top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Perguruan Cikini Pabrik Pemusik

    SEKOLAH Perguruan Cikini tenar karena pernah dilanda tragedi penggranatan pada 1957. Tapi ada hal lain yang tak bisa diabaikan: sekolah ini melahirkan banyak musisi handal. Beberapa di antaranya ikut menentukan perjalanan sejarah musik dalam negeri. Nasution Bersaudara (Debby, Gauri, Keenan, Oding, dan Zulham) adalah salah satunya. Mereka murid sekolah Percik. Rumah orangtua Nasution Bersaudara di Jalan Pegangsaan Barat di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, menjadi tempat nongkrong teman-teman sekolah mereka yang hobi musik. Atas gagasan Debby Nasution, lahirlah Gank Pegangsaan. Selain itu, lahir pula kelompok musik Sabda Nada pada 1966 sebelum tiga tahun kemudian berubah nama jadi Gipsy. Chrisye, yang juga suka nongkrong di Pegangsaan, ikut bergabung di dalam Gipsy sebagai pemain bas. Chrisye kelak dikenal sebagai legenda musik pop Indonesia.

  • John Lennon, Pemusik Paripurna

    DI TELEVISI jago komedi, di radio lihai cuap-cuap. Itulah Ronal Surapradja, pria kelahiran Bandung, 26 Mei 1977. Dia mulai dikenal sebagai komedian kala membintangi serial komedi Extravaganza. Film layar lebar terbarunya berjudul The Wedding and Bebek Betutu. Sebagai seniman multitalenta, Ronal rupanya kepincut dengan sosok John Lennon. Jonh Winston Lennon, atau dikenal sebagai John Lennon, lahir di kota pelabuhan Liverpool, Inggris, pada 9 Oktober 1940. Pada usia 20 tahun, dia membuat grup band pop The Beatles yang melegenda. John Lennon juga dikenal sebagai aktivis antiperang. Dua lagu ciptaannya, Imagine dan Give Peace A Chance, seolah jadi lagu wajib dalam aktivitas menentang perang. Di sesela kesibukannya, Ronal Surapradja bercerita tentang tokoh inspiratifnya kepada Historia.ID.

  • Musik Gamelan di Luar Angkasa

    BADAN ruang angkasa Amerika Serikat (NASA) menyiapkan dua wahana luar angkasa, Voyager 1 dan Voyager 2, dengan tujuan awal mempelajari planet Jupiter dan Saturnus. Namun, para peneliti juga mempertimbangkan potensi Voyager sebagai wahana penjelajah sistem tata surya yang belum diketahui; yang mungkin akan menjadi kontak pertama manusia dengan kehidupan di luar bumi. Karena itu, sembilan bulan sebelum peluncuran Voyager, NASA meminta Carl Sagan, astronom kenamaan Universitas Cornell, menyusun tim khusus yang bertugas menyiapkan agar wahana Voyager juga berfungsi sebagai “pembawa pesan untuk peradaban ekstraterestrial.” Tim memutuskan Voyager akan membawa musik terbaik, galeri foto, dan suara-suara kehidupan baik alami maupun artifisial. Semuanya direkam dalam piringan suara yang terbuat dari emas, Voyager Golden Record. Sagan dan timnya menuliskan pengalaman mereka sebagai para pembuat keputusan seleksi dalam buku Murmurs of Earth, terbit tahun 1978.

  • Anthem Liverpool, Lagu Teater Musikal yang Mengglobal

    LANTUNAN lirik lagu itu bergema di segenap pelosok Stadion Anfield. Nada dan maknanya begitu kuat hingga membuat bulu kuduk merinding. Sebuah anthem legendaris bertajuk “You’ll Never Walk Alone” mengiringi perjuangan dahsyat Jordan Henderson dkk. ketika menghadapi tim bertabur bintang Barcelona di partai leg kedua semifinal Liga Champions, Selasa (7/5/2019) malam atau Rabu (8/5/2019) dini hari WIB. Liverpool bikin geger. Setelah digilas 0-3 pada leg sebelumnya di Camp Nou, markas Barcelona, “The Reds” membalik keadaan Anfield kendati tampil tanpa trio “Firmansah” alias Firmino, Mané, Salah. “Gempa lokal” terjadi beberapakali setelah Divock Origi dan Giorginio Wijnaldum, masing-masing mencetak dua gol, bergantian menjebol gawang Marc-André ter Stegen. Alhasil, laga berakhir 4-0, “The Reds” membalikkan agregat jadi 4-3 dan melaju ke final. Penampilan itu jadi salah satu comeback terhebat Liverpool dalam sejarah Liga Champions setelah yang dilakukannya pada 2005 ketika membalik skor AC Milan di final. Klopp dan anak-anak asuhnya lantas tenggelam dalam selebrasi dan bersama saling menyanyikan anthem mereka. “Walk on, walk on. With hope in your heart. And you’ll never walk alone…You’ll never walk alone.”’

  • Jaap Kunst Mengabdi pada Musik Tradisi

    PADA musim semi 1919, seorang sarjana hukum sekaligus pemain biola dari Belanda, bersama dua temannya, penyanyi dan pianis, berlayar ke Hindia Belanda. Mereka melakukan tur musik selama delapan bulan ke berbagai daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Pada Mei 1920, harusnya mereka bertiga pulang ke Belanda. Namun sejak Natal 1919, sang pemain biola terpikat pada alunan gamelan yang didengarnya di Keraton Pakualaman Yogyakarta. Pengalaman itu membuatnya memutuskan untuk tetap tinggal. Orang itu adalah Jaap Kunst, yang kemudian jatuh cinta dengan musik tradisi Nusantara dan menjadi pelopor etnomusikologi. Jakob Kunst (Jaap Kunst) lahir di Groningen, 12 Agustus 1891, dari keluarga musikus, ayahnya guru piano, praktisi dan kritikus musik, dan ibunya seorang pianis. Sedangkan Jaap Kunst memilih biola sebagai alat musik favoritnya.

  • Musik Orkestra, Dari Penguasa Hingga Hamba Sahaya

    DI TENGAH kegelapan ruang pertunjukan Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), suara koor plus duet penyanyi Lisa Depe-Judika memecah keheningan. Cahaya menerang beberapa detik kemudian, menemani merdunya suara koor menyanyikan sebuah tembang. Lebih dari 30 orang, yang duduk di bawah tempat para personel koor berada, serius memainkan alat musik masing-masing sambil memperhatikan partitur di hadapan mereka. Dipandu konduktor Avip Priatna, laku mereka menghasilkan alunan nada harmonis yang di pertengahan berganti tempo menjadi cepat dan enerjik. Itulah “Bohemian Rhapsody”, tembang rock legendaris karya band rock Inggris Queen, yang dibawakan dalam bentuk simfoni oleh Jakarta Concert Orchestra (JCO) di konser bertajuk “Love of My Life”. Konser yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 18 April 2015 itu menjadi bukti kreativitas JCO. Di tangan JCO, musik orkestra dijauhkan dari kesan kuno yang identik dengan karya-karya klasik macam Bach, Beethoven, Mozart, atau Vivaldi. JCO mem-vermak “wajah” musik orkestra dengan konser-konser kreasinya yang “kekinian” macam “Simfoni Untuk Bangsa 2018: Dari dan Untuk Anak Indonesia” dan “Invitation to The Dance” pada 2018, serta “Love of My Life”, “Queen Night: We Are The Champions”, dan “Konser Idul Fitri” pada 2019.

  • Gendhing Mares, Anak Kandung Perkawinan Musik Jawa dan Eropa

    ALUNAN musik gamelan terdengar berpadu dengan musik Eropa. Sembilan penari perempuan diapit empat orang pengapit di depan dan belakang berjalan memasuki pendopo Bangsal Kepatihan, Kompleks Kantor Gubernur DIY. Mereka membawakan tari Bedhaya Mintarga, tari klasik asal Keraton Yogyakarta yang diciptakan pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana X. Tari tersebut ditampilkan dalam rangka Pementasan Catur Sagatra 2022. Acara ini merupakan ajang silaturahmi empat swapraja dinasti Mataram Islam, yaitu Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta dengan Kasunanan dan Mangkunegaran di Solo. Musik yang mengiringi awal tari itu merupakan Gendhing mares, perpaduan gamelan dan musik Eropa di Keraton Yogyakarta. Kata “Mares” merupakan serapan dari kata Mars, sebuah komposisi musik Eropa yang sering digunakan untuk kepentingan militer. Gendhing mares sebagai musik hibrida dengan demikian menandakan interaksi sosial-budaya antara keraton dengan Barat.

  • Dendang Kasidah Modern

    IKLAN sebuah perusahaan ritel ternama karya sutradara Dimas Djay beberapa waktu lalu membuat heboh warganet. Iklan kocak itu menampilkan aksi delapan ibu-ibu kelompok kasidah Nurul Syifa. Sebuah iklan perusahaan transportasi daring juga menampilkan kasidah sebagai pengiring jualannya di layar kaca. Kasidah memang laku kala Ramadan. Menurut Japi Tambajong dalam Ensiklopedi Musik, kasidah merupakan bentuk puisi Arab pra-Islam. Kemudian ia menjadi media mewujudkan pemahaman iman secara Islam, dan alat dakwah. Japi menulis, di Indonesia definisi kasidah bukan dilihat sebagai sastra, tapi sebagai musik. Virus Kasidah Modern Dalam khazanah musik Indonesia, kasidah menjadi semacam pelengkap orkes gambus. Moeflich Hasbullah dalam Islam dan Transformasi Masyarakat Nusantara menulis, penyanyi orkes gambus kasidah pertama di Jawa yang menyanyikan lagu-lagu Arab dan Indonesia adalah Rofiqoh Dharto Wahab, yang meniti karier sebagai seorang qariah.

  • Dasar Patung Pancoran Bertekstur Kasar

    MEDIA sosial kembali hangat dengan ramainya perbincangan mengenai wajah Patung Dirgantara atau Patung Pancoran karya Edhi Sunarso. Fotografer Rudy Sunandar memotretnya menggunakan drone lalu mengunggahnya di instagram pada 8 April 2017. Foto itu memperlihatkan Patung Pancoran yang berotot, dengan mimik keras, dan sorot mata yang tajam memandang ke angkasa. Edhi Sunarso (1932-2016) dikenal lewat karyanya berupa patung-patung besar di Jakarta, seperti Patung Pancoran di Jakarta Selatan; Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat; dan Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Mengapa ketiga patung tersebut bertekstur kasar? Kepada pengajar Institut Seni Indonesia Yogyakarta Mikke Susanto, Edhi Sunarso mengungkapkan alasannya bahwa “tekstur adalah sarana mendekatkan tujuan untuk membentuk maskulinitas, gerak dan berkarakter keras pada patung.”

  • Sukarno Ingin Patung Terbang

    KECINTAANNYA terhadap seni dan arsitektur menjadi sisi lain Sukarno yang banyak dikisahkan oleh para seniman. Ia gandrung mengoleksi lukisan dan memiliki ketertarikan pada patung. Edhi Sunarso, pematung kesayangannya, pernah dibikin pusing karena harus bikin patung yang terlihat seolah-olah terbang. Pasca Pemilu 1955, Sukarno banyak diundang ke luar negeri. Dalam kunjungannya, ia melihat ikon-ikon yang bisa dibanggakan negara-negara terkemuka. Iapun pulang dengan obsesi baru, membuat monumen-monumen megah sebagai ikon negeri. Yuke Ardhiati, arsitek sekaligus penulis buku Sukarno Sang Arsitek, menyebut sejak itu visi arsitektur Sukarno lebih internasionalis dan abadi. “Beliau maunya arsitektur modern dan semua konstruksinya harus tahan cakaran zaman dengan beton. Jadi konsep keabadian itu sudah menjadi obsesi beliau,” ujar Yuke dalam dialog sejarah daring Historia.ID bertajuk “Bung Karno Sang Arsitek”, Selasa, 2 Juni 2020.

  • Robohnya Patung Edward Colston, Tokoh Perbudakan dan Rasisme

    KEMATIAN George Floyd (46) di Minneapolis, Amerika Serikat pada 25 Mei 2020 memantik badai demonstrasi di berbagai belahan dunia. Sejumlah simbol rasisme jadi sasaran, salah satunya patung Edward Colston di Bristol, Inggris. Rasisme bukan barang baru di bumi sisi Barat, utamanya Amerika. Kematian George Floyd, seorang Afro-Amerika, akibat kekerasan oleh sejumlah polisi Minneapolis memicu bara rasisme yang telah lama terpendam. Ia meledak lewat gerakan demonstrasi bertajuk “Black Lives Matter”. Di Inggris, yang banyak warganya berkulit hitam, kematian Floyd memicu unjuk rasa di kota Bristol pada 7 Juni 2020. Para demonstran menyasar patung tokoh rasis dan saudagar perbudakan abad ke-17, Edward Colston. Menukil The New York Times, Selasa (9/6/2020), patung itu mulanya dikelilingi massa yang kemudian mencorat-coret badan patung berusia 125 tahun itu dan diakhiri dengan merobohkan dan menyeret patung untuk dibuang ke perairan di Pelabuhan Bristol. Aparat keamanan yang kalah jumlah dari massa demonstran tak bisa mencegahnya.

  • Memaknai Perobohan Patung

    SETELAH patung Edward Colston di Bristol, Inggris diceburkan ke sungai pada Minggu, 7 Juni 2020, perobohan patung yang melambangkan penjajahan pada bangsa kulit hitam terjadi di beberapa tempat dalam protes Black Lives Matter. Beberapa patung yang dirobohkan yakni patung King Leopold II di Belgia, Robert Milligan di London, Jefferson Davis di Virginia, Christopher Columbus di Minnesota; dua yang terakhir di Amerika Serikat. Daftar perobohan terus berlanjut. “Sebetulnya, patungnya itu benda mati, tidak bersalah. Yang bermasalah itu konstruksi makna atas patung itu,” kata sejarawan UGM Budiawan, yang menulis buku Sejarah dan Memori, pada Historia.ID. Sebuah patung dibuat untuk mengingatkan orang akan heroisme seorang tokoh sejarah. Makna yang direpresentasikan sebuah patung bergantung pada pembentukan wacana dominan seputar patung tersebut, dalam hal ini kisah sejarah mainstream yang sudah dilembagakan. Keberadaan patung sebagai pengingat beserta narasi yang dibangun kemudian menjadi ingatan bersama masyarakat.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page