Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sabri dan Jejak Leluhur Asia Timur pada Orang Jawa
SIAPA pun yang mendengar Swastika Noorsabri bicara pasti akan menebak ia berasal dari Jawa. Gaya bicaranya medhok. Apalagi dia lahir dan besar di Kota Yogyakarta. Begitu pula ayah, ibu, kakek, dan neneknya, berasal dari suku Jawa. “Eyang buyut yang saya ketahui dari ibu itu [asalnya] Semarang. Itu cerita yang saya dengar. Kalau ayah dari Purworejo,” kata Sabri. Sabri bercerita, kakek dari pihak ayah adalah kepala Desa Wingkoharjo di Purworejo. Namanya Kartowiryo atau biasa disebut Lurah Kartowiryo. Kakeknya menikahi neneknya yang berbeda desa, tetapi masih di wilayah Purworejo. Simbah putrinya itu, dipanggil Sulaibah, berprofesi sebagai pedagang. Sementara kakek dari pihak ibu berasal dari Semarang. Nama kecilnya Basirun.
- Purnawarman, the Mighty King of Tarumanagara
To this day, Tarumanagara is still recognized as the oldest kingdom in Java. Its golden age occurred during the reign of King Purnawarman, who reigned from the late 4th century to the mid-5th century CE. However, among the many archaeological findings, only Purnawarman is explicitly named. The Tugu Inscription does indeed bear another name, Rajaresi, but that was the title of King Purnawarman’s grandfather. “The historical evidence discovered to date is all related to Purnawarman, indicating that he reigned for at least 22 years. However vague it may be, Purnawarman stated that he had a grandfather, mentioned in the Tugu Inscription,” explained Ayatrohaedi et al. in Kisah Tarumanagara dalam Naskah (Laporan Penelitian, 1988) (The Story of Tarumanagara in Manuscripts (Research Report, 1988)).
- Nasib Tawanan Perang Jepang di Gulag Siberia
NEGARA boneka Manchukuo di Manchuria ambruk seiring menyerahnya Tentara Kwantung kepada Tentara Merah Uni Soviet pada 19 Agustus 1945. Perang Soviet-Jepang (8 Agustus-2 September 1945) pun memasuki fase akhir. Nasib getir para tawanan perangnya lantas ditentukan Josef Stalin via sebuah dekrit pada 23 Agustus 1945. Bentrokan militer Jepang dan Soviet sedianya sudah terjadi sejak insiden-insiden perbatasan Mongolia-Manchuria dalam Insiden Nomonhan/Pertempuran Khalkhin Gol (11 Mei-16 September 1939). Konflik dua kekuatan di timur itu baru mereda lewat perjanjian bilateral Pakta Netralitas Soviet-Jepang yang disepakati pada 13 April 1941. Namun perjanjian itu sama sekali tak menghasilkan nasib yang jelas pada ratusan prajurit Angkatan Darat (AD) ke-6 Tentara Kwantung yang ditawan Soviet. Sekitar 500-600 serdadu Jepang dan Manchu ditawan. Tapi karena adanya doktrin militer (Jepang) yang melarang serdadunya menyerah, pihak Jepang mencatat mereka sebagai prajurit yang gugur demi menjaga kehormatan keluarga mereka.
- Empat Tradisi Perang Ketupat (Bagian II–Habis)
HARI Raya Idul Fitri atau lebaran rasanya kurang lengkap tanpa ketupat. Hidangan karbohidrat yang dimasak dalam kemasan anyaman janur berbentuk persegi itu senantiasa jadi penyempurna suguhan di hari raya umat Islam walau dengan beragam tradisi masyarakat. Bagi masyarakat di Jakarta dan sekitarnya serta Jawa Barat, ketupat acap dihadirkan tepat pada Idul Fitri, 1 Syawal. Berbeda bagi sebagian masyarakat di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di sana, lazimnya ketupat baru dihadirkan saat Lebaran Ketupat atau Riyoyo Kupat yang jatuh sepekan setelahnya (8 Syawal). Di beberapa daerah pun ketupat tidak hanya jadi pelengkap makanan saja. Ada tradisi Lebaran Ketupat yang di dalamnya terdapat ritual perang ketupat.
- Kolase Hidup Manusia dalam Perang Dunia
GELAP. Warna hitam yang ditemani suara beberapa veteran Perang Dunia I (PD I) menjadi scene pembuka film dokumenter besutan sutradara Peter Jackson berjudul They Shall Not Grow Old ini. Satu per satu veteran PD I bertutur secara bergiliran. “Saya menjalani segenap muda saya melakukan sebuah tugas dan melewati sebuah peperangan yang ganas,” tutur seorang veteran dalam rekaman suara itu. “Jika waktu bisa kembali, tentu saya akan mengulangnya lagi karena saya menikmati masa-masa itu,” timpal seorang veteran lain. Menjelang menit pertama, scene berubah. Kesaksian-kesaksian para veteran sudah diiringi rangkaian footage asli hitam-putih. Kolase arsip video, foto maupun pampflet yang bergantian muncul itu baru berubah menjadi berwarna saat menginjak menit ke-25.
- Kini Minyak, Dulu Rempah
DISINARI sejumlah lampu sorot, gadis-gadis itu semangat melenggak-lenggok di atas panggung. Mengenakan pakaian tradisional berwarna hijau dipadu selendang merah-keemasan dan mahkota warna emas di atas kepala masing-masing, mereka mementaskan satu tarian tradisional dari Riau. Beberapa pemuka masyarakat dan ratusan orang yang hadir menonton dibuat terhibur. Tarian itu merupakan satu dari sejumlah tarian tradisional yang dipentaskan dalam Festival Multikultur yang dihelat di Taman Bukit Gelanggang, Dumai, Riau pada 17 Juni 2024. Festival tersebut merupakan bagian dari Muhibah Budaya Jalur Rempah yang diadakan TNI AL. Dalam muhibah itu, TNI AL mengerahkan KRI Dewaruci. Kapal layar legendaris itu mengangkut rombongan laskar rempah, jurnalis, dan para peneliti yang mendalami sejarah rempah.
- Menelusuri Jalur Rempah dari Nusantara Menuju Dunia
LADA, kayu manis, andaliman hingga jintan tentu tak asing bagi masyarakat Indonesia. Rempah-rempah itu digunakan sebagai bahan pelengkap berbagai hidangan di meja makan. Namun, rempah tak hanya digunakan sebagai bumbu dapur, tetapi juga berperan dalam proses mumifikasi para Firaun di Mesir Kuno dan membantu Eropa menghadapi wabah penyakitdari abad ke-12 hingga ke-18. Jack Turner dalam Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme menyebut konsumen lada yang pertama terdokumentasi tidak menggunakan rempah untuk menyedapkan makanan, melainkan sebagai bahan untuk mengawetkan jenazah. “Lubang hidung Raja Ramses II, Firaun teragung Mesir, dijejali lada tak lama setelah kematiannya pada 12 Juli 1224 SM … jauh setelah masa kekuasaan Ramses, banyak jenazah figur terkenal yang dikuburkan bersama rempah,” tulis Turner.
- Tak Ada Perjalanan Haji Saat Perang Dunia I hingga Ultimatum Belanda
7 Mei 1915 Tak Ada Perjalanan Haji Saat Perang Pemerintah Hindia Belanda, melalui Javasche Courant, mengumumkan bahwa selama masa perang tidak ada perjalanan haji ke Makkah. Pertimbangan pemerintah: biaya hidup di Makkah terlalu mahal, perubahan kurs mata uang Turki terhadap gulden Hindia Belanda, serta maskapai pelayaran Belanda menetapkan tak akan mengoperasikan kapal hajinya tahun ini. Keputusan itu diprotes pemerintah Turki, yang melibatkan diri dalam Perang Dunia I. Namun, perang berimbas ke Timur Tengah, yang menyebabkan Makkah dianggap tak lagi aman. Demi memulangkan warga Hindia Belanda di Makkah yang terlantar, pemerintah mengirim kapal untuk mengangkut pulang mereka. Kerusuhan rasial di Bandung, 10 Mei 1963. (Irvan Sjafri/Pikiran Rakjat). 10 Mei 1963 Kerusuhan Rasial di Bandung Perkelahian terjadi di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) antara mahasiswa Tionghoa dan non-Tionghoa akibat senggolan sepeda motor, yang menyulut kerusuhan rasial terbesar di Jawa Barat. Toko-toko Tionghoa menjadi sasaran amuk massa. Dalam laporan staf Angkatan Kepolisian Sukarno Djojonagoro, toko-toko di Jalan Asia Afrika, Jalan Braga, Jalan Oto Iskandardinata, dan Pasar Baru rusak. Selain itu, ratusan mobil dan sepeda motor dirusak atau dibakar. Kerusuhan ini kemudian menjalar ke kota-kota lain di Jawa Barat seperti Sumedang, Tasikmalaya, Cirebon, dan Sukabumi. Kerusuhan itu berawal dari sidang pengadilan di Cirebon pada Maret 1963 yang mengadili seorang pemuda, putra Dr. Murad (aktivis Partai Sosialis Indonesia), atas kasus kecelakaan yang menewaskan seorang pemuda Tionghoa. Rupanya putusan hakim yang membebaskan terdakwa tak memuaskan keluarga korban dan teman-temannya. Terjadilah perkelahian di halaman pengadilan, yang merembet pada pengrusakan toko-toko Tionghoa. Kerusuhan menjalar ke Tegal sebelum pecah pula di Bandung dan sekitarnya. Buntut dari kerusuhan 10 Mei, enam mahasiswa ITB dan Universitas Padjadjaran (Unpad) ditetapkan sebagai terdakwa dan dijatuhi hukuman penjara oleh Pengadilan Negeri Bandung. Mayor Jenderal A.V. Michiels. (Wikimedia Commons). 24 Mei 1849 Perang Kusamba Pecah perang antara pemerintah kolonal Hindia Belanda dan Kerajaan Klungkung, Bali, di desa Kusamba. Pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Jenderal A.V. Michiels mulanya menghadapi perlawanan sengit di Pura Goa Lawah. Karena kalah jumlah, pasukan Klungkung lari ke Kusumba. Di Kusumba, mereka kembali dipukul. Belanda menguasai Kusumba. Pasukan Belanda mendirikan perkemahan. Sedangkan pasukan Klungkung yang selamat membakar desa-desa di sekitar Kusumba agar pasukan Belanda tidak menyerang Pura Klungkung. I Dewa Agung Istri Kenya, Ratu Klungkung, mengutus Anak Agung Ketut Agung untuk memimpin pembalasan. Laskar pamating (berani mati) dan telik tanem (pengintai) melakukan serangan pada pagi buta, keesokan harinya. Pasukan Belanda yang sedang beristirahat berhasil dikalahkan. Michiels tertembak, kemudian meninggal setelah mundur ke Padang Bai. Perang Kusumba dilatarbelakangi kontrak-kontrak dan perjanjian bikinan Belanda yang merugikan Klungkung. Masjid Agung Baiturrahman di Aceh, 1871. (Wereldmuseum Amsterdam). 25 Mei 1959 Keistimewaan Aceh Melalui Keputusan Perdana Menteri Republik Indonesia No. 1/Missi/1959, pemerintah memberi status “Daerah Istimewa” kepada Daerah Swantatra Tingkat I Aceh. Dengan predikat itu, Aceh memiliki hak otonomi yang luas di bidang agama, adat-budaya, dan pendidikan. Pemberian status “Daerah Istimewa” dilatarbelakangi ketidakpuasan dan perlawanan rakyat Aceh, terutama pemberontak Darul Islam di Aceh. Untuk menyelesaikan masalah keamanan di Aceh, pemerintah mengirim satu misi khusus yang dipimpin Wakil Perdana Menteri I Mr. Hardi, sehingga dikenal dengan sebutan “Missi Hardi”. Dalam perundingan, Dewan Revolusi Aceh menuntut agar Aceh menjadi negara bagian yang berdasarkan Islam. Karena ditolak, mereka menawar sebuah provinsi Islam dalam Republik Indonesia. Ini pun ditolak. Missi Hardi tetap menyodorkan konsepsi “Daerah Istimewa” yang diakhirnya disetujui. Keistimewaan Aceh ini kelak diperkuat dengan Undang-undang No. 22/1999. Sutan Sjahrir dan Amir Sjarifuddin di sidang BP-KNIP di Malang, 1947. (Cas Oorthuys/https://fotoleren.nl). 27 Mei 1947 Nota Ultimatum Belanda Pemerintah Belanda melalui Komisi Jenderal Belanda mengeluarkan nota ultimatum kepada pemerintah Republik Indonesia yang harus dijawab dalam waktu 14 hari. Isinya: 1. Membentuk pemerintahan ad interim bersama; 2. Mengeluarkan uang bersama dan mendirikan lembaga devisa bersama; 3. Republik Indonesia harus mengirim beras ke daerah-daerah yang diduduki Belanda; 4. Menyelenggarakan keamanan dan ketertiban bersama, termasuk daerah Republik yang memerlukan bantuan Belanda (gendarmerie bersama); 5. Menyelenggarakan penilikan bersama atas ekspor dan impor. Ultimatum itu dikeluarkan akibat perbedaan penafsiran antara Belanda dan Indonesia mengenai ketentuan-ketentuan dalam Persetujuan Linggarjati. Perdana Menteri Sjahrir menyampaikan balasan yang mengakui kedudukan istimewa Belanda selama masa peralihan, namun menolak gendarmerie bersama. Kompromi itu menimbulkan oposisi dan mengakibatkan Kabinet Sjahrir jatuh. Belanda kembali mengeluarkan nota ultimatum, namun tak dijawab Kabinet Amir Sjarifuddin. Maka, Belanda pun melakukan agresi militer I.* Majalah Historia Nomor 30 Tahun III 2016
- Artefak Tumbuhan Tertua di Dunia
TEKA-TEKI penyebaran manusia di bumi terus menjadi topik yang menarik. Baru-baru ini para arkeolog menemukan artefak resin tertua di Raja Ampat yang bisa menjadi petunjuk penting bagaimana nenek moyang manusia bisa sampai ke benua Australia. Temuan itu didapatkan oleh tim arkeologi dari Universitas Oxford, Universitas Gadjah Mada, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam penggalian di Gua Mololo di Pulau Waigeo, Raja Ampat. Temuan tersebut dipublikasikan di jurnal Antiquity, 13 Agustus 2024. Artefak resin tersebut berbentuk persegi, berukuran sekitar 1.35 cm di setiap sisinya, dan memiliki tebal 5 milimeter. Penanggalan radiokarbon menunjukkan usianya berkisar 55.000 hingga 50.000 tahun. Hal ini menjadikannya sebagai artefak dari tumbuhan tertua yang pernah ditemukan di luar benua Afrika. Selain itu, memberikan bukti pergerakan populasi global menuju Pasifik lebih dari 50.000 tahun lalu.
- Simbol Antikolonialisme Rakyat Suriname
KALENDER menunjukkan tanggal 13 Juli 1929. Beberapa pemuda Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia terlihat berdiskusi serius di kafe Hollandaise, Den Haag. Mereka mencari solusi bagaimana kolonialisme Belanda atas Indonesia dapat diakhiri. Berdasarkan laporan dinas intelijen Belanda, sekitar 50 orang hadir dalam pertemuan tersebut. Tiga di antaranya orang Eropa. Tampak juga seorang Suriname mengikuti jalannya diskusi. Dalam pertemuan itu, Haji Agus Salim didaulat bicara. Dia membahas sejarah kolonialisme Belanda dan kondisi para kuli Indonesia. Menjelang akhir diskusi, Agus Salim bertutur kepada para pemuda agar mereka tidak kembali ke Indonesia hanya sekadar mencari pekerjaan. “Alangkah lebih baik jika kalian dapat mengasah kemampuan berpolitik di sini (Belanda) supaya ketika kelak kalian kembali ke Indonesia, kalian akan lebih peka dalam melihat permasalahan bangsa,” ujar Agus Salim seperti dikutip dari Martijn Blekendaal dalam artikel berjudul Het gekleurde front van Hatta en De Kom.
- Misteri Kematian Frida Kahlo
PERTUNJUKAN teater bertajuk Frida: Stroke of Passion oleh kelompok teater Macha yang bakal dihelat di Gedung Teater Casa 0101, Los Angeles pada 7 Februari 2020 mendatang memancing perhatian banyak pihak. Pertunjukan yang digarap sutradara pemenang Eddon Awards, Odalys Nanin, itu akan menyajikan detik-detik terakhir kehidupan pelukis legendaris asal Meksiko Frida Kahlo yang tak banyak diketahui publik. Publik selama ini hanya mengetahui penyebab kematian Frida dari hasil resmi yang dirilis otoritas medis, bahwa Frida tewas karena pneumonia embolism (emboli paru) atau penyumbatan arteri di paru-paru. Pihak yang tak meyakini versi tersebut, termasuk Nanin, meyakini Frida meninggal pada 13 Juli 1954 karena bunuh diri. Keyakinan itu berangkat dari penafsiran atas kata-kata terakhir Frida di diary-nya: “Espero Alegre la salida – y Espero no Volver jamás”, yang artinya Aku begitu antusias menantikan jalan keluar – dan aku berharap takkan pernah kembali. Melalui Frida: Stroke of Passion, Nanin akan mengungkapkan hal baru. “Pertunjukan ini akan mengungkapkan pekan terakhir dalam hidup Frida Kahlo dan selubung misteri tentang siapa atau apa yang membunuhnya. Saya ingin menunjukkan babak-babak tentang fisik, emosi dan mental pikirannya selama sepekan sebelum kematiannya. Saya mengeksplorasi rasa sakitnya, rasa takut, cinta tapi yang terpenting adalah misteri kematiannya,” ujar Nanin, dikutip The Pride LA, 3 Januari 2020.
- Bandung Ibukota Kerajaan Belanda?
PINDAH ibukota lumrah dilakoni banyak negara. Amerika Serikat, Australia, Brazil dan negeri jiran Malaysia di antaranya. Indonesia bakal menyusul dalam kurun beberapa tahun ke depan, untuk kesekian kalinya. Rencana pindah ibukota sempat muncul baik pada masa Orde Lama dengan Palangka Raya-nya, Orde Baru dengan Jonggol-nya, hingga yang belakangan pemerintahan Jokowi dengan Kalimantan Timur. Namun, Indonesia bukan hanya sempat merencanakan pindah ibukota tapi sudah sempat beberapakali pindah ibukota. Bahkan, sejak masih bernama Hindia Belanda.





















