top of page

Hasil pencarian

Search this site

10003 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pangeran William, Putri Diana, dan Palestina

    SETELAH 139 hari kebrutalan genosida Israel di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 29 ribu warga Palestina, Pangeran William akhirnya buka suara. Putra mahkota Inggris itu mulai menyerukan gencatan senjata, tak peduli Perdana Menteri Rishi Sunak dan bahkan ayahnya sendiri, Raja Charles III, mendukung aksi-aksi brutal Israel. Sebelumnya, Pangeran William dan Putri Kate melalui juru bicaranya, sebagaimana dikutip People, 12 Oktober 2023, memang sempat membela dalih Israel untuk mempertahankan diri. Akan tetapi setelah sekira empat bulan berselang, Pangeran William berubah dan mendorong masuknya bantuan kemanusiaan di Gaza secara masif. Seruan Pangeran William itu dilontarkan tak lama setelah Amerika Serikat untuk ketiga kalinya memveto draf proposal resolusi gencatan senjata yang diajukan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK-PBB) pada Selasa (20/2/2024). Delegasi Inggris sendiri memutuskan kembali abstain.

  • Gempur Menggempur di Malang Timur

    TAMAN bin Muhammad Tohir begitu antusias menceritakan pengalaman masa mudanya. Saking antusiasnya, lelaki tua itu sampai mohon diri sejenak untuk mengganti kaosnya dengan seragam kebanggaannya, seragam biru muda dengan sederet tanda penghargaan di dada kiri plus baret jingga TNI AU di kepala, sebelum melanjutkan cerita. Seragam itulah simbol pengabdiannya pada negeri. Pengabdiannya dimulai ketika Perang Kemerdekaan pecah tak lama setelah proklamasi. Taman yang kala itu anggota Brigade 13 Divisi Untung Suropati TNI Angkatan Darat, ikut bergerilya di Malang. Meski sudah lebih dari 70 tahun, Taman masih ingat betul kisah sebuah pertempuran di Tumpang, Malang, Jawa Timur. Bersama pasukan dari bagian Teknik AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU), dia ikut beradu nyawa berbekal sten gun meladeni serdadu Belanda, medio Juli-Agustus 1947.

  • Njoo Han Siang, Pengusaha yang Tak Disukai Soeharto

    DATANG dari keluarga pedagang di Pecinan Semarang, dia lahir di Yogyakarta tepat pada hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, 31 Agustus 1930. Dialah Njoo Han Siang, putra kelima Njoo Gee Tik. Sehari-harinya, keluarga orangtua Njoo berbahasa Hokkian dan Jawa. Keluarga itu merantau ke Semarang hampir bersamaan dengan kedatangan pasukan Jepang di Jawa, 1942. Pada 1946, Njoo dikirim ayahnya ke Amoy (kini Xiamen) untuk melanjutkan pendidikan. Tiga tahun kemudian dia pindah ke Hong Kong dan kembali ke Semarang pada 1950. Sambil membantu ayahnya berdagang, dia belajar jurnalistik dengan menjadi wartawan foto freelance untuk Sunday Courier pada masa ini.

  • Asisten Rumah Tangga Jadi Pemilik Saham Pertama VOC

    SABTU malam, 31 Agustus 1602. Neeltgen Cornelis bimbang. Sejak beberapa waktu yang lalu kakinya tak berhenti bergerak, seakan hal itu dapat membantunya membuat keputusan penting. Sesekali melirik jam, namun alih-alih bergegas, Neeltgen justru kembali termenung. Dia bimbang selama berhari-hari, pikirannya berputar pada kemungkinan-kemungkinan spekulatif. “Jika aku melakukannya, keuntungan yang besar sudah pasti di tangan. Namun, jika ini tidak berjalan sesuai rencana maka habislah aku,” kurang lebih itulah yang ada di pikiran asisten rumah tangga tersebut. Apa yang sesungguhnya dipikirkan Neeltgen? Kabar didirikannya sebuah perusahaan gabungan dari sejumlah perusahaan dagang di wilayah Belanda pada 20 Maret 1602 telah tersebar ke berbagai penjuru kota. Meski pendirian perusahaan dagang hal biasa, kehadiran perusahaan dagang VOC itu mencuri perhatian karena menawarkan saham kepada publik untuk meningkatkan modal.

  • Raden Ayu Pudji Astuti, Setia Mendampingi Ahmad Subardjo

    LUKISAN potret sosok perempuan berbingkai coklat itu tergantung di salah satu dinding, bersebelahan dengan lukisan seorang pria berjanggut dan berjas putih. Paras ayunya kian memancar dengan “ornamen” sanggul dan kebaya yang dikenakannya. Sosok perempuan itu adalah Raden Ayu Pudji Astuti, istri Ahmad Subardjo, lelaki yang lukisan potretnya ada di sampingnya. Berbeda dari Subardjo yang berdarah Aceh-Sunda meskipun menyandang nama Jawa, Pudji perempuan Jawa tulen. Ia punya “darah biru”. “Jadi nenek ada trah Wiryotarunan (Raden Wiryotaruno, red.),” terang Hutomo Said Effendi, cucu Subardjo, kala ditemui Historia.ID di kediamannya di Bintaro, Tangerang Selatan.

  • Potong Kuping Demi Indonesia Merdeka

    PROKLAMASI kemerdekaan Indonesia bergema dari rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Hari bersejarah itu berlangsung khidmat dan sederhana. Tapi, di berbagai daerah, tak banyak orang tahu apa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. “Karena gaungnya enggak ada, maka Bung Karno perintahkan ke bapak saya, kirim anak-anak Barisan Pelopor ke daerah asalnya. Umumkan bahwa Indonesia sudah merdeka,” tutur Tanto Sudiro (79) kepada Historia.ID. Tanto Sudiro merupakan putra bungsu Sudiro yang dikenal sebagai wali kota kemudian gubernur Jakarta. Ketika Proklamasi kemerdekaan, Sudiro sebagai komandan Barisan Pelopor atau Shuisintai, organisasi sayap militer Jawa Hookookai (Kebaktian Rakyat Jawa). Menjelang dan sesudah Proklamasi kemerdekaan, Barisan Pelopor berperan dalam pengerahan massa dan menyebarluaskan berita kemerdekaan.

  • Cara Belanda Mengatur Pasar di Batavia

    PASAR masih menjadi tujuan masyarakat Jakarta untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Salah satu faktornya karena di pasar pembeli dapat menawar barang yang akan dibeli. Salah satu pasar yang menjadi tujuan populer masyarakat adalah Pasar Senen. Aktivitas di salah satu pasar tertua di Jakarta itu terlihat sejak matahari terbit hingga menjelang malam. Lapak para pedagang yang buka dari Senin hingga Minggu membuat kawasan Pasar Senen selalu ramai didatangi pembeli. Orang-orang datang silih berganti untuk berbelanja beragam kebutuhan mulai dari bahan makanan seperti sayuran, buah-buahan, daging dan ikan, hingga pakaian, jam, kacamata, serta beragam aksesoris lainnya. Pada masa lalu, di wilayah Batavia telah terdapat pasar ikan, pasar burung, serta pasar sayur dan buah-buahan yang terletak di dalam tembok kota di sekitar Roa Malaka dan Jonkersgracht. Tuan tanah Belanda ambil bagian dalam membangun pasar di Batavia. Salah satu yang terkenal adalah Justinus Vink.

  • Rahayu Effendi Pernah Susah di Awal Karier

    BERBEKAL ijazah SMA, Siti Rahayu yang biasa disapa Yayuk, melamar menjadi pramugari Garuda Indonesia pada 1962. Nasib baik mengiringi langkahnya. Dia diterima. Namun, baru sekira setahun menjalani profesi tersebut, putri Haji Yusuf dan Hajjah Djufriah kelahiran Bogor, 30 Agustus 1942 itu dilamar orang. Pria yang melamarnya adalah Ir. Tammy Effendi. Tammy bukan orang sembarangan. Dia putra dari Roestam Effendi (1903-1979), sastrawan dan politikus pergerakan nasional Indonesia yang pernah jadi anggota parlemen di Negeri Belanda. Tammy dan Siti Rahayu akhirnya menikah pada 1963 dan Siti Rahayu lalu dikenal sebagai Rahayu Effendi. Profesi pramugari masih dijalani Rahayu setelah menikah kendati belakangan ditinggalkannya.

  • Ahmad Subardjo, The Untold Story

    NADA-nada karya musik klasik mengalun dari tuts-tuts piano kala jemari Laksmi Pudjiwati Insia Subardjo menari di atasnya. Senyumnya merekah seketika seiring ia menekan tuts terakhir. “Ini sekarang (lagu) ‘Bengawan Solo’,” terang Insia sebelum jemarinya kembali menari di atas tuts-tuts pianonya dengan lincah. Lagu gubahan Gesang itupun mengalun dengan elok dari piano itu. Beberapa foto, poster lawas, hingga kliping koran-koran lama turut “bercerita” bahwa Insia bukan pemain piano musiman. Semasa muda, ia aktif di beberapa grup musik. Bakat itu mengalir dari ayahnya, Ahmad Subardjo.

  • PDI Masukkan Seniman ke Parlemen

    PEMILIHAN umum (Pemilu) 2024 tinggal hitungan bulan. Berbagai pihak yang akan mengikutinya telah mulai bermanuver untuk mendapatkan simpati rakyat. Partai politik, misalnya, mulai intens melalukan lobi-lobi politik dan melancarkan berbagai manuver. Salah satunya menarik artis untuk dijadikan anggota guna menarik sebanyak mungkin suara rakyat. Pelibatan artis sebagai anggota partai bukanlah hal baru. Itu telah dimulai oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada masa Orde Baru. PDI adalah hasil fusi partai-partai berhaluan nasionalis dan menampung kelompok Katolik dan Kristen di dalamnya. Sepanjang Orde Baru, partai ini selalu berada di urutan ketiga dalam Pemilu baik dalam nomor urut maupun perolehan suara. Padahal, satu elemen utamanya yang bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) adalah juara pertama Pemilu 1955.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bottom of page