Hasil pencarian
9795 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Habis Transmigrasi Terbitlah Korupsi
ASISTEN Wedana Gadingrejo, Lampung Raden Pirngadi membuat gempar. Bukan karena dia seorang pejabat lumayan tinggi untuk ukuran orang bumiputra, tapi karena ulahnya menggelapkan uang. Tak hanya mencoreng nama baik dia dan keluarganya, ulahnya tentu mencoreng program Kolonisati (transmigrasi kolonial) yang dilancarkan pemerintah Hindia Belanda. Kolonisatie yang dirintis pemerintah kolonial sejak 1905 terbilang sukses kendati ada masalah di sana-sini. Munculnya desa-desa baru yang menghasilkan aneka bahan pangan dan perputaran ekonomi menjadi indikatornya. Bahkan, perkebunan-perkebunan yang tergolong modern pun muncul di Gisting. Munculnya desa-desa baru, apalagi yang tidak berada di bawah pengaruh kepala marga (semacam pasirah), tentu mempengaruhi sistem pemerintahan di Lampung. Hal itu menguntungkan aparat pemerintahan kolonial. Sebab, menurut Kian Amboro dkk. dalam Metro Tempo Dulu Sejarah Metro era Kolonisasi 1935-1942, sejak lama para pejabat Belanda seperti Residen Pruys van der Hoeven (berkuasa 1870-1873) sangat ingin menghilangkan pengaruh para keluarga marga di Lampung.
- Lintah Darat di Kampung Transmigran
SETELAH Gedong Tataan dibuka sebagai wilayah transmigrasi pada 1905, banyak daerah lain di Lampung yang mengikutinya dan dengan nama seperti nama-nama tempat di Jawa pula. Wates –yang dalam bahasa Jawa berarti batas atau pembatas– salah satunya, dengan penduduk juga kebanyakan orang Jawa. Anang dan Abdulrachman Hamim merupakan di antara transmigran asal dari Wates yang berada di dalam Gedong Tataan itu. Sebagai perantau, Anang tentu harus memulai hidup dari nol. Maka, kendati telah mendapat bekal modal berupa lahan, dia seperti banyak transmigran lain pun menganggap perlu meminjam uang untuk modal memulai putaran roda ekonomi kehidupannya. Het Nieuws van den dag, 26 September 1933, mengisahkan bahwa Anang pada awal 1928 meminjam uang sebesar 300 gulden pada Abdulrachman Hamim. Dari pinjaman sebesar itu, tiap bulannya Anang harus membayar uang pokok pinjamannya itu plus bunga sebesar 20 gulden.
- Gisting Daerah Transmigrasi Indo Eropa di Lampung
ALIH-ALIH beruntung dan bisa hidup enak, wajah dan perawakan mirip orang kulit putih justru membuat orang-orang Indo-Eropa “semakin” berat hidupnya. Mereka dipinggirkan alias tak diterima di mana-mana. Hal itu mendorong mereka acapkali mencari tempat baru yang bisa menerima. Maka setelah tahun 1905 banyak desa orang Jawa –menjadi transmigran dalam program Kolonisatie atau transmigrasi kolonial– terbentuk di Desa Bagelen dan sekitarnya di Kecamatan Gedong Tataan, Lampung, orang-orang Indo-Eropa yang termarjinalkan di Hindia Belanda pun tertarik membuka “koloni” atau daerah baru di Lampung. Indo-Europeesch Verbond (IEV) selaku organisasi orang Indo Eropa di Hindia menjadi sponsornya. “Saya datang ke sini tahun 1925,” kata Karl Emile August Kloer (1877-1966) dalam Winschoter Courant, 2 Juli 1949, “sebagai pemimpin kelompok kecil orang Indo-Eropa yang mencari kehidupan di sini sebagai kolonis. Kami mendapat pinjaman satu ton dan tanah itu dibagi menjadi 11 bidang tanah sewa selama 75 tahun.”
- Haji Ghalib Transmigran Sukses
SETELAH berjalan sekitar 20 tahun, kabar transmigrasi dari Jawa ke Lampung menggema di Pulau Jawa. Namun, kabar menarik itu tak langsung berhasil menarik orang-orang Jawa untuk mengikuti jejak para saudaranya di Sumatra. Kebanyakan orang Jawa takut menyebrangi lautan. Ghalib termasuk dari sedikit orang Jawa yang tidak takut menyeberangi lautan. Maka, dengan sukarela santri yang pernah berguru di Jombang, Jawa Timur ini menyeberangi lautan pada tahun 1920-an demi menggapai hidup yang lebih baik di Lampung. Usai menyeberangi Selat Sunda dengan Anak Krakataunya yang masih aktif, Ghalib akhirnya tiba di Lampung. Di sana dia lalu mengelola sawahnya. Sawahnya yang tadinya hanya menghasilkan padi untuk menghidupinya dan keluarganya, terus meluas. Hasil yang didapatnya pun lebih dari sekadar untuk mengenyangkan perut.
- Gedong Tataan Lokasi Transmigrasi Pertama
SEBELUM banyak orang Jawa mendatanginya, daerah ini sudah bernama Gedong Tataan. Sejak 1905, nama Gedong Tataan mulai disebut-sebut di koran-koran Hindia Belanda karena adanya kolonisatie (kolonisasi) atau kini disebut transmigrasi, dengan para pelakunya disebut kolonis. Setelah Trias Politik mulai dianut, pemerintah Hindia Belanda terpikir untuk membangun “koloni” Jawa di Lampung. Transmigrasi sendiri bagian dari Politik Etis yang –penerapannya bertolak dari Trias Politik– dijalankan pemerintah kolonial. Jawa sudah terlalu penuh dengan perkebunan, industri, dan ladang sehingga persawahan untuk rakyat harus dicari lagi. Persiapan pembukaan “koloni” dilakukan sebelum pendatang dari Jawa tiba. Pada 1904, Gedong Tataan dipilih sebagai daerah sasaran. Soerabaijasch Handelsblad, 14 Mei 1907, menulis, sejak 12 Mei 1905 dua mantri dari Jawatan Pengairan dan ahli ukur dikirim ke sana untuk memeriksa. Mereka memetakan daerah yang hendak dijadikan ladang dan permukiman. Setelah keluar kajian yang dilakukan HG Heijting, mantan asisten residen Sukabumi, pemerintah mengeluarkan Goverment Besluit 19 Oktober 1905 nomor 46.
- Demi Minyak Pasukan Khusus Dikirim Ke Jambi
CORNELIS Plaatzer masih berusia 20 tahun ketika mendaftar jadi relawan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht/KL) tak lama usai Perang Dunia II. Pemuda asal Putten, Belanda ini kemudian dikirim ke Indonesia yang baru merdeka guna mengembalikan kontrol Belanda yang lepas usai dikalahkan Jepang. Belanda harus menjalani perang melawan Indonesia demi merebut kembali wilayah yang dulu disebutnya Hindia Belanda itu. Cornelis Plaatzer datang ke Indonesia sebagai bagian dari Batalyon 2 Resimen 9 KL. Dia lalu terpilih masuk pasukan khusus penerjun payung berbaret merah. Akhir tahun 1948, dia tinggal di sekitar Bandung, dalam sebuah barak tentara. Kesatuannya adalah kompi para dari Regimen Special Troepen (RST), dia salah satu pasukan terjun. Pada 20 Agustus 1948, anak dari Jan Plaatzer dan Jannetje Kool ini mendapat pangkat kopral sementara.
- Dara Puspita, The Beatles Perempuan
WAKTU pulang tiba juga. “Jakarta sudah dekat,” batin Titiek Hamzah, gitaris dan vokalis utama Dara Puspita, ketika pesawatnya transit di Singapura. Dia sudah lama berpisah dengan ibunya hampir tiga setengah tahun. Saat di bandar udara Singapura, dia menelepon ibunya agar tak usah menjemput ke Kemayoran, Jakarta. “Sudah malam,” Titiek beralasan. Sang ibu menolak permintaan itu. Dia berangkat menuju bandara Kemayoran. Di sana riuh. Ratusan orang menunggu kedatangan Dara Puspita. Petugas bandara mengumumkan pesawat mereka sudah berangkat dari Singapura. Tak lama, pesawat tiba di Kemayoran. Keharuan meruap. Titiek memeluk ibunya. Penggemarnya merubung. Bergantian memeluk Titiek karena kangen. Namanya dielu-elukan. Perlakuan serupa juga diberikan kepada tiga personel Dara Puspita lainnya: kakak-adik Titiek Adjie Rachman dan Lies Adjie Rachman, serta Susi Nander.
- Kasus Penipuan Buku Harian Adolf Hiltler
ADOLF Hitler dikenal sebagai diktator paling tersohor di dunia. Meski Sang Führer penjahat perang, tetapi tak sedikit orang Jerman yang mengaguminya dan ingin mengetahui kehidupan pribadinya. Hal ini dimanfaatkan Konrad Kujau untuk mengeruk keuntungan melalui pemalsuan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan Adolf Hitler. Konrad Kujau lahir pada 1938 di Löbau, Jerman dari keluarga miskin. Ayahnya, Richard Kujau, merupakan seorang pembuat sepatu. Keluarga Kujau dikenal sebagai simpatisan Nazi, hal ini terlihat dari aktivitas Richard yang telah menjadi pendukung aktif Nazi sejak tahun 1933. Keyakinan ini menular kepada putranya, Conny, sapaan akrab Konrad, yang tumbuh dengan mengidolakan Adolf Hitler. Sejarawan Robert C. Williams menulis dalam The Forensic Historian, pada Juni 1957, Konrad melarikan diri dari Jerman Timur dan menetap di Berlin Barat. Ia kemudian tinggal di serangkaian kamp pengungsian dan tempat penampungan tunawisma di Jerman Barat. Dia memulai kariernya sebagai tukang kunci, pelukis, pekerja konstruksi dan pelayan, tetapi semua pekerjaan itu tak lama dijalankannya.
- Ayah Chairil Anwar Dieksekusi Tentara Belanda dalam Pembantaian Rengat
Kenang, kenanglah kami Teruskan, teruskan jiwa kami Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir Kami sekarang mayat Berilah kami arti Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi. Penggalan sajak berjudul “Krawang-Bekasi” di atas adalah karya sastrawan Chairil Anwar. Ditulis pada 1948, ketika perang mempertahankan kemerdekaan antara Indonesia dan Belanda tengah memuncak. Lewat puisi-puisi gubahannya, Chairil ikut menyalakan semangat heroisme para pejuang. Chairil Anwar dikenal sebagai sastrawan pelopor Angkatan ‘45. Ia kondang dengan julukan Si Binatang Jalang, persona yang ditampilkannya dalam sajak berjudul “Aku”. Riwayat kepengarangannya telah menjadi bahan studi banyak sastrawan maupun kritikus sastra. Semasa hidupnya, Chairil Anwar juga terkenal sebagai sastrawan bohemian bahkan terkesan urakan. Padahal, Chairil masih terbilang keponakan Sutan Sjahrir, perdana menteri pertama Republik Indonesia. “Kedua orangtua Chairil Anwar berasal dari kalangan kelas atas. Ayahnya, Toeloes bin Manan, seorang controleur, pegawai tinggi di era kolonial Belanda. Ibunya Saleha, putri bangsawan Koto Gadang, Sumatra Barat, yang punya pertalian saudara dengan ayah Sutan Sjahrir,” tulis Tempo, 21 Agustus 2016. Saleha adalah sepupu Sutan Sjahrir. Sementara itu, Tulus bin Manan merupakan pegawai birokrat pemerintah kolonial di Medan. Saat Chairil lahir pada 26 Juli 1922, Tulus sudah menjadi pegawai tinggi berpangkat kontrolir. Sebagai anak bungsu, Chairil begitu disayang oleh Tulus. Segala kebutuhan dicukupi, termasuk pendidikan dan minat terhadap seni. Sejak kecil, Chairil sudah gandrung bacaan sastra karena mendapat asupan buku bermutu dari orang tuanya. Sayang, menjelang Chairil dewasa, hubungannya dengan Tulus merenggang. Retaknya ikatan ayah dan anak itu lantaran Tulus menikah lagi dengan Romadona, wanita jelita putri dari camat terpandang di Guguak, Payakumbuh, Sumatra Barat. Ketika dinikahi Tulus, Romadona berstatus janda beranak dua. Rasa sakit hati kepada Tulus memicu Chairil untuk meninggalkan Kota Medan menuju Jakarta menjelang berakhirnya kolonial Hindia Belanda. “Saat itu ia menemani ibunya yang melarikan diri dari ketidakbahagiaan perkawinannya di Medan, Sumatra Utara,” catat Keith Foulcher, peneliti sastra Indonesia modern, dalam “Angkatan ‘45 dan Warisannya: Seniman Indonesia Warga Masyarakat Indonesia” termuat dalam buku Asrul Sani 70 Tahun. Kepindahan Chairil ke Jakarta, sambung Foulcher, sekaligus mengawali kiprahnya dalam dunia politik kaum nasionalis pada permulaan pendudukan Jepang tahun 1942. Sjahrir menampung Chairil dan ibunya ketika mereka pertama kali pindah ke Jakarta. Saat itu, Sjahrir baru bebas dari masa pengasingan dan menyewa rumah cukup besar milik wanita Belanda di Menteng. Di rumah itu pula Chairil bertemu dan berkawan dengan Des Alwi, salah satu anak angkat Sjahrir. “Ketika saya pertama kali datang ke Jakarta, Chairil Anwar dan ibunya tinggal di Jalan Latuharhari 19 bersama Paman Rir. Kemudian saya menyadari bahwa Chairil Anwar, yang kami panggil Nini, adalah seorang penyair berbakat,” kenang Des Alwi dalam memoarnya, Friend and Exiles: A Memoir of the Nutmeg and the Indonesian Nationalist Movement yang disunting Barbara Sillars Harvey. Sementara Chairil mengukir kiprahnya sebagai penyair sambil sesekali menjadi kurir Sjahrir dalam perjuangan, Tulus bertugas sebagai bupati Indragiri Hulu, Riau. Daerah beribu kota Rengat ini diincar Belanda dalam perang menghadapi tentara Indonesia. Menurut buku Sejarah Daerah Riau terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Indragiri merupakan basis tentara Indonesia terkuat di Riau. Selain itu, di desa Lirik sebelah utara Rengat, terdapat kilang minyak yang diperlukan Belanda untuk meneruskan penetrasinya ke pedalaman Sumatra. Untuk menguasai Indragiri, Belanda harus memulainya dari Rengat. Pada 5 Januari 1949, Belanda menyerang Rengat dengan mengerahkan 24 pesawat tempur, 350 penerjun payung termasuk pasukan khusus Korps Specialle Tropen, dan tujuh kapal perang. Diperkirakan 2.000–2.600 orang warga sipil mati dalam operasi militer Belanda paling berdarah di Sumatra itu. Tragedi ini dikenal sebagai peristiwa Pembantaian Rengat. “Banyak rakyat dan pegawai pemerintah yang tewas oleh penyerangan tersebut. Di antaranya kepala daerah sendiri Patih Toeloes, ayah dari alm. pujangga muda Chairil Anwar, serta kepala polisi daerah yang mengadakan perlawanan sampai ke saat mereka gugur sebagai pahlawan,” sebut buku Republik Indonesia: Sumatra Tengah. Menurut Feni Efendi dalam Pacacombo: Ensiklopedia Birokrat dari Luhak Limo Puluah, Bupati Tulus ditembak oleh tentara Belanda di halaman rumah dinasnya bersama Sekretaris Daerah Yohanes Simatupang. “Ia ditembak oleh Belanda di hadapan anak dan istrinya dengan diseret keluar dari rumahnya dan ditembak di halaman dan jenazahnya dilemparkan ke Sungai Indragiri yang berada di seberang rumah dinasnya oleh Belanda,” catat Feni. Bupati Tulus diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Indragiri Hulu. Masyarakat Indragiri memperingati tanggal 5 Januari sebagai hari berkabung. Sementara itu, Chairil Anwar wafat pada 28 April 1949, tiga bulan setelah kematian ayahnya. Hari wafatnya, 28 April, diperingati sebagai Hari Puisi Nasional.*
- Menggali Peninggalan Kerajaan Sunda Kuno
TAK banyak peninggalan arkeologis dari masa Kerajaan Sunda Kuno yang bisa disaksikan. Padahal, kerajaan ini diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-16 seiring kejatuhan Kerajaan Tarumanegara pada abad ke-7 M. “Sedikit data yang ditinggalkan oleh Kerajaan Sunda sebelum abad ke-13 M,” tulis Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam Siliwangi, Sejarah, dan Budaya Sunda Kuno. Dalam Tatar Sunda Masa Silam, Agus menyebut peninggalan berupa monumen atau bangunan belum dapat diketahui dengan lebih baik. Di Jawa bagian barat memang dijumpai banyak struktur atau monumen kuno. Namun, bangunan-bangun itu selalu dihubungkan dengan zaman yang lebih tua sebelum Kerajaan Sunda.
- Candi-candi Kerajaan Sunda Kuno
MASA Mataram Kuno meninggalkan monumen-monumen yang spektakuler. Beberapa di antaranya Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Sambisari. Begitu pula di Jawa Timur, candi-candi peninggalan Kerajaan Singhasari dan Majapahit, masih relatif utuh dan bisa dikagumi keindahannya. Di Jawa Barat tak begitu. Beberapa sisa bangunan masa Hindu Buddha memang berhasil ditemukan. Namun, letaknya tersebar dan kondisinya tinggal serakan batuan andesit atau bata. Misalnya, Kerajaan Sunda Kuno yang berkembang setelah Kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad ke-7 M hingga abad ke-16. Tak mudah menyebutkan di mana saja mereka membangun monumennya. Padahal, menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Tatar Sunda Masa Silam Kerajaan Sunda, Kerajaan Sunda Kuno mendirikan banyak bangunan terutama untuk keagamaan. Tempat-tempat suci itu beberapa kali disebut dalam naskah-naskah keagamaan yang hingga kini masih bertahan. Sayangnya, lokasinya belum diketahui secara pasti.
- Riwayat Bumbu dan Budak di Jambi
SEJAK abad ke-16 wilayah Jambi tercatat telah mampu menghasilkan lada untuk keperluan dagang dengan para saudagar yang melewati wilayah mereka. Daerah yang pernah ada di bawah kuasa Malaka ini awalnya tidak menjadikan rempah itu sebagai komoditi utama perdagangan. Namun sejak dimulainya hubungan dengan orang-orang Eropa, penguasa Jambi mulai melirik tanaman ini dan menjadikannya bahan dagangan utama. Dicatat Tome Pires dalam Suma Oriental, Jambi berada di bawah kekuasaan Demak ketika para penjelajah Portugis itu datang ke wilayah tersebut. Para penguasa di sana dijadikan “gubernur”, yang bertugas mengamankan seluruh wilayah kekuasaan Demak di Jambi. Meski menjelang pertengahan abad ke-16 pengaruh dari Jawa itu masih cukup kuat, para penguasa Jambi telah melakukan kegiatan dagang secara mandiri. “Tanah Jambi tersebut menghasilkan kayu yang mengandung obat-obatan, emas, dan barang dagangan dari Tongkal, serta dari tempat lainnya. Dan di sana sudah lebih banyak bahan-bahan makanan. Negeri ini ada di bawah Pate Rodim, penguasa Demak. Rakyat Jambi lebih banyak menyerupai orang-orang Palembang, Jawa dan Melayu,” tulis Pires.


















