top of page

Hasil pencarian

9796 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Cara Barat Memata-matai Soviet Lewat Tisu Toilet

    SETELAH Nazi kalah dalam Perang Dunia II, Jerman diduduki negara-negara pemenang perang. Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis mengelola wilayah Jerman Barat, sementara Jerman Timur dikuasai Uni Soviet. Namun, ketegangan baru muncul antara Barat dan Timur yang menandai Perang Dingin. Masing-masing mengerahkan mata-mata untuk mendapatkan informasi pengembangan sistem keamanan dan pertahanan. Misi mata-mata Barat yang produktif dan berpengaruh adalah Operasi Tamarisk. Menurut Andrew Long dalam BRIXMIS and the Secret Cold War: Intelligence Collecting Operations Behind Enemy Lines in East Germany, Operasi Tamarisk adalah aksi mata-mata yang dilakukan dengan memilah sampah para tentara Soviet di wilayah Berlin Timur. Sampah-sampah itu umumnya robekan kertas yang digunakan serdadu Soviet untuk membersihkan diri setelah buang air besar.

  • Ganden Sang Ksatria

    MATAHARI masih bersinar ketika sekelompok orang Aceh membawa rotan dan melintas dekat bivak serdadu KNIL di Keumala Raja, Pidie, Aceh, pada 20 Juni 1907. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Bivak kala itu sudah ditutup. Salah seorang Aceh itu lalu mendatangi petugas bivak dan menyerahkan sebuah izin. Rekan-rekannya kemudian langsung membuang rotan mereka. Terlihatlah bahwa mereka sedang memegang klewang yang sedari tadi disembunyikan di dalam rotan. Perlawanan rakyat Aceh terhadap militer Hindia Belanda masih berkobar di Keumala Raja. Belanda sudah mereka cap sebagai kafir. Para serdadu Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) tentu menjadi sasaran orang-orang Aceh itu.

  • Kakek Glenn Fredly Disiksa Jepang

    SEBELUM tentara Jepang datang, Peter Dominggus Latuihamallo adalah siswa Hoogere Theologische School (HTS) di Batavia. Peter masuk jenjang pendidikan itu setelah selesai belajar di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Makassar. Menurut Karel Stenbrink dalam A History of Christianity in Indonesia, HTS berdiri di Bogor pada 1934 dan pindah ke Batavia pada 1936. Belakangan, sekolah ini menjadi Sekolah Tinggi Teologi (STT). Ketika Peter belajar di HTS, banyak pengajarnya orang Belanda. Karena itulah begitu Jepang menduduki Jawa pada Maret 1942, sekolah ini tak bisa berjalan lagi. Banyak pengajarnya ditawan oleh tentara Jepang.

  • Angan-Angan “Kemenangan”

    PAGI itu, pukul 10, Selasa, 20 November 1917, ratusan orang berkumpul di ruang sidang gedung Pengadilan Tinggi (Raad van Justitie) Semarang. Mereka hendak menyaksikan persidangan yang tidak biasa: seorang Belanda totok dimejahijaukan. Henk Sneevliet, nama pesakitan itu, diadili atas tuduhan persdelict (menghasut rakyat lewat tulisan untuk melawan pemerintah kolonial) melalui artikelnya yang berjudul Zegepraal (Kemenangan) yang dimuat De Indiers, 19 Maret 1917. Kisah pengadilan Sneevliet bermula dari kabar revolusi di Rusia. Pada 8 dan 9 Maret 1917 kaum buruh di Petrograd turun ke jalan, demonstrasi besar-besaran sambil menyanyikan Mareseillese. Tentara dikirim untuk membubarkan demonstrasi. Alih-alih menembaki demonstran, mereka malah berbalik mendukung. Revolusi Rusia meletus hari itu. Lewat secarik telegram pada 18 Maret 1917, Sneevliet menerima kabar revolusi di Rusia itu. Terinspirasi revolusi di Rusia, dia bergegas menulis artikel yang diberi judul Zegepraal (Kemenangan). Melalui artikelnya, Sneevliet mengajak kaum buruh di Hindia Belanda bangkit melawan kolonialisme dan imperialisme.

  • Kerja Revolusioner di Tanah Jajahan

    PERSETERUAN Henk Sneevliet dengan kaum sosialis moderat di Belanda membuatnya kehilangan pekerjaan. Dia dicopot sebagai ketua Serikat Buruh Kereta Api Belanda (NVSTP) yang berada di bawah kendali SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat) karena bergabung dengan pecahannya, SDP (Partai Sosial Demokrat) –kemudian menjadi Partai Komunis Belanda. Sneevliet meninggalkan SDAP karena kaum sosialis moderat itu menolak mendukung demonstrasi kaum buruh pelabuhan di Amsterdam. Tak ada lagi pekerjaan sejenis yang ditemukannya di Belanda. Kebanyakan swasta enggan mempekerjakan seorang penyulut api tersohor seperti dirinya. Dia memutuskan mencari peruntungan ke Hindia Belanda. “Sneevliet datang ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan, tetapi rasa panggilan revolusionernya membuatnya tak terhindarkan bahwa kegiatan utamanya ialah memberikan khotbah akan keyakinan politiknya,” tulis sejarawan Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia.

  • Kolonel Junus Jamosir Digunjing Setelah G30S

    SEBAGAI orang kedua di jajaran intelijen Angkatan Darat, Kolonel Junus Samosir selalu melaporkan informasi penting kepada atasannya Mayjen S. Parman. Apakah itu menyangkut keamanan dalam negeri maupun isu politik nasional yang sedang hangat. Pada Oktober 1964, Junus Samosir melaporkan gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada Jenderal Parman. “Setelah laporan-laporan dari lapangan disaring, maka hasilnya disampaikan kepada Letnan Jenderal Yani pada tanggal 13 September 1965. Tetapi ketika disampaikan kepada Bung Karno, Yani mendapat teguran keras, ‘Yan, ojo phobi,’ kata Bung Karno,” seperti dicatat Payaman Simanjuntak dalam Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn.) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan. Data intelijen yang dipasok Junus Samosir sehubungan dengan kedudukannya sebagai Wakil Asisten (Waas) I Menpangad. Sementara, Mayjen S. Parman menjabat Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen (SUAD I), sedangkan Letjen Ahmad Yani menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad).

  • Junus Samosir, D.I. Panjaitan, dan G30S

    SEKALI waktu, Kolonel Junus Samosir bertandang ke kediaman sahabatnya Brigjen Donald Isaac Pandjaitan di Jalan Hasanuddin, Kebayoran, Jakarta Selatan. Di dalam kamarnya, Pandjaitan memperlihatkan sebuah senapan kepada Junus Samosir. Keduanya memang sahabat seperjuangan sedari lama. “Lihat Lae (ipar), ini senjata untuk berjaga-jaga. Lae juga bikin seperti ini di rumah, apalagi kamu intel,” kata Pandjaitan kepada Junus Samosir seperti terkisah dalam biografi Keteladanan Mayor Jenderal TNI (Purn) Junus Samosir dan Landasan Moral Pembangunan yang ditulis Payaman Simanjuntak. Waktu itu, bulan September tahun 1965, beberapa hari menjelang peristiwa Gerakan 30 September (G30S). Junus Samosir adalah Wakil Asisten (Waas) I/Intelijen Menpangad. Dalam jajaran SUAD I, Samosir merupakan orang nomor dua setelah Asisten I/Intelijen Menpangad Mayjen S. Parman. Sementara itu, Pandjaitan menjabat Asisten IV/Logistik Menpangad.

  • Cara Farid Hardja Bikin Lagu

    GITARIS band Gigi Dewa Budjana punya kenangan pahit maupun manis dengan penyanyi legendaris Farid Hardja. Suatu kali, Budjana muda hendak mendatangi penyanyi unik yang dandanan sewaktu mudanya mirip Elton John itu. Berbekal sebuah surat, Budjana pun mendekat Denny Sabrie yang menjadi manager band Bani Adam yang didirikan Farid. “Farid lagi sibuk, jadi nggak bisa ketemu,” kata Denny Sabrie kepada Budjana, yang hanya bisa melihat Farid Hardja dari kejauhan, dikutip Adib Hidayat dalam Gigi: Peace, Love & Respect. Budjana pun pulang dengan kecewa. Bagi Budjana, itu adalah pengalaman pahit. Tak jadi bertemu bintang idola. Namun, Budjana tak pernah putus asa. Pada 1988, dirinya sudah berada di Jakarta jadi gitaris dan akrab dengan industri musik Indonesia. Pada tahun-tahun itu, laki-laki kelahiran Agustus 1963 itu jadi session player yang kerap mengiringi banyak penyanyi dalam rekaman. Termasuk Farid Hardja. Bedanya, kini Farid sudah paham kemampuan Budjana. Budjana pernah indekos di daerah Pondok Karya. Farid pernah menghampirinya di sana. Budjana semula tidak yakin bahwa Farid yang datang bertamu. Baru setelah melihat Farid keluar dari taksi, Budjana yakin itu adalah Farid. “Ayo rekaman, Budj,” kata Farid mengajak sang gitaris. Farid, yang kelahiran Sukabumi pada 7 September 1950, sudah jadi penyanyi sohor di awal era 1990-an itu. Lagu-lagunya seperti “Asmara”, “Karmila”, “Romantika Di Amor”, “Ini Rindu” kerap muncul di televisi dan mengalun radio hingga disukai banyak pendengar musik Indonesia. Musik pop Farid diperkaya dengan rap dan reggae. Capaian itu jelas tak setahun-dua diupayakan Farid. Setidaknya Farid sudah terjun ke dunia musik sejak usia belasan tahun, sekitar 1966. Dia terbiasa dengan lagu-lagu berbahasa Inggris macam karya-karya The Beatles maupun lagu-lagu pop Indonesia hasil karya Koes Bersaudara dan lain-lain. Waktu musik rock n’roll yang dicap Sukarno sebagai “Ngak Ngik Ngok” dilarang –termasuk oleh stasiun milik negara Radio Republik Indonesia (RRI), Farid malah menikmatinya. “Saya hanya bisa dengar dari Radio Malaya, waktu itu. Namanya memang Malaya, bukan Malaysia. Atau Radio Singapura, atau Radio Australia. Jam-jam tertentu, kapan ada jam acara musik saya tahu. Sehingga saya punya jadwal dengar lagu, seperti punya piringan hitam sendiri,” kenang Farid Hardja kepada Mutiara, 24-30 Januari 1995. Selain di radio, kala itu musik bisa didengarkan lewat kaset pita dan piringan hitam. “Saya bisa menghafal lewat radio-radio. Meskipun bahasanya kacau,” aku Farid. Meski begitu, teman-teman Farid terus mendorong Farid yang bersemangat. Mereka pun menasehati Farid. “Farid kamu kalau nyanyi lagu Inggris, di-inggris-kan lagi ya,” kata mereka. Entah kenapa, Farid belakangan justru lebih sering menyanyikan lagu-lagu berbahasa Indonesia. Mungkin dia insyaf pasarnya adalah orang Indonesia yang saat itu mayoritas masih belum “melek” Inggris. Meskipun begitu, Farid sadar akan penampilan. Setidaknya itu mungkin bisa dijual meskipun lagu-lagunya “melempem”, terbukti dari tidak berkibarnya nama Farid meski sudah bikin album berisi lagu-lagu berbahasa Indonesia di Bandung. Maka, dandanan Farid di era 1970-an sengaja dibuat mirip Elton John dan itu konsisten dia tampilkan. Keunikan itu agaknya yang menjadi nilai plus bagi Farid. Suatu kali di pertengahan 1970-an, Denny Sabrie sebagai salah seorang pencari bakat musik, bertemu dengannya. Farid kala itu sudah punya band bernama Bani Adam. Denny pun melihat keunikan Farid yang bisa “dijual”. “Waktu itu Denny Sabrie mengenalkan saya dengan Jackson Records,” aku Farid. Jackson Records merupakan label milik Jackson Arief (1949-1994) yang berada di kawasan Glodok, Jakarta Barat. Senang membuat gebrakan dengan menawarkan hal baru, label yang awalnya produsen film tersebut melahirkan nama-nama beken seperti Vina Panduwinata, Franky and Jane, dan Ebiet G. Ade. Jackson Records yang senang menggebrak sesuatu yang konvensionil, kepincut pada Farid. Menawarkan hal baru pada pecinta musik tanah air saat itu yang masih didominasi lagu-lagu sendu kemungkinan jadi alasan di balik kerjasama Jackson Records dan Farid. “Buktinya, sesudah meninggalkan bisnis elektronika, Jackson (awal 1978) menggaet Farid Bani Adam (Farid Hardja) –penyanyi asal Sukabumi, bertubuh gempal dan botak – ke studio rekamanannya. Saat itu udara musik pop masih dikuasai warna sendu nyanyian Koes Ploes dan Kelompok Favourite,” kata buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984. Kerjasama Farid dan Jackson Records pun sukses melahirkan album Karmila. Dalam album itu, Farid diiringi rekan-rekannya di band bernama Bani Adam –dinamakan demikian karena Farid yakin kita semua adalah keturunan Nabi Adam. Album Karmila dengan hits berjudul sama, “Karmila”, menjadi album sukses pertama Farid. Lagu “Karmila” sendiri termasuk salah satu lagu Farid yang terkenal dan diingat banyak pendengarnya. Karmila melejitkan nama Farid. Meski kemudian dirinya berganti label, nama Farid sudah menjadi jaminan bagi album-albumnya berikutnya. Tak hanya menyanyi, Farid pernah jadi pemain bass ketika main band semasa muda. Farid juga pandai membuat lagu. Dalam mengarang lagu, biasanya setelah nada-nada tersusun di kepala, Farid akan mengeluarkannya dengan menyanyikannya dengan bantuan iringan gitar. Setelah itu, barulah lagu akan ditata dengan bantuan penata musik. Dia tidak tergantung pada alat musik tertentu untuk menuliskan lagu. “Saya nggak pernah terikat sebab saya jalan kaki juga terus mengarang di otak. Kepala saya terus membuat lagu. Apakah itu sedang di mobil, jalan kaki dan di mana saja. Saya tidak pernah terikat pada alat musik,” ujar Farid yang tutup usia di Jakarta pada 28 Desember 1998.*

  • Debus dan Tarekat di Banten

    TAJAMNYA golok tak mampu mengiris lidah pemain debus. Racun kalajengking tak mempan padanya. Linggis dari besi bengkok di tangannya. Kesaktian dan kekebalan pemain debus membuat beragam senjata tajam tak ada apa-apanya di tubuh mereka. Debus terkenal berasal dari Banten. Namun, atraksi ini juga dikenal di Cirebon, Maluku, Aceh, tersebar ke Perak, Semenanjung Melayu. Permainan ini berakar dari tarekat yang menyebar ketika Islam masuk ke Nusantara. “Itu semua tempat yang sering didatangi pedagang rempah. Debus ini menjadi indikasi pemakaian tarekat. Orang debus biasa membaca ratib dan sebagainya,” kata Martin van Bruinessen, ahli studi tentang Islam dari Utrecht University, Belanda, dalam diskusi daring bertema “Tradisi dan Jaringan Sufisme di Jalur Rempah: Mencari Akar Kosmopolitan Islam Nusantara”, Sabtu, 24 April 2021.

  • Batik Romusha dari Banten Selatan

    KETIKA menduduki Indonesia, Jepang mengerahkan ribuan orang terutama dari Jawa untuk menjadi romusha atau pekerja paksa. Mereka membangun proyek-proyek militer Jepang untuk menunjang kepentingan perang, seperti lapangan terbang, jalan, rel kereta api, gudang persenjataan, dan kubu pertahanan. Romusha dikirim ke berbagai daerah bahkan luar negeri. Salah satunya ke Bayah, Kabupaten Lebak, Banten Selatan. Mereka bekerja membangun rel kereta api Saketi–Bayah sepanjang 90 kilometer dan menggali batu bara. Tokoh revolusioner Tan Malaka pernah bekerja di Bayah. Pembangunan rel kereta api Saketi–Bayah menelan banyak korban romusha. Tan Malaka mendapat cerita tentang asal-usul Saketi. Kata Saketi berasal dari bahasa Sunda, yang artinya 100 ribu, mengacu pada ramalan korban pembuatan jalur kereta api Saketi–Bayah.

  • Lapangan Banteng dari Hutan Jadi Taman

    TERIK mentari, tiupan angin, dan tebaran debu tak menyurutkan semangat anak-anak berlatih sepakbola di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka menggiring bola melewati rintangan-rintangan sambil terus mendengarkan instruksi pelatih. “Sebenarnya pengen jamnya kita ubah, cuma masalahnya banyak tim lain yang sewa,” ujar Angela Handayani, sekretaris Sekolah Sepakbola Plus Football Academy. Sejak dijadikan taman kota oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1981, Lapangan Banteng menjadi area publik yang menarik buat warga kota. Nyaman untuk tempat bercengkerama, enak buat olahraga, bahkan aman untuk kencan ataupun transaksi prostitusi jalanan. Lapangan Banteng mulanya belantara dan rawa yang menjadi rumah bagi binatang buas, dari banteng hingga harimau. Konflik hewan-manusia kerap terjadi. Sampai-sampai Kongsi Dagang Belanda (VOC) pada 1762 memberi hadiah besar kepada seorang pemburu yang berhasil menaklukkan 27 ekor macan kumbang.

  • Kedaulatan Ekonomi, Pesan Inti yang Terlupa dari KAA

    KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga. Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID. Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya.

bg-gray.jpg
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
bg-gray.jpg
VOC mengeksekusi 10 orang Inggris, 10 tentara bayaran Jepang, dan 1 orang Portugis yang dituduh berencana menyerang Benteng Victoria di Ambon tahun 1623.
bg-gray.jpg
Istilah tante girang populer pada 1970-an kendati sudah menggejala dua dekade sebelumnya. Sastra populer merekamnya sebagai potret sosial.
bg-gray.jpg
Dalam novel-novel karangannya, Motinggo Boesje menyuguhkan bumbu seksualitas dan erotisme yang digandrungi pembaca. Di akhir masa kepengarangannya, dia menekuni sastra serius.
bg-gray.jpg
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
bottom of page