top of page

Hasil pencarian

9779 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tukang Jam Saleh di Surabaya

    HASRAT untuk mempertaruhkan hidup demi kehidupan yang labih baik menguatkan tekad Johannes Emde, pemuda Belanda, untuk merantau. Api semangat itu kian membesar setelah mendapat siraman minyak dari kawannya seorang pelaut yang menceritakan pengalamannya mengunjungi banyak tempat. Emde akhirnya mendaftar jadi pelaut. Nasib baik menghampirinya. Emde diterima menjadi pelaut pada sebuah kapal yang berlayar ke Batavia (kini Jakarta). Upah yang dia terima 90 gulden. Setelah tiba di Batavia, dimulailah petualangan Emde yang tak bisa menghindar dari wajib militer. Menelusuri sebagian pesisir Kalimantan hingga terlibat perang melawan bajak laut di perairan Banjarmasin hanyalah sebagian dari petualangan Emde di Hindia Belanda.

  • NU-Muhamadiyah Bersatu di Ampel

    SEJAK lama, orang Islam Indonesia melihat perbedaan antara Nahdatul Ulama dan Muhamadiyah. NU dianggap mewakili kaum tradisional sedangkan Muhamadiyah dianggap golongan moderat. Pertentangan sering terjadi di lapisan bawah atau akar rumput. Kadang bisa menjadi pertentangan terbuka. Namun di jajaran pemimpin, NU-Muhamadiyah malah bisa disatukan, terutama dalam sebuah forum. Ini bukan cerita baru. Koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 4 Maret 1938 menyebut, Kongres Al-Islam yang diadakan di Masjid Ampel sekitar Maret 1938 dihadiri para kyai dari Nahdatul Ulama (NU) seperti Wahab Wahib; kyai Fakih Usman dan Mas Mansoer dari Muhammadiyah; Sekh Umar Hoobis (Al-Irsjad), dan Sekh Mohamad Hoesein Ba'aboed (Al-Charijah). Sekitar 4000 orang hadir di Masjid Ampel ketika itu.

  • Persahabatan Kyai Mansur dengan Pendiri Muhammadiyah

    NAMA KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur akan selalu terkenang dalam sejarah perjuangan kaum Muslimin di Indonesia. Keduanya berperan penting dalam mensyiarkan gema Islam ke seluruh lapisan masyarakat sejak Indonesia masih berada di bawah kuasa kolonialisme Belanda. Melalui organisasi Islam Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan dan KH Mas Mansur mampu membawa perubahan bagi umat Muslim di Indonesia. Pertemuan dua tokoh penting Muhammadiyah ini terjadi pada permulaan abad ke-20, tepatnya pada 1915, atau tiga tahun setelah Muhammadiyah berdiri. Dikisahkan Sutrisno Kutoyo dalam biografi Pahlawan Nasional: Kyai Haji Mas Mansur, nama KH Ahmad Dahlan telah sering didengar KH Mas Mansur sejak ia tinggal di Mesir dan Mekah. Ketika pada 1915 berkesempatan kembali ke tanah air, KH Mas Mansur tidak langsung pulang ke rumahnya di Surabaya, tetapi memilih pergi ke Yogyakarta untuk menemui KH Ahmad Dahlan. Pertemuan pertama tersebut memberi kesan yang amat mendalam bagi Mansur muda. Ketika itu usianya baru menginjak 20 tahun, sementara KH Ahmad Dahlan berusia 48 tahun. Bagi KH Mas Mansur, KH Ahmad Dahlan adalah sosok seorang ayah. Wajah yang tenang dan selalu dihiasi senyuman ketika berbicara membuat kiyai muda itu nyaman berbincang lama dengannya. Meski baru pertema bertemu, KH Mas Mansur merasa sosok pendiri Muhammadiyah itu memiliki budi pekerti tinggi.

  • Penyebab Johan Cruyff Absen di Piala Dunia 1978

    HENDRIK Johannes “Johan” Cruyff tertoreh dalam tinta emas sebagai salah satu jagoan si kulit bundar sepanjang masa. Namanya senantiasa diingat orang sebagaimana Pele, Diego Maradona atau Franz Beckenbauer. Sayangnya, dia hanya sekali mengorbit di perhelatan terakbar Piala Dunia. Satu-satunya Piala Dunia yang diikuti Cruyff pada 1974 di Jerman. Itu pun hanya mampu membawa tim nasional Belanda sebagai finalis. Di partai puncak, De Oranje ditundukkan 1-2 oleh Jerman. Padahal, karier Cruyff di level klub bergelimang gelar. Baik kala memperkuat Ajax Amsterdam, Barcelona, hingga Feyenoord Rotterdam. Titel individu juga menghiasi lemari prestasinya: mulai dari tiga Ballon d’Or (1971-1974), Bola Emas Piala Dunia 1974, hingga Don Balon (1977, 1978).

  • Slamet Rijadi Frustrasi Menghadapi RMS

    TENTARA Nasional Indonesia (TNI), yang pada 1950 disebut Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), tidak mudah menghadapi Angkatan Perang Republik Maluku Selatan (RMS). Panglima tentara RMS pernah dipimpin oleh Daniel Jacob Samson, mantan Sersan Mayor KNIL. RMS yang eksis sejak proklamasi pada 25 April 1950 terbilang kuat, meski jumlahnya kalah banyak. RMS diperkuat para mantan tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang menolak bergabung dengan TNI/APRIS. Sumber militer Indonesia menyebut ada keengganan para bekas KNIL menjadi satu kesatuan dengan bekas musuh mereka. Sumber-sumber Indonesia nyaris tidak mau tahu tentang adanya pembunuhan orang Ambon di awal revolusi kemerdekaan. Sebagian orang Ambon pun memendam dendam atas peristiwa di masa bersiap itu. Sehingga tidaklah mengherankan jika ada anggota KNIL Ambon yang terlibat Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Westerling di Bandung, peristiwa keributan di Bioskop Rex di Malang, dan peristiwa Andi Azis di Makassar.

  • CIA dalam Penyanderaan Konsulat Indonesia

    PARA pendukung gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) beberapa kali melakukan aksi di Belanda. Aksi pertama pada 31 Agustus 1970, mereka menyerang Wisma Indonesia, kediaman Duta Besar Indonesia, di Wassenaar. Hari itu bertepatan dengan kedatangan istri Mr. Dr. C.R.S. Soumokil, proklamator dan presiden pertama RMS, di Belanda. Dalam kontak senjata, seorang polisi Belanda, Hans Molenaar, mati. Duta Besar Letjen TNI (Purn.) Taswin Natadiningrat berhasil meloloskan diri. "Dia tiba di Kasteel Oud Wassenaar. Di sana dia mengungkapkan jati dirinya dan minta supaya Menlu Joseph Luns ditelepon untuk mengabarkan nasib yang menimpa Dubes RI. Luns datang, demikian juga PM Piet de Jong," tulis wartawan senior, Rosihan Anwar, dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, Volume 1. Lima tahun kemudian, pada 2 Desember 1975, tujuh pemuda RMS membajak kereta api di Wijster, dekat Assen, kota yang dekat dengan kawasan permukiman komunitas Maluku terbesar di Belanda. Pembajakan yang berlangsung 12 hari itu mengakibatkan tiga orang sandera mati. Para pembajak dijatuhi hukuman 14 tahun. Anggota pembajak yang paling fanatik, Eli Hahury, bunuh diri di penjara pada 1978.

  • Menjaring Soumokil

    AKHIR tahun 1963, sebagian prajurit dari Batalyon Infanteri 320 Badak Putih di bawah komando Mayor Enjo Martadisastra sedang tidak berada di Serang, Banten. Mereka sedang berada di Pulau Seram. Mereka dilibatkan dalam gerakan pembersihan sisa-sisa Republik Maluku Selatan (RMS) yang lebih dari 12 tahun bergerilya di Seram. Sore pukul 15.00 tanggal 1 Desember 1963, Pembantu Letnan Dua (Pelda) Ruchiat bersama 12 anak buahnya melakukan pengejaran ke daerah yang mereka duga tempat persembunyian pemimpin RMS. Medan yang sulit membuat mereka baru tiba keesokan harinya. Kesulitan mereka dalam perjalanan bertambah lantaran pasukan Ruchiat membawa dua tawanan yang berasal dari pengikut RMS. Mereka tiba di sasaran sekitar pukul 03.00 dini hari 2 Desember 1963. Begitu tiba, Ruchiat berbagi tugas kepada para bawahannya dalam rangka pengepungan tempat persembunyian pemimpin RMS. Setelah pasukan tersebar, Ruchiat bergerak perlahan bersama Kopral Surkaya dan Prajurit Mansyur. Surkaya disuruh ke kiri dan Mansyur ke kanan.

  • Bambang Sugeng Cegah Kapal Induk Belanda Berlabuh di Jepang

    BERITA akan singgahnya kapal induk Belanda HNLMS Karel Doorman ke Jepang membuat Duta Besar Indonesia untuk Jepang Bambang Sugeng berang. Saat itu Indonesia sedang berkonflik dengan Belanda soal Irian Barat. “Dalam logika pemikiran Bambang Sugeng, kalau Jepang mengizinkan kapal induk Belanda Karel Doorman mendarat di Pelabuhan Tokyo, berarti Jepang berserikat dengan Belanda musuh Indonesia,” tulis Edi Hartoto dalam Panglima Bambang Sugeng. Bambang menjabat sebagai dubes di Jepang sejak 1960 hingga 1964. Presiden Sukarno mempercayakan tugas itu kepadanya lantaran Bambang dianggap berhasil ketika menjabat sebagai dubes untuk Vatikan. Di sana, mantan KSAD itu berhasil memperkenalkan Pancasila dan membuka pintu persahabatan RI-Vatikan.

  • KSAD Bambang Sugeng Disetop Polisi

    SENJA sudah merayap untuk memberi tempat pada sang malam. Sore di tahun 2016 itu, permakaman di tepi Sungai Progo sunyi. Tak ada penjaga apalagi protokoler njelimet untuk memasukinya. Sederhana untuk memasukinya, sesederhana permakaman itu. Kesederhanaan, itulah yang selalu dijadikan prinsip hidup salah seorang penghuni makam itu, yakni Bambang Sugeng. KSAD ketiga dalam sejarah Indonesia itu merupakan panglima sederhana meski punya peran penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Dia berulangkali berpesan kepada kolega-koleganya agar kelak ketika meninggal tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Padahal, peran Bambang tak kecil. Saat Republik Indonesia diberitakan Belanda telah musnah usai Agresi Militer II, Bambang selaku panglima Divisi III/Jawa Tengah dan Yogyakarta bergerak cepat mengkounter pemberitaan miring itu dengan mengeluarkan Perintah Siasat No. 4/SD/Cop/I tanggal 1 Januari 1949.

  • KSAD Kirim Purnawirawan TNI Jadi TKI di Arab Saudi

    PADA 1980-an, KSAD Jenderal TNI R. Widodo gelisah memikirkan 2.000 bintara yang akan pensiun. Dia menanyakan kepada Bondan Gunawan –kelak menjadi menteri sekretaris negara masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid– apakah dapat mencarikan pekerjaan untuk mereka? Bondan kemudian menghubungi dua pengusaha di Jakarta, Suko Sudarso dan Ir. Harsono, seniornya di GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). Dia menanyakan apakah bisa mencarikan pekerjaan bagi 2.000 bintara TNI yang bakal pensiun. Mereka mengatakan punya hubungan baik dengan Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta, terutama dengan pejabatnya bernama Bakr Khomais. Kebetulan, saat itu pemerintah Arab Saudi memerlukan banyak tenaga kerja, terutama para mekanik dan sopir pada musim haji. “Singkat kata, para bintara pensiunan itu bisa dipekerjakan di Arab Saudi. Peluang itu langsung ditindaklanjuti dengan membentuk PT. Rabindo sebagai perusahaan pengirim tenaga kerja ke Arab Saudi,” kata Bondan Gunawan dalam memoarnya, Hari-hari Terakhir Bersama Gus Dur.

  • Jenderal Widodo Disingkirkan Soeharto

    SOEHARTO tak pernah mengenal istilah “matahari kembar”. Bagi pemuka utama Orde Baru itu, pantang ada figur yang bisa menyaingi ketokohannya. Mereka yang berpotensi membahayakan posisinya akan disingkirkan. Sebagai presiden jebolan tentara, Soeharto mafhum ABRI, khususnya Angkatan Darat, selalu menghadirkan para perwira loyalis sekaligus oposan. Salah satu perwira tinggi yang pernah kena depak karena mengusik Soeharto adalah Jenderal TNI Widodo, Kepala Staf TNI AD (Kasad) periode 1978-1980. Widodo yang disebut-sebut sebagai tokoh pembaru TNI dicurigai Soeharto memiliki agenda tersamar. “Ia hanya sempat menjadi Kasad dua tahun, bukannya empat atau lima tahun, sebagaimana biasanya,” tulis Salim Said dalam "Soeharto dan Militer" termuat dalam Krisis Masa Kini dan Orde Baru suntingan Muhammad Hisyam.

  • Babak Awal Sejarah Sepeda Motor

    SEPEDA motor jadi moda transportasi paling diminati di tanah air. Selain ekonomis, ia praktis untuk menembus peliknya kemacetan di kota-kota besar pada jam-jam sibuk. Sejurus dengan lebih terjangkaunya harga kendaraan bermotor roda dua, tak mengherankan jika jumlah sepeda motor bisa tujuh kali lipat dari jumlah mobil atau kendaraan roda empat berpenumpang. Menukil laman resmi data Badan Pusat Statistik (BPS) per 20 Februari 2024, jumlah kendaraan bermotor roda dua baik sepeda motor berbahan bakar bensin maupun motor listrik di 38 provinsi pada 2023 sebanyak 132.433.679 unit. Angka tersebut begitu jauh jika dibandingkan jumlah mobil yang sebanyak 18.285.293. Lantas, apa sesungguhnya sepeda motor itu dan sejak kapan eksisnya? Menurut Oxford English Dictionary (2009), sepeda motor adalah “kendaraan beroda dua yang ditenagai mesin pembakaran dalam.” Sedangkan dalam kamus otomotif Merriam-Webster, sepeda motor adalah “kendaraan (bermesin) beroda dua atau beroda tiga dengan setirnya berupa handlebar dan tempat duduknya bergaya pelana.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page