top of page

Hasil pencarian

9721 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Merias Wajah Seperti Orang Mesir Kuno

    SENI merias wajah telah dianggap penting sejak zaman kuno. Bahkan, orang Mesir Kuno menghubungkannya dengan kepercayaan dan kesehatan. Semua orang di Mesir Kuno menggunakan riasan wajah. Laki-laki maupun perempuan menggunakan riasan mata, pemulas bibir, dan pemerah pipi. Menurut Fenja Gunn dalam The Artificial Face, a History of Cosmetics , semua masyarakat dari budaya awal ini selalu lebih menonjolkan mata dibanding bagian wajah lainnya. “Mata selalu disebut sebagai cermin jiwa manusia dan di dunia kuno adalah simbol baik dan jahat,” jelasnya.   Di Mesir Kuno, mata adalah simbol Dewa Matahari, Re. Simbol mata pun muncul secara signifikan dalam tulisan hieroglif. “Dengan demikian logis bahwa mata manusia harus diberikan perhatian khusus oleh aksentuasi kosmetik,” lanjut Gunn.

  • Rahasia Membuat Mumi di Mesir Kuno

    BELUM lama ini catatan kuno lain berisi tata cara mumifikasi yang lebih detail sekaligus tertua yang pernah ditemukan di Mesir Kuno, dipublikasikan. Naskah sepanjang 6 m itu diberi nama Papirus Louvre-Carlsberg. Dinamakan demikian karena setengah dari papirus adalah milik Museum Louvre di Paris dan separuh lainnya bagian dari Koleksi Papirus Carlsberg Universitas Kopenhagen. Dua bagian papirus ini awalnya adalah milik dua kolektor. Beberapa bagiannya masih hilang. Naskah itu tengah didalami oleh ahli Mesir Kuno, Sofie Schiødt untuk meraih gelar Ph.D. Berdasarkan paleografinya naskah itu diperkirakan berasal dari sekira 1450 SM.

  • Mumi Berlidah Emas dari Mesir

    BARU-baru ini, penggalian di dekat Alexandria menemukan mumi berusia 2.000 tahun dengan lidah emas. Mumi ini ditemukan oleh tim peneliti gabungan Mesir dan Dominika saat bekerja di Kuil Taposiris Magna, yang berada di pinggiran barat daya Alexandria, di pantai Mediterania Mesir. “Makam itu berisi beberapa mumi yang tidak diawetkan dengan baik, tetapi memiliki jimat berdaun emas berbentuk lidah,” tulis pernyataan resmi Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, sebagimana dikutip laman   DW . Lidah yang ditemukan di Taposiris Magna dimaksudkan untuk membantu almarhum berkomunikasi dengan Osiris dalam perjalanan menuju alam baka. Osiris adalah dewa kematian dan dunia bawah dalam kepercayaan Mesir Kuno.

  • Ratu Mesir di Antara Temuan Baru Saqqara

    MESIR mengumumkan penemuan baru di Situs Saqqara, selatan Kairo pada Sabtu, 16 Januari 2021. Sebanyak 54 sarkofagus kayu berwarna-warni dari periode Kerajaan Baru, yang berlangsung sejak sekira abad ke-16 hingga 11 SM, ditemukan di 22 lubang penguburan pada kedalaman 10-12 m. “Biasanya peti mati kayu dengan mumi di dalamnya adalah milik Kerajaan Lama, tetapi menemukan peti kayu dari Kerajaan Baru itu sendiri merupakan tambahan baru untuk Saqqara,” kata kepala Supreme Council of Antiquities (SCA), Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir, Mostafa Waziri kepada Xinhua. Ketua tim arkeolog, Zahi Hawass, menyebutkan pihaknya juga menemukan papirus sepanjang 4 m yang mewakili bab 17 dari Kitab Orang Mati ( Book of the Dead ). Kitab ini merupakan kumpulan mantra yang ditujukan untuk mengarahkan orang mati melalui dunia bawah di Mesir Kuno.

  • 8 April 1970: Sekolah Dasar di Mesir Dibombardir AU Israel

    HARI ini, 8 April 1970, 50 tahun silam. Ahmed Demeri, bocah berusia delapan tahun penduduk Desa Bahr El-Baqar di Sharqiyah, Mesir, bersama teman sebangkunya yang juga bernama Ahmed, pagi itu sedang antusias memperhatikan guru matematika menerangkan pelajaran. Saat tengah serius mengikuti pelajaran itulah pensil Demeri terjatuh. Demeri langsung membungkukkan badannya untuk mengambil pensilnya di bawah meja. Namun, dia tak sempat kembali ke posisi duduknya semula karena sesuatu yang mengerikan tiba-tiba mendatangi kelas dan sekolah mereka. Demeri tak ingat apa-apa lagi setelah membungkukkan badannya. Saat itu, Mesir dan negara-negara Arab sedang berperang melawan Israel dalam Perang Atrisi. Setelah kalah dari Israel dalam Perang Enam Hari (1967), pertempuran skala kecil antara negara-negara Arab dan Israel terus terjadi. Negara-negara Arab menetapkan kebijakan “Three nos”, yang menetapkan larangan perdamaian dengan Israel, larangan pengakuan terhadap Israel, dan larangan negosiasi dengan Israel sebagai prasyarat sebelum tindakan militer skala besar bisa diambil untuk merebut kembali Sinai Timur, wilayah Mesir yang direbut Israel.

  • Mesir dan Kemerdekaan Indonesia

    KAIRO, 10 April 1947. Seorang petugas imigrasi bertubuh tinggi tegap dengan kumis melintang menghadang empat pria berpakaian kumal, bersandal-sepatu lusuh yang memasuki pintu bandara. Petugas itu mengerenyitkan dahinya saat memeriksa paspor yang disodorkan empat pria tadi. Heran. Paspor yang diserahkan tak berbentuk buku kecil sebagaimana umumnya melainkan secarik kertas lecek  dengan sejumlah keterangan kalau empat pria itu datang dari sebuah Republik bernama Indonesia. Belum habis rasa heran petugas itu, salah seorang yang bertubuh kecil, berkumis dan mengenakan kopiah meluncurkan keterangan, “ Mision diplomatique , dari Indonesia, sebuah negara baru di Asia,” katanya. Lelaki tua itu adalah Haji Agus Salim, the grand old man Republik Indonesia, Menteri Muda Luar Negeri sekaligus pemimpin delegasi.

  • Purnawarman Raja Tarumanagara yang Perkasa

    TARUMANAGARA hingga kini masih tercatat sebagai kerajaan tertua di Jawa. Masa kejayaannya terjadi di era Raja Purnawarman, yang bertakhta dari akhir abad ke-4 hingga pertengahan abad ke-5 Masehi. Namun, dari banyak temuan arkeologis hanya Purnawarman yang secara gamblang disebutkan namanya. Pada Prasasti Tugu memang terpahat nama lain, yakni Rajaresi, namun itu merupakan gelar bagi kakek Raja Purnawarman. “Bukti sejarah yang hingga sekarang sudah ditemukan, semuanya berhubungan dengan Purnawarman yang dapat diketahui bahwa ia berkuasa sekurang-kurangnya 22 tahun. Betapapun samar-samarnya, Purnawarman menyatakan bahwa ia mempunyai seorang kakek yang diberitakan dalam prasasti Tugu,” ungkap Ayatrohaedi dkk. dalam Kisah Tarumanagara dalam Naskah (Laporan Penelitian, 1988) .

  • Mesir di Tangan Mubarak

    “TURUN, turun. Turunkan Mubarak!” dan “rakyat harus mengakhiri kekuasaan rezim ini!” teriak massa yang marah di sekeliling masjid Al-Istiqama di Giza Square, Kairo, Mesir usai salat Jumat, 28 Januari lalu, sebagaimana dilaporkan BBC . Dalam hitungan menit, meriam air menghujani para demonstran. Diikuti bunyi dentuman keras ketika polisi menembakkan gas air mata. Orang-orang berlarian di sepanjang jalan, sambil menahan efek gas yang membuat mata mereka berair. “Biarkan dunia melihat apa yang terjadi di negeri ini,” teriak seorang laki-laki tua, ”kami tak akan berhenti… sampai pemerintahan ini tumbang.”

  • Utusan Mesir Terdampar di Singapura

    Mohamad Abdul Munim, konsul jenderal Mesir di Bombay, India, mengemban misi penting. Dia, bertindak atas nama Raja Farouk, membawa keputusan Liga Arab yang berisi anjuran kepada negara-negara anggota Liga Arab untuk mengakui kedaulatan Republik Indonesia. Namun, perjalanannya nyaris hanya sampai Singapura. Dia tak memperoleh visa. Lalu dia mendengar Ktut Tantri ( Muriel Stuart Walker ), perempuan Skotlandia-Amerika yang membantu perjuangan Indonesia di masa revolusi, berada di Singapura. Pada suatu malam, dia mendatangi penginapannya.

  • Alamudi Mata-mata Belanda

    MESIR tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah Mesir mengutus Konsul Jenderal Mesir di Bombay, India, Muhammad Abdul Mun’im datang ke Yogyakarta. Pada 14 Maret 1947 bertepatan dengan ulang tahun ke-23 kemerdekaan Mesir, Mun’im menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan dukungan pemerintah Mesir dan Liga Arab kepada kemerdekaan Indonesia. Indonesia kemudian mengirim delegasi yang dipimpin Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim untuk mengadakan kunjungan balasan ke Mesir. Anggota delegasi adalah Rasjidi, Mr. Nazir Pamoentjak, dan A.R. Baswedan, pemimpin Persatuan Arab Indonesia, yang kemudian menjabat wakil menteri penerangan, anggota BP KNIP, anggota parlemen dan konstituante, serta pahlawan nasional.

  • Kisah Begundal Revolusi Sosial di Langkat

    KESULTANAN di Sumatra Timur menemui ajal ketika lonceng revolusi sosial berdentang. Sekelompok massa yang menamakan diri volksfront (front rakyat) merangsek masuk ke istana-istana mengobrak-abrik, menghabisi, bahkan melecehkan keluarga kesultanan. Volksfront terdiri dari kumpulan partai-partai dan badan kelaskaran.    Sejumlah pentolan ditunjuk untuk memimpin revolusi sosial untuk menggulingkan kekuasaan sultan. Tama Ginting dari Partai Nasional Indonesia (PNI) memimpin front rakyat di Tanah Karo. Haris Fadhilah dari Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di Asahan. Saragih Ras dari Barisan Harimau Liar di Simalungun. Usman Parinduri dari Partai Komunis Indonesia (PKI) di Langkat.  “Sekitar pukul empat pagi tanggal 4 Maret [1946], laskar rakyat menyerbu Istana Sultan [Tanjung Pura] dan menurunkan bendera kerajaan yang berwarna kuning menggantikannya dengan sang Dwi Warna. Istana diobrak-abrik. Lemari pakaian Sultan yang panjangnya hampir sepuluh meter diobrak-abrik oleh laskar dan masing-masing mengganti celana goni milik mereka dengan salah satu pakaian sultan,” tutur Bachtiar Siagian dalam memoarnya yang belum diterbitkan.  Bachtiar Siagian dikenal sebagai sutradara dan penulis skenario yang berafilisasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) pada 1960-an. Pada saat terjadi revolusi sosial, dia menjabat sekretaris umum Volksfront Langkat. Dalam memoarnya, Bachtiar berkisah tentang bagaimana ia menyembunyikan Amir Hamzah, keponakan dan menantu Sultan Langkat sekaligus sastrawan-penyair yang karyanya dikagumi Bachtiar. Namun, upaya Bachtiar menyelamatkan Amir Hamzah kandas setelah terjadi peristiwa yang menggegerkan antara pimpinan volksfront dengan keluarga Kesultanan Langkat.   “Kejadian lain dipicu oleh perlakuan tidak senonoh Ketua Umum Volksfront yang sekaligus Ketua Umum Pesindo, Saudara Usman Parinduri, yang menggagahi putri sultan,” catat Bachtiar seperti disadur ulang Tempo , 15 Februari 2015.  Menurut sejarawan Anthony Reid dalam The Blood of The People: Revolutions and the End of Traditional Rule in Nortern Sumatra , selain kader PKI, Usman Parinduri adalah mantan anggota Kenkokutai , pasukan cadangan binaan tentara pendudukan Jepang. Bachtiar membenarkan bahwa Usman memang aktif dalam organisasi PKI, sedangkan pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang jahit. Usman telah beristri dan mempunyai dua anak. Secara pribadi, Bachtiar mengenang Usman sebagai kawan baik bilamana ia berkunjung ke Tanjung Pura. Itulah sebabnya, Bachtiar terkejut begitu mengetahui Usman melakukan perbuatan tidak senonoh kepada putri Sultan.  Bachtiar mencari Usman ke Markas Istimewa No. 2L di Simpang Jalan Bengkatan, Kampung Tambung Binjai, tak jauh dari Rumah Sakit Bengkatan. Di sana, dia mendapat laporan dari pengawal bahwa Usman telah berjam-jam “memeriksa” salah satu putri Sultan di salah satu kamar. Apa yang dilakukan Usman telah menyimpang dan mencemarkan tujuan revolusi. Untuk itu, Bachtiar melaporkannya kepada pengurus volksfront yang lain, seperti Haji Abdul Wahab, Alaudin Samah, dan Joembak.   Agung Meiranda dalam “Sejarah Revolusi Sosial di Langkat Tahun 1946” termuat di jurnal Seuneubok Lada  Vol. 8. No. 1, Januari–Juni 2021, menjelaskan, pada 6 Maret 1946, Sultan Langkat Mahmud Abdul Djalil bersama permaisuri Tengku Raudah, dan putra mahkota Tengku Musa diculik. Mereka dibawa ke markas PKI di Kantor Perkebunan Batang Serangan. Selang beberapa hari, keluarga Sultan Langkat dipindahkan ke Berastagi oleh Volksfront Langkat yang di antaranya Amar Hanafiah, Ibnu Jafar, dkk.  “ Volksfront Langkat juga ikut mengamankan tokoh-tokoh PKI yang terlibat di dalam kejadian revolusi sosial di Langkat karena telah berusaha mengambil keuntungan pribadi Kesultanan Langkat. Volksfront Langkat mengamankan tokoh seperti Arifin Asneri, Usman Parinduri, Marwan, dan Sanusi,” tulis Agung.  Budayawan Langkat Zainal Arifin dalam Langkat dalam Sejarah dan Perjuangan Kemerdekaan menyebut Usman Parinduri bersama rekannya Marwan sebagai pelaku pemerkosaan terhadap dua putri Sultan Mahmud. Tengku Zulkifli Kamil, keturunan bangsawan Langkat, mengatakan bahwa Marwan semula menginginkan adik bungsu Sultan, Tengku Maryam. Namun, Sultan tak berkenan.  “Sultan Langkat, yang diperkosa anaknya, kalau menurut cerita dari uwak-uwak saya, si Marwan itu minta adik Sultan Langkat, Tengku Maryam, yang paling kecil dari adik Sultan Langkat. Tapi, Sultan Langkat tak mengasih,” ungkap Tengku Zulkifli Kamil, anak dari Kepala Langkat Hulu Tengku Pangeran Kamil, dalam dokumenter 1946: Sumatra Timur produksi Lentera Timur.  Sementara itu, Usman Parinduri menaruh dendam pribadi terhadap Kesultanan Langkat. Ketika Usman kecil, menurut Bachtiar, ibunya diambil secara paksa dan dijadikan semacam gundik di Istana Tanjung Pura. Kemungkinan oleh Sultan Abdul Azis (bertakhta 1893–1927), ayah Sultan Mahmud.  Sidang Volksfront Langkat bermufakat untuk menghukum mati Usman dan Marwan. Namun, ada beberapa versi bagaimana mereka dieksekusi. Bachtiar menerangkan, sewaktu Marwan dan Usman hendak ditangkap, teman-temannya dari Barisan Harimau Liar berupaya melindunginya. Pasukan Ksatria Pesindo di bawah pimpinan Sahadi menggempur markas tempat Usman dan Marwan disembunyikan. Usman dan Marwan pun berhasil diringkus.  “Setelah diperiksa dihadapan pengadilan rakyat yang diketuai O.K.H Salamudin, Usman dijatuhi hukuman mati,” kata Bachtiar.  Cerita lain, menurut Zainal Arifin, Volksfront Langkat memberikan kesempatan kepada Arifin Asneri, salah satu pemimpin revolusi sosial di Langkat, apabila kesalahannya ingin dimaafkan, maka Arifin harus menembak mati pelaku perkosaan putri Sultan Langkat, yaitu Marwan dan Usman.    Arifin Asneri menyanggupi. Dalam suatu kesempatan, Arifin membujuk Usman dan Marwan pergi bersama ke Batang Sarangan. Dalam perjalanan di Tanjung Selamat, keduanya ditembak oleh Arifin. Marwan dan Usman menemui ajal sekaligus mengakhiri petualangan mereka dalam revolusi sosial di Langkat.*

  • Isaac de Saint-Martin, Tuan Tanah Pengumpul Naskah

    PADA Maret 1682, pasukan VOC berlayar menuju Banten. Mereka datang untuk membantu putra mahkota, Sultan Haji, yang berperang melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Pada saat itu, Sultan Haji sudah terkepung di dalam istananya. Para pendukung Sultan Ageng Tirtayasa telah berhasil merebut kembali kota. VOC bersedia membantu dengan syarat para budak dan pembelot yang melarikan diri dari Batavia dikembalikan sekalipun mereka telah masuk Islam, para perompak dihukum dan VOC diberi ganti rugi, tuntutan Banten terhadap Cirebon ditarik kembali, keterlibatan dalam masalah Mataram dihentikan, dan yang terpenting orang-orang Eropa saingan VOC diusir dari pelabuhan Banten. Dengan kata lain, menurut sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern, 1200-2004 , VOC berjanji akan membantu putra mahkota apabila dia mau melepaskan kebijakan luar negeri Banten yang bebas dan melepaskan basis kemakmurannya. Karena posisinya semakin sulit, akhirnya sang pangeran terpaksa menerima semua persyaratan itu.

bottom of page