top of page

Hasil pencarian

9875 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Membuka Topeng Psikopat

    VERA Renczi lahir pada 1903 dengan anugerah kecantikan. Namun kecantikan seolah pisau bermata dua untuk putri aristokrat Rumania ini: Vera posesif dan pencemburu meski dihujani perhatian banyak pria. Sepanjang hidupnya, ia menikah dua kali. Masing-masing pernikahan tak berlangsung lama. Kedua suaminya, menurut Vera, meninggalkannya begitu saja. Tak ada yang curiga dengan pernyataannya hingga seorang perempuan melaporkan melihat suami Vera masuk ke rumah dan tak pernah kembali. Polisi yang menggeledah rumah Vera kemudian menemukan 35 peti mayat di ruang penyimpan anggur berisi jenazah pria yang membusuk: dua suami, 32 kekasih, dan putranya, Lorenzo. Vera mengaku terpaksa membunuh Lorenzo karena berniat memerasnya setelah menemukan peti-peti mati itu. Sementara kedua suami dan sejumlah kekasihnya ia racuni dengan arsenik manakala ia merasa cinta mereka berkurang atau telah terbagi dengan orang lain.

  • Empat Pelatih Asing yang Diapresiasi Positif Negeri Besutannya

    BANYAK pelatih asing yang punya prestasi gemilang saat menukangi tim nasional negara-negara berkembang. Meski begitu, cukup langka kesuksesan mereka diapresiasi positif secara resmi. Shin Tae-yong (STY) satu di antara yang sedikit itu. Datang dari negara mapan sepakbola Asia, Korea Selatan, STY memang harus diakui masih nirgelar –baik di level senior maupun timnas U-23– sepanjang menukangi timnas Indonesia sejak Desember 2019. STY dinilai sukses mengangkat sepakbola Indonesia kembali disegani di level Asia dengan membawa timnas senior untuk pertamakalinya sejak 18 tahun lolos babak 16 besar Piala Asia 2023. STY tak hanya mencetak sejarah membawa timnas Indonesia U-23 lolos pertamakali di Piala Asia U-23, tapi bahkan sampai membawa Nathan Tjoe-A-On dkk. melangkah sampai semifinal. Lalu, baru-baru ini STY kembali membuka peluang timnas Indonesia senior ke Piala Dunia 2026 dengan mengantarkannya ke putaran ketiga kualifikasi zona Asia (September 2024-Juni 2025).

  • Philippe Troussier Si Dukun Putih

    STADION Nasional Mỹ Đình di kota Hanoi, Rabu (26/3/2024) malam itu disesaki atmosfer yang campur aduk antara pilu, getir, dan kemarahan puluhan ribu suporter timnas Vietnam usai wasit meniup peluit terakhir. Kekalahan 0-3 dari tim tamu, Indonesia, membuat rasa muak mereka kepada pelatih Philippe Troussier sudah pada titik klimaks. Sejak menggantikan Park Hang-seo di kursi kepelatihan timnas Vietnam pada Februari 2023 silam, Troussier sudah banjir kritik dari publik dan media “Negeri Nguyen” itu. Sebelumnya, ia gagal mengantar Đỗ Hùng Dũng dkk. lolos fase Grup Piala Asia 2023 yang menjadi kegagalan terburuk dalam sejarah sepakbola modern Vietnam. Pun pada Kualifikasi Piala Dunia Zona AFC (Asia) Grup F. Hingga empat laga yang sudah dimainkan, Vietnam baru menang sekali. Terakhir adalah kekalahan tiga gol tanpa balas di kandang sendiri dari Indonesia.

  • Klenik di Balik Final Italia vs Brasil

    ROBERTO Baggio dikenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik Italia dan dunia. Namun, dalam perjalanan kariernya, dia takkan pernah melupakan momen pahit saat gagal mengeksekusi si kulit bundar pada babak adu penalti di final Piala Dunia 1994 kontra Brasil. Tembakannya dari titik putih melayang ke langit Pasadena, Amerika Serikat, sekaligus membuat Gli Azzurri (julukan timnas Italia) gigit jari. Skor akhir tos-tosan 3-2. Brasil menjadi juara Piala Dunia untuk keempat kalinya. Padahal, menilik track record-nya, Baggio tergolong spesialis penendang penalti. “Rekor penaltinya 108 gol dari 122 tendangan (penalti). Rata-rata kesuksesannya 88 persen –masih menjadi rekor pesepakbola Italia,” tulis Ben Lyttleton dalam Twelve Yards: The Art and Psychology of the Perfect Penalty Kick.

  • Para Menteri Hobi Fotografi

    ADA pemandangan unik dalam gelaran KTT G20 yang berlangsung di Bali kemarin. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono tampak membaur dengan kalangan wartawan. Sambil menenteng kamera, Basuki beraksi seperti layaknya jurnalis foto sungguhan. Menteri Basuki terlihat memotret aktivitas Presiden Joko Widodo saat persemian dan pembibitan pohon mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai. Jauh dari lazimnya kesan seorang menteri, Basuki mengenakan topi secara terbalik. Bersama rombongan wartawan, Basuki ikut sibuk mengeker mata lensa guna mengabadikan momentum. Sesekali ia berbincang dengan pemimpin negara anggota G20, seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri India Shri Narendra. Penampilan sang menteri cukup mencuri perhatian. Basuki memang dikenal punya hobi fotografi. Selain fotografi, ia juga berbakat di bidang musik, yakni sebagai penggebuk drum. Menteri yang punya keahlian bermusik mengingatkan kita pula pada Njoto, menteri negara pada penghujung masa kepemimpinan Presiden Sukarno. Njoto terampil memainkan alat musik gesek berupa biola dan selo.

  • Kisah di Balik Foto Eksekusi Pejuang Indonesia

    BERITA dan foto di harian de Volkskrant edisi Jumat 16 Oktober tentang eksekusi di Indonesia pada zaman perang kemerdekaan dulu, diteruskan oleh televisi dan radio Belanda yang lebih lanjut mengupas foto-foto itu. Memang hanya foto dan slides yang ditemukan di Verzetsmuseum (Museum Perlawanan) Gouda, penjelasan lain tidak ada. Kepada NPO-Radio 1, radio publik Belanda, sejarawan Louis Zweers, spesialis foto-foto dekolonisasi Indonesia, menyatakan penemuan terakhir itu tidak menyertakan konteksnya. Itu berarti, demikian Zweers, tidak ada informasi mengenai di mana, kapan, siapa dan apa yang sebenarnya terjadi. Padahal informasi semacam itu, termasuk siapa yang berada di belakang kamera, esensial bagi foto-foto sejarah. Memang, segera setelah foto tersebar, termasuk di media sosial, publik langsung bereaksi dengan melontarkan pelbagai pertanyaan, seperti siapa saja korban eksekusi itu? Di mana dan kapan eskekusi ini terjadi? Mengapa bagian bawah tubuh korban tidak berpakaian dan hanya ditutupi jerami atau rumput? Tidak semua pertanyaan dikupas oleh televisi dan radio Belanda.

  • Ditemukan Lagi: Foto Eksekusi Pejuang Indonesia oleh Tentara Belanda

    FOTO-foto yang memuat kekejaman tentara Belanda semasa agresi militernya di Indonesia kembali ditemukan di Belanda. Pada Jumat, 16 Oktober kemarin harian terkemuka Belanda de Volkskrant memuat berita penemuan tersebut. Secara keseluruhan terdapat 179 foto dan slides yang sebelumnja tidak pernah diumumkan di manapun juga. Pada salah satu foto terlihat jenazah enam pria Indonesia yang telah dieksekusi. Gambar-gambar itu ditemukan di dalam sebuah kamar penyimpan barang berharga yang terletak dalam sebuah bangunan bekas bank di Gouda (Belanda tengah). Bangunan tersebut sekarang merupakan gedung Museum Perlawanan di propinsi Zuid-Holland (Holland selatan). Joost Lamboo yang bertanggung jawab bagi gambar-gambar koleksi museum, menegaskan, “Semua foto ini langsung mengingatkan saya pada foto-foto eksekusi yang pernah diumumkan oleh harian de Volkskrant pada bulan Juli 2012. Pria-pria yang dieksekusi berdiri di pinggir sebuah lubang dangkal. Foto-foto ini dibuat dari jarak yang sanget dekat dan itu luar biasa. Dua dari enam pria itu sebenarnya gampang sekali diidentifikasi siapa mereka.”

  • Gereja Belanda Kutuk Tentara Belanda

    PADA 19 Februari 1949, Tentara Kerajaan Belanda masuk ke Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Malang, Jawa Timur, yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen Protestan. Mereka terperangkap oleh tembakan mitraliur dan tekidanto (mortir Jepang) dari pasukan KCKS (Kesatuan Comando Kawi Selatan) yang dipimpin Letkol J.F. Warrouw. Mereka kehilangan lebih dari 12 orang. “Karena sangat marah, mereka mengambil 12 pasien yang dirawat di rumah sakit kecil di desa Peniwen. Kedua belas pasien yang semuanya sipil orang sipil itu dijajar di tembok Rumah Sakit dan semuanya ditembak mati,” kata Hario Kecik dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia. Saat itu, Hario Kecik yang bernama asli Soehario K. Padmodiwirio berpangkat mayor dan menjabat Kepala Staf Security KCKS. Wim Banu, saksi hidup yang saat itu berusia 14 tahun, mengatakan bahwa Rumah Sakit Panti Husodo itu menempati bangunan Sekolah Rakyat sejak 1947. Ayahnya pernah mengajar di sekolah itu yang terletak di seberang rumahnya.

  • Alex Kawilarang Selalu Dikira Tentara Belanda

    KALAPA Nunggal, Cianjur, 1947. Hari menjelang siang, ketika seorang penduduk secara tergopoh-gopoh datang ke pos TNI setempat. Kepada Prajurit Satibi, ia lantas melaporkan bahwa di ujung desa dua serdadu Belanda tengah menuju ke arah mereka. Dilapori demikian, tentu Satibi panik. Ia lantas memberitahukan kawan-kawan satu seksinya untuk bersiap di titik-titik strategis. “Kami tidak menyangka tentara Belanda bisa menemukan posisi kami yang ada di pelosok terpencil,” kenang Satibi (90 tahun) kepada Historia. Setengah jam telah berlalu, namun dua tentara Belanda itu tak juga menampakan batang hidung mereka. Namun baru saja pasukan kecil itu akan beranjak, tiba-tiba di persimpangan jalan muncul dua lelaki berpakaian khaki. Mereka lantas kembali ke posisi semula dan siap akan menembak, jika lelaki itu tak segera berteriak, “Heh kalian itu kenapa? Di sini saya Kawilarang, komandan TNI!” ujarnya.

  • Penyergapan Tentara Belanda di Tanah Karo

    KOTA Binjai pada 13 Juli 1949 tampak lengang. Prajurit I.J.C Hermans masih ingat hari itu cuaca cerah dan kelihatannya begitu aman, damai dan tenteram. Namun, menjelang petang, keadaan di markas militer Belanda mendadak berubah penuh hiruk-pikuk. “Seorang prajurit dalam keadaan terengah-terengah melapor pada komandan setempat di Binjai. Sang komandan melihat dengan keheranan seorang asing yang tiba-tiba muncul di hadapannya, berpakaian hanya bercelana dalam saja,” kenang Hermans dalam “Ups and Downs in Kompani Doea” termuat dalam kumpulan tulisan, Gedenkboek 5–11 RI. Prajurit yang cuma mengenakan sempak itu bernama Jan van Thoor, anggota kolone perbekalan Belanda yang hendak menuju Desa Telagah di Langkat Hulu. Dia salah satu korban pengadangan di Bukit Gelugur, Rumah Galuh dekat kampung Keriahen, Tanah Karo.

  • Barisan Wanita Pelatjoer, Penyebar Bakteri di Markas Tentara Belanda

    SATYA Graha masih ingat bagaimana pada 1946-1947, perang telah membuat Yogyakarta begitu kumuh. Seiring membanjirnya para pengungsi, kota itu menjadi kawasan yang rawan tindak kejahatan. Para maling berkeliaran bukan saja di malam hari juga di siang hari bolong. Namun yang paling memusingkan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta pun menjadi wilayah teraktif dalam soal transaksi seks. “Praktek pelacuran marak di berbagai sudut kota hingga Yogyakarta saat itu terancam serangan penyakit kelamin,” kenang jurnalis tua yang pernah menghabiskan masa remajanya di Kota Gudeg tersebut. Situasi itu pula yang dikeluhkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX di hadapan Mayor Jenderal Moestopo. Kepada penasehat khusus militer Presiden Sukarno itu, Sri Sultan meminta solusi supaya kota yang dipimpinnya kembali aman dan tentram.

  • Teror Sampar Ditakuti Tentara Belanda

    PADA 1933-1934 wabah penyakit pes merajela di Priangan. Sekitar 15.000 orang Priangan tewas akibat penyakit yang diakibatkan oleh bakteri bernama Yersinia pestis tersebut. Hingga 1939, penyakit pes tetap menjadi hantu yang menakutkan di Jawa. Garut termasuk kawasan yang menyumbangkan korban agak besar. Dalam catatan Adrianus Bonnebaker dalam Over Pest, selama setahun wabah sampar merajalela, ratusan warga Garut telah meregang nyawa akibatnya. Tragedi itu menimbulkan trauma yang mendalam hingga puluhan tahun kemudian. “Zaman itu jika ada tikus dalam jumlah belasan saja terlihat mati di jalanan, ketakutan kami akan wabah penyakit pes muncul kembali,” kenang Ucun (92 tahun), warga asal Cigadog, Garut.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Ryamizard Ryacudu sempat menjadi calon tunggal Panglima TNI, namun gagal karena terganjal faktor politik. Setelah pensiun, Ryamizard diangkat menjadi menteri pertahanan.
bottom of page