top of page

Hasil pencarian

9726 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Situasi Mencekam Sebelum Supersemar

    HARI Jumat, 11 Maret 1966, Presiden Sukarno mestinya memimpin rapat Kabinet Dwikora II atau Kabinet Dwikora yang Disempurnakan. Namun, sejak pagi, para demonstran telah menutup jalan menuju Istana Negara, tempat para menteri akan bersidang. Mereka menolak karena Sukarno masih menyertakan menteri-menteri yang dicurigai terlibat Gerakan 30 September 1965. “Pagi-pagi sekali sebelum sidang dibuka ribuan mahasiswa datang berbondong-bondong menuju Istana. Mereka mendesak masuk ke halaman Istana,” tutur Soebandrio dalam Soebandrio: Kesaksianku tentang G30S . Saat itu, Soebandrio menjabat Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I.

  • Kisah Ibrahim Adjie dan Supersemar

    JUMAT, 11 Maret 1966. Telepon di kediaman Mayjen TNI Ibrahim Adjie berdering siang itu. Begitu diangkat oleh Pangdam III/Siliwangi tersebut, terdengar suara Letjen TNI Maraden Panggabean, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, di seberang sana. Dia memberi kabar bahwa Presiden Sukarno telah diamankan dari Jakarta ke Bogor, menyusul terganggunya sidang kabinet di Istana Negara karena kehadiran pasukan liar. Sekira jam 15.00, giliran Komandan Resimen Tjakrabirawa Brigjen Moh. Sabur yang menelepon Adjie. Dia menyampaikan pesan dari Presien Sukarno agar Adjie menghadap ke Istana Bogor hari itu juga. “Dengan mengendarai jip, Bapak langsung berangkat dari Bandung untuk menghadap Bung Karno,” kenang Kikie Adjie, salah satu putra Ibrahim Adjie, kepada Historia.ID .

  • Sukmawati Sukarnoputri: Supersemar Merupakan Tes Kesetiaan

    SUPERSEMAR atau Surat Perintah 11 Maret 1966 yang diberikan Presiden Sukarno kepada Letjen TNI Soeharto merupakan tes kesetiaan. Hal itu dinyatakan Sukmawati Soekarnoputri saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Membaca Sejarah: 51 Tahun Supersemar vs 19 Tahun Reformasi” yang diselenggarakan PARA Syndicate di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (10/3/2017). “Jadi, sebetulnya bagi Bung Karno ini suatu surat tes. Soeharto ini sebenarnya masih mau patuh atau tidak dengan pemerintah,” ujar Sukmawati. Sukmawati mengatakan bahwa isi surat itu salah satunya adalah untuk tetap patuh dalam bertindak dan bermusyawarah dengan para panglima, bukan hanya dengan Angkatan Darat. Namun, pada praktiknya, Soeharto lebih memilih bertindak sendiri.

  • Supersemar Supersamar

    SUPERSEMAR atau Surat Perintah 11 Maret 1966 telah berusia lebih dari setengah abad. Namun, ia masih diselubungi kontroversi. Ada tiga kontroversi di seputar Supersemar: proses mendapatkan surat itu, interpretasi perintah dalam surat itu, dan naskah surat itu sendiri.   Proses pembuatan Supersemar diyakini dengan paksaan karena sebelum tiga jenderal, terlebih dahulu dikirim dua pengusaha untuk membujuk Sukarno menyerahkan kekuasaan kepada Letjen TNI Soeharto. Artinya, ada upaya aktif untuk meminta Sukarno menyerahkan kewenangannya kepada Soeharto.  Soeharto sebagai penerima Supersemar tidak menjalankan apa yang diperintahkan dalam Supersemar. Dengan Supersemar, dia membubarkan PKI. Supersemar ditafsirkan sebagai pelimpahan kekuasaan, yang kemudian dibantah oleh Sukarno.   Terakhir, naskah Supersemar yang otentik hingga kini belum ditemukan. Arsip Nasional Republik Indonesia menyimpan tiga versi Supersemar. Semuanya bukan yang otentik. Belum ditemukan Supersemar yang otentik tidak mengurangi kelengkapan narasi sejarah tentang pergantian kekuasaan tahun 1965/1966.  Berikut ini laporan khusus Supersemar:  Sukarno Ditodong Senjata? Misi Pengusaha Sebelum Supersemar Menjejaki Supersemar Asli Tiga Versi Supersemar Memburu Surat Sakti Praktik Klenik Surat Sakti Situasi Mencekam Sebelum Supersemar Surat Perintah yang Terlupakan Kontroversi Seputar Supersemar Kisah Ibrahim Adji dan Supersemar Meringkus Loyalis Sukarno Soeharto Rekayasa Penyerahan Supersemar Sukmawati Sukarnoputri: Supersemar Merupakan Tes Kesetiaan

  • Kontroversi Seputar Supersemar

    SURAT Perintah 11 Maret 1966 atau dikenal dengan Supersemar hingga kini masih diselubungi kontroversi. Ada tiga kontroversi di seputar Supersemar, yaitu teks, proses mendapatkannya, dan interpretasi perintah dalam surat itu. Demikian diungkapkan sejarawan Asvi Warman Adam dalam diskusi “Supersemar: Penulisan dan Pelurusan Sejarah” yang digelar Komunitas Penulis Penerbit Buku Kompas di Bentara Budaya, Jakarta, (10/3). Pembicara lain adalah sejarawan Jepang Aiko Kurasawa dan Daniel Dhakidae. Menurut Asvi, naskah otentik Supersemar sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menyimpan tiga versi Supersemar. Namun, setelah diuji laboratorium forensik Mabes Polri, semuanya tidak otentik atau tidak asli. Meski demikian, ANRI tetap menyimpannya sebagai pembanding jika suatu saat nanti naskah otentik Supersemar ditemukan.

  • Cerita Para Bintang Telenovela di Indonesia

    ANDITYA Restu Aji masih ingat kejadian seperempat abad silam. Siang itu, sang ibu menjemputnya sepulang sekolah di SD Marsudirini, Yogyakarta. Rencana pulang ke rumah mendadak berubah setelah salah satu orang tua murid, teman Anditya, mengajak ibunya ke alun-alun. “Mbak, ayo ke depan Kantor Pos dan BNI (Titik 0 KM Jogja). Paulina sedang diarak menuju Alun-Alun Lor (Alun-Alun Utara)!” ajaknya kepada ibu Anditya penuh antusias seperti dikisahkan ulang Anditya (35) kepada Historia.ID . Masyarakat Yogyakarta berduyun-duyun datang ke alun-alun pada hari itu. Mereka ingin menyaksikan Gabriela “Gaby” Spanic. Nama Gaby melejit di tengah publik Indonesia setelah sukses membintangi telenovela Meksiko La Usurpadora  ( Cinta Paulina ) yang tayang di TPI pada 1999. Gaby Spanic, seperti diberitakan Bali Post , 2 April 2000, menggelar jumpa penggemar dan pawai keliling kota Yogyakarta pada 2 dan 3 April 2000, bertepatan dengan hari Minggu dan Senin. Kunjungannya pada hari kedua membludak karena anak-anak sekolah turut menyambutnya.

  • Singapura Tak Terima KRI Usman Harun

    Angkatan Laut Republik Indonesia berencana menamai salah satu kapal barunya KRI Usman Harun. Pemerintah Singapura pun protes, menganggap penamaan itu akan melukai perasaan rakyat Singapura, terutama keluarga korban pengeboman MacDonald House pada 1965. Pada 10 Maret 1965, pukul 15.07, bom meledak di gedung Hongkong and Shanghai Bank atau dikenal dengan MacDonald House di Orchard Road, Singapura, tujuh menit setelah bank tutup kendati karyawannya masih menyelesaikan pekerjaan. Bom seberat 9-11 kg berbahan nitrogliserin itu diletakkan di dekat lift. Tiga orang tewas, dan setidaknya 33 orang lainnya luka-luka.

  • The Confrontation that Devastated Singapore

    ON March 10, 1965, at 3:07 p.m., a bomb exploded in the MacDonald House building on Orchard Road, Singapore. The building, which was used then by HSBC, shattered by the bomb only seven minutes after its closing time. Many office workers who were inside the building, including Rosie Heng, an employee of the Malaya Borneo Building Society on the fourth floor, mistook the blast for a lightning in heavy rain. Instead of a lightning, the deafening sound came from a nitroglycerine bomb placed near the building’s lift, where the bomb tore through the door and destroyed the walls around it. Not far from the lift was the bank's correspondence office, where Suzie Choo, 36, personal secretary to the bank manager, and Juliet Goh, 23, a bank clerk, worked. Both died instantly and were buried under the rubble. The third victim, Mohamed Yasin bin Kesit, driver for the Malaya Borneo Building Society, died a few days later after slipping into a coma. At least 33 other people were injured.

  • Konfrontasi Sampai Mati

    PADA 10 Maret 1965, pukul 15.07, bom meledak di gedung MacDonald House di Orchard Road, Singapura, tujuh menit setelah bank tutup. Banyak pekerja kantor di gedung itu, seperti Rosie Heng, karyawan Malaya Borneo Building Society di lantai empat, mengira ledakan itu adalah petir di tengah hujan deras. Bom berbahan nitrogliserin yang diletakkan di dekat lift merobek pintu dan menghancurkan dinding bagian dalam. Di sisi lain dinding adalah kantor korespondensi bank, di mana Suzie Choo (36 tahun), sekretaris pribadi manajer bank, dan Juliet Goh (23 tahun), pegawai arsip bank, bekerja. Keduanya tewas seketika dan tertimbun reruntuhan. Korban ketiga, Mohamed Yasin bin Kesit, sopir Malaya Borneo Building Society, meninggal beberapa hari kemudian. Setidaknya 33 orang luka-luka.

  • KRI Irian dan Pemetik Bass Genesis

    KENANGAN masa kecil, apalagi yang jarang didapati, biasanya amat membekas pada diri seseorang dan akan terpatri dalam ingatan orang yang mengalaminya. Itu juga dialami Michael John Cleote Crawford Rutherford alias Mike Rutherford, musisi sekaligus pembetot bas grup rock Inggris Genesis.   Pada April 1956, dirinya diajak ayahnya mengunjungi kapal perang besar yang sedang bersandar di Pelabuhan Portsmouth, Inggris. Meskipun tidak paham, Mike kecil amat senang bisa menjejakkan kaki di atas kapal tersebut.     “Kapten minum teh di rumah kami, saya diundang untuk menghabiskan hari berikutnya di atas kapal sebagai balasan,” kenang Mike dalam The Living Years  The First Genesis Memoir .   Pengalaman Mike tentu tak bisa dirasakan banyak anak sebayanya. Pasalnya ayah Mike, Kapten Angkatan Laut –setara kolonel di Angkatan Darat– William Francis Henry Crawford Rutherford (1906-1986), merupakan komandan Sekolah Meriam di Pulau Whaley, Pelabuhan Portsmouth sehingga termasuk orang penting yang dihormati di sana. William, yang pernah terlibat dalam Perang Dunia II, merupakan anak Kolonel Nathaniel John Crawford Rutherford (1874-1960), perwira di Korps Kesehatan Angkatan Darat Kerajaan Inggris yang terlibat dalam Perang Dunia I.   Pada April 1956 itu, setahun setelah William diangkat menempati posisi tadi, Pelabuhan Portsmouth kedatangan tamu agung, yakni kapal penjelajah AL Uni Soviet kelas Sverdlov, Ordzhonikidze . Kapal penjelajah sepanjang 210 meter itu tiba untuk mengantar Perdana Menteri Soviet Nikita Kruschev. Dalam prosesi itulah Mike mendapati saling jamu antara ayahnya dengan kapten kapal.   Namun, muhibah kapal Soviet itu “dicoreng” oleh hilangnya Letnan Lionel Kenneth Phillips Crabb (1909-1956), penyelam legendaris Inggris, dekat kapal tersebut. Hilangnya Crabb –baru 14 bulan kemudian mayatnya ditemukan dan menginspirasi Ian Fleming menggarap Thunderball  dalam serial James Bond-nya– memunculkan ketegangan di tengah kecamuk Perang Dingin itu.   Selesainya masalah bilateral tersebut tak mampu membendung spekulasi kematian Crabb yang terus menggelinding bak bola salju. Spekulasinya bahkan terus bergulir hingga awal 2000-an, jauh setelah kapal Ordzhonikidze  musnah. Kapal Ordzhonikidze  sendiri pada 1962 menjadi milik Angkatan Laut Republik Indonesia (RI) setelah dijual lewat perjanjian kerjasama militer RI-Soviet. Setahun kemudian, setelah di-rekomisi, kapal tersebut dinamai KRI Irian .     Soal kapal Ordzhonikidze  menjadi milik Indonesia, Mike tak paham karena masih terlalu muda. Sebagai anak dari perwira angkatan laut, Mike meneruskan jejak ayahnya. Dia bergabung sebagai anak kadet HMS Excellent . Kebanyakan perwira Angkatan Laut ingin mendapat bintang, seperti juga ayah Mike.   “Tapi kemudian dia gagal mendapatkan promosi ke pangkat laksamana dan berharap pensiun dari angkatan laut,” aku Mike di The Guardian  tanggal 24 Januari 2014.   Mike remaja jarang bertemu ayahnya yang kemudian menjadi manager di perusahaan Hawker Siddeley. Dia bahkan dikirim ke sekolah berasrama Charterhouse.   “Sekarang Michael, kamu adalah putra seorang perwira angkatan laut, kamu harus berperilaku seperti perwira angkatan laut dan menjadi kuat di setiap saat,” kata sang ayah berpesan di hari pertama Mike di sekolah asrama itu.   Mike tak menyukai sekolah itu. Satu-satunya hal terbaik adalah dia berkawan dengan Peter Gabriel dan Tony Banks serta peminat musik lain di sekolah itu. Tak hanya main musik, mereka bahkan mulai membuat lagu. Mike bermain bas dalam band mereka, Tony memainkan keyboard, Anthony Phillips bermain gitar, Chris Stewart memainkan drum, dan Peter bernyanyi.   Pada era 1960-an itu, waktu Perang Dingin memanasi dunia, gitar menjadi salah satu alat musik yang makin populer. Musik pop dengan suara gitar menjadi tren anak muda yang membuat golongan tua khawatir. Golongan tua tak suka perubahan Termasuk Kapten William Rutherford yang memasuki usia pensiun.   “Dia percaya bahwa gitar adalah simbol revolusi pemuda dan bahkan melarang saya memainkannya,” aku Mike.   Namun itulah yang dimainkan Mike di masa remaja dan setelahnya. Apalagi ketika berada di asrama Charterhouse tanpa ayahnya.   Kegiatan bermusik akhirnya tak berakhir di Charterhouse. Tony, Peter, Mike bersama Anthony Phillips dan Chris Stewart bahkan berhasil merampungkan album From Genesis to Revelation  (1969) namun tak begitu sukses di pasaran. Mike dan kawan-kawan memutuskan untuk terus berlatih. Bahkan ketika Anthony dan Chris undur diri dari band yang mereka namakan Genesis itu.   “Saya masih tidak mengerti mengapa dia memutuskan untuk mendukung saya setelah semua yang dia habiskan untuk pendidikan saya,” aku Mike.   Agak ironis memang, Ayah Mike yang khawatir tapi malah memberinya uang untuk memberi peralatan. Bahkan lebih dari itu lagi. “Ketika Phil Collins bergabung dengan band sebagai drummer kami pada tahun 1970, orangtua saya mengizinkan kami tinggal di rumah mereka di Farnham saat kami berlatih.”   Setelah Phil Collins dan gitaris Steve Hackett bergabung bergabung dengan Genesis pada 1970, pamor Genesis mulai terangkat. Sepanjang awal 1970-an mereka merilis album Trespass  (1970), Nursery Cryme  (1971),  Foxtrot  (1972), Selling England by the Pound  (1973), dan The Lamb Lies Down on Broadway  (1974).   Manggung jadi sering mereka lakukan di dalam dan luar Inggris Raya. Gaya teaterikal Peter Gabriel ikut mengangkat Genesis di era psikdelic rock berjaya itu. Meski Steve Hackett sebagai lead guitarist  bermain sangat baik, Mike terkadang juga menjadi rhythem guitarist yang mengiringi, dengan tidak meninggalkan bas. Setelah Peter Gabriel keluar, Genesis tetap eksis. Phil Collins maju jadi penyanyi utama meski kerap sambil bermain drum. Warna musik Genesis tentu saja berubah. Setelah era psikedelic berlalu, musik Genesis menjadi lebih catchy  di ranah musik pop. Dengan suara vokal Collins, pada 1976 A Trick of the Tail dan Wind & Wuthering  dirilis dan sukses berlanjut. Di era ini, Mike menulis lagu “Follow You Follow Me”. Belakangan, Mike menulis “Turn It On Again”, “Land of Confusion” dan “Throwing It All Away”.   Di era 1980-an dan 1990-an, Genesis masih berkibar. Rasa popnya cukup diminati pasar.   Meski tak menjadi perwira angkatan laut seperti ayahnya, Mike menemukan kesamaan dirinya dengan ayahnya yang banyak keliling dunia, lewat Genesis yang banyak menggelar konser di berbagai belahan dunia. Mike mengaku, di era awal 1980-an hidupnya berkutat pada album dan tur konser di berbagai negara.   “Seperti dia, saya sering jauh dari rumah dan berkeliling dunia dikelilingi oleh kru yang sangat besar, hanya dia yang memiliki medali dan saya memiliki cakram emas,” terang Mike yang bangga pada ayahya yang ikut dalam pertempuran laut dan ikut menenggelamkan kapal perang Jerman Bismarck .*

  • Genosida VOC di Pulau Banda

    PADA 8 April 1608, Laksmana Pieterszoon Verhoeven, bersama 13 kapal ekspedisi tiba di Banda Naira. Perintah Heeren Zeventien, para direktur VOC di Amsterdam, sebagaimana ditulis Frederik W.S., Geschiedenis van Nederlandsch Indie , kepada Laksamana Pieterszoon Verhoeven: "Kami mengarahkan perhatian Anda khususnya kepada pulau-pulau di mana tumbuh cengkeh dan pala, dan kami memerintahkan Anda untuk memenangi pulau-pulau itu untuk VOC, baik dengan cara perundingan maupun kekerasan." Sejak lama Banda dikenal sebagai penghasil utama pala ( Myristica fragrans ). Bunganya yang dikeringkan disebut “fuli”. Bunga ini membungkus daging buah pala. Sejak dulu pala dan fuli dimanfaatkan untuk rempah-rempah, yang mengundang bangsa Eropa untuk datang. Sesampai di Banda, Verhoeven mendapati Inggris di bawah pimpinan Kapten William Keeling telah berdagang dengan rakyat Banda dan pedagang Belanda. Ia tak senang. Apalagi rakyat Banda tak mau berunding dengannya. Ia pun menuju ke Pulau Naira beserta sekitar 300 orang prajurit untuk membangun Benteng Nassau, di bekas benteng yang pernah dibangun Portugis.

  • Mempertanyakan Solusi Dua Negara Israel-Palestina

    SEIRING gempuran brutal Israel yang masih berkecamuk di Rafah, Jalur Gaza, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyepakati posisi baru Palestina. Ada harapan besar keputusan anyar itu bisa mendorong Palestina menjadi anggota penuh PBB demi melancarkan two-state solution sebagai penyelesaian konflik Palestina-Israel yang berkepanjangan. Sebelumnya, Palestina sekadar berstatus negara pemantau permanen tanpa hak dan kewajiban sebagaimana 193 anggota PBB lainnya. Mengutip laman resmi PBB, keputusan voting di Majelis Umum pada Jumat (10/4/2024) itu berupa status Palestina tetap sebagai negara pemantau permanen namun memiliki posisi baru dengan tujuh hak dan keistimewaan seperti: berhak duduk setara bersama para anggota PBB lain menurut urutan abjad, mengajukan sebuah proposal atau mendukung proposal yang diajukan anggota lain, dan hak anggota delegasi Palestina untuk dipilih sebagai pejabat sidang pleno dan komite utama majelis umum. Keputusan itu dirilis setelah dilakukan voting di antara 193 negara anggota untuk kemudian jadi rekomendasi pengajuannya ke Dewan Keamanan (DK) PBB. Sebanyak 143 anggota setuju, 25 lainnya abstain , dan sembilan sisanya menolak. Mereka yang menolak adalah Argentina, Amerika Serikat (AS), Republik Ceko, Hungaria, Mikronesia, Nauru, Papua Nugini, Palau, dan tentu Israel.

bottom of page