemistry Lee Kuan Yew Pada Soeharto
JAUH sebelum Lee Kuan Yew memutuskan untuk melepaskan diri dari Federasi Malaysia pada 9 Agustus 1965, hubungannya dengan Indonesia sudah lebih dulu terjalin. Pada Agustus 1960, dia melakukan kunjungan resmi pertamanya ke Jakarta. Dia menemui Presiden Sukarno yang menjamunya di Istana Merdeka. Namun, dalam 20 menit perbincangannya itu, Lee Kuan Yew menemukan Sukarno berlawanan dari yang dia kagumi sebelumnya. Menurutnya, Sukarno terlalu “angkuh” dan dia kurang nyaman dengan sikap Sukarno yang menempatkan dirinya seakan seorang kakak yang selalu menasihati adiknya.






















